MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 172


__ADS_3

"Maafkan Jihan, sayang." ujar Nyonya Meysa. Jerome menceritakan tindakan Jihan pada Tuan Adipavi dan Nyonya Meysa.


Dimana apa yang dilakukan Jihan hampir membuat masa depan Mawar hancur. Jerome juga menceritakan, jika bukan dirinya yang menggalakan rencana Jihan. Melainkan sang kakek, Tuan Dewano.


Di ruang tamu, duduk Tuan Adipavi dan Nyonya Mesya. Tak lupa, Tuan Dewano juga ada di sana. Serta Jihan sebagai seseorang yang seharusnya menjadi tersangka.


Tapi lihatlah, Jihan malah terlihat tenang dan acuh. Seakan dirinya akan baik-baik saja. Meski sudah melakukan kejahatan yang tidak bisa dianggap remeh.


Jerome hanya menceritakan apa yang diperbuat oleh Jihan. Tanpa meminta kedua orang tuanya untuk menghukum atau melakukan sesuatu terhadap Jihan.


Mawar tersenyum. "Mawar sudah memaafkan Jihan tante. Toh, Mawar baik-baik saja." tukas Mawar, seakan tak terjadi apa-apa.


"Kamu memang anak yang baik." tutur Nyonya Meysa.


"Terimakasih tante. Lagi pula, Mawar tidak jadi disentuh oleh lelaki yang di bayar oleh Jihan. Jadi, Mawar merasa tidak terjadi sesuatu dengan Mawar."


Nyonya Meysa tersenyum kaku. Lelaki yang dibayar Jihan. Sebuah penegasan yang keluar dari mulut Mawar, mengatakan jika Jihan memang patut di hukum.


"Apa yang ada di dalam otak kamu?!" bentak Tuan Adipavi, menatap Jihan dengan tatapan murka.


"Pa, sudahlah. Jihan masih anak-anak." ujar Nyonya Meysa.


"Anak-anak. Baiklah kalau begitu." batin Mawar tersenyum samar.


"Sayang, apa kamu mengatakan pada orang lain?" tanya Nyonya Meysa.


Mawar menggeleng sembari tersenyum. "Tidak tante. Mawar tidak mengatakan pada siapapun." jelas Mawar.


Sebab, kedua sahabatnya, Mira dan Selly mengetahuinya dari Jerome. Bukan Mawar. Itu artinya, Mawar tidak berbohong.


"Ciih... tidak mengatakan pada siapapun. Pembual. Lantas bagaimana dengan Mira dan Selly?!" seru Jihan.


"Aku yang menceritakan pada mereka. Bukan Mawar." tegas Jerome.


"Astaga Jihan. Ternyata benar perkataan tante Meysa. Kamu masih anak-anak. Padahal usia kita hanya berjarak satu tahun." sindir Mawar.


Jihan menatap tajam ke arah Mawar. Sedangkan Mawar, tampak tenang dan santai. Seolah Mawar tahu, pion apa yang akan dia mainkan terlebih dahulu.


"Pa, sudahlah. Anggap saja semua tidak terjadi. Mawar juga sudah memaafkan Jihan. Benarkan Mawar?" tanya Nyonya Meysa membujuk sang suami.


Tuan Dewano masih diam. Beliau ingin melihat ketegasan sang putra dalam menyikapi masalah ini.


"Semuanya, maaf. Mawar ke belakang sebentar." pamit Mawar.


Mawar berdiri, dia sengaja melewati jalan di mana Jihan duduk di sana. "Mawar...!" seru Jihan.


Saat Mawar menyenggol minuman dan tumpah mengenai kaki Jihan. "Astaga, maaf Jihan. Aku nggak sengaja." cicit Mawar tersenyum samar.


"Tidak sengaja kamu bilang. Lihat...!! apa mata kamu buta...!! Ada minuman di sini, kenapa kamu malah lewat sini dan menyenggolnya....! Perempuan bodoh...!!" bentak Jihan.


Mawar hanya diam. Tersenyum penuh makna. Dengan mudah, Jihan masuk permainan Mawar. "Namanya tolol, tetap saja tolol." batin Mawar.


"Jihan..." tegur Nyonya Meysa.


"Ma,,, lihat. Sandal mahal Jihan basah. Astaga.... Apa mama mau bilang, tidak masalah. Menyuruh Jihan memaafkan Mawar. Tidak akan...!!" seru Jihan menggebu-gebu.


"Jihan...!!" bentak Nyonya Meysa menaikkan nada suaranya.


"Apa ma, mama mau membela perempuan kampungan ini..?!" jari Jihan menunjuk ke arah Mawar. "Dia salah ma, bukan Jihan yang bersalah."


