
Mendengar teriakan pak Yadi, indah dan ibunya segera berhambur keluar.
" Bunga, Ya Allah ndok, kamu pulang,!" Bu Maesaroh tak kalah kaget melihat kedatangan Bunga.
" Iya Bu, Bunga pulang,!" Meraka pun berpelukan secara bergantian, Tangis haru pecah di kediaman pak Yadi dan ibu Maesaroh.
" Ya sudah ayo masuk ndok, sudah malam udaranya dingin ndok diluar,!"
" Biar bapak yang bawa kopernya,!"
" Terimakasih pak,!"
Mereka semua masuk kedalam rumah.
" Mba kok gak bilang sih kalau udah mau sampai, kan aku bisa jemput di bandara, jadi mba gak perlu naik bus lagi,!"
" Ga papa dek, mba kangen juga naik bus,!
" Loh, kamu udah tau toh ndok, kalau Mbamu mau pulang,?
" Hihihi udah, kemarin mba sempet ngabarin sama indah, kalau mba mau pulang,!
" Tapi gak bilang sama ibu sama bapak,!"
" hihi mba tuh gak mau kalau aku bilang sama ibu sama bapak,!
" iya Bu, pak, Bunga memang mau kasih kejutan buat ibu sama bapak,!"
" bapak sama ibu seneng Banget ndok, ahirnya kamu bisa pulang, lupakan yang sudah lalu lalu, jangan diinget lagi, kedepanya kamu harus sering-sering pulang, bapak sama ibu sudah tua, kita gak kuat perjalanan jauh lagi,!"
" iya pak, Bu, maafin Bunga selama ini Bunga sudah terlalu banyak kehilangan momen bersama kalian, Bunga janji, Bunga akan lebih sering pulang,!
" Alhamdulillah kalau begitu,!
" Ya sudah kamu makan dulu, abis itu istirahat,!"
" Bunga masih kangen sama kalian, Bunga gak cape ko, kalau laper sih iya,hehe!"
" ya sudah ayo makan, tapi ibu gak masak garang asam, soalnya ibu gak tau kalau kamu mau pulang,!"
" Gapapa Bu, yang ada aja, apapun masakan ibu pasti rasanya sangat enak, melebihi masakan restoran, karena kan ibu masaknya pake cinta,!"
" Kamu ini ndok, ndok,!"
" Bapak, ibu udah makan, indah?
" Bapak sama ibu barusan sudah makan, kalau indah katanya lagi diet takut bajunya sempit besok,!"
" ih ibu,!" indah merajuk manja.
" Ya ampun dek, gak makan tar lemes loh.!"
" Makan kok, nih makan,!" indah mengambil satu buah apel dimeja dan langsung menggigitnya.
" Eh, mba mana hadiah aku,!"
" Oalah ndok, mba mu kan lagi makan, dan lagi masih cape, udah ditanya hadiah,!"
" Iya maaf,!" indah memanyunkan bibirnya.
" hahaha, tuh liat anak masih manja begini mau tunangan,!"
__ADS_1
"Biarin aja yang penting camer aku baik blee,! indah menjulurkan lidah meledek Bunga
" jiah,!"
" Hadiah gimana,?
" Ada kok, di koper ambil gih,!"
" Asiik,!" indah berlari keruang tamu dan membuka koper Bunga, indah membuka satu persatu paper bag ia mengambil mukenah mewah, ia pikir Bunga memberikan mukena itu.
" Mukenah nya mewah banget mba, ini sih jadi makin rajin ibadah nya,!"
" Eh, bukan itu, itu buat ibu,!"
" Terus aku yang mana,?"
" itu paper bag yang satu lagi,!"
" Mana,? yang ini ?, ini isinya baju Koko sama apaan ini obat herbal,?
" Bukan, itu buat bapak,! Satunya lagi,!"
" Gak ada lagi mba cuma ada dua,!"
" Hah, gak ada,? Bunga mencari paper bag untuk indah, ia bahkan sampai membongar semua isi kopernya,!"
" Dimana ya,? Duh, jangan - jangan ketinggalan di apartemen Nicho,!"
" Nicho,? siapa tuh,? indah mendengar gumaman Bunga.
" eh, ehm Bukan siapa siapa kok,!"
" Cieeh,!"
" Apaan sih dek, sudah tar mba beliin lagi hadiah buat kamu,!"
" ehm, siapa tuh Nicho,? kok bisa ketinggalan cieeh,?
" Sudah ah dek, mba mau istirahat,!"
" Eh mba mau kemana,?
" Kamar mba yang mana,?"
" Yang depan, tapi mba tidur dikamar aku aja, aku kan masih kangen,!" indah menarik tangan Bunga dan membawa kekamarnya.
" Mba siapa sih Nicho Nicho itu,? jiwa kepo indah bergejolak.
" Bukan siapa siapa dek, udah ya,!"
" Oke deh, nanti kalau udah jadi siapa siapa kabarin aku ya hihihi,!"
