MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 94


__ADS_3

"Kamu yakin?" tanya Nyonya Mesya pada lelaki di depannya.


"Yakin Nyonya." jawabnya dengan yakin.


Nyonya Meysa menatapnya dengan intens. "Tapi maaf, saya tidak memiliki foto atau bukti lain." jelasnya, membuat Nyonya Mesya ragu bercampur kesal.


"Sekali lagi saya minta maaf Nyonya. Saya hanya tidak mau jika Tuan muda Jerome dan Tuan besar, Tuan Dewanto mengetahui keberadaan saya di restoran tersebut." jelasnya lagi, saat sang majikan menatapnya tajam.


"Jika diizinkan, saya akan melihatnya dari CCTV, dan menunjukkan kepada anda. Siapa perempuan yang berada di meja mereka." ucapnya memberi masukan, dan siap melaksanakan perintah lainnya.


Dan tentu saja semua itu demi uang yang akan diterima dari Nyonya Mesya. "Kamu pikir mudah mengambil rekaman CCTV di sana. Kamu lupa, gambar siapa yang akan kamu selidiki? Bodoh sekali. Pikir dulu sebelum berucap." ucap Nyonya Mesya sengit, sembari mengingatkan.


"Maaf Nyonya." cicitnya, menundukkan kepala.


Bukannya mendapatkan video dalam rekaman CCTV, malah dia akan tertangkap lebih dulu. Dan pastinya dia akan menyebutkan nama Nyonya Mesya. Benar-benar rencana yang buruk.


"Kamu yakin, bukan Dona?" tanya Nyonya Mesya memastikan. Jujur saja dirinya berharap jika Jerome akan menjalin hubungan dengan Dona.


Yang menurutnya berasal dari keluarga yang setara dengan keluarganya. Tanpa Nyonya Mesya menoleh ke belakang. Bersalah dari mana dirinya dahulu.


"Bukan Nyonya. Jika Nona Dona, putri dari Tuan Joko Gianindra, saja sudah pernah melihatnya. Namun, untuk perempuan yang semeja dengan Tuan muda Jerome dan kedua sahabatnya, bahkan Tuan Besar Dewanto, saya sama sekali belum pernah melihatnya. Dia lebih cantik dari pada Nona Dona." jelasnya dengan teliti, memuji sosok perempuan yang semeja dengan Jerome.


Nyonya Mesya menggerakkan tangannya. Mengisyaratkan untuknya keluar dari ruangan. "Tidak berguna." cibir Nyonya Mesya, saat dirinya sendiri di dalam ruangan.


"Aku hanya ingin Jerome maupun Jihan berhubungan dengan keluarga yang sepadan dengan keluarga kita. Apalagi Jerome, aku ingin perempuan yang berada di samping Jerome, bisa aku kendalikan." ujarnya.


Kepala Nyonya Mesya selalu tak jauh dari uang dan uang. Baginya kekayaan dan kekuasaan adalah segala.


Untuk Jihan, Nyonya Mesya tidak perlu khawatir. Sebab beliau sudah mengetahui siapa pemilik hatinya. Deren.


Nyonya Mesya juga akan mendukung, bahkan membantu sang putri untuk bisa mendapatkan Deren. Terlebih Nyonya Mesya tahu, jika kedua orang tua Deren juga menginginkan hal yang sama seperti dirinya.


Sementara Jerome, sejak dulu Nyonya Mesya memang bisa menghandlenya. Hanya saja tidak keseluruhan. Terutama untuk perkara hati, Jerome sangat tertutup pada sang mama.


"Jihan. Maaf sayang, untuk beberapa hari mama tidak akan menemui kamu. Mama harus memastikan, siapa perempuan yang berani mendekati kakak kamu."


"Hingga dia bisa satu meja dengan tua bangka sialan itu. Jangan sampai Jerome berhubungan dengan perempuan pilihan si tua itu. Yang ada, aku akan kesulitan mengendalikannya." paparnya.


