
Thomas memutuskan untuk pergi ke sekolahnya yang baru. Tanpa memakai seragam, Thomas mendatangi sekolah yang akan menjadi tempatnya belajarnya untuk satu tahun ke depan.
Musim pelajaran baru akan di mulai sekitar beberapa minggu ke depan. Sehingga dirinya tidak masalah memakai pakaian biasa saat mengunjungi sekolah.
Sekalian, Thomas ingin melihat dan berkeliling sekolah. Mengenal tempat di sekolah tersebut.
Beberapa murid yang berada di depan, fokus dengan sebuah mobil sport yang baru saja berhenti di area parkir. Mereka seakan menunggu, siapa yang keluar dari dalam mobil tersebut. Sebab, ini kali pertama mereka melihat mobil tersebut.
Beberapa murid perempuan membulatkan kedua matanya dengan mulut menganga yang mereka tutup menggunakan telapak tangan, melihat sosok yang keluar dari dalam mobil.
Thomas dengan penampilan santai, dan kaca mata hitam bertengger di pangkal hidungnya, berjalan dengan santai dan tenang. "Apa dia, saudara Gaby yang akan bersekolah di sini." tebak Siska.
Para murid sudah mendengar jika akan ada murid baru di sekolah mereka. Dan dia adalah saudara dari Gaby. "Gila, tampan banget. Sebelas dua belas sama kak Jerome." lanjut Siska tersenyum simpul, memuji ketampanan dari Thomas.
Siska merapikan rambutnya yang masih bisa dikatakan dalam keadaan rapi. Memasang senyum paling manis di bibirnya. Berpura-pura jalan berlawanan arah dengan Thomas. Dan berhenti saat di dekat Thomas. "Hai,,, kamu anak baru itu?" tanya Siska.
Thomas menghentikan langkahnya. Melepas kacamata hitam yang dia kenakan. Lalu membalas senyum Siska. "Tuhan, sungguh indah dan sempurnanya ciptaan Mu." ucap Siska dalam hati, tak henti-hentinya memuji Thomas.
Siska mengulurkan tangannya terlebih dulu. "Siska, siapa tahu nanti kita akan satu kelas." ujar Siska memperkenalkan diri lebih dulu.
Thomas menyambut uluran tangan Siska. "Thomas." ucapnya membela Siska.
"Kamu bisa bilang ke aku, jika butuh bantuan." papar Siska, tidak ingin kehilangan kesempatan sehingga membuatnya untuk memilih gerak cepat.
Siapa yang tidak ingin berdekatan dengan lelaki setampan Thomas. Jika perlu, Siska akan memepet terus si Thomas ini. Masa bodo, jika dia adalah saudara Gaby. Yang penting dapat kekasih tampan, dan pastinya tajir.
"Kenal Mawar?" tanya Thomas langsung.
Siska sempat tertegun. Pasalnya, Thomas menanyakan Mawar. Bukan Gaby. "Mawar." cicit Siska mengulang pertanyaan Thomas.
Tentu saja Siska sangat tidak suka mendengar nama tersebut masuk ke dalam gendang telinganya.
Thomas mengangguk. "Tentu saja. Dia kekasih kak Jerome. Siapa yang tidak kenal dengan dia." ucap Siska dengan manahan kesalnya.
Dan langsung mengatakan, seakan Mawar sudah mempunyai pasangan. Kenyatannya, Mawar dan Jerome belum resmi berpacaran. Keduanya masih bersahabat.
"Sial, kenapa harus Mawar. Tanya saja yang lain." omel Siska dalam hati. Semua murid tampan di sekolah seakan terhipnotis dengan paras ayu Mawar. Membuat Siska semakin muak pada Mawar.
Ada beberapa murid yang melintas di samping mereka. "Ehh,, elo lihat Mawar?" tanya Siska pada mereka.
Bukannya segera menjawab, mereka malah memandang Siska dengan tatapan yang aneh. "Ngapain elo cari Mawar?" bukannya menjawab, salah satu dari mereka malah bertanya dengan pandangan menelisik.
"Jawan saja!!" bentak Siska kesal.
"Di lapangan basket, yang ada di dalam ruangan." jelasnya. Sebab, di sekolah ini memang memiliki dia lapangan basket. Satu tertutup, dan satunya lagi berada di samping sekolah.
Siska kembali memasang senyum di bibirnya. "Jika kamu mau, aku bisa antar" tawar Siska.
Dari pandangan para murid, dapat Thomas tebak, jika siswi yang ada di depannya pernah mempunyai masalah dengan Mawar. "Tidak perlu. Tunjukkan saja." tolak Thomas.
Dengan perasaan dongkol, Siska menunjukkan arah ke lapangan basket pada Thomas. "Oke, terimakasih."
