
Di toko kue, Gaby mengajak Lina dan sang papa untuk masuk ke dalam ruangan sang papa. Bahkan mereka juga makan bersama.
"Ayo bu, tambah lagi. Jangan sungkan." tutur Gaby dengan ramah. Senyum Gaby tak pernah menghilang dari bibir Gaby semenjak bertemu dengan Lina.
Djorgi juga demikian. Dia merasa mempunyai keluarga yang utuh. Dirinya sangat senang dengan perubahan sang anak. Gaby menjadi hangat dan ramah.
Terlebih, jika dilihat, Gaby sangat menyukai Lina. Siapa yang tidak akan menyukai sosok seperti Lina. Selain cantik, dia juga penyayang dan ramah. Sikapnya juga sangat anggun. Itulah yang ada di dalam benak Djorgi.
"Kata mas Djorgi, putrinya acuh. Tapi ini..." ucap Lina dalam hati. Lina merasa Gaby sosok yang baik dan ceria. Bahkan mampu menghidupkan suasana.
"Jadi kamu sama Mawar satu sekolah?"
"Iya bu, tapi beda kelas. Mungkin itu yang membuat kami tidak terlalu akrab." sahut Gaby.
"Benar juga. Ibu hanya kenal Mira dan Selly. Mereka berdua sering bermain ke rumah."
"Benarkah?"
"Iya."
"Oh iya,,, ada lagi. Deren dan Jerome."
Gaby tertawa hambar. Mendengarkan jika Jerome sering datang ke rumah Mawar membuat hati Gaby menjadi panas. "Ohhh..."
"Tapi sekarang ibu tidak pernah lagi melihat Deren. Kata Mawar, dia sekarang berada di luar negeri."
"Iya bu, benar. Jika kak Jerome, apa dia sering ke rumah ibu?" tanya Gaby penasaran.
"Hampir setiap hari." jelas Lina dengan jujur.
Gaby tersenyum manis. Tapi semua hanya sebuah tipuan. "Setiap hari. Brengsek. Tapi lihat saja, setelah ini, gue akan mengambil satu-persatu orang yang ada di dekat elo."
Gaby tersenyum menatap Lina. "Dimulai dari ibu elo yang dungu ini, dan mudah dibohongi." ucapnya dalam hati, menghina Lina, meski bibirnya tersenyum manis.
"Pasti akan lebih menyenangkan jika ada Mawar di sini." timpal Djorgi.
Lina dan Gaby tersenyum. Jika Lina tersenyum tulus, berbeda dengan Gaby yang tersenyum penuh kepalsuan. Tentu saja dirinya ingin Mawar ditengah-tengah mereka. Dan Gaby akan memamerkan betapa dekatnya dia dengan Lina.
"Kata Mawar, hari ini hari terakhir ujian."
"Iya bu, benar. Setelah ini, kita akan naik kelas dua." cicit Gaby dengan senang.
Gaby dan Djorgi mengantar Lina pulang ke rumah. "Kok masih gelap. Memang Mawar kemana?" tanya Gaby, melihat lampu rumah bu Lina belum menyala.
Hari ini, bu Lina sebenarnya pulang sore. Hanya saja, Gaby merengek ingin pergi bersama dengan dirinya dan juga sang papa. Alhasil, Lina menuruti kemauan Gaby, dan pulang saat matahari sudah terbenam.
"Mawar tadi memberitahu ibu, jika dia akan pulang malam. Katanya pergi bersama teman-temannya." jelas bu Lina.
Rencana Gaby gagal. Dirinya memang sengaja mengajak Lina untuk keluar bersamanya dan sang ayah. Mengantarkannya saat malam.
Gaby ingin mengatakan pada Mawar, meski secara tidak langsung. Jika dirinya mampu mendekati Lina, meski baru bertemu.
"Kalian mau mampir?" tawar Lina.
"Bagaimana Gaby?" tanya Djorgi meminta persetujuan sang putri.
"Tidak untuk hari ini bu, Gaby ngantuk." cicit Gaby, menampilkan wajah lelahnya. Untuk apa mampir, toh Mawar tidak ada. Sama sekali tidak menguntungkan untuk Gaby.
Gaby melihat rumah Lina yang menurutnya sangat kecil. "Astaga, rumah atau apa itu. Kecil sekali. Jelek lagi." ejek Gaby dalam hati.
