MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 169


__ADS_3

"Panggil Jerome ke sini sekarang." perintah Tuan Dewano pada bawahannya.


Tak berselang lama, Jerome datang bersama orang yang Tuan Dewano perintahkan untuk memanggil Jerome. Keduanya masuk ke dalam ruangan di mana beliau sedang duduk di kursi.


"Kakek memanggilku, apa ada sesuatu?" tanya Jerome dengan sopan.


Tuan Dewano berdiri dari duduknya. Dan plak.... Sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Jerome. Hingga Jerome memalingkan wajahnya ke samping.


Jerome sendiri tidak tahu kenapa sang kakek tiba-tiba menamparnya. Padahal Jerome merasa tidak berbuat salah dama sekali.


Dilihat dari raut wajahnya, tampak Tuan Dewano sedang marah pada sang cucu. Jerome hanya bisa menghela nafas serta mengelus pipinya yang terasa perih.


"Ada apa kek? Jerome benar-benar tidak tahu." ujar Jerome bingung.


"Ceroboh. Bisa-bisanya kamu biarkan Mawar dalam bahaya...!!" seru Tuan Dewano menghardik sang cucu.


Jerome terkejut dengan penuturan sang kakek. Mawar. Dalam bahaya. Bagaimana bisa. Bukankah sang kekasih berada di dalam, bersama kedua sahabatnya, Mira dan Selly.


"Jika saja kakek tidak melihatnya, pasti kelurga kita akan dihancurkan oleh Tomi dalam sekejap." tegas sang kakek.


"Kek,,, apa maksud kakek?!" tanya Jerome tidak sabaran.


Tuan Dewano duduk kembali di kursi. Mengambil air minum di botol kemasan. Meminumnya beberapa teguk untuk menormalkan emosi yang baru saja membuncah.


"Jihan. Adik kamu membuat masalah." tutur Tuan Dewano, masih dengan ekspresi wajah kesal.


Tuan Dewano menceritakan apa yang dia lihat dan yang terjadi. Dirinya sangat bersyukur, dia tahu lebih dulu. Jika saja terlambat, dan terjadi sesuatu dengan Mawar. Pasti semua akan hancur.


Ditambah lagi, jika terbukti jika Jihan pelaku yang menjebak serta merencanakan semuanya untuk mencelakai Mawar.


Tuan Dewano yakin, sahabatnya tidak akan berpikir dua kali untuk menghancurkan keluarganya. Apalagi menyangkut cucu tercinta.


Beliau sangat hapal bagaimana tabiat dari temannya tersebut. Tidak ada kata maaf untuk seseorang yang berani menyakiti orang yang dia sayang.


Dan Tuan Dewano tak akan bisa melarang atau menghentikannya. Karena memang cucunya yang bersalah. "Jihan..." geram Jerome, setelah mendengar semua yang dikatakan sang kakek sampai selesai.


Jerome sungguh tidak menyangka, Jihan akan mampu melakukan hal tersebut. "Pasti ini karena penolakan Deren pada Jihan." tebak Jerome dalam hati.


Segera Jerome menghubungi kedua sahabatnya. Meminta bantuan pada mereka. "Segera datang ke ruangan kakek." ucap Jerome pada keduanya, setelah menghubunginya secara bergantian.


Tidak membutuhkan waktu lama, untuk Tian dan Luck berada di hadapan Tuan Dewano dan Jerome. "Apa yang terjadi?" tanya Tian, sebab terdengar suara Jerome yang sedang menahan emosi.


"Gue nggak bisa menceritakan sekarang. Gue minta tolong, elo singkirkan Gerald sementara waktu. Sekarang." pinta Jerome secara langsung.


"Gerald." gumam Tian. "Baiklah, biar gue yang melakukannya. Elo tenang saja."


Meski tidak mengerti apa yang sedang terjadi, Tian segera pergi mencari Gerald. Tian yakin, jika sedang terjadi sesuatu.


"Elo ikut gue, ada hal yang haru elo lakukan." pinta Jerome pada Luck.


