MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 89


__ADS_3

"Bagaimana bisa dia tetap mengejar Mawar, padahal sudah ditolak." geram Luck. "Dasar nggak punya urat malu." lanjutnya.


Jerome dan kedua temannya berjalan beriringan menuju ke dalam kelas, dengan langkah santai. Mereka tidak perlu terburu meski bel akan berbunyi.


"Deren saja ditolak, tapi dia tetap mengejar Mawar." timpal Tian, menyamakan Deren dengan lelaki tersebut.


"Benar juga sih." cicit Luck. "Tapi entahlah, gue sendiri juga belum pernah merasakannya." pungkas Luck, yang sampai sekarang belum pernah menyukai seorang perempuan.


"Elo normalkan?" ejek Jerome.


"Brengsek. Elo juga baru beberapa bulan ini suka ma Mawar. Tadinya elo kemana?" balas Luck kesal.


Pertanyaan Jerome seakan mengatakan jika dirinya tidak normal, alias menyimpang dari kodrat. Kenyataannya Jerome sendiri, sebelum bertemu dengan Mawar sana daja seperti dirinya.


"Apa yang akan elo lakukan Jeee? Lagian gue heran, biasanya lelaki seperti mereka akan mengejar perempuan yang juga punya ketangkasan yang sama. Nah ini." ujar Tian


"Kalau gue sih nggak heran. Kenapa dia bisa memilih Mawar. Buktinya ada di depan mata noh,, dua lelaki dengan sifat kutub utara juga terpikat olehnya." cicit Luck.


Jerome tersenyum licik. "Gue akan lihat dulu, jika membahayakan Mawar, gue nggak akan segan-segan beri dia pelajaran berharga." ucap Jerome.


"Pasti berbahaya Jee,,, takutnya, dia akan melakukan sesuatu. Karena Mawar terus menolaknya." pungkas Luck.


Namun Jerome tidak begitu khawatir, dirinya tetap menyuruh teman Erza untuk membuntuti Dona dan Mawar.


"Tumben, kemana Deren, kok belum datang?" tanya Tian, tak melihat kendaraan Deren di parkiran.


"Mungkin dia nggak masuk. Lagian hanya absen doang, sama pengumuman siapa yang akan mengikuti pentas drama untuk mengisi acara pelepasan kelas tiga." jelas Luck


"Semoga bener yang elo katakan." lirih Tian, semalam dia berusaha menghubungi Deren. Panggilannya tersambung, namun tidak diangkat oleh pemiliknya.


Jerome mendengar perkataan Tian. Jerome berasumsi ketidak hadiran Deren bukan perkara sepele. "Semoga Deren baik-baik saja." batinnya.


"Sepulang sekolah kita ke rumah Deren." ajak Tian.


"Oke." sahut Luck.


"Sorry, gue nggak bisa. Ada yang harus gue lakukan." timpal Jerome.


"Jika elo butuh bantuan gue, elo langsung bilang saja." tukas Luck. Jerome mengangguk paham.


Tian dan Luck dapat menebak kemana dan apa yang akan dilakukan oleh Jerome.


Di lorong kelas, Dona beserta ketiga temannya berdiri di tengah jalan. Membuat beberapa murid harus memutar jalan mereka untuk sampai ke kelas mereka.


"Benar ucapan Gaby. Sekarang elo makin berani. Bahkan elo bantah omongan gue...!!" seru Dona dengan nada tertahan.


Dirinya tentu saja harus menahan emosi. Mengingat dimana sekarang dirinya berada.Siska terang-terangan menolak keinginannya.


Mawar dan kedua temannya yang tengah berjalan menuju kelas melihat perdebatan mereka. Terlihat jelas dari raut wajahnya, Siska sedang ditekan oleh ketiga rekannya.


Dengan Gaby dan Weni hanya tersenyum sinis melihat Siska yang dibentak dan dimarahi oleh Dona. "Sekarang Dona yang bentak dan jadi majikan elo. Sebentar lagi, elo akan jadi kacung gue." batin Gaby.