"Jihan...!!" geram Nyonya Meysa memejamkan kedua matanya sejenak.


"Anak ini, tidak bisa dianggap remeh. Dia terlalu licik." batin Nyonya Meysa menatap Mawar.


"Apa yang kamu inginkan, karena Mawar berbuat salah pada kamu?" tanya Tuan Dewano membuka suara.


Jihan tersenyum. "Tentu saja Mawar harus berlutut dan meminta maaf." sinis Jihan.


"Haruskan aku melakukan itu kek?" tanya Mawar memandang Tuan Dewano. Jerome tersenyum memandang Mawar. Dirinya sekarang tahu bagaimana cerdasnya Mawar mengalahkan lawan.


"Cukup....!!" seru Tuan Adipavi.


Tuan Adipavi memandang tajam Jihan. "Kamu menyuruh Mawar berlutut. Hanya karena segelas air yang membasahi sepatu kamu."


"Lalu, apa yang seharusnya kamu lakukan. Karena tindakan serta rencana kamu membayar lelaki untuk menodai Mawar. Katakan...!!" seru Tuan Adipavi.


"Pa.." panggil Nyonya Meysa lirih.

__ADS_1


"Diam...!!" bentak Tuan Adipavi.


"Jika kamu tidak bisa menerima dengan apa yang aku putuskan. Bawa putrimu angkat kaki dari rumah ini. Bawa putri kamu yang masih anak-anak ini pergi dari rumah ini...!!" ancam Tuan Adipavi.


Nyonya Meysa menghela nafas panjang. Menatap Mawar dengan kesal. Tidak menyangka jika kalimat itu akan keluar dari mulut sang suami.


Tapi Mawar, seolah dirinya berpura-pura tidak tahu, jika Nyonya Meysa sedang menatapnya. Kenyataannya, Mawar tersenyum sempurna. Rencananya berjalan dengan lancar. Sesuai uang diinginkannya.


"Pa, Mawar juga tidak kenapa-napa. Kenapa papa mesti repot. Masih juga membahas itu." sanggah Jihan masih bisa membela diri.


"Jika Mawar kenapa-napa, apa kamu akan bertanggung jawab. Atau malah senang, karena rencana kamu berhasil?!" tegas Tuan Adipavi.


Mulut Jihan seakan terbungkam. Dilihatnya Mawar yang tengah menatap ke arahnya juga. "Mawar, apa yang kamu inginkan?" tanya Tuan Dewano dengan lembut.


Mawar menggeleng sembari tersenyum tulus. "Tidak ada kek. Mawar sudah mempunyai semuanya." tukas Mawar.


"OKB." sindir Jihan. (Orang Kaya Baru)


"Tutup mulut kamu." tegas Jerome.


"Lihat, benar kata mama. Kamu ternyata masih anak-anak. Dan sudah menjadi tugas orang tua untuk mendidik anak-anaknya agar tak sampai salah jalan." tekan Jerome.


"Apa maksud kamu?!" tanya Jihan dengan nada tak suka.


Mawar menatap Jerome. "Terimakasih sayang." batin Mawar. Dengan Jerome berkata demikian. Itu tandanya Jerome akan mendukung apapun keputusan Mawar.


"Papa akan kirim kamu ke asrama." tegas Tuan Adipavi memutuskan.


Jihan berdiri seketika. "Tidak. Papa tidak punya hak atas Jihan. Tidak ada...!!" teriak Jihan dengan lantang.


"Pa,,,, jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Mana bisa papa mengirim putri kita ke sekolah seperti itu. Mama tidak rela." tolak Nyonya Meysa.


"Mama tidak rela. Baiklah, sekalian mama berkemas. Temani Jihan untuk tinggal di sana." sahut Tuan Adipavi dengan enteng.


"Mana bisa seperti itu pa..??!" seru Nyonya Meysa.


"Pa,,, papa memang orang tua Jihan. Tapi apa papa lupa. Sejak kecil, Jihan dirawat dan di besarkan oleh siapa. Apa papa pikir papa punya hak atas diri Jihan..!! Tidak ada...!!" seru Jihan.


Mawar melotot tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Hebat sekali lidah anak ini." batin Jihan.


"Baiklah. Jika itu keinginan kamu. Papa tidak punya hak apapun atas kamu. Karena kamu dibesarkan oleh saudara mama kamu. Sepeti itu maksud kamu?"


Tuan Adipavi mengangguk pelan. "Jerome, kamu tahukan, apa yang harus kamu lakukan?"


"Papa tenang saja. Jerome yang akan mengurus semuanya."


"Pa... jangan pa,,, jangan lakukan apapun...!!" pinta Nyonya Meysa.


