MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 157


__ADS_3

"Mawar..." panggil seseorang, saat Mawar baru melangkahkan satu kakinya ke dalam mobil. Mawar menoleh ke sumber suara.


"Kak Jerome." cicit Mawar, setelah melihat siapa yang memanggil dirinya.


"Tuan Muda." sapa sang sopir yang juga kenal dengan Jerome.


Jerome tersenyum memandang Mawar. "Kenapa? Pasti kamu terkejut, aku ada di sini." ujar Jerome, mengacak rambut Mawar pelan.


Mawar hanya mencebik. "Pak, biar saya yang mengantar Mawar ke rumah tante Utami." pinta Jerome.


Sang sopir menatap ke arah Mawar. Tentu saja beliau tak segera mengiyakan apa yang diminta oleh Jerome.


Apalagi sang majikan mempercayakan Nona Mudanya pada dirinya. Mawar tersenyum sembari mengangguk. "Biar nanti Mawar yang menelpon ibu." ucap Mawar pada pak sopir.


Memberitahu beliau jika dirinya akan pergi bersama dengan Jerome. Lagipula, Jerome juga bukan orang asing. Seluruh keluarga Mawar kenal, bahkan akrab dengannya.


Pak sopir tersenyum seraya mengangguk pelan. "Baik Non."


Beliau alihkan pandangannya pada Jerome. "Tuan Muda, saya titip Nona saya, jaga Nona saya dengan baik."


"Pasti. Makanya biar saya yang antar." ucap Jerome, dan Mawar tahu betul apa arti kalimat dari Jerome tersebut.


"Ayo." ajak Jerome, membawa Mawar masuk ke dalam mobil yang berada di belakang mobil Tuan Tomi.


Mawar kembali menoleh ke arah pak sopir yang masih berdiri memandang ke arahnya. "Pak, kami pergi dulu." pamit Mawar dengan sopan.


"Iya Non, hati-hati." sahut pak sopir tersenyum tulus.


"Dari mana kak Jerome tahu, jika Mawar ada di sini?" tanya Mawar sembari memasang sabuk pengaman di badannya.


"Ibu." sahut Jerome dengan ekspresi jutek.


Tak seperti tadi saat ada pak sopir. Kini Jerome memasang wajah cuek dan terkesan sedang ngambek.


Mawar memegang lengan Jerome. "Maaf, Mawar belum memberitahu kak Jerome, rencana ini dadakan." ucap Mawar.


"Kak... ngomong dong." bujuk Mawar.


"Hemmm..."


Mawar tersenyum. "Nggak kangen nih sama Mawar." tukas Mawar dengan ekspresi imutnya.


Jerome menghela nafas panjang. "Dasar. Sekarang sudah pandai merayu ya..." Jerome memencet hidung Mawar.


"Mawar hanya tidak ingin menganggu kak Jerome." ujar Mawar.


"Mengganggu bagaimana. Aku dama sekali tidak merasa kamu mengganggu aku."


"Kak Jerome ke rumah Mawar?" tanya Mawar, sebab Jerome mengatakan jika mengetahui keberadaan Mawar dari sang ibu.


"Iya."


"Ibu masih ada di rumah?" tanya Mawar. Karena sang ibu mengatakan jika beliau akan pergi membeli peralatan untuk persiapan toko baru yang sedang dalam proses pembangunan.


"Tadi masih ada di rumah. Nenek juga ada. Tapi memang kelihatannya ingin keluar." jelas Jerome, melihat pakaian yang dikenakan Lina.


"Oh iya, kenapa kamu menolong Gaby. Seharusnya kamu biarkan saja." papar Jerome.


Mawar tidak perlu bertanya dari mana sang kekasih mengetahui hal tersebut. Sebab sudah dipastikan Jerome mempunyai banyak mata dan telinga yang bisa memberinya laporan dua puluh empat jam.


"Kak Jerome. Jajat banget sih." tukas Mawar.


"Dia memang pantas mendapatkannya."


"Mawar masih mempunyai rasa belas kasih kak. Kucing saja Mawar tolong, apalagi manusia." jelas Mawar.


"Makin cinta." gombal Jerome.


"Apaan sih. Nggak njalur." celetuk Mawar, meski hatinya berbunga-bunga mendapat gombalan dari sang kekasih.


"Bagaimana pertama kali masuk les?" tanya Jerome penasaran. Sebab Mawar memang sama sekali belum pernah mengetahui tentang bisnis.


"Oke. Tidak terlalu sulit." ucap Mawar.


Jerome tersenyum. Tebakannya benar. Jika sang kekasih kelak akan menjadi saingannya dalam dunia bisnis.


Jerome memasukkan mobilnya ke pekarangan rumah Nyonya Utami. "Rame sekali. Ada apa ya?"