Beberapa murid yang lewat sekitar mereka memandanginya dengan berbisik lalu pergi dengan acuh. Mereka tidak ingin terlibat dalam kelompok yang menyesatkan tersebut.


"Biarkan saja." ujar Selly, saat Mawar menghentikan langkahnya dan memandang ke arah mereka.


Mira menggandeng lengan Mawar, sedikit menariknya untuk melanjutkan langkah mereka. "Kita tidak perlu ikut campur. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi."


Mira sama seperti Selly, dia juga malas berurusan dengan kelompok sampah itu. Yang ada emosinya akan memburuk di pagi hari.


"Kata kamu Siska sudah berubah?" tanya Mawar memastikan.


"Hati manusia siapa hang tahu. Mungkin memang benar, Siska berubah. Tapi elo pikir dia akan berubah jadi malaikat. Nggak akan." celetuk Mira.


"Jik salah satu dari keempat perempuan itu bersujud di kaki gue, untuk minta maaf. Pasti akan gue maafin. Tapi maaf maaf saja, tidak untuk percaya." timpal Selly sengit.


"Gue setuju." sahut Mira. Mawar tersenyum mendengar keduanya. Padahal tadi, Mawar juga sama seperti mereka. Dia juga tidak ada niatan untuk membantu, bahkan terlibat dengan kelompok mereka dengan alasan apapun.


"Aaww,,,, sakit Don..." seru Siska dengan suara lirih, saat lengannya dicengkeram dengan erat oleh Dona.


"Jaga mulut dan tingkah elo. Selamanya elo dilahirkan sebagai sebagai budak. Paham." sarkas Dona, dengan arogan.


Dona melepas cengkeramannya saat melihat seorang guru datang, berjalan ke arah mereka. "Jalan." ucap Dona, berjalan paling depan. Dengan Gaby dan Weni di belakangnya.


Siska mengelus lengannya yang terasa sakit. "Kamu kenapa?" tanya guru tersebut, melihat ada yang aneh dengan Siska.


Siska segera tersenyum. Memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja. "Tidak pak, saya baik-baik saja."


Guru tersebut mengangguk. Mana mungkin dia percaya, setelah banyak banyaknya rumor yang mengatakan bagaimana kelakuan dari Dona.


"Mari pak, saya ke kelas dulu." pamit Siska, segera pergi. Dirinya tidak ingin sang guru curiga. Akan menjadi masalah besar, saat semua terungkap. Apalagi jika mulutnya yang mengungkapnya secara tidak langsung.

__ADS_1


"Sudah kesakitan, masih saja tidak mau berterus terang." gumam sang guru.


Sedangkan, murid yang selalu menjadi pesuruh Dona saat ada tugas, dirinya sudah tidak masuk sekolah.


Dia beralasan berlibur ke rumah sang nenek yang ada di luar negeri, dan kemungkinan besar akan melanjutkan kuliahnya di sana.


Padahal semua hanyalah alasan, agar dirinya tidak masuk sekolah dan bertemu dengan Dona. Tentu saja dirinya tidak ingin menjadi alat samsak bagi Dona untuk meluapkan amarahnya.


Terlebih jika benar nilai ujian Dona jelek. Pasti orang pertama yang mendapat amukan Dona adalah dirinya.


Dia juga sudah mengatakan semuanya secara jujur pada sang mama. Hingga sang mama menangis, dan meminta maaf. Karena kesalahan sang suami, sang anak terkena imbasnya.


"Elo kenapa soh Don, gue lihat beberapa hari ini elo murung." ujar Weni.


Sebab beberapa hari ini, mereka bertiga selalu pergi bersama. Menghamburkan uang orang tua mereka dan berfoya-foya. Tanpa Siska.


"Nggak ada. Hanya lagi malas saja." ucap Dona beralasan. Gaby dan Weni saling pandang. Mereka berdua yakin, jika ada yang Dona sembunyikan dari mereka.


