
"Jauhi putra saya..!!"
Nyonya Meysa berdiri di samping tempat duduk Mawar dan Erza. Dengan Dona juga berdiri tepat di belakang Nyonya Mesya, tersenyum sinis menatap Mawar.
Mawar dan Erza berdiri. "Tante." sapa Mawar dengan ramah.
"Tante." cibir Nyonya Meysa mengikuti perkataan Mawar. "Saya peringatkan. Jauhi putra saya. Kamu..." jeda Nyonya Mesya, menunjuk ke arah wajah Mawar.
"Tidak pantas bersanding dengan putra saya." dengan dagu terangkat, Nyonya Mesya menatap jijik kepada Mawar.
Mawar memegang lengan Erza, saat Erza hendak melawan ucapan Nyonya Mesya. Bermaksud membela Mawar.
Mawar melirik ke sekitar mereka. Semua orang menatap ke arah mereka. Mawar tersenyum samar. "Nyonya, saya sama sekali tidak menginginkan putra anda. Lantas, kenapa saya harus menjauhi dia." sangkal Mawar dengan tenang.
Beberapa orang berbisik, saat Mawar dengan tenang mengatakan hal tersebut. "Kamu,,, jangan bersandiwara. Saya tahu betul, bagaimana gadis miskin seperti kamu menjerat seorang lelaki kaya." tuduh Nyonya Mesya menggebu-gebu.
"Gadis di depan anda memang miskin." timpal Erza.
Nyonya Mesya dan Dona tersenyum mendengar penuturan Erza. Mereka mengira jika Erza berada di pihak mereka.
"Dia hanya miskin harta. Tapi tidak miskin harga diri." lanjut Erza, membuat kedua perempuan di depannya melotot kesal ke arahnya.
Erza menggandeng tangan Mawar. "Sebaiknya kita pergi. Jangan membuang waktu dan tenaga untuk orang seperti mereka." sindir Erza.
"Kamu..!!" seru Nyonya Mesya dan Dona bersamaan.
"Jangan lancang. Bahkan perusahaan papa kamu masih berada di bawah kendali perusahan suami saya. Dengan mudah, kami bisa membuat kelurga kamu miskin saat ini juga." ancam Nyonya Mesya.
Erza mengeratkan rahangnya dengan keras. Mawar berdiri di depan Erza. "Beruntung, saya tidak mempunyai ibu seperti anda. Yang hanya bisa menggunakan mulutnya untuk mengancam." tekan Mawar.
Nyonya Mesya mengangkat tangannya. Hendak menampar Mawar, tapi Mawar lebih dulu memegang tangan Nyonya Mesya sebelum mengenai pipinya.
"Aaa..." seru Nyonya Mesya hampir terjengkang ke belakang, saat Mawar menghempaskan tangan Nyonya Mesya dengan kuat.
"Ma...!!" seru Jerome, dengan beberapa orang berlari ke arah mereka.
"Jerome... teman kamu ini, benar-benar tidak punya sopan santun." ucap Nyonya Mesya mengadu.
Tuan Adipavi segera menggantikan posisi Dona. Merangkul sang istri. Beliau sama sekali tidak mengeluarkan suara, untuk membela sang istri.
Pasalnya, Tuan Adipavi sangat hapal betul. Bagaimana sifat atau kepribadian dari Nyonya Meysa. Beliau yakin, jika Jerome mampu menangani masalah ini.
Selain itu, ada yang ingin Tuan Adipavi ingin pastikan.
"Mawar mendorong tante Meysa. Padahal tante Mesya menyuruh Mawar menjauhi kamu, dengan bicara baik-baik. Tante Mesya melihat Mawar bermesraan dengan Erza di sini." jeda Dona.
Jerome melihat Erza memegang pergelangan tangan Mawar. " Mawar malah mendorong tante Mesya. Mengatakan jika dia tidak akan menjauhi kamu. Dan akan tetap berada di samping kamu." celoteh Dona, mencoba memprovokasi Jerome.
"Kita pergi." ajak Erza.
"Erza...!!" panggil sang mama.
"Ma..." ujar Erza dengan tatapan memohon.
Mawar tersenyum melihat Erza. Melepaskan tangan Erza yang berada di pergelangan tangannya. "Jangan bantah mereka." cicit Mawar.
Erza melihat kesekitarnya. Lalu kembali menatap Mawar. Erza menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. "Sana. Hampiri mama kamu." pinta Mawar.
