
Malam hari, sekitar pukul tujuh malam, Wiryo membawa Caty ke rumah Lina. Sesuai dengan apa yang Wiryo janjikan pada sang istri. "Silahkan di minum."
Mawar menjamu dengan baik tamu yang datang ke rumahnya tersebut. Meski dia pernah menyakiti hatinya, serta sang ibu.
Sedangkan Nyonya Tanti lebih memilih berada di depan televisi, menyaksikan siaran yang dia sukai. Beliau mengatakan pada Mawar, jika tidak baik untuk kesehatan jantungnya, jika bertemu dengan mantan menantu beserta istrinya tersebut.
Mawar hanya bisa tertawa renyah menanggapi perkataan sang nenek yang menurut Mawar lucu seperti dagelan tersebut.
"Mawar, ada apa di depan?" tanya Caty, dengan pandangan melihat ke arah bangunan yang masih belum jadi di depan rumah Mawar melalui pintu rumah yang terbuka lebar.
"Ibu mau membangun toko kue."
Caty mengangguk. "Kemana ibu kamu?"
"Sedang keluar. Membeli sesuatu. Mungkin agak lama."
"Sendiri?" tanya Caty memastikan.
Mawar menggeleng. "Bersama sopir kakek."
Caty mendatangi rumah Mawar dengan raut bahagia. Tak ada kata minta maaf dari mulut Caty atas apa yang telah pernah dia perbuat pada Mawar.
Seakan dirinya tidak pernah menyakiti hati Mawar di masa lalu. Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Bahkan, Caty juga tidak seperti Caty yang sebelumnya. Caty saat ini lebih banyak tersenyum, ramah, juga tutur katanya yang lembut.
Mawar sebenarnya juga sedikit bingung dengan sikap dan sifat Caty saat ini. Terbesit di benak Mawar jika Caty sedang melakukan peran. Namun, Mawar berpikir positif. Kemungkinan itu adalah bawaan bayi yang berada di dalam perut Caty.
Mawar bersikap biasa. Tidak terlalu memperlihatkan ketidak sukaannya pada Caty. Atau juga tidak memperlihatkan rasa terkejutnya atas perubahan Caty.
"Kalian tetap tinggal di sini?"
"Iya."
Sementara Wiryo hanya diam. Mendengarkan percakapan keduanya. Sesekali Wiryo tersenyum. Berharap ini akan menjadi awal membaiknya hubungan mereka.
"Kenapa tidak pindah ke rumah nenek sama kakek kamu?"
Mawar menggeleng seraya tersenyum. "Tidak. Mawar memilih untuk tetap tinggal di sini. Mawar sudah merasa nyaman tinggal di sini." jelas Mawar.
"Mawar, kamu besok ada waktu?"
Mawar terdiam. Mencoba mengingat jadwalnya untuk besok. "Besok Mawar mempunyai beberapa jadwal yang sangat padat." tutur Mawar.
Terlihat Caty memanyunkan bibir, dengan ekspresi sedih. "Memang kamu mau ke mana?" tanya Wiryo.
Wiryo sepertinya sudah tahu apa hang akan dikatakan oleh Caty. Atau bisa jadi, sang istri sudah mengatakan keinginannya pada dirinya sebelum datang ke rumah Mawar.
"Selesai sekolah, Mawar alan mengikuti les privat. Dan baru besok akan di mulai. Setelahnya, Mawar harus pergi ke rumah Nyonya Utami. Mawar sudah ada janji dengan beliau." jelas Mawar, tanpa menjelaskan les privat apa yang akan dia ambil.
"Kami bisa memundurkan jadwal les kamu. Mungkin bisa menjadi besok. Atau membatalkan janji kamu dengan Nyonya Utami. Atau mengganti janji kamu dengan Nyonya Utami di hari lain." saran Wiryo.
Awalnya, Mawar sendiri tidak bisa menebak kenapa Caty menanyakan kegiatannya esok. Tapi mendengar apa yang disarankan sang ayah, Mawar sepertinya bisa menebak apa maksud dan tujuan Caty menanyakan kegiatannya untuk hari esok.
Mawar tersenyum samar. Demi menyenangkan dan mengabulkan permintaan sang istri yang sedang hamil, sang ayah bahkan rela meminta Mawar untuk mengubah semua kegiatannya. Bahkan menyarankan untuk membatalkannya.
"Maaf yah, saya tidak bisa. Les privat itu sangat penting dan sudah Mawar rencanakan beberapa hari yang lalu."
Caty memegang lengan sang suami dengan tatapan memohon. Dan Wiryo paham keinginan sang istri. "Baiklah. Tapi kamu bisa mengatakan pada Nyonya Utami untuk membatalkan janji kalian."