" Hem,!" Bunga langsung menutup wajahnya dengan selimut.
" mba, cerita dikit donk,!"
" Udah dek, mending sekarang kamu tidur, kalau gak mau besok mata kamu hitam kaya panda, terus riasannya jadi gak sempurna.!"
" ih gak mau,!"
Bunga pura- pura tidur, tak butuh waktu lama sudah terdengar suara denguran halus indah, indah memang serandom itu, dalam hitungan detik sudah pindah alam, Bunga membuka mata pelan-pelan memastikan indah sudah tertidur pulas, Setelah yakin indah sudah pulas, Berlahan Bunga membuka ponselnya ia ingin menanyakan prihal paper bag yang berisi hadiah untuk indah.
__ADS_1
Namun ia sendiri ragu untuk menanyakan pada Nicho.
" tanya gak, tanya gak, tanya gak, ah, pusing!" Bunga mengacak rambutnya sendri, ia meletakan kembali telfon genggamnya dan memilihi tidur.
Hingga keesokan harinya seluruh keluarga pak Yadi dan Maesaroh tengah bersiap siap untuk acara pertunangan indah.
Penata rias pilihan mama Siska pun sudah datang untuk merias indah dan keluarganya,
Bunga selesai lebih dulu , sedangkan indah masih berada didalam ruang rias.
Bunga bergabung dengan kedua orang tuanya untuk turut menyambut kedatangan kerabat dekatnya.
Deg, jantung Bunga berdetak kencang melihat siapa yang datang, Bunga pikir ia sudah benar-benar sembuh tetapi saat melihat pemicunya rasa gugup dan cemas itu kembali hadir, meski tidak separah sebelumnya, Bunga meremas kedua tangannya sudut bibirnya mulai bergetar, Melani semakin mendekat dengan senyum sombongnya berjalan mendekati Bunga.
" (Oke Bunga, kamu harus bisa menghadapinya )" Bunga menguatkan dirinya lalu mengambil nafas dalam-dalam.
" hii Bunga, ahirnya bisa ketemu..!"
" Hii Mel, terimakasih sudah datang,! Bunga sudah bisa menetralkan rasa gugupnya.
" Aku selalu Datang lagi kalau ada acara, Oo iya lupa, kamu kan baru pulang ya, setelah bertahun-tahun,!"
" Datang sama siapa mel,?"
" Aku sendiri,! suami aku sibuk soalnya, maklum dia kan pengusaha,!"
" Oh Fendi sekarang sudah jadi pengusaha,?
" Fendi, ? haha,.. kamu mengira aku masih sama Fendi ya,? Ya ampun Bunga, aku sudah dua kali lo maried,!"
" Oya,!"
" iya donk,!" kamu sendiri gimana,? jangan bilang kamu masih sendiri,?
Belum sempat Bunga menjawab, tiba tiba salah satu kerabat Bunga datang menghampiri disaat waktu yang tepat, karena Bunga sudah tak tahan dengan segala ocehan Melani.
" Mba Bunga ada yang nyariin Mba Bunga cowo ganteeng banget,!"
" Hah, siapa.?" Bunga masih kebingungan siapa yang datang mencarinya.
"Nicho,!" Mata Bunga membulat melihat Nicho berada dihadapannya, ia Benar-benar tak menyangka jika Nicho bisa datang kekampung halamannya .
" hii,! "Dengan senyum ramah Nicho menghampiri Bunga, kehadiran Nicho membuat orang-orang berkerumun khusunya cewe-cewe bahkan ibu-ibu, mereka terpesona dengan ketampanan Nicho.
" Nicho kok Bisa ada disini,?"
" Dia siapa Bunga,?" Melani yang masih disebelah Bunga ikut tercengang.
" Oh, ehm dia pacar aku,! " Bunga menjawab dengan sepontan lalu menggandeng tangan Nicho, dia terpaksa berbohong pada Melani, agar ia tak terus-terusan di ejek Melani.
" Pacar, ?( Gila ganteng banget kenapa sih yang suka sama Bunga ganteng ganteng, pake pelet kali nih anak). jiwa iri Melani masih kental melekat, apalagi suami Melani sekarang umurnya jauh lebih tua, itupun Melani hanya dijadikan istri kedua.
" Hi.. aku Melani sepupunya Bunga,!" dengan penuh percaya diri Melani mengulurkan tangan untuk pada Nicho.
" hi, saya...
Nicho akan menjabat tangan Melani namun Bunga menepisnya.
" Namanya Nicho Mel, kita duluan ya,!" Bunga menarik Nicho masuk kedalam rumah.
" Wah, jadi Nicho pacarnya mba Bunga,.?" indah yang baru keluar dari ruang rias begitu antusias, ia mendengar percakapan Bunga dengan Melani, sebenarnya indah ingin keluar dari tadi karena mendengar Melani terus mengejek kakaknya, akan tetapi perias belum selesai merias wajahnya.
__ADS_1