
"Huek... huek..." Caty masuk ke dalam kamar mandi. Mengeluarkan semua makanan dari dalam perutnya yang beberapa jam lalu dia makan.
Dengan memegang perutnya, Caty keluar dari kamar mandi. Membaringkan badannya di atas ranjang, ditariknya selimut hingga sampai leher.
Terdengar hembusan nafas yang kasar beberapa kali. "Ternyata sangat menyusahkan." gumamnya.
Dalam rahim Caty berisi janin yang kini berusia sekitar tujuh minggu. Caty menyambutnya dengan antusias. Berharap, dengan adanya calon bayi, Wiryo tak lagi dingin padanya.
Dan memang, sesuai apa yang diharapkan oleh Caty. Wiryo menjadi hangat dan perhatian kepadanya. Namun, Caty merasa jika ternyata perempuan hamil sangat membuat susah.
Bagaimana tidak, sebelum mengetahui dirinya hamil, Caty beraktifitas seperti biasa. Berjalan-jalan, bersenang-senang, dan menghabiskan uang untuk semua kebutuhannya yang sama sekali tidak bermanfaat.
Meski sudah mendapat teguran dari kedua orang tuanya, serta Wiryo, tapi Caty tetaplah Caty. Dia tidak bisa hidup sederhana. Tidak bisa mengurangi kesenangannya untuk menghambur-hamburkan uang.
Itulah yang membuat Wiryo bersikap dingin terhadap Caty. Bahkan, rencana Wiryo dan kedua orang tua Caty agara mereka berdua tinggal di kediaman mereka untuk membuat Caty lebih baik, semua tak ada yang berhasil.
Tapi, semenjak mengetahui dirinya hamil. Caty berubah. Bukan berubah karena Caty ingin merubah kehidupannya. Tapi spontan berubah karena keadaannya saat hamil.
Mual, muntah, tidak suka keluar rumah. Dan hanya ingin berbaring di atas kasur. Bahkan, hanya untuk memegang ponsel. Melihat berbagai jenis pakaian serta pernak-pernik fashion di layar ponsel saja , Caty tak sanggup.
Kepala Caty langsung berdenyut, baru beberapa menit dia memainkan ponsel. Sungguh, Caty sangat tersiksa dengan keadaannya saat ini.
Apalagi, meski terus muntah, nafsu makan Caty bertambah. Bahkan, Caty merasa jika berat badannya sekarang terus naik karena terlalu banyak makan dan mengemil.
Caty mengambil telepon yang berada di atas nakas. Menghubungi pembantu untuk membawakan camilan serta jus buah. "Bagaimana aku tidak akan gendut. Baru saja muntah, perut meronta minta diisi lagi." keluhnya.
"Hikkk.... hik... ingin sekali aku keluar rumah. Tangan dan kakiku sangat gatal. Ingin membeli tas." rengeknya, dengan pandangan menatap perutnya yang masih rata.
Bukan pembantu yang datang untuk masuk ke kamar Caty. Tapi sang mama. "Ada apa?" tanya sang mama yang memang setiap hari menemani Caty di dalam kamar, jika Wiryo sedang pergi untuk bekerja.
Caty menggeleng. Dengan bibir cemberut, Caty memakan camilan yang baru saja dibawakan oleh sang mama. "Makan yang banyak, ini buahnya juga. Biar calon cucu mama sehat."
"Iya, biar gendut." celetuk Caty dengan raut kesal.
"Husssttt,,, nggak boleh seperti itu. Perempuan hamil harus menjaga tutur katanya. Jangan asal main nyeplak kalau ngomong." tutur sang mama yang setiap hari selalu mengingatkan Caty tanpa bosan. Meski Caty tak mengindahkannya.
"Kamu sudah menghubungi Mawar?"
"Untuk apa?" tanya Caty dengan jutek.
"Kok untuk apa. Kabarin Mawar, katakan jika dia sebentar lagi akan punya adik. Pasti dia akan senang." sang mama ingin, Caty dan putri Wiryo bisa akur.
Sayangnya, putrinya sendiri yang memang susah untuk diatur. Dan beliau paham akan hal itu. "Ogah, nanti dia malah ke sini, mencuri semua perhatian mas Wiryo."
"Loh,, loh,,, kamu nggak boleh seperti itu. Mawar itu anak Wiryo. Yang artinya juga anak kamu. Dia akan menjadi kakak dari anak yang kamu kandung saat ini." papar sang mama.
