MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 114


__ADS_3

Senyum getir tersungging di bibir Mawar. Dia berdiri tepat di sebuah gedung mewah. Di mana acara pernikahan sang ayah dan Caty berlangsung.


Tersenyum, bukan berarti dia dengan senang hati datang ke pesta tersebut. Tapi sebuah penegasan. Jika dirinya akan tetap menerima apapun keputusan sang ayah. Meski hatinya terluka.


Dan dia akan membuktikan pada Caty. Meski dirinya hanyalah gadis miskin yang harus bekerja keras untuk membantu meringankan beban sang ibu, tapi dirinya akan mampu di sandingkan dengan para gadis dari kalangan atas.


Di dalam gedung tampak tamu undangan sudah berdatangan. Kebanyakan mereka yang diundang adalah pebisnis dari berbagai kalangan dan juga ada yang berasal dari luar negeri. Mengingat siapa kedua orang tua Caty.


Caty melingkarkan tangannya di lengan Wiryo. Senyum sumringah terukir jelas di bibirnya. Seakan enggan untuk hilang.


Hari yang ditunggu akhirnya datang. Dan setelah ini, Caty yakin, jika Wiryo akan menjadi miliknya. Seutuhnya. Dan tidak ada yang bisa menganggu bahkan mengusik ketenangannya.


Sementara Wiryo, matanya beberapa kali memandang ke arah pintu masuk. Tentu saja, dia menunggu kedatangan satu-satunya keluarga yang ada dalam hidupnya. Putri semata wayangnya. Mawar.


Caty tahu apa yang sedang dicemaskan Wiryo. Lelaki yang beberapa jam lalu menjadi suaminya. Sah secara hukum dan negara.


Tapi Caty seakan tidak mau tahu. Dia lebih berpura-pura tidak tahu. Baginya, ketidak hadiran Mawar jauh lebih baik. "Semoga dia tidak datang. Pasti akan membuat malu saja." ucap Caty dalam hati.


Caty tersenyum dalam hati. Mengira jika Mawar pasti sedang mengurung diri di dalam kamar. Setelah dirinya mengirimkan beberapa foto akad nikahnya dengan Wiryo.


Serta beberapa kalimat yang terdengar manis saat di baca. Namun, sayangnya, di setiap kata yang Caty kirim mengandung racun untuk Mawar.


Semua berkumpul dalam ruangan. Menghadiri pesta pernikahan Caty dan Wiryo. Pesta pernikahan pertama untuk Caty. Dan pesta pernikahan kedua untuk Wiryo.


Namun, pesta pernikahannya kali ini lebih mewah dan megah dari pada pesta pernikahannya dengan Lina. Tentu saja, pernikahannya dengan Lina hanya dilakukan di lakukan di KUA. Tanpa ada sebuah perayaan. Hanya beberapa orang yang datang sebagai saksi.


Keluarga Jerome, keluarga Luck, keluarga Tian, bahkan keluarga Mira dan Selly, juga hadir dalam pernikahan tersebut. Juga dengan kelurga Dona dan Weni. Dan masih banyak lagi.


Sementara Gaby, dia berdiri di dekat sang papa. Yang sedang berbincang dengan opa dan omanya. Dan juga adik sang papa yang baru saja kembali karena ingin menghadiri pesta pernikahan Caty.


Pandangan mata Gaby tak lepas dari Jerome. Di mana di sedang berbincang bersama kedua sahabatnya. Dan juga kedua keponakannya. Thomas dan Lucas.


Thomas dan Lucas. Keduanya adalah putra dari adik Tuan Djorgi, Tuan Adam buwono bersama sang istri. Nyonya Agatha.


Gaby melirik ke arah Tuan Adipavi dan Nyonya Mesya, yang nampak sedang berbincang bersama dengan Dona serta kedua orang tuanya, yang berada beberapa langkah di sampingnya.