"Maaf sekali lagi, Mawar tidak bisa melakukannya. Kami malah sudah berjanji jauh-jauh hari." jelas Mawar.
Wiryo mendengus kesal. Merasa Mawar tidak bisa diajak bekerja sama. "Apa kamu lebih mementingkan orang lain, dari pada mama kamu sendiri?!" tanya Wiryo dengan nada seperti membentak.
"Karena memang kenyataannya seperti itu. Nyonya Utami yang lebih dulu membantu Mawar saat Mawar dalam kesusahan. Bahkan di saat orang yang ayah katakan sebagai keluarga, sama sekali tidak membantu Mawar." tutur Mawar dengan santai, membalikkan perkataan Wiryo.
"Astaga Mawar, itu sudah lama. Kenapa kamu mengungkitnya kembali." kesal Wiryo, merasa sang anak masih menyimpan rasa sakit hati.
"Mawar tidak mengungkitnya lagi. Hanya memperjelas. Jika bisa saja, orang lainlah yang lebih peduli pada kita, dari pada keluarga. Dan saat ini, Mawar hanya ingin membalas rasa belas kasih yang pernah Nyonya Utami berikan pada Mawar."
Tanpa mereka sadari, Nyonya Tanti mendengar percakapan mereka dengan sengaja. Air mata beliau menetes tanpa bisa dicegah.
Dirinya tidak bisa membayangkan. Betapa sulitnya kehidupan putri dan cucunya setelah mereka ditinggalkan Wiryo. Meski hanya sebentar.
"Maaf, kami datang terlambat." batin Nyonya Tanti. "Tenang sayang, nenek tidak akan membiarkan kalian dalam kesusahan lagi. Tidak akan pernah." ucapnya, seraya menghapus air mata di pipinya.
"Tapi kamu bekerja. Bukan Nyonya Utami memberikan uang secara cuma-cuma." ujar Wiryo.
__ADS_1
"Yah,,,, mana mungkin di saat keluarga sendiri tidak memberikan uang. Orang lain malah memberikan uang dengan cuma-cuma. Diterima bekerja saja, Mawar sudah sangat berterimakasih. Lagi pula, Mawar tidak akan pernah membuka dan menengadahkan telapak tangan Mawar untuk mengemis." tekan Mawar.
Caty merasa apa yang Mawar katakan untuk menyindir dirinya. Sebab, dirinya memang sengaja tidak memberikan uang yang telah Wiryo titipkan padanya pada Mawar.
"Baiklah. Intinya kamu mau atau tidak. Besok menemani mama kamu?!"
Mawar merasa lucu melihat sang ayah. Dia yang datang. Dia yang bertamu. Dia yang meminta. Tapi terlihat jelas dia juga yang bersikukuh.
"Jika untuk besok, Mawar tidak bisa." tegas Mawar, tetap pada pendiriannya.
Wiryo hanya bisa mendesah pelan. Dia mengira Mawar akan dengan mudah menuruti permintaannya, dengan Mawar yang sudah mengizinkan dirinya dan Caty datang.
Nyatanya tidak seperti dugaan Wiryo. "Mawar, saya bisa membayar waktu kamu." cicit Caty.
Nyonya Tanti merasa berang mendengar Wiryo beberapa kali menaikkan nafa suaranya saat berbicara pada Mawar. Tapi beliau tidak bisa berbuat apa-apa.
Jika Nyonya Tanti menghampiri mereka, sudah dipastikan jika dirinya ketahuan sedang mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Maaf, saya tidak menjual waktu saya. Lagi pula, saya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar. Bagi saya, sekarang untuk mendapatkan uang sangatlah mudah." jelas Mawar.
Padahal Mawar sendiri juga tidak menginginkan harta sang kakek. Mulai sekarang, Mawar akan mempergunakan nama besar sang kakek. Memanfaatkan dengan baik, apa yang ada saat ini.
Dirinya hanya tidak ingin harga dirinya kembali diinjak-injak seperti dulu. Direndahkan karena tidak mempunyai harta dan kedudukan.
Nyonya Tanti yang mendengarkan ucapan sang cucu tersenyum sempurna. Dirinya tidak menyangka, Mawar akan mengatakan hal seperti itu.
"Kapan kamu mempunyai waktu luang?" tanya
Wiryo.
"Mawar tidak bisa memastikan. Mungkin lusa, bisa." ujar Mawar.
Wiryo dan Caty berada di rumah Mawar tak lebih dari satu jam. Caty akhirnya setuju dengan apa yang dikatakan Mawar. Jika dirinya dan Mawar akan keluar bersama lusa.
Mawar menutup pintunya, setelah Wiryo dan Caty pergi dari rumahnya. Lalu pergi menemui sang nenek yang berada di depan televisi.
Mawar duduk di samping sang nenek. "Apa mereka sudah pulang?" tanya sang nenek.
