
Pagi -pagi Djorgi sekarang semakin ceria. Sang putri setiap pagi duduk bersamanya di meja makan. Dengan senyum di bibir.
"Pa, bagaimana, apa tante Lina sudah menjawab pernyataan papa?" tanya Gaby.
Djorgi menggeleng. "Belum. Bahkan dia menghindar dari papa."
Gaby terdiam. "Nggak bisa. Gue harus bergerak." ucap Gaby dalam hati.
Apalagi kemarin dia melihat bagaimana hubungan Jerome dan Mawar semakin dekat. Dan juga, ini pertama kalinya Gaby melihat bibir Jerome selalu tersenyum.
Mawar sibuk belajar, memikirkan ujian yang sedang dia hadapi setiap hari. Berbeda dengan Gaby yang malah sibuk merencanakan supaya sang papa dan ibu dari Mawar segera menikah.
"Nanti, Gaby akan ke toko kue. Gaby akan membantu papa. Bagaimana?"
"Membantu bagaimana. Nanti yang ada dia malah akan semakin menjauh."
"Tidak pa, tenang saja. Gaby akan mencobanya." kekeh Gaby, demi memuluskan rencananya.
"Gaby sayang, sabar. Kita harus sabar. Semua butuh proses."
Gaby hanya tersenyum palsu menanggapi perkataan sang papa. "Tapi Gaby tidak bisa bersabar. Melihat Mawar semakin bahagia. Apalagi, mama kak Jerome kelihatannya juga mati kutu." ucap Gaby dalam hati.
Sementara Caty, dengan wajah di tekuk mendatangi rumah sang mama. Dimana, di sana masih ada sang kakak, Adam beserta sang istri dan kedua anaknya.
"Mama kenapa manggil Caty sepagi ini?" tanya Caty dengan nada tak suka.
Nyonya Gendis hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan dari putri satu-satunya tersebut. "Sepagi ini kamu bilang. Lihat, kakak kamu saja sudah mau berangkat ke bandara."
Caty hanya terdiam dengan pandangan acuh. Apalagi di sebelahnya ada Agatha. Istri dari sang kakak, yang selalu disanjung dan dipuji oleh sang mama.
Sejak pertama kali bertemu, Caty memang sudah tidak menyukai Agatha. Entah karena apa. Padahal Agatha juga berasal dari keluarga kaya dan terpandang.
"Lantas kenapa? Berangkat, ya berangkat saja. Ngapain nyuruh Caty ke sini. Pake ngancem segala." ketus Caty.
"Mama yang nyuruh kamu!! Bukan mereka....!!" seru Nyonya Gendis kesal.
Adam mengelus punggung sang mama. "Ma, ingat jantung mama. Yang sabar." ucap Adam dengan bijak. Sedangkan Tuan Sapto sudah tidak berada di rumah. Beliau sudah berangkat ke lapangan golf bersama teman-temannya.
Caty memandang Agatha dengan sinis. Dan Agatha sadar akan hal itu. "Ma, mas, Aga ke kamar dulu ya. Mau ngecek barang. Siapa tahu ada yang ketinggalan. Sekalian mau melihat persiapan Lucas." ucap Agatha beralasan. Memilih untuk pergi.
Agatha sadar, jika ini adalah masalah keluarga sang suami. Dan dirinya hanyalah orang luar yang tidak seharusnya ikut campur dalam masalah ini.
Ditambah lagi, dirinya tahu jika Caty memang sedari dulu tidak menyukai dirinya.
Nyonya Gendis menyodorkan ponselnya. Dimana di layarnya terdapat chat dengan teman arisannya. "Baca dan lihat, apa yang dia kirim." ketus Nyonya Gendis.
"Foto mas Wiryo. Astaga, jangan bilang teman mama menyukai mas Wiryo. Pake mencuri fotonya segala." tebak Caty.
"Caty... baca tulisannya. Bukan hanya fotonya yang kamu lihat...!!!" seru Nyonya Gendis kehilangan kesabaran.
Caty menaruh ponsel sang mama di atas meja. "Apa yang salah sih ma. Mas Wiryo sarapan di sana?"
"Astaga,,,, Adam... Kenapa mama melahirkan anak yang tidak bisa berpikir...!!" geram Nyonya Gendis, memegang kepalanya.
