
"Maaf." cicit Mawar dalam mobil.
Jerome menurunkan kecepatan laju mobilnya. Menoleh sekilas ke arah Mawar. "Untuk?" tanya Jerome merasa jika Mawar tidak pernah melakukan kesalahan terhadap dirinya.
Mawar menghela nafas. Tadinya dia tidak ingin mengatakan pada Jerome. Tapi Mawar merasa dirinya sangat jahat, jika tidak berterus terang pada Jerome.
Tentang niatnya yang tiba-tiba mau berangkat ke sekolah bersama dengan Jerome. Padahal semalam Mawar tak langsung menjawabnha. Karena memang dirinya ingin menolak keinginan Jerome.
Apalagi, saat Mawar melihat ketulusan di mata Jerome. Mawar merasa bersalah.
Terserah, jika nanti Jerome akan marah dan menurunkannya di tengah jalan sebelum mereka sampai ke sekolah, karena imbas Mawar yang berkata terus terang. Mawar tidak peduli.
Sejak tadi pagi, Mawar merasa perasaannya tidak tenang. Mawar merasa dirinya lebih jahat dari pada Dona. Yang mau memanfaatkan kebaikan Jerome pada dirinya.
Mawar menghela nafas panjang. Mencoba bersikap tenang. Dan mengatakan semuanya dengan jujur. "Sebenarnya, aku mau pergi ke sekolah bareng sama kak Jerome karena Mawar punya tujuan lain." papar Mawar, tak berani menoleh ke samping.
Mawar terdiam. Pikirannya berkelana ke mana-mana, saat tak mendengar sahutan dari Jerome. Mawar menebak jika Jerome marah padanya.
"Mawar ingin membuat kak Dona kesal." imbuh Mawar. Mempersiapkan diri, seandainya Jerome akan memaki dirinya bahkan mengatakan hal buruk padanya. Mawar sudah siap.
Hening. Mawar memberanikan diri untuk menoleh ke samping. Dimana Jerome duduk di belakang kemudi.
Mawar menaikkan sebelah alisnya. Melihat Jerome tersenyum dengan menatap lurus ke depan. "Kenapa malah kak Jerome tersenyum." batin Mawar merasa aneh.
Beberapa menit yang lalu, Jerome sempat tertegun mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Mawar. Tidak dapat dipungkiri, ada rasa kesal dan kecewa di hati Jerome. Saat dirinya tahu alasan Mawar akhirnya setuju berangkat ke sekolah bersama dengan dirinya.
Jerome menertawakan dirinya sendiri. Yang sudah dengan perasaan senang berangkat ke rumah Mawar. Menjemput Mawar untuk berangkat bersama.
Nyatanya dirinya hanya di manfaatkan.
Tapi, saat Jerome menoleh ke arah Mawar berada, Jerome dapat melihat dengan jelas raut wajah Mawar. Raut wajah sedih dan merasa tidak enak.
Jerome merasa jika Mawar tidak bermaksud memanfaatkan dirinya dengan arti yang sebenarnya. Terbukti, Mawar memilih berkata jujur. Alih-alih meneruskan kebohongannya.
Padahal, jika Mawar bohongpun, tidak ada yang tahu. "Memang kenapa dengan aku dan Dona?"
Jerome mencoba bersikap santai. Mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan Mawar. Dirinya tidak ingin usahanya mendekati Mawar terbuang percuma, hanya karena emosi sesaat.
Dan juga karena kejujuran yang dikatakan oleh Mawar. "Semua juga tahu. Jika kak Dona menyukai kak Jerome." papar Mawar.
Jerome menganggukkan kepalanya pelan. "Ya."
Jerome semakin mengagumi kepribadian Mawar. Dia berani mengatakan dengan jujur, meski nantinya dirinya akan mendapat masalah. Bisa saja dirinya akan memandang Mawar sebagai perempuan jahat.
"Mawar berencana ingin membuat kak Dona kesal. Karena itu,,, emm... ya seperti yang Mawar katakan tadi." ucap Mawar sedikit gugup.
Jerome hanya diam, tak segera menyahuti perkataan Mawar. "Kak Jerome marah?" tanya Mawar dengan hati-hati.
Jerome menggeleng. Menatap sekilas ke arah Mawar yang ternyata juga menatapnya. "Syukurlah." batin Mawar merasa lega.
