MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 118


__ADS_3

"Mas,,, ini malam pertama kita. Jangan mendiamkan Caty seperti itu." rengek Caty dengan manja.


Malam pertama. Kalimat yang sungguh menjijikkan untuk di ucapkan dan dengar telinga. Kalimat tersebut layaknya diucapkan oleh pasangan yang baru menikah dan belum pernah melakukan hubungan badan sebelumnya.


Tapi Caty dan Wiryo, bahkan mereka selalu melakukannya sesuka mereka. Tanpa peduli jika saat itu mereka bahkan belum terikat pernikahan. Dan Wiryo masih berstatus suami dari perempuan lain.


Keduanya saat ini tengah berada di kamar yang telah disediakan oleh hotel tempat mereka menggelar acara pernikahan dengan mewah dan meriah.


Meski ada sedikit kejadian yang membuat para tamu memperoleh topik obrolan yang bisa mereka bawa pulang. Kejadian yang membawa nama Mawar di dalamnya.


Namun hal tersebut tentu saja sama sekali tidak lantas membuat pesta terhenti. Pesta tetap berjalan dengan lancar dan sesuai rencana Caty, setelah Mawar memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.


Saat masih berada di pesta, Wiryo memperlakukan Caty dengan lembut. Bahkan setelah kejadian di mana Caty menampar Mawar. Dan juga setelah pengakuan Mawar yang mengatakan jika Caty selama ini sama sekali tidak pernah memberinya uang sepeserpun.


Hanya untuk menjaga nama baik mereka tetap pada tempatnya, Wiryo menahan emosi saat berada di depan banyak orang. Tapi tidak setelah dia hanya berdua dengan Caty, di dalam kamar.


Caty memegang lengan Wiryo, saat dia hendak pergi ke kamar mandi. Dengan kasar, Wiryo melepaskan tangan Caty di lengannya. Tanpa mengucap sepatah katapun.


Tanpa menoleh ke arah sang istri, Wiryo berjalan ke kamar mandi. Mengunci pintunya dari dalam. "Aaaa....!!!" seru Caty.


Merasa kesal terus diabaikan oleh sang suami. Padahal baru pagi tadi status baru dia terima sebagai Nyonya Wiryo. "Mawar,,,, sialan. Bagaimana dan dari mana dia tahu semuanya." gumam Caty juga heran.


Caty sama sekali tidak memberitahu siapapun mengenai hal ini. Dia hanya menyimpannya seorang diri. Lantas, bagaimana Mawar bisa mengetahuinya.


Wiryo memasukkan badannya ke dalam zaquci yang sudah terisi penuh dengan air hangat, bercampur dengan sabun cair di dalamnya.


Berendam di dalam air hangat. Menjernihkan pikiran. Beberapa kali Wiryo menghela nafas panjang. Wiryo sama sekali tidak pernah berpikir, Caty akan melakukan hal tersebut.


Wiryo yakin, sang istri melakukannya bukan karena kekurangan uang. "Kenapa kamu melakukan semua itu?" lirih Wiryo.


"Astaga." meski dalam keadaan marah, namun Wiryo tetap teringat akan Caty yang belum membersihkan diri. Segera Wiryo menyelesaikan ritualnya. Sehingga Caty bisa menggunakan kamar mandinya. Sebelum malam semakin larut.


Malam yang seharusnya dilalui Caty dengan romantis dan panas, malah menjadi malam terdingin. Malam yang sama sekali tidak pernah terpikirkan dalam benak Caty sebelumnya.


Caty berpikir akan ada acara mandi bersama. Melakukan kegiatan malam panas penuh keringat di kamar mandi. Dan di lanjutkan di atas ranjang hingga menjelang pagi. Tapi semua tidak akan terjadi untuk malam ini.


Keduanya memang tetap tidur dalam satu ranjang. Namun Wiryo langsung memejamkan kedua matanya begitu selesai membersihkan diri dari kamar mandi dan berganti pakaian.


Wiryo juga sama sekali tidak menyentuh Caty. Mendiami Caty, dan memilih masuk ke dalam dunia mimpi.