"Ma, tenang. Ingat kondisi kesehatan mama." ucap Adam mengingatkan.
Caty memutar kedua matanya dengan malas. Melihat adegan di depannya. Dia merasa sang mama terlalu berlebihan.
Adam menatap sang adik yang duduk kursi depannya. "Sekarang kamu dan Wiryo sudah menikah. Kalian sepasang suami istri. Sudah sepatutnya, kamu sebagai istrinya melayani dia." jelas Adam.
"Mas Wiryo saja tidak pernah protes atau mengeluh. Kenapa kalian yang repot dan ribet." ujar Caty tak ingin disalahkan.
"Apa kamu mau, Wiryo mencari perempuan lain. Yang bisa melayani dia. Seharusnya kamu mengingatnya, kenapa Wiryo dan istrinya bercerai...!" bentak Nyonya Gendis.
Dulu, untuk mendekati Wiryo, Caty selalu bangun pagi. Membawakan sarapan ke apartemen Wiryo setiap hari. Bahkan, saat makan siang. Caty juga mengantarkan makan siang ke tempat kerja Wiryo.
Bahkan, dulu Caty rela membayar seseorang untuk membersihkan apartemen Wiryo. Dan dia berbohong pada Wiryo, jika dirinyalah yang telah membersihkannya.
Lambat laun, Wiryo merasa nyaman berada di dekat Caty yang perhatian pada dirinya. Dari pada sang istri, Lina. Yang keberadaannya jauh darinya.
Caty terdiam. "Sekarang kamu paham. Jika dulu Wiryo dan Lina tidak berpisah rumah. Tentu saja mereka tidak akan berpisah." jelas Nyonya Gendis.
"Ya sudah, Caty akan mengatakan pada mas Wiryo untuk mencari seorang pembantu. Beres." ucap Caty tetap tidak mengerti apa yang diinginkan oleh sang mama.
"Ya ampun Caty,,,, gunakan otakmu untuk berpikir. Seorang suami, maunya dilayani oleh istrinya. Bukan pembantu. Seorang pembantu hanya membantu meringankan pekerjaan kamu, atau mengerjakan pekerjaan yang kamu tidak bisa." Nyonya Gendis menjeda perkataannya.
Beliau heran dengan pemikiran yang ada di otak Caty. "Apa kamu mau, pembantu kamu juga melayani suamimu d atas ranjang..!!" seru Nyonya Gendis.
"Mama... Caty akan cari perempuan yang sudah tua. Lagi pula, mana mungkin mas Wiryo mau sama perempuan tua." Caty selalu ada saja ucapan untuk membantah setiap perkataan sang mama.
"Lihat adik kamu. Jika terus seperti ini, mama yakin. Dia akan segera menjadi janda." ucap Nyonya Gendis.
"Ma.... mama ngomong apa sih. Dari tadi janda, janda. Pengen banget anaknya jadi janda." seru Caty dengan kesal.
Adam juga merasa darah tinggi, jika dihadapkan dengan Caty setiap hari. "Bagaimana dengan Wiryo. Apa dia akan tahan." ucap Adam dalam hati.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kamu dan Wiryo akan tinggal di sini." tegas Nyonya Gendis.
Caty langsung berdiri dari duduknya dengan kedua mata melotot sempurna. "What... No.... Nggak ma,,, nggak bisa." tolak Caty.
Selama ini, Caty mati-matian mencari cara untuk hidup terpisah dari orang tuanya. Dan sekarang, setelah dia menikah. Dia harus kembali ke rumah. Yang artinya dia akan seperti seekor burung yang berada di dalam sangkar.
"Ma, seharusnya mama senang, Caty dan mas Wiryo tinggal terpisah. Itu artinya kami akan belajar mandiri." ucap Caty beralasan.
"Dan suami kamu akan tidak terurus." bantah sang mama.
"Oke, jika saja Caty setuju. Belum tentu mas Wiryo akan setuju. Mama tahukan. Mas Wiryo sangat mandiri. Mana mau dia menyusahkan mama dan papa." papar Caty mencari alasan lain.
"Wiryo akan setuju. Papa kamu akan berbicara dengan dia." tekan sang mama.
