MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 74


__ADS_3

"Tumben perempuan iblis nggak datang ke butik." ucap Amel, saat dirinya bersama dengan yang lain sudah berada di luar butik, ingin pulang ke rumah masing-masing. Sebab butik sudah tutup beberapa menit yang lalu.


"Lagi sibuk mungkin." timpal Tia.


Keempat perempuan tersebut belum pulang, dan masih duduk di emperan butik. Ketiganya menemani Amel menunggu kekasihnya.


Amel menyuruh mereka bertiga untuk pulang terlebih dahulu. Namun ketiganya menolak dan kekeh ingin menemani Amel menunggu kekasihnya menjemput Amel. Termasuk Mawar.


"Sibuk buat rencana licik lainnya." sahut Santi dengan nada kasar.


"Sudahlah mbak, biarkan saja. Nanti juga bosan sendiri." papar Mawar.


Bukannya Mawar sok baik dan bijak. Atau tidak merasa kesal dan dendam pada Dona. Salah. Mawar juga merasa kesal dan dendam.


Sakit hati, tentu saja. Sebab, selama ini Mawar sama sekali tidak pernah membuat masalah atau menyentuh Dona.


Dirinya selalu menghindari setiap ada perkara yang akan jadi masalah untuknya. Baik dimana pun Mawar berada.


Tapi kali ini, Mawar tidak akan tinggal diam lagi. Dia akan meladeni permainan yang sedang dan akan dimainkan oleh Dona saat ini atau ke depannya.


Salah satunya, Mawar memanfaatkan Jerome untuk membalas dendam rasa sakit hatinya pada Dona. Enak saja, dibiarkan. Tidak akan.


Karena tingkah menjengkelkan Dona, Mawar hampir saja kehilangan pekerjaannya. Bahkan, Mawar hampir membayar biaya kerusakan gaun tersebut.


Beruntung, Nyonya Utami berkata masih ingin menyelidiki lebih lanjut. Sehingga Mawar bisa bernafas sedikit lega.


Meski apa yang terjadi pada akhirnya, Mawar sendiri juga tidak tahu.


Mawar berkata seperti itu kepada ketiga rekan kerjanya, tak lain hanya tidak ingin jika ketiganya terseret dalam masalahnya. Mawar tidak ingin ketiganya terlibat terlalu dalam.


Mawar kenal siapa Dona. Mawar takut, ketiga rekan kerjanya akan kehilangan pekerjaan karena dirinya. Bahkan, yang lebih Mawar takutkan. Ketiganya akan celaka karena dirinya.


"Nggak bisa gitu. Kamu jangan hanya diam dan pasrah. Sekali-kali dia juga harus dikasih pelajaran. Biar nggak makin belagu." sungut Tia, tidak setuju dengan ucapan Mawar.


"Benar kata Tia. Manusia seperti dia itu hanya menang karena uang. Dasar." timpal Santi tak kalah kesal.


Mawar menghela nafas kasar. "Bukannya apa-apa mbak. Tapi kita hanya pegawai. Dan dia putri pemilik butik, atasan kita." jelas Mawar melihat secara rasional.


"Memang benar sih. Dia akan tetap benar, meski salah." geram Amel.


"Tunggu, kita juga harus bermain seperti dia. Terlihat baik, tapi menusuk dari belakang." sahut Santi, tersenyum penuh arti.


"Maksudnya?" Amel merasa bingung.


"Sudah. Nanti kamu juga tahu sendiri maksud Santi." jelas Tia.


Mawar hanya diam. Karena dia sudah melakukannya terlebih dahulu. Terlihat baik, tapi menusuk langsung ke jantung. Dan Mawar, baru melakukannya tadi pagi.


Obrolan mereka terhenti, saat ada empat sepeda motor sport berhenti di depan butik. "Itu cowok elo dateng." papar Tia, melihat salah satu sepeda motor yang sangat dia kenali.


"Kok elo tahu?" tanya Santi, setengah menggoda.


"Sepeda motornya, tiap malam juga lihat." sewot Tia.


