
"Kakek...." seru Jerome, langsung berhambur memeluk sang kakek.
"Ha,,, haaa,,,,, cucu tampan kakek." ucap Tuan besar tertawa senang, membalas pelukan sang cucu, seraya menepuk punggung Jerome.
Terlihat senyum di bibir Tuan Adipavi, papa dari Jerome. Berbeda dengan Nyonya Meysa yang menampilkan wajah datarnya.
Semalam, saat Jerome sudah terlelap dalam tidurnya, sang kakek datang. Tentu saja kedatangannya di sambut senyum bahagia dari sang putra, yakni papa dari Jerome.
Tapi tidak dengan Nyonya Meysa. Namun beliau berpura-pura bahagia dihadapan semua orang. Seolah dirinya juga menyambut baik kedatangan ayah mertuanya.
Padahal dalam hati Meysa sangat kesal sebal akan kedatangan beliau. Sebelum menikah dengan Tuan Adipavi, Mesya dan Tuan besar memang sudah tidak cocok.
Demi sang putra yang terus merengek meminta restu, membuat Tuan Besar berbesar hati, berusaha menerima Nyonya Meysa menjadi menantunya.
Nyonya Mesya berasal dari keluarga biasa. Bahkan dia adalah anak yatim piatu. Namun bukan karena hal itu yang membuat Tuan besar menolaknya sebagai menantu.
Tuan besar tidak pernah membedakan seseorang dari status sosial, memandangnya dari kekayaan yang mereka punya.
Beliau lebih menilai seseorang karena atitude dan sopan santun yang mereka miliki.
Jerome melepaskan pelukannya. "Kapan kakek datang?" tanya Jerome, mengajak sang kakek ke meja makan.
Jerome sedikit memundurkan sebuah kursi, mempermudah sang kakek untuk duduk. "Terimakasih." cicit sang kakek.
Disusul Jerome dan kedua orang tuanya untuk duduk di kursi meja makan. "Kapan kakek datang?" tanya Jerome lagi.
"Semalam, kamu sudah tertidur lelap." ucap sang kakek.
Jerome mengambilkan makanan, ditaruhnya di atas piring sang kakek. "Makanlah yang banyak, biar kakek awet muda." goda Jerome.
__ADS_1
Nyonya Mesya yang juga sedang melayani sang suami memasang wajah datar. Dalam hati beliau mengumpat, bagaiman bisa, Jerome, putra laki-lakinya menjadi pelayan untuk mertuanya.
"Lebih baik kamu duduk, mengambil makanan untuk kamu sendiri. Kakek masih kuat. Jangan sampai ada yang sakit hati, dikira kakek memperlakukan kamu sebagai pelayan pribadi." sindir sang kakek.
Nyonya Meysa memegang erat centong di tangannya. Tapi dia tetap harus bisa menahan amarah.
Tuan Adipavi merasa keadaan di ruang makan akan kacau jika dibiarkan terus seperti ini. "Jerome, apa kamu akan pergi ke sekolah?" tanyanya, padahal sang putra memakai seragam sekolah.
"Benar kata papa kamu, bukankah ujian sudah selesai. Rajin sekali." timpal sang kakek.
"Ada yang harus Jerome lakukan di sekolah kek, pa." jelas Jerome.
"Mendekati perempuan." celetuk sang kakek.
"Bukan kek." sahut Jerome. "Bukan salah lagi." ucap Jerome dalam hati.
"Dia perempuan baik. Keluarganya juga baik." ujar Nyonya Mesya dengan nada dingin.
"Sudahlah, lebih baik kita sarapan dulu. Jangan membicarakan hal lain." tukas Tuan Adipavi.
Menebak jika pembicaraan tak akan berakhir dan malah akan berdebat. Ujung-ujungnya tak jadi sarapan.
"Ingat Jerome, kakek tidak suka dengan dia." tekan sang kakek. Jerome hanya tersenyum dan mengangguk.
Nyonya Meysa diam tak menimpali. "Siapa juga yang butuh restu orang tua seperti kamu. Memang siapa kamu. Nggak penting." ucapnya dalam hati.
Di sekolah, Selly dan Mira berhenti diarea parkir. Keduanya menunggu kedatangan Mawar dengan perasaan was-was.
"Kenapa belum masuk?" tanya Tian, yang baru datang bersamaan dengan Luck.
__ADS_1
"Pasti nunggu Mawar." tebak Luck.
Mira dan Selly mengangguk, membenarkan perkataan Luck. "Kalian tidak perlu khawatir. Mawar dalam keadaan baik. Jerome pasti menjaganya." cicit Tian.
"Tapi kami masih merasa bersalah kak, meninggalkan Mawar di sana, sendirian." papar Mira.
Tian dan Luck saling pandang, keduanya merasa takjub melihat persahabatan mereka. "Kalian meninggalkannya juga karena ada alasan." ungkap Luck, mengatakan hal tersebut untuk membuat keduanya tak lagi merasa bersalah.
"Tetap saja, meski dengan alasan apapun itu. Namanya meninggalkan tetap meninggalkan." timpal Selly, yang di angguki oleh Mira.
Tian berdiri di antara Mira dan Selly. Tangan kanan dan kirinya merangkul pundak Mira dan Selly. "Sudahlah, Mawar sendiri yang menginginkannya. Bukankah semua demi pak sopir."
Mira dan Selly, bebarengan melepaskan tangan Tian di pundak mereka. "Jaga tangan anda, banyak mata yang memandang." sinis Mira.
"Jangan jadikan kami bahan ghibahan." ketus Mira beralih tempat.
Luck terkekeh pelan, melihat apa yang dilakukan Mira dan Selly pada Tian. "Biasanya kamu hawa akan berlomba menginginkan pelukan gue. Kalian, gue kasih gratis malah nolak." celoteh Tian.
Tian bukannya marah, dirinya malah semakin salut dengan kedua sahabat Mawar tersebut. "Gue pikir hanya Mawar saja yang alergi lelaki. Ternyata,,,," batin Tian.
Benar seperti apa yang dikatakan Mira dan Selly. Kini semua murid memandang keduanya dengan tatapan aneh. "Baru saja diomongin." ketus Selly memutar kedua matanya jengah.
"Mau,,,, mata elo gue copot...!!" seru Selly, berkacak pinggang. Menatap beberapa siswi yang memandangnya sinis.
"Sudah. Jaga emosi. Gue bilangin Mawar nanti, baru tahu rasa." ancam Mira, menghentikan emosi dari Selly.
"Ternyata punya pawang juga." cicit Luck meledek.
Sementara Mawar masih duduk di dalam angkot dengan tenang. Namun siapa sangka, ketenangannya terusik akan kedatangan seseorang yang sangat dia hindari.
__ADS_1