MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 143


__ADS_3

Dona mengamuk kembalinya dari rumah Weni. Apalagi video yang memperlihatkan dia masuk ke dalam ruang ganti menyebar di grup chat sekolah dengan semua komentar yang menyudutkannya.


"Brengsek. Siapa yang sudah menyebarkan video ini?!" serunya tidak terima.


Bukan sadar akan kesalahannya. Dan meminta maaf ke pihak sekolah. Dona malah semakin murka. "Gue akan cari, siapa yang berani-beraninya bermain-main sama gue." geramnya.


"Aaa.....!!!" prak... prak.... Apapun yang bisa diraih oleh tangannya, dia lemparkan ke sembarang arah.


"Sial...!!!" Dona menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.


"Weni, Gaby, Mawar. Siapapun kalian. Gue akan melenyapkan kalian...!!" teriaknya dengan histeris.


Kini, Dona benar-benar merasa stres. Belum perselingkuhannya sang papa yang pasti dirinya akan terkena getahnya juga.


Video di mana dirinya merobek pakaian yang seharusnya dipakai oleh Mawar. Tapi malah digunakan oleh Gaby. Alhasil Gaby lah yang menjadi korbannya.


Ditambah lagi, nilai ujian yang pastinya sudah bisa ditebak. Dan tentu akan sulit untuk Dona masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya.


Sebab, saat ini sang papa sedang dalam masalah dengan sang mama. Dan pastinya, semua yang menyangkut dirinya akan diambil alih oleh sang kakak. Dami.


"Kenapa semua di luar rencana gue. Sialan...!!" serunya, di saat semua rencananya gagal berantakan. Dan malah kehidupannya juga berantakan.


Di kamarnya, Dami duduk sembari memikirkan banyak hal. "Astaga. Apa aku akan kuat Tuhan." gumamnya, memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut.


Perselingkuhan sang papa. Yang pastinya akan berujung perceraian antar kedua orang tuanya. Dan tak pelak, hal tersebut juga akan berimbas pada dirinya.


Perusahaan pasti akan terkena dampaknya. Apalagi, perusahan tersebut adalah milik sang mama. Yang kemungkinan besar, Damilah yang akan mengambil alih kursi kepemimpinan.


Dan bukan itu yang Dami pikirkan sekarang. Yakni, apakah sang papa akan dengan mudah menerima gugatan cerai dari sang mama tanpa embel-embel di belakangnya.


Apalagi, selama bertahun-tahun perusahaan di kendalikan dan dipegang oleh sang papa. Yang artinya, sang papalah yang membuat perusahaan menjadi seperti sekarang.


"Kenapa papa harus menyakiti hati kami. Seandainya papa tidak melakukan kesalahan seperti ini, pasti kita tidak akan seperti ini." ujar Dami kecewa atas tindakan yang papa lakukan.


Yang menjadi prioritas utama Dami adalah sang mama. Pasti kesehatan mental sang mama akan terguncang. Dami, sebagai sang putra harus bisa membuat Nyonya Utami terasa nyaman.


Bukan hanya masalah kedua orang tuanya yang menjadi pikirannya. Apalagi jika bukan mengenai sang adik, Dona. "Seandainya adik gue Mawar. Mungkin beban gue nggak akan seberat ini untuk sekarang."


Seandainya Mawar adiknya Dami. Pasti Dami hanya akan fokus pada perusahaan. Dan sang mama, akan bersama dengan Mawar.


Dami tersenyum samar. Teringat bagaimana sang mama tersenyum, bahkan tertawa saat bersama dengan Mawar, padahal sang mama sedang dalam masalah besar. "Kenapa gue malah memikirkan Mawar." cicit Dami disertai kekehan kecil.


"Mawar." Dami menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


Dami harus segera menyelesaikan masalah yang di sebabkan oleh sang adik. Dami yakin, saat ini sang papa tidak akan fokus pada Dona seperti biasanya.


Sebab, pasti sang papa sama seperti sang mama. Sedang dalam masa memprihatinkan. Atau malah, saat ini Tuan Joko sedang bersama wanita yang bertahun-tahun menghangatkan ranjangnya.


"Gue harus segera menemui kepala sekolah dan juga keluarga Gaby. Meminta mereka untuk tidak membawa masalah ini ke jalur hukum." gumam Dami.


Tak ingin berlama-lama. Dami segera pergi ke sekolah Dona, dan juga ke kediaman Tuan Djorgi. "Gue harus membuat Dona berubah."


Entah apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Dami. Yang pasti hal tersebut tidak akan disukai oleh Dona. Namun Dami yakin, jika dia harus mengambil keputusan ini.


Jika cara mendidik sang papa dia teruskan pada Dona. Dami yakin, Dona akan semakin menjadi-jadi atau salah arah. Dan tidak akan pernah berubah.


Di sinilah Dami berada. Di SMA tempatnya bersekolah dahulu. Yang juga SMA tempat Dona menempuh pendidikan.


"Saya datang ingin meminta maaf, atas nama adik saya. Dona. Karena tingkahnya, acara menjadi kacau."


Sebenarnya, Dami sangat malu untuk datang ke sini. Tapi dia harus melakukannya. Semua Dami lakukan demi sang mama.


Kepala sekolah beserta beberapa guru hanya bisa menghela nafas panjang. Mereka sama sekali tidak menduga Dona bertindak seperti itu.


Mereka juga kesal atas apa yang dilakukan Dona. Karena kelakuannya, acara menjadi tidak berjalan seperti yang mereka harapkan.