Nyonya Mesya mengambil ponsel, menghubungi seseorang. "Selidiki dengan teliti, Jerome sedang dekat dengan siapa akhir-akhir ini." perintah Nyonya Mesya pada seseorang di seberang telepon.


"Laporkan segera. Aku tidak ingin menunggu." tegas Nyonya Mesya, mematikan panggilan teleponnya secara sepihak.


Tanpa Nyonya Mesya sadari, seseorang tengah menguping pembicaraannya dengan seseorang yang dia sendiri juga tidak tahu siapa itu.


"Aku harus segera melapor. Sebelum terlambat." batinnya. Segera meninggalkan tempat persembunyiannya.


......................


Plak,,,, bugh....


Jerome memukul dan menendang tubuh serta wajah Roy dengan sekuat tenaga.


Roy dengan kedua tangan terikat ke atas, menatap Jerome dengan tatapan sinis. Tidak ada raut wajah takut dan kesakitan, bahkan memohon.


Meskipun Jerome menghajarnya dengan sangat kuat tanpa ampun.


"Ciihh,,,,, banci." ejek Roy dengan meludah ke samping, tersenyum miring meremehkan Jerome.


Jerome melepaskan seragam sekolahnya. "Lepaskan." perintah Jerome pada bawahannya yang berada di dekatnya, dengan raut wajah datar.


Dua orang maju untuk melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Roy. "Elo salah perhitungan, tolol. Elo pikir, elo dapat menang setelah tangan elo tidak terikat tali. Dalam mimpi." bisik bawahan Jerome seraya melepaskan talinya.


Seolah dirinya tahu, kekuatan atau keahlian yang dimiliki atasannya tersebut, meski masih berseragam putih abu-abu.


Begitu tali pengikat terlepas. Roy meregangkan otot-otot di tubuhnya. Mengusap pelan darah yang berada di sudut bibir dan juga di pelipisnya.


Roy menatap Jerome dengan sinis. "Anak ingusan seperti kamu. Cih,,,, sekali pukul pasti akan berada di alam lain." remehnya.


Jerome tetap berdiri tanpa bergeser sedikitpun. Pandangannya datar dan dingin tak tersentuh.


Roy melayangkan tangan dan kaki kanan bersamaan menyerang Jerome. Dengan santai, Jerome menghindar.


Seolah hanya menghindari hembusan angin yang sama sekali tidak bermakna. Roy tersenyum sinis. "Itu tadi hanya percobaan bocah." ucap Roy tengil.


Kedua kali, ketiga kali, bahkan seterusnya Roy menyerang ke arah Jerome dengan membabi buta. Jerome hanya menangkis dan menghindar tanpa membalas satu kalipun.


Membuat amarah Roy semakin tak terkendali. Sebab tak ada satupun pukulan yang mengenai bagian tubuh Jerome.


Dengan emosi yang meletup-letup, Roy semakin brutal menyerang Jerome. Sayangnya, hanya sebuah serangan tanpa pemikiran. Membuang-buang tenaga dengan percuma.


"Kamu sendiri yang mengatakan. Jika aku masih bocah. Dan kamu, lelaki tua. Jadi jangan pernah beradu tenaga,,, om..." ucap Jerome tersenyum miring.

__ADS_1


"Lagian bocah ini heran. Kenapa orang tua lemah seperti kamu, dijadikan pimpinan. Sungguh menggelikan." ejek Jerome.


Bughhh,,,,, Jerome mengangkat kakinya. Melayangkan ke arah Roy. Sekali tendang, tepat di kapalanya. Membuat tubuh Roy terjerembab ke lantai.


Semua bawahan Jerome tersenyum melihat apa yang dialami Roy.


"Brengsek. Siapa dia. Tenaganya begitu dasyat." batin Roy, meringis menahan sakit hanya satu kali tendangan. Membuat kepalanya seketika menjadi pusing.