Santi menjawil gemas "Ihh,,, santai neng. Gitu aja ngegas." ledek Santi. Tia hanya mencebik menatap ke arah Santi.


"Elo tanya juga aneh. Gue takut Amel mikir macem-macem." bisik Tia. Santi hanya nyengir kuda, tidak sampai berpikir ke sana.


Amel segera berjalan menghampiri sang kekasih. Disusul Mawar, Santi, dan Tia. "Tumben mereka beramai-ramai. Emang habis tawuran." celetuk Tia lirih, mendapat timpukan dan pelototan dari Santi.


Mawar hanya menggeleng dan tersenyum samar. Dan ini pertama kalinya kekasih Amel membuka helm yang berada di kepalanya.


Membuat semua rekan kerja Amel tahu bagaimana wajah dari kekasih Amel. "Wow,,,, ganteng banget." ucap Tia dalam hati.


Bukan hanya kekasih Amel saja yang membuka helmnya. Beberapa temannya juga mengikuti gerakannya. Membuka helm dan memperlihatkan wajah mereka.


Santi dan Tia sempat terdiam melihat sekumpulan cowok ganteng di depan mereka. Satu kata yang ada di dalam benak mereka. Tampan.


Berbeda dengan Mawar yang merasa terkejut. Bagaimana tidak. Mereka adalah beberapa lelaki yang tidak sengaja bertemu Mawar di cafe, saat menunggu Gaby keluar dari toko kue saat itu.


Yang berarti lelaki yang sedang mencari keberadaan Jerome. "Mereka." batin Mawar. Namun Mawar segera mengendalikan emosinya. Dengan cepat, Mawar merubah ekspresinya menjadi biasa.


Seolah tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. "Ternyata kekasih mbak Amel anggota kelompok ini. Apa mbak Amel tahu." batin Mawar merasa ngeri.


Mawar menarik nafas dengan pelan. Dirinya tidak ingin menunjukkan perilaku atau apapun itu yang dapat membuatnya akan dicurigai.


"Hay." sapa salah satu teman dari kekasih Amel, pada Mawar. Dia turun dari motor dan berjalan mendekat ke arah Mawar.


"Mawar, waktunya memainkan peran." batin Mawar. Meski merasa was-was akan ketahuan, Mawar harus melakukannya. Harapannya hanya satu, berdo'a supaya aktingnya terlihat natural.


Mawar menunjuk ke arah wajahnya sendiri. "Saya." cicit Mawar.


"Iya kamu." paparnya. Bukan hanya lelaki yang tadi menyapa dan sekarang berada di dekat Mawar yang menatap ke arah Mawar. Namun semuanya.


"Mawar, kamu kenal?" tanya Santi.


Mawar menggeleng. "Mungkin kamu lupa. Kita pernah bertemu sekali. Di cafe. Kamu ingat?" tanyanya, mencoba membuat Mawar mengingat dirinya.


"Tidak hanya dia sendiri. Kami juga ada waktu itu." timpal temannya yang lain, tetap duduk di atas sepeda motor.


Mawar menipiskan bibirnya. Dilema. Pura-pura lupa lagi, atau mengatakan jika dia sudah mengingatnya.

__ADS_1


Mawar tersenyum canggung. "Ohh,,,, iya. Maaf, saya lupa." tutur Mawar memilih jujur.


"Syukurlah. Saya kira kamu lupa." ucap lelaki tersebut lega, tersenyum simpul menatap Mawar.


"Sayang, tumben kamu ke sini bareng teman-teman kamu?" tanya Amel.


Lelaki yang menjadi kekasih Amel, tersenyum manis menatap ke arah Amel. "Bukankah kita sudah berjanji akan makan malam bersama. Tidak masalahkan, kalau mereka ikut?"


Amel menggeleng. "Malah makin rame makin asyik." sahut Amel.


"Oh iya, bagaimana kalau teman-teman kamu juga ikut sekalian. Jadi kamu nggak sendirian. Ada teman perempuannya?" tawarnya pada Amel.


