MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 98


__ADS_3

Raka menggerakkan kepalanya sedikit menyamping. Melihat Mawar yang berada di belakang Amel. "Apa yang sudah elo katakan padanya?!" tanya Raka meninggikan nada bicaranya.


Raka menebak jika Amel lah yang selama ini meracuni pikiran Mawar. Sehingga sulit untuk dirinya mendekati Mawar. Dengan kata lain, Mawar menjauh darinya karena perkataan Amel.


Kenyataannya, Mawar memang sudah mengetahui semuanya tanpa Amel mengatakan apapun padanya.


"Apa mungkin Raka juga sama brengseknya dengan Roy?" bisik Santi pada Tia.


Pagi tadi, sebelum Mawar datang, Santi dan Tia menanyakan perihal Roy. Mereka berdua bertanya mengenai hubungan antara Amel dan Roy, karena tanpa sengaja melihat Roy tengah membonceng seorang perempuan. Dan itu bukanlah Amel.


Dari sanalah, Amel mengatakan jika hubungannya dengan Roy sudah berakhir. Amel juga tidak mengetahui keberadaan Roy saat ini.


Santi dan Tia menyimpulkan jika Roy lelaki plin plan dan mudah mempermainkan perasan perempuan. Sebab begitu saja meninggalkan Amel tanpa memberitahukan apapun.


Tanpa ketiganya tahu. Mungkin saat ini Roy sudah berada di alam yang berbeda dengan mereka bertiga. Dan selamanya mereka tidak akan pernah bertemu dengan mantan kekasih Amel tersebut.


Tia mengangguk pelan. "Bisa jadi. Bukankah biasanya sekelompok memang seperti itu. Satu, bangsat, yang lain juga bangsat." ucap Tia lirih.


Roy tersenyum remeh pada Amel. "Sebaiknya elo minggir. Gue cuma mau bicara dengan Mawar." ucap Raka dengan ekspresi wajah menakutkan.


Santi menarik Mawar untuk mendekat ke arahnya dan Tia. "Amel, sebaiknya kita segera pergi." ajak Santi.


Meski mereka berempat, tapi Santi takut jika Raka berbuat nekat. Pasti mereka akan kalah. Meski menang jumlah. Sebab mereka hanyalah perempuan.


Santi tidak tahu saja. Jika diantara mereka ada yang jago ilmu bela diri. Tia memegang lengan Amel yang tengah berpandangan intens dengan Raka. "Benar kata Santi. Sebaiknya kita pergi." ajak Tia, membenarkan ucapan Santi.


Mawar juga merasa ngeri, melihat ekspresi Raka. Dirinya seketika ingat perbuatan brutal geng motor beberapa hari yang lalu.


Hingga mengakibatkan sopir Mira masuk ke dalam ruang operasi. Namun Tuhan masih melindunginya, memberikan kelancaran operasi tersebut. Dan juga, beliau kini berangsur membaik.


"Mbak, Amel... Ayo kita pergi saja." ajak Mawar juga. Mawar yakin, jika Amel mampu melawan Raka. Hanya saja, Mawar takut jika teman Raka datang.


Mawar mendesah pelan, saat melihat siapa yang datang. Kekhawatiran yang menjadi kenyataan. Dua buah motor sport berhenti di dekat motor milik Raka.


"Kak, ayo pergi." ajak Mawar. Bukan hanya Mawar, Tia dan Santi juga merasa ketakutan.


Felix dan Mondy, keduanya turun dari motor. Berdiri di samping Raka. "Dimana Roy?" tanya Felix.


Amel tertawa hambar. "Elo pikir gue pengasuhnya." sahut Amel dengan nada kasar.


Mawar merasakan keadaan tidak baik-baik saja. Segera dia mengambil ponsel. Mencoba mengirim pesan tertulis pada Jerome. Meminta bantuan pada Jerome.


"Jika saja gue punya nomor ponsel kak Luck dan kak Tian. Atau sekalian Erza. Mungkin akan lebih baik." batin Mawar.


Dirinya bisa menghubungi mereka semua. Entah siapa yang akan datang. Yang terpenting setidaknya ada bantuan datang.


"Ayo..." Tia menyeret Amel pergi.


"Kalian mau ke mana. Hemm...." tukas Felix, menghentikan langkah keempat perempuan di depannya.


"Biarkan mereka pergi. Ini urusan gue. Nggak ada sangkut pautnya sama mereka." ujar Amel, ingin menyelamatkan ketiga temannya yang memang tidka bersalah. Bahkan tak tahu apapun.


"Oke, mereka berdua boleh pergi. Mawar akan pergi bersama gue." tutur Raka tersenyum penuh arti.


Mawar memegang lengan Santi dengan erat. Ada rasa takut, saat melihat senyum Raka. "Enak saja. Elo bukan siapa-siapa Mawar!!" seru Santi.


