
Sementara Mawar masih duduk di dalam angkot dengan tenang. Namun siapa sangka, ketenangannya terusik akan kedatangan seseorang yang sangat dia hindari.
"Hay." sapa seorang lelaki duduk di samping Mawar.
Mawar menoleh ke samping. Seorang lelaki tersenyum ramah ke arahnya. "Lucu banget sih kamu." tuturnya melihat wajah polos Mawar.
Padahal, bukan wajah polos yang Mawar tampilkan. Melainkan wajah terkejut. Tetapi, lelaki yang duduk di sampingnya malah menilai keterkejutan Mawar seperti sebuah kepolosan seseorang.
Mawar menoleh ke kanan dan kiri, mencari sesuatu di sekitar angkot yang dia tumpangi. "Cari apa?" tanyanya terkekeh pelan.
"Teman kakak." cicit Mawar.
Mawar mencoba menetralkan degup jantung karena rasa takutnya. Dia ingin terlihat biasa di hadapan lelaki di depannya.
Meski pada kenyataannya, rasa takut tetap ada tanpa bisa dicegah. "Aku sendirian." sahutnya.
Mawar hanya mengangguk-angguk pelan. "Mau sekolah?" tanyanya, dan Mawar kembali mengangguk.
"Kenapa nomorku kamu blokir?" tanyanya.
"Mampus kamu Mawar." batin Mawar dalam hati.
"Mawar takut." ucap Mawar.
"Takut kenapa?"
"Nanti kekasih kakak salah paham." jelas Mawar dengan ekspresi datar.
"Aduh,, gue salah ngomong lagi." batin Mawar. Dirinya ingin mengatakan takut jika kekasihnya salah paham. Karena merasa takut, lidah Mawar malah kesleo.
Lelaki muda tersebut tertawa pelan. Dia sedikit mendekatkan wajahnya pada telinga Mawar. Secara reflek Mawar menjauhkan kepalanya.
Dia tersenyum melihat reaksi Mawar terhadapnya. "Benar-benar polos. Gue semakin suka." batinnya.
Biasanya perempuan yang dia dekati akan dengan senang hati merespon dirinya dengan agresif. Namun berbeda dengan Mawar. Dia malah menjaga jarak, sama sekali tidak terpincut dengan wajahnya yang termasuk tampan.
"Aku belum punya kekasih. Kamu sendiri bagaimana?" jelasnya, sembari bertanya.
"Apa lelaki yang waktu itu kekasih kamu?" belum sempat Mawar menjawab, dia bertanya lagi.
Angkot berhenti, bagai pahlawan untuk Mawar. Waktu menolong Mawar dari cercaan pertanyaan lelaki di sampingnya.
"Maaf kak, Mawar turun dulu. Sudah sampai." pamit Mawar, segera turun dari angkot. Berjalan ke area sekolah bersama beberapa siswa yang juga berjalan ke tujuan yang sama.
__ADS_1
Sama seperti Mawar, lelaki tersebut juga turun. Berdiri di pinggir jalan, mengeluarkan ponsel. Menghubungi seseorang, memerintahkannya untuk menjemput dirinya.
Tatapan matanya tetap mengunci sosok Mawar, dimana dengan pandangannya Mawar masih terlihat.
Brummm..... sebuah sepeda motor sport berhenti tepat di depannya. Lalu membuka penutup helm di wajahnya. Dia menatap dengan santai pemuda yang berada di atas motor tersebut.
"Jauhi Mawar. Jika tidak ingin berurusan dengan gue." ancam Jerome menatap lekat-lekat ke arahnya.
Dia malah terkekeh mendapat ancaman dari Jerome. "Baru kali ini, gue diancam anak kecil." ucapnya remeh.
"Lakukan saja. Elo akan tahu, benar atau tidaknya ancaman gue." seringai Jerome.
"Bau kencur." geramnya.
Jerome meninggalkannya dengan memberikan hadiah pada lelaki tersebut. "Bajingan kecil..!!!" teriaknya, saat motor Jerome mengeluarkan asap dari knalpotnya. Dan mengarah ke arahnya.
"Hukk,,,, huk,,,,," dia mengibaskan telapak tangannya, sembari manahan nafas. "Lihat, gue akan balas lebih dari apa yang elo lakukan." geramnya, merasa. merendahkan dan meremehkannya.
Di area parkir sekolah, Mira dan Selly langsung berlari dan berhambur memeluk Mawar. "Kalian, apa-apaan sih?" tanya Mawar bingung dengan kelakuan random kedua sahabatnya tersebut.
"Mereka berdua kangen sama elo." celetuk Tian yang juga mengikuti kedua teman Mawar, tentunya dengan Luck juga.
"Jangan drama. Kemarin kita baru bertemu. Semalam saja kita melakukan panggilan video." papar Mawar.
Keduanya melepaskan pelukannya pada Mawar. "Tentu saja, kami masih merasa khawatir, jika tidak melihat kamu secara langsung." ungkap Mira dengan bibir manyun.
