MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 164


__ADS_3

Mawar membuka pintu kamar mandi, pemandangan pertama yang dia lihat adalah badan kekar sempurna milik sang kekasih, yang duduk di pinggir ranjangnya sembari memainkan ponsel.


Mawar meneguk ludahnya dengan kasar. Mawar perempuan normal dan sudah masuk dewasa. Pastinya Mawar juga tergoda oleh sesuatu yang indah dipandang kedua matanya. Termasuk lelaki.


Mawar menggeleng. Menghembuskan nafasnya perlahan berulang-ulang. Mengenyahkan semua pikiran mesum yang ada di dalam otaknya.


Mawar memukul pelan kepalanya sendiri. "Elo perempuan. Ingat, jangan murahan. Astaga Mawar." batin Mawar menegur dirinya sendiri.


Jerome menahan senyum. Ternyata sedari tadi Jerome menyadari pandangan mesum sang kekasih padanya. Jerome malah merasa senang. Itu artinya, Mawar mempunyai rasa ketertarikan juga pada dirinya.


"Jerome, elo memang mempesona. Lihat, Mawar saja terpesona dengan semua yang ada pada diri elo." ucap Jerome dalam hati, menyombongkan diri.


Jerome malah mengangkat kedua tangannya ke atas. Layaknya sedang meregangkan otot-otot di badannya. Membuat tanda kotak-kotak di perut Jerome semakin terlihat jelas.


Meskipun, dirinya harus menahan rasa nyeri karena dengan gerakan tersebut, otot di punggung Jerome juga ikut terangkat.


Apakah Jerome peduli, tentu saja tidak. Yang terpenting dirinya memperlihatkan betapa mempesona dirinya di mata Mawar.


Tentu saja dia ingin menggoda Mawar.


Mawar kembali menggigit bibir bagian bawah.


Kembali, Mawar menetralkan deru nafasnya serta detak jantungnya. "Baru melihat saja sudah seperti ini, bagaimana jika gue pegang badannya."


Mawar merasa seluruh rambut lembut di sekujur tubuhnya berdiri. "Astaga Mawar. Jangan berpikir kotor. Elo hanya mengobati punggungnya. Tak lebih." batin Mawar, melangkahkan kaki mendekat ke tempat Jerome berada.


Jerome menaruh ponselnya. "Sudah?" tanya Jerome yang mendapat anggukan dari Mawar.


Mawar duduk di samping Jerome. "Hadap sana." pinta Mawar, dengan tangan sibuk mempersiapkan obat untuk Jerome.


Jerome menuruti apa yang dikatakan oleh Mawar tanpa berkomentar apapun. Mawar meringis, melihat memar yang ada di punggung Jerome. "Tuhan,,, kak, kita ke rumah sakit saja ya." ajak Mawar, tidak tega melihat luka di punggung Jerome.


Mawar tak segera mengobatinya, Jerome membalikkan badan. "Hey,,, kenapa kamu menangis?"


Jerome mengusap air mata di kedua pipi Mawar bergantian. "Jangan menangis. Aku tidak apa-apa." tukas Jerome.


"Kita ke rumah sakit ya. Mawar takut." cicit Mawar.


Jerome menggenggam telapak tangan Mawar. "Tidak apa-apa. Kamu saja yang mengobati. Pasti akan cepat sembuhnya. Oke."


Jerome memegang dagu Mawar, menekannya perlahan. "Sudah, jangan menangis."


"Jika saja kak Jerome tidak menghalanginya, kak Jerome tidak perlu terluka." tutur Mawar, merasa bersalah.


Cup... Jerome mencium singkat pipi Mawar. "Lalu kamu yang akan terluka. Kamu pikir, aku rela. Tidak. Jika saja kamu yang terluka, pasti aku juga akan melakukan hal yang sama terhadap Jihan." tekan Jerome.


"Jangan. Jihan adik kamu." tutur Mawar.


"Ckkk,,,, entah kenapa, aku mempunyai adik seperti dia." decak Jerome, seperti menyesal.


Mawar tersenyum. "Balik badan kakak. Mawar akan obati." tukas Mawar.


"Gitu dong, senyum. Jangan menangis." Jerome membalikkan badannya. Membelakangi Mawar.


Dengan ekspresi meringis, Mawar mengobati punggung Jerome. Mawar mengobatinya dengan perlahan, sembari dia tiup bagian yang sedang dia obati tersebut.