"Langsung lenyapkan dia tanpa bekas. Peliharaan kita dibelakang pasti menyukainya." ucap Jerome tanpa ekspresi, mengambil baju seragamnya. Meninggalkan ruangan tersebut.


Jerome melangkahkan kakinya dengan senyum. Ditambah lagi suara jeritan dari Roy yang terdengar sampai di telinganya, membuat Jerome semakin puas.


"Kumpulkan semua...!!" perintah Jerome.


Hanya beberapa detik, semua berkumpul di depan Jerome. "Segera matikan pergerakan mereka. Jangan sampai mereka tahu, jika ada Mawar dan teman-temannya di perkelahian itu."


"Baik."


"Dan kalian, yang baru saja bergabung. Ingat satu hal dalam benak kalian. Bagi pengkhianat, hadiahnya adalah kematian." seru Jerome memberitahu.


Beberapa orang suruhan sang papa untuk selalu mengawal kepergian Jerome, dia masukkan sekalian ke dalam organisasinya.


Alasannya hanya satu. Mereka akan tahu seperti apa kekuasaan yang Jerome miliki. Hingga mulut dan matanya, bahkan nafas mereka akan tetap terjaga, hanya untuk Jerome.


"Jangan sampai mulut kalian mengatakan sesuatu pada orang lain. Meskipun keluargaku. Pastinya kalian punya keluarga." ancam Jerome tidak main-main.


"Baik. Kami akan selalu setia...!!" seru mereka serempak.


Ponsel Jerome berbunyi. "Halo, ada apa?" tanya Jerome pada seseorang diseberang telepon.


Tanpa mengeluarkan suara lagi, Jerome mematikan sambungan teleponnya. "Bubar." perintah Jerome.


Pandangan Jerome menuju ke seseorang. Dengan cepat, dia segera mengikuti kemana kaki Jerome melangkah. "Apa yang harus saya lakukan Tuan?" tanyanya, saat mereka berdua berada di lorong gedung.


"Mama. Dia ingin menyelidiki sesuatu. Halangi siapapun orangnya. Jangan sampai dia mengetahui mengenai Mawar." perintah Jerome.


"Baik Tuan."


Jerome meninggalkan markas besarnya. Menaiki motor sport yang biasanya dia pakai. "Mama, kenapa gue bisa seceroboh ini. Hingga tidak menyadari ada seseorang yang mengikuti kita waktu di restoran tadi." gumamnya, dengan kedua mata fokus ke jalan.


"Jangan sampai mama tahu tentang Mawar. Bukan saatnya. Waktunya juga tidak tepat." batin Jerome.


Jerome belum berhasil mendapatkan hati Mawar. Jika kejadian tentang mama Deren yang menemui Mawar dan memaki Mawar sampai terjadi juga padanya.


Terlebih Jerome juga mendengar secara langsung. Jika Mawar sama sekali belum terpikirkan untuk mempunyai seorang kekasih.


Dirinya masih ingin fokus pada pendidikan dan jiga pekerjaannya. "Astaga, kenapa gue sampai lupa."


desah Jerome teringat sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya.


Tak ingin keduluan Dona, Jerome menepikan motornya dan berhenti. Mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaket yang dia kenakan.


Menghubungi pemilik butik tempat Mawar bekerja. Siapa lagi jika bukan Nyonya Utami, mama dari Dona.


Jerome yakin, jika Dona mempunyai niat untuk menggagalkan rencananya dengan menggunakan sang mama, sebagai atasan dimana Mawar bekerja.


......................


"Bagaimana liburan kamu?" tanya Santi pada Mawar, saat Mawar sudah mengenakan seragam butik dan merapikan pakaian yang berada di hangeran.


Mawar tersenyum senang. "Cukup memuaskan. Kakak sendiri kemana, libur selama tiga hari?" sahut Mawar sembari balik bertanya.


"Pulang kampung." sahut Santi disertai kekehan kecil. Meski sebenarnya, Santi tidak pulang ke kampung. Sebab rumah kedua orang tuanya berada di kota sebelah. Dengan keberadaan rumahnya berada di kota.


