MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 147


__ADS_3

"Kenapa pa...!!! Kenapa?" teriak Gaby.


Tuan Djorgi hanya bisa diam, berdiri seraya memandang ke arah sang putri yang sedang meluapkan amarahnya.


Gaby memandang lekat ke arah sang papa."Cari cara. Bagaimanapun caranya, papa harus menikah dengan tante Lina...!!" seru Gaby kekeh dengan keinginannya.


Kedua anak dan papa saling memandang. Sekarang, Djorgi tahu, apa tujuan Gaby mendesak dirinya agar menikah dengan Lina.


Beliau mengetahuinya dari cara Gaby menatap Mawar. Dan juga interaksi keduanya di rumah Lina. Tak ada keakraban sama sekali. Meski Djorgi terlihat acuh, tapi sebenarnya dia memperhatikan sang putri.


Dirinya juga penasaran. Kenapa Gaby bisa berubah dengan cepat. Apalagi, dia menginginkan dirinya untuk menikah lagi. Padahal, sebelumnya Gaby dengan tegas menolak jika sang papa hendak mempunyai pendamping lagi.


"Apa yang kamu inginkan. Setelah papa bisa mendapatkan tante Lina. Menjadikan dia sebagai mama tiri kamu?" tanya Djorgi. Mencoba memancing agar sang putri berbicara dengan jujur. Alasan dibalik keinginannya tersebut.


Gaby bukan gadis bodoh. Dia tersenyum miring. Mengerti jika sang papa, hanya ingin mengetesnya saja. "Pa, Gaby juga ingin merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Apa itu salah?!" ucap Gaby terdengar tulus.


Yang memang pada kenyataannya, dirinya sejak kecil tidak pernah di rawat oleh sang mama. Seperti bayi-bayi pada umumnya.


"Apa kamu yakin, tante Lina akan bisa memperlakukan kamu, seperti dia memperlakukan Mawar. Seperti dia menyayangi Mawar? Kamu yakin, tante Lina bisa berlaku dengan adil pada kalian?"


"Papa...!! sebenarnya papa niat nggak sih, menikah dengan tante Lina. Papa cinta nggak sih, dengan tante Lina?!" geram Gaby.


Pasalnya, Djorgi terlihat enggan dan terlihat tidak ingin berusaha mendapatkan hati Lina. Seperti itulah di mata Gaby.


"Jika kamu menginginkan kasih sayang dari seorang ibu. Kamu bisa, pergi ke rumah mama kamu. Tinggal di sana. Bukankah itu lebih bijak. Sekalian, perbaiki hubungan kamu dengan mama kamu. Serta saudara-saudara kamu yang ada di sana." cicit Djorgi, menasehati Gaby.


"Astaga." desis Gaby, mengeraskan kedua rahangnya. Menahan emosi yang akan kembali tersembur keluar.


"Pa, yang Gaby mau tante Lina. Bukan mama." tegas Gaby tak terbantahkan.


"Bukankah lebih baik mama kandung kamu sendiri. Dari pada mama tiri."


Tuan Djorgi duduk di kursi depan Gaby. "Kamu tahu konsekuensi apa yang akan kamu terima. Jika papa menikah dengan tante Lina?"


Gaby terdiam. Menaikkan sebelah alisnya, tak paham dengan perkataan sang papa. "Konsekuensi." lirih Gaby.


Tuan Djorgi tersenyum. "Iya. tante Lina mengatakan pada papa. Jika dia tidak akan pernah meninggalkan rumahnya. Meskipun sudah menikah." ucap Djorgi, berbohong pada Gaby.


Kenyataannya, Lina dan Djorgi sama sekali tidak pernah membicarakan hal tersebut. "Tidak mungkin, perempuan mana yang akan menolak, hidup dengan segala kemewahan." cibir Gaby tersenyum heran.


"Apa kamu lupa. Siapa orang tua Lina." sahut Tuan Djorgi.


Gaby terdiam. Memikirkan hal tersebut. Yakni, sampai detik ini, Lina dan Mawar masih betah tinggal di rumah seuprit tersebut. Padahal sudah jelas siapa kedua orang tua Lina.


Dan Gaby pasti tidak akan tahan dan betah untuk tinggal di sana. Apalagi tanpa pembantu. Tidak akan bisa. Rumahnya terlalu kecil, dan Gaby harus mengerjakan semuanya sendiri. Tidak.


Mereka juga bahkan akan membangun toko kue di depan rumah. Yang artinya, mereka tidak akan pindah ke kediaman Tuan Tomi.