Gaby masih bisa bersantai, menikmati waktu untuk menarik perhatian Lina. Coba saja jika dia tahu, kemana dan bersama siapa Mawar pergi. Pasti Gaby akan seperti cacing kepanasan.
Di tempat lain, Dona meradang, saat melihat apa yang ada di layar ponselnya. "Bagaimana bisa..??!" ucap Dona.
Jelas-jelas Nyonya Mesya sudah memberi sinyal, jika tidak memperbolehkan Jerome untuk bertemu bahkan dekat dengan Mawar, apalagi berhubungan.
Tapi ini apa, terlihat sangat jelas, Jerome dan Mawar sangat akrab. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan.
Bahkan, dengan berani Selly menguploadnya ke media sosial. "Tidak bisa. Gue nggak akan membiarkannya. Jerome hanya milik Dona...!" teriak Dona tidak terima.
Seorang pembantu yang berada di lantai atas, melihat dari balik pintu kamar Dona yang tidak tertutup rapat, dan mendengar suara Dona berteriak. Dengan raut wajah penuh amarah.
Dia segera berjalan menuruni tangga. Melaporkannya pada sang majikan. Nyonya Utami. Nyonya Utami yang baru saja sampai di rumah, setelah seharian berada di butik, langsung menaiki tangga. Menuju ke kamar Dona.
"Ada apa sayang?" tanya Nyonya Utami begitu beliau masuk ke kamar Dona.
Dona memejamkan kedua matanya sebentar. Lalu membuang wajah ke arah lain. Melihat kedatangan sang mama.
"Ya ampun Dona, kenapa dengan tangan kamu." Nyonya Utami melihat telapak tangan Dona, memerah. Sebab dirinya terlalu erat memang ponselnya.
"Sebaiknya mama keluar." usir Dona dengan nada dingin.
Dona tahu, jika sang mama pasti akan menyalahkannya. Jadi percuma saja beliau ada di dalam kamar. Bukan menenangkan, malah akan membuat Dona semakin kesal.
__ADS_1
Nyonya Utami melihat ponsel Dona yang masih dalam keadaan menyala, berada di atas ranjang tempat tidurnya.
Tangan Nyonya Utami terulur mengambilnya, dan melihatnya. Beliau hanya menghela nafas, paham kenapa sang putri marah dan berteriak penuh emosi. "Pasti karena Jerome dan Mawar." ucap Nyonya Utami dalam hati.
Nyonya Utami tidak bisa menyalahkan Jerome atau Mawar. Lelaki mana yang tidak akan menyukai sosok seperti Mawar.
Bukan hanya cantik. Tapi baik, sopan, serta pandai. "Bukankah mama sudah berkali-kali bilang. Lepaskan. Jangan membuat perasan kamu sebagai beban. Yang malah akan membaut kamu marah-marah tidak jelas seperti ini."
Dona hanya diam. Memandang ke arah lain dengan tatapan sinis. "Rasa suka, tidak bisa kamu paksakan. Carilah lelaki yang juga sama seperti kamu. Saling mencintai. Mama yakin, di luar masih banyak lelaki baik yang akan menerima kamu." tutur Nyonya Utami.
Dona tersenyum kecut mendengar nasehat dari sang mama. Menoleh ke arah Nyonya Utami, dan memandangnya sengit. "Kamu seharusnya tahu, mana yang salah, dan mana yang bener."
Melepaskan Jerome. Mana mungkin Dona akan melakukannya. Dia sudah mengejar Jerome dari SMP. Sehingga dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Jerome.
"Apa mama akan melepaskan papa, jika papa sudah tidak menginginkan mama lagi?" tanya Dona menohok.
Nyonya Utami menggeleng tak percaya dengan apa yang ditanyakan sang putri. "Kenapa? Mama tidak bisa menjawab." ujar Dona lagi, tanpa memikirkan perasaan sang mama.
"Dona...!!" seru Tuan Joko, yang sudah berdiri di ambang pintu.
Pastinya, Tuan Joko mendengar apa yang dikatakan oleh Dona pada sang istri. Tuan Joko berjalan ke arah Dona dan Nyonya Utami dengan tatapan tajam.
Dona hanya memutar kedua matanya dengan malas. "Jaga bicara kamu!!" bentak Tuan Joko.