"Ma,,, jangan bicarakan soal Mawar. Kepala Caty berdenyut jika terus berdebat." keluh Caty.
"Kamu ini, orang maka nggak ngajak berdebat, hanya memberitahu saja kok. Salah kamu malah ngajak maka berdebat."
Nyonya Gendis hanya menggelengkan kepala pelan, melihat sikap keras kepala Caty yang masih melekat. Dan susah di hilangkan. Meski sudah mempunyai suami, dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Padahal kan enak, punya anak cewek yang sudah besar. Bisa diajak shoping bareng."
"Ma, sudah,,, jangan bahas Mawar. Lagi pula nggak akan. Enak saja. Kalau Mawar mau shoping, pakai uang dia sendiri. Uang mas Wiryo hanya untuk Caty dan calon akan kita." kekeh Caty.
Caty meras perutnya mual lagi. Padahal sbelumnya baik-baik saja. "Maaa... ih mama sih, membicarakan Mawar." kesal Caty.
"Mau kemana?" tanya Nyonya Gendis, saat Caty turun dari ranjang.
"Kamar mandi. Muntah." seru Caty.
Pembangunan toko kue di depan rumah Mawar sudah di mulai. Bahkan, kini sang mama sudah mulai membeli sedikit demi sedikit beberapa alat untuk membuat kue yang lebih canggih.
Meski beliau memang sudah memiliki alat-alat pembuat kue, tapi Lina hanya memiliki dengan ukuran kecil serta masih kuno.
Setiap hari, Nyonya Tanti akan ke rumah Mawar, diantar oleh sopir ketika Tuan Tomi sudah berangkat bekerja. Dan beliau akan pulang, saat Tuan Tomi menjemputnya sepulang bekerja.
Keduanya tidak langsung pulang, tapi keduanya baru pulang jika sudah malam. Berbincang dengan Lina dan Mawar.
Lina merasa senang, pasalnya hubungan Mawar dengan kedua orang tuanya kini terlihat semakin dekat. "Sayang, ibu ingin membangun rumah kita kembali. Apa kamu setuju?" tanya Lina.
__ADS_1
Mawar yang sedang berbaring, dengan menjadikan paha sang kakek sebagai bantal menatap sang ibu dengan pandangan heran. Pasalnya rumah mereka sudah cukup rapi dan nyaman untuk mereka tinggal.
"Nenek dan kakek mau tinggal bersama kalian. Bolehkan?" tanya Nyonya Tanti, mengelus rambut sang cucu.
Mawar mengangguk. "Makanya, kita perlu menambah kamar." ujar Lina.
Tuan Tomi dan Nyonya Tanti memilih untuk mengalah. Mereka yang akan tinggal di rumah Lina, tapi rumah Lina harus di bangun serta di tambahi beberapa ruangan terlebih dahulu.
Mawar, entah kenapa, dia tidak bisa meninggalkan rumah yang sedari kecil telah dia tinggali. Ada perasaan tidak rela jika Mawar pergi dari rumah tersebut.
Mawar sadar, jika dirinya egois. Dan Mawar meminta maaf akan hal itu pada sang ibu. Bahkan, Mawar juga menawarkan pada sang ibu, jika Lina ingin tinggal bersama Tuan Tomi dan Nyonya Tanti, Mawar mengizinkannya.
Namun Mawar tidak akan ikut. Dan akan tetap tinggal di rumah ini. Mana bisa Lina melakukan itu. Alhasil, Lina mencari jalan terbaik bersama kedua orang tuanya.
Dan inilah hasilnya. Jika Tuan Tomi serta Nyonya Tanti akan tinggal bersama mereka. Tapi dengan syarat rumah Lina harus di bangun kembali.
"Lalu rumah kakek sama nenek yang di sana bagaimana?" tanya Mawar.
"Gampang." tukas Tuan Tomi.
"Tapi bukan hanya kakek dan nenek yang akan pindah ke sini. Pembantu kita juga akan ke sini. Tidak mungkinkan, nenek pecat mereka." tutur Nyonya Tanti.
Nyonya Tanti yakin jika Mawar akan setuju. Beliau tahu betapa baiknya hati sang cucu. Mana tega Mawar bila mereka dipecat, yang artinya mereka kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan.
"Iya Mawar setuju. Terserah rumahnya mau diapain. Yang penting Mawar tetap tinggal di sini." tukas Mawar, memeluk perut buncit sang kakek.