Nyonya Meysa terlihat ketakutan. Dan Jihan memasang ekspresi biasa. Seakan apa yang dilakukan sang papa sama sekali tidak akan mempengaruhi hidupnya.


"Maaf ma, papa tidak punya hak atas kehidupan Jihan." tegas Tuan Adipavi.


"Jihan. Minta maaf sama papa kamu. Ayo..!!" pinta Nyonya Meysa memaksa Jihan.


Nyonya Meysa mencekal lengan Jihan. "Apa sih ma. Memang Jihan salah apa. Semua yang Jihan katakan semua adalah kebenaran. Kalian sama sekali tidak mempunyai hak atas kehidupan aku. Bibi dan paman yang berhak. Mereka yang membesarkan dan merawat aku selama ini." ungkap Jihan tanpa memikirkan perasaan Tuan Adipavi serta Nyonya Meysa.


Nyonya Meysa menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Tuan Adipavi tersenyum miring. "Lihatlah. Inilah buah dari keputusan kamu." sindir Tuan Adipavi.


Sedangkan Tuan Dewano terlihat tenang, menyeruput minuman di dalam cangkirnya dengan nikmat. "Apa yang sebenarnya terjadi di keluarga ini." batin Mawar.


"Jerome.... jangan. Jangan lakukan apapun?!" seru Nyonya Meysa, saat sang putra mengeluarkan ponselnya.


"Maaf, Jerome hanya bawahan, yang akan selalu setia kepada atasan." jelas Jerome tidak mengindahkan permintaan sang mama.


"Halo, bekukan semua rekening serta semua aset mereka. Ambil kembali perusahaan. Sekarang juga." perintah Jerome pada seseorang di seberang ponselnya.


Air mata Nyonya Meysa menetes di kedua pipinya. "Ini semua gara-gara kamu..!!" tuding Nyonya Meysa menatap tajam ke arah Mawar.


Mawar mengerjap heran. "Salah Mawar. Tante,,, Mawar masih seumuran Jihan. Kita hanya selisih satu tahun. Apa anak-anak bisa berbuat salah." cicit Mawar yang tidak mengerti apapun.


Tuan Dewano serta Jerome tersenyum samar. Juga Tuan Adipavi. Tentu saja mereka terhibur dengan ucapan Mawar.


Ketiga lelaki tersebut yakin, Mawar tidak tahu apa yang terjadi dalam keluarga mereka. Tapi dia bisa memanfaatkan keadaan dengan baik. "Anak yang cerdas." batin Tuan Adipavi.


Nyonya Meysa menghela nafas panjang. Apa gang dikatakan Mawar memang benar adanya. Nyonya Meysa juga yakin, jika Mawar sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di kelurganya.


"Oke. Semua sudah setuju. Kalian, satupun tidak ada yang bisa memerintah Jihan. Paham." ucap Jihan dengan sombong.

__ADS_1


Mawar mengerutkan keningnya. "Astaga. Apa dia dilahirkan dari batu." batin Mawar, pasalnya Jihan sama sekali tidak mempunyai sopan santu.


"Bik...!!" panggil Jihan dengan berteriak.


Seorang pembantu berlari tergopoh-gopoh mendatangi Jihan. "Jaga lidah kamu. Rumah ini bukan hutan. Kamu tidak mempunyai hak apapun di rumah ini. Apa kamu lupa, dengan apa yang baru saja kamu katakan." tegas Tuan Dewano.


"Bik, kembali ke belakang. Katakan pada semuanya. Mulai hari ini, Jihan bukan lagi Nona Muda di keluarga Sekhar. Kalian tidak mempunyai kewajiban melayani serta mengerjakan apapun yang dia katakan. Apapun." tegas Jerome.


Jihan tersenyum kesal. "Kalian pikir aku akan kebingungan. Tidak akan. Lagi pula, aku akan kembali ke negara di mana aku dibesarkan. Tidak berguna." sarkas Jihan.


Ponsel Jihan berbunyi. "Bibi. Ada apa, tumben." cicit Jihan, saat melihat sang bibi menghubungi dirinya.


Nyonya Meysa memasang wajah sedih. Sedangkan, ketiga lelaki di sekitar Mawar tersenyum santai. "A......." ucapan Jihan terhenti.


Dan entah apa yang membuatnya menghentikan perkataannya. Jihan memandang semua yang ada di ruangan secara bergantian.


Jihan mematikan panggilan teleponnya. "Apa yang sudah kalian lakukan?!" teriak Jihan.


"Mengembalikan semuanya ke tempat yang seharusnya." sahut Jerome.


"Kamu pikir, kamu selama ini memakai uang siapa anak kecil? Kamu pikir, kamu bisa membeli semua barang mahal, menggunakan daun." tukas Tuan Dewano.


