
"Sudah Jeee.... ini bukan salah elo." Tian menghentikan Jerome yang terus memukul tembok di depannya.
Menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Mawar. "Padahal Mawar sudah menghubungi gue. Bodohnya gue, nggak tahu jika Mawar menghubungi gue. Meminta bantuan pada gue." seru Jerome.
"Jeeee,,,, yang terpenting sekarang Mawar telah aman. Dan dia baik-baik saja."
"Elo bilang baik-baik saja. Elo bisa lihat sendiri keadaannya." seru Jerome. Dimana di kaki dan tangan Mawar terdapat beberapa luka. Dengan pipi memerah karena bekas tamparan Raka.
Seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam kamar di mana Mawar tertidur. "Bagaimana Dok?" tanya Jerome pada dokter perempuan yang memeriksa keadaan Mawar.
"Hanya luka ringan. Dan kelelahan Tuan muda. Anda tidak perlu terlalu khawatir. Namun, tetap membutuhkan istirahat yang cukup." jelas sang dokter.
"Jangan katakan pada siapapun tentang semua ini. Bahkan pada mama dan papa." pinta Jerome, sebenarnya bukan permintaan. Melainkan sebuah ancaman.
Dan sang dokter tahu akan hal itu. "Baik Tuan Muda. Saya akan melakukan apa yang Tuan Muda inginkan."
Jerome menggerakkan tangannya. "Saya permisi dulu. Mari." pamit sang dokter.
"Hati-hati Dok. Terimakasih." ujar Tian. Sang Dokter mengangguk dan tersenyum.
Jerome dan segera masuk dan duduk di samping Mawar, melihat sendu wajah sang pujaan hati yang tengah terpejam. "Gue keluar dulu." Tian menepuk pundak Jerome, meninggalkan Jerome untuk menemani Mawar di kamarnya.
Jerome membelai pelan pipi Mawar yang lebam karena tamparan Raka. "Tenang saja. Dia akan mendapatkan balasan atas apa yang dilakukannya ke kamu."
Jerome menggenggam pelan telapak tangan Mawar sebelah kanan. Menciumnya dengan penuh kasih sayang. "Maaf, aku terlambat. Maaf."
Terdengar nada penyesalan yang dalam dari suara Jerome. "Raka. Gue nggak akan membiarkan kamu mati dengan mudah seperti Roy." geram Jerome.
Mawar menggeleng dengan kedua mata terpejam. Raut wajahnya sangat ketakutan. "Tenang sayang. Tenang. Ada aku di sini. Maaf, mulai sekarang. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh kamu."
Jerome membelai rambut Mawar. Mencoba menenangkan Mawar. "Lepas...!" seru Mawar spontan dengan kedua mata langsung terbuka. Mengibaskan tangan Jerome yang memegang telapak tangannya.
"Mawar,,,, hey,,, ini aku. Jerome. Mawar..." ucap Jerome, saat Mawar duduk dan langsung membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya yang ditekuk.
"Mawar..." panggil Jerome dengan lembut.
Perlahan, Mawar mengangkat kepalanya. "Kak Jerome,,,,, Mawar takut." Mawar kembali menangis ketakutan.
Segera Jerome membawa Mawar ke dalam pelukannya. "Tenang. Kamu sekarang bersama kakak. Tidak akan ada yang bisa menyakiti kamu. Siapapun itu."
Hati Jerome teriris melihat keadaan Mawar, air mata Mawar, ketakutan yang dirasakan Mawar. Dirinya seperti tidak berguna. Datang terlambat, di saat Mawar membutuhkannya.
"Seandainya gue nggak meninggalkan ponsel gue di kamar. Seandainya gue tetap berada di dalam kamar. Ini tidak akan terjadi." batin Jerome, masih menyalahkan dirinya sendiri.
Tanpa Jerome dan Mawar sadari, Tian melihat keduanya dari pintu yang sedikit terbuka. "Raka.,,,!!" geram Tian.
Bukan hanya Jerome. Tian juga merasakan pilu saat melihat apa yang terjadi pada Mawar. Bukan karena dirinya mencintai Mawar.
Tapi memang dirinya sangat peduli dengan Mawar, karena Mawar adalah perempuan yang dicintai kedua sahabatnya. "Tenang saja. Sekarang, gue juga akan melindungi Mawar." batin Tian.
Segera pergi meninggalkan tempatnya berdiri. Dirinya tidak tega melihat tangisan Mawar yang membuatnya semakin pilu.