"Kami permisi dulu kek." pamit Jerome dan Luck.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Luck di tengah jalan.


"Nanti elo juga akan tahu sendiri. Sekarang kita harus bergegas." Jerome melangkahkan kakinya dengan cepat ke kamar yang sudah diberitahu oleh sang kakek.


Di depan kamar, seorang lelaki berdiri tepat di depan pintu dengan memakai jas lengkap dan bertubuh tegap. "Tuan Muda." sapanya, saat Jerome dan Luck sampai di dekatnya.


Lelaki tersebut membuka pintu, mempersilahkan Jerome dan Luck masuk. "Mawar." Jerome berlari ke arah ranjang. Dimana Mawar tidur dengan nyenyak di atasnya.


Memastikan jika Mawar dalam keadaan baik-baik saja. "Maaf sayang. Maaf." Jerome berkali-kali mencium punggung telapak tangan Mawar.


Jerome merasa bersalah karena lalai menjaga sang kekasih. Beruntung sang kakek mengetahuinya.


Luck yang masih belum paham apa yang terjadi, perlahan mulai mengerti. Apalagi di dalam kamar, ada seorang lelaki dengan keadaan tangan dan kaki terikat berada di sudut ruangan.


"Siapa dia?" tanya Luck pada bawahan Tuan Dewano.


"Dia orang yang disuruh Nona Jihan untuk membuat Nona Mawar berada dalam masalah." jelasnya.


"Jihan..." geram Luck dengan kesal.


Jerome menepuk perlahan pipi Mawar, berharap Mawar akan bangun dari tidurnya. "Sepertinya percuma elo bangunkan Mawar." tukas Luck, yang berada di belakang Jerome.


Bawahan Tuan Dewano kembali berjaga di luar. Memastikan jika tak ada orang yang masuk ke dalam.


"Pasti Mawar sudah makan atau minum sesuatu yang dicampur dengan obat tidur." tebak Luck, membenarkan selimut di tubuh Mawar.


"Jihan benar-benar gila." dengus Jerome. "Maafkan aku sayang. Maaf."


Jerome berdiri, memandang tajam ke arah lelaki yang berada di sudut ruangan. Lelaki tersebut menatap Jerome penuh rasa takut. Pandangan Jerome layaknya sebuah mata pisau yang siap mengoyak lawan.

__ADS_1


Siapa yang tak kenal Jerome. Putra dari Tuan Adipavi. "Brengsek, jika gue tahu bakal berurusan dengan mereka, gue pasti menolak pekerjaan ini. Berapapun uang yang gue terima." batinnya menyesal.


Sekarang, meminta maaf dan mengatakan penyesalannyapun akan percuma. Membuang-buang tenaga. "Jihan sialan...!!" geramnya dalam hati.


Karena uang yang ditawarkan Jihan begitu banyak. Sampai-sampai dia tidak bertanya siapa perempuan yang akan menjadi targetnya malam ini.


Ditambah lagi wajah Mawar dalam foto yang begitu cantik. Tentu saja tanpa berpikir panjang dia langsung mengiyakan.


Lagi pula, siapa yang akan menolak. Diberi uang banyak, dan juga disediakan seorang perempuan dengan kecantikan di atas rata-rata.


"Pantas saja cantik sekali. Ternyata kekasihnya Jerome." batinnya.


"Emmmpphh...." terdengar suara lelaki tersebut menatap Jerome dengan tatapan mengiba.


Jerome berjongkok di depannya. "Bedebah sialan. Elo pikir bisa menyentuh wanita milik Jerome. Berani menatap sama saja elo menyerahkan mata elo, apalagi sampai menyentuh." geram Jerome.


Luck segera menghentikan Jerome. "Jangan di sini. Pasti sebentar lagi mereka akan mencari Mawar." tukas Luck mengingatkan.


Luck tak ingin Jerome kehilangan kendali. Menghajar lelaki tersebut di dalam kamar. Pasti keadaan akan semakin runyam.