"Seandainya gue ada di sana. Mendapat perhatian dari kedua orang tua kak Jerome." batin Gaby berharap.


Segera Gaby mengalihkan pandangannya, saat Dona dan Weni berjalan ke arahnya. Dan mereka bergabung bersama dengan keluarga Gaby.


Sementara mamanya Weni, segera bergabung dengan kelurga Jerome dan juga keluarga Dona. Mereka berbicara dengan santai dan tenang.


Sedangkan, Jerome beberapa kali melihat ke arah pintu kedatangan. Seperti sedang menunggu seseorang. "Elo kenapa?" tanya Tian


Jerome hanya menggeleng. Tentu saja dirinya ingin memastikan. Apakah Mawar akan datang atau tidak.


Begitu juga dengan kedua teman Mawar, Mira dan Selly. Keduanya sedari tadi menanti kedatangan Mawar. "Sebaiknya kalian telepon Mawar, dari pada penasaran." tegur Nyonya Ningrum. Mama dari Mira.


"Kenapa kalian tadi tidak menjemput Mawar dulu. Berangkat bersama." timpal Nyonya Pipit, mama dari Selly.


"Mawar nggak mau." jelas Mira.


Suasana cukup ramai, seorang gadis yang datang sendiri, menghentikan langkah tepat di pintu masuk. Menatap lurus ke depan.


Dimana di sanalah sepasang pengantin berada. Menerima ucapan selamat dari pada tamu undangan.


Mawar menghela nafas panjang. Tatapan mata terkunci pada satu titik. Dengan ekspresi wajah datar. Tak akan ada yang tahu apa yang sedang dia rasakan.


"Mawar...." ucap Selly, membuat Mira dan kedua orang tua mereka memandang ke mana arah mata Selly bermuara.


"Cantik sekali dia." cicit Nyonya Pipit.


Begitu juga dengan Jerome yang berada tak jauh dari Selly. Dengan jelas dia bisa mendengar, saat Selly menyebut nama perempuan yang mampu membuat dunianya jungkir balik.


Deg,,,, Senyum samar tersungging di bibir Jerome. Melihat perempuan yang dinantinya datang dengan dandanan sederhana yang mempesona.


"Dia datang." lirih Weni, pada Gaby dan Dona.


"Mawar." gumam Djorgi, ada rasa sesak saat melihat Mawar datang sendirian. Entah, kenapa seolah Djorgi bisa merasakan apa yang sedang Mawar rasakan.


"Perempuan itu." kedua mata Nyonya Meysa melotot sempurna. Mawar, dia adalah perempuan yang sedang di selidiki oleh dirinya.Dan sekarang, berada di depan matanya.


"Mawar." kata Nyonya Utami tersenyum sempurna.


"Dia adalah adik kelas Dona. Masih kelas satu. Dan sekarang bekerja di butik. Ternyata, dia akan menjadi bagian dari kelurga Buwono." jelas Nyonya Utami, saat sang suami menatapnya.


"Mawar, adik kelas Dona. Berarti dia adik kelas Jerome juga. Anak tiri dari Caty." batin Nyonya Mesya, kedua mata menatap Mawar dengan intens.

__ADS_1


Mawar melangkahkan kaki dengan anggun, menuju ke pelaminan. Tidak ada riasan mewah. Bahkan, rambut Mawar hanya diikat sederhana ke belakang. Dengan hiasan bermotif bunga di kepala samping.


Tak ada perhiasan mahal yang melekat di tubuh Mawar. Bahkan anting maupun cincin. Mawar bahkan tidak perlu menggunakan parfum, untuk membuat tubuhnya harum.


Definisi kecantikan yang sesungguhnya. Saat seorang gadis dengan penuh percaya diri tanpa sesuatu yang mahal menempel di tubuhnya. Tapi mampu memancarkan aura kecantikan yang sesungguhnya.