Jerome mengurai pelukannya. Menghapus air mata Mawar di kedua pipinya. "Maaf, aku datang terlambat." Jerome memandang dalam pada Mawar.
"Ibu..." cicit Mawar, kembali meneteskan air mata.
Jerome mengangguk. "Maaf, aku lancang. Aku tadi mengisi daya baterai ponsel kamu. Lalu mengatakan pada ibu kamu. Jika kamu akan menginap di rumah teman kerja kamu." Jerome menjeda kalimatnya.
"Dan aku tadi juga sudah menghubungi teman kerja kamu. Mengabarkan keadaan kamu" Jerome juga berpikir, tak mungkin Mawar akan pulang dengan keadaan seperti ini. Yang malah akan menjadikan bu Lina khawatir.
Mawar bernafas lega. Setidaknya, Jerome mengambil keputusan yang tepat menurutnya. "Maaf menyusahkan."
Jerome segera menggeleng. "Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku datang terlambat. Maaf." ucap Jerome.
Mawar tersenyum, masih dengan raut wajah yang tidak baik-baik saja. "Kak Jerome nggak salah. Mawar yang memang tidak bisa menjaga diri dengan baik."
Mawar menunduk. Meremas jari jemarinya. Air matanya kembali menetes, mengingat hampir saja dia akan dilecehkan oleh Raka.
Jerome kembali membawa Mawar dalam pelukannya. Menenangkan Mawar yang kembali terisak. "Hussstttt,,, jangan menangis lagi. Mulai sekarang, semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir." tutur Jerome.
Mawar menumpahkan tangisannya dalam pelukan Jerome. "Kuat Mawar, kuat. Jangan cengeng." Mawar mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.
Selama ini, dirinya selalu menyemangati dirinya sendiri. Memendam semua masalahnya sendiri. "Selama ini kamu bisa. Selama ini kamu mampu. Selama ini kamu kuat. Tapi kenapa...." batin Mawar, tak mampu meneruskan isi hatinya.
Jerome menolongnya hanya sekali. Dan Mawar sudah ketergantungan dengan sosok yang bernama Jerome. "Mawar,,,,, ingat. Jangan menyusahkan orang lain." batin Mawar.
"Maaf." cicit Jerome, saat Mawar melepaskan pelukannya.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Jerome.
"Mawar haus."
Segera Jerome mengambil air di dapur, dan memberikannya pada Mawar. "Terimakasih." Jerome kembali mengambil gelas kosong yang di sodorkan oleh Mawar.
Mawar baru sadar. Jika dirinya sudah berganti pakaian. Kaos oblong dengan bawahan celana treneng panjang.
Jerome dapat menebak apa yang dipikirkan oleh Mawar. "Itu, bukan aku yang mengganti. Tadi aku panggil dokter. Dan dia yang menggantikannya."
Segera Jerome menjelaskan pada Mawar. "Tenang saja. Dia dokter perempuan." lanjut Jerome.
......................
__ADS_1
"Apa maksud papa?" tanya Gaby terkejut dengan apa yang dikatakan sang papa pada dirinya.
Djorgi berniat meminta bantuan Gaby untuk mendekati Lina. Djorgi meminta Gaby duduk berdua dengannya. Berbicara dengan tenang. Layaknya anak dan orang tua pada umumnya.
Namun, Gaby acuh. Seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Djorgi. Barulah Gaby langsung menghentikan langkah kakinya, saat sang papa menyebut nama Mawar.
"Mawar, kamu kenal diakan? Bukankah kalian satu sekolahan. Bahkan satu angkatan."
Gaby menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana papa mengenal Mawar?" Gaby menatap sang papa dengan tatapan curiga.
Gaby semakin penasaran. Saat mengetahui jika sang papa mengenal Mawar. Salah satu orang yang sangat dia benci dalam hidupnya.
Tuan Djorgi duduk di kursi empuk yang berada di sampingnya. "Duduklah, kita bisa berbicara dengan santai." ajaknya pada sang putri.
Tapi Gaby masih diam berdiri mematung. "Mawar akan jadi saudara kamu. Tante Caty akan menikah dengan papanya Mawar."
Tuan Djorgi tidak langsung berbicara ke pokok intinya. Beliau tidak mungkin langsung berkata jika ingin mendekati Lina, yang notabennya ibu dari Mawar.
Kedua mata Gaby membulat sempurna. "Tante Caty,,, menikah dengan papanya Mawar." cicit Gaby.