"Soal dia gampang Je,,, Sekarang bagaimana dengan Mawar." lanjut Luck.


Jerome terdiam. Memikirkan sesuatu yang pastinya bisa menyelematkan sang kekasih. Jerome berdiri dan mengambil ponselnya. Entah siapa yang sedang dihubungi oleh Jerome.


Segera Jerome menyuruh Luck dan bawahan sang kakek untuk membawa lelaki suruhan Jihan untuk pergi dari kamar. "Kalian sembunyikan dia dulu. Jangan sampai lepas." tukas Jerome.


"Elo tenang saja. Percaya sama kita." ujar Luck.


Entah siapa yang sedang ditunggu Jerome di dalam kamar Mawar. Tapi yang pasti, orang tersebutlah yang akan menolong Mawar keluar dari masalah ini.


Di samping mobil di sekitar area parkir, seorang lelaki duduk berselonjor dengan tubuh menyender di badan mobil, mengerjapkan kedua matanya seraya memegang tengkuknya yang terasa sakit.


"Siall...!! Siapa yang melakukan ini. Sakit sekali." gumam Gerald, setelah tersadar dari pingsannya.


Gerald menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri setengah memutar. Mengulanginya beberapa kali untuk mengurangi rasa sakitnya. Sambil memijat pelan.


Merasa kesadarannya pulih, Gerald berdiri perlahan dan masuk ke dalam mobil. "Bagaimana bisa, gue lengah. Lagian, siapa beraninya memukul gue." geramnya.


Gerald menyandarkan kepalanya di sandaran mobil. Saking keras pukulan yang dia terima di tengkuk, Gerald sampai tak sadarkan diri. "Beraninya main belakang." omelnya.


Bahkan, hingga kini tengkuknya masih terasa sangat sakit meski hanya digerakkan sedikit saja. "Astaga, sakit sekali." cicitnya.


"Sial,,, semua jadi berantakan." umpatnya lagi, menyalahkan orang yang tiba-tiba memukulnya dari belakang.


Padahal Gerald melihat Jihan akan pergi meninggalkan tempat acara. Tapi sayang, semua tak seperti yang dia rencanakan. Kejadian yang tidak mengenakan menimpa dirinya.


Tak jauh dari mobil Gerald, seorang lelaki tersenyum puas dengan hasil kerjanya. "Sebaiknya elo jangan terlalu mencampuri urusan Mawar. Biar Jerome dan kita yang menjaganya. Mawar tidak butuh orang seperti elo." ucap Tian menyeringai.


Pantas saja Herald merasakan sakit yang teramat, sebab Tian tak tanggung-tanggung saat memukul Gerald dari belakang."Elo boleh pergi." pinta Tian pada seorang pelayan hotel yang dia bayar untuk membantunya.


Tentu saja Tian tidak melakukannya seorang diri. Dia memutuskan membayar seseorang untuk melancarkan permintaan Jerome.


Mereka melakukan dengan sedikit trik licik. Membawa Gerald keluar dari ruangan, dengan dalih dipanggil oleh kakek Gerald.


Setelah sampai di luar, barulah Tian beraksi. Tentu saja Tian memilih tempat yang sepi dan jauh dari keramaian.


"Salah sendiri, percaya sama pelayan." cicit Tian masih memantau Gerald. Tentu saja dia tidak ingin Gerald kembali ke dalam.


Seraya menunggu Gerald meninggalkan hotel, tempat acara ulang tahun Nyonya Meysa berlangsung, Tian saling berkirim pesan kepada Luck.


Dan dari sinilah Tian mengetahui semuanya. Luck yang mengetahuinya, menceritakan pada Tian. "Sepertinya anak iblis itu harus segera di singkirkan. Menyusahkan saja. Dia juga sangat berbahaya untuk Mawar." gumam Tian.


Di dalam kamar, dimana Mawar tertidur karena obat tidur yang Jihan berikan, semua anggota keluarga Mawar, hingga kelaurga Jerome terkejut mendapati Mawar beserta kedua sahabatnya tidur dengan nyenyak di atas kasur.