Thomas meninggalkan Siska, dan melangkahkan kakinya ke teman yang sudah ditunjukkan oleh Siska.
"Sial. Mawar lagi, Mawar lagi." omel Siska, melihat punggung Thomas yang semakin menjauh darinya.
"Semoga dia sekelas sama gue. Jadi, gue punya banyak kesempatan untuk mendekatinya." lirihnya, berharap.
Ditengah perjalanan, dia melihat Gaby yang tengah berjalan sendiri. Keduanya saling bersitatap, meski dengan jarak lumayan jauh. Tapi mereka saling tahu saru sama lain.
Bukannya menghampiri Thomas, Gaby malah membalikkan badan, dan kembali berjalan. Seakan dirinya sengaja menghindar dari Thomas.
Thomas tersenyum miring. "Sombong." cicitnya.
Thomas berhenti di ambang pintu yang terbuka lebar. Lalu melanjutkan langkahnya ke dalam. Dapat dia lihat, segerombolan anak duduk di pinggir lapangan. Dan dia kenal dengan murid lelakinya.
Dengan senyum di bibir, Thomas berjalan ake arah mereka. Hingga Mira dan Selly yang melihatnya, sampai tidak berkedip.
Berbeda dengan Luck dan Tian. Keduanya hanya menghela nafas melihat tingkah yang ditunjukkan kedua perempuan tersebut.
Jerome yang merasa penasaran juga menoleh ke belakang. "Ngapain dia ke sini?" Terlihat jelas rasa tak suka Jerome pada Thomas.
Mawar yang masih menikmati baksonya, tidak tahu jika dia akan kedatangan anggota baru. "Hay, boleh gabung?"
Thomas langsung duduk di samping Luck, meski belum mendapat izin. Mawar berhenti mengunyah, dan menatap ke arah Thomas, yang baru saja duduk. Memandang Mawar dengan senyum.
Mawar memandang ke arah Mira dan Selly yang masih fokus menatap Thomas dengan tatapan terpesona. "Dor... iler kalian meluber tuh." goda Mawar.
Sontak, Mira dan Selly mengelap bibirnya. "Mawar.." geram keduanya, yang ternyata dikerjai oleh Mawar.
__ADS_1
Meski Mira dan Selly datang ke acara pernikahan Caty dan Wiryo. Namun keduanya sama sekali tidak berpapasan dengan Thomas. Keduanya hanya melihat Thomas dari jarak jauh. Sehingga, baru kali ini mereka melihatnya secara dekat.
"Ngapain elo ke sini?" insya Tian.
"Mau lihat-lihat sekolah baruku. Memang tak boleh." tutur Thomas.
"Elo jadi, sekolah di sini?" tanya Tian lagi.
"Jadi." Thomas menatap ke arah Mawar.
"Habiskan dulu makanan kamu." tutur Jerome dengan lembut pada Mawar. Yang dijawab anggukan oleh Mawar.
"Dia siapa?" bisik Mira pada Selly.
Selly mengangkat kedua pundaknya tanda dia juga tidak tahu. Mereka ingin bertanya, tapi segan. "Elo tanya gih." bisik Mira. Selly segera menggeleng, menolak keinginan Mira.
"Ogah. Tengsi lah gue." bisik Selly, menolak tanya lebih dulu.
"Mawar, kapan kamu mau menginap di rumah?" tanya Thomas tiba-tiba.
Mawar menghentikan suapannya, lalu menatap Thomas. "Apa maksud elo?" tanya Jerome dengan nada tak suka.
"Apa om Wiryo dan tante Caty belum mendatangi rumah kalian?" tanya Thomas dengan lembut.
Mira dan Selly saling lirik. Keduanya sekarang tahu siapa Thomas. Dari panggilan yang diberikan Thomas pada Caty dan Wiryo, keduanya menebak jika Thomas adalah keponakan Caty.
Mawar masih diam. Diamnya Mawar, dapat Thomas artikan jika mereka belum ke rumah Mawar, atau mereka sudah ke rumah Mawar. Tapi tidak bertemu dengan Mawar.
"Maaf, aku kira kamu sudah tahu. Kapan hari, opa meminta om Wiryo untuk membawa kamu tinggal bersama kami." jelas Thomas.
"Tunggu. Bersama kami. Maksud elo apa?" tanya Tian.
"Sekarang tante Caty dan om Wiryo tinggal di rumah opa. Juga dengan gue." jelas Thomas.
Jerome menatap Mawar, seolah menunggu apa yang ingin Mawar sampaikan. Begitu juga dengan Mira dan Selly. "Aku masih fokus latihan drama." ucap Mawar dengan tenang.
Thomas mengangguk. "Kapan kamu akan tinggal di rumah kami. Eh,,, kita." tanya Thomas. Terlihat begitu menginginkan Mawar untuk tinggal serumah dengannya.