"Mawar." panggil Tuan Djorgi. "Kamu baik-baik saja?" tanya Tuan Djorgi dengan khawatir.
Langkah Tuan Djorgi terhenti, saat Gaby mencekal lengan sang papa. "Pa...." seru Gaby, tidak rela sang papa pasang badan untuk Mawar.
Mawar tersenyum samar. Dan Jerome melihat itu. "Senyum itu." batin Jerome mengeratkan kedua telapak tangannya.
"Pa..." panggil Gaby untuk kedua kalinya. Saat melihat Tuan Djorgi masih memandang Mawar dengan tatapan iba dan khawatir.
Mawar melangkahkan kaki maju ke depan. Mendekat ke arah Nyonya Mesya. "Katakan pada putra anda, Nyonya Mesya. Jangan pernah lagi menampakkan wajahnya di depan saya." tegas Mawar dengan suara lantang.
Nyonya Mesya melotot tak menyangka, Mawar akan seberani itu pada dirinya. Mawar membalikkan badan, pergi meninggalkan pesta sekumpulan orang kaya tersebut.
"Mawar." panggil Jerome dengan suara menggelegar. Tapi Mawar tetap melangkahkan kakinya, menghiraukan panggilan Jerome.
"Menyingkir...!!"desis Jerome, saat Erza menghadang tepat di depannya.
Bugh... Jerome memukul wajah Erza dengan kuat. Hingga Erza tersungkur jatuh ke belakang.
__ADS_1
Kesabaran Jerome setipis kulit ari pada buah salak. "Brengsek." seru Erza, segera berdiri dan membalas pukulan dari Jerome.
Semua orang berteriak melihat perkelahian mereka. Dan beberapa lelaki melerai perkelahian mereka. Suara heboh semua orang mempu membuat Mawar membalikkan badan.
"Astaga Jerome,,, Erza..." Mawar berlari kembali ke tempat mereka.
"Erza.." Mawar mendekat ke arah Erza, hendak melihat keadaan Erza.
"Berani kamu menyentuh Erza...!!! Akan aku buat perusahaan papanya bangkrut saat ini juga...!!" seru Jerome mengancam Mawar.
Tangan Mawar berhenti di udara mendengar ancaman dari Jerome. "Lepas....!!" Jerome mengibaskan beberapa tangan yang memegang tangan serta tubuhnya.
Mawar menghela nafas panjang. Mawar melihat, keluarga Caty yang masih berada di dalam, dan juga beberapa tamu berjalan ke arah mereka. Termasuk kedua teman Jerome.
"Ckk,,,, Apa orang kaya memang suka mengancam." dengus Mawar tersenyum sinis. Menatap ke arah Nyonya Mesya.
"Jangan membuat kegaduhan di pesta orang lain." lanjut Mawar.
Plak..... Caty langsung menampar wajah Mawar begitu sampai di sekitar kejadian, hingga Mawar memalingkan wajahnya.
"Caty...!!" seru tiga lelaki bersamaan.
Mawar mengangkat tangannya. Menyuruh ketiga lelaki didepannya berhenti untuk mendekat ke arahnya. Djorgi, Wiryo, dan Jerome.
Mawar memandang Caty dengan tatapan sinis. "Nyonya Caty yang terhormat. Saya datang sebenarnya bukan ingin mengucapkan selamat atas pernikahan anda dengan ayah saya." jeda Mawar.
"Tapi, saya ingin mengambil uang bulanan dari ayah saya, yang masih anda simpan di dalam tabungan anda." lanjut Mawar tersenyum miring.
Sebenarnya Mawar jiga tidak ingin mengatakan hal ini. Hanya saja, tindakan Caty sangat keterlaluan.
"Mas... Semua itu bohong, Caty memberikan uang itu pada Lina." Caty langsung memegang erat lengan Wiryo. Sebenarnya Mawar tak ingin mengatakan hal ini. Tapi, Caty sangat keterlaluan memperlakukan dirinya.
Mawar mengerutkan keningnya. "Nona, ibu saya bukan pengemis. Meski kami hidup dalam kesulitan sekalipun." tekan Mawar.
Baru beberapa detik yang lalu Caty merasakan kebahagiaan yang besar. Tapi seketika lenyap, dan berganti rasa takut akan murka dari sang suami, saat Mawar menceritakan kebenarannya.
Caty menatap murka pada Mawar. "Semoga mas Wiryo lebih percaya ucapan ku. Anak pembawa sial." umpat Caty dalam hati.