"Kak Tia sendiri ke mana?" tanya Mawar, sebab Tia hanya diam. Dengan wajah ditekuk.


"Jangan bertanya Mawar, dia sedang mode harimau galak." celetuk Amel, yang tak jauh dari mereka.


Mawar tersenyum, dengan mata mencuri pandang ke arah tangan Amel. Memastikan apa benar, jika ada tanda di telapak tangan Amel ada sebuah tanda. Bunga aster.


Mawar tidak bisa melihat dengan jelas, sebab keberadaan Amel yang sedikit jauh darinya, dan juga posisi Amel yang membelakangi tubuh Mawar.


"Memang kenapa mbak?" bisik Mawar pada Santi.


Bukannya segera menjawab, Santi malah tersenyum dan terlihat menahan tawa. "Gue dijodohin. Puas kalian...!!" sungut Tia dengan tampang kesal.


"Selamat ya mbak." tukas Mawar dengan polosnya, membuat tawa Amel dan Santi meledak.


Tia menatap Mawar dan menggeleng pelan. "Astaga, Mawar. Kok kamu malah kasih selamat ke aku sih." gerutu Tia.


Saat mengetahui perjodohan tersebut, mood Tia langsung berubah. Gampang marah, mudah tersulut emosinya, dan gampang su'udzon pada setiap perkataan orang lain.

__ADS_1


"Memang kenapa mbak. Lagian, perjodohan jiga bukan hal yang jelek." cicit Mawar.


"Apa mbak Tia sudah pernah melihat calon yang ingin dijodohkan dengan mbak Tia." imbuh Mawar bertanya.


"Dia anak kyai Mawar. Putra dari pemilik pondok pesantren di kota Amel tinggal." jelas Santi.


"Wahh,,,, mbak Amel hebat. Mau jadi istri seorang ustadz." ucap Mawar girang.


Semua lantas terdiam, dan memandang ke arah Mawar. "Mawar, Tia mau menolaknya. Katanya dia kampungan." timpal Santi.


Mawar membalikkan badan. Menatap ke arah Tia. "Kampungan. Memang lelaki idaman mbak Tia seperti apa? Apa yang tampan, memakai motor dan mobil sport. Bergaya anak sekarang." tanya Mawar menjabarkan.


"Seharusnya mbak Tia bersyukur. Lagian Mawar yakin, kedua orang tua mbak Tia sudah memikirkan matang-matang mengenai perjodohan ini." papar Mawar.


Amel terdiam. Dalam hati dia tersenyum miris. "Benar kata Mawar Tia. Belum tentu, lelaki yang kamu anggap sebagai lelaki terbaik, adalah lelaki tepat untuk kamu." ucap Amel dengan wajah sendu.


"Kamu kenapa. Putus dari Roy?" tebak Tia.


Amel menghela nafas panjang. "Heh,,, sekarang saja aku tidak tahu keberadaannya." ucap Amel, sembari menunduk.


"Amel, kamu baik-baik sajakan?" tanya Santi, merasa ada perubahan pada diri Amel, semenjak dirinya absen tidak bekerja karena sakit.


Mawar mendekat ke arah Amel. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. "Mbak Amel kenapa. Apa mas Roy menyakiti mbak Amel?" tanya Mawar.


Mata Mawar mengarah ke suatu titik. Dan benar sesuai dugaan Mawar. Tanda tato sekuntum bunga ada di sana.


Amel tersenyum. "Raka masih suka dekati kamu?" bukannya menjawab, Amel malah balik tanya.


Segera Mawar memandang ke wajah Amel. Dirinya tidak ingin jika sampai Amel curiga. "Raka,,,,, Siapa Raka mbak?" tanya Mawar yang memang tidak tahu nama lelaki yang akhir-akhir ini selalu berusaha menghubungi dia.