"Sakit...?" tanya Mawar, memastikan.


Jerome menggeleng. "Tidak. Bukankah aku sudah mengatakan, jika aku baik-baik saja."


Suasana hening. Tak terdengar lagi percakapan Jerome dan Mawar. Jerome memejamkan kedua matanya, merasakan hembusan angin di punggungnya yang berasal dari tiupan mulut Mawar.

__ADS_1


Sedangkan Mawar, fokus dengan punggung Jerome. Mawar mengobatinya dengan pelan. Tentu saja supaya Jerome tidak merasakan sakit.


Gerakan jari Mawar di punggungnya, meski tidak secara langsung. Sebab Mawar menggunakan kapas untuk mengobatinya. Ditambah hembusan nafas yang sengaja Mawar tiupkan di punggung Jerome.


Membuat Jerome merasakan gelenyar aneh di depan tubuhnya. "Sial.." umpat Jerome dalam hati.


Jerome membalikkan badannya. Dan cup.....


Jerome memegang kedua pundak Mawar, dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir Mawar. Tak kuat menahan rasa yang bergejolak di dalam perasaannya.


Mawar hanya bisa terdiam, sembari mengedipkan kedua matanya dengan lucu. Nafasnya seakan terhenti di tenggorokan.


Kapas yang ada di tangannya terjatuh ke bawah. Tangan kiri Jerome, membawa tangan Mawar ke dadanya. Dengan tetap menempelkan bibirnya ke bibir Mawar.


Mawar memejamkan kedua matanya. Menikmati ciuman yang diberikan oleh Jerome, yang semakin memperdalam ciumannya.


"Non..." panggil seorang pembantu yang dibawa dari rumah Nyonya Tanti, yang sekarang tinggal di kediaman Mawar.


Tok.. tok.. tok.. "Non..." panggilnya lagi, dengan mengetuk pintu.


Mawar mendorong tubuh Jerome. Menatap Jerome sekilas, ada rasa malu yang menyeruak di hatinya. "Khem..." Jerome berdehem, menghilangkan rasa gugupnya.


"Sebentar bik..." seru Mawar dari dalam. Tangan Mawar terangkat ingin membersihkan saliva di sekitar bibirnya, tapi dihentikan oleh Jerome.


Dengan lembut, tangan Jerome mengusap sekitar bibir Mawar yang basah karena ulahnya. "Sudah kak." tegur Mawar, menyingkirkan tangan Jerome.


Sebab Jerome malah memainkan jarinya di bibir Mawar. "Salahkan saja bibir kamu. Kenapa manis seperti stowberi." celetuk Mawar.


Mawar melengos. "Kak Jerome,,,, strowberi ada yang masam." ketus Mawar, berdiri lalu berjalan menuju pintu kamar.


Jerome mengelus tengkuknya. "Benar juga. Ckk,,, kenapa gue nggak bilang manis kayak permen saja." tukas Jerome berdecih.


"Ada apa bik?" tanya Mawar, setelah pintu kamar terbuka.


Mawar mengambilnya, mengamatinya. "Itu minyak sangat ampuh lo Non, biasanya Tuan Besar dan Nyonya Besar menggunakan itu." jelasnya.


Mawar mengangguk. "Tapi Mawar sudah mengoleskan krim yang Mawar beli dari apotik bik." tukas Mawar.


"Oalah,,,, kalau begitu oleskan lagi nanti Non, sekitar satu jam lagi." jelas sang bibik.


Mawar tersenyum. "Ada apa Non?" tanya bibik.


"Bibik seperti dokter saja." goda Mawar.


"Ah,,, Non Mawar. Ini memang minyak turun temurun dari keluarga saya Non." ujar sang pembantu.


"Mawar masuk dulu ya bik." pamit Mawar.


"Silahkan Non. Oh iya,,, Non. Apa perlu bibik siapkan makanan atau sesuatu?"


Mawar menggeleng. "Tidak perlu. Nanti Mawar akan ambil sendiri." tolak Mawar dengan sopan.


"Baiklah, bibik pergi dulu."


Mawar mengangguk, menutup pintu, lalu kembali ke tempat Jerome. Mawar bernafas lega, karena Jerome sudah memakai kembali kaosnya.


"Sayang, aku harus menemui papa di perusahaan."