Seketika ruangan menjadi tenang. Semua mata tertuju pada sosok cantik. Tapi dengan wajah sedingin es. Tampak tak tersentuh.


Kedua orang tua Caty memandang Mawar dengan perasan tak karuan. Entah apa yang ada dalam benak mereka. Sebagai orang tua, tentu saja mereka dapat merasakan apa yang Mawar rasakan.


Namun kebahagiaan sang putri jauh lebih utaman daei pada kebahagiaan orang lain. "Semua akan baik-baik saja." lirih Tuan Sapto, mengelus lengan sang istri.


Mawar berdiri tepat di depan sang ayah dan perempuan yang memakai pakaian pengantin. Yang sekarang telah berubah status menjadi mama tirinya.


Mawar tersenyum lebar, seolah sama sekali tidak ada kesakitan di dalamnya. Mawar mengulurkan tangannya pada sang ayah.


Dengan tangan gemetar, Wiryo membalas uluran tangan Mawar.


Deg.....


Jantung Djorgi seketika berpacu dengan sangat cepat. Saat Mawar mencium punggung telapak tangannya. Terasa hangat menjalar ke seluruh tubuh.


"Selamat ayah. Semoga apa yang ayah inginkan tercapai. Kebahagiaan selalu menyertaimu." ucap Mawar setelah melepaskan tangannya, dengan bibir tetap tersenyum.


Tak ada adegan berpelukan antara Mawar dan sang ayah. Dan kini, Mawar berpindah, berdiri di depan Caty. Mawar tetap tersenyum. "Terimakasih sudah datang." ucap Caty.


"Tentu saja. Tidak ada alasan untuk saya tidak datang ke pesta pernikahan ayah kandung saya. Apalagi, sebentar lagi saya juga akan mempunyai mama baru." cicit Mawar dengan santai.


Caty mengeraskan rahangnya, meski bibirnya tetap tersenyum palsu. "Apakah saya boleh manggil anda dengan sebutan,,, mama." pinta Mawar.


Caty tersenyum kaku. "Tentu saja boleh." Caty mengelus pipi Mawar. Dia memainkan peran sebagai ibu tiri yang baik hati.


Mawar tersenyum sempurna. Merentangkan tangannya dengan lebar. Memeluk Caty dengan erat. "Jika kamu ingin menjadikan neraka di kehidupanku, maka surga yang akan aku dapatkan." bisik Mawar.


Seketika raut Caty berubah pias. Mawar melepaskan pelukannya. "Mawar titip ayah. Sayangi dan jaga ayah Mawar dengan baik." tutur Mawar dengan lembut. Ucapan yang sangat dewasa.


Ayah Mawar. Kalimat tersebut seolah sebagai penegasan pada Caty. Jika sampai kapanpun, Mawar akan tetap menjadi anak dari Wiryo.


"Aku dulu terlalu keras kepala, Caty. Dan sekarang aku akan menjalankan bagianku dengan baik. Mama tiri." batin Mawar, dengan berbagai rencana di benaknya.


Caty tersenyum kaku. Cup,,,,, tubuh Caty membeku, saat Mawar memberikan sebuah kecupan di pipi Caty.


"Kamu bisa menginap di rumah kami. Kapanpun. Kamu akan tetap menjadi anak ayah." pinta Wiryo.


Caty melirik ke arah Wiryo dengan tatapan sinis. Pastinya dia tidak senang dengan ucapan yang baru saja Wiryo lontarkan untuk Mawar.


"Pasti." sahut Mawar dengan yakin, memandang Caty yang tampak tak suka. Namun tetap tersenyum palsu.


"Mawar turun dulu." pamit Mawar, melangkahkan kakinya menuruni anak tangga yang hanya beberapa pijakan tersebut.


Caty segera mencoba menormalkan kembali perasannya yang sempat di obrak-abrik oleh kedatangan Mawar.


"Mas Wiryo hanya akan menjadi milikku dan anak-anakku. Bukan kamu." batin Caty bersumpah.


