
"Apa, elo nggak bercandakan?" tanya Luck pada seseorang di seberang telepon.
"Ada apa?" tanya Tian, melihat ekspresi Luck yang seketika berubah saat Luck menerima panggilan telepon entah dari siapa.
"Deren....!! Berani sekali anak itu pergi tanpa memberitahu kita..!!" seru Luck menahan amarah bercampur dengan kecewa.
Kedua alis Tian mengerut. "Deren,,, pergi,, ada apa Luck,,,?! jangan main tebak kata!!" sahut Tian gemas sendiri karena tidak mengerti maksud perkataan sahabatnya tersebut.
"Deren pergi ke luar negeri." jelas Luck.
Kedua mata Tian membola karena tercengang. "Sekarang dia dalam perjalanan ke bandara." imbuh Luck.
Tian menggeleng pelan. "Bagaimana bisa terjadi, ada apa sebenarnya. Kita harus segera cari Jerome." seru Tian, keduanya berlari menyusuri lorong sekolah dengan perasaan yang tak dapat dijabarkan.
Apalagi sekarang Deren akan pergi dalam waktu lama. Tanpa berpamitan pada mereka. Tanpa mengatakan apapun, bahkan mengirim pesan atau telepon pun juga tidak.
"Aaaawww..." seru Mawar, tubuhnya terhuyung ke belakang, tertabrak Tian yang sedang berlari dari arah berlawanan. Hingga Mawar terduduk di lantai.
"Mawar...!!!" seru Tian dan Luck bersamaan, menghentikan langkah kaki mereka.
Segera keduanya membantu Mawar berdiri. "Kalian kenapa sih, lari-lari kayak anak kecil." kesal Mawar.
Mawar menepuk pelan bokongnya yang terasa sakit., sedangkan satu tangan memegang pinggangnya yang juga terasa sakit. "Maaf, ini keadaan darurat. Elo lihat Jerome?" tanya Tian.
"Mawar....!!" Jerome beserta Mira dan Selly berlari menghampiri ketiganya.
Mereka melihat Mawar yang terjatuh. "Apa yang kalian lakukan?!" geram Jerome, yang melihat Mawar jatuh karena kedua temannya.
"Sorry, kita nggak sengaja." sahut Tian.
"Cckk,,,, bukan waktunya minta maaf Tian,,, waktu kita mepet." ucap Luck mengingatkan tujuan mereka mencari Jerome.
Mawar dan yang lainnya menatap heran. Pasalnya baik Tian dan Luck menampilkan ekspresi wajah cemas. "Ada apa?" tanya Jerome.
"Deren pergi, sekarang dia dalam perjalanan ke bandara." jelas Luck dengan cepat.
"****.. anak itu. Maunya apa..?!" seru Jerome tertahan. Tak bertanya dari mana Luck mendapatkan informasi tersebut.
Sebab tak mungkin Luck bercanda mengenai hal yang sangat penting. "Aku ikut." pinta Mawar. Dirinya tahu, jika ketiganya pasti akan menyusul Deren.
Jerome dan kedua temannya terdiam, menatap ke arah Mawar dengan tatapan bimbang. "Kak Jerome, Mawar boleh ikutkan?" tanya Mawar lagi.
"Ikutlah Mawar, nanti kita akan berikan alasan, kenapa kamu tidak ikut pelajaran." ujar Mira.
Selly mengangguk. "Sebaiknya kalian cepat pergi." saran Selly. Takut kepergian mereka untuk menyusul Deren terbuang percuma, karena Deren terburu naik pesawat.
Keempatnya berlari ke area parkir. Beberapa murid yang mereka lewati memandang ke empatnya yang seperti tengah berlomba lari. Mereka hanya menerka tanpa berani bertanya.
Mira dan Selly, hanya memandang. "Mereka mau kemana?" tanya seseorang yang kehadirannya sama sekali tidak diinginkan oleh Mira dan Selly.
