
Gaby tersenyum sempurna, melemparkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya. "Tidak begitu sulit mendekati orang-orang bodoh seperti mereka." cicit Gaby.
Merasa jika Lina sangat mudah untuk dibohongi. "Hanya dengan wajah polos. Senyum di bibir. Berbicara ramah dan sopan. Semua orang akan mengikuti keinginan kita." ujar Gaby seraya tertawa lepas.
Gaby bangun dari tidurnya. "Astaga, gue baru sadar. Kenapa gue nggak melakukan itu dari dulu. Wajah polos. Dan murah senyum. Sangat mudah." Gaby menyeringai licik.
Bisa ditebak, Gaby akan berganti peran. Dari Gaby yang angkuh dan sombong. Akan berubah menjadi Gaby yang baik hati, murah senyum, dan penyayang.
Gaby berjalan ke depan cermin. Menatap dirinya dari pantulan kaca. "Tapi gue nggak akan seceroboh Dona. Semua butuh proses. Termasuk orang yang ingin berubah." ucapnya pada diri sendiri.
Gaby tersenyum miring. "Cukup diam, dan tidak mencari masalah. Mungkin bisa jadi awal rencana gue."
Gaby berpikir, jika semua orang akan benar-benar mempercayai dirinya bisa berubah, akan mudah untuknya menekan Mawar.
Dengan santai, Gaby berjalan kembali ke ranjang. Mengambil ponsel dan memainkannya seraya berbaring.
Kedua matanya membola seketika, melihat apa yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. "Ba-bagiamana bisa." cicit Gaby.
Melihat foto yang beberapa jam lalu di upload oleh Selly di media sosial miliknya. Gaby tersenyum kecut. "Jadi, yang dimaksud Lina tadi, Mawar sedang pergi,,,,," Gaby terlihat sedang berpikir.
"Sial...!!! Ternyata Mawar pergi bukan hanya dengan dua teman brengseknya itu. Tapi juga dengan kak Jerome. Bahkan kak Luck dan kak Tian."
Gaby menggelengkan kepala tak percaya. Dirinya langsung berdiri sambil berjalan seperti setrika. Sesekali, tangannya mengepal di depan dada.
"Gue nggak bisa biarkan semua ini. Gue harus secepatnya bertindak. Bukan hanya kak Jerome. Bahkan kedua sahabat kak Jerome, juga terlihat baik dengan Mawar."
"Tidak bisa dibiarkan. Ya,,, secepatnya. Gue harus bisa menjadikan Lina sebagai mama tiri gue. Dengan begitu, langkah gue selanjutnya untuk membuat Mawar menderita, akan semakin mudah." ucap Gaby dengan penuh amarah.
Tanpa Gaby sadari, seorang pembantu di rumahnya mendengar apa yang diucapkan olehnya. "Benar-benar iblis." ucapnya dalam hati.
Sang pembantu menetralkan emosinya. Jangan sampai nona mudanya tahu, jika dirinya sudah lama berdiri di sana. Mendengarkan semua perkataan jahat yang keluar dari mulut Gaby.
"Maaf,, Nona. Ini minuman yang anda inginkan." ucapnya, setelah masuk ke dalam kamar Gaby.
Ditaruhnya segelas jus di atas meja. "Saya permisi Nona." pamitnya.
Gaby hanya diam. Melihatnyapun tidak. Tapi itulah yang diharapakan oleh sang pembantu. Segera dia keluar dari kamar Gaby. "Siapa Mawar sebenarnya. Kenapa dia begitu membencinya." tanyanya dalam hati.
Sang pembantu tidak ingin terlalu kepo. Dirinya tahu bagaimana tabiat dari Gaby. "Lebih baik gue pura-pura tidak tahu." batinnya. Yang masih menginginkan bekerja di rumah ini.
Pagi hari,,, tubuh Mawar terasa segar. Dengan kedua mata masih terpejam, dia menggeliatkan badannya ke kiri dan kanan. Meregangkan otot-otot di tubuhnya. Perlahan, Mawar membuka kedua matanya.
Mawar tersenyum, menatap ke atas. Dimana hanya ada langit-langit kamar yang berwarna putih. "Kak Jerome. Bolehkan Mawar merasakan kebahagiaan. Meski hanya sejenak." gumamnya.