Djorgi menatap kesal ke arah Caty. Tentu saja Djorgi sama seperti Mawar. Tidak akan mudah percaya dengan semua omong kosong yang di lontarkan oleh Caty.
"Tapi pa." ucap Selly.
"Kita lihat dulu dari sini. Kamu pernah mengatakan, jika Jerome menyukai Mawar. Sekarang saatnya kita melihat. Apa dia lelaki yang pantas untuk Mawar, atau tidak." jelas Tuan Bramantyo.
"Mira nggak kuat, lihat Mawar di hina dan direndahkan." timpal Mira geram.
"Benar kata papa Selly. Jika Jerome tidak bisa melindungi Mawar. Kalian berdua harus menjauhkannya. Tapi sebaliknya, jika Jerome mampu dan bisa di andalkan. Kalian juga harus mendukung Jerome." sahut Tuan Mahesa, papa dari Mira.
Nyonya Pipit dan Nyonya Ningrum sebenarnya sama seperti anak mereka. Ingin sekali mereka berlari ke sana. Membawa Mawar pergi dari kumpulan manusia sampah tersebut.
Mendengar penuturan dari para suami. Membuat mereka sadar. Jika mereka tidak akan selalu bisa membantu Mawar. Apalagi, selama ini Mawar juga terlihat enggan meminta bantuan pada mereka.
Bukan tidak mau. Tapi, mungkin Mawar lebih kepada rasa tidak enak hati untuk merepotkan mereka. Dan mereka bisa mengerti.
"Benar kata papa kalian." ujar Nyonya Pipit.
Mawar merasa jika dirinya tetap di sini, yang ada pesta pernikahan sang ayah pasti akan benar-benar hancur. "Aku akan pulang." pamit Mawar pada Erza, bukan pada Jerome.
"Mawar..." geram Jerome.
Tian dan Luck berada di belakang Jerome. Keduanya harus leboh waspada. Jangan sampai Jerome kehilangan kendali seperti sebelumnya.
"Jerome... kamu lihatkan. Mawar memang perempuan murahan." seru Dona.
"Dona..!! Jaga ucapan kamu...!" hardik Jerome, yang sedari tadi hanya diam. Saat Dona mengoceh tak jelas, memfitnah Mawar.
Dona sedikit terlonjak kaget, Jerome membentaknya dengan raut wajah marahnya. "Jerome, jangan memarahi Dona. Perempuan jahat itu yang bersalah. Dia mendekati kamu karena ingin memanfaatkan kamu." seru Nyonya Mesya.
"Ma..." tegur Tuan Adipavi.
"Pa,,, mama bicara sebenarnya. Dia hanya perempuan miskin. Untuk apa mendekati Jerome. Kalau bukan karena menginginkan kekayaan kita." kekeh Nyonya Mesya.
"Ha... ha.... prokkk.... prokk...." Mawar tertawa sembari bertepuk tangan.
"Apa anda lupa Nyonya Mesya. Dari mana anda berasal. Apa perlu, saya katakan di sini." Mawar tersenyum miring.
__ADS_1
"Dia." lirih Nyonya Mesya, memegang erat lengan sang suami.
Entah dari mana Mawar mengetahui kehidupan Nyonya Mesya sebelumnya. Bahkan, selama ini Nyonya Mesya selalu menyembunyikannya. Hanya sang suami dan Tuan Dewanto saja yang mengetahuinya.
Kaki Nyonya Mesya terasa lemas, mendapat tatapan tajam mengintimidasi dari Mawar. Malaikat seolah tersenyum di bibir seksinya. Sementara dua iblis mengerikan, bersemayam di kedua bola mata indahnya.
Mampu membuat siapapun yang di tatapnya akan gemetar ketakutan.
Suasana hening seketika, melihat bagaimana Mawar menunjukkan seberapa kuat duri di sekelilingnya. "Dan anda, Tuan Muda Jerome. Enyahlah dari kehidupan saya." seringai Mawar.
Deg.... dada Jerome bergemuruh hebat. Baru kali ini, dia merasakan hatinya begitu sakit, terasa di remas-remas dengan kuat.
Mira dan Selly tersenyum lebar, melihat apa yang dilakukan sahabatnya. Meski kaki keduanya sangatlah gatal, ingin segera berdiri di samping Mawar.
Mawar membalikan badan. "Tunggu." ujar Jerome menghentikan Mawar.