"Raka. Teman Roy. Sorry, waktu itu dia minta nomor ponsel kamu. Dan maaf, aku memberinya. Roy yang membuat aku memberikan nomor kamu pada Raka." ucap Amel penuh sesal.


Santi dan Tia, hanya diam menyimak obrolan keduanya. Tentu saja keempatnya bekerja sembari mengobrol. Bukan hanya mengobrol tanpa bekerja.


"Emmm,,,, namanya Raka. Mawar baru tahu. Beberapa dia menghubungi Mawar. Tapi Mawar acuhkan, soalnya Mawar nggak tahu dia." jelas Mawar.


Tentu saja Mawar tidak berbohong. Mawar memang tidak tahu namanya. Hanya wajahnya saja Mawar tahu. "Lebih baik kamu jauhi dia. Dia agak brengsek." tukas Amel.


"Serius?" tanya Santi.


Mawar mengangguk. "Dia itu hobi banget gonta ganti perempuan. Ujung-ujungnya berakhir di ranjang. Jika sudah puas, ditinggalkan." jelas Amel.


Mawar, Santi, dan Tia hanya mengangguk. Pasti ketiganya saat ini memilik pemikiran yang sama. Jika Amel dan Roy berhubungan lebih dari sekedar pasangan kekasih pada umumnya.


"Siang..." sapa seorang pembeli yang baru masuk ke dalam butik.


Ada dua perempuan dengan wajah cantik dan pakaian seksi masuk ke dalam butik. "Ada yang bisa kami bantu?" tanya Amel dengan ramah.


"Oh iya, kamu, bisa nggak kamu melayani aku." pintanya, langsung menunjuk ke Mawar.


Mawar tersenyum. "Bisa, silahkan katakan. Apa yang anda inginkan?" tanya Mawar sopan.


Mawar merasa aneh. Biasanya pembeli tidak akan memilih siapa yang akan melayani dirinya. Apalagi pembeli yang baru saja membeli pertama kali.


Bukan hanya Mawar saja yang merasa aneh. Tapi ketiga rekan kerja Mawar.


Ditambah lagi, perempuan yang satunya menatap Mawar dengan intens. Dari atas hingga bawah. Seperti sedang menilai penampilan Mawar. Dengan wajah jutek dan sesekali mencebikkan bibirnya.


Mawar mengajak pembeli tersebut ke sebuah deretan koleksi gaun yang ada di butik. Sembari menjelaskan dengan rinci, saat pembeli tersebut menanyakan beberapa gaun.


"Gue kok merasa aneh ya." bisik Tia pada Amel.


Amel mengangguk. "Gue juga. Kita pantau saja dari sini."


Sebagai salah satu anggota kelompok motor yang disegani dan terkenal. Tentu saja Tia memiliki kepekaan.


Amel dan Tia berpencar. Mencari tempat yang bisa mereka gunakan untuk memantau pembeli yang dilayani Mawar. Sekaligus merapikan baju dan gaun di butik.


Sementara Santi, meski dirinya sedang melayani pembeli, namun pandangannya sering kali mengarah ke tempat Mawar berada.


Perempuan yang datang bersama dengan pembeli yang saat ini dilayani Mawar, menabrak tubuh Mawar dari belakang. Entah di sengaja, atau memang tidak sengaja. "Maaf, saya nggak sengaja." cicitnya.


Mawar tersenyum. "Iya mbak... Nggak apa-apa." tukas Mawar.


Meski tersenyum, Mawar memandang aneh pada orang tersebut. "Nyonya Utami ada?" tanyanya pembeli tersenut pada Mawar.


"Maaf, beliau sedang tidak berada di tempat." sahut Mawar.


"Ya sudah, kamu boleh kembali bekerja. Saya mau melihat-lihat koleksi gaun di butik ini." ucapnya pada Mawar.


"Baik, silahkan." Mawar meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Mawar merogoh setiap saku di seragam kerjanya, dan juga celana bahan yang dia gunakan. Kosong. "Mungkin hanya perasaan gue saja." gumam Mawar.


__ADS_2