"Satu lagi. Papa tidak bisa memaksakan kehendak. Ataupun keinginan papa. Dan papa, akan mendekati tante Lina dengan cara papa sendiri." tegas Tuan Djorgi.


Tuan Djorgi meninggalkan sang putri sendiri. Djorgi sadar, dirinya terlalu memaksa dan menekan Lina. Padahal Lina baru saja bercerai. Bahkan, perceraian mereka belum genap lima bulan.


Sedangkan dirinya, memerlukan waktu lebih dari lima belas tahun. Untuk bisa membuka hatinya. Setelah ditinggalkan sang istri. Itupun mereka menikah bukan atas dasar cinta. Tapi perjodohan.


Lantas, bagaimana dengan Lina. Yang ditinggalkan oleh sang suami demi perempuan lain, yaitu adik dari Djorgi sendiri. Tidakkah Lina malah semakin merasakan sakit yang luar biasa, ketimbang Djorgi. Karena keduanya menikah atas dasar cinta.


Oleh karena itu, Djorgi tidak ingin lagi menggunakan rencana gila sang putri untuk mendekati Lina. Dan menyegerakan pernikahan mereka, dengan cara yang licik.


Djorgi akan mendekati Lina secara perlahan. Secara alami. Supaya keduanya saling mengenal satu sama lain. Djorgi juga perlu mendekati Mawar. Sebab, jika dia menginginkan Lina. Dia juga harus bisa mengambil hati dari Mawar. Putri semata wayang Lina.


Gaby menggeleng, tersenyum kecut melihat sang papa yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya, tanpa mendengarkan keinginannya.


"Hah,,, gagal sudah rencana gue." geramnya.


"Nggak boleh. Hanya ini yang bisa gue lakukan saat ini." lanjut Gaby.


Gaby menyalakan ponselnya. "Dona. Gue harus meminta bantuan pada dia. Enak saja, gue juga harus menekannya, supaya membantu gue." ujar Gaby, yang sudah memaafkan kelakuan Dona.


Hingga Dona terlepas dari jerat hukum. Dan sekarang, Gaby ingin meminta balasan akan hal yang telah dia lakukan.


Tanpa Gaby tahu, saat ini Dona sudah berada di pondok pesantren. Yang jauh dari jangkauannya. Bahkan, ponselpun mungkin tidak akan busa digunakan. Karena tidak ada sinyal. "Sial... Kenapa ponselnya nggak aktif."


Gaby semakin kesal. Lantaran Dona tidak bisa dihubungi. "Weni. Mungkin dia bisa membantu gue." tukasnya.


Segera Gaby menekan nomor Weni. Gaby juga sama sekali tidak mengetahui, jika Weni sekarang juga sudah tidak berada di negara ini. "Ada apa ini? Kenapa mereka berdua sulit sekali dihubungi." geram Gaby.


"Apa mereka berdua sengaja mematikan ponsel." Weni dan Dona. Hanya dua nama itu yang ada dalam benaknya. Yang bisa Gaby andalkan untuk meminta tolong. Siska, dia sudah membelot dari kelompok.


"Dimana mereka berdua." sungut Gaby. Di saat seperti ini, di saat dirinya sedang membutuhkan bantuan, kedua temannya malah hilang entah kemana. Dan tak bisa dihubungi.


Menyebalkan.


Sementara di rumah Lina, Mawar sedang bersantai. Dirinya tinggal sendiri di rumah. Lantaran sang ibu, beserta kakek nenek sedang pergi keluar.


Sebenarnya, Mawar juga diajak. Tapi Mawar malas dan enggan untuk ikut. Sebab, ketiganya pergi menemui rekan bisnis sang kakek. Dan Mawar masih belum terbiasa melakukan hal tersebut.


Mawar lebih memilih bersantai di depan televisi, menonton acara televisi, dengan camilan di tangannya. Sangat menyenangkan.


Apalagi, sekarang butik juga masih tutup. Dan juga, Mawar sudah memutuskan untuk menerima tawaran dari sang kakek.


Jika dirinya akan fokus ke belajar. Tanpa harus bekerja mencari uang. Sebab, semua biaya akan ditanggung oleh sang kakek.

__ADS_1


Setelah Mawar renungkan dan pikirkan dalam keadaan yang tenang, Mawar memutuskan hal tersebut. Mawar beranggapan, jika dirinya menerima tawaran sang kakek, makan dia akan semakin mendekatkan diri pada kedua orang tua sang ibu.