"Dia adalah Mawar. Putri dari suami Caty dengan istri pertamanya." jelas Tuan Sapto, papa Caty pada anaknya yang nomor dua.


Adam dan sang istri hanya mengangguk pelan. Mendengar penjelasan dari sang papa. "Cantik. Sangat cantik." puji Nyonya Agatha. Menantu Tuan Sapto, istri dari Adam.


Mawar berjalan ke arah mereka. Dimana keluarga besar Caty berkumpul. Entah apa yang akan dilakukan oleh Mawar. Saat dirinya malah melangkahkan kaki ke arah musuh.


"Kenapa Mawar ke sana. Apa dia tidak melihat kita." ucap Mira dengan nada cemas.


"Biarkan saja. Biarkan Mawar melakukan apa yang dia inginkan. Jangan menjadi beban, atau penghalang." ujar Nyonya Ningrum pada sang putri.


"Selly juga khawatir tante. Apa perlu kita berdua menyusul dan menemani Mawar ke sana." timpal Selly, yang tak kalah khawatir dari Mira.


"Selly, Mira. Benar kata jeng Ningrum. Mawar gadis yang kuat dan hebat. Biarkan dia berjalan dengan dagu terangkat." jelas Nyonya Pipit.


Meski berat untuk Mira dan Selly menuruti perkataan mama mereka. Tapi mereka percaya pada Mawar. Dan meski dari jarak jauh, mereka akan tetap memantau Mawar. Siap menjadi pelindung untuk sahabatnya tersebut.


Jerome dan yang lain, mendengar apa yang dibicarakan Selly dan yang lain. Namun, Jerome hanya bisa melihat. Dirinya juga penasaran, apa yang akan Mawar lakukan.


"Siapa gadis cantik itu?" tanya Thomas.


Luck hendak menjawab pertanyaan Thomas, tapi Jerome lebih dulu mengeluarkan suara. "Dia milik gue." tekan Jerome, mengklaim Mawar sebagai miliknya.


"Benarkah?" tanya Thomas dengan raut wajah ragu. Jika benar seperti yang di katakan Jerome, kenapa Jerome tidak segera menghampiri dia. Malah tetap berada di sini bersama dengannya dan yang lain.

__ADS_1


Jerome menatap tajam ke arah Thomas. "Oke, aku percaya." cicit Thomas.


"Sepertinya dia akan menjadi saudara kita." papar Lucas, adik dari Thomas. Yang dari tadi menjadi pengamat yang cermat.


"Anak dari suami tante Caty. Itupun jika tebakanku tidak salah." lanjut Lucas menebak.


"Tepat." kata Tian.


Mawar menghentikan langkahnya, saat berada di depan keluarga besar Caty. Sedangkan Caty, memandang dengan intens ke arah mereka. "Untuk apa anak sialan itu ke sana." batin Caty.


Mawar bersalaman dengan satu persatu keluarga Caty. "Kami cantik sekali. Kenalkan saya agatha. Istri dari kakak Caty. Ehh,,, maksudnya, mama Caty." ujar Agatha memperkenalkan diri dengan tulus.


"Dan dia suami saya. Adam." ucap Agatha lagi.


Mawar tersenyum, sembari sedikit mengangguk pelan. "Salam kenal. Saya Mawar. Anak ayah Wiryo." papar Mawar.


Agatha mengelus lengan Mawar. "Sungguh, kamu cantik sekali sayang." puji Agatha untuk yang kesekian kali.


"Ma, lihat. Mawar jadi tidak nyaman." tegur Tuan Adam, dengan senyum.


"Hay Gaby..." sapa Mawar dengan suara renyah. Seolah hubungan dirinya dengan Gaby terjalin baik.


"Kak Dona, kak Weni." sapa Mawar selanjutnya.


"Kalian saling kenal?" tanya Nyonya Agatha.