"Sampai kapanpun, jangan berharap, saya menjauh dari kamu, Mawar." tegas Jerome.
Mawar tersenyum smirk. Bersedekap dada. Berdiri dengan angkuh. "Tidak takut. Gadis miskin ini akan menghabiskan dan mencuri uang anda, Tuan Muda." tekan Mawar, menatap Nyonya Mesya yang masih gemetar kedua kakinya.
"Kenapa aku harus takut. Nyawapun akan aku berikan. Jika kamu menginginkannya." tegas Jerome.
"Anda dengar Nyonya. Bahkan putra anda sendiri yang datang pada saya. Menyerahkan nyawanya, tanpa saya minta." ucap Mawar, dengan nada sombong.
"Tapi maaf, Tuan Muda Jerome. Nyawa anda, sama sekali tak bernilai di mata saya." sinis Mawar, merendahkan Jerome.
Mawar membalikkan badan, meninggalkan mereka semua yang masih menatap dirinya dengan berjuta pikiran di benak masing-masing. Tanpa berpamitan pada sang ayah.
Jerome mengeraskan rahangnya. "Jerome." panggil Nyonya Mesya terdengar sangat menderita.
"Jangan memainkan peran di depanku ma. Dan jangan pernah menyentuh Mawar, meski hanya bayangannya." tegas Jerome, dengan pandangan mengancam.
Jerome menatap sang mama dan Dona bergantian. "Kalian dengar, nyawa pun akan aku berikan. Seharusnya kalian paham. Apa yang akan aku lakukan, jika ada yang menyentuh Mawar ku. Tidak perduli, siapa orang itu." lanjut Jerome tak terbantahkan.
Tian dan Luck tersenyum sempurna. "Lakukan sekarang. Atau tidak sama sekali." Luck menepuk pundak Jerome.
Jerome segera melangkahkan kaki, mengejar Mawar. "Pa, lihat Jerome. Kenapa papa malah diam." kesal Nyonya Mesya.
"Sebaiknya kita pulang." ajak Tuan Adipavi, mengacuhkan permintaan sang istri.
Lagi-lagi Luck dan Tian tersenyum puas, mendengar penuturan Tuan Adipavi. Yang sama sekali tidak menanggapi ocehan dari sang istri.
Itu artinya Tuan Adipavi sama seperti Tuan Buwono.
Mereka setuju, jika Jerome mengejar cinta dari gadis cantik bernama Mawar.
Nona Mesya memandang Tian dan Luck dengan penuh dendam. Tapi keduanya bahkan sama sekali tidak mau tahu. Sebab, dari dulu mama Jerome memang tak menyukai mereka berdua.
Tanpa banyak berkata, Tuan Adipavi membawa pulang sang istri. Namun, sebelumnya dia berpamitan terlebih dahulu dengan pemilik acara.
"Gue cuma mau memperingatkan. Jauhi Mawar. Jerome, bukan orang yang sabar, saat miliknya di lirik orang lain." ucap Tian pada Erza.
Mira dan Selly saling berpelukan. Mereka merasa bangga dan senang. "Mawar ku memang hebat." puji Mira.
"Iya." cicit Selly.
Kedua orang tua Mira dan Selly hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah putri mereka. "Berarti, kita harus membantu Jerome mendapatkan hatinya Mawar?" tanya Mira menatap sang papa.
"Terserah kalian. Tapi ingat. Jangan memaksa Mawar." ujar Tuan Mahesa, mengusap rambut sang putri.
"Benar. Bukankah mereka akan menjadi pasangan di acara pensi." cicit Selly mengingatkan Mira.
Mira membuka mulutnya lebar dengan ekspresi senang. "Tepat. Waktu yang pas."
"Ayo kita susul Mawar." ajak Mira denhan antusias.
Tuan Bramantyo dan Tuan Mahesa menghela nafas panjang bersamaan. "Untuk apa menyusul Mawar, bukankah sudah ada Jerome." sela Tuan Mahesa.
Mira meringis, memamerkan deretan giginya. "Iya juga. Mira lupa."
Seorang lelaki yang sejak awal menyaksikan semuanya perlahan menjauh dari semua orang. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku jas yang terpasang rapi di badannya, saat sudah berada di tempat sepi.
Menghubungi seseorang yang entah ada di mana dan siapa. Melaporkan setiap kejadian yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Baik Tuan. Saya akan terus mengikuti dia." ucapnya, sebelum sambungan telepon tersebut terputus.
__ADS_1