Mana mungkin Dona menceritakan semua beban di hidupnya. Yang ada semua masalah dan kelemahannya akan mereka jadikan sebagai alat untuk menekannya.


Dona sadar, jika persahabatan mereka hanyalah persahabatan atas azaz simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan.


Dalam benak Dona sedang berkecamuk banyak hal. Nilai ujian yang pastinya jelek. Rekaman saat dirinya menampar teman sekelasnya. Padahal rekaman tersebut tak pernah ada. Dan hanya ancaman di mulut Tian.


Jerome yang semakin menjauh. Padahal sejak dulu, Jerome sama sekali tak pernah dekat dengannya. Dan yang terkahir, Dona dapat memastikan, jika Mawar akan menjadi pemain utama pentas seni di sekolahan.


Mawar dan kedua temannya sampai di kelas, duduk di kursi masing-masing. "Ceritakan semuanya. Sekarang?!" ucap Selly dengan kata penuh tekanan.


"Apa?" tanya Mawar, mendudukkan pantatnya di kursi.


"Semua. Kejadian di jalan, saat kita terjebak di antara kerusuhan mereka. Lalu tadi, elo malah diam. Terlihat menikmati rangkulan kak Jerome." cecar Selly.


"Apa yang ingin kalian tahu, tentang kelompok motor itu? Aku hanya berpikir logis saja. Jika sampai kita menjadi saksi di kantor polisi karena aksi mereka. Bukankah akan membahayakan keluarga kita."


Mawar menceritakan semuanya dengan jujur. Hanya menutupi beberapa kenyataan. "Mereka banyak. Yakin, pihak kepolisian bisa menangkap semuanya."


"Jika masih ada beberapa yang berkeliaran di luar, lalu mereka membalas dendam pada kita karena kesaksian yang kita berikan. Apa yang akan terjadi?"


"Benar, bisa-bisa keluarga kita terkena imbasnya. Apalagi mereka bahkan sangat brutal." jelas Mira, melihat bagaimana mengerikannya mereka saat beraksi.


Mira dan Selly sekarang tahu, kenapa Mawar menginginkan mereka untuk tutup mata dan telinga. "Ternyata elo berpikir sejauh itu." tutut Mira merasa terharu.


Mawar menggeleng. Tidak mungkin dia menceritakan jika mereka bawahan Luck. Bisa-bisa kedua temannya akan terkejut.


Lagipula, Mawar tak punya hak untuk mengatakannya. "Lelaki tadi, yang ditepi jalan. Siapa?" tanya Mira.


"Dia teman dari kekasihnya mbak Amel. Masih ingat dengan mbak Amel?" tanya Mawar ingin tahu.


Mira dan Selly mengangguk. "Dia tampan Mawar, kenapa elo nggak mau sih?" ucap Mira.


Ini dia pertanyaan yang paling sulit. Mawar harus mengatakan alasan apa untuk penolakan yang diberikannya.


"Emmm,,,, itu. Aku nggak suka." cicit Mawar.


"Elo suka sama kak Jerome." tebak Mira.


Mawar menggeleng. "Kami cuma berteman." tegas Mawar.


"Nggak ada pertemanan yang benar-benar teman antara perempuan dan lelaki. Gue yakin, salah satu pasti menyimpan perasaan suka. Jika elo nggak, berarti kak Jerome suka sama elo." jelas Selly.


Mawar terdiam. Apa yang dikatakan Selly memang benar. "Tahu ah,,, yang terpenting untuk sekarang gue mau fokus sekolah dama kerja saja. Kedua itu saja udah menyita waktu sama perhatian aku." papar Mawar.


Waktu istirahat telah tiba. Semua murid menatap Mawar. Ada yang tersenyum, ada yang menatap tak suka, dan juga ada yang menatap aneh.


Mawar sadar akan hal itu. "Mereka kenapa sih. Apa dandanan gue aneh. Perasaan seperti biasanya." ujar Mawar.