Mawar juga yakin, harta keduanya juga tidak akan habis, meski terpakai untuk membiayai sekolahnya. Selain itu, Mawar melihat sang ibu begitu bahagia setelah bertemu dengan kedua orang tuanya.


Tak lagi memikirkan tenang sang ayah. Tak lagi bangun pagi, dan harus bekerja di toko kue milik Tuan Djorgi. Sebab, Lina akan membuka toko kue sendiri. Sesuai saran Mawar, dia akan membuka toko kue di depan rumah.


Oleh karenanya, Mawar juga tidak ingin mengecewakan sang ibu, dengan menolak tawaran sang kakek.


Fokus Mawar teralihkan, saat ponselnya berdering. Ternyata panggilan telepon dari pembantu yang bekerja di rumah Dami.


"Ada apa ya." segera Mawar mengangkatnya. Sebab, Mawar tahu jika saat ini Dami sedang tidak berada di rumah.


Mawar menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya. "Halo, ada apa bik?" tanya Mawar dengan ramah pada pembantu di kediaman Nyonya Utami di seberang telepon.


Mawar langsung mengubah posisi badannya. Yang dari bersandar santai, menjadi duduk tegak. Ekspresi wajah Mawar juga berubah, mendengarkan suara di seberang ponselnya.


"Mawar akan segera ke sana." tanpa menunggu lawan bicaranya mengeluarkan suara, Mawar memutuskan panggilan teleponnya sepihak.


Mawar sudah berjanji pada Dami. Jika dia akan melindungi Nyonya Utami selama Dami tidak berada di rumah. Dan lagi, Mawar merasa berhutang pada Nyonya Utami.


Di saat dirinya sedang kesulitan mencari pekerjaan. Di saat semua toko yang dia datangi menolaknya dengan alasan dia masih duduk di bangku SMA, Nyonya Utami menerimanya. Dan memperlakukan Mawar dengan baik.


Dengan tergesa, Mawar keluar dari rumah. Ponselnya hanya dia masukkan ke dalam saku. "Astaga, dompet." Mawar menepuk keningnya sendiri dengan pelan.


Saking terburu-buru, Mawar hingga lupa membawa dompet. Mawar kembali masuk. Mengambil tas yang di dalamnya sudah ada dompetnya dan yang pasti ada uangnya.


Mawar berlari meninggalkan rumah. "Semoga ada ojek di pangkalan." batinnya, dengan pandangan menyapu sekeliling.


Biasanya, jam-jam segini, para ojek tidak ada di tempat. Sebab mereka sudah berpencar mengantar langganan.


Mawar terus berjalan menjauh, menuju ke pangkalan ojek. "Itu dia." Mawar tersenyum, melihat ada beberapa ojek yang berhenti di pangkalan ojek.


Tanpa melihat sekeliling, Mawar berlari. Dsn bahkan menyeberang, tanpa menengok ke belakang.


Tiiittt..... Mawar terdiam. Dadanya berdebar karena terkejut bercampur takut. Hampir saja dirinya tertabrak motor.


"Tuhan... astaga. Hampir saja." gumam Mawar, menaruh tangannya di depan dadanya yang berdetak kencang. Karena kecerobohannya, Mawar hampir celaka.


Seorang lelaki dengan helm face full turin dari motor. Menghampiri Mawar. "Maaf, sungguh,,, saya minta maaf." cicit Mawar merasa bersalah.


Mawar berulang kali sedikit membungkukkan badan. Mengucapkan kata maaf. "Maaf."


Mawar membalikkan badan, berniat pergi meninggalkan lelaki tersebut. Tapi, tangannya malah dicekal olehnya. "Ehh,,, ada apa?!" tanya Mawar terkejut.


Dilepaskannya tangan Mawar. Lalu dibukanya helm yang menutupi kepala hingga wajahnya. "Thomas." cicit Mawar, merasa lega.


Thomas tersenyum. "Mau kemana. Buru-buru banget?" tanyanya.


"Urgent."


Mawar mengangguk. "Oke. Biar aku antar." tawar Thomas.


"Urusan pentingkan. Biar aku antar. Jadi lebih cepat sampai." tukas Thomas, melihat Mawar ragu untuk menerima tawarannya.


Mawar berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Thomas memang benar. Yang terpenting sekarang bagaimana caranya segera sampai di kediaman Nyonya Utami.


"Kak Thomas tahu rumah Tuan Joko,, emmm,,, atau Nyonya Utami?"


