
Mawar dan Jerome sampai di rumah kedua orang tua Jerome. "Kelihatannya ada banyak tamu." tukas Mawar.
Pasalnya banyak terjejer dengan rapi mobil mewah di halaman luas kelurga Tuan Adipavi. "Mungkin teman arisan mama." sahut Jerome.
Mawar hanya mengangguk kecil. Sementara Jerome memandang ke arah Mawar. "Ada apa?" tanya Mawar, yang ditatap intens oleh sang kekasih.
"Kalau kamu tidak nyaman, tidak perlu masuk. Kamu bisa datang besok." saran Jerome. Takut jika Mawar terpaksa masuk karena merasa tidak enak hati pada dirinya.
Mawar tersenyum. "Nggak. Mawar nggak apa-apa. Kita masuk saja." ajak Mawar.
Tapi Jerome masih berdiri diam dengan memandang ke arah Mawar. "Benar?" tanya Jerome kembali.
Mawar mengangguk untuk menyakinkan Jerome. Keduanya lantas masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.
Kehadiran Jerome yang datang bersama Mawar, membuat semuanya mengalihkan perhatian pada keduanya. Pastinya mereka bertanya-tanya, siapa gadis yang datang bersama dengan putra Tuan Adipavi tersebut.
Mawar tersenyum sembari mengangguk ramah, mendekat ke arah mereka semua. Berbanding terbalik dengan Jerome yang menampilkan ekspresi datar dan dingin. "Aduhh,,,,, cantik sekali, siapa jeng?" tanya teman arisan Nyonya Mesya.
Nyonya Mesya tersenyum bangga. "Sini sayang." pinta Nyonya Meysa menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Mawar menyalami satu-persatu semua yang ada sebelum duduk di tempat yang di tunjukkan oleh Nyonya Mesya. Juga dengan Jerome, dia juga melakukan apa yang dilakukan Mawar, lalu duduk di samping Mawar.
Nyonya Mesya sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Jerome, ketika sang putra menyalami semua teman arisannya. Biasanya, Jerome langsung nyelonong masuk ke kamar tanpa menyapa mereka, melihatpun tidak.
Hingga pernah suatu hari, Nyonya Mesya merasa malu sekaligus jengkel terhadap Jerome yang sangat acuh dan semaunya sendiri.
"Dasar. Pasti karena ada Mawar." ucap Nyonya Mesya dalam hati, menebak jika Jerome mencari muka pada Mawar.
"Perkenalkan semuanya. Dia Mawar. Kekasih putra saya. Jerome." tutur Nyonya Mesya dengan antusias.
Mawar hanya tersenyum. "Kamu cantik sekali sayang. Anak tante juga lelaki low. Tampan, nggak kalah dari Jerome. Dia juga sangat ramah. Calon dokter lagi." tukas salah satu teman arisan Nyonya Mesya, menatap sekilas ke arah Jerome yang memandangnya dengan datar.
"Saya juga. Malahan saya punya dua, kedua anak saya semua laki-laki. Yang pertama sebagai abdi negara. Jangan ditanya soal pangkat. Pastinya sudah lumayan tinggi. Yang nomor dua calon pengusaha. Kamu tinggal milih. Pasti mereka tidak akan menolak." sahut yang lain.
Semakin membuat Jerome meradang kesal. Bisa-bisanya menjodohkan Mawar dengan putra mereka. Padahal sang mama sudah memperkenalkan Mawar sebagai kekasihnya.
Mawar tersenyum canggung, pasalnya raut wajah Jerome nampak tak bersahabat. "Kalian ini, dia calon mantuku. Mana bisa kalian ambil. Lihat putra saya. Sempurna. Pasti Mawar pilih Jerome." ucap Nyonya Mesya memuji putranya sendiri.
Semua teman arisan Nyonya Mesya tersenyum kaku. Mereka semua tahu bagaimana sifat dari Jerome. "Sayang, apa yang kamu bawa?" tanya Nyonya Mesya, melihat Mawar membawa paper bag berukuran kecil.
"Maaf tante, Mawar sampai lupa. Ini untuk tante. Semoga tante suka." cicit Mawar, memberikannya pada maka dari Jerome tersebut.
"Pasti Tante suka. Kan kamu yang membelikan." Nyonya Mesya dengan semangat membuka isi di dalam paper bag tersebut.
Nyonya Mesya terdiam. Mengamati benda kecil yang diberikan oleh Mawar. Sebuah tas tangan berukuran kecil dengan bahan rajutan yang di buat oleh tangan. Tampak sangat sederhana. Namun terlihat elegan dengan paduan warna yang sangat apik dan enak dipandang mata.
