MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 119


__ADS_3

Dengan kedua mata masih terpejam, Dona memegang kepalanya yang terasa ingin pecah. "Kenapa terasa sakit sekali." keluh Dona, memukul-mukul kepalanya yang berdenyut dengan pelan.


Perlahan, Dona membuka kedua matanya. Dengan masih menahan rasa sakitnya, Dona mengerjapkan kedua matanya. Sinar matahari yang menembus jendela membuatnya harus menyesuaikan pandangan matanya terlebih dahulu.


Dona melihat seorang lelaki yang berdiri di depannya dengan bersedekap dada. Menatap tajam bagai pisau yang menghunus ke arahnya.


Dona langsung membuka kedua matanya dengan sempurna. Melihat ke sekelilingnya. Dona mengucek kedua matanya. Menajamkan penglihatannya kembali.


"Kak Dami." lirih Dona.


Dona kembali melihat ke sekelilingnya yang terasa asing. "Ini di mana." cicitnya, pasalnya tempatnya bangun dari tidurnya bukanlah di kamarnya.


"Sudah bangun." sarkas Dami.


"Benar. Dia kak Dami." Dona mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Tapi kenapa dirinya bisa bersama sang kakak.


Dona memejamkan kedua matanya sekilas. Dirinya hanya ingat, jika sedang berada di club malam. Dan terakhir, dia memeluk Jerome.


"Di mana Jerome?" tanya Dona seperti orang bodoh.


Dami tersenyum kecut. "Apa elo pikir Jerome mau sama perempuan macam elo." sinis Dami, tak lagi berbicara dengan nada lembut seperti biasa.


"Apa maksud elo?! Gue masih ingat dengan jelas. Semalam, Jerome berada di sana sama gue. Bahkan gue memeluk tubuhnya." kekeh Dona.


Dami tertawa lepas. "Memeluk. Siapa yang elo peluk? Jerome....Mimpi....!! Bahkan melihat elo saja Jerome tak sudi." sarkas Dami.


Habis sudah kesabaran Dami yang selama ini dia tunjukkan saat menghadapi Dona. Tidak untuk sekarang. Di saat Dami tahu, jika dua kali Dona mencari masalah dengan Mawar.


Padahal, Mawar sama sekali tidak pernah berbuat salah. Atau membuat masalah pada sang adik.

__ADS_1


Beruntung, Mawar tidak masuk ke dalam jebakan Dona. Dami juga mengetahui kasus Dona yang selama ini menggunakan teman sekelasnya untuk menyelesaikan segala tugasnya. Dan semua informasi itu dia peroleh dari Jerome.


Sungguh memalukan. "Apa yang ada di otak kamu, hah...!!" bentak Dami.


Dona kicep seketika. Ini pertama kalinya dirinya melihat Dami berbicara dengan nada tinggi. Kedua mata memerah menahan amarah. "Apa yang sebenarnya terjadi." lirih Dona, kembali mengingat apa yang terjadi pada dirinya.


Kenapa dia bisa bangun di kamar hotel. Dan juga ada sang kakak di dalamnya. Juga kepalanya yang terasa ingin pecah.


"Datang ke club malam. Mabok-mabokan. Apa kamu pikir papa akan diam saja, jika mengetahui semua ini...?!" lanjut Dami meluapkan amarahnya.


Dona mencoba mengembalikan kepingan ingatannya tentang kejadian semalam. "Benar, gue datang ke club malam. Lalu minum. Dan ada seorang lelaki yang datang. Dia,,,, dia,,,, dia Jerome." lirih Dona.


Mengingat wajah lelaki yang menghampiri dirinya. "Bodoh...!!" seru Dami.


Semalam, teman Dami melihat Dona dalam keadaan mabuk. Bersama lelaki yang tidak dia kenal. Lantas dia segera menghubungi Dami. Dan menyuruh Dami datang ke club malam.


"Ini terakhir kalinya gue menolong elo. Jadi jangan bertindak bodoh lagi." ujar Dami, meninggalkan Dona sendirian di dalam kamar hotel.


Deg... Elo,, Gue,,, Ini pertama kalinya juga Dona mendengar panggilan itu terlontar dari mulut sang kakak. Semarah-marahnya Dami, dia akan tetap memperlakukan Dona dengan lembut.


Dona memandang pintu yang telah tertutup daei luar. Dimana tubuh Dami menghilang di balik pintu tersebut.


Dona meraup wajahnya dengan kasar. Semua yang dikatakan oleh sang kakak benar adanya. Melihat dirinya saja tidak sudi, apalagi memeluknya. Mustahil.


Dona memejamkan kedua matanya. Memijat keningnya sedikit kuata. Mencoba mengingat yang terjadi semalam pada dirinya.


"Astaga." desah Dona.


Meski samar, dia mengingat bagaimana wajah dari orang yang dia peluk semalam. "Brengsek. Berani-beraninya dia mencari masalah dengan gue."

__ADS_1


Dona mengambil ponsel. Menelpon orang uang biasanya di perintahkan untuk melakukan suatu hal. "Semalam ada yang mencoba mencari masalah dengan gue di club malam. Elo cari, kirim rekaman CCTV nya ke gue. Tenang saja, seperti biasa. Uang akan gue transfer, setelah pekerjaan elo selesai."


Dona menutup panggilan teleponnya begitu saja. Tanpa mendengarkan lawan bicaranya mengatakan sesuatu. "Semua ini karena Mawar." geramnya.


Lagi-lagi menyalahkan Mawar. Padahal dirinyalah yang membuat masalah untuk dirinya sendiri. Bukannya merasa menyesal. Malah kembali menyalahkan orang lain.


Beruntung, Dami tidak membawanya pulang ke rumah. Jika sampai itu terjadi, dan sang papa mengetahuinya. Tamat sudah, kebebasan Dona.


Dona menatap ke arah meja. Di mana di atas meja tersebut tergeletak beberapa paper bag. Dona tersenyum senang. "Meski menyebalkan, ternyata perhatian juga." cicit Dona.


Segera Dona mengambil beberapa paper bag yang berisikan semua yang dibutuhkan olehnya. Dona masih tersenyum.


Meski sedang marah, Dami tetap perhatian pada dirinya. "Coba saja kak Dami mau bantu gue mendapatkan Jerome. Pasti kita akan jadi adik kakak yang akur." ucap Dona.


"Gue heran. Kenapa kak Dami tidak membantuku mendekati Jerome. Padahal gue yakin, hubungan kak Dami dan Jerome kumayan dekat."


Dona menghembuskan nafas kasar. "Hah... sekarang gue mesti bagaimana. Ckkk,,,, nggak mungkin mengandalkan tante Meysa. Sungguh nggak berguna." cicit Dona.


Dona memilih mandi, dan segera pergi ke sekolah. Dirinya akan membuat alasan untuk ketidak pulangannya semalam ke rumah.


"Pasti papa dan mama akan bertanya." dengus Dona merasa sebal. .


"Seperti anak kecil saja. Padahal sebentar lagi gue mau kuliah." lanjut Dona.


Saat melepaskan gaun di badannya. Dona tersenyum aneh. "Sepertinya akan menyenangkan, jika gue tinggal sendirian. Pasti akan menyenangkan."


Dona berencana untuk meminta sebuah unit apartemen. Tinggal terpisah dari keluarga. "Gue akan cari alasan. Serumah dengan mereka, buat gue malah seperti di penjara." kesalnya.


Dona merasa kedua orang tuanya terlalu protektif pada dirinya. Dirinya merasa jika sudah dewasa, dam akan memilih jalan hidup sendiri.

__ADS_1


__ADS_2