Ada tiga mobil, serta beberapa motor terparkir di halaman rumah bu Utami. "Memang kamu nggak tahu, ada acara apa?" tanya Jerome.


"Nggak. Mawar dan bu Utami memang ada janjian. Hanya sekedar bertemu." jelas Mawar.


Mawar dan Jerome turun dari mobil. "Pak, ada acara apa?" tanya Mawar pada pak satpam.


"Mbak Mawar. Tidak ada acara apa-apa mbak. Hanya teman Den Dami." jelasnya.


Mawar dan Jerome mengangguk paham. "Mawar masuk dulu pak." pamit Mawar.


"Silahkan mbak." sahut beliau.

__ADS_1


Mawar langsung membuka pintu, tanpa mengetuk atau mengucapkan salam. "Sering ke sini?" tanya Jerome melihat Mawar seperti sudah terbiasa.


"Tapi saat kak Dami nggak ada." jelas Mawar, tak ingin Jerome cemburu.


"Benar?" tanya Jerome menyakinkan.


Cup... "Man mungkin aku bohong sayang." bisik Mawar.


Jerome terpaku. Memegang pipinya yang dicium Mawar. "Sayang." bunga di hati Jerome seketika bermekaran dipanggil sayang oleh Mawar.


Jerome masih berdiri di tempat, merasakan banyaknya bunga yang bermekaran di hatinya. Sedangkan Mawar sudah melangkahkan kakinya menjauh dari Jerome.


Segera Jerome menyusul sang kekasih. "Kenapa gue tadi nggak bawa plester." cicitnya, tetap memegang pipi yang dicium oleh Mawar.


"Sayang....!!! Tunggu...!!" teriak Jerome dengan santai, seolah dia berada di rumahnya sendiri.


Suara Jerome membuat semua orang yang berada di ruang tersebut menoleh ke arah Mawar dan Jerome. Mereka adalah teman Dami.


Mawar tersenyum canggung. "Mawar." panggil Dami yang duduk lesehan di bawah.


Jerome langsung menaruh tangannya di pinggang Mawar dengan santai. "Loh,,, sama Jerome." cicit Dami, mengira Mawar sendirian.


"Kenapa?! Elo nggak suka..!! Gue pacarnya." ketus Jerome.


"Kak..." geram Mawar merasa tidak enak pada Dami.


Salah satu teman Dami menatap Mawar dengan intens. "Jadi benar, dia namanya Mawar." batinnya seraya tersenyum. "Cantik. Seperti namanya." lanjutnya yang hanya bisa dia ucapkan dalam hati.


Sedangkan seorang perempuan menatap Mawar dengan kesal. Dia adalah mahasiswi yang sempat meminta nomor ponsel milik Jerome.


Tapi oleh Jerome malah diberikan nomor ponsel milik Tian. "Ternyata dia kekasihnya. Dibawah standar. Cantikan gue kemana-mana." ucapnya dalam hati membandingkan dirinya dan Mawar.


"Sini, ikut gabung sama kita." ajak Dami.


Jerome mengeratkan tangannya di pinggang ramping Mawar. "Khemm..." dehem Jerome.


"Maaf kak, Mawar ada janji sana bu Utami." tolak Mawar dengan sopan.


"Sayang..." panggil Nyonya Utami, menuruni anak tangga.


Beliau merentangkan kedua tangannya. Dan langsung memeluk Mawar dengan erat. Kehadiran Mawar bisa mengobati rasa kangen Nyonya Utami akan Dona. "Tante, jangan lama-lama." celetuk Jerome, terlihat tidak rela sang kekasih di peluk orang lain.


"Kak Jerome." kesal Mawar, bisa-bisanya Jerome mengultimatum Nyonya Utami yang notabennya seorang perempuan. Padahal Mawar sudah menganggap Nyonya Utami seperti ibunya juga.


Nyonya Utami tertawa lepas. "Posesif sekali kamu. Apa mungkin, kamu iri sama Mawar. Sini, tante peluk." canda Nyonya Utami, menggoda Jerome.


Nyonya Utami sendiri menyadari jika putra dari Nyonya Mesya tersebut banyak sekali perubahannya. Dia tak sekaku dan sedingin dulu. Dan semua berkat Jerome dekat dengan Mawar.


"Kamu itu. Kalian menikah saja." timpal Nyonya Utami, bercanda pada Jerome dan Mawar.


"Oke."


"Nggak."


Mawar dan Jerome menjawab secara bersamaan. "Kenapa tidak." rengek Jerome.


Mawar melepas pelukan Jerome. "Kak, Mawar masih kelas dua SMA. Kak Jerome juga baru saja masuk ke perguruan tinggi. Nggak usah mikir yang tidak-tidak." jelas Mawar.