"Hey,,, gue tanya, kalian budek..!!" hardik Dona, saat Mira dan Selly mengacuhkannya dan memilih pergi.
Gaby dan Weni berdiri, menghalangi langkah Mira dan Selly. "Minggir!" geram Selly dengan pandangan tajam menatap Weni.
"Aaawww...!!!" seru Dona meringis kesakitan.
Tangan Dona hendak mencekal lengan Mira. Sayangnya, Mira dengan gesit melakukan sesuatu pada Dona terlebih dahulu.
"Sakit...! Jangan macam-macam sama gue. Elo lihat, di sini nggak ada Mawar. Terserah kita mau ngapain. Nggak akan ada yang larang." seringai Mira, melepaskan tangan Dona dan sedikit mendorong tubuhnya.
"Elo pikir kita takut, dengan sampah macam kalian bertiga. Sorry, kalian bukan level kita." ejek Selly bersedekap dada sambil tersenyum sinis.
Mira menyenggol lengan Selly. Memberikan sebuah isyarat pada Selly dengan kedipan mata. Selly tersenyum mengerti.
Selly mencubit sendiri lengan tangannya dengan keras, hingga meninggalkan warna biru kehitam-hitaman.
Dona, Gaby, dan Weni menatap aneh dengan apa yang dilakukan Selly. "Elo gila, cubit tangan sendiri." ejek Weni.
"Sumpah, benar-benar stres...." sahut Gaby, melihat Selly menyakiti dirinya sendiri.
Mira tiba-tiba menangis, mengeluarkan air mata. "Kita sudah minta maaf, kenapa kalian tetap tega sih...." ucap Mira dengan sesegukan.
Selly juga sama, meski dirinya tidak menangis. Tapi wajahnya menampilkan wajah melas. Tangannya mengelus lengannya yang terlihat memar karena ulahnya sendiri.
"Tolong, jangan sakiti Mira. Cukup aku saja." seru Selly, memohon pada ketiganya.
Dona merinding melihat sikap aneh dari Mira dan Selly. "Kalian berdua kesambet...?!" seru Dona.
"Ada apa ini?!" tanya seseorang dengan suara lelaki daei belakang Dona dan kedua temannya.
Mira dan Selly saling melirik dan tersenyum samar. Sementara Dona dan kedua temannya membalikkan badan. "Pak." cicit Weni terkejut.
Sejak kapan ada pak guru di belakang mereka. Bukan hanya Weni. Gaby dan Dona juga terkejut dengan kehadiran beliau. "Shittt,,,, pasti Mira dan Selly melihatnya. Mereka sengaja." tebak Dona dalam hati.
Dona memandang tajam ke arah Mira dan Selly. Selly mengedipkan sebelah matanya dengan cepat ke arah Dona. "Kena elo." batin Selly.
Tangan Mira menghapus air mata di pipinya, namun masih menyisakan bekasnya. Dan itu memang Mira sengaja. "Ayo pak, lihat kami. Dan tanya." batin Mira.
"Kalian berdua. Kenapa?" tanya pak guru.
"Gothca." batin Mira bersorak senang.
__ADS_1
Selly menggeleng, namun dengan menampilkan wajah yang tertekan. "Tidak pak. Kami baik-baik saja." cicit Selly, mengelus lengannya.
"Ayo pak, katakan sesuatu." pinta Selly dalam hati.
"Eee,,,, pak, sebenarnya..." ucap Dona.
"Sssshhhh.... huhh....." desis Selly, segera mengeluarkan suaranya. Sebelum iblis perempuan di depannya menggunakan trik. Menggagalkan rencananya dengan Mira.
"Gue dah cubit lengan gue sampai kayak gini. Masa gagal." batin Selly yang merasa sudah berkorban.
Dan desisan rasa sakit dari Selly benar-benar mengalihkan perhatian sang guru. "Kamu kenapa, Selly?"
Sang guru tersebut berjalan melewati Dona dan Gaby. "Apa yang kamu tutupi?" tanyanya, melihat Selly menutupi lengannya.
