MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
Bab 28


__ADS_3

Nicho melingkarkan tangannya pada pinggang Bunga, ia tak melepaskan pelukannya benar-benar seperti sepasang kekasih sungguhan.


Pesona Nicho sangat menarik perhatian sehingga banyak wanita mendekati bahankan beberapa minta foto bersama, Nicho sudah seperti artis, Saat ini seluruh tamu dan kerabat tengah menikmati hidangan yang tersedia,


" Bunga,..!" Fendi menghampiri Bunga.


" Hii,.. fen.!" walaupun tak nyaman Bunga berusaha menutupinya.


" Kamu apa kabar,..?


" Baik, kamu gimna.?


" Baik juga,..!" Bunga kamu ada waktu gak..? ada hal yang ingin aku bicarakan..!"


" ehm,.. tentang apa ya fen,..?"


" Tentang masa lalu kita dulu,.. Aku mau minta maaf dengan benar sama kamu,..!"


" ehm, semuanya sudah berlalu fen, aku sudah memaafkan kamu kok, dan aku sudah punya kehidupan baru, kamu juga kan,?.


" Tapi Bunga aku belum bisa melupakan kamu, aku masih terus merasa bersalah, Dan aku tau kamu dulu sangat mencintai aku, aku yakin kita masih ada kesempatan buat kembali bersama, Aku tau kamu juga belum bisa melupakan aku kan,?"


Mendengar ucapan Fendi Bunga sangat muak, bisa-bisanya dia masih mengharapkan kembali bersama, jika saja Bukan di acara pertunangan ia pasti sudah menampar wajah Fendi, akan tetapi ia menahan ia tak mau merusak hari bahagia indah.


Dari kejauhan Nicho melihat Bunga yang merasa tak nyaman dengan Fendi ia segera menghampiri.


" Hii, sayang..!" Sepontan Nicho mencium pucuk kepala Bunga, sepertinya Nicho ingin memamerkan kemesraan pada Fendi, atau bahkan karena ia merasa cemburu.


" hii.. Kenalin ini Fendi,..!" Fendi ini Nicho pacar aku,..!" Bunga sudah faseh mengatakan bahwa Nicho adalah pacarnya.


" Nicho,..!"


"Oh, Fendi,..!" raut wajah Fendi langsung berubah murung, melihat saingan nya begitu berat, harapannya untuk mendapatkan Bunga kembali semakin tipis.


" Bunga pertimbangan ucapan ku tadi,..!" Fendi berlalu tanpa menoleh pada Nicho.


Bunga hanya menjawab lewat tatapan sinis penuh kebencian, dadanya mulai bergemuruh lagi, Bunga sudah berusaha untuk memaafkan dan melupakan masa lalu, akan tetapi ucapan Fendi membuatnya sangat muak, ia memilih meninggalkan acara dan masuk kedalam rumahnya , Nicho mengikuti dari belakang saat sudah berada didalam rumah Nicho menarik tangan Bunga dan membawanya dalam pelukannya.


Ahirnya tangis Bunga mulai pecah dalam pelukan Nicho, untuk pertama kalinya Bunga merasa sangat nyaman.


" Keluarkan semuanya,.. luka yang selama ini kamu pendam,..!"


" huhuhu,..!"


Dengan sabar Nicho menenangkan Bunga, setelah puas menangis Bunga merasa lebih tenang ahirnya dia menceritakan semua kejadian yang membuatnya mengalami trauma masa lalu, dengan derai air mata Bunga menumpahkan segala kegundahan hatinya selama ini, Hinga Ahirnya membuat Nicho bisa mengerti kenapa Bunga bersikap dingin selama ini, ternyata karena lukanya begitu dalam.


Nicho kembali membawa Bunga dalam pelukannya.


" Terimakasih sudah mendengarkan aku,..!"


" No,.. saya yang seharusnya berterimakasih kamu sudah mau percaya untuk bercerita pada saya..!"


Nicho tak bisa melepaskan pandangnya, ia begitu mengagumi wajah cantik Bunga kali ini Bunga pun menatap dalam pada Nicho, wajah mereka begitu dekat sehingga terdengar deru nafas mereka, bibir mungil Bunga begitu menggoda ingin sekali Nicho meraih dan mengecap manisnya, Berlahan Nicho mendekatkan wajahnya Hingga tersisa satu senti sebelum ahirnya di kagetan dengan kedatangan seseorang.


" Mba ayo,,,ehep,... " kehadiran indah yang tiba-tiba membuyarkan suasana romantis.

__ADS_1


" Eh,..ehm.." Bunga dan Nicho tampak canggung dengan kedatangan indah yang tiba-tiba.


" eh, sorry ganggu,..!" refleksi indah langsung balik badan.


" dek,.. kenapa-kenapa..!" wajah Bunga memerah menahan malu.


" .. itu, kata ibu suruh keluar mau foto keluarga,.!"


" Oh,.. iya ayo kita keluar,..!"


" Eh, Tunggu deh mba habis nangis ya,..?" indah menyadari mata sembab Bunga.


" Ah, Tadi kita ada bertengkar kecil, tapi semua sudah baik-baik saja, iya kan sayang,..!" Nicho kembali melingkar kan tangannya pada pinggang Bunga.


" Oh gitu,..!" ( iya lah udah baikan orang tadi hampir mau... ehemp hihi).


" Ya sudah bentar lagi mba keluar, mba mau benerin make up mba dulu,..!"


" Oke,..!" indah pun keluar meninggalkan dua sejoli yang tengah menahan malu.


