
"Keluar...!!!" seru Dona, mengetuk pintu rumah Weni dengan brutal.
Berkali-kali Dona mengetuk pintu rumah Weni. "Weni....!! Puri...!!! Keluar kalian...!!!" serunya.
Pintu terbuka dari dalam. Dengan kasar, Dona mendorong pintu tersebut. "Dimana majikan elo?!" tanyanya tanpa sopan.
Sang pembantu merasa takut bercampur heran. Dona sudah sering datang ke sini. Tapi tidak dengan sikap seperti ini. Meski biasanya Dona datang dengan tampang angkuhnya.
"Dimana mereka...?!" bentak Dona, saat sang pembantu malah melongo menatap dirinya.
"Ma-ma-maaf Non. Nyonya Puri sama Non Weni tidak ada di rumah. Mereka belum pulang." cicitnya dengan rasa takut.
Apalagi melihat kemarahan yang sangat terpancar di kedua mata Dona. Membuatnya langsung ketakutan. "Ada apa ini sebenarnya?" tanya sang pembantu dalam hati.
Terdengar deru suara mobil berhenti di depan rumah. Dengan mudah Dona bisa menebak siapa yang datang. Siapa lagi, jika bukan pemilik rumah tersebut.
Baru saja Weni dan sang mama, Nyonya Puri masuk ke dalam rumah. Mereka berdua di sambut tamparan yang sangat keras bersarang di pipi Puri.
Plak..... Segera Weni menopang tubuh sang mama yang hampir terjatuh ke samping. "Dona...!!" seru Weni tidak terima.
"Mama, mama tidak apa-apa?" Weni melihat dengan khawatir ke arah wajah sang mama.
Nyonya Puri hanya mendesis menahan rasa sakit di pipinya. "Apa-apaan kamu Dona?!" seru Weni dengan pandangan mata menyalang. Tangannya tetap merangkul pundak sang mama.
Nyonya Puri hanya diam. Sepertinya dia bisa menebak, kenapa Dona bersikap demikian pada dirinya. Pasti Dona sudah mengetahui skandal perselingkuhan dirinya dan sang papa.
"Tanyakan. Tanyakan pada mama elo ini." tunjuk Dona tepat di wajah Nyonya Puri. "Kenapa dia harus menjadi janda gatal. Kenapa harus keluarga gue...?!" teriaknya dengan wajah merah karena emosi.
"Hentikan omong kosong kamu!!" bentak Weni tak terima sang mama dikatakan sebagai janda gatal oleh Dona.
Dona menatap sinis ke arah Nyonya Puri. "Sudah bangga, anda. Sudah merasa paling hebat. Berapa tarif anda setiap malam. Hah... Katakan...?!"
"Dona, jaga mulut kamu..!!" bentak Weni. Anak mana yang terima jika sang mama dihina oleh orang lain. Apalagi, selama ini Weni mengira semua fasilitas dan semua kebutuhan hidup mereka di cukup dari kerja keras sang mama.
Sebagai seorang anak, pastinya Weni bangga. Nyonya Puri yang notabennya seorang janda. Mampu menghidupi kehidupan mewah mereka, dengan keringatnya sendiri.
Dona tertawa sinis. Menatap Weni dengan tatapan mengolok. "Asal elo tahu. Semua yang melekat di tubuh elo." Dona menunjuk dari ujung rambut Weni, sampai ujung kaki Weni.
"Semuanya, adalah uang bokap gue... Paham...!!" teriak Dona, hingga otot-otot di lehernya terlihat menonjol ingin keluar dari tempatnya.
Weni tersenyum aneh. "Elo mimpi. Elo kesambet apa?!" ejek Weni. Merasa Dona sedang membual.
"Tanya. Tanyakan sama nyokap elo. Dari mana dia bisa membiayai sekolah elo yang super mahal itu. Tanya...??! Tanya sama nyokab elo, dari mana dia bisa membelikan elo mobil mewah itu. Tanya...!! Tanya,,, uang dari mana?!" seru Dona.
Weni menatap sang mama yang sedari tadi hanya diam tanpa bersuara. "Kenapa? Haaah... kenapa? kenapa sekarang elo hanya diam. Mana suara elo. Mana. *****." hina Dona dengan berani.
Habis sudah kesabaran Weni. Dia melayangkan tangannya hendak menampar Dona. Tapi Dona lebih dulu mencekal lengannya. "Weni.." seru Nyonya Puri.
Dona memelintir lengan Weni. "Lepaskan tangan putri saya..!!" bentak Nyonya Puri.
Bukannya melepaskan, Dona malah semakin memelintirnya dengan kuat. "Ingat, sampai kapanpun, gue nggak sudi mempunyai saudara seperti elo."