"Tinggallah barang semalam atau dua malam. Om Wiryo juga ayah kamu. Sama seperti ibu kamu. Mereka berdua orang tua kamu." ucap Thomas kekeh.
Jerome mengeratkan kedua rahangnya. Membuang pandangan ke arah lain. Hal tersebut disadari oleh Mawar dan yang lain. "Belum tahu. Belum kepikiran juga." tandas Mawar, melanjutkan makan baksonya.
Mawar menjawab demikian, sebab dirinya memang tidak dan belum tahu. Apalagi Mawar merasa sama sekali tidak ada yang mengajak dirinya.
Jerome tersenyum samar mendengar jawaban Mawar. Apalagi nada suara Mawar terlihat malas untuk berbincang dengan Thomas.
Tian dan Luck berbincang dengan Thomas, dengan Jerome sesekali menyahut. Sementara ketiga gadis hanya diam dan melanjutkan makan bakso mereka dengan lahap.
"Berarti dia sepupu lampir." bisik Mira.
Selly mengangguk. "Gue cabut rasa terpesona gue tadi. Bisa jadi, dia juga punya sifat sama kayak lampir." bisik Selly.
"Gue juga. Mending cari yang lain." bisik Mira.
"Iya, benar. Keluarganya saja semua kayak lampir. Bisa jadi, dia berwajah polos, tapi hati iblis." bisik Selly, mendapat anggukan dari Mira.
Ponsel Mawar berbunyi. Diambilnya dari saku seragamnya. Lalu dibaca, pesan tertulis dari seseorang.
Mawar langsung tersedak saat membaca pesan daei seseorang di ponsel miliknya. "Kamu kenapa sih. Minum dulu." segera Jerome menyodorkan air minum pada Mawar.
"Ada apa?" tanya Jerome, saat Mawar memandangnya. Segera Mawar menggeleng. Lalu meneguk air minum yang diberikan Jerome.
"Ehh..." Mawar terkejut, saat Selly menyerobot ponsel miliknya yang berada di tangannya.
Selly dan Mira membaca apa yang membuat Mawar sampai tersedak. "Kalian ini,,, nggak sopan. Itu privasi." tegur Luck, tapi diabaikan oleh keduanya.
Mawar tidak bisa marah. Memang seperti itulah kedua sahabatnya tersebut. Kadang mereka malah melanggar batas apa yang seharusnya tidak mereka lakukan. Jika sudah berhubungan dengan dirinya.
Mira dan Selly menatap Mawar dengan tatapan curiga. "Kalian kenapa?" tanya Tian.
"Kenapa dia malah meminta izin elo?" tanya Mira, setelah membaca pesan tertulis di ponsel Mawar.
"Elo nggak selingkuhkan dari kak Jerome?" tanya Selly semakin ngawur.
"Selingkuh apaan sih." ucap Mawar nggak terima.
Selly mengembalikan ponsel Mawar. "Terus itu apa?" desak Selly, seolah menjadikan Mawar sebagai tersangka.
"Erza cuma bertanya. Salahnya dimana?" tukas Mawar heran.
__ADS_1
Kini, giliran Jerome yang tersedak air minum. Mendengar Mawar menyebut nama Erza. Salah satu lelaki yang Jerome anggap berbahaya untuk hubungannya dengan Mawar.
"Erza tanya apa?" selidik Jerome.
Mawar mengedipkan kedua kelopak matanya dengan lucu. Seakan dirinya berbuat salah pada Jerome. "Coba lihat." Jerome meminta ponsel Mawar.
Luck dan Tian memandang ke arah Mira dan Selly bergantian. Menanyakan apa yang terjadi. Tapi Selly malah mencebikkan bibirnya.
Sementara Thomas hanya diam. Sebab dia tidak tahu siapa Erza. Dan ada apa dengan Erza.
Dengan pelan, Mawar memberikan ponselnya pada Jerome. "Ehh,,, kenapa dengan gue. Kak Jerome dan Erza, keduanya sama saja. Mereka teman gue. Kenapa gue harus merasa bersalah sama kak Jerome." batin Mawar.
Jerome tersenyum miring. Lalu membalas pesan dari Erza. "Loh, kok kak Jerome yang balas?" tanya Mawar.
Jerome mengembalikan ponselnya pada Mawar. "Nggak apa-apa. Sama saja, aku atau kamu yang balas." cicit Jerome.
Mawar kembali mengecek ponselnya. Tapi pesan yang dikirim Erza sudah dihapus oleh Jerome. Begitu juga pesan yang Jerome kirim pada Erza. "Kenapa di hapus? Kak Jerome kirim pesan apa sama Erza?" tanya Mawar penasaran.