Thomas mengangguk ragu. Menyebutkan alamat rumah mereka. "Benar." seru Mawar, setelah Thomas menyebutkan dengan benar alamat rumah yang akan Mawar datangi.


Mawar berada di belakang, dengan Thomas berada di depan. Menyetir motor. "Kenapa jalannya seperti siput." batin Mawar.


Niat hati ingin segera sampai. Tapi, jika cara Thomas melajukan sepeda motornya seperti ini, pasti mereka akan tiba satu jam lagi di rumah Nyonya Utami.


Menyuruh Thomas untuk melajukan motornya dengan kencang, Mawar merasa tidak enak hati.


Sedangkan Thomas, tampak santai, menikmati perjalanannya dengan Mawar. Kapan lagi bisa berboncengan dengan Mawar, berdua naik sepeda motor.


Mawar menepuk bahu Thomas. "Kak,,,!! Stop...!!" seru Mawar.


Thomas menghentikan sepeda motornya. Mawar segera turun. "Sampai di sini saja kak. Terimakasih."


Mawar berlari dengan memanggil ojek. "Loh.... Mawar...!!" seru Thomas kebingungan.


Mawar minta dirinya berhenti, lalu dia turun dan mencari ojek. "Mawar....!" teriak Thomas, saat Mawar naik ojek.


"Nyuruh gue menambah kecepatan kan bisa." gumam Thomas merasa menyesal karena berjalan dengan lambat.


Segera Thomas menyalakan kembali mesin motornya. Mengejar ojek yang membawa Mawar, melaju dengan kencang.


Mawar memberikan ongkos pada tukang ojek. "Terimakasih pak, ambil kembaliannya." seru Mawar, bergegas lari ke dalam pekarangan rumah Nyonya Utami.


Thomas juga berhenti di seberang jalan. Melihat apa yang sebenarnya membuat Mawar tiba-tiba turun dari motornya. Lalu memilih pergi menggunakan ojek.


"Ibu di mana?" tanya Mawar, pada satpam.


"Di dalam Non, pintu rumah di kunci dari dalam."


"Siapa saja yang ada di dalam?"


"Tuan Joko tadi datang bersama Nyonya Puri."

__ADS_1


"Para pembantu ada di dalamkan?"


"Ada Non."


"Apa ada jalan lain untuk masuk ke dalam?"


"Ada Non, tapi semua pintu terkunci dari dalam."


Tampak wajah kedua satpam terlihat cemas dan ketakutan. "Maaf Non, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami diancam."


Mawar mengangguk. "Pak, tutup gerbangnya. Jangan ada yang boleh keluar dari dalam. Siapapun itu. Kak Dami sedang dalam perjalanan."


"Baik Non."


"Satu lagi, jika nanti ada teman saya yang datang. Suruh dia masuk. Namanya,,, Jerome." pinta Mawar.


"Baik Non."


Mawar segera mengambil ponsel. Hanya Jerome yang saat ini bisa Mawar andalkan. Segera dia menulis pesan pada Jerome. Memberitahukan posisinya pada sang kekasih.


Mawar yakin, meski Jerome sedang marah padanya. Tapi dia akan datang ke tempat ini. Apalagi Mawar mengatakan jika dirinya hanya bersama dengan Nyonya Utami.


"Pak, bisakah saya masuk? Saya khawatir dengan ibu?" tanya Mawar terlihat cemas.


Kedua satpam di depan Mawar terharu melihat ketulusan hati Mawar. "Bisa Non, kita lewat pintu belakang saja. Ada pintu kecil di sana."


"Ya sudah, kamu antar Non Mawar, saya akan menutup gerbang." timpal rekannya.


"Mari Non." pak satpam berjalan di depan, membimbing jalan untuk Mawar.


Sedangkan di dalam ruang tamu, Nyonya Utami duduk dengan tenang. Beberapa pembantu berdiri di sekitar beliau.


Di depan, duduk Tuan Joko bersama Nyonya Puri. Mereka terpisah dengan adanya sebuah meja di tengah.


Nyonya Puri duduk dengan angkuh. Menatap remeh ke arah Nyonya Utami. Dirinya seakan mengatakan pada Nyonya Utami, jika dialah pemenangnya. Terbukti, dirinya yang duduk di samping Tuan Joko.


Tuan Joko membuka sebuah map, yang didalamnya terdapat beberapa lembar kertas. Menyodorkannya pada sang istri. Sebab keduanya belum bercerai.