"Tuhan,,, bukankah itu dompet rajut tangan yang sedang viral. Hanya ada lima buah di negara ini. Tapi dengan warnanya berbeda pada setiap tasnya." celetuk salah satu rekan arisan Nyonya Mesya.
"Benarkan. Dari mana kamu tahu?"
"Putriku baru saja membelinya. Dan dia harus berebut dengan perempuan sosialita lainnya. Tapi tetap saja putriku yang mendapatkannya. Karena jumlah uangnya yang banyak." jelasnya dnegan angkuh.
__ADS_1
Seolah mengatakan jika keluarganya adalah kelurga kaya. "Kamu dapat dari mana tas itu Mawar?" tanyanya. Mawar hanya tersenyum manis.
Sekarang Mawar tahu, jika memang seperti inilah cara bergaul di kalangan sosialita. "Yang laki-laki bekerja, yang perempuan berfoya-foya." ucap Mawar dalam hati. Apalagi, Mawar melihat ada banyak berbagai macam perhiasan di atas meja.
"Coba lihat saja bagian dalamnya. Dan bandingkan dengan tas mahal milik kamu. Kamu tidak akan menemukan bedanya." jelasnya.
Benar saja. Nyonya Mesya melakukan apa yang dikatakan oleh teman arisannya. "Sayang, pasti ini sangat mahal. Terimakasih ya." ucap Nyonya Mesya tersenyum senang.
Awalnya, Nyonya Mesya mengira jika apa yang diberikan oleh Mawar adalah tas tangan biasa dengan harga yang murah.
"Cantik, penyayang, baik. Jadi kepengen punya anak kayak kamu." tukas teman arisan Nyonya Mesya.
"Ma, Jerome ajak Mawar ke atas dulu. Biar Mawar ganti pakaian. Kasihan, dia pasti capek." tutur Jerome.
Jerome hanya beralasan saja. Hatinya semakin gerah mendengar pujian teman teman arisan sang mama, yang ujung-ujungnya malah menjodohkan Mawar dengan putra mereka.
"Iya sayang. Mawar, kamu ikut anak tante ya. Jerome,, panggil pembantu, jika kalian membutuhkan apapun." tukas Nyonya Mesya.
"Mawar, anggap saja rumah sendiri yang sayang." Nyonya Mesya beralih memandang ke arah Mawar.
"Mari semua, Mawar ke atas dulu." pamit Mawar dengan sopan.
Sepeninggal Jerome dan Mawar, Nyonya Mesya mulai menceritakan siapa Mawar pada semua teman arisannya.
Nyonya Mesya tentu saja mengatakan jika Mawar adalah cucu tunggal Tuan Tomi, yang akan mewarisi semua kekayaan yang beliau miliki.
Tentu saja, Nyonya Meysa tak mau kehilangan momen untuk menyombongkan diri. Jika sebentar lagi, dirinya akan mempunyai besan salah satu orang terpenting di kota ini.
Jerome mengajak Mawar untuk pergi ke kamarnya. "Kak, jangan. Mawar nggak enak. Mawar pakai kamar lain saja." tolak Mawar, saat keduanya berada di depan pintu kamar Jerome.
"Tidak apa-apa. Ayo masuk." ajak Jerome.
"Mawar sungkan kak. Masa Mawar masuk ke kamar kak Jerome. Mawar perempuan low."
Jerome tersenyum geli. "Yang bilang kamu lelaki siapa. Jika kamu lelaki, mana mau aku sama kamu. Ada-ada saja." tukas Jerome mencubit gemas hidung mancung milik Mawar.
"Kak, bukan itu maksudnya." ujar Mawar dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa? Katakan,,, hemmm... Ada apa?" Jerome dengan lembut mengusap pipi Mawar.
Mawar menunduk, menyembunyikan rasa malu. Karena dia akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan ditertawakan oleh Jerome. "Mawar baru pertama kali pacaran." cicit Mawar memainkan jari jemarinya di bawah.
Jerome tersenyum simpul. Tidak mengeluarkan suara untuk menyela perkataan Mawar. "Ini pertama kalinya Mawar masuk kamar cowok." lanjut Mawar pelan.
Mawar menduga, sebentar lagi Jerome pasti akan menertawakannya. Sebab Mawar terlihat kuper. Bahkan sama sekali belum pernah berpacaran atau menjalin hubungan dengan lelaki lain sebelum dengan Jerome.
Jerome memegang dagu Mawar, mengangkatnya. "Tatap aku sayang." pinta Jerome. Membuat Jerome dan Mawar saling bersikap.