Dengan Tia masih memegang lengan Amel. "Sebaiknya kalian bertiga pergi. Mereka berbahaya." lirih Amel pada Tia.


"Kamu sudah tahu mereka berbahaya. Jadi kita pergi bersama-sama." sahut Tia, tak ingin meninggalkan Amel sendiri.


"Tapi...." ucap Amel, terhenti saat Mawar juga menginginkan mereka pergi bersama.

__ADS_1


"Benar mbak. Kita akan pergi bersama." timpal Mawar sependapat dengan Tia. Begitu juga Santi yang juga mengangguk setuju.


Amel merasa tersentuh. Mereka yang bukan siapa-siapa, tapi tidak mau meninggalkannya sendirian menghadapi bahaya.


"Perempuan, memang banyak cakap." geram Mondy, melangkahkan kakinya maju ke depan.


Mondy berusaha untuk menyeret Amel. Namun Amel segera menangkis tangan Mondy. "****... Tinggal elo bilang, dimana Roy. Semua beres...!!" teriak Mondy.


"Gue nggak tahu." ucap Amel dengan jujur.


Mondy dan Felix maju bersama. "Jangan menyentuh Mawar." seru Raka mengingatkan.


"Ckkk,,,, buka mata elo. Dia dama sekali nggak tertarik sama elo. Jangan mau diperbudak perempuan." sahut Mondy.


Amel berada paling depan. Dengan Mawar dan kedua perempuan lainnya di belakangnya. "Jangan pernah menyentuh mereka." geram Amel, saat Felix berusaha mengambil salah satu perempuan di belakang Amel.


Felix tersenyum penuh arti. "Kak Jerome, cepat datang." gumam Mawar berharap.


Tak pelak, adu ototpun dilakukan oleh Amel dan Mondy. Santi dan Tia tercengang melihat keahlian Amel dalam melakukan duel otot dengan Mondy.


"Lepas... Lepas...!!" seru Mawar, saat dirinya fokus melihat Amel dam Mondy, Raka mendekat dan menyeretnya menjauh.


"Biarkan saja mereka. Tidak perlu ikut campur. Lebih baik kalian tetap di sini." Felix menghentikan Santi dan Tia yang hendak menolong Mawar.


Keduanya ketakutan saat Felix menyingkap jaket yang ada di tubuhnya sedikit ke atas. Memperlihatkan sebuah senjata api di balik jaketnya, yang terselip di antara celana dan pinggang.


"Siap sebenarnya mereka? Dan Amel, bagaimana dia bisa sehebat itu bertarung." batin Santi dan juga Tia sama.


Keduanya saling bergenggaman tangan. Hanya bisa diam, menyaksikan apa yang terjadi. "Gue suka perempuan penurut." ujar Felix.


Santi dan Tia, melangkahkan kaki mereka beberapa langkah ke belakang. "Mawar." gumam Santi, tak tega melihat Mawar dipaksa oleh Raka.


Tanpa mereka tahu. Mondy dan Felix memang sudah menyuruh bawahan mereka untuk tidak membiarkan satu kendaraanpun melewati jalan depan butik.


"Tolong kak lepas,,, sakit...!!" rengek Mawar, mencoba berontak dnegan memukul tangan Raka yang mencengkeramnya dengan erat.


"Diam Mawar. Diam...! Semakin kamu berontak, semakin kamu kesakitan." seru Raka dengan ekspresi yang menakutkan menurut Mawar.


"Brengsek. Lepaskan Mawar...!!!" teriak Amel, ingin menyelamatkan Mawar. Tapi Mondy yang masih berada di sampingnya tidak membiarkan Amel merusak keinginan Raka.


"Aaaa...." seru Amel, satu tendangan dari Mondy bersarang di tubuhnya.


"Amell....!!"


"Kak Amelll...!" Mawar dan yang lainnya berteriak bersama melihat Amel yang terlihat kesakitan.


"Jangan keras kepal..!! Kamu katakan dimana Roy. Kami akan pergi...!!" seru Mondy.


"Gue nggak tahu. Elo budek...!!" Amel tak kalah kesal dengan Mondy.


"Elo pikir gue percaya. Pasti boss elo yang menyembunyikan."


"Jika menurut elo begitu, tanya sama dia. Bukan sama gue."


Di dekat sepeda motor, Raka memaksa Mawar untuk ikut dengannya. "Kak, tolong. Lepaskan Mawar." rengek Mawar, dengan pergelangan tangan yang sudah terasa sakit.


"Kenapa gue tadi nggak bawa mobil." gerutu Raka pada dirinya sendiri.


"Naik Mawar." pinta Raka.


Mawar menggeleng cepat." Nggak mau." tolak Mawar. "Lepas Raka...!!" seru Mawar, kehilangan kesabaran, termasuk rasa takutnya lenyap entah kemana.