Mawar mengangguk. "Baru saja."
"Kenapa mereka senang sekali membuat susah orang lain. Astaga, nenek bersyukur, ibu kamu tidak seperti dia." ujar Nyonya Tanti.
"Ibu kamu sudah berada di jalan hendak pulang." jelas Nyonya Tanti. Sebab baru saja beliau menanyakan keberadaan sang anak melalui ponselnya
"Mawar, apa kamu punya pikiran untuk tinggal bersama ayah kamu?" tanya Nyonya Tanti.
Mawar terdiam sesaat. Dirinya tidak ingin, apa yang akan dia katakan malah akan menyinggung sang nenek. Pasalnya Mawar menolak untuk tinggal di rumah mereka.
"Nek, apa nenek tahu, di sana ada yang bernama Thomas?" bukannya menjawab pertanyaan sang nenek, Mawar malah balik bertanya.
"Thomas?" cicit Nyonya Tanti.
"Dia cucu dari Tuan Sapto dan Nyonya Gendis. Putra Tuan Adam bersama Nyonya Agatha." jelas Mawar.
Nyonya Tanti mengangguk. "Dia sekarang berada di sekolah yang sama dengan Mawar. Tapi dia berada di kelas tiga. Dan sekarang, Thomas tinggal bersama mereka."
"Apa hubungannya kamu dengan Thomas. Emm... iya, kalian menjadi saudara. Meski tak sedarah."
Mawar menggeleng. "Bukan itu."
"Lalu?"
"Jika Mawar menginap atau tinggal di sana, kak Jerome juga akan ikut tinggal di sana." jelas Mawar.
Nyonya Tanti terdiam sejenak. Lalu tertawa terbahak-bahak. Sekarang beliau tahu apa yang dimaksud Mawar.
"Astaga Jerome,,,, segitunya dia sama kamu." ucap Nyonya Tanti dengan masih menyisakan tawa.
Mawar mengangguk seraya tersenyum. "Bisa nenek bayangkan. Kak Jerome tinggal di sana. Dan ada Thomas. Mau jadi apa rumah Tuan Sapto."
Keduanya berbincang di sela-sela menonton televisi. Sembari menunggu kedatangan sang ibu.
Keesokan harinya, Mawar seperti biasa. Pergi ke sekolah dengan raut wajah bahagia. "Sayang, nanti kamu jadikan di antar sopir?" tanya sang nenek saat mereka sarapan bersama.
Mawar mengangguk. "Iya nek." sahut Mawar.
Sebab sang ibu maupun sang nenek khawatir jika Mawar kelelahan. Karena setelah pulang dari sekolah, Mawar langsung pergi untuk belajar bisnis di sebuah tempat.
__ADS_1
Sebenarnya, Tuan Tomi ingin memanggil sang guru untuk datang ke rumah saja. Tapi Mawar menolak. Mawar memilih untuk datang ke tempat beliau. Belajar bersama para anak yang lain, yang juga sama seperti dirinya.
Apalagi setelah itu, Mawar akan langsung menemui Nyonya Utami di rumah beliau. Itulah alasan sang nenek dan juga Lina melarang Mawar mengendarai motor sendiri.
Mereka takut Mawar kelelahan dan tidak akan konsentrasi saat mengendarai sepeda motor. Tentu saja mereka khawatir akan keselamatan cucu dan anak tercinta mereka.
"Langsung pulang setelah dari rumah Nyoya Utami." pesan Lina.
"Iya bu." sahut Mawar.
Selesai sarapan, Mawar segera berpamitan pada sang ibu dan juga sang nenek untuk pergi ke sekolah. Di dalam mobil, Mawar memainkan ponselnya. Tentu saja Mawar membalas pesan dari sang kekasih. Jerome.
Meski sudah beberapa hari tidak bertemu karena kesibukan masing-masing, mereka tetap bertukar kabar dan berkomunikasi melalui ponsel.
Seperti biasa, Mira dan Selly menunggu Mawar di area parkir. Mereka tidak mengetahui jika Mawar berangkat dengan diantar sopir.
"Pak, berhenti di sini saja. Nanti Mawar akan menghubungi bapak jika sudah mau pulang." tutur Mawar.
"Baik Non."
Sang sopir hendak turun dari mobil. Tapi terhenti mendengar suara Mawar. "Ehh,,,, bapak mau kemana. Di dalam saja. Tidak perlu kelaur." pinta Mawar, membuka pintu mobil di sampingnya sendiri.
Pak sopirpun menghentikan gerakannya. "Mawar masuk dulu pak." pamit Mawar pada pak sopir.
"Iya Non, belajar yang rajin." sahut sang sopir dengan kepala berada di jendela mobil. Mawar tersenyum dan berjalan masuk ke dalam area sekolah.