Amel terdiam sejenak. Memandang bergantian ke arah Mawar, Santi, dan Tia. "Oke. Asal mereka mau." jelas Amel. "Bagaimana?" tanya Amel pada ketiga rekan kerjanya tersebut.


Ketiganya tak langsung menyahuti ajakan Amel. "Tuhan, tolong aku." batin Mawar, ingin sekali menolak ajakan mereka.


Mawar tahu, dibalik wajah tampan dan ramah mereka, tersimpan sifat yang sangat mengerikan. Dan Mawar sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menghindar sebisa mungkin.


Tapi sekarang, apa yang harus dia lakukan. Alasan apa yang akan Mawar berikan untuk menolak ajakan mereka.


"Kalian maukan?" tanya Amel lagi.


"Memang kita mau ke mana?" tanya Santi. Ada rasa ragu juga di wajah Santi. Sebab, Santi memang juga belum mengenal mereka.


Aneh rasanya langsung mengiyakan ajakan mereka. Mawar juga melihat hal yang sama pada Tia. Terlihat Tia enggan menerima ajakan mereka. "Tolak saja mbak, biar Mawar juga nggak ikut." ucap Mawar dalam hati berharap.


"Ke tempat makan dekat-dekat sini saja. Tenang saja, tempatnya oke kok. Nyaman. Kalian pasti suka." jelas lelaki yang duduk di atas motor dengan santai.


"Bagaimana Mawar?" tanya Santi meminta pendapat dari Mawar.


Mawar melongo. "Hah... kok aku mbak"


"Kenapa malah bertanya ke gue sih mbak." batin Mawar kesal.


"Gue ngikut Mawar saja. Kalau Mawar ikut, bolehlah." timpal Tia.


"Loh... kok Mawar." cicit Mawar polos, membuat beberapa lelaki tersebut tersenyum. Begitu pula dengan kekasih Amel.


"Ikut ya." desak lelaki yang berdiri di samping Mawar.


Mawar memegang erat selempang tasnya. "Kok jadi gue sih." batin Mawar merana. Tidak seperti apa yang dia harapkan.


"Sebenarnya.... emmm.. Mawar,,, nggak bisa." papar Mawar dengan ragu.


"Kenapa?" semuanya menatap ke arah Mawar.


Mawar menatap Santi dan Tia bergantian. Terlihat jika keduanya tersenyum senang. Yang menandakan jika sebenarnya mereka juga menolak.


"Itu... Mawar..." belum selesai Mawar mengatakan kalimatnya, sebuah mobil sport berwarna silver berhenti di dekat mereka.


Membuat semuanya menoleh ke arah mobil tersebut. Seorang lelaki keluar dari dalam mobil. Tersenyum menatap Mawar.


Dan tetap berdiri di samping mobilnya, tanpa menghampiri Mawar. "Maaf, Mawar sudah ada janji." ujar Mawar beralasan.


"Jerome, terimakasih." ucap Mawar dalam hati.


"Gila, itu cowok elo." bisik Santi menyikut Mawar.


"Bukan. Teman." ucap Mawar lirih.


"Mawar, kalau itu gue mau." cicit Tia, tersenyum ke arah Jerome.


"Ckk,," decak Mawar sambil melotot. Berpura-pura marah. Padahal, jika Tia menginginkan Jerome, Mawar juga tak akan melarangnya. Toh dirinya dan Jerome memang hanya sekedar teman.


Santi mendorong tubuh Mawar. "Sudah sana, di tunggu." usir Santi.


"Mbak Santi sama mbak Tia, mau bareng?" tawar Mawar.


"Elo mau taruh kita di mana? Atap mobil?" ujar Tia heran sambil menggoda Mawar.


Mawar tersenyum manis. "Pemanis bibir." kekehnya.


"Dasar." ujar Santi lega. Dengan begini, dirinya tidak harus ikut dengan mereka untuk makan malam bersama.


"Semuanya, Mawar duluan." pamit Mawar.


"Mawar hati-hati." ucap Amel.