Mawar menyibak selimutnya. Turun dari ranjang. Merapikan ranjangnya dahulu, sebelum dia pergi ke kamar mandi.
Hari ini, Mawar memang agak siang berangkat ke sekolah. Karena ujian sudah selesai. Dan dirinya masuk hanya untuk latihan drama yang akan dia perankan bersama dengan Jerome dan beberapa murid lain yang terpilih.
Tanpa Mawar tahu, di ruang tamu sedang terjadi sedikit ketegangan. Pagi hari, Lina dibuat terkejut atas kedatangan tamu yang sama sekali tidak terpikirkan dalam benaknya.
"Apa suami dan anakmu masih tidur?" tanya seseorang perempuan yang sudah berumur.
Lina terdiam. Menatap kepada perempuan yang sudah melahirkannya dan membesarkannya. Lalu beralih menatap lelaki yang duduk di samping sang perempuan tersebut.
Mereka adalah kedua orang tua Lina. Tuan Tomi dan Nyonya Tanti. "Kami datang hanya ingin menemui cucu kami." ucap Tuan Tomi, segera mengalihkan pembicaraan.
Dari apa yang dilihat, Lina bisa menebak, jika sang mama belum mengetahui perihal perceraiannya dengan Wiryo. Berbeda dengan Tuan Tomi yang pastinya sudah tahu.
Mata Lina menatap sendu pada sang mama yang duduk di atas kursi roda. Ada perasaan bersalah menyeruak di relung hatinya.
Bagaimana dia dulu dengan kekeh dan getol mempertahankan hubungannya dengan Wiryo. Padahal kedua orang tuanya menentang keinginannya.
Hingga dia rela meninggalkan kedua orang tua yang telah merawatnya sejak kecil, demi bisa menikah dengan Wiryo.
Dan sekarang, bahkan dia kehilangan Wiryo. Lelaki yang dulu dia bela hingga dirinya rela hidup dalam kesusahan. Dan meninggalkan kedua orang yang selalu menyayanginya.
Tiba-tiba, Lina duduk di lantai. Memeluk kaki sang mama, dan meletakkan kepalanya di pangkuan beliau. "Sudah, apa yang kamu tangisi."
Dengan penuh kelembutan, Nyonya Tanti mengusap kepala sang anak yang selama ini pergi meninggalkannya. "Maafkan Lina,, ma. Maaf." cicitnya.
Mawar masih memakai baju tidur, keluar dari kamar. Dia langsung ke dapur mencari sang ibu. Tidak menemukan sang ibu, Mawar mencari ke ruang lain.
Langkah kakinya terhenti, saat melihat adegan tangis di depan kedua matanya. Kedua matanya memicing penasaran.
Apalagi sang mama menangis di depan perempuan tua yang duduk di kursi roda.
Tuan Tomi melihat kedatangan Mawar, meski sudah tua, tapi beliau masih terlihat berwibawa. Tuan Tomi berdiri. Hal tersebut membuat Nyonya Tanti mengikuti kemana arah pandangan sang suami.
Nyonya Tanti menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Air mata jatuh dengan bebas ke pipinya yang sudah mulai keriput. "Cucuku." lirihnya, disela isakan tangisnya.
Begitu juga dengan Tuan Tomi, kedua matanya telah buram. Karena air mata memenuhi kelopak matanya, tinggal menunggu saatnya meluncur di pipinya.
__ADS_1
Lina menyeka air mata di pipinya. Berdiri, dan menghampiri Mawar. "Ayo sayang, ibu kenalkan kamu pada mereka."
Lina menuntut Mawar, berdiri di depan mereka. Tuan Tomi menghapus air mata yang akhirnya meluncur di pipinya. Begitu juga dengan Nyonya Tanti. Mereka ingin melihat, bagaimana cantiknya paras cucu mereka.
Saat mulut Lina ingin terbuka memperkenalkan kedua orang tuanya pada Mawar, air mata yang malah keluar, sementara suaranya malah tak mau keluar. Seakan suaranya tercekat di tenggorokan. Ada perasan bersalah yanga begitu besar di dalam hatinya.
"Bu.. ibu kenapa?" tanya Mawar, melihat sang ibu malah menangis kembali.