"Kamu bisa menggunakan diriku untuk membuat Dona merasa kesal. Jangan khawatir, aku akan membantu kamu." tutur Jerome tersenyum simpul.
Jerome merasa jika kesempatan datang. Kesempatan untuk dekat dengan Mawar. Tanpa Jerome harus mencari alasan.
Menggunakan apa yang diinginkan Mawar.
"Hah." Mawar melongo tak percaya.
Jerome membantu Mawar. Seorang Jerome, tidak marah dan malah akan membantunya. Padahal dia tahu, jika sedang dan hanya di manfaatkan oleh orang lain.
"Ya, kamu bisa memanfaatkan aku. Kapanpun. Dimanapun. Dan, dengan cara apapun."
Jerome menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Sedikit merubah posisi duduknya. Sehingga Jerome dengan leluasa memandang ke arah Mawar. Yang saat ini masih tak berkedip menatapnya.
"Ehh,,,," Mawar terkejut, saat Jerome menoel pucuk hidungnya dengan pelan.
Jerome sedikit mencondongkan badannya. "Manfaatkan aku. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku akan membantu kamu." ucap Jerome dengan suara rendah.
Jerome tersenyum, melihat Mawar masih menatapnya dengan bingung bercampur heran. Ada seseorang yang bahkan tahu dia hanya dijadikan bahan keuntungan untuk orang lain.
Namun dia malah senang dan juga pasrah. Tak ada marah. Tak ada gurat kecewa dan sedih. "Benar?" tanya Mawar tak percaya.
__ADS_1
Jerome tersenyum begitu manis. Memejamkan mata sebentar dengan begitu imut, lalu mengangguk pelan, tapi pasti.
Mawar menatap keseluruhan wajah Jerome. Beberapa kali mereka berinteraksi seperti ini, tapi baru kali ini Mawar memperhatikan dengan intens.
Kedua rahang yang tegas. Bibir tebal berwarna merah alami yang terlihat seksi. Hidungnya sangat mancung. Kedua mata yang belo. Alis hitam tebal dan rapi secara alami tanpa ditata. Bulu mata yang lentik.
Mawar menelan ludahnya dengan kasar. Ada sesuatu yang ingin meletup dari tubuh Mawar. Tapi dia sendiri juga tidak tahu. Apa itu.
Sementara Jerome, dia juga masih sibuk menatap wajah ayu Mawar yang tidak membosankan dipandang oleh mata.
Segera Mawar memutuskan pandangan mereka. Mawar kembali menetralkan degup jantungnya yang beberapa detik berdegup dengan sangat kencang.
"Tenang Mawar, tenang. Jangan mau terpedaya dengan wajah tampan seorang lelaki. Ingat, belajar dan bekerja." batin Mawar, menampik sesuatu yang memang secara alami muncul dari dalam dirinya.
Jerome tersenyum miring. Dia yakin, jika Mawar juga punya perasaan suka terhadap dirinya. Meski hanya sedikit.
"Awalnya hanya setitik. Tapi aku berjanji, akan membuat setitik tersebut menjadi beberapa titik. Dan akhirnya tidak akan terhitung." batin Jerome bertekad, membuat Mawar jatuh cinta.
Meski dengan cara yang menurut Jerome sama sekali tidak etis. Yakni saat Mawar memanfaatkan dirinya. Dan Jerome malah memanfaatkan apa yang dilakukan oleh Mawar.
Namun tak apalah, yang paling penting bagi Jerome adalah bisa dekat dengan Mawar. Perlahan masuk ke dalam hatinya. Siapa tahu, Jerome bisa menguasai seluruh hati Mawar.
"Khem,,,, kak ayo jalan. Nanti kita terlambat." ajak Mawar mencairkan suasana.
Jerome mulai menyalakan mesin mobilnya kembali. "Oke." Jerome tersenyum senang.
Hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Mawar melirik ke arah Jerome. Bisa-bisanya dia memikirkan bagaimana tampannya Jerome. Dasar, jiwa perempuan Mawar mulai muncul tanpa sadar.
Sementara Jerome, sesekali menoleh sekilas ke arah Mawar. Rasanya Jerome ingin berlama-lama di dalam mobil. Bersama Mawar.
Meski mereka tidak melakukan apapun, tapi hal tersebut sudah bisa membaut jantung seorang Jerome berdegup tak beraturan.