Dona tersenyum miring. "Apa ada yang salah dengan ucapan Dona. Dona hanya tanya, apa mama akan melepaskan papa, jika papa tidak menginginkan mama lagi."
Dona memandang sang papa dan sang mama tak kalah tajam. "Sama halnya dengan Dona. Dona menginginkan Jerome. Salah Dona di mana??!" teriak Dona.
Di depan pintu, Dami hanya bisa menghela nafas. Sungguh, adik kecilnya sudah menjadi perempuan yang sulit dikendalikan. Dia mempunyai watak keras. Dan juga ego yang tinggi. "Itu bukan cinta, Don. Itu obsesi." ucap Dami dalam hati.
"Semakin lama, kamu semakin bar-bar." tekan Tuan Joko dengan nada rendah.
"Kamu mau tahu. Apa yang akan mama lakukan. Jika papa sudah tidak menginginkan mama lagi." tegas Nyonya Utami memandang tajam ke arah Dona.
Dona tersenyum miring. "Pasti mama akan tetap bertahan. Iyakan. Dengan alasan anak-anak. Meski hari mama sakit." cibir Dona, seperti tak punya hati. Mengatakannya seenak jidat.
"Mama akan meninggalkan papa kamu, dengan dagu terangkat. Pantang bagi mama, merendahkan diri hanya untuk mengemis sebuah status." tekan Nyonya Utami.
Senyum di bibir Dona lenyap. Begitu juga dengan Tuan Joko. Dia memandang sang istri tanpa ekspresi. Ini pertama kalinya, Tuan Joko melihat sorot tajam dari kedua mata sang istri.
"Ingat Dona. Sebagai perempuan, jangan pernah menyakiti hati perempuan lain. Karma selalu ada nak." tekan Nyonya Utami, meninggalkan kamar sang putri.
Segera Dami pergi dari tempatnya berdiri. Dirinya tidak ingin ada yang melihatnya.
Dona melongo tak percaya. Dirinya hanya merasa marah melihat postingan Selly yang di lihatnya di ponsel. Terkait kebersamaan mereka. Dimana ada Mawar dan Jerome yang terlihat akrab.
Tapi kenapa, imbasnya sampai separah ini. Fasilitas mewah yang dia gunakan sehari-hari dicabut. "Pa,,,,,,,, papa.... ini nggak adil. Salah Dona di mana??!" teriak Dona, saat sang papa juga pergi meninggalkan kamarnya.
"Aaa... sial...!!! Apa yang salah dari ucapan gue..!! Mawar...!!! Elo benar-benar pembawa sial..!! Brengsek..!!!" umpat Dona.
Yang malah menyalahkan Mawar atas apa yang terjadi padanya. Bukan intropeksi diri dan memperbaiki diri.
"Kenapa elo menyalahkan orang lain. Salahkan mulut elo." ujar Dami, yang berdiri di ambang pintu, dengan menyenderkan badannya di salah satu tiang pintu.
"Elo,,, keluar." Dona menunjuk ke arah Dami dan mengusirnya. Dirinya tahu, jika sang kakak tidak berada di pihaknya. Dan pasti akan membela Mawar.
"Jaga mulut elo jika berbicara. Saat ini, hanya fasilitas yang papa cabut. Siapa yang akan tahu, suatu hari elo yang akan dicabut dari daftar anggota keluarga."
"Dami... keluar..!!" seru Dona semakin murka.
Dami melambaikan kedua telapak tangannya, pergi meninggalkan kamar Dona.
Brakk..... Dona menutup pintu dengan keras. Menguncinya dari dalam. "Kalian semua. Benar-benar...!!" Dona menjambak rambutnya sendiri.
Bukan hanya Dona, bahkan murid sekolah dan orang yang mengenal mereka langsung memenuhi kolom komentar.
Apalagi di foto tersebut terlihat nampak jelas, seorang Jerome tersenyum lebar. Padahal, selama ini yang mereka tahu, Jerome adalah sosok dingin dengan ekspresi datarnya. Senyumnya adalah sebuah harga tak ternilai.
Tak sedikit pula yang mengomentari sosok Mawar yang pastinya mencuri perhatian. Apalagi tangan Jerome yang bertengger di pundaknya.
"Jerome." geram Nyonya Mesya yang sekarang tidak berani melakukan apapun.