Mira dan Selly merasakan hal yang sama. "Elo seperti biasa, cantik." ucap Mira.


"Cckkkk,,,, Bukan itu." ketus Mawar.


Hingga ada beberapa murid yang datang dan memberi selamat padanya. "Selamat ya Mawar, kalian memang serasi. Dari pada kak Jerome sana si dia." ucapnya tersenyum tulus.


"Elo cantik, kak Jerome tampan. Benar-benar serasi. Nggak sabar pengen nonton." celetuk murid yang lain.


"Maunya sih gue yang kepilih sebagai peran utama pria. Malah kak Jerome. Gue malah jadi peran pembantu doang." timpal murid lelaki.


"Elo nggak pantes ma Mawar. Pantes jadi jongosnya Mawar." ejek murid yang lain, mendapat sahutan tawa dari yang lain.


"Nih anak memang pandai melawak. Mau nyaingin pangeran sekolah." timpal yang lain.


Mawar, Mira, dan Selly saling pandang. "Ada apa sih ini?" tanya Mawar kebingungan.

__ADS_1


Semua terdiam. "Elo nggak tahu?" Mawar menggeleng.


"Elo berdua, juga nggak tahu?" Mira dan Selly juga menggeleng.


"Itu, pengumuman siapa yang akan ikut pentas seni drama untuk pelepasan kelas tiga sudah keluar. Malah beserta peran yang mereka dapat." jelasnya.


"Pentas seni. Peran. Terus hubungannya sama Mawar apa?" tanya Mira semakin bingung.


Kedua teman Mawar juga tidak tahu menahu akan hal ini. "Loh, bukannya Mawar juga ikut mendaftar." jelas murid lain. Sebab nama Mawar ada di mading.


Tidak mungkin nama Mawar tertera di mading bahkan nama peran yang akan Mawar lakoni saat drama, jika Mawar tidak mendaftar.


"Elo daftar?" tanya Selly.


Semua murid menatap ke arah Mawar. Mereka merasa aneh. Mawar menggeleng. "Nggak, aku nggak daftar. Kalian berduakan tahu. Aku mana ada waktu, setelah sekolah aku harus bekerja." jelas Mawar jujur.


Semua menatap Mawar dengan pikiran di benak masing-masing. "Sorry ya Mawar, bukannya gue nggak percaya. Tapi, mereka harus pakai kartu atau mengisi formulir pendaftaran bagi yang mau ikut. Bahkan ada tanda tangan si pendaftar juga." jelasnya.


Yang artinya bagi murid yang ingin ikut serta, harus mendaftar sendiri. Dan tidak boleh diwakilkan. "Tapi aku nggak daftar apapun." cicit Mawar dengan ekspresi kebingungan.


"Lebih baik kita lihat di mading saja." ajak Selly.


Dari arah lain, Dona mengepalkan tangannya dengan erat. Menatap ke arah Mawar dengan tatapan bengis. "Elo sih percaya sama Erza." tukas Weni, yang berdiri di belakang Dona.


"Tunggu, ini sebenarnya ada apa sih. Kenapa Mawar bilang nggak daftar, tapi nama dia ada. Terus itu lagi, Erza. Siapa dia?"


Tanpa Dona dan ketiga antek-anteknya tahu, ada seseorang yang menguping di belakang mereka.


"Erza. Dia ikut kegiatan kayak elo. Dari sekolah sebelah." jelas Weni.


"Apa hubungannya Erza, Dona, sama Mawar?" tanya Gaby yang memang sama sekali tidak tahu apapun mengenai hal tersebut.


"Erza. Dia mengatakan jika menyukai Dona." Weni melirik ke arah Dona dengan senyum remeh. "Dia berjanji pada Dona, akan melakukan apapun yang Dona mau." lanjut Weni.


"Bagus dong. Lalu hubungannya sama Mawar apa?" tanya Gaby lagi.