Jerome sadar dan tahu betul. Apa yang akan terjadi jika dirinya nekat berhubungan dengan Mawar.
Tak jauh dari nasib yang dialami oleh Deren. Penolakan kedua orang tuannya. Tapi Jerome akan lebih beruntung dari pada Deren.
Jerome bukan Deren. Jika Deren belum bisa berdiri sendiri tanpa sesuatu dari papanya. Berbeda dengan Jerome.
Deren belum bisa melindungi Mawar jika sang mama dan papanya bertindak untuk menyakiti Mawar. Tapi Jerome, dirinya sudah mampu berdiri tegak di depan Mawar. Menjadi tameng untuk Mawar.
Jerome memiliki beberapa persen saham di perusahaan sang papa. Atas nama Jerome sendiri. Jerome juga mempunyai usaha sendiri yang sudah berjalan lancar.
Dan sang papa maupun mama Jerome tidak akan bisa mengutak-atik apa yang dimiliki oleh Jerome. Sebab, Jerome juga mempunyai seseorang yang bisa dia jadikan pelindung, saat kedua orang tuanya mengusik kehidupannya.
Dulu, Jerome tidak terlalu terpengaruh dengan semuanya. Tidak dengan sekarang. Semenjak hatinya benar-benar merasakan apa itu rasa cinta dan suka.
Semenjak ada nama Mawar di dalam hatinya. Jerome mulai memikirkan semuanya. Mengaca pada kejadian Mawar yang didatangi mama Deren.
Jerome bisa memastikan, sang mama akan melakukan hal yang sama. Dan sebelum itu terjadi, Jerome harus memastikan jika Mawar juga mempunyai perasaan terhadapnya.
Sehingga Jerome mempunyai alasan untuk membela Mawar. Jika seandainya Mawar belum membuka hatinya untuk dirinya. Jerome tetap akan membela Mawar.
Dengan kata lain, Jerome akan tetap mempertahankan Mawar. Entah Mawar menginginkan dirinya, atau tidak.
Biarkanlah Jerome dikatakan egois dan pemaksa. Cinta memang terkadang lebih gila dari pada orang yang waras. Dan terkadang harus lebih waras dari pada orang gila.
Mawar merasa jika Jerome melajukan mobilnya seperti siput. Sehingga mereka tidak sampai-sampai di sekolah.
"Kak,,,, jika kak Jerome mengendarai seperti siput, Mawar jamin. Kita akan terlambat datang ke sekolah." tukas Mawar kesal.
"Benarkan? Baiklah." ucap Jerome tersenyum jahil.
Dan...
"Aaaa.... kak Jerome...!!!" teriak Mawar memegang sabuk pengaman dengan kencang.
"Mawar belum pengen mati..!!!" seru Mawar, dadanya berdegup kencang.
Jerome langsung tancap gas, begitu Mawar mengatakan jika dia mengemudi seperti siput. Mawar spontan memegang sabuk pengaman yang berada didepan tubuhnya dengan erat.
Jerome tertawa seraya melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang. "Kak Jerome...!!" kesal Mawar melirik sinis ke arah Jerome yang tertawa puas.
__ADS_1
"Mawar, kemauan kamu kok sulit banget sih. Tadi katanya kayak siput. Aku kencangin dikit teriak." goda Jerome merasa senang melihat kegemasan yang ditunjukkan Mawar.
"Kencang ya kencang saja kak. Gak kayak tadi. Pagi-pagi dah sport jantung." dengus Mawar memegang dadanya yang masih berdetak kencang.
"Jangan diulangi." bentak Mawar, Jerome menahan tawanya.
Setelah kejadian tersebut, Mawar mengomel tak jelas di dalam mobil Jerome. Bukannya merasa risih, Jerome malah merasa senang dan terhibur.
"Ingat ya kak." Mawar menatap tajam ke arah Jerome.
"Mawar nggak mau lagi bareng, semobil, atau apapun itu, sama kak Jerome." ancam Mawar dengan ekspresi wajah tak main-main.
"Yah,,, jangan gitu dong. Aku janji, ini yang pertama dan terakhir." bujuk Jerome sambil menyetir.
"Iya, pertama dan terkahir, Mawar naik mobil kak Jerome." sahut Mawar membuat Jerome kelimpungan.
"Ya,,, yaa,,, Jangan gitu dong. Aku janji, nggak akan ngulangin lagi." janji Jerome.