Mencelakai Mawar. Tidak akan Nyonya Mesya lakukan. Dirinya yakin, jika Jerome atau sang mertua menyuruh seseorang untuk memantau setiap tindakannya.
Nyonya Mesya tidak ingin gegabah dalam melakukan suatu hal. Tentunya, dirinya tidak ingin ditendang dari rumah mewah ini.
Apalagi, Tuan Adipavi terlihat condong kepada Mawar. Yang artinya, bisa saja sang suami malah akan membela Mawar, dan mendepak dirinya. Meninggalkannya. Jika dirinya melakukan sesuatu pada Mawar.
"Tidak. Aku sudah berkorban sejauh ini. Aku tidak ingin kehilangan semua yang sudah aku nikmati selama ini." ucap Nyonya Mesya, berpikir realistis.
Nyonya Mesya memijat keningnya yang terasa berdenyut memikirkan Mawar. "Kenapa juga, lelaki tua itu belum mengalihkan semua hartanya atas nama putranya, atau cucunya." geramnya.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau hidup sengsara." keluhnya, berpikir terlalu jauh, hingga dirinya pusing sendiri.
__ADS_1
Mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Benar-benar haus akan harta.
Padahal, Mawar juga sama sekali tidak berniat menjalin hubungan dengan Jerome. Atau menguasai bahkan mengambil harta Jerome. Pikiran Mawar tidak sampai di sana. Dan tidak sepicik itu.
Nyonya Mesya memejamkan kedua matanya. Mencoba menenangkan hatinya yang gundah. "Benar, lebih baik aku bertindak aman saja. Asal kehidupanku tetap seperti ini." cicitnya.
Nyonya Mesya memutuskan untuk tidak mengusik kehidupan Mawar. Dirinya ingin mengamankan diri di dalam keluarga ini. Setidaknya, dirinya akan tetap menjadi Nyonya Sekhar. Dan tetap berada di singgasananya.
"Jika aku tidak bisa menyingkirkan Mawar. Setidaknya posisiku tetap aman di tempatnya." Nyonya Mesya tersenyum, sembari mengangguk.
Jerome mengantarkan Mawar pulang, hanya berdua. Sementara Mira dan Selly, diantarkan oleh Tian dan Luck.
Tentu saja keempatnya tidak ingin mengganggu Mawar dan Jerome. Mereka ingin kedua insan ini lebih dekat satu sama lain.
Jerome menghentikan mobilnya di tepi jalan secara perlahan. Dipandanginya Mawar yang sudah terlelap di dalam tidurnya.
Diambilnya bantal kecil yang berada di kursi belakang. Lalu diciumnya. "Harum." memastikan jika bau bantal kecil yang berada di dalam mobil tidak akan menganggu tidur Mawar.
Dengan perlahan, Jerome menaruh bantal tersebut di samping Mawar. Tepat di sisi kiri, berdempetan dengan jendela.
Jerome menyingkirkan rambut Mawar yang berada di wajahnya. Membawanya ke belakang telinga. "Kamu memang cantik, Mawar. Sangat cantik."
Jerome dengan pelan mengelus pipi Mawar. Entah dapat keberanian dari mana, Jerome sedikit mencondongkan tubuhnya. Mengecup pelan pipi mukus dan bersih milik Mawar. Sehingga Mawar tidak akan terbangun dari tidurnya.
"I love you." ucap Jerome lirih. Kembali duduk di kursi kemudi. Dan kembali menjalankan mobilnya, untuk mengantar Mawar pulang.
Di depan rumah Mawar, Jerome tersenyum melihat bu Lina yang duduk di kursi teras. Tapi senyum Jerome seketika lenyap, melihat siapa yang berada di samping bu Lina.
"Wiryo, Caty. Untuk apa mereka ke sini?" tanya Jerome lirih.
Jerome menatap ke arah Mawar yang masih tertidur. "Lebih baik gue nggak membangunkan Mawar." gumam Jerome.
Berpikir lebih baik Mawar tetap dalam mimpi indahnya. Dari pada bertemu dengan mereka. Yang malah akan membuat Mawar kembali merasakan sakit hati.
Jerome keluar dari dalam mobil. Menggendong tubuh Mawar, untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
Lina dan Wiryo, serta Caty melihat kedatangan Jerome. Segera Lina membuka pintu rumah. "Langsung bawa ke dalam kamar saja." pinta bu Lina.