Mira menjulurkan lidahnya meski sebentar ke arah Dona dan kedua temannya. "Astaga, kenapa sampai bisa lebam seperti ini?" tanya pak guru terkejut.
"Gila, parah juga gue cubitnya." batin Selly, yang ternyata warna kulit lengannya hampir hitam karena cubitannya sendiri.
"Dona dan kedua temannya yang melakukannya pak." ujar Siska yang tiba-tiba muncul.
Mira dan Selly saling pandang. Lalu memandang ke arah Siska dengan tatapan aneh. Keduanya sama-sama tersenyum miring melihat kedatangan Siska yang seolah-olah membantu mereka.
"Pahlawan kesiangan." batin Selly.
"Hey,,,,, jangan fitnah. Elo baru datang..!" seru Dona tidak terima.
Gaby dan Weni juga menatap kesal ke arah Siska. Bisa-bisanya datang dan langsung berbicara omong kosong. "Jaga mulut elo!!" bentak Gaby.
"Sudah,,,,!! malah bertengkar..!" hardik pak guru.
Pak guru kembali melihat Selly. "Benar yang dikatakan Siska?" tanya beliau.
"Kalian berdua nggak perlu takut. Bicara yang jujur." pinta pak guru.
Dona melotot ke arah Mira dan Selly, seolah Dona akan melakukan sesuatu ke mereka berdua jika sampai mereka berani bicara yang bukan-bukan. Mengeratkan kedua rahangnya.
Selly mengangguk pelan.
"Pak bohong, menyentuhnya saja tidak. Brengsek elo Selly...!!!" teriak Gaby.
"Jangan percaya pak, sumpah..!! Kami sama sekali tidak melakukan apapun pada mereka berdua." seru Weni.
"Pembual. Apa yang elo bilang hah...!!!" tangan Dona hendak meraih Selly, namun dihentikan oleh pak guru.
"Diammm...!!!" bentak pak guru, membuat semuanya diam. Menahan rasa masing-masing.
"Pak, Selly mencubit tangannya sendiri." tukas Gaby.
Mira dan Selly merasa senang, jebakan mereka berhasil. Sementara emosi Dona dan kedua temannya meletup-letup di ubun-ubun menahan amarah.
Dan Siska, merasa triknya juga berhasil. "Pasti setelah ini, Mira dan Selly akan berterimakasih. Gue akan dekat dengan mereka berdua. Dan tentunya menggantikan posisi Mawar." seringai Siska.
"Sudah ketahuan. Malah tidak mau mengaku. Kalian bertiga, ikut saya ke ruang BP." perintah pak guru dengan raut wajah kesal.
"Sekarang...!!!" teriak pak guru, sebab Dona dan kedua temannya masih memandang Mira, Selly, dan Siska seperti kambing yang melihat rumput.
Dona menghentakkan kakinya ke lantai dengan kuat. "Awas kalian..!!" geram Gaby dengan tatapan mengancam.
Mira kembali menjulurkan lidah, namun kali ini dengan panjang dan sedikit lama. Ditambah ekspresi mengejek yang pastinya membuat ketiganya bertambah kesal.
Dan Selly, dia melambaikan tangan serta memberikan kiss bay berulang-ulang. Mengejek Dona dan kedua temannya.
Saat mereka berjalan di belakang pak guru. Dan menoleh ke belakang melihat kembali ke arah dirinya dan juga Selly dan Siska.
Siska. Dia berdiri dengan bersedekap dada. Menampilkan senyum miring dan angkuhnya, menatap kepergian ketiga sahabatnya.
"Yuk,,, ke kelas." ajak Mira pada Selly.
"Tunggu." cegah Siska. Merasa diabaikan oleh mereka berdua.
"Apa kalian nggak mau ngomong apa gitu, ke gue." ujar Siska. Berharap kata terimakasih keluar dari mulut Mira dan Selly.