Mawar baru menyadari sesuatu. Dielusnya perut Tuan Tomi yang sedikit buncit. "Kek, kakek hamil berapa bulan?" tanya Mawar menggoda.
"Kamu itu." Tuan Tomi menjewer telinga Mawar dengan gemas. Sontak pertanyaan Mawar membuat semuanya tertawa.
Kini, hari-hari Tuan Tomi dan Nyonya Tanti berubah. Keduanya tampak dengan suka cita menikmati kehidupan tua mereka.
Hanya satu yang saat ini mengganjal pikiran Tuan Tomi. Penerus perusahaan miliknya. Sebab, Tuan Tomi sadar, jika Lina tidak bisa melakukannya.
"Semoga Mawar setuju. Aku percaya, otak Mawar akan mampu mengelola perusahaan itu dengan baik." batin Tuan Tomi.
Sebab hanya Mawar yang saat ini bisa dia andalkan sebagai penerus pemegang tombak pimpinan perusahaan. Tuan Tomi bisa menilai dari kecerdasan dan juga pembawaan yang melekat pada diri Mawar.
"Cie.... kelas dua nih ya..." ledek Lina saat Mawar keluar dengan memakai seragam SMA.
"Cucu nenek. Sini, duduk dekat nenek." pinta Nyonya Tanti.
Untuk beberapa malam ke depan, Nyonya Tanti akan menginap di rumah Mawar. Itu dikarenakan sang suami sedang berada di luar negeri. Apalagi jika bukan masalah pekerjaan.
Jika dulu, Nyonya Tanti selalu dibawa kemanapun Tuan Tomi pergi. Tidak untuk sekarang. Sebab, sudah ada Lina dan Mawar yang menemani beliau. "Cantik sekali cucu nenek."
"Dari lahir memang sudah cantik nek." sahut Mawar tertawa pelan.
"Jerome akan menjemput kamu?" tanya Lina.
Mawar menggeleng. "Nggak ma, mungkin sekarang kak Jerome sudah berada di kampusnya." tukas Mawar.
Sebah, hari ini juga hari pertama Jerome masuk ke kampus. Dan hari ini, Jerome akan mengikuti orientasi siswa bersama mahasiswa baru yang lainnya.
"Kamu hati-hati naik motornya." tutur Nyonya Tanti merasa khawatir. Mawar mengangguk seraya mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Awalnya, sang kakek ingin membelikan Mawar mobil. Supaya Mawar tidak perlu pergi ke sekolah menggunakan angkot. Tapi jelas Mawar menolak.
Mawar menginginkan sepeda motor matic. Dirinya menjelaskan jika lebih mudah dan cepat jika naik motor. Dan satu lagi, dia tidak akan terjebak macet.
Tuan Tomi tidak bisa memaksakan kehendaknya. Hingga akhirnya, Mawar dibelikan motor matic oleh sang kakek. Dan itupun Mawar sendiri yang memilih.
Selesai sarapan, Mawar pamit kepada dua perempuan yang sangat dia sayang. "Ibu, nenek. Mawar berangkat dulu."
Mawar bersalaman kepada keduanya secara bergantian, lalu meninggalkan rumah menggunakan motor barunya untuk pergi ke sekolah.
Mawar memarkirkan sepeda motornya bersama kendaraan murid lainnya. Membuka helm. Dan berjalan dengan tenang masuk ke dalam lingkungan sekolah.
"Mawar....!" teriak Mira melambaikan tangan.
Mawar hanya tersenyum saat beberapa murid menatapnya. Mawar menebak, jika mereka masih kelas satu.
__ADS_1
"Siapa tuh, cantik banget."
"Tadi gue dengar namanya Mawar."
"Gila, mungkin dia princess sekolah ini. Cantik banget."
Terdengar bisik-bisik dari para murid baru pada Mawar.
Mawar memeluk Mira dan Selly bersamaan. "Motor baru?" Mawar mengangguk untuk menjawab pertanyaan Selly.
Mawar merangkul kedua sahabatnya. "Yuk masuk. Nggak sabar, masuk kelas baru." tutur Mawar dengan tangan kanan di pundak Mira, dan tangan kiri di pundak Selly.
Juga dengan Gaby, dia berjalan memasuki pelataran sekolah setelah turun dari mobil yang telah dia parkiran di tempatnya.