Terlihat wajah Jerome yang cemas. "Apa ada sesuatu?" tanya Mawar.


Mawar juga ikut menjadi khawatir. Sebab Jerome terlihat menampilkan ekspresi yang tak biasa. Terlihat dia sedang menghadapi masalah.

__ADS_1


Jerome memegang kedua pundak Mawar. "Bukan masalah besar. Hanya ada tikus kecil yang sedang berulah. Jangan khawatir."


Jerome mengelus rambut Mawar. Cup.... Mencium kening Mawar dengan lembut. "Jadi nggak sabar pengen segera menikah." celetuk Jerome.


Dari ekspresi cemas, langsung berubah dalam sekejap, menampilkan ekspresi bahagia. Mawar memutar kedua bola matanya dengan jengah.


"Segeralah berangkat. Om Adipavi pasti sedang menunggu." ujar Mawar.


Bukannya segera meninggalkan kamar Mawar, Jerome malah memeluk tubuh sang kekasih. " I love you." bisiknya.


Mawar tersenyum malu-malu. Kedua tangannya yang masih di samping tubuhnya, perlahan terangkat membalas pelukan Jerome.


Mendekap tubuh Jerome. "I love you too." lirih Mawar.


Jerome mengurai pelukannya dengan segera. Memegang kedua bahu Mawar. "Kamu bilang apa. Katakan lagi." pinta Jerome.


Mawar memasang ekspresi kesal. "Kak Jerome, om Adipavi sedang menunggu."


"Katakan lagi. Atau aku tidak akan pergi." ancam Jerome.


"Ampun, kak Jerome....."


Jerome menggeleng. Bersedekap dada. Menunggu Mawar kembali mengucapkan kalimat yang dia ingin dengar.


Tadi yang ingin segera pergi siapa, dan sekarang malah ngambek. Padahal, sang papa sedang menunggunya.


Mawar mengumpulkan keberanian. Meski hanya sebuah kalimat sederhana, namun Mawar tentu saja merasa malu. Sedangkan bagi Jerome, itu adalah kalimat yang sangat berharga untuk dirinya.


"Kak Jerome, kasihan om Adipavi."


"Biarkan. Yang disalahkan nanti juga kamu."


"Loh. Kok Mawar sih." cicit Mawar.


Jerome menatap Mawar intens. Mawar memilih untuk mengulang kalimat tersebut. Dari pada Jerome tak segera pergi ke perusahaan. Apalagi Tuan Adipavi sedang menunggunya.


"I love you." lirih Mawar.


Jerome mengerutkan keningnya. "Nggak dengar."


Mawar melengos kesal. "I love you."


"Lagi." pinta Jerome, dengan ekspresi imut. Dan ini pertama kali Mawar melihatnya.


Mawar tersenyum. Mencubit pipi Jerome dengan gemas. "I love you. Kak Jerome. I love you, sayangku." ucap Mawar.


"Eeehhh,,,," seru Mawar menarik tubuh Jerome yang hendak duduk di tepi ranjang.


"Kakiku lemas, tubuhku seperti tak bertenaga." cicit dengan manja.


"Kak Jerome. Ayo cepat. Papa kak Jerome sedang menunggu." tukas Mawar.


Benar saja seperti dugaan Mawar. Ponsel Jerome berdering. Jerome melihat, ada nama PAPA di layar ponselnya.


"Jerome sedang di jalan pa, sedang menyetir." ucap Jerome setelah menggeser gambar berwarna hijau di layar ponsel miliknya.


Jerome mematikan ponselnya, tanpa menunggu apa yang akan dikatakan oleh lawan bicaranya. Mawar hanya bisa mendengus sembari menggeleng.


Cup.... "Suamimu pergi dulu sayang." tukas Jerome, pamit pada Mawar.


Mawar hanya bisa melongo. Mengekor di belakang Jerome. Tak lupa, Jerome berpamitan pada Nyonya Tanti, nenek dari Mawar sebelum meninggalkan rumah Lina.

__ADS_1


Mawar tertawa pelan, melihat ke arah tangannya yang menggenggam sesuatu. Dimana, dirinya sampai lupa memberikan minyak oles yang diberikan oleh bibik.


"Semua karena kak Jerome." lirih Mawar. Tersenyum membayangkan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan juga Jerome.


__ADS_2