Tuan Tomi maju melangkah mendekat ke tempat Mawar. Tangannya terulur membelai pipi sang cucu. "Cucu,,, kakek."
Tanpa menunggu lagi, dibawanya Mawar ke dalam pelukannya. Mawar merasa terkejut, tapi dirinya tidak mungkin mendorong beliau. Mengingat beliau sudah tua.
Saat Mawar ingin melepas pelukan Tuan Tomi, telinga Mawar mendengar beliau mengucapkan kalimat yang mampu membuat dadanya berdebar. "Cucu kakek." ucapnya lirihnya dalam tangis.
Deg.... Mawar terdiam. Tubuhnya membeku seketika mendengar panggilan tersebut. Dia menatap ke arah sang ibu yang menatapnya dengan air mata bercucuran, sambil mengangguk.
Begitu juga dengan perempuan tua yang duduk di kursi roda. Dia menatap Mawar dengan intens, ada rasa mendalam pada pancaran kedua matanya yang sayu karema tangisan.
Tanpa dijelaskan, kini Mawar mengerti dan tahu siapa kedua tamu di rumahnya ini. Mawar masih terdiam. Belum merespon apapun.
Membiarkan ketiga orang di sekitarnya menumpahkan air mata. Setidaknya, mereka bisa melepas beban di pundak masing-masing.
Beberapa saat kemudian, semua sudah mulai tenang. Meski masih terdengar suara isakan kecil, tapi tidak seheboh tadi.
Keempatnya duduk di kursi. "Beliau berdua adalah orang tua ibu. Yang artinya, juga kakek nenek kamu." jelas Lina.
Mawar tersenyum. Menunjukkan rasa hormatnya pada kedua orang tua sang ibu. Mawar belum bisa mengambil sikap dan tindakan.
Dibenaknya, ada banyak pertanyaan. Tapi dia memilih untuk tidak mengeluarkan semua pertanyaan yang bersarang di otaknya.
Mengapa baru sekarang, mereka muncul. Di saat Mawar sudah berusia enam belas tahun.
Kenapa sang ibu menyembunyikan dari dirinya. Jika kedua orang tuanya masih hidup. Padahal, selama ini Mawar selalu bertanya padanya.
Mawar tidak tahu apa yang terjadi. Atau masalah apa yang membuat mereka berpisah hingga waktu yang lama.
Dirinya mencoba bersikap bijak. Membiarkan mereka menceritakan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Atau waktu yang akan membuka semuanya.
Mawar hanya takut, dirinya salah bertanya di saat yang kurang tepat. Atau, pertanyaannya, malah akan mengorek luka lama.
"Sini sayang. Peluk nenek." pinta Nyonya Tanti.
Mawar mendekat, sedikit membungkukkan badannya dan memeluk perempuan yang baru saja diperkenalkan sang ibu sebagai neneknya.
Semua terdiam. Mawar semakin penasaran, bahkan sang nenek juga mengenal sang ayah. Yang sekarang sudah memiliki keluarga baru.
Mawar enggan menjawab. Meski dirinya adalah anak dari orang yang ditanyakan oleh sang nenek, tapi Mawar tahu, siapa di sini yang lebih berhak memberitahu beliau.
"Mas Wiryo..." Lina menggantung kalimatnya, memandang ke arah Tuan Tomi yang hanya diam. Dan Mawar bisa menebak, sepertinya sang kakek tahu apa yang telah terjadi.
Lina menggenggam telapak tangan Nyonya Tanti. Membuat Nyonya Tanti merasakan perasaan yang tak enak. Padahal, dirinya hanya menanyakan sang menantu.
Wiryo. Yang dengan berani pergi membawa sang putri menjauh darinya. Hanya karena tidak mendapatkan restu mereka berdua. Setidaknya, mereka ingin Wiryo mempertahankan Lina dengan berusaha agar mereka merestui hubungan mereka.
"Mas Wiryo dan Lina, kami sudah berpisah ma." tutur Lina menjelaskan dengan lembut.
"Berpisah." cicit Nyonya Tanti, meminta penjelasan lebih. Sebab kata berpisah memiliki banyak makna.
Lina menghembuskan nafas panjang. "Ma, Lina dan mas Wiryo memutuskan untuk berpisah. Kita bercerai."