Caty menaikkan selimutnya sampai di dada. Memandang kesal ke arah Wiryo yang sudah menutup kedua matanya. "Percuma gue bawa lingerie terbaik malam ini." keluh Caty.


Dengan perasaan dongkol, dia terpaksa menyusul Wiryo ke alam mimpi. Dirinya tak mungkin keluar dari kamar, dan mencari kesenangan di luar. Jika itu terjadi dam ada yang melihatnya, pasti akan membuat kehebohan.


Seperti biasa, pagi hari Mawar segera keluar dari kamar, setelah dia sudah bersiap akan pergi ke sekolah. Mawar menaikkan sebelah alisnya, melihat siapa yang duduk di kursi ruang makan.


Jerome tersenyum manis melihat Mawar yang baru saja keluar dari dalam kamar. Sepagi ini, dan Jerome sudah berada di rumah Mawar.


Mawar menarik kursi sedikit ke belakang. Lalu duduk di kursi tersebut. Mawar melihat sang ibu datang membawa wadah berisi lauk pauk. "Kak Jerome sudah lama?" tanya Mawar.


Jerome tersenyum samar. Dirinya tahu, kenapa Mawar tiba-tiba menyambutnya dengan ramah. "Baru saja." sahut Jerome, seolah tak peduli. Jika Mawar hanya berpura-pura baik di depan sang ibu.


"Kalian, sarapan yang banyak. Ibu ke belakang dulu. Menyiapkan bekal untuk kalian." tutur bu Lina.


Mawar seketika menatap sang ibu. "Bekal untuk kalian." cicit Mawar, mengulang kalimat terakhir sang ibu.


"Iya, tadi ibu menawari nak Jerome. Dan dia mau. Ibu jadi senang, berarti masakan ibu enak." tutur bu Lina merasa senang.


Mawar tertawa kaku. Tawanya lenyap, begitu sang ibu tidak berada di sekitar mereka. "Maaf, aku hanya kangen masakan kamu." cicit Jerome.


Sebab masakan Mawar dan bu Lina memiliki rasa gang hampir sama. "Asal tidak setiap hari." tukas Mawar, mulai mengisi piringnya dengan makanan.


Bukannya marah, Jerome malah tersenyum. "Iya,,, tenang saja. Tidak setiap hari kok, paling seminggu enam kali." sahut Jerome, mengikuti Mawar mengisi piringnya dengan makanan.


Mawar memutar kedua matanya dengan malas, mendengar ucapan Jerome.


Keduanya sarapan dengan tenang. Tanpa ada suara yang keluar dari mulut mereka. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring.


Bu Lina kembali ke meja makan dengan membawa tiga buah kotak bekal. Mawar memandang sekilas. Tanpa diberitahu, Mawar sudah bisa menebak pemilik bekal yang satunya lagi. Tuan Djorgi.


Mawar hanya bisa membiarkan sang ibu mengejar kebahagiaannya. Layaknya sang ayah. Dirinya tidak mungkin melarangnya.


Mawar sudah cukup dewasa untuk mengerti. Jika seseorang memang membutuhkan pasangan hidup. Bukan hanya perkara uang. Tapi juga batin, dan juga ketenangan hidup.


Meski dirinya dan Gaby tidak akan pernah rukun jika hidup dalam satu atap. Tapi Mawar tetap akan membiarkan dan mengizinkan jika sang ibu datang padanya, meminta izin untuk menikah dengan papa dari Gaby.

__ADS_1


Bu Lina memasukkan setiap bekal ke dalam wadahnya masing-masing, berupa paper bag berukuran kecil. "Ini bekal kalian. Ini untuk putri tercantik ibu." memberikan sebuah paper bag pada Mawar.


Lalu memberikan satu paper bag pada Jerome. "Dan ini untuk nak Jerome."


Jerome melirik sekilas ke sebuah paper bag satunya lagi. Yang bu Lina sisihkan di ujung meja. Tapi dia tidak berani bertanya. Sebab, bukan kapasitasnya juga untuk terlalu kepo. "Terimakasih bu."