"Baiklah. Kami akan menganggap Dona tidak pernah melakukannya. Tapi saya mohon. Didik Dona lebih keras. Sepertinya, dia terlalu seenaknya sendiri." tukas kepala sekolah.


Pasalnya, terhitung hari ini, Dona dan siswa kelas tiga lainnya sudah tidak lagi menjadi murid SMA tempatnya menjabat.


"Terimakasih banyak pak." perasaan Dami sedikit lega. Meski dirinya harus menemui Tuan Djorgi dan Gaby setelah ini.


Dami sengaja tidak mengajak Dona. Dirinya tidak ingin semuanya berantakan. Dan malah akan menimbulkan masalah baru. Mengingat bagaimana tabiat sang adik.


"Semoga, Tuan Djorgi memaafkan kelakuan Dona." batin Dami.


Setelah berpamitan kepada kepala SMA tempat sang adik menempuh pendidikan, Dami segera bergegas ke rumah Tuan Djorgi.


Sungguh, Dami harus menyelesaikan masalah Dona hari ini juga. Sebab, Dami yakin. Hari esok dirinya akan lebih sibuk lagi.


Tuan Djorgi terdiam sesaat, mendengar ungkapkan permintaan maaf dari Dami atas nama Dona. "Saya tidak bisa memutuskan sendiri. Di sini, Gaby yang menjadi korban. Jadi, saya serahkan semuanya pada Gaby." ungkap Tuan Djorgi.


Gaby menundukkan kepalanya. Memandang ke bawah. "Dona brengsek. Ingin sekali gue menjebloskan sia ke dalam jeruji besi. Sial...!!" geramnya dalam hati.


Apa Gaby bisa menyentuh Dona. Jawabannya tidak bisa. Dona terlalu banyak memegang rahasia atas Gaby. Salah satunya cincin Gaby yang hilang, karena ingin menjebak Mawar.


Jika Dona sampai berbicara, bisa dipastikan dirinya akan terkena masalah. Apalagi, untuk saat ini Gaby sedang dalam membangun imej baik. Yang mengharuskan Gaby bersikap baik.

__ADS_1


"Bagaimana Gaby?" tanya Dami, lantaran Gaby hanya diam.


Gaby mengangkat kepalanya. Bersitatap dengan Dami. "Kami bersahabat kak. Gaby dan Dona. Sudah lama saling kenal. Mana mungkin Gaby tega untuk berbuat seperti itu. Entah kesalahan apa yang Dona lakukan. Pasti Gaby akan memaafkannya." cicit Gaby tersenyum dengan manis.


Dami bernafas lega mendengar perkataan Gaby. "Kamu yakin?" tanya Tuan Djorgi menyakinkan keputusan Gaby.


Gaby mengangguk. "Yakin, pa. Gaby yakin, Dona tidak ingin melukai Gaby. Kita bersahabat sudah lama." tutur Gaby di mulut.


Jika saja bisa dilihat, hati Gaby ingin sekali melenyapkan Dona dari bumi ini.


"Terimakasih banyak." tutur Dami.


Sedangkan, Weni sudah bersiap. Dikemasinya baju-baju beserta barang-barang yang menurutnya penting. "Kenapa mama tidak ikut?" tanya Weni khawatir.


"Ada yang harus mama lakukan di sini. Kami tenang saja. Mama akan menyelesaikannya dnegan baik. Setelah itu, mama akan menyusul kamu."


"Janji."


Nyonya Puri memeluk erat sang putri semata wayangnya. "Iya. Mama janji."


Tentu saja Nyonya Puri menyuruh Weni untuk pergi dahulu ke tempat yang tidak ada orang yang mengetahuinya. Selain dia.


Dirinya ingin leluasa melakukan sesuatu. Tanpa harus khawatir dengan keselamatan sang anak.


Nyonya Puri sendiri yang mengantarkan Weni sampai ke bandara. Dia ingin memastikan sang putri benar-benar pergi dengan aman.


"Setelah ini, mama akan berjuang mendapatkan hak mama." ucap Tuan Puri tersenyum licik.


Sepeninggal Dami, Gaby masuk ke dalam kamar. Berbaring sembari memainkan ponsel. Betapa terkejutnya dia, videonya telanjang di atas panggung sudah ada di chat grup sekolah.


Berbagai komentar mewarnai video tersebut. Bukan komentar yang iba akan keadaan Gaby. Kebanyakan, mereka malah berkomentar buruk.


Bahkan, ada yang mengatakan jika itu adalah karma untuk Gaby. Karena selama ini telah jahat pada Mawar.


"Sial. Kenapa mereka malah menyerang gue. Seharusnya mereka menyerang Mawar. Bukankah dia yang seharusnya berada di sana. Bukan gue...!!" seru Gaby.


Gaby terus menyentuh layar ponselnya. Membaca setiap komentar di dalamnya. Gaby menggigit bibirnya bagian bawah.


Ketakutan tergambar jelas di kedua matanya. Bagaimana tidak, bahkan ada banyak komentar yang mengatakan ingin sekali mencicipi dan merasakan tubuh mulus Gaby.


Dan juga komentar mesum lainnya. Bahkan ada yang berdebat perihal perawan dan tidak perawan. Gaby melempar ponselnya ke atas ranjang.


"Mereka benar-benar gila." gumam Gaby.

__ADS_1


Gaby memandang tajam ke depan. "Mawar. Semua ini karena dia." serunya. Bukannya menyalahkan Dona atas kejadian ini, Gaby malah menyasar pada Mawar.


__ADS_2