Jerome mengangguk. Tanpa menyapa Wiryo dan Caty, Jerome masuk ke dalam rumah. Caty mengerutkan keningnya. "Mawar, dia memang sangat pandai mencari lelaki." ucap Caty dalam hati.
"Tapi, dia hanya pantas bersama dengan Gaby." lanjut Caty dalam hati. Yang tahu jika keponakannya menyukai Jerome.
Caty tersenyum sinis. Pasti diotaknya sedang mencela dan merencanakan rencana kotor untuk Mawar. Caty menepuk lengannya, seakan ada nyamuk yang hinggap di lengan miliknya.
Jika saja sang papa tidak menyarankan ini semua. Pasti dirinya sekarang tidak berada di sini. Di rumah Lina. Menemani sang suami yang ingin berbicara dengan Mawar.
Dan menginginkan Mawar untuk sesekali tinggal bersama mereka. Tentunya di rumah sang papa, sebab mulai saat ini Caty dan Wiryo akan tinggal di sana.
Pastinya Caty akan selalu mengekor jika Wiryo akan menemui Lina atau Mawar. Entah apa yang ada dalam benak Caty. Hingga dirinya takut jika sang suami datang sendirian menemui mereka.
Lina meninggalkan Wiryo dan Caty untuk masuk ke dalam. Menemani Jerome yang membawa Mawar ke dalam kamar. "Terimakasih." ucap bu Lina.
Setelah membaringkan Mawar, Jerome dan Lina keluar dari kamar Mawar. Kembali lagi ke depan untuk menemani sepasang pengantin baru.
Jerome segera pamit, dan tidak ingin terlalu lama berada di rumah Mawar. Ingin sekali Jerome membuka mulut, menanyakan hubungan yang terjalin antara ibu Mawar dan Djorgi.
Namun Jerome menahan keinginannya. Dirinya tentu saja masih mempunyai akal yang waras. Untuk tidak terlalu ikut campur dalam permasalahan orang lain.
Meski itu adalah keluarga Mawar. Perempuan yang saat ini mengisi relung hatinya.
"Ada hubungan apa Tuan Muda Jerome dengan Mawar?" tanya Wiryo, setelah mobil Jerome meninggalkan depan rumah Lina.
"Tidak ada. Hanya bersahabat saja." sahut Lina, mengatakan sesuai apa yang dikatakan oleh Mawar.
Wiryo adalah lelaki. Sama seperti Jerome. Dan Wiryo bisa lihat, jika perhatian yang Jerome berikan pada Mawar, lebih dari perhatian seorang sahabat.
"Sahabat." ucap Caty dalam hati. "Mana ada persahabatan yang tulus antara lelaki sama perempuan. Pintar sekali Mawar membuat skenario." lanjut Caty dalam hati.
Menganggap jika Mawar sedang memanfaatkan Jerome. Dengan kedok persahabatan.
"Mas, ayo pulang. Di sini banyak nyamuk." gerutu Caty.
Wiryo hanya menggeleng pelan dan menghela nafas. Dirinya yang sekarang harus lebih banyak memiliki stok sabar. Siapa lagi jika bukan untuk istri barunya, Caty.
"Baiklah, kami pamit dulu. Tolong sampaikan permintaanku pada Mawar. Jika Mawar bersedia, kapanpun Mawar bisa menghubungi aku." cicit Wiryo.
"Pasti, nanti akan aku sampaikan." ujar Lina.
Sesungguhnya, Lina juga merasa berat mengizinkan Mawar tinggal bersama mereka. Meski hanya satu hari sekalipun.
Tapi Lina sadar, jika Wiryo adalah ayah kandung dari Mawar. Dan mempunyai hak yang sama seperti dirinya. "Tolong, kamu bujuk dia. Jika Mawar menolak." pinta Wiryo.
"Maaf, tapi aku tidak akan memaksa Mawar. Biarkan Mawar sendiri yang memutuskannya."
__ADS_1
Wiryo mengerti, kenapa Lina berkata seperti itu. Mawar bukan lagi anak balita. Tapi dia sudah dewasa. Dan sebagai orang tua, seharusnya Wiryo tidak selalu memikirkan diri sendiri.