"Mungkin untuk ibu sendiri." pikir Jerome dalam hati. Sebab Jerome juga tahu jika bu Lina juga bekerja.


Selesai sarapan bersama, keduanya berpamitan dan pergi ke sekolah bersama. Di perjalanan menuju sekolah, Jerome selalu bertanya pada Mawar sembari fokus menyetir mobil.


Tak seperti semalam, kini Jerome bertekad akan kembali mendekatkan diri pada Mawar. Dan ini saatnya Jerome harus berusaha.


Jerome teringat akan perkataan bu Lina pagi tadi, jika Mawar tipe gadis yang cuek. Jika dia mendiami Mawar, bisa-bisa Mawar juga akan melakukan yang sama.


Jerome terus bertanya, sementara Mawar hanya menjawab sekenanya saja. Jerome tersenyum jahil. Melirik pada Mawar. "Semoga aman, lagi pula Mawar sudah menggunakan sabuk pengamannya." ucap Jerome dalam hati, sedang merencanakan sesuatu.


Jerome mencari tempat yang aman untuk memulai aksinya. Citttzzz.... tiba-tiba Jerome mengerem mendadak, tapi mobil tetap berjalan.


"Astaga,,, ada apa kak Jeee...?" tanya Mawar cemas, melihat ada yang tidak beres dengan mobil yang mereka tumpangi.


"Kelihatannya mobilku bermasalah." sahut Jerome dengan nada cemas dan juga raut wajah yang menampakkan kekhawatiran. Akting yang benar-benar sempurna.


Mawar memegang kursi yang dia duduki dengan kencang. "Aaawww....!" seru keduanya bersamaan, saat mobil menabrak sebuah pohon di pinggir jalan.


Nafas Mawar berhembus tak karuan. Juga dengan jantungnya yang berdetak tak berirama. "Syukurlah, untung saja kak Jerome tidak berkendara dengan kencang." cicit Mawar, tetap menatap lurus ke depan.


Mawar beberapa kali memejamkan matanya, menetralkan rasa takut yang menjalar ke seluruh sendi tubuhnya. "Mobil ini tidak akan meledak seperti di film-film yang pernah Mawar lihatkan." cicit Mawar.


Biasanya mobil akan meledak setelah menabrak sesuatu. Itulah yang Mawar lihat saat adegan sebuah film.


Merasa Jerome tidak menyahuti perkataannya, Mawar menoleh ke samping. "Astaga..." seru Mawar mendapati Jerome memejamkan mata dengan kening berdarah.


Mawar segera melepas sabuk pengamannya. "Sebaiknya kita keluar dari mobil." ajak Mawar pada Jerome.


Mawar keluar lebih dulu. Jerome tersenyum samar. Lalu Mawar membuka pintu sebelah Jerome, membantu Jerome untuk keluar dari dalam mobil.


Keduanya duduk di pinggir jalan. "Tuhan, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja." saran Mawar, melihat kening Jerome berdarah.


"Tidak perlu, ini hanya luka kecil. Diobati sendiri juga sudah membaik." cegah Jerome.


Jerome menahan tawanya. "Nggak akan. Di dalam ada kotak obat. Kamu bisa ambil."


Mawar memandang ke arah mobil. "Tapi mobilnya tidak akan meledakkan?" tanya Mawar dengan nada takut, sembari memandang ke arah mobil.


Ingin sekali Jerome mencubit pipi Mawar karena gemas. "Tidak." ujar Jerome menyakinkan.


Dengan sedikit rasa takut, Mawar memberanikan diri mengambil kotak obat di dalam mobil. "Apanya yang meledak. Mobil gue baik-baik saja." gumam Jerome, menyentuh keningnya yang berdarah.


Mawar kembali dengan kotak obat di tangannya. Mereka berdua duduk di pinggir jalan. "Nggak ada kendaraan lain apa. Tumben sekali." gumam Mawar.


Jika saja ada kendaraan yang lewat, mungkin dia bisa meminta tolong. Seakan berbanding terbalik dengan Mawar, inilah yang diinginkan Jerome. Sama sekali tidak ada kendaraan yang lewat jalan tersebut.