"Mereka semua sekolah di tempat yang sama." jelas Djorgi, bukan Mawar.


"Wahh,,,, benar-benar jodoh." celetuk Nyonya Agatha.


"Ma.." tegur sang suami. Tuan Adam hapal betul bagaimana sifat sang istri yang polos, namun sedikit bar-bar tak terkontrol.


Mawar melirik ke arah Gaby. "Saatnya mencari kebenaran." batin Mawar.


Mawar mendekat ke arah Djorgi. "Maaf om, pasti om Djorgi tadi sedikit terlambat datang ke sini." ucap Mawar, terlihat menyesal.


Djorgi tersenyum, mengusap pucuk kepala Mawar penuh kasih sayang. "Tidak masalah. Lagian bukan om yang menikah, jadi terlambat pun tak masalah." kekehan menyertai ucapan Djorgi.


"Apa ibu kamu yang memberitahu?" tanya Djorgi dengan tatapan kedua mata yang lembut.


Mawar menggeleng. "Tadi, saat di jalan, Mawar lihat om mengendarai mobil dari arah rumah." tentu saja Mawar berbohong.


Djorgi memegang pundak Mawar. "Kenapa kamu tidak menghentikan mobil om?"


Mawar kembali menggeleng seraya tersenyum. "Takut merepotkan." tutur Mawar.


"Ckk,,, bukankah om sudah katakan. Apapun yang kamu inginkan, kamu bisa datang mencari om."


Mawar mengangguk dengan perasaan puas. "Gaby, sekarang gue yakin, elo sudah tahu jika kedua orang tua kita menjalin hubungan." batin Mawar.


"Asal kamu tahu. Ibu kamu terus menghubungi kamu. Membuat kita cemas." tegur Djorgi, seolah Mawar adalah putrinya sendiri.


"Iya, ibu juga sudah bilang. Tapi ponsel Mawar tadi tidak Mawar bunyikan. Maaf." cicit Mawar, dengan memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Djorgi memindai penampilan Mawar. Seolah sedang mencari sesuatu. "Kamu tidak bawa ponsel lagi." tebak Djorgi.


"Tergesa-gesa. Tas Mawar saja lupa." ucap Mawar dengan nada manja.


Sengaja. Mawar memang sengaja berbincang dengan akrab dengan Djorgi. Dirinya seolah sedang memperlihatkan taringa. Ingin membuat Caty dan Gaby lebih bersikap waspada akan kehadirannya.


"Ckk,,, biar nanti om antar pulang."


"Jangan om." tolak Mawar, menggerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri berulang.


"Jangan. Dan ibu kamu alan marah sama om. Membiarkan putri cantiknya pulang seorang diri." Djorgi menarik gemas hidung mancung Mawar.


"Sakit om." keluh Mawar, mengusap hidungnya.


Semua menatap keakraban antara Djorgi dan Mawar. Gaby mengepalkan tangannya dengan erat. Bagai singa yang bersiap, saat tahta tempatnya duduk akan ada yang mengusik.


"Mawar, elo benar-benar menabuh genderang perang dengan gue." batin Gaby.


Dona dan Weni melirik ke arah Gaby. Keduanya bahkan tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. "Tidak mungkin, jika Mawar menjadi sugar baby dari om Djorgi." batin Dona nyleneh.


Keluarga besar Djorgi juga merasa heran. Pasalnya, Djorgi sama sekali tidak pernah seakrab ini dengan orang lain. "Apa ada sesuatu, antara Djorgi dengan Mawar. Tapi kenapa, seolah Djorgi juga dekat dengan ibunya Mawar." batin Tuan Sapto menerka-nerka.


Dari dua arah berbeda. Dua lelaki berbeda usia menatap cemburu akan keakraban yang ditunjukkan Mawar dengan Djorgi.

__ADS_1


Siapa lagi jika bukan Jerome dan Wiryo.


__ADS_2