Nyonya Tanti mengedipkan kedua kelopaknya dengan pelan. "Bercerai." lirihnya.
Lina tersenyum seraya mengangguk. "Iya ma, kita memutuskan untuk berpisah. Tapi kami masih berhubungan baik." jelas Lina.
Mawar hanya mendengarkan sang mama menjelaskan pada sang nenek. Mawar yakin, sang ibu tidak menyebutkan alasan perpisahannya dengan sang ayah karena suatu hal.
"Apakah Wiryo sekarang sudah menikah lagi?" tanya Nyonya Tanti.
Lina mengangguk pelan. "Iya, mas Wiryo sudah menikah beberapa hari yang lalu."
Mawar terlihat biasa dan tenang. Tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Bahkan, Tuan Tomi merasa jika Mawar belum sepenuhnya menerima kehadiran mereka.
Tuan Tomi tidak menyalahkan sang cucu. Sebab mereka memang baru saja bertemu. Padahal usia Mawar sekarang sudah hampir tujuh belas tahun.
Saat mereka berbincang, suara salam membuyarkan percakapan mereka. "Nak Jerome, masuk." ucap Lina, mempersilahkan Jerome untuk masuk ke dalam.
Jerome memandang ke arah Tuan Tomi. "Tuan Tomi." sapa Jerome.
Lina merasa kaget, bagaimana Jerome bisa kenal dengan sang papa. Namun tidak dengan Mawar. Dirinya bisa menebak. Jika sang kakek mempunyai pekerjaan seperti papa Jerome. Tuan Adipavi.
Keduanya saling berjabat tangan. Dilanjutkan Jerome bersalaman dengan Nyonya Tanti dan juga Lina. Tampak raut wajah Jerome yang penasaran, dengan keberadaan Tuan Tomi di rumah Mawar.
__ADS_1
Tuan Tomi, beliau adalah teman dari sang kakek, Tuan Dewano. Sekaligus rekan bisnis dari perusahaan sang papa.
Jerome pernah beberapa kali bertemu dengan beliau saat menggantikan sang papa bertemu dengannya untuk membicarakan bisnis.
"Saya teman sekolah Mawar. Meski kami tidak seangkatan. Tapi kami sekolah di tempat yang sama." ucap Jerome menjelaskan.
Tuan Tomi mengangguk pelan. "Mawar, dia adalah cucu saya. Lina putri kami." ucapnya memperkenalkan diri.
Jerome terdiam. Memandang ke arah Mawar yang menampilkan raut wajah biasa, tanpa ekspresi. Segera Lina mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana jika kita sarapan bersama dulu. Lagipula, Jerome sudah datang." ajak Lina.
Lina mendorong kursi roda sang ibu untuk dibawa ke meja makan. Diikuti oleh semuanya.
Meski sebenarnya, Nyonya Tanti masih ingin banyak bertanya mengenai Wiryo dan Lina yang bisa bercerai. Tapi Nyonya Tanti mengurungkannya, karena ada Jerome di sini.
"Kamu belum mandi?" tanya Jerome lirih, sebab mereka duduk berdampingan.
Mawar menggeleng. "Belum. Kak Jerome saja yang datang ke sini terlalu pagi."
Jerome tersenyum. "Takut keduluan. Bisa-bisa kamu berangkat dulu tanpa menunggu aku."
Lina mengisi piring kedua orang tuanya dengan senyum di bibir. Sedangkan Tuan Tomi memperhatikan interaksi Jerome dan Mawar.
Tuan Tomi tersenyum samar. Sepertinya dia dapat menebak, jika hubungan Jerome dengan sang cucu lebih dari sekedar sahabat.
Apalagi, ini pertama kalinya Tuan Tomi melihat Jerome bersikap dengan begitu hangat. Bahkan Jerome selalu tersenyum di samping Mawar.
Sebab, saat bertemu dengannya. Jerome memang sering menampilkan ekspresi datar. "Apa Dawano tahu." ucap Tuan Tomi dalam hati.
"Bagaimana ma?" tanya Lina, saat sang mama menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
Nyonya Tanti mengangguk pelan, menikmati makanan yang saat ini ada di dalam mulutnya. "Sekarang kamu pintar memasak." pujinya.
Lina tersenyum. Lalu mencium pipi sang mama. Mawar tersenyum samar, melihat tingkah sang ibu yang seperti remaja.
