
Nyonya Meysa terdiam. Bukan hanya beliau, tapi semua yang ada di ruangan tersebut. Dengan Mawar memutuskan untuk melaporkan kasus ini ke meja hukum, itu artinya Jihan juga akan terseret dengan sendirinya.
Tak ada yang bisa mereka lakukan. Tuan Dewano mengangguk pelan. Dirinya tahu, sebuah kesalahan, tetap harus mendapatkan hukuman.
Juga dengan Tuan Adipavi. Beliau merasa jika sang putri harus mendapatkan hukuman untuk efek jera. Supaya Jihan tidak mengulanginya lagi.
Tidak mungkin dan mustahil bagi lelaki yang dibayar oleh Jihan, jika dia tidak menyebutkan nama Jihan. Dia pasti tidak akan terima jika harus dihukum seorang diri.
Apalagi, dia sama sekali belum menikmati uang yang diberikan Jihan. Boro-boro menikmati, uangnya saja dia tidak tahu, saat ini ada di mana.
"Tidak, jangan bawa perkara ini ke jalur hukum." pinta Nyonya Meysa, menatap Mawar penuh permohonan.
"Jika Mawar mencabut laporannya. Saya yang akan melaporkan kembali." tegas Lina.
"Jeng, anda juga seorang perempuan. Seorang ibu, apa anda tega melakukannya?" tanya Nyonya Meysa mengiba.
Mulut Lina baru terbuka, tapi suara Selly membuat. Lina tidak jadi bersuara. "Jihan juga seorang perempuan, tapi dia dengan tega ingin merusak masa depan Mawar. Apa dia tidak lebih kejam...!!" seru Selly.
Mira mengelus punggung Selly. "Tahan amarah kamu." cicit Mira.
"Kamu jangan ikut campur..!! Ini masalah kita, jaga mulut kamu anak kecil..!" kesal Nyonya Meysa.
Bukan Selly namanya jika lantas dia langsung terdiam saat Nyonya Meysa menggertaknya. "Maaf, saya keberatan jika anda mengatakan saya anak kecil. Saya sudah menjadi perempuan dewasa. Dan sangat tahu mana yang baik, mana yang tidak." sinis Selly.
Mawar menipiskan bibirnya, menahan senyum. Dari dulu, Selly memang tidak pernah mau mengalah, jika sudah menyangkut atau membela seseorang yang disayangnya.
__ADS_1
"Jangan berdebat...!!" ujar Tuan Adipavi menengahi.
"Pa, lakukan sesuatu. Mama tidak mau jika Jihan sampai di penjara." ujar Nyonya Meysa.
Tuan Dewano menatap Jihan yang hanya menampilkan ekspresi tenang. Seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Kata maaf saja, tidak terlontar dari mulut Jihan.
Padahal, apa yang Jihan lakukan sudah masuk dalam kategori pidana. Lantas, apa tidak pantas, jika Lina beserta keluarganya berang dengan kelakuan Jihan.
"Memang sudah sepatutnya, seseorang yang bersalah dihukum. Bukan malah dilindungi." sahut Tuan Dewano.
Jerome dan yang lainnya mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan Tuan Dewano. "Dari dulu, anda memang tidak pernah menyayangi kami." sentak Nyonya Meysa, memandang tajam ke arah Tuan Dewano.
"Meysa...!!" bentak Tuan Adipavi.
Tuan Dewano menggenggam erat telapak tangannya. Dia dipermalukan oleh menantu yang selama ini makan dan menumpang hidup dari hartanya.
"Ma, bagian mana opa tidak menyayangi mama. Katakan?!" tanya Jerome mulai jengah pada sang mama yang selalu mengatakan hal tersebut berulang kali.
"Kamu juga. Saya mama kamu. Perempuan yang mengandung dan melahirkan kamu. Tapi kamu sama sekali tidak pernah menuruti apa yang saya katakan. Kamu selalu saja membantah."
"Ma, jika itu benar, Jerome pasti akan melakukannya. Tapi jika salah, apa Jerome hanya diam dan melakukannya. Tidak akan." tegas Jerome.
"Lihat,,, ka..." ucapan Nyonya Meysa terhenti saat Tuan Adipavi mengeluarkan suaranya.
"Sudah cukup. Kenapa kalian malah berdebat yang tidak perlu di rumah orang." bentak Tuan Adipavi.
__ADS_1
"Jihan. Minta maaf pada Mawar." pinta Tuan Adipavi.
Jihan memutar kedua matanya dengan jengah. "Jihan akan meminta maaf, jika Mawar tidak membawa kasus ini ke jalur hukum." kekeh Jihan dengan sombong.
Mawar tersenyum sinis. "Simpan kesombonganmu Nona. Aku sama sekali tidak membutuhkan kata maaf keluar dari mulutmu. Bahkan jika kamu berlutut sekalipun, aku akan tetap pada pendirianku." tegas Mawar.
"Lihat kak Jerome, apa seperti ini, perempuan yang kak Jerome inginkan sebagai istri kakak. Perempuan yang malah akan menjebloskan adik kakak ke dalam penjara." ujar Jihan, mencuci otak Jerome.
"Dan lihat kak Jerome, apa aku harus menikah dengan kamu. Dimana ada seorang dalam keluarga kamu yang sangat ingin menghancurkan diriku." seringai Mawar.
"Ingat Jihan. Jika cinta itu memang benar-benar suci, maka cinta itu tidak akan buta." tambah Mawar.
Jerome berjongkok di depan Mawar, menggenggam telapak tangan Mawar. "Lakukan yang menurut kamu adil. Aku sebagai lelaki, juga pasti tidak akan rela, perempuan yang aku sayangi disakiti. Meski oleh keluargaku sendiri." papar Jerome.
Mawar tersenyum, lalu mengangguk. "Terimakasih." cicit Mawar.
"Jerome....!! Dia adik kamu. Dan Mawar, dia orang lain. Kenapa kamu malah membela dia...!?" bentak Nyonya Meysa.
"Jerome tidak membela orang lain. Dia membela orang yang patut di bela. Lihat, apakah orang seperti ini, patut untuk di bela." timpal Tuan Dewano menatap Jihan dengan sinis.
Jihan malah tersenyum miring. Dalam hatinya, Jihan tetap yakin jika sang papa pasti tidak akan rela jika dirinya sampai masuk penjara.
Dan Jihan yakin, sang papa akan melakukan apapun untuk dirinya. Jihan menyimpulkan demikian, karena raut wajah Tuan Adipavi yang terlihat khawatir.
"Pasti papa akan menolong gue. Dan gue, nggak perlu takut. Memang, Mawar bisa apa jika papa sudah bertindak." batin Jihan menyombongkan diri.
__ADS_1