Dona mendorong tubuh Weni dengan kuat. "Dan elo, wanita murahan. Elo pikir bisa menjadi mama tiri gue. Nggak akan pernah. Ingat, gue nggak akan segan-segan menghancurkan kalian, jika elo nggak menjauh dari papa gue." ancam Dona.
Dona pergi meninggalkan rumah Weni dengan amarah yanga masih berkobar. "Ma,, katakan sesuatu." pinta Weni.
Berharap apa yang dikatakan Dona, semuanya adalah bualan Dona. Semuanya adalah kebohongan. Semuanya hanya omong kosong.
Maaf." cicit Nyonya Puri. Langsung mematahkan harapan Weni.
Weni menggeleng tidak percaya. "Kenapa mama melakukan semua itu? Kenapa??!" teriak Weni marah.
"Sayang." tangan Nyonya Puro hendak memeluk sang putri. Namun Weni menepisnya dengan kasar.
"Ma...!! apa yang mama lakukan. Kenapa mama melakukannya?! Kenapa?" Weni juga ikut marah pada sang mama seperti Dona.
"Cukup Weni..!! Cukup..!!" bentak Nyonya Puri merasa terpojok.
"Mama melakukan semua ini demi kamu. Demi kamu." lanjutnya menatap Weni yang tengah menangis.
"Kamu pikir, mama bisa membuat perusahaan papa yang sudah bangkrut kembali seperti sekarang. Kamu pikir, mama bisa berbisnis. Tidak. Semua Tuan Joko yang membantu kita."
Weni mengusap air mata di pipinya dengan kasar. "Dan sebagai upahnya, mama melayani dia di atas ranjang." ujar Weni menohok.
Plak.... Satu tamparan lolos dari tangan Nyonya Puri. Weni tersenyum pahit. "Jaga bicara kamu. Semua fasilitas yang kamu nikmati, adalah pemberian Tuan Joko."
"Weni tidak menginginkannya ma. Weni tidak mau seperti ini!!"
"Dan kamu mau hidup miskin. Kamu mampu, hidup serba kekurangan. Jawab....!" bentak Nyonya Puri.
Weni hanya diam. Apa yang dikatakan sang mama memang benar. Dirinya hang sudah terbiasa hidup bergelimang harta sejak kecil, mana sanggup hidup menderita.
__ADS_1
Nyonya Puri tersenyum kecut melihat Weni hanya diam tak menjawab. "Kenapa kamu diam. Kamu tidak sanggup bukan, hidup menderita."
"Tapi tidak dengan jalan seperti ini ma." ucap Weni sesegukan.
"Lantas jalan seperti apa? Apa mama harus bekerja mati-matian. Apa mama harus bekerja sebagai karyawan biasa. Kamu pikir, berapa gaji mereka!!" bentak sang mama.
"Lalu sekarang bagaimana. Dona itu iblis ma. Dia perempuan paling nekat hang pernah Weni temui." cicit Weni takut.
Nyonya Puri mendekat. Menangkup kedua pipi sang anak. "Jangan khawatir. Dona tidak akan bisa menyentuh, atau membuat celaka kamu. Mama akan atur semuanya."
Nyonya Puri memeluk erat tubuh sang putri tercinta. "Ma, jauhi papa Dona." pinta Weni dalam pelukan sang mama.
Nyonya Puri mengelus lembut rambut sang putri. "Tenanglah. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Biar mama yang mengatasi semuanya."
"Tapi Weni takut ma. Mama belum mengenal Dona. Dia benar-benar iblis ma." ujar Weni takut.
Nyonya Puri melepas pelukan keduanya. "Dengar. Bukanlah kalian tidak satu sekolah. Berati kamu tidak perlu bertemu dengan Dona."
"Tetap saja. Dona pasti akan mencari keberadaan Weni."
Nyonya Puti melihat jelas, terpancar rasa takut di kedua mata sang putri. "Bagaimana jika kamu kuliah di luar negeri?" tawar sang mama.
"Uang dari mana? Pasti biayanya mahal. Dan pasti membutuhkan uang banyak." tukas Weni.
"Tenang. Bukankah mama bilang, kamu jangan memikirkan apapun. Kamu maukan?" tanya Nyonya Puri memastikan.
Tidak ada pilihan lain. Dari pada dirinya berhadapan dengan Dona yang pastinya akan membuatnya merasa tidak aman. Weni memutuskan untuk menerim tawaran sang mama.
Weni mengangguk. "Baik."
"Kamu kemasi barang-barang kamu. Dan mama akan atur semuanya."
Nyonya Puri mencium lama kening sang anak. Weni mengangguk. Berjalan menuju kamarnya untuk berkemas.
"Aku harus menghubungi mas Joko." papar Nyonya Puri. Dirinya yakin, jiak Joko masih membantunya. Dia tidak akan mungkin lepas dari genggamannya dengan begitu mudah.