Dengan penuh kehati-hatian, Mawar mengobati luka di kening Jerome. "Iiiiisshhh..." desi Jerome, dengan mata terpejam saat Mawar sedikit menekan lukanya untuk memberi obat.


Mawar segera mendekatkan wajahnya. Meniup pelan kening Jerome yang terluka. Jerome mati-matian menahan gejolak hasrat di hatinya.


Ingin rasanya Jerome membawa tubuh Mawar ke dalam pelukannya. Menghirup wangi tubuhnya. "Tahan Jerome." ucap Jerome pada diri sendiri.


"Lagian, kenapa kak Jerome pake lewat jalan ini segala." omel Mawar.


Jerome menyahuti ucapan Mawar dengan kedua mata masih terpejam. "Biar lebih cepat." ucap Jerome berbohong.


Jika saat ini Jerome membuka kedua matanya, pasti yang akan dia lihat adalah leher jenjang dan mulus milik Mawar.


Mawar kembali meniup kening Jerome. "Sudah lebih baik?" tanya Mawar sedikit menarik wajahnya, membuat wajahnya dan wajah Jerome berhadapan.


Mawar menelisik wajah tampan Jerome. Alis yang lebat, bulu mata yang lentik, hidung mancung, bibir tebal dan seksi. Kedua rahang yang simetris dengan dagu sedikit terbelah di tengah. Sungguh pahatan wajah yang sempurna.


Jantung Mawar berdetak kencang, darahnya seakan berdesir. Jerome bisa menebak, dimana keberadaan Mawar. Jerome bisa merasakan dengan pasti, nafas Mawar yang menerpa wajahnya.


Jerome menggenggam erat ujung jaketnya. Dirinya tidak ingin kehilangan kendali. Dia juga tetap menahan kedua matanya untuk tetap tertutup. Aliran oksigen ke dalam paru-parunya seakan semakin menipis.


Tiiittt..... suara klakson kendaraan membuat Mawar dan Jerome sama-sama tersadar. Keduanya menoleh ke arah suara berasal.


Luck dan Tian berhenti di depan mobil Jerome. Dengan keduanya menaiki motornya masing-masing. "Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" tanya Tian.

__ADS_1


Luck melihat mobil Jerome yang menabrak pohon. "Mobil elo kenapa?" tanya Luck.


Luck dan Tian segera turun dari motornya. Keduanya mendekat ke tempat Jerome dan Mawar berada. Ingin memastikan, keduanya dalam keadaan baik-baik saja.


Pasalnya, mereka berdua melihat ada kotak obat di samping Mawar.


Malu bagi Mawar, dan untung untuk Jerome. Saat Mawar ingin berdiri, kakinya kesemutan. Sehingga dia terjatuh ke pelukan Jerome.


"Waoo..." segera Luck dan Tian mengalihkan pandangan mereka ke arah lain. Luck dan Tian tersenyum sendiri dengan mencuri pandang ke belakang.


Mawar menahan malu sekaligus rasa tak nyaman di kakinya. "Maaf, kakiku kesemutan." cicit Mawar menunduk, menggigit bibir bagian bawah.


Tangan Jerome merengkuh pinggang Mawar. "Jangan mainkan bibirmu seperti itu." bisik Jerome.


"Heh..." Mawar menengok ke arah Jerome. Sialnya, wajah Jerome yang berada tepat di sampingnya, membuat bibir Mawar tanpa sengaja mendarat sempurna di pipi Jerome.


Mawar segera menarik wajahnya ke belakang. Menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. Jerome menahan senyumnya. Ingin sekali Jerome membalas ciuman dari Mawar.


Tapi dia tetap harus manahan keinginannya. "Ingat Jerome, jangan membuat Mawar menjauh. Sabar,,,, tahan,,,,,, kalem." ucap Jerome dalam hati.


"Maaf." cicit Mawar, melepaskan tangan Jerome di pinggangnya. Mawar segera berdiri. Merapikan seragam sekolahnya.


"Malu banget gue." batin Mawar, ini pertama kali dalam hidupnya mencium seorang lelaki saat dirinya sudah beranjak dewasa.