"Kak Jerome,,,!! Fokus." seru Mawar saat Jerome terlalu lama menatap ke arah dirinya. Padahal Jerome sedang menyetir.
Segera Jerome kembali menghadap sempurna ke depan. "Tapi ini nggak bisa fokus. Kamunya ngancem gitu." rajuk Jerome.
"Kak Jerome..!!" seru Mawar.
Lagi-lagi Jerome menggoda Mawar dengan gaya menyetirnya yang berbahaya. "Makanya jangan ngancem." rajuk Jerome, padahal Jerome hanya berpura-pura.
"Iya,,, iya,,, fokus menyetir." kesal Mawar. Bisa-bisanya Jerome menyetir seperti tadi. Mawar hanya takut nyawanya melayang.
Di ruang kerja Wiryo, Caty nampak sedang merayu Wiryo untuk kembali ke apartemen yang dia tempati sebelumnya.
"Ini masih terlalu pagi Caty." tegur Wiryo, saat calon istrinya datang ke tempatnya bekerja.
Wiryo yakin, jika kedatangan Caty akan merubah suasana harinya yang damai akan berubah. Bukannya Wiryo tidka suka dengan kedatangan Caty.
Tapi Wiryo hanya malas meladeni Caty. Karena sudah dapat dipastikan. Kedatangan Caty akan membuat emosinya kembali tersulut.
"Kapan mas akan pindah?" Caty langsung duduk di pangkuan Wiryo. Memainkan dasi panjang yang melingkar dengan rapi di leher Wiryo.
"Pindah ke mana?" tanya Wiryo cuek.
Caty tahu, jika Wiryo masih marah pada kelakuannya. "Ke apartemen mas yang sebelumnya." Caty meletakkan kepalanya di dada bidang milik Wiryo.
Wiryo mencoba menyingkirkan tubuh Caty di atas pangkuannya. "Caty, ini di tempat kerja. Tolong minggir." usir Wiryo dengan nada lembut.
Caty beranjak dari pangkuan Wiryo. Bukannya duduk di kursi yang sudah disiapkan di ruangan Wiryo, Caty malah duduk di atas meja kerja Wiryo.
Memperlihatkan pahanya yang bersih, putih, dan mulus. "Mas,,, kembali ya." bujuk Caty dengan posisi menggoda.
"Mas,,," suara Caty terdengar mendayu manja telinga Wiryo.
"Aku akan tetap di sana." ucap Wiryo.
Caty cemberut. "Kok gitu. Caty kan sudah minta maaf." rengek Caty.
"Bukan masalah minta maaf atau tidak. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Memang sebaiknya aku tinggal di rumahku sendiri. Bukan tidur menumpang di tempat papa kamu." papar Wiryo.
"Mas, mas tidak menumpang. Itu memang fasilitas yang diberikan perusahaan untuk mas." bujuk Caty.
Jujur, Caty kurang nyaman dengan tempat tinggal Wiryo saat ini. Wiryo tinggal di rumah sewa yang kecil. Lebih kecil dari rumah yang ditempati Mawar dan sang ibu.
"Kenapa? Kamu tidak suka? Caty, kamu harus ingat. Aku hanya karyawan biasa. Seharusnya kamu tahu dan sadar dari awal." papar Wiryo.
Seakan mengingatkan Caty, jika dirinya tidak bisa memberikan sesuatu yang wah atau mewah pada Caty.
"Untuk saat ini, kamu memang masih berstatus karyawan. Tapi setelah menikah dengan ku. Mana mungkin aku akan membiarkan kamu tetap dan masih menjadi karyawan. Aku juga tidak akan sanggup hidup menderita dengan sedikit uang." ucap Caty dalam hati.
Caty tersenyum. Kembali duduk di pangkuan Wiryo. "Aku mencintai kamu. Aku akan hidup bersama kamu mas. Aku akan berusaha menjadi perempuan dan istri yang baik untuk kamu." Lidah Caty benar-benar licin seperti belut.
Tentu saja Caty berbohong. Caty sudah menyiapkan segalanya. Dan saat dirinya dan Wiryo menikah, semuanya akan menjadi milik Caty dan Wiryo.
Caty memeluk erat tubuh Wiryo. "Tenang sayang. Orang tuaku punya banyak perusahaan. Kita tidak akan kekurangan uang sama sekali." batin Caty tersenyum jahat.
__ADS_1