"Tanda tangani. Setelah itu, kita akan bercerai. Sesuai keinginan kamu." ucap Tuan Joko tanpa rasa bersalah.


Nyonya Utami tersenyum miring. "Nyonya Puri, apa anda tidak punya malu. Duduk di samping lelaki yang masih beristri." sindir Nyonya Utami.


"Astaga,,,, maaf saya lupa. Kenapa harus malu. Tidur seranjang tanpa sehelai benangpun anda tidak malu. Bodoh, kenapa saya harus bertanya seperti itu." lanjut Nyonya Utami menggeleng pelan.


Nyonya Puri tersenyum masam. "Jangan banyak bicara. Tanda tangan saja...!" bentaknya, melotot pada Nyonya Utami.


Pembantu yang berada di belakang Nyonya Utami, sedari dari menatap pintu. Sebab, dialah yang menghubungi Mawar. Dan meminta tolong pada Mawar.


Sang pembantu tahu, jika sebenarnya Nyonya Utami hanya berpura-pura kuat. Dia sebenarnya tidak akan mampu bertahan lama, jika berhadapan dengan kedua manusia hina ini.


"Ooohhh.... kalian datang, dengan pakaian,,, serta semua yang kalian bawa adalah milikku. Dan sekarang, kalian ingin meminta lebih. Serakah."


Brak.... Tuan Joko menggebrak meja dengan kuat. "Jangan banyak bicara omong kosong. Tanda tangan saja...!!" bentaknya.


"Anjing saja tidak akan menggigit majikan yang setiap hari memberi makanan padanya." ejek Nyonya Utami, menggenggam erat telapak tangannya.


"Lancang....!!" seru Tuan Joko.


Tuan Joko mengangkat tangannya, ingin menampar Nyonya Utami. Tapi terhenti saat ada air mengguyur ke wajahnya.


Byurr...... "Astaga..." seru Nyonya Puri, segera berdiri. Sebab dirinya juga terkena air tersebut.


"Mawar." gumam Nyonya Utami.


Ada perasan lega dalam hati Nyonya Utami, melihat Mawar datang. Bibir Nyonya Utami tersenyum samar. "Ibu baik-baik saja?"


Nyonya Utami mengangguk. Segera Mawar berdiri di samping Nyonya Utami, dengan tangan memegang pundak beliau.


"Kamu...!! Jangan ikut campur....!!" bentak Tuan Joko.


Nyonya Puri mengusap wajah Tuan Joko yang basah dengan tisu. Mawar tersenyum miring memandangnya. "Anda seorang perempuan terhormat. Dan menjadi janda dengan cara terhormat. Tapi sayang, kelakuan anda sama sekali tidak mencerminkan semua itu."


"Diam kamu anak kecil. Jangan suka mencampuri urusan orang lain. Atau kamu akan menyesal." ancam Tuan Joko.


Nyonya Utami memegang erat ujung baju Mawar bagian belakang. Dan Mawar merasakan tarikannya. Mawar tahu, Nyonya Utami sedang ketakutan.


"Anda yang akan menyesal. Membuang berlian, hanya untuk sebuah kerikil jalanan." sahut Mawar tersenyum remeh.


"Kamu... Sebaiknya kamu pergi. Atau aku akan bertindak kasar pada kamu...!" gertak Tuan Joko.


Mawar melihat ke arah samping. Dimana ada seorang pembantu yang memegang ponsel, mengarahkannya pada mereka. "Silahkan kalau berani." Mawar kembali menatap Tuan Joko dengan tatapan menantang.


"Kamu. Matikan ponselnya...!!" seru Tuan Joko.


Mawar membawa tubuh Nyonya Utami semakin dekat dengannya. "Saya heran dengan anda. Apa yang ada di pikiran anda. Menjadikan istri sendiri sebagai seorang janda, hanya untuk bisa bersama dengan janda yang lebih rendah." hina Mawar pada Nyonya Puri.


Mawar sengaja bermain kata-kata. Dirinya hanya ingin mengukur waktu. Hingga Jerome, atau Dami datang.


Tuan Joko berjalan menuju ke arah sang pembantu yang memegang ponsel. Keduanya berebut untuk mendapatkan ponsel tersebut.


Tapi tetap saja, sang pembantu yang hanya seorang perempuan kalah tenaga dengan Tuan Joko.

__ADS_1


Prak..... Dengan keras, Tuan Joko membanting pinsel tersebut di atas lantai. Lalu memandang Mawar dengan tatapan tajam.


__ADS_2