Apalagi, Puri memiliki banyak bukti perselingkuhan mereka. Yang pastinya bisa Puri gunakan untuk menekan Joko, supaya tidak meninggalkan dirinya.
Supaya Jojo memilihnya. Dan meninggalkan Nyonya Utami. Puri juga tahu, jika semua harta yang Joko miliki atas nama Nyonya Utami.
Karena itulah, Puri yakin. Jika Joko tidak punya pilihan lain. Selain kembali padanya. Setelah dibuang oleh Nyonya Utami. "Tenang saja. Kita akan hidup bertiga dengan bahagia."
Kehidupan keluarga yang utuh yang Puri idamkan sejak dulu. Tapi, apa semuanya akan terlaksana dengan begitu mudah. Setelah perselingkuhannya terkuak.
Ditambah lagi, kedua anak Tuan Joko dan Nyonya Utami. Apa keduanya akan dengan mudah melepaskan dirinya.
Sepulang dari rumah Nyonya Utami, Selly mengemudikan mobilnya tepat di belakang mobil kakek Mawar. "Elo ada masalah dengan kak Jerome?" tanya Selly dengan hati-hati.
"Aku hanya belum bisa menerima mama kak Jerome. Apa itu salah?" cicit Mawar lirih, menatap lurus ke depan.
Mira yang duduk di kursi belakang bersama Mawar, langsung memeluk Mawar. "Tidak. Tidak salah. Siapa yang tidak akan sakit hati. Dan begitu mudah melupakan orang yang telah menyakiti kita. Menghina kita. Apalagi dihadapan banyak orang."
"Benar." sahut Selly.
Keduanya seakan bisa memahami apa yang dirasakan oleh Mawar. Rasa sakit dipermalukan di hadapan banyak orang.
"Apa kak Jerome memaksa elo?" tanya Selly.
Mawar hanya diam tak menjawab. Mira yang masih memeluk Mawar dari samping. Menaruh kepalanya di pundak Mawar. "Kita akan selalu ada si samping kamu." cicit Mira.
Mawar mengelus lembut kepala Mira. "Terimakasih."
"Seharusnya kak Jerome bisa mengerti elo. Memang gampang hanya berbicara. Coba dia ada si posisi elo." geram Selly.
"Apa perlu, kita beritahu kak Jerome?" timpal Mira dengan kesal.
"Jangan. Biarkan ini menjadi urusan aku dan kak Jerome." pinta Mawar.
"Benar. Tapi ingat Mawar, jangan mudah luluh." ujar Mira.
"Coba dia yang dipermalukan di depan umum. Apa dia akan semudah itu melupakannya." geram Selly, lagi-lagi membandingkan posisi Mawar dengan posisi Jerome.
Mawar mengajak Mira dan Selly untuk mampir ke rumahnya. Rumah Mawar menjadi sangat ramai. Sebab, bukan hanya Mira dan Selly. Tapi juga ada Tuan Tomi dam Nyonya Tanti.
Dan ternyata, Jerome berserta kedua sahabatnya juga ikut mampir ke rumah Bu Lina. "Silahkan." Mawar menurunkan air minum yang baru dibawanya dari belakang.
"Mawar, elo tahu nggak. Siapa yang menggantikan elo dalam pensi?" tanya Selly, seolah sedang menyuruh Mawar menebak.
"Cerita saja. Pake main tebak-tebakan." gerutu Luck. Selly langsung melotot ke arah Luck.
Mawar tersenyum. "Memang siapa?"
__ADS_1
Mawar duduk di antara sang ibu dan sang nenek. Sementara sang kakek duduk di samping sang nenek dan sebelah Mira.
"Gaby." timpal Mira.
Mawar menatap ke arah Jerome. Lalu tersenyum. Tampak Jerome salah tingkah, dan langsung mengalihkan pandangannya. "Benarkan. Pasti dia sangat cantik." tukas Mawar, menyindir Jerome.
"Tapi elo harus berterimakasih sama Gaby."
"Maksud kamu?" tanya Mawar pada Selly.
Selly menceritakan kejadian dimana pakaian yang Gaby kenakan jatuh sempurna ke bawah. Hingga memperlihatkan dalaman Gaby.
"Bagaimana bisa?" Mawar merasa heran.
"Bisalah." Selly memberikan ponselnya, yang berisi video Dona melakukan kejahatannya di ruang ganti pada Mawar.
"Astaga. Kasihan Gaby. Pasti dia sangat malu." cicit Mawar.
"Mawar..!!" seru Mira dan Selly tertahan.
Tuan Tomi dan Nyonya Tanti langsung menatap keduanya. "Ehh,, maaf nenek,, kakek... reflek." cicit Mira, menyenggol Selly.
Bu Lina hanya menggeleng. Dia hapal betul bagaimana kelakukan kedua sahabat dari putrinya tersebut.