__ADS_1


Raka terkejut. Yang dia tahu Mawar adalah sosok gadis lembut. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Mawar. Segera dia menghempaskan tangan Raka dan berusaha menjauh dari jangkauan Raka.


Raka tersenyum miring. "Gue pikir elo kelinci kecil yang imut. Ternyata elo bisa juga berubah jadi landak yang galak. Tapi gue semakin suka." tutur Raka.


"Kamu tidak bisa memaksa. Lebih baik bawa kedua teman kamu pergi." ucap Mawar, melihat Amel yang sudah kelelahan melawan Mondy. Dan Mawar bisa menebak, Amel akan kalah.


Raka kembali tersenyum. "Pasti. Gue akan membawa mereka pergi. Tapi, elo juga harus ikut pergi dengan kita. Bagaimana?" ujar Raka menawarkan.


Mawar menggeleng. "Tidak akan." Mawar tetap menolak.


Raka mengambil ponsel. "Bawa mobil ke sini. Sekarang." perintah Raka pada seseorang yang sedang dia hubungi di seberang ponselnya.


"Lepas....!!" teriak Mawar, saat Raka kembali menangkapnya, dengan memeluk erat tubuh Mawar dari belakang.


Mawar terdiam sejenak. Mengatur helaan nafasnya. "Bagus. Aku suka gadis penurut." Raka hendak mencium pipi Mawar, tapi Mawar segera menoleh. Sehingga bibir Raka tak sampai menyentuh pipi Mawar.


"Buang rasa takutmu Mawar. Jangan pernah mengandalkan orang lain untuk membantu dan berharap pertolongan dari mereka." batin Mawar.


"Ingat. Jangan pernah bergantung pada orang lain. Kamu harus kuat dan berani. Hadapi semuanya dengan keberanian dan kekuatanmu sendiri." lanjut Mawar.


"Aku akan ikut kamu. Suruh dia berhenti menyerang kak Amel." Mawar berkata dengan datar.


Raka merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan Mawar saat ini. Dari rasa takut. Berontak. Menurut. Dan sekarang tenang.


Tapi Raka tak mau ambil pusing. Yang terpenting Mawar mau mengikuti dirinya. Bukankah itu yang dia inginkan. "Mondy.... Felix.... hentikan..... kita pergi dari sini!!" teriak Raka.


Mondy dan Amel menghentikan perkelahian mereka. "Raka....!!!" geram Mondy.


"Cihh,,,, Raka. Gampang banget diperbudak perempuan." decih Felix.


"Mawar." gumam Amel dengan nafas tersengal kelelahan.


Mondy menggerakkan sedikit kepalanya, saat Felix menatap ke arahnya. "Hahhhh.... Oke." ujar Felix, tahu apa yang dinginkan Mondy.


"Kali ini elo beruntung." sungut Mondy menatap Amel sinis.


Santi dan Tia menatap khawatir ke arah Mawar. "Mawar." lirih keduanya. Melihat Mawar tak berdaya di tangan Raka.


Sebuah mobil berhenti. "Masuk." perintah Raka pada Mawar.


Mondy dan Felix menaiki motor mereka. Sementara Raka dan Mawar masuk ke dalam mobil. Dengan motor Raka di bawa oleh bawahannya yang baru datang mengantarkan mobil.


"Kalian... brengsek. Mawar...!!" Amel berteriak. Masih dengan nafas yang tersengal, Amel berusaha menghalangi Raka masuk ke dalam mobil.


Tapi percuma. Dengan satu kali tendangan dari Raka, Amel jatuh tersungkur. Mungkin karena kondisi tubuh Amel yang memang sudah kelelahan karena baru saja menghadapi Mondy.


"Amel...!!" Santi dan Tia segera membantu Amel berdiri. "Bagaimana ini. Mawar dibawa mereka." tutur Tia gelisah.


"Sial...!!!!" umpat Amel, merasa tak berguna.


Di dalam mobil, Mawar duduk diam. Dengan pandangan mata lurus ke depan. Tampak tatapan dingin dengan ekspresi datar.


Sesekali Raka melirik ke arah Mawar. "Aku ingin pulang." cicit Mawar.


Raka tertawa lepas. Setelah mendapatkan Mawar, mana mungkin dirinya melepaskannya begitu saja. "Aku akan mengantarkan kamu pulang. Tapi tidak sekarang." Raka tersenyum miring.


Mawar mengeratkan kedua rahangnya, hingga gigi-giginya bertemu. "Oke Mawar, tenang. Pakai otak kamu. Tenang." batin Mawar memberitahu dirinya sendiri.


"Hanya diri kamu sendiri yang bisa menyelamatkan kamu. Ingat. Jadilah perempuan yang kuat. Jangan pernah menjadikan orang lain sebagai sandaranmu." batin Mawar, menguatkan hatinya.


Otak Mawar terus berputar. Mencari cara untuk bisa lolos dari lelaki bajingan di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2