Caty kembali mendaratkan pantatnya di atas kursi dengan kedua pundak merosot ke bawah. Tidak ada harapan dan jalan lagi.
Jika sudah menyangkut nama sang papa. Itu artinya dirinya tidak akan bisa berkutik atau menolak. Pasti ujung-ujungnya adalah ancaman yang akan dia dapat.
Dan Wiryo, Caty yakin. Jika dia akan setuju. Mengingat betapa Wiryo sangat menghormati sang papa. "Selesai sudah." gumam Caty.
Setelah ini, kehidupannya akan semakin dikekang. Akan ada banyak aturan yang akan Caty jalani kembali.
"Tapi Caty perlu beres-beres apartemen. Ada beberapa pakaian yang harus Caty bawa ke sini." ujar Caty dengan lemas.
Adam tersenyum samar melihat ekspresi Caty.
"Tidak perlu. Mama sudah menyuruh seseorang untuk membawanya ke sini."
Seperti yang dikatakan Nyonya Gendis, Tuan Sapto menemui Wiryo setelah dirinya melakukan kegiatan golf.
"Bagaimana, papa harap kamu setuju." ucap Tuan Sapto.
Wiryo mengangguk. Dia setuju. Mungkin, dengan tinggal di rumah kedua orang tuanya, Caty akan berubah sedikit demi sedikit.
Lagi pula, setelah beberapa hari menikah dengan Caty, Wiryo melihat Caty hanya duduk santai di rumah. Memainkan ponselnya. Atau keluar, dan pergi ke salon. Serta pergi berbelanja untuk menghambur-hamburkan uang.
"Baik pa."
"Syukurlah. Papa hanya ingin Caty bisa berubah. Dia sudah menyandang status istri. Dan papa juga menginginkan cucu dari kalian. Tapi, melihat tingkah Caty yang sama seperti saat lajang, papa jadi sedikit cemas." ungkap Tuan Sapto.
"Semua barang kalian sudah ada yang memindahkan ke rumah. Kamu hanya tinggal pulang saja ke rumah kita." tutur Tuan Sapto.
"Baik pa."
"Papa sudah semakin tua. Kedua kakak Caty juha tidak mungkin mengelola perusahaan ini."
"Bukankah masih ada Thomas, putra dari mas Adam."
"Dia hanya akan belajar di sini di dampingi kamu. Asal kamu tahu, jika dia belajar sendiri sama papanya. Tidak akan berhasil. Adam orangnya tidak tegaan. Apalagi sama anak. Lagi pula, dia tidak akan memegang perusahaan ini."
Wiryo mengangguk paham. Tuan Sapto juga sudah mengatakan pada Wiryo. Jika perusahaan ini nantinya akan menjadi milik Caty.
Namun Caty belum mengetahuinya. Sebab Tuan Sapto tahu bagaimana watak dari putrinya. Dan Wiryo, juga diminta sang mertua untuk merahasiakannya terlebih dulu.
"Bagaimana, kamu mau memegangnyakan?" tanya Tuan Sapto untuk kesekian kalinya.
"Beri Wiryo beberapa hari untuk berpikir pa." tukas Wiryo.
Tuan Sapto mengangguk. "Jangan terlalu lama berpikir."
"Baik."
"Oh iya,,, sekali-kali ajak putri kamu untuk menginap di rumah kita. Saya dan mama kamu sudah menyiapkan sebuah kamar untuknya." ucap Tuan Sapto, sebelum dirinya meninggalkan ruang kerja Wiryo.
Wiryo tersenyum. "Aku akan mencoba membujuk Mawar. Semoga dia mau. Meski hanya sehari." ucap Wiryo dalam hati.
Sebenarnya Wiryo juga merasa sangat kangen pada sang putri. Namun lagi-lagi pekerjaan yang menumpuk membuatnya tidak bisa menemui Mawar.
Apalagi sekarang ada Caty di sampingnya. Yang terus menempel padanya bagai hewan bertentakel. Dan Wiryo juga merasa jika Caty sama sekali tidak menyukai Mawar.
Ada saja alasan Caty untuk menolak saat Wiryo mengajaknya untuk bertemu dengan Mawar.