"Tidak masalah. Aku bisa membiayai sekolah kamu. Sekaligus semua kebutuhan kamu sehari-hari." Jerome memainkan alisnya naik turun.


Nyonya Utami hanya tersenyum melihat mereka berdua. "Bu, jangan bilang seperti itu lagi." ucap Mawar menetap kesal ke arah Nyonya Utami.


Nyonya Utami tahu, jika Mawar tidak benar-benar marah padanya. "Ibu bercanda sayang." ucap Nyonya Utami mencubit pipi Mawar.


"Bu, kak Jerome pasti akan menganggap serius." ucap Mawar cemberut.


"Ya iyalah,,, aku kan sudah mapan. Sekarang perempuan yang dicari apa, selain mempunyai pasangan tampan dan juga mapan." ucap Jerome dengan sombong.


"Astaga." Mawar hanya bisa memutar bola matanya dengan jengah.


Segera Mawar menggandeng tangan Nyonya Utami, membawanya menjauh dari Mawar. Saat berjalan, Mawar tersenyum samar. Sedangkan Nyonya Utami tertawa pelan.


"Sayang... kok aku ditinggal sih." Jerome berlari kecil mengejar Mawar dan Nyonya Utami.


Dami terkekeh pelan. Kehadiran Mawar dan Jerome mampu membuat sang mama ceria kembali. "Dia adik kamu? Atau saudara?" tanya temannya.


"Siapa?" tanya Dami, pasalnya sang teman tidak bertanya secara jelas.


"Yang perempuan. Mawar."


"Emmm. Bukan. Dulu dia bekerja di butik mama. Tapi mama sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri." jelas Dami.


"Hati-hati. Bisa jadi itu hanya modus. Kaliankan orang kaya." timpal wanita yang pernah meminta nomor ponsel Jerome, bermaksud menghasut Dami.


Dami tertawa pelan. "Asal elo tahu. Keluarganya lebih kaya dari gue." tukas Dami.


"Dia cucu tunggal dari Tuan Tomi. Seharusnya elo tahu siapa dia." lanjut Dami.


"Ternyata benar." gumam teman Dami yang seorang lelaki.

__ADS_1


"Tu-Tuan Tomi." cicit wanita tadi. Dami mengangguk.


"Pantas. Jerome tidak bisa berpaling darinya. Ternyata karena dia cucu tunggal Tuan Tomi." ucapnya tersenyum samar.


Mengira jika Jerome mendekati Mawar dan menjadikan Mawar sebagai kekasihnya hanya karena Mawar adalah pewaris dari seluruh kekayaan Tuan Tomi.


Mawar dan Jerome pergi bersama Nyonya Utami ke taman belakang. Di mana ada gazebo di taman tersebut.


Ketiganya berbincang dengan beberapa camilan ringan dan juga minuman di depan mereka. Tampak senyum di bibir mereka selalu terpatri di wajah mereka.


Dengan Jerome yang sesekali menggoda Mawar saat mereka berbincang. Membuat Mawar merajuk lucu. Dan hal tersebut terlihat begitu indah di depan Nyonya Utami.


Djorgi mendatangi rumah Lina. Dirinya tak tahu lagi harus membagi keluh kesahnya pada siapa. Hanya nama Lina yang ada di dalam benaknya.


Beruntung, keduanya bertemu di halaman rumah. Sebab Lina memang ingin pergi ke suatu tempat.


Sedangkan Nyonya Tanti tetap berada di rumah bersama seorang pembantu yang memang dipanggil untuk tinggal di rumah Lina mulai hari ini. Menemani beliau saat Mawar maupun Lina sedang tidak ada si rumah.


"Kita bicara di sini, tidak apa-apakan?" tanya Lina meminta persetujuan Djorgi.


Pasalnya Lina membawa Djorgi ke cafe yang terletak tak jauh dari rumahnya. Djorgi menggeleng. "Tidak."


Lina melihat wajah Djorgi yang terlihat tidak bersemangat. Ada beban berat yang sedang dia pikul di kedua pundaknya.


Lina bisa menebak, jika Djorgi memintanya bertemu dengannya karena ingin membicarakan sesuatu. "Katakanlah. Jika aku bisa membantu, aku pasti akan membantu kamu." pinta Lina.


Djorgi tersenyum tulus. "Terimakasih."


"Kenapa berterimakasih lebih dulu. Kamu saja belum mengatakan apapun." ucap Lina merasa lucu dengan sikap Djorgi.


Djorgi tersipu layaknya seorang remaja. "Ayolah. Katakan. Ada apa?" tanya Lina lagi, menyeruput minuman di depannya yang mereka pesan sebelumnya.


"Gaby. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan padanya." ujar Djorgi dengan raut wajah bingung.