"Aku juga. Ini pertama kalinya aku berpacaran. Dan pertama kalinya aku mengizinkan seorang gadis masuk ke dalam kamar." jelas Jerome.
Kedua mata Mawar mengerjap lucu. "Pasti kamu tidak percaya." tangan Jerome yang masih berada di dagu Mawar, menjawilnya dengan gemas.
__ADS_1
"Sumpah, aku berkata jujur. Jadi ini yang pertama untuk kita. Untuk kamu, dan untuk aku." jelas Jerome dengan bangga.
Mawar tersenyum samar. Jerome membuka pintunya. "Ayo masuk." ajaknya lagi pada Mawar.
"Tenang saja, aku tidak akan mengunci pintunya. Bagaimana?" tawar Jerome.
Mawar tampak masih ragu. Alasannya bukan hanya karena ini pertama kalinya Mawar masuk ke kamar lelaki, juga Mawar merasa sungkan dengan semua penghuni di rumah ini.
Seorang pembantu yang berada tak jauh dari mereka, mendengar percakapan sepasang kekasih tersebut. Sang pembantu tersenyum mendengar perdebatan kecil dari keduanya.
Ini pertama kalinya dia mendengar Tuan Mudanya berbincang panjang lebar dengan seorang perempuan. Serta merayunya.
Sungguh, sang pembantu merasa ikut bahagia. Sehingga senyum-senyum sendiri sembari bekerja.
Mawar masuk dengan ragu. Sedangkan Jerome tersenyum samar melihat Mawar akhirnya masuk ke dalam kamarnya.
"Akhirnya, perempuan yang aku cintai masuk ke kamarku." ucap Jerome, berdiri di dekat Mawar yang sedang sekeliling kamar Jerome.
Nampak nuansa lelaki sangat kental di kamar Jerome. Meski begitu, kamarnya bersih dan rapi, juga nyaman untuk ditempati.
Jerome membawa Mawar untuk duduk di kursi yang berada di kamarnya. "Kamu duduk dulu. Aku ambilkan sesuatu."
Jerome pergi ke sebuah ruangan. Entah ruangan apa, Mawar sendiri juga tidak tahu. "Luas sekali kamarnya. Berkali-kali lipat dari kamar aku." lirih Mawar membandingkan kamarnya dengan kamar Jerome.
Jerome keluar dengan sebuah pakaian di tangannya. Lalu memberikannya pada Mawar. "Ini ada baju, kamu pakai saja."
Mawar memandang Jerome dengan aneh. Jerome tahu, apa arti pandangan Mawar pada dirinya. Tentu saja sebuah penjelasan. Kenapa Jerome mempunyai, bahkan menyimpan baju perempuan.
"Sebenarnya, aku sudah lama membeli ini. Dan pastinya untuk kamu. Tapi aku belum berani. Mungkin, sekarang waktu yang tepat."
Mawar tetap tak menanggapi perkataan Jerome. Dia masih memandang Jerome dengan intens. "Sumpah sayang, aku nggak berbohong." ujar Jerome mengangkat jati telunjuk dan jari tengahnya ke atas, membentuk huruf V.
Raut wajah Jerome nampak khawatir. Tentu saja. Dirinya tidak ingin Mawar berpikiran gang bukan-bukan tentangnya.
Mawar tertawa pelan. Merasa gemas melihat ekspresi wajah Jerome. "Iya, aku percaya." Mawar mengambil baju tersebut.
Jerome lega mendengarnya. Cup.... Jerome mengecup pipi Mawar singkat.
"Ehh..." cicit Mawar melotot memandang Jerome.
Jerome malah tersenyum. "Jadi pengen cepat halalin." tukas Jerome.
Mawar menekan hidung Jerome dengan kuat, sehingga Jerome meringis. "Sabar. Sekolah yang benar."
Mawar berdiri. Melangkahkan kaki ke dalam kamar mandi. "Sayang." panggil Jerome, membuat Mawar membalikkan badan, seraya tersenyum.
"Aku keluar dulu. Mau ke ruang kerja." pamit Jerome.
Mawar mengangguk. Meneruskan langkahnya masuk ke kamar mandi.
Ceklek... terdengar bunyi pintu dikunci dari dalam. Jerome terkekeh pelan. "Jika saja sudah halal, pasti gue dobrak tuh pintu." ujarnya seraya menggelengkan kepala, merasa lucu dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mawar. Elo benar-benar merubah hidup gue." tukas Jerome, masih menatap ke pintu kamar mandi yang tertutup, bahkan terkunci dari dalam.