"Oke." Mawar segera menghampiri Jerome.


Keempat lelaki tersebut menatap ke arah Jerome. Ketiganya hanya menampilkan ekspresi datar. Entah apa yang ada dalam benak mereka.


"Gimana, aku datang tepat waktu kan?" bisik Jerome, keduanya terlihat sangat dekat. Membuat mereka yang melihat pasti akan salah paham.


Mengira jika memang keduanya memiliki hubungan. "Maksih banyak." cicit Mawar.


Jerome mengacak pelan rambut Mawar. Berjalan setengah memutar dengan Mawar mengekor di belakangnya, membukakan pintu mobil untuk Mawar. "Terimakasih." cicit Mawar, masuk ke dalam mobil.


Jerome tersenyum, dan mengangguk pelan. Senyum Jerome menghilang seketika, saat Mawar berada di dalam mobil.


Tanpa mengatakan apapun, bahkan melihat ke arah mereka. Jerome masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya, meninggalkan butik Nyonya Utami.

__ADS_1


"Kulkas ternyata." celetuk Tia. Memperhatikan Jerome yang ternyata sangat berbeda dengan Mawar. Jika Mawar sangat humble, Jerome terkesan cuek dan masa bodo.


"Biasa. Nggak usah kaget. Kaya di tambah ganteng. Sempurna." timpal Santi.


"Maaf semua. Kalau gitu, kami balik dulu." pamit Tia.


"Biar kita antar." tawar seorang lelaki yang duduk di atas motornya.


Tia menggeleng. "Terimakasih. Tidak perlu. Kontrakan kita deket. Jalan juga sudah sampai." tolak Tian halus.


Lelaki tersebut mengangguk pelan. "Mari semua, duluan." pamit Santi, menggandeng lengan Tia, dan segera meninggalkan mereka.


"Mawar. Tadi pacarnya?" tanya teman dari kekasih Amel.


Amel mengangkat kedua bahunya. "Nggak tahu juga sih. Mungkin. Soalnya dia nggak pernah cerita." jelas Amel.


"Kalau punya pacar, ya wajarlah. Cantik kayak gitu. Bodynya juga oke." timpal yang lain.


"Dia kuliah dimana?" tanya kekasih Amel.


Amel terdiam. Memandang sang kekasih dengan lekat. Kenapa malah sang kekasih juga ikut-ikutan penasaran dengan Mawar. "Hey,,, sayang. Mawar kuliah dimana? Tahu sendiri, tuh anak suka ma dia." lanjutnya, mengangkat dagunya ke arah temannya yang berdiri.


Amel bernafas lega. Dirinya berpikir jika sang kekasih juga menyukai Mawar. "Masih SMA. Kelas satu." jelas Amel.


"Woooww..." sontak semuanya terkejut. Dari postur tubuhnya, mereka mengira Mawar sudah kuliah. Ternyata masih berseragam putih abu-abu. Itupun jiga masih kelas satu.


Postur tubuh Mawar memang terbilang seksi untuk anak sepantarannya. Mungkin juga karena faktor keturunan dari kedua orang tuanya.


Ibu Mawar, mempunyai tubuh yang termasuk ideal di mata para lelaki. Meski dirinya sudah melahirkan seorang anak.


Begitu pula ayah Mawar. Beliau memiliki tubuh tinggi dan besar. Bahkan, perut Wiryo juga masih memiliki kotak-kotak yang membuat para kaum hawa menjerit jika melihatnya.


Jerome melirik ke arah Mawar, yang masih terlihat cemas, dengan sering kali Mawar melhat ke belakang dari kaca spion.


"Tenang saja. Mereka tidak akan mengikuti kita." Jerome tahu jika sedari tadi Mawar merasa khawatir.


Mawar menghembuskan nafas kasar. Menyenderkan badannya di kursi. Ada perasaan lega di hatinya. "Terimakasih." lagi-lagi Mawar mengatakan hal tersebut.


Jerome tersenyum samar. "Seharusnya aku yang mengatakan kata tersebut. Terimakasih, dan maaf." cicit Jerome.