"Jika Mawar tidak mau. Aku bisa meminta tolong pada Lina." tukas Wiryo.
Seperti hari biasanya, setiap pagi Jerome selalu mengantar Mawar untuk berangkat sekolah. Lalu dia akan pergi ke perusahaan untuk membantu sang papa.
Tapi tidak untuk pagi ini, setelah mengantar Mawar, Jerome kembali ke rumah. Ada beberapa berkas penting yang tertinggal di rumah. Sehingga mau tak mau Jerome harus kembali ke rumah.
Baru juga beberapa langkah, suara sang mama sudah menganggu indera pendengarannya.
"Pak sopir sudah pulang mengantar Tuan Putri." sindir Nyonya Mesya.
Tuan Adipavi yang hendak berangkat bekerja hanya menghela nafas. Dan Jerome, seperti biasanya. Dia mengacuhkan apapun yang dikatakan sang mama. Dan memilih untuk menghindar.
"Mama sudah mendaftarkan kamu ke universitas yang ada di Inggris." celetuk Nyonya Mesya, mampu membuat Jerome menghentikan langkah kakinya, dan berbalik menatap sang mama.
__ADS_1
Tuan Adipavi yang tidak tahu apa-apa, hanya mendesah pelan. "Kenapa mama tidak berunding dulu?" tanya Tuan Adipavi dengan lembut.
"Pa, mama adalah orang tua yang sudah mengandung dan melahirkan Jerome. Pasti mama juga tahu yang terbaik untuk Jerome." ucap Nyonya Mesya, dengan penuh penekanan.
Ini memang rencana Nyonya Mesya. Menjauhkan Mawar dari Jerome. Dengan Jerome berada jauh dari Mawar. Pasti keduanya juga akan kesulitan untuk berhubungan.
"Kenapa mama melakukan itu?!" tanya Jerome dengan nada suara sedikit naik.
"Lihat, siapa yang mengajari kamu. Bicara dengan orang tua, sama sekali tidak ada sopan santunnya." seru Nyonya Mesya.
"Kenapa, kamu mau menolak. Karena perempuan miskin itu. Mawar. Hanya karena dia, kamu mengorbankan masa muda kamu." lanjut Nyonya Mesya.
"Ma..." tegur Tuan Adipavi.
"Kamu seharusnya sadar. Dia membawa dampak buruk untuk kamu. Belum menjadi istri saja, sudah menjadikan kamu sebagai sopirnya. Bagaimana kalau menjadi istri kamu. Pasti kamu akan dijadikan babunya. Bisa-bisa semua harta kamu di kuasai dia." ucap Nyonya Mesya panjang lebar.
"Ma... jaga bicara kamu." tegur Tuan Adipavi meninggikan nada suaranya.
"Oh, sekarang papa juga membela perempuan itu. Iya." ucap Nyonya Mesya tidak terima.
"Jerome sendiri yang ingin mengantar Mawar. Dia sama sekali tidak pernah meminta apapun dari Jerome." tegas Jerome.
Nyonya Mesya tertawa lepas. "Iya,, untuk sekarang. Tapi nanti. Pasti dia akan menguasai kamu sepenuhnya. Juga harta kamu." seru Nyonya Mesya.
"Harta siapa yang kamu maksud?" suara bariton seseorang membuat semua orang terdiam.
Tuan Dewanto memandang tajam ke arah Nyonya Mesya. "Sial, kenapa lelaki tua ini datang ke sini." batin Nyonya Mesya.
Nyonya Mesya membuang wajahnya. Tak ingin dirinya berlama-lama bersitatap dengan ayah dari sang suami yang sangat di bencinya tersebut.
"Semua harta ini, masih atas namaku. Dewanto Sekhar. Bahkan suamimu, tidak mempunyai hak sedikitpun atas harta ini. Dan rumah yang kamu tinggali, masih atas namaku. Apa kamu mengkhawatirkan harta orang lain?!" Tuan Dewanto mencemooh sang menantu.
Tuan Dewanto memang belum membalikkan semua hartanya, atas nama sang putra maupun sang cucu. Dirinya tahu, bagaimana sifat dari menantunya yang serakah.
Namun, keputusannya juga telah disetujui oleh sang putra. Tuan Adipavi. Beliau menyetujui keputusan sang papa. Dengan alasan yang sama.