Sang sopir tak lantas segers menjalankan mobilnya. Tatapannya tetap fokus pada punggung Mawar yang tertutup tas punggung berisikan peralatan sekolah. "Syukurlah. Cucu Tuan dan Nyonya sangat baik dan sopan." pujinya terhadap Mawar.
Mira dan Selly saling pandang, melihat Mawar datang dengan berjalan kaki. "Naik apa?" tanya Mira, sedikit berteriak. Pasalnya Mawar memang belum berada dekat dengan mereka. Meski juga tak jauh.
Mawar hanya tersenyum. Meneruskan langkahnya, dan masih menunda jawaban yang akan dia berikan pada Mira atas pertanyaannya.
"Diantar sopir." sahut Mawar, setelah berdiri di depan kedua sahabatnya.
Mira dan Selly merasa heran. "Tumben."
Mawar mengangguk, berjalan kembali dengan di dampingi Mira dan Selly di sisi kanan kirinya. "Nenek dan ibu khawatir jika aku lelah dan tidak fokus menyetir."
"Kamu sakit?" tanya Selly dengan cepat.
Mawar menggeleng. "Nggak. Bukankah kemarin aku sudah mengatakan. Jika aku akan mengikuti privat untuk jurusan bisnis."
"Oh... iya." tukas Mira dan Selly bersamaan.
"Aku setuju dengan nenek dan ibu. Nanti takutnya kamu kenapa-napa di jalan." timpal Selly.
Ketiganya berjalan menuju ruang kelas dengan berbincang ringan. "Kalian kenapa nggak ikut les sama aku saja. Biar bisa bareng satu kelas." ajak Mawar.
"Apa otak aku sampai ya." tukas Mira.
Mawar berdecak. "Jangan begitu. Kamu pikir otak kamu panjang seperti tali. Makanya sampai." kelakar Mawar.
"Boleh juga sih sebenarnya. Nanti aku coba tanya sama papa." timpal Selly. Sebab Selly juga anak tunggal. Dan tentu saja dirinya juga ingin membantu sang papa.
"Aku juga deh." sahut Mira.
"Tapi yang serius. Jangan main-main. Buang-buang waktu dan uang." ucap Mawar mengingatkan.
"Siap boss." seru Mira dan Selly serempak.
Sementara Gaby memutuskan untuk pergi sekolah hari ini. Padahal pihak sekolah memberikan waktu padanya untuk memulihkan diri. Menenangkan pikirannya.
Pihak sekolah mengerti serta berpikir jika Gaby pasti sangat terguncang mentalnya dan merasa trauma atas apa yang menimpanya. Melihat bagaimana Gaby terus menangis dalam pelukan Mawar, sebelum masuk ke dalam pelukan sang papa.
Tapi mereka ternyata salah menilai sosok Gaby. Tak ada rasa trauma setelah dirinya tenang. Malah, rencana-rencana licik tersusun rapi di dalam benaknya setelah sampai di rumah.
Bahkan, saat Tuan Djorgi mengingatkan Gaby untuk beristirahat dulu di rumah, Gaby menolak dengan alasan tidak ingin tertinggal pelajaran. Tentu saja semua itu bohong.
Gaby duduk di kursi belakang. Dengan sang sopir berada di belakang mengemudikan mobil. Gaby tersenyum senang menatap ke depan.
Dengan begitu percaya, Gaby yakin jika kehidupannya akan berubah mulai hari ini. "Gue yakin, mulai hari ini, gue akan dengan mudah mendapatkan simpati semua murid di sekolah. Dan,,,,, by,, by,, Mawar." ucapnya sembari terkekeh pelan.
Pak sopir yang berada di depan mendengar semua perkataan Gaby dengan jelas. Beliau hanya bisa menghela nafas. "Astaga. Seharusnya dia mendekati Non Mawar. Berteman dengan Nona Mawar. Belajar dari Non Mawar untuk menjadi lebih baik. Bukannya tetap seperti ini." ucap sang sopir yang hanya berani di utarakan di dalam hati.
Ada perasaan bersyukur yang sangat besar dalam hati sang sopir. Meski keluarganya hidup tak bergelimang harta, tapi beliau mempunyai anak-anak yang berbudi dan berperilaku baik.
Segera sang sopir turun dari dalam mobil, dan membukakan pintu untuk Gaby. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Gaby langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Gaby juga yakin, jika pihak sekolah tidak akan menghukumnya seperti apa yang telah di sampaikan oleh kepala sekolah. Di saat dirinya sudah mendapatkan simpati dari para murid.
Sebab Gaby yakin, para murid juga akan membela dirinya. Karena merasa kasihan pada Gaby. "Oke Gaby, tampilkan wajah polos yang tersakiti." batinnya, sambil melangkah.