Mawar menoleh ke samping. Melihat Jerome sekilas yang menyetir dan fokus ke depan. "Jika bukan karena menolongku saat itu, kamu tidak akan pernah merasakan ketakutan seperti ini."


Jerome merasa bersalah. Dia tahu pasti sulit bagi perempuan seperti Mawar menghilangkan rasa takut yang sempat dia alami.


Mawar tersenyum. "Tidak. Justru dengan kejadian tersebut, aku jadi tahu. Kita tidak bisa menilai seseorang dari wajah dan perilaku seseorang saat mereka ada di hadapan kita." papar Mawar.


Mawar tidak ingin Jerome merasa bersalah karena dirinya telah menolongnya saat itu. Mawar menolongnya atas kemauannya sendiri secara sadar.


Dan saat Mawar memutuskan untuk menolong, dia tidak tahu jika dia adalah Jerome. "Sebaiknya kamu bersikap biasa di hadapan mereka. Aku yakin, mereka tidak akan tahu, jika aku adalah orang yang mereka cari. Dan kamu, orang yang sudah membantu aku untuk kabur."


"Iya sih. Mereka seharusnya tidak tahu." Mawar mengingat bibir bawahnya. Hanya dia dan Jerome yang tahu. Mawar yakin, jika Jerome tidak menceritakan pada siapa-siapa. Sama seperti dirinya.


"Tapi tetap saja. Saat melihat mereka, aku merasa takut." imbuh Mawar jujur.


Jerome menoleh ke samping. Melihat raut wajah Mawar yang memang terlihat gelisah. Jerome memikirkan, bagaimana caranya agar Mawar tidak lagi merasa takut jika berhadapan dengan mereka.


Namun Jerome sendiri juga tidak tahu, cara apa yang harus dia lakukan. "Kenapa mereka ada di sana?"


"Kenapa kak Jerome sendiri ada di sana?" bukannya menjawab, Mawar malah melempar pertanyaan pada Jerome.


"Kebetulan lewat." ujar Jerome berbohong, karena memang dirinya sengaja berada di sekitar butik. Menunggu Mawar pulang.


"Emmm..." Mawar mengangguk percaya. Tidak ada alasan bagi Mawar untuk tidak percaya.


"Jika mereka?" Jerome kembali mengulang pertanyaannya.


"Salah satu dari mereka kekasih teman kerja aku." cicit Mawar.


Mawar mendesah frustasi, membuat Jerome melihatnya sebentar, lalu kembali fokus ke depan. "Kenapa?" tanyanya heran.


"Ckk,,, Mawar merasa, ke depannya akan sering bertemu dengan mereka." desah Mawar meraup wajahnya kasar.


Jerome mengerti kenapa Mawar merasa frustasi. Disembunyikanpun, ketakutan Mawar akan tetap ada. Terlebih, Mawar melihat sendiri bagaimana brutalnya anggota mereka.


"Setelah ini, kamu mau ke mana?" tanya Jerome mengalihkan pembicaraan. Dirinya tidak ingin Mawar semakin tertekan karna hal ini.


"Pulang. Mawar ingin makan masakan ibu." jelas Mawar.


"Oke."


"Kak Jerome mampir saja. Sekalian makan bersama kami." ajak Mawar.


"Apa boleh?" tanya Jerome, karena kemarin dia sudah makan malam di rumah Mawar. Apa iya, sekarang makan di sana lagi.


Mawar mengangguk. Itung-itung Mawar membayar rasa terimakasihnya karena kehadiran Jerome di saat yang tepat.


Padahal, tanpa Mawar tahu, Jerome memang sengaja berada di sana. "Ya sudah, kita mampir dulu beli sesuatu."


Mawar menggeleng. "Jangan. Kasihan ibu, nanti masakannya malah nggak kemakan." tutur Mawar.


Haru. Jerome tersenyum samar. Hatinya menghangat mendengar perkataan Mawar. Secara tidak sengaja, Mawar memperlihatkan perhatiannya pada sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2