"Pesan biasa. Habiskan bakso kamu. Lihat tinggal sedikit, keburu dingin nggak enak loh." Jerome mengalihkan topik pembicaraannya.
Mawar hanya merenggut kesal. Ponsel siapa, yang balas siapa. Pake dihapus lagi. Membuat Mawar kesal saja. "Ayo cepat, habiskan." Jerome mengelus pucuk kepala Mawar.
Mawar memutar kedua matanya dengan malas. Sementara yang lain tersenyum melihat bagaimana Jerome bersikap pada Mawar.
Tapi tidak dengan Thomas. Dia hanya menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi. "Elo mau kuliah di mana!" tanya Thomas.
"Masih di kota ini." sahut Jerome.
"Tidak keluar negeri? Seperti Deren, mungkin?" tanya Thomas.
"Nggak. Ada yang harus gue jaga. Dan tidak bisa gue lepaskan." Jerome melirik ke arah Mawar yang menikmati baksonya yang tinggal beberapa suap.
"Tenang saja, gue bisa jaga." goda Luck pada Jerome.
"Iiiihh,,,, sok-sok mau jaga milik orang. Situ sendiri saja belum punya pasangan." sindir Selly.
Jerome dan yang lain tertawa mendengarnya. "Cari pasangan mah, gampang buat gue." ucap Luck tersenyum remeh.
"Buktikan." tantang Selly.
"Elo saja. Mai nggak jadi pasangan gue." tukas Luck.
Seketika Selly menatap Luck dengan tatapan berbeda. "Cie.... kak Luck dan Selly." goda Mira.
Sementara Luck menatap Selly sembari tersenyum. "Iiihhh,,, nggak mau. Bukan tipe gue." tolak Selly dengan melengos.
Mawar hanya tersenyum melihat perdebatan mereka. "Emang tipe elo kayak siapa? Jerome?" tanya Luck mendesak Selly.
Mawar kembali tersenyum, membuat wajahnya semakin ayu. Jerome dan Thomas menatap Mawar dengan senyum di bibir masing-masing.
Mawar tahu, jika Selly menaruh perasaan pada Luck. Terlihat Selly yang malu-malu mau. Padahal, Selly tipe perempuan yang cuek pada lelaki.
Dan baru dengan Luck, Selly bisa bicara santai dan nyambung. Meski selalu diwarnai perdebatan.
Di depan pintu, Gaby mengepalkan tangannya dengan erat. Melihat akrabnya mereka, tertawa bersama. Seolah tidak ada beban.
"Tertawa selagi elo bisa tertawa. Sebelum tawa itu berubah menjadi tangis." desis Gaby menatap tajam ke arah Mawar.
"Mawar, gue bersumpah. Akan mengambil yang elo miliki. Hingga elo akan berdiri sendiri." lanjut Gaby, meninggalkan tempatnya berdiri dengan dada bergemuruh.
"Ternyata. Elo hanya pura-pura berubah." ucap Siska dalam hati, melihat bagaimana Gaby memandang sengit ke arah mereka, terutama Mawar.
Tujuan Siska dan Gaby mendatangi lapangan basket adalah sama. Mereka ingin melihat, apa yang dilakukan Mawar beserta yang lain.
"Iblis, selamanya akan menjadi iblis. Mana bisa menjadi bidadari." ucap Siska menilai Gaby.
Tanpa dia sadari, dirinya juga sama seperti Gaby. Iblis, berwajah manusia.
Siska mengalihkan penanganannya ke dalam. "Mawar, elo hanya beruntung. Gue yakin keberuntungan elo akan habis pada waktunya." seringai Siska. Sama saja dengan Gaby.
Di tempat lain, Erza tersenyum kecut. Membaca balasan pesan dari Mawar. "Brengsek Jerome. Belum jadi kekasih Mawar, sudah seperti ini." tukas Erza kesal.
Jerome membalas jika lebih baik Erza menjauhi Mawar, sebab hanya dirinya satu-satunya lelaki yang akan ada di hidup Mawar.
"Sialan. Kenapa Jerome malah memusuhi gue." gumam Erza.
"Gue kan nggak menyukai Mawar. Gue juga nggak ingin merebut Mawar dari dia. Kenapa dia memperlakukan gue, seolah gue adalah bahaya untuk dia." cicit Erza.
Erza hanya tidak sadar. Jika dirinya dan Jerome sama-sama menyukai Mawar. Bedanya, Jerome sudah menyadari perasaannya ke Mawar, dan dia bertekad untuk merebut hati Mawar.
__ADS_1
Sementara Erza merasa jika hubungan dirinya dan Mawar hanya sebatas teman. Dan semua berawal dari dirinya yang di perintahkan oleh Jerome untuk membantu Jerome mendekati Mawar.
"Jerome gila." sungut Erza kesal. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa, sebab keduanya memang bersahabat.