"Erza mempunyai rencana. Membuat Mawar dekat dengan Jerome. Terlihat sebagai perempuan baik di mata Jerome. Tapi akhirnya, Erza akan membuat nama Mawar jelek di mata Jerome. Pokoknya begitu deh. Elo pasti ngertikan. Gue jadi bingung ngejelasinnya." papar Weni.


Gaby menggeleng. "Dan elo percaya dengan Erza. Astaga." heran Gaby, seorang Dona dengan mudah ditipu Erza.


"Kalian berdua bisa diem nggak!!" bentak Dona. Marah bercampur malu.


"Gue yakin, Erza sama sekali nggak menyukai elo. Bisa jadi, dia bekerja sama sama Mawar." tebak Gaby.


"Gila,,,, dan jangan bilang, yang daftarin Mawar adalah Erza." lanjut Gaby menebak.


Baik Dona maupun Weni hanya diam. Gaby bisa menyimpulkan arti diam dari keduanya. "Gue pikir elo hebat. Ternyata, mudah banget soh elo ditipu." ejek Gaby.


Dona memandang tajam ke arah Gaby. "Sekali elo ngomong, gue robek mulut elo." ancam Dona, meninggalkan Weni dan Gaby.


"Dasar. Berlagak pintar. Bodohnya minta ampun. Dan elo juga, kenapa elo nggak memberitahu Dona." Gaby malah menyalahkan Weni.


"Elo pikir mudah. Tanpa elo minta, gue udah lakukan. Tahu sendiri bagaimana watak Dona. Paling benar." sungut Weni, kesal karena merasa dipersalahkan oleh Gaby.


Gaby juga kesal. Dirinya juga ingin sekali mengikuti acara itu. Berdampingan dengan Jerome. "Sial, tahu begini gue ikut." ujar Gaby.


"Tunggu, bagaimana caranya Erza bisa mendaftarkan Mawar?" tanya Gaby, yang dijawab gelengan kepala oleh Weni.


"Gue jadi penasaran. Bagaimana si Erza itu. Hingga Dona percaya, bahkan berhasil ditipunya." rasa penasaran Gaby mulai muncul.


"Tampan. Kelihatannya berasal dari keluarga mapan." jelas Weni seadanya.


"Oh iya, Gab... gimana. Elo dah tanya sama papa kamu. Siapa perempuan yang waktu itu kita lihat?" tanya Weni teringat kembali.


Gaby menatap aneh pada Weni. "Bukan maksud gue ikut campur. Gue cuma takut, itu perempuan manfaatin papa kamu. Lihat saja penampilannya." segera Weni memberikan penjelasan.


"Tahulah, yang pasti gue nggak akan pernah mau dan setuju jika papa menikah lagi." papar Gaby dengan egois.


Weni mengangguk mengerti. "Bagus, tinggal gue lebih sabar membujuk mama. Om Djorgi harus jadi papa tiri gue." batin Weni.


Weni tersenyum saat Gaby menatapnya kembali. Tentu saja senyum palsu yang selama ini dia tunjukkan pada semua orang. Meski pada Gaby dan Dona sekalipun.


Seseorang yang berada di belakang Weni dan Gaby, tersenyum. Dirinya keluar dari balik pilar besar, saat keduanya meninggalkan tempat mereka.


"Jadi Mawar nggak daftar. Tapi nggak apa-apalah. Cocokan Mawar sama kak Jerome, dari pada iblis betina itu. Dan lagi, ternyata Gaby juga naksir kak Jerome. Astaga. Pagar makan tanaman." kekehnya.


Sementara Mawar dan kedua sahabatnya tampak syok melihat apa yang tertera di mading. "Sumpah, aku nggak pernah daftar." cicit Mawar.


"Jika bukan elo, siapa. Bukankah pendaftaran ini nggak bisa diwakilkan?" tanya Mira, dirinya juga percaya dengan perkataan Mawar.


Mawar tak akan berbohong pada mereka. Apalagi hanya masalah seperti ini. Yang menurut mereka masalah sepele. "Kita tanya panitia langsung saja." saran Selly.

__ADS_1


__ADS_2