"Ngomong apa?" tanya Mira sinis.
Siska tersenyum kecut. "Gue sudah membantu kalian. Apa kalian lupa?"
"Ooo,,,, terimakasih. Udahkan." ucap Selly dengan santai.
Siska mengangguk. "Oke, terimakasih kalian gue terima."
Selly memutar kedua matanya dengan malas. "Gue akan dukung apapun yang ingin kalian lakukan. Tenang saja, gue juga akan membantu. Seperti yang tadi gue lakukan." lanjut Siska.
Siska tersenyum pongah. "Gue nggak seperti Mawar. Yang selalu melarang kalian. Dan sok menjadi orang baik." cicit Siska.
"Hey mbak Siska. Apa maksud elo, ngomong gitu tentang Mawar?" tanya Selly dengan nada nggak suka.
"Ya,,, kenyataan. Gue tahu, kalian sebenarnya ingin sekali membalas kelakuan Dona dan kedua temannya itukan. Dan Mawar. Dia selalu melarang. Menyuruh kalian patuh. Bukankah dia sok baik."
Siska berusaha meracuni pikiran Mira dan Selly untuk membenci Mawar. Kapan lagi. Karena biasanya mereka akan selalu bersama.
Dan ini kesempatan yang Siska punya. Di saat Mawar tak bersama dengan Mira dan Selly.
__ADS_1
Mira menggaruk alisnya dengan gemas. "Benar sekali. Kita berdua sangat ingin membuat Dona dan kelompoknya menderita." tutur Mira.
Siska tersenyum dan mengangguk. "Tapi tunggu, bukannya elo juga kelompoknya Dona?" tanya Mira tersenyum sangar. Selly juga tersenyum mendengar ucapan Mira.
Siska menelan ludahnya dengan kasar. "Ya,,, memang. Itu dulu. Tapi sekarang enggak. Gue sudah memutuskan akan bersama dengan kalian berdua." ucap Siska dengan percaya diri.
"Ooo,,,,,... ha,,,, ha,,,," Mira dan Selly tertawa, seperti ada pertunjukan badut di depan mereka berdua.
"Nyesel gue pernah bilang elo berubah." tukas Mira.
"Elo sih. Titisan iblis akan selamanya menjadi titisan iblis." timpal Selly.
"Jadi mau elo apa? elo mau sekelompok sama kita?" Mira menunjuk ke arah dirinya dan Selly.
Siska mengangguk dengan yakin. Siska mengira jika dirinya dengan mudah akan menjadi bagian dari mereka. Hanya dengan mengandalkan bantuan yang sama sekali tidak berguna bagi Mira dan Selly.
"Tapi ada syaratnya." papar Mira.
Selly menunjuk ke arah gedung tertinggi di sekolah. "Elo lihat itu." Siska mengangguk. "Lihat." cicitnya.
"Elo naik ke sana. Berdiri di sana, lalu lompat ke bawah. Berani. Kalau elo berani, kita terima elo di kelompok kita. Dan kita buang Mawar." jelas Selly, merangkul pundak Mira.
"Benar, dengan senang hati. Kita depak Mawar dari kelompok kita." tegas Mira.
Siska memandang Mira dan Selly dengan tajam. Melompat dari gedung itu. Sama saja bunuh diri. Dan pastinya dia akan mati saat itu juga.
"Oke. Gue akan mengatakan semua yang gue lihat pada pak guru. Jika Dona dan kedua temannya sama sekali nggak menyentuh elo." ancam Siska, merasa dipermainkan oleh mereka berdua.
"Iiihhh,,, takut...." cicit Selly, seakan ancaman Siska adalah hal mengerikan.
"Lakukan. Ceritakan. Dan katakan yang sejujurnya, apa yang elo lihat. Kita akan menunggu, apa yang akan terjadi setelahnya." tutut Selly.
Mira dan Selly tertawa, meninggalkan Siska sendirian dengan perasaan kesal di dadanya. "Percuma gue menolong kalian." geram Siska.