Gaby mendaratkan pantatnya di kursi empuk tepat di belakangnya. Kakinya seakan lemas seperti jely. Gaby tersenyum kecut. "Jika begitu, sama saja Mawar akan menjadi anak tante Caty." batin Gaby.
"Bagaimana bisa, Mawar mendapat kehidupan sebaik itu. Mawar si gadis miskin, akan menjadi seorang cinderella. Tidak bisa. Apa kata semua orang." batin Gaby menolak.
Dirinya dan Mawar akan menjadi saudara. Tidak. Tentu saja Gaby akan menentangnya. "Gue harus bertanya langsung pada tante Caty. Kenapa,,,, astaga. Tante Caty akan menikah dengan seorang duda. Dan sialnya itu papa Mawar." batin Gaby.
Sayangnya, Djorgi dama sekali tidak melihat ekspresi Gaby yang tampak teekejut. Djorgi menatap liris ke depan dengan tersenyum senang. "Kamu tahu, ibunya Mawar juga bekerja di toko kue milik papa." jelas Tuan Djorgi.
Gaby tertawa sumbang. "Benarkah?" tanya Gaby semakin geram.
Djorgi mengangguk dengan senyum terukir di bibir. "Mereka berdua. Mawar dan ibunya. Dua perempuan yang hebat. Baik, cantik, dan pekerja keras."
Gaby tersenyum miring, mendengar sang papa memuji rivalnya. Tapi Gaby melihat dengan jelas, ada rasa bangga saat sang papa menyebut Mawar dan ibunya.
"Mawar, papanya akan menjadi om gue. Dan ibunya, bekerja di toko kue milik papa. Hebat sekali. Dia makan dari uang keluarga gue." batin Gaby dongkol.
"Sayang, papa ingin meminta izin pada kamu. Papa ingin menikah lagi. Bolehkan?" tanya Tuan Djorgi dengan hati-hati, berharap sang putri memperbolehkannya.
Gaby terdiam menatap datar pada wajah sang papa. Sungguh, saat ini di dalam otaknya hanya ada nama Mawar. Terutama papa Mawar yang ingin menikah dengan Caty. Adik dari sang papa.
"Khemm... Papa juga ingin mempunyai seorang perempuan yang menemani papa. Kamu sibuk dengan semua kegiatan kamu. Dan papa tidak pernah melarang kamu. Papa hanya meminta untuk kamu mengizinkan papa menikah lagi." jelas Djorgi.
Tuan Djorgi belum mengatakan jika perempuan tersebut adalah ibu dari Mawar. Dirinya masih ingin mengetahui bagaimana sikap Gaby, saat dirinya mengatakan hal tersebut.
Tanpa mengatakan apapun, Gaby berdiri dan meninggalkan sang papa. "Gaby...!!" panggil Tuan Djorgi disertai ******* kecewa.
Bagaimana jika Gaby tahu. Bahwa sang papa ingin menikah dengan ibu dari Mawar. Kira-kira apa yang akan dia lakukan.
"Apa Gaby akan merestuiku, jika perempuan itu adalah Lina. Ibu dari Mawar." gumam Tuan Djorgi.
Sebab, dengan otomatis, Mawar akan masuk dalam daftar keluarga mereka. Meski hanya sebagai anak tiri dari sang tante.
Gaby melemparkan semua yang ada di atas ranjang tempat tidurnya. Bantal, guling, selimut, dan seprei. Semuanya berserakan di lantai dengan tak beraturan.
"Aaaa!!!! Bagaimana bisa. Mawar,,,, astaga. Tante Caty mau menikah dengan ayahnya Mawar. Ohh... my....." geram Gaby berkacak pinggang. Berjalan mondar mandir.
"Oma sama opa. Bagaimana mereka bisa merestuinya. Astaga....!!" seru Gaby meluapkan emosinya.
Gaby tahu bagaimana Caty. Bisa-bisanya tantenya yang cantik dan seksi terpikat dengan ayah Mawar. "Duda. Jangan bilang ayah Mawar duda seperti papa. Tampan. Makanya tante Caty mau sama dia." tebak Gaby.
"Kalau papa ya,,,,, okelah. Papa kaya. La ayah Mawar. Percuma ganteng, kalau kere." gumam Gaby merasa pusing sendiri.
"Tak apa dengan duda. Asal jangan ayah Mawar. Tante..." geram Gaby.
Selama ini, Gaby lebih dekat dengan Caty dari pada kedua orang tuanya sendiri. Hobi, kesenangan, serta semuanya, keduanya sangat mirip. Sehingga Caty dan Gaby akan betah jika pergi bersama.