Tian tersenyum samar melihat ketiga adik kelasnya tersebut. "Apa mereka akan tetap seperti ini. Jika ada lelaki yang masuk menawarkan kata cinta di antara mereka." batinnya.
Tian teringat persahabatannya dengan Deren dan Jerome. Yang awalnya adem ayem. Namun mulai terusik dan renggang karena menyukai perempuan yang sama. Mawar.
"Ini lagi, kenapa?" Mawar melihat Selly menatapnya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Maaf ya, kami ninggalin kamu." cicitnya.
"Astaga. Kalian ini. Bukanlah itu sudah berlalu." ucap Mawar. Tak ingin lagi membahas masalah kemarin. Mawar hanya tidak ingin berkata bohong, saat kedua temannya bertanya pada dirinya.
Mira melihat Jerome, datang ke arah mereka dengan sepeda motornya. "Minggir, ada pangeran sekolah." cicit Mira, merangkul pundak Mawar, membawanya sedikit menepi.
Mawar dan Selly terkekeh mendengar ucapan Mira, saat tahu siapa yang sedang di bicarakan oleh Mira. "Pangeran. Elo suka sama Jerome?" tanya Tian.
"Ya sukalah, gue normal. Tahu mana yang bening dan cucok." ucap Mira dengan nada centil ditambah gaya manja di ujung kalimat.
Mawar dan Selly kembali tertawa melihat Tian yang dengan serius menanggapi perkataan Mira. "Elo nggak cemburu?" tanya Tian, menatap Mawar.
__ADS_1
"Hah,,,, kok jadi aku. Yang bilang pangeran dia. Kenapa jadi aku." cicit Mawar, menunjuk ke arah Mira.
"Idiiihh,,,, ngapain Mawar cemburu." sahut Mira.
Jerome segera menghampiri kelima murid yang nampaknya masih berbincang santai di area parkir. "Hay." langsung menaruh satu tangannya di pundak Mawar.
Semuanya menatap tak percaya. Seorang Jerome, merangkul perempuan. Dan itu adalah Mawar. Sedangkan Mawar sendiri, hanya diam saat Jerome merangkulnya.
"Dia masih melihat ke sini." bisik Jerome.
Mawar langsung tahu alasan Jerome melakukannya. Mira dan Selly saling sikut. Menatap Mawar, dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Ada seseorang yang sedang mendekati aku. Aku akan kasih tahu kalian. Tapi jangan memandang secara langsung." pinta Mawar, tahu jika kedua sahabatnya yang berjiwa kepo pasti sedang menerka-nerka.
Berbeda dengan Mira dan Selly, Tian dan Luck langsung tahu keberadaan seseorang yang sedang memperhatikan mereka.
"Dia." gumam Luck, terdengar jelas di telinga Tian.
"Lelaki yang dibicarakan Mawar. Salah satu pimpinan kelompok geng motor." jelas Luck lirih.
"Gila, Mawar dalam bahaya, jika dia terus mengejar Mawar." bisik Tian, Luck mengangguk membenarkan perkataan Tian.
"Ingat, jangan langsung melihatnya. Di seberang jalan ada lelaki yang memakai jaket warna hitam. Dia lelaki yang aku maksud." jelas Mawar.
"Waow.... Tuhan,,,, Mawar, dia ganteng maksimal." ucap Mira terpesona.
"Aww..." seru Mira saat tangan Selly memukul bahunya.
"Jangan pandang langsung bego. Anak kecil juga tahu, kalai elo lagi merhatiin dia." kesal Selly. Terkadang Mira memang lepas fokus jika ada yang terlihat bening di depan matanya.
Mawar menghela nafas. Apa yang dia terka dalam pikirannya benar, jika Mira akan heboh melihat wajahnya yang tampan.
"Kenapa elo nggak mau. Sumpah Mawar, dia nggak kalah ganteng dari kak Jerome." cicit Mira, padahal Jerome ada di depannya.
Jerome menatap kesal pada sahabat Mawar yang satu ini. "Emmmmpjhjj....." telapak tangan Selly langsung membungkam mulut Mira yang nyerocos tak kenal tempat dan keadaan.
"Maaf kak, Mira bercanda. Sumpah, masih ganteng kak Jerome. Iyakan Mira." Selly melotot menatap Mira.
Dengan mulut masih dibungkam oleh telapak tangan Selly, Mira mengangguk pasrah. "Bagaimana kalau kita segera masuk ke kelas. Tinggal beberapa menit, bel akan berbunyi." ajak Selly.
Mawar mengambil tangan Jerome yang berada di pundaknya, dan menurunkannya. "Semuanya, kami masuk dulu." Mawar beserta kedua temannya beranjak meninggalkan ketiga lelaki populer tersebut.
"Elo harus jelaskan ke kita." desak Selly saat ketiganya berjalan beriringan di lorong sekolah.
__ADS_1
"Jelaskan apa?" tanya Mawar.
"Semuanya." sahut Mira dan Selly bersama.