"Mawar, ngapain elo kasihan sama Gaby. Gue sih seneng banget. Mungkin itu karma buat dia. Biar tahu rasa." sinis Mira.
"Benar. Gue malah berharap, Gaby pindah sekolah karena rasa malunya. Medusa. Untuk apa di kasihani." timpal Selly.
"Benar. Dona dan Gaby. Gue heran. Mereka satu kelompok. Tapi saling menjatuhkan. Bagaimana bisa." cicit Tian.
"Kenapa tidak bisa. Mereka sama-sama iblis berwujud manusia. Lagian kak Tian pasti tahulah. Kenapa mereka bersikap seperti itu." sahut Mira, melirik ke arah Jerome.
Nyonya Tanti hanya diam. Dia bersyukur dalam hati. Dirinya tidak terlalu jauh percaya pada Gaby. Mawar melirik ke arah sang ibu.
Jujur, Mawar hanya takut sang ibu salah paham. Dan malah mengira Mawar lah di sini yang bersifat jahat.
Saat sore menjelang, semua sahabat Mawar berpamitan. Juga dengan Jerome. Tidak dengan kakek dan nenek Mawar yang masih berada di rumah mereka.
"Mawar, kakek ingin berbicara sama kamu. Boleh?"
Mawar mengangguk. "Jika kamu tidak keberatan, kakek ingin kamu fokus belajar saja. Tidak perlu bekerja. Kakek yang akan membayar semua biaya pendidikan kamu. Bagaimana, kamu mau?" tanya Tuan Tomi.
Mawar masih diam. Dirinya tidak segera menjawab permintaan dari sang kakek. Nyonya Tanti menarik lengan Mawar. Mengambil telapak tangan Mawar, menggenggamnya dengan hangat.
"Izinkan kami menebus kesalahan kami. Apalagi kami sudah tua. Apa kamu tidak kasihan pada kami?" rayu Nyonya Tanti.
Mawar tersenyum. "Beri Mawar waktu. Mawar akan berpikir dahulu." pinta Mawar.
Nyonya Tanti mengelus rambut Mawar dengan penuh kasih. "Baiklah. Beri kami jawaban yang memuaskan."
Mawar kembali tersenyum. Keduanya lantas berpamitan untuk pulang. Kedua orang tua Lina tak lagi menggebu meminta Lina dan Mawar untuk tinggal bersama mereka.
Jika Lina, mungkin akan dengan mudah mereka bujuk. Sebab, di sini yang awalnya yang bersalah adalah Lina. Tapi tidak dengan Mawar. Mereka sadar, jika Mawar belum sepenuhnya bisa menerima keberadaan mereka.
Dan kini, tujuan mereka adalah mendekatkan diri dengan Mawar. Karena hanya Lina dan Mawar yang sekarang menjadi keluarga mereka.
Bu Lina masuk ke dalam kamar Mawar. Dilihatnya sang putri sedang membersihkan ranjang yang akan dia gunakan untuk tidur.
"Sudah mengantuk?" tanya Lina.
Mawar menggeleng. "Ada apa bu?"
Lina duduk di repi ranjang. "Tidak. Hanya saja, sudah lama kita tidak tidur berdua." cicit Lina.
Mawar sedikit menyisih ke kanan. Memberi ruang untuk sang ibu agar bisa berbaring. Mawar dengan nyaman masuk ke dalam pelukan sang ibu.
Memang sudah sangat lama mereka tidak melakukan hal ini. "Bu..." panggil Mawar.
"Hemm..."
"Apa ibu akan meninggalkan Mawar, saat ibu menikah nanti?"
Cup... Bu Lina mengecup pucuk kepala Mawar. "Memangnya, ibu mau menikah dengan siapa?"
Mawar mendongakkan kepalanya. Menatap wajah sang ibu yang ada di atas kepalanya. "Sudah cukup ibu memiliki kamu. Apalagi sekarang ibu juga mempunyai kakek dan nenek. Bukankah sudah lengkap. Ibu tidak membutuhkan orang lain lagi."
Lina tahu, kenapa Mawar menanhkan hal tersebut. Pasti Mawar masih kepikiran dengan Djorgi dan juga Gaby. "Apa ibu tidak ingin menikah lagi?"
"Tidak. Untuk saat ini, ibu tidak ingin menikah lagi. Ibu ingin menikmati hari-hari bersama keluarga ibu. Kami, nenek, dan kakek. Cukup ramai bukan?"
Mawar memeluk erat tubuh sang ibu. Pernyataan Lina barusan, seolah mengatakan pada Mawar. Jika dirinya dan Gaby tidak akan menjadi saudara tiri.
__ADS_1
Yang artinya, sang ibu todak akan menikah dengan Tuan Djorgi.