Meski Nyonya Meysa selalu menekan dan menuntut sang suami untuk mengambil bagian hartanya, dan mengubahnya atas namanya, tapi Tuan Adipavi menolak.
Tuan Adipavi selalu mempunyai alasan untuk menolak. Sebab, Nyonya Mesya tidak tahu, jika sebagian harta Tuan Dewanto sudah berbalik nama, dan menjadi milik Tuan Adipavi. Dan mereka sengaja menyembunyikannya dari Nyonya Mesya.
"Jika kamu ingin Jerome belajar di luar negeri. Pakai uangmu sendiri untuk membayarnya. Jangan pernah memakai uangku." tekan Tuan Dewanto.
Tanpa berkata apapun, Nyonya Meysa meninggalkan mereka dengan wajah menahan amarah. Jerome tersenyum menatap sang kakek.
"Kamu bisa kuliah di sini. Sambil membantu papa kamu. Sekalian, rebut hati calon cucu menantu kakek." ujar Tuan Dewanto.
Jerome tersenyum dan mengangguk. "Pasti kek. Mawar akan menjadi cucu menantu kakek." ucap Jerome dengan percaya diri.
"Kalian ini." Tuan Adipavi hanya menggeleng pelan. Dirinya setiap hari disibukkan dengan setumpuk berkas. Dan hanya ingin melihat suasana rumah yang damai. Tapi sulit sekali dia temui.
"Belajar yang benar. Mana mau Mawar sama lelaki yang tidak berguna." ucap Tuan Adipavi menggoda sang anak.
Dari lantai atas, Nyonya Mesya mencengkeram besi pembatas dengan erat. Tiga lelaki berbeda umur, membuat darahnya terasa naik hingga ke ubun-ubun.
Sang suami yang dulu selalu menuruti semua permintaannya. Sekarang juga sudah berubah. Bahkan beberapa kali sang suami mengancamnya.
"Apa yang dilakukan oleh Mawar. Sehingga mereka begitu menyukai dan menyayanginya." geram Nyonya Mesya.
Di sebuah rumah besar dan megah, sepasang suami istri yang sudah lanjut usia tengah duduk santai di taman, sembari berbincang menikmati pagi hari. Ditemani secangkir teh dan makanan kecil.
"Dia cucu kita?" tanya seorang perempuan tua, menatap sebuah foto di tangannya.
"Cantik." pujinya lagi.
Sang suami duduk di sampingnya. Menggenggam tangannya yang bebas. "Namanya Mawar. Sekarang, dia bersekolah di SMA favorit di kota ini. Dia sangat pandai." jelas sang suami.
"Bagaimana kabar Lina?" tanya nenek dengan raut wajah sendu.
Kakek menghela nafas panjang. "Dia sama sekali tidak memperkenalkan Mawar mengenai kita. Keras kepala."
"Semua memang salah kita. Kita yang menentang pernikahan mereka. Hingga Lina lebih memilih untuk keluar dari rumah."
Sang kakek menghela nafas panjang. Dirinya sudah tahu semua kehidupan sang anak serta sang cucu saat ini. Tapi apa sedikit ragu untuk menceritakannya pada sang istri.
Jika Lina dan Wiryo sudah bercerai. Dan Wiryo telah menikah kembali. Dirinya khawatir dengan kesehatan sang istri. Dan yang terpenting, dia tidak ingin sang istri semakin sedih.
Digenggamnya telapak tangan sang istri. "Tenang saja. Aku akan memikirkan cara. Supaya kita bisa bertemu dengan cucu kita."
Sang nenek mengangguk. "Iya, dia pasti lebih cantik dari pada di foto." cicitnya, tanpa bosan memandangi foto Mawar di tangannya.
"Aku akan membawa dia kesini. Tinggal bersama dengan kita." batin sang kakek, yang mengetahui kehidupan sang cucu saat ini.
Beliau sangat menyesal. Kenapa tidak dari dulu dia mencari tahu kehidupan sang putri yang telah meninggalkan rumah selama bertahun-tahun.
"Jika aku mencari tahu dari dulu, pasti Mawar tidak akan hidup seperti sekarang." sesalnya.
__ADS_1