Lagi pula Siska tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada sang guru. Bisa-bisa malah dirinya yang akan terkena masalah.
Mawar berboncengan dengan Jerome. Dan Tian berboncengan dengan Luck. Keempatnya melajukan motor dengan cepat ke arah bandara. Berharap Deren belum naik pesawat.
Begitu sampai ke bandara, segera keempatnya mencari Deren. "Elo tahu, Deren mau pergi ke negara mana?" tanya Tian pada Luck.
Luck menggeleng. "Anak buah gue cuma mengatakan jika Deren pergi ke arah bandara." jelas Luck.
"Gue tahu." Jerome berlari ke satu arah. Di susul Mawar, Luck, dan Tian.
Jerome bertanya pada seseorang yang memakai seragam petugas bandara. Bertanya pesawat yang dinaiki oleh Deren sudah terbang apa belum.
"Elo tahu dari mana, kalau Deren ke negara itu?" tanya Tian.
"Jihan ada di sana. Kalian tahu sendirikan, bagaimana kedua orang tua Deren terobsesi ingin menjadi bagian dari keluarga gue." jelas Jerome.
"Bagaimana?" tanya Jerome pada seseorang yang berseragam petugas bandara.
Saat mereka berbincang dengan petugas bandara, Mawar melihat mama Deren berjalan dengan santai bersama seorang lelaki, dan terlihat jelas wajah berseri dari mereka.
"Itu, bukannya mama kak Deren." cicit Mawar.
Semuanya lantas menoleh ke mana arah mata Mawar memandang. Ketiganya langsung menghampiri mereka.
"Terimakasih pak. Maaf, kami mudah menemukan orang yang kami cari." tutur Mawar sopan pada petugas bandara.
Mawar merasa tidak enak, melihat Jerome dan kedua sahabatnya meninggalkan petugas bandara begitu saja. "Iya. Jika begitu, saya permisi dulu." sahutnya.
"Kalian." cicit mama Deren.
"Di mana Deren?" tanya Jerome langsung.
"Pesawat yang Deren tumpangi baru saja lepas landas." jelas mama Deren dengan senyum merekah.
Jerome dan kedua sahabatnya terdiam. Mereka sadar, mereka tak punya kapasitas untuk marah atau bertanya terlalu jauh pada kedua orang tua Deren.
Ketiganya hanya kecewa dengan apa gang dilakukan Deren. Seolah Deren sama sekali tidak menganggap pertemanan mereka selama ini.
Senyum di bibirnya mama Deren menguap, melihat kedatangan Mawar. "Untuk apa dia ada di sini?" sinisnya.
"Kami harus pergi. Ada rapat penting yang harus saya hadiri." tukas papa Deren. Mengajak sang istri pergi.
"Bagaimana kak?" tanya Mawar.
Tian menggeleng. "Apa semua ini karena Mawar." lirih Mawar, dengan raut wajah bersalah.
"Bukan. Tentu saja bukan. Kami yakin, kepergian Deren sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamu." jelas Luck dengan cepat.
"Benar kata Luck. Kamu jangan merasa jika semua ini karena kamu." timpal Jerome.
Tapi tetap saja, Mawar merasa jika penyebab kepergian Deren adalah penolakan cinta darinya.
"Mawar, jangan menyalahkan diri kamu. Cinta tidak bisa dipaksa. Seandainya kamu menerima perasaan Deren hanya karena rasa kasihan. Bukankah itu lebih kejam." ujar Tian.
Ketiga lelaki tersebut padahal mempunyai tebakan yang sama dengan Mawar. Jika alasan utama Deren meninggalkan negara ini adalah Mawar.
Bukan karena malu karena penolakan dari Mawar. Melainkan karena Deren ingin menjadi lebih baik. Dan yang pasti, karena Deren ingin menjaga Mawar.
__ADS_1
Menjauhkan Mawar dari kedua orang tuanya.