"Kamu sudah memilih untuk hidup bersama paman dan bibi kamu. Maka, lakukanlah. Dan kelurga Sekhar, tidak akan pernah lagi mencampuri kehidupan kamu. Mulai sekarang. Kamu bebas. Jihan." tegas Tuan Dewano yang selama ini muak dengan tingkah Jihan yang sombong.


"Silahkan kembali ke negara, di mana kamu dibesarkan. Aku ingin lihat, bagaimana cara kamu kembali ke sana." sindir Tuan Dewano.


"Kalian akan menyesal." teriak Jihan, berlari ke arah tangga. Untuk menuju ke kamarnya.


"Jihan...!!" panggil Nyonya Mesya berteriak. Beliau segera berlari untuk menyusul sang putri.


Tuan Adipavi menghela nafas panjang. "Maaf, kamu harus menyaksikan drama kelurga kami."


"Mawar juga minta maaf om, semua karena Mawar." ucap Mawar tulus, sebab Jihan melakukan semuanya karena rasa cemburunya pada Mawar.


"Bukan. Kamu tidak bersalah. Anak itu yang harus dididik lebih keras." tegas Tuan Dewano.


"Sayang,,, boleh aku bertanya?" tanya Jerome pada Mawar.


Mawar tersenyum malu, apalagi jika bukan karena Jerome memanggilnya dengan sebutan sayang dihadapan sang papa dan kakek.


"Kemana mereka mengirim Dona?"


Mawar tersenyum canggung. Bagaimana bisa Jerome menanyakan hal tersebut pada dirinya. "Mak-maksud kamu?"


"Kata Dami, kamu yang memberikan ide pada mereka." tukas Jerome.


Mawar manggut-manggut. "Ke sebuah pondok pesantren."


Tuan Adipavi, Tuan Dewano, serta Jerome menatap Mawar dengan tatapan tak percaya. Pasalnya, mereka tahu bagaimana peringai Dona.


Dona dan Jihan. Keduanya mempunyai peringai yang sama. "Tempatnya sangat terpencil. Bahkan, sinyal saja di sana tidak ada." jelas Mawar.


"Bagaimana kamu menyakinkan Nyonya Utami?" tanya Tuan Adipavi.


"Semua bukti kejahatan Dona. Dan ya,,,, cukup untuk mereka mengirim Dona ke sana. Dan Dona, dibawa dalam keadaan sadar." jelas Mawar.


"Apa kamu tahu, bagaimana keadaan Dona sekarang?" tanya Jerome.


"Kata kak,,, eh Nyonya Utami, Dona perlahan mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan di sana."


Mawar yang awalnya menatap Jerome, langsung mengalihkan pandangannya. Apalagi Mawar sempat menyebut kata kak. Dan Jerome bisa meneruskan kata apa di belakang kata kak tersebut. Dami.


"Dia yang bertanya, dia yang cemburu." batin Mawar, melihat ekspresi Jerome yang terlihat kesal.


Jerome berkali-kali mengatakan pada Mawar untuk menjauhi para lelaki. Termasuk Dami. Tentu saja karena Jerome terlalu pencemburu.


"Mawar, apa kamu bisa membantu kami. Siapa tahu Jihan bisa berubah." tanya Tuan Adipavi.


Mawar tersenyum canggung. "Maaf om, Mawar tidak tahu harus melakukan apa." sahut Mawar.


"Kalau gue punya anak kayak Jihan, pasti sudah gue kurung di rumah. Gue suruh bersih-bersih rumah saja." kata Mawar, yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.


Lagian, mana mungkin Mawar memberi masukan pada mereka. Masa bodo dengan Jihan. Jika Jihan tetap berkeliaran di sekitarnya, Mawar juga punya rencana lain.


Ditambah, Mawar punya Mira dan Selly. Serta Luck dan Tian. Sangat mudah bagi Mawar untuk membuat Jihan selalu berada dalam masalah. "Jika keluarga elo nggak bisa membuat elo berubah, jangan salahkan gue. Jika gue yang akan selalu membuat elo dalam kesulitan." batin Mawar.


Mawar tak yakin, jika Tuan Adipavi akan tega mengasingkan Jihan ke sebuah asrama. Mawar bisa melihat keraguan di dalam pancaran kedua mata Tuan Adipavi saat beliau ingin membawa Jihan ke tempat tersebut.

__ADS_1


"Maaf om, jangan salahkan Mawar, jika Mawar akan membuat putri om dalam masalah. Biar sekali-kali dia tahu, bagaimana rasanya terkena duri dari bunga Mawar." batin Mawar.


__ADS_2