Lina hanya diam. Dia memberikan waktu pada Djorgi untuk mengeluarkan segalanya yang ada di dalam benaknya.


"Gaby berulah lagi di sekolah. Dan terpaksa dia harus di keluarkan dari sekolah. Tapi, pihak sekolah memberi pilihan untuk Gaby keluar sendiri. Sehingga memudahkan Gaby untuk mencari sekolah di luar."


Djorgi menyenderkan punggungnya di senderan kursi. Raut wajahnya tampak sekali lelah. Lelah dengan sang putri. Apalagi Lina tahu, tak mudah bagi orang tua tunggal membesarkan seorang anak.


"Apa yang harus aku lakukan. Aku hanya ingin Gaby berubah menjadi lebih baik. Hanya itu." tukas Djorgi.


Lina mengulurkan tangannya. Mengelus punggung telapak tangan Djorgi dengan pelan. Seolah Lina tahu akan beban berat yang sedang dirasakan oleh Djorgi.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Djorgi tampak frustasi.


Lina menarik kembali tangannya untuk menjauh dari tangan Djorgi. "Boleh, aku menyarankan sesuatu?" tanya Lina terlebih dahulu.


Sebab, Lona sadar jika dirinya hanyalah orang luar. Yang sama sekali tak ada hak untuk mencampuri urusan keluarga Djorgi.


Djorgi mengangguk. "Berbicaralah dengan mantan istri kamu. Mama dari Gaby."


Djorgi terdiam. Menatap Lina dengan tatapan bingung. "Aku tahu, dia sudah berkeluarga. Dan mempunyai anak dari pernikahannya yang sekarang." tutur Lina. Sebab Djorgi pernah menceritakan soal mantan istrinya.


"Kunjungilah dia di negaranya. Berbicaralah dengan suaminya yang sekarang secara baik-baik. Katakanlah niatmu pada mama dari Gaby."


"Selama ini, dia sama sekali tidak pernah menanyakan Gaby. Bahkan dia hanya berkunjung untuk menemui Gaby beberapa kali, hingga Gaby sebesar ini." jelas Djorgi dengan wajah kecewa.


Lina tersenyum. Dia mengerti apa maksud perkataan Djorgi. "Hati orang, siapa yang tahu."


Djorgi terdiam. Benar kata Lina. Karena selama ini, dirinya memang tidak pernah berkomunikasi dengan mantan istrinya. "Mungkin, mereka kesulitan ekonomi. Jarak yang jauh, pasti membutuhkan uang yang banyak juga. Contohnya aku dan Mawar. Seperti apa kehidupan kami setelah aku berpisah dengan suamiku." jelas Lina.


"Aku sama sekali tidak pernah mengeluh pada mantan suamiku. Sebisa mungkin, aku mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan kami. Bahkan Mawar, dia juga sama sekali tidak mengeluh."


Djorgi mencerna apa yang dikatakan Lina. "Apa mungkin kehidupannya sangat sulit?" tebak Djorgi.


"Bukan sulit. Tapi mungkin uang mereka hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari." tukas Lina.


"Lebih cepat lebih baik. Tapi ingat, dia sekarang sudah bersuami. Jadi, kamu harus berkomunikasi dulu dengan suaminya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman." saran Lina.


"Terimakasih. Aku akan segera pergi menemuinya."


"Lalu, di mana Gaby sekarang?" tanya Lina.


"Di rumah. Dia aku kurung di dalam kamar."


Lina melongo, lalu tertawa pelan mendengarnya. "Astaga Djorgi, kamu sedang menghukum anak balita." goda Lina.


"Aku bingung Lin. Selama ini aku tidak pernah sekalipun memarahi atau menghukum Gaby."


Sekarang Lina paham. Kenapa Gaby memiliki sifat pembangkang serta sama sekali tidak dekat dengan Djorgi. "Pantas saja. Mungkin Djorgi hanya fokus pada pekerjaannya. Dan hanya memberikan uang dan uang pada Gaby. Tanpa memantau kesehariannya." batin Lina.


"Jika Mawar, aku selalu menyuruhnya untuk melakukan sesuatu, jika dia bersalah. Tapi itu sudah lama. Karena, semenjak SMP, Mawar tidak pernah membuat kami susah." tutur Lina.


"Apa sebaiknya aku juga menerapkannya pada Gaby. Meski aku tahu, jika waktunya sudah sangat terlambat." ujar Djorgi, meminta pendapat Lina.


"Coba saja. Dan lihat apa yang terjadi." saran Lina.


"Menurut kamu, hukuman apa yang sebaiknya aku berikan pada Gaby?" tanya Djorgi meminta pendapat Lina.

__ADS_1


Lina tersenyum penuh makna. Sepertinya dia tahu, apa hukuman yang sebaiknya diberikan pada Gaby.


__ADS_2