Mungkin karena mereka lama tidak bertemu. Dan itu salah satu rasa kangen yang diperlihatkan oleh Lina.
Selesai sarapan, Mawar segera kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap pergi ke sekolah bersama Jerome.
Sementara yang lain berbincang di ruang tamu. "Lin, bagaimana jika kamu tinggal di rumah kami. Bersama dengan Mawar." ajak Nyonya Tanti.
Baru semalam Wiryo datang, meminta tolong pada dirinya. Untuk membujuk Mawar tinggal bersama dengannya. Meski hanya semalam. Dan itupun, Lina belum memberitahu pada sang putri.
Sekarang kedua orang tuanya datang, dan memintanya untuk tinggal bersama mereka, tentunya dengan Mawar juga. "Lina tidak bisa memutuskan ma. Nanti akan Lina bicarakan dengan Mawar terlebih dahulu."
Nyonya Tanti mengangguk paham. Sebab Mawar juga sudah dewasa. Dan perlu diberitahu.
Sebetulnya, Nyonya Tanti merasa sedih melihat tempat tinggal sang putri beserta cucunya. Lina yang dulu diperlakukan bak seorang putri, sekarang tinggal di rumah kecil.
"Bagaimana jika kita keluar berdua. Sudah lama sekali mama ingin pergi bersama kalian." pinta Nyonya Tanti.
Sedangkan Tuan Tomi hanya diam. Dirinya sudah mengetahui bagaimana kehidupan Lina beserta Mawar setelah Wiryo dan Lina bercerai.
"Maaf ma, kalau sekarang Lina belum bisa. Lina harus bekerja. Dan Lina juga belum meminta izin libur."
Nyonya Tanti paham. Sebagai seorang perempuan yang sudah bercerai, tentu saja Lina harus bekerja. Meski ada uang yang Wiryo berikan. Tapi itu untuk Mawar. Itulah yang ada dalam benak Nyonya Tanti.
Ada perasaan iba di hati Nyonya Tanti. Putrinya yang dulu dimanja, sekarang harus mencari uang dengan bekerja pada orang lain. "Jam berapa kamu pulang?"
"Sore hari, ma."
"Baiklah. Nanti malam saja kita keluar. Sekalian makan malam. Ajak Mawar juga."
Lina terdiam sesaat. "Ma, sepertinya belum bisa. Mungkin hanya Lina yang bisa. Tapi Mawar mungkin tidak bisa." ucap Lina, merasa malu untuk mengatakan.
Mawar yang masih duduk di bangku sekolah harus bekerja. Padahal, seharusnya Mawar hanya fokus pada pelajarannya saja.
"Loh,, memang kenapa?" tanya Nyonya Tanti dengan raut wajah bingung.
Segera Tuan Tomi mengalihkan topik pembicaraan. "Ma, papa harus segera pergi ke perusahaan. Ada pertemuan dengan rekan bisnis papa."
Sayangnya, itu tidak berhasil. Nyonya Tanti kekeh ingin mendengar penjelasan dari sang anak. Kenapa cucunya tidak bisa pergi berama mereka.
Padahal malam hari. Pasti Mawar sudah pulang dari sekolah. Dan sudah bersantai di rumah. Lina tidak segera menjawab.
"Ma.." panggil Tuan Tomi.
"Lina. Katakan. Kenapa? Apa Mawar menolak untuk pergi bersama kami?" tanya Nyonya Tanti dengan ekspresi sedih.
Jerome hanya diam. Dirinya sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sebab dia tahu, jika ini bukan ranahnya untuk berbicara. "Bukan ma, Mawar.... Mawar belum pulang bekerja."
"Mawar. Bekerja. Bukankah dia masih sekolah?" tanya Nyonya Tanti terkejut mendapati kenyataan. Jika sang cucu yang harusnya menghabiskan masa mudanya dengan senang, harus bekerja untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhannya.
__ADS_1
"Mawar bekerja setelah dia pulang dari sekolah. Malam hari, dia baru pulang."
Nyonya Tanti terdiam. Mencerna penjelasan yang diberikan sang anak. Entah apa yang ada dalam benaknya sekarang. Tapi, tampak gurat sedih di raut wajahnya.