" huufh,..!" ( haduh malu banget nih sama indah, bakal di cengin abis-abisan nih,).


" Ehm,..are you oke,..?"


" ah, iya,.. kamu Tunggu didepan saja, aku mau benerin make up aku,..!"


" Oke,..!"


Tak Butuh waktu lama Bunga pun keluar, Bunga sudah lebih tenang ia menghampiri Nicho yang tengah duduk dengan segelas minuman, lagi lagi dari kejauhan Fendi menatap dengan penuh kecemburuan.


" Mba,..!" ini Bima katanya pengen nyapa mba sama mas Nicho, Biar akrab gitu kan sama- sama mau jadi menantu pak Yadi, hihihi..!"


" uhuk,. uhuk,..! Bunga tersedak minumannya lalu menatap Nicho, Sedangkan Nicho hanya menaikan alisnya sambil tersenyum.


" cieeh,.. masih grogi es cream,..!"


" ih,. apa sih dek,..!" Bunga mencupit pinggang indah.


" Auh,.. Auh..! liat yang, mba cubit aku kamu belain donk,..!"


" hahaha,..!" Bima malah tertawa melihat kedua kak beradik itu.


Mereka melnjutkan bercengkrama, Bima sangat antusias berbincang dengan Nicho, mereka sama-sama humble dan supel, sehingga mudah sekali akrab, sedangkan Bunga dan indah lebih sering saling meledek dari pada ngobrol.


Fendi menatap dari jauh kedekatan antara Bima Nicho, Bunga, dan indah.


"( Sepertinya kamu sudah sangat bahagia Bunga, tapi bagaimana dengan aku, dihati dan pikiranku hanya ada kamu).


" hi,.. bengong, kenapa gak gabung sama mereka,.?. kedatang mama Siska membuyarkan lamunan Fendi.


" eh, engga ma,.. Fendi disini saja,.!"


" kamu gak mau kenalan itu sama kakaknya indah, namanya Bunga, cantik ya,?sama itu pacarnya." mama Siska menunjuk dengan ekor matanya nya


" Hem, ( iya ma, Bunga memang sangat cantik,)

__ADS_1


" Andai saja Bunga belum punya pacar, mama jodohkan sama kamu, hehe,.!"


" ( andaikan dulu Fendi gak membuat kesalahan, mungkin Bunga sudah menjadi menantu mama, ini semua gara-gara Fendi dijebak sama wanita iblis itu).


" Kok, Bengong lagi si nak,..?


" gapapa kok ma,.!"


" Kamu kan sudah lama menduda, cobalah mulai mencari pasangan,..!"


" Belum kepikiran mah,..!


" Umur udah kepala tiga belum kepikiran mulu,.!" Denger -denger mantan istri kamu udah nikah lagi loh,..!


" Sudah lah mah, gak usah bahas perempuan gila itu,..!"


" Oke, oke, mama minta maaf ya,. ya sudah mama gabung sama besan dulu, kamu jangan bengong mulu,..!" mama Siska beranjak meninggalkan Fendi.


" iya mah,..!" Fendi kembali menatap Bunga dan yang lainya, kali ini Bima melihat nya.


" Sebentar ya,..! saya mau kenalin dengan Kakak saya,..!" Bima beranjak dan menghampiri Fendi.


" Mas, ayo gabung, aku kenalin sama kakak nya Bunga dan juga pacarnya, Mereka baik dan humble ko mas,!"


" E,eh,..! Fendi belum sempat menolak tapi Bima sudah menarik tanganany terpaksa ia mengikuti Bima.


" Mba Bunga, mas Nicho, kenalin ini kakak saya namanya Fendi, dia baru saja pulang dari luar negri,..!"


" Tadi kita sudah sempat berkenalan iya kan bro ,.!" Nicho menepuk pundak Fendi.


" Oh, iya,.. !"


" Wah kalian sudah berkenalan,..!"


" Iya,.. Fendi ini pernah satu kampus dengan Bunga, benar begitu sayang,.!" Nicho kembali merangkul Bunga.


" wah kok, Mba gak bilang-bilang, kalau kalian sudah kenal."


" ehm,.. Bunga kamu kenapa diam saja,.!" Fendi ingin mendengar respon Bunga.


" iya,. maaf ya, soalnya saya sedikit lupa sama orang-orang dikampus, jangankan cuma pernah satu kampus, kadang sama teman dekat pun suka lupa kan,..!"


" iya sih,.. aku juga banyak lupa sama temen SD aku dulu wajahnya udah banyak berubah,.! cloteh indah dengan polos.


Mendengar jawaban Bunga membuat hati Fendi terasa sakit, sedangkan Nicho tersenyum kemenangan karena Bunga sudah lebih tenang dan tegas menghadapi Fendi.


" ehm,. Bim.. mas harus cabut,.. ada janji sama temen lama, meskipun tak bertemu cukup lama tapi dia tak melupakan pertemanan kita.!"


" Yah, mas gak bareng aja, bentar lagi juga pada balik,.!"


" Mas duluan aja,.! ehm Bunga, Nicho saya duluan, indah mas duluan ya..!"


" iya mas Fendi,..!"


" Hati-hati bro,.! Nicho kembali menepuk pundak Fendi, meski Nicho tau Fendi tak suka, sedangkan Bunga hanya memberikan senyum tipis yang terkesan dipaksakan.

__ADS_1


Fendi meninggalkan acara lebih dulu, hatinya sudah tak sanggup lagi menahan sakitnya melihat Bunga dengan kekasihnya.


__ADS_2