Jerome mengikuti Mawar yang telah berdiri. "Kaki kamu baik-baik saja?" tanya Jerome, yang di angguki oleh Mawar.


Seharusnya Mawar yang bertanya tentang kening . Tapi Mawar sekian melupakan hal tersebut. Dirinya sudah begitu malu akan kejadian yang baru saja terjadi. "Pasti aku terlambat." lirih Mawar.


"Tidak apa-apa. Nanti biar aku jelaskan pada guru kelas kamu." ucap Jerome dengan lembut, tersenyum manis ke arah Mawar.


Mawar mengangguk, segera mengalihkan tatapannya. "Astaga, bisa-bisanya gue mengagumi ketampanan kak Jerome. Ingat Mawar, kamu hanya gadis miskin." batin Mawar seolah menyadarkan dirinya sendiri.


"Tidak ada cinderella dalam kehidupan nyata." batin Mawar.


Tian dan Luck membalikkan badan. "Ada apa dengan mobil elo?" tanya Tian.


Bukannya menjawab, Jerome malah meminjam salah satu sepeda motor mereka. "Elo boncengan dengan Luck. Biar motor elo gue bawa." tutur Jerome.


"Kak Jerome, kak Jerome sudah baikan. Bagaimana kalau Mawar sama kak Luck atau kak Tian saja." saran Mawar, khawatir pada Jerome yang baru saja terluka.


"Tidak." ketiga lelaki di dekat Mawar mengatakan kata tidak secara bersamaan.


"Hah..." Mawar hanya melongo mendengar kekompakan mereka bertiga.


Tidak bagi Luck dan Tian. Keduanya tentu saja tidak ingin mendapat murka dari Jerome. Jika sampai Mawar mereka bonceng.


Tidak bagi Jerome, mana mungkin Jerome berbesar hati melihat Mawar bersama dengan lelaki lain. Berboncengan motor. Tidak akan pernah Jerome biarkan.


"Elo sama Jerome saja. Biar gue sama Tian." jelas Luck.


"Benar, gue baik-baik saja." timpal Jerome.


Jerome mengambil helm milik Luck yang tergantung di belakang. "Ini, pakai." Jerome menyerahkan helm tersebut pada Mawar.


Mawar tersenyum, tapi serasa ingin menahan senyumnya dengan tangan mengambil helm di tangan Jerome.


"Terus gue pakai helm siapa?" tanya Luck polos, pasalnya Tian hanya membawa satu helm.


Jerome mengambil helm Luck yang satunya lagi, dan memakainya. Telinganya seolah tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh Luck.


Luck dan Tian hanya bisa pasrah dan menerima apa yang dilakukan Jerome. "Nasib,,,, nasib." Luck naik ke motor Tian. Dia yang punya motor, dia yang punya helm dua. Tapi serasa tak punya apa-apa.


Tian melajukan motornya di belakang motor yang dikendarai Jerome dan Mawar. "Tahun berapa kita akan sampai ke sekolah." celetuk Tian, membawa motornya dengan pelan.


"Sabar....." sahut Luck, yang juga merasa Jerome bukanlah Jerome yang dulu, sejak mengenal Mawar.


"Kak Jerome, agak cepetan dikit. Mawar nanti nggak kebagian jam pelajaran pertama." ucap Mawar dengan sedikit berteriak.


Jerome mengangguk. "Pegangan." pinta Jerome.


Mawar terkejut, saat Jerome malah menghentikan motornya. Mengambil kedua tangan Mawar dan meletakkan tangan Mawar di perutnya.


"Pegangan yang kuat, biar nggak jatuh. Aku akan sedikit ngebut." Mawar mengangguk.


Jerome melajukan motornya bagai pembalap. Sehingga Mawar berpegangan dengan kuat, sehingga tubuhnya menempel erat dengan punggung Jerome. Membuat Jerome tersenyum senang.

__ADS_1


"Astaga. Tadi seperti siput, sekarang seperti singa." celetuk Tian, mulai mengikuti laju motor Jerome yang bagai seorang pembalap.


__ADS_2