"Gue harus bilang sama tante Caty. Jika gue sangat membenci Mawar. Siapa tahu tante berubah pikiran." Gaby tahu, bagaimana sayangnya Caty pada dirinya.
Dengan tak sabar menunggu hari esok. Saat ini juga Gaby menelpon Caty. Memintanya untuk bertemu. Berdua.
Caty mengatakan akan ke rumah Gaby. Namun Gaby menolaknya. Bisa ketahuan sang papa jika Caty mendatangi kediaman mereka.
Gaby memutuskan untuk pergi ke apartemen sang tante. Tentunya tanpa meminta izin dari sang papa. Sebab, memang seperti itulah Gaby.
Baginya, sama sekali tidak penting meminta izin atau mengatakan kemana dia akan pergi pada orang lain. Termasuk sang papa.
Caty menyambut kedatangan keponakannya dengan pelukan hangat. "Ada apa sayangnya tante. Kenapa hemm,,,, katakan pada tante. Apa papa kamu memarahi kamu?"
Caty membawa Gaby duduk di kursi ruang tamu. "Tante." dengan manja, Gaby memeluk Caty.
Caty mengelus pelan bahu Gaby. Mengurai pelukan mereka. "Katakan. Kenapa malam-malam seperti ini, kamu meminta bertemu dengan tante."
Caty memegang kedua pundak Gaby. "Ada apa?" Caty menjawil dagu Gaby.
Gaby mendesah pelan, dengan menampilkan raut wajah kesal. "Tante ingin menikah?"
Caty mengangguk. "Bukankah kamu juga sudah tahu. Tapi maaf, tante belum mengenalkan calon suami tante sama kamu." Caty mencubit gemas pipi sang keponakan.
"Kenapa tante nggak bilang, jika calon om aku duda." rajuk Gaby.
Caty memicingkan kedua matanya. "Memang masalah. Yang terpenting dia bukan suami orang." ucap Caty. "Sekarang." batin Caty, sebab dirinya berhubungan dengan Wiryo saat dia masih berstatus suami dari Lina.
__ADS_1
"Sebenarnya bukan itu masalahnya." ungkap Gaby.
"Lalu? Nggak mungkin hanya karen calon suami tante seorang duda, kamu nekat ke sini malam-malam."
Caty merasa ada hal yang penting, hingga keponakannya mendatanginya saat ini. Tidak menunggu hari esok.
Gaby merubah posisi duduknya. Menghadap ke arah depan. "Dia ayah dari musuh Gaby. Aku sangat membencinya." ungkap Gaby tanpa menutupi semuanya.
Dirinya yakin, jika sang tante akan lebih memilih dirinya ketimbang Mawar dan ayah Mawar.
Caty terdiam. Mencerna kalimat yang baru saja Gaby utarakan. "Mawar..." cicit Caty dengan ekspresi teekejut.
Gaby menoleh ke arah Caty. Lalu mengangguk. "Kak Jerome lebih memilih Mawar dari pada Gaby. Dan Gaby sangat membencinya." jelas Gaby.
Caty kembali terdiam. Dia akan menikah dengan Wiryo. Ayah musuh keponakan tersayangnya. "Tante, batalkan pernikahan kalian. Gaby tidak mau mempunyai saudara seperti Mawar." pinta Gaby merengek.
Caty melongo mendengar permintaan Gaby. Bagaimana bisa. Dengan susah payah dia mendapatkan Wiryo.
Dan saat ini, sudah di depan mata Wiryo akan sepenuhnya menjadi miliknya. Lantas apa dia akan melepaskan seekor ikan yang sudah berada dalam jaring.
Caty terkekeh pelan. "Tidak mungkin sayang. Tante sangat mencintainya." tolak Caty.
"Apa hebatnya dia tante. Dia hanya duda. Dia tidak kaya." seru Gaby tidak terima jika Caty meneruskan rencana pernikahannya dengan Wiryo.
Caty membuka ponselnya. "Dia yang namanya Wiryo. Ayah Mawar. Calon suami tante. Yang akan menjadi om kamu." Caty memberikan ponselnya yang memperlihatkan foto Wiryo pada Gaby.
Gaby hanya melirik sekilas. Tanpa berniat mengambil ponsel Caty. "Memang tampan sih. Sama kayak papa." batin Gaby.
"Pernikahan kami hanya tinggal menghitung hari. Tiga hari lagi. Semua undangan sudah tersebar. Pikirkan sayang, apa yang akan terjadi. Jika tante tiba-tiba membatalkan pernikahan ini." papar Caty menjeda kalimatnya.