"Mawar." gumam Lina, bernafas lega.


"Dasar anak-anak." timpal Tuan Tomi menggeleng.


"Kita semua khawatir, ternyata malah tertidur di sini." tukas Caty.


"Apa perlu kita bangunkan?" tanya Nyonya Tanti.


"Sebaiknya jangan. Lihat, ada ponsel berdering saja, mereka bahkan tidak terganggu." timpal Lina.


Jihan yang awalnya tampak senang, kini menaikkan sebelah alisnya mendengar apa yang dikatakan oleh mereka mengenai Mawar. "Kenapa mereka tidak marah."


Jihan menerobos masuk. "Astaga Jihan..." geram Nyonya Meysa, saat dirinya hampir saja terjatuh karena dorongan sang putri.


Beruntung Djorgi yang berada di samping Nyonya Meysa dengan sigap memegang lengan beliau. "Terimakasih." cicit Nyonya Meysa.


"Sama-sama."

__ADS_1


"Jihan, berhati-hatilah." tegur Tuan Adipavi.


Kedua mata Jihan membulat sempurna. "Tidak mungkin. Bagaimana bisa, Mawar bersama mereka." cicit Jihan lirih.


Mawar bersama dengan Mira dan Selly. Ketiganya tidur berpelukan di atas kasur. Tanpa mengganti gaun pesta mereka. Terlihat begitu pulas.


"Ada apa Jihan?" tanya Tuan Adipavi, melihat keanehan pada diri sang putri.


Jihan menggeleng. Suara dari sang papa bahkan tidak terdengar di telinganya. Jihan melihat ke sekeliling. Memastikan jika apa yang dia lihat adalah benar adanya.


"Mustahil. Apa yang sebenarnya terjadi."batin Jihan.


"Mungkin mereka ngantuk dan capek. Biarkan saja mereka tidur di sini." tukas Nyonya Meysa.


"Sebaiknya kita keluar, kita tinggalkan mereka bertiga. Jangan sampai mereka terganggu dengan kedatangan kita." saran Djorgi.


Semuanya perlahan keluar dari kamar. "Jihan,,,, ayo..." Nyonya Meysa menyeret lengan sang putri. Sebab Jihan masih berdiri membeku di tempat dengan pandangan menatap Mawar serta kedua sahabatnya.


Keluarga Mawar akhirnya juga menginap di hotel Tuan Adipavi. Sebab mereka tak mungkin pulang tanpa Mawar.


Juga dengan keluarga Jerome dan juga keluarga Caty. Mereka memilih untuk menginap di hotel juga. "Lalu Jerome kemana?" tanya Tuan Adipavi yang tidak melihat keberadaan sang putra.


Belum ada yang menyahuti ucapan dari Tuan Adipavi. Tampak Jerome berjalan bersama Luck dengan santai sambil berbincang.


"Itu Jerome." tukas Djorgi. Tapi Jerome dan Luck tidak berjalan ke arah mereka. Melainkan berbelok ke arah lain.


Jihan masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Bagaimana bisa Mawar tidur bersama Mira dan Selly. Lantas kemana lelaki yang dia bayar untuk tidur bersama dengan Mawar.


Tuan Adipavi merasa jika ada yang tidak beres dengan Jihan. Ekspresi Jihan yang tadi tampak senang dan bahagia, langsung berubah menjadi kebingungan saat menemukan keberadaan Mawar hang ternyata tidur bersama kedua sahabatnya.


Mira dan Selly langsung membuka kedua matanya begitu semua orang keluar meninggalkan kamar. "Syukurlah, kita datang tepat waktu." gumam Mira.


Keduanya menatap Mawar yang masih nampak tertidur lelap. "Maaf, kita tidak tahu." Selly memeluk tubuh Mawar, disusul oleh Mira.


"Jihan, gue akan buat perhitungan dengan dia. Lihat saja." tekan Selly.