Gaby merasa ada yang aneh, semua mata memandang kepadanya. Gaby memastikan penampilannya. "Mungkin karena gue cantik kali ya." cicit Gaby dengan percaya diri.
"Masih punya muka untuk menunjukkan muka." celetuk salah satu murid kelas tiga, memandang sinis kepada Gaby.
"Hay Gaby...." sapa seorang murid lelaki, berjalan di sisi Gaby, dengan beberapa temannya berjalan di belakang Gaby. Memandang Gaby dengan tatapan mesum.
"Jaga mata elo...!!" bentak Gaby, menyadari kearah mana kedua mata murid lelaki tersebut memandang.
"Nggak usah munafik. Gue yakin elo udah nggak perawan." celetuk salah satu dari mereka, merangkul pundak Gaby.
Dengan galak, Gaby menyingkirkan tangannya dari pundaknya. "Jaga tangan elo. Jika elo masih ingin sekolah di sini." segerombolan murid tersebut malah tertawa lepas mendengar ancaman Gaby.
Gaby segera mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam kelas. "Jerome sialan. Gara-gara dia, gue jadi seperti ini."
Gaby mendaratkan pantatnya di salah satu kursi di dalam kelas yang akan dia huni selama setahun ke depan.
Gaby masih ingat dengan apa yang Jerome bisikkan saat di rumah Dona. Jika Jerome lah yang membuat video kejadian di panggung dengan pemeran utama dirinya menjadi booming di grup sekolah.
"Apa lihat-lihat...!!" hardik Gaby, saat beberapa siswa dam siswi yang sudah berada di kelas dengannya menatapnya seraya tersenyum aneh.
Bukannya takut seperti sebelumnya, kini mereka sama sekali tidak merasakan takut pada Gaby. "Kenapa elo sewot. Mata-mata gue. Terserah gue." ucap salah satu siswa yang di tatap tajam oleh Gaby.
"Kenapa? Nggak terima?" tantang salah satu siswi. "Nggak usah belagu. Elo sekarang sendirian. Dona nggak ada, Weni nggak ada. Kasihan." ejeknya.
Gaby yang memang tempramen dan tidak bisa mengendalikan diri langsung berdiri. Menyerang salah satu siswi yang menurutnya sangat menyebalkan.
Terjadilah perkelahian yang tak imbang di pagi hari dalam kelas tersebut. Beberapa siswi bukannya melerai, malah membantu siswi mengeroyok Gaby.
"Apa yang kalian lakukan...!!" teriak seorang guru yang tak sengaja melintas di depan kelas mereka.
Perkelahian berhenti. Tampak penampilan semuanya acak-acakan, dengan Gaby paking parah.
"Kalian, ikut ke kantor...!" seru sang guru. Menggelengkan kepala. Baru hari pertama masuk sekolah, dan dia sudah disuguhkan kejadian seperti ini. Membuat darahnya mendidih.
Brukk.... "Aaaw....iissshhhh." desis Gaby, saat salah satu siswi menjagal kakinya, hingga Gaby jatuh ke lantai.
Sang guru berhenti. "Ada apa ini?"
"Gaby kurang berhati-hati jalannya pak, makanya jatuh." ucap salah satu siswi.
Pak Guru menggeleng heran, meneruskan langkahnya kembali. Gaby menatap tajam ke arah mereka semua. "Pecundang." ejek salah satu dari mereka dengan hanya membuka mulutnya tanpa bersuara.
Mereka semua mengekor di belakang pak guru. Dengan Gaby berada di urutan paling belakang Mereka menjadi tontonan di pagi hari.
"Itu Gaby,,,, bentukannya kok kayak gitu?" cicit Selly melihat penampilan Gaby yang acak-acakan, bahkan terdapat cakaran di lengan dan pipi.
"Kelihatannya habis berantem." timpal Mawar.
"Widih.... sekarang mereka nggak takut pada Gaby lagi." sahut Mira.
"Ya enggaklah. Orang sekarang Gaby sendirian." tukas Selly.
Mawar dan kedua sahabatnya memilih masuk ke dalam kelas. "Kelas baru woyy... baju baru... dalaman juga baru....!!" celetuk Mira dengan suara kelas, setelah duduk di kursi.
"Mawar, teman elo minta di rukiyah." seru teman sekelas Mawar.
Mawar tersenyum. "Teman kamu juga."
__ADS_1
"Iya juga sih." sahutnya tertawa.