"Keluarga besar kita akan mendapatkan malu. Apa kamu tidak kasihan pada tante. Pada oma dan opa. Ayah kamu. Dan pada om kamu yang masih di luar negeri." jelas Caty.
"Kenapa harus dia. Ayah dari perempuan yang sangat Gaby benci setengah mati." kesal Gaby
"Sama. Tante juga nggak suka sama Mawar, dan juga ibunya."
"Eh,,,," Gaby langsung menatap tak percaya pada Caty.
"Mereka hanya parasit. Apalagi Mawar. Dikit-dikit Mawar. Dikit-dikit Mawar. Mas Wiryo sangat menyayangi Mawar. Muak tante dengarnya." ungkap Caty.
"Tapi kenapa tante menikah dengan ayah Mawar?"
"Gaby sayang. Memang kita bisa memilih. Pada siapa kita akan memberikan hati kita."
Gaby menggeleng. "Tapi Gaby nggak suka banget sama Mawar." lirih Gaby.
Caty menghela nafas panjang. "Apa yang kamu takutkan. Hanya status saja. Mawar akan menjadi anak tiri tante. Kenyataannya, dia tetap orang lain."
"Tante nggak akan menyayangi Mawar?"
Caty membawa Gaby dalam pelukannya. "Sayang. Tidak akan. Kamu tenang saja. Tante akan bantu kamu untuk menjaga Mawar."
Caty mengurai pelukannya. "Sebagai ibu tiri yang baik." Caty mengerlingkan sebelah matanya penuh isyarat.
"Terimakasih tante." ucap Gaby kembali masuk dalam pelukan Caty.
"Mawar. Elo akan masuk ke dalam keluarga gue. Dan gue akan tunjukkan. Bagaimana keluarga yang sebenarnya." batin Gaby, dengan banyak rencana busuk dalam otak kecilnya.
"Tante, kata tante om Wiryo sangat menyayangi Mawar. Lantas bagaimana?" tanya Gaby sanksi.
Caty memainkan alisnya naik turun. "Kamu tenang saja. Dia sangat mencintai tante. Dan tante, punya beribu cara untuk hal satu itu."
Caty mendekatkan bibirnya pada telinga Gaby. "Bahkan sampai sekarang, dia tidak tahu. Jika tante, sama sekali tidak pernah memberikan uang pada Mawar."
Gaby melongo sembari tersenyum bangga. "Tante..."
Caty mengangguk. "Beberapa kali dia ingin memberikan uang pada Mawar. Sebagai calon ibu yang baik, tante mengajukan diri untuk memberikannya. Beralasan untuk lebih dekat dengan Ma-war. Tapi sayang, uangnya nggak mau diberikan pada Mawar. Bagaimana dong...?" ungkap Caty disertai kekehan kecil.
"Tante mang T..O..P.. Pantas saja, Mawar bekerja." timpal Gaby.
"Memang seharusnyakan. Dia bukan balita. Dia sudah besar. Sayang, tante hanya mengajarkan pada dia. Untuk tidak menjadi parasit."
Gaby memeluk Caty dengan erat. "Gaby sayang tante."
"Kamu tenang saja. Setelah tante jadi mama Mawar. Tante akan bantu kamu untuk mendapatkan Jerome. Jangan khawatir."
"Makasih tante."
Caty membelai dengan lembut rambut sang keponakan. "Ternyata dugaan gue salah. Mawar, selamat datang di neraka dunia." seringai Gaby dalam pelukan Caty.
"Apa gue harus kasih tahu tante Caty. Jika ibunya Mawar bekerja di toko kue milik papa" batin Gaby.
Padahal, Caty juga sudah tahu jika Lina bekerja di toko kue milik sang kakak. "Lebih baik jangan. Aku takut tante malah kepikiran." ucap Gaby dalam hati.
"Tante, apa om Adam beserta keluarganya akan datang ke pernikahan tante?" tanya Gaby.
Adam Buwono. Dia adalah kakak Caty. Yang artinya dia adalah adik dari Djorgi. Anak kedua dari pasangan Tuan Sapto dan Nyonya Gendis.
Dia selama ini tinggal di luar negeri. Mempunyai seorang istri dengan dikaruniai dua orang anak lelaki.
"Iya dong, mereka akan pulang semua." jelas Caty.
__ADS_1
Gaby memutar kedua bola matanya dengan malas. Sebab, dirinya memang tidak akrab bahkan sangat malas bertemu dengan dua saudaranya tersebut.
... ...