"Tenang saja. Kali ini, gue akan bantu elo. Persetan dia adik dari Jerome sekalipun." sahut Mira.


Keduanya mendapat telepon dari Jerome saat masih berada dalam perjalanan pulang. Beruntung, orang tua mereka mengizinkan keduanya kembali lagi ke hotel tempat acara setelah mengetahui apa yang terjadi dengan Mawar.


Bahkan, mereka tidak naik taksi. Tapi diantar oleh orang tua masing-masing. Untuk memburu waktu. Agar mereka tidak sampai datang terlambat.


Tentu saja, kedua orang tua Mira ataupun Selly mendukung keinginan putri mereka. Pasalnya, mereka juga menyayangi Mawar seperti anak mereka yang juga menyayangi Mawar.


Dan sempat terbesit rasa bersalah dalam benak mereka, saat tadi mereka mengajak Mira dan Selly pulang. Mereka berpikir jika Mawar benar-benar di kamar mandi. Ternyata, Mawar dalam keadaan bahaya.


"Elo lihat Mawar dan kedua temannya dulu. Biar dia menjadi urusan gue." tukas Luck.


Jerome mengangguk. "Elo duluan. Gue nanti akan menyusul." tukas Jerome.


Lelaki bayaran Jihan, dibawa ke suatu tempat oleh Luck. Di dalam bagasi mobil, lelaki tersebut menggerakkan badan. Berharap tali yang mengikat kedua tangan serta kedua kakinya terlepas.


"Sial, kenapa jadi seperti ini." ucapnya dalam hati, dengan mulut tertutup lakban. "Mau dibawa kemana gue."


Mira dan Selly terdiam, saat ada yang mengetuk pintu. "Pasti kak Jerome." Selly segera meninggalkan kasur dan bergegas membuka pintu.


"Kak Jerome, Mawar belum membuka kedua matanya. Apa perlu kita panggilkan dokter." saran Selly yang khawatir dengan keadaan Mawar.


Mira juga segera bangun dari tempat tidur, saat Jerome mendekat ke arah ranjang. "Tidak perlu. Jihan hanya memberinya obat tidur dosis rendah."


Jerome menyingkirkan anak rambut yang berada di wajah Mawar. "Meski Jihan adalah adik kak Jerome, tapi kami tetap akan membalasnya." celetuk Selly.


Mira hanya diam. Dirinya setuju dengan apa yang dikatakan Selly. Tapi juga takut, jika Jerome tidak setuju dengan apa yang akan Selly lakukan.


"Dan jika kak Jerome menghalangi kami. Tetap, kami akan mencari waktu yang tepat untuk membalas Jihan." tekan Selly.


Jerome hanya diam. Benar apa yang dikatakan Selly. Apa yang dilakukan Jihan sudah diluar batas. "Kami yakin, Mawar akan setuju dengan apa yang akan kami lakukan." tegas Selly.


"Kalian berdua. Gue titip Mawar." ujar Jerome, meninggalkan kamar tanpa membahas apapun terkait Jihan.


Sekarang, Jerome berada di persimpangan jalan. Sang kakek adalah tujuan utama Jerome. Tentu saja Jerome tidak bisa begitu saja melakukan sesuatu kepada Jihan. Ataupun mengabaikan perbuatan Jihan.


"Apa kamu merasa kebingungan?" tanya Tuan Dewano saat Jerome mendaratkan pantatnya di kursi sampingnya dengan ekspresi yang murung.


"Jihan memang keterlaluan. Tapi dia juga adik Jerome, kek. Apa yang harus Jerome lakukan?"


"Kenapa kamu tidak meniru Mawar. Bagaimana cara Mawar menyingkirkan musuhnya. Dona." tukas Tuan Dewano.


Jerome terdiam, lalu tersenyum malas. Perkataan sang kakek seperti mata panah yang menancap pada ulu hati Jerome.


Bagaimana tidak, secara tak langsung, sang kakek mengatakan jika Mawar lebih bisa diandalkan dari pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2