
Jihan tersenyum miring memandang ke arah Mawar yang sedang berbincang bersama sang kakak serta teman-temannya. Tampak kedua matanya memandang Mawar dengan tatapan tak suka.
Guratan licik terukir jelas dalam raut wajah Jihan. Entah apa yang sekarang ada di dalam benaknya. Tak ada yang tahu. Namun yang jelas, rencana jahat pasti sudah tersusun dalam otak busuknya.
Disaat semuanya sedang berbincang mengakrabkan diri, Jihan malah segera menyelinap pergi. Menggunakan waktu dan saat yang tepat untuk menghilang dari semua pandangan orang yang ada di acara tersebut.
Jihan memastikan jika tidak ada yang melihat kepergiannya. Dirasa aman, Jihan segera bergegas pergi ke sebuah lorong untuk menemui seseorang.
Tampak seorang lelaki berdiri menyenderkan punggungnya pada sebuah tiang berukuran besar. "Ini." Jihan memberikan sebuah amplop coklat berisi sejumlah uang.
Lelaki tersebut mengambilnya, dan mencium amplop tersebut seraya tersenyum senang. "Ingat, kerjakan bagian elo dengan benar. Jangan sampai elo menggagalkan rencana gue. Paham." tekan Jihan.
Lelaki tersebut tersenyum sembari memainkan kedua alisnya naik turun. "Tunggu di ruangan yang sudah gue beritahu. Tunggu di dalam sana. Jangan sampai elo salah. Awas saja." ancam Jihan, seraya memberikan sebuah kunci.
Sang lelaki menerima kunci tersebut. "Tenang saja, gue nggak mungkin salah kamar. Siapa yang menolak jika dikasih hadiah seperti itu. Gue sudah nggak sabar." ucapnya tersenyum mesum.
Pasalnya, dia juga telah diberikan foto Mawar oleh Jihan. "Jika pintu diketuk, segera elo buka. Paham." tekan Jihan kembali mengingatkan.
"Oke boss."
"Ingat, jangan pernah membawa nama gue. Katakan, jika elo dan Mawar memang sering melakukan hal seperti itu sebelumnya. Paham?!" tekan Jihan.
Sang lelaki mengangkat kedua jempol tangannya ke atas. "Tenang saja. Gue akan jamin, semua tampak nyata." seringainya.
Jihan tersenyum senang. "Terserah elo mau melakukan apa dengan Mawar. Gue nggak peduli. Tapi yang pasti, semua harus melihat, bagaimana sifat Mawar yang selalu mereka puji." cicit Jihan.
Jihan menggerakkan tangannya. "Beres." sang lelaki suruhan Jihan pergi meninggalkan Jihan begitu saja, dengan sejumlah uang di tangannya. Tentu saja dia menuju kamar yang sudah dikatakan Jihan pada dirinya.
Jihan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Sekarang, tinggal Mawar." ucap Jihan, menatap serbuk bubuk yang dibungkus rapi dalam klip plastik berukuran kecil.
Dimasukkannya kembali benda tersebut ke dalam tas. Tak ingin ada yang melihat dirinya, Jihan segera kembali ke tempat acara.
Di dalam acara tiup lilin hingga potong kue sudah di mulai. Dan kesempatan ini, digunakan dengan baik oleh Nyonya Meysa.
Tak tanggung-tanggung, Nyonya Meysa meminta hadiah pada Jerome di hadapan semua orang. Yakni pertunangan antara Jerome dan Mawar.
"Bagaimana sayang, kalian setuju bukan?" tanya Nyonya Meysa menatap Jerome dan Mawar bergantian.
Mawar hanya diam. Dirinya seolah berada di persimpangan. Menolak, maka dpat dipastikan. Jika keluarga Jerome akan mendapatkan malu.
Dan bukan hanya itu saja. Pasti Jerome akan salah paham. Bisa saja Jerome mengira jika dirinya tidak mencintai Jerome. Dan hubungannya dengan Jerome terancam selesai.
Seandainya menerima keinginan Nyonya Meysa, Mawar sendiri belum berniat ingin berumah tangga di usia muda. Apalagi dirinya sudah berjanji akan mengambil alih kursi kepemimpinan sang kakek.
Sebab, sebagai seorang perempuan Mawar paham kodratnya. Seandainya dirinya menjadi seorang istri. Keluarga kecilnya yang akan menjadi prioritas utamanya jika sudah menikah.
"Jerome, Mawar. Mama hanya ingin, di hari ulang tahun mama ini, ada sesuatu yang spesial." bujuknya, supaya Mawar dan Jerome setuju.
Semua terdiam. Mereka semua tahu akal licik dari Nyonya Meysa. Tentu saja beliau tidak ingin kehilangan sesuatu yang berharga di depan matanya.
"Tante Meysa. Dia lebih berbahaya dari Jerome." batin Deren yang sedari tadi memilih menyendiri.
__ADS_1
"Brengsek." geram Deren dalam hati.
Dan tak ada satupun dari kedua sahabat Mawar atau Jerome yang memberitahu Mawar, jika Deren ada di dalam ruangan ini. Menghadiri acara ulang tahun Nyonya Meysa.
Tuan Tomi diam. Dirinya yakin, jika cucunya akan bisa memutuskan semuanya dengan baik. Terbukti dari ekspresi Mawar yang tenang.
Jika Jerome, Nyonya Meysa yakin dia akan setuju. Tapi entah Mawar. Pasalnya dia masih duduk di kursi SMA.
"Ma, mereka masih terlalu muda." tukas Tuan Adipavi.
"Pa,,, hanya bertunangan. Bukan menikah." kekeh Nyonya Meysa.
Mawar tersenyum samar, dan hal tersebut dilihat oleh beberapa orang. Salah satunya Dami. "Tante Meysa, jika permainan sepeti itu yang anda inginkan. Saya akan mengikutinya." batin Mawar.
Dami tersenyum melihat Mawar. "Apa yang akan elo lakukan adikku sayang." batin Dami, menebak jika otak Mawar sedang merencanakan sesuatu.
"Bagaimana Mawar, kamu maukan?" tanya Nyonya Meysa, terkesan memaksa.
Mawar tersenyum. Lalu mengangguk. "Kenapa tidak. Tapi jika kak Jerome setuju." papar Mawar.
Jerome terdiam. Jerome yakin, Mawar tidak setuju dengan permintaan sang mama. Mengingat umur mereka yang masih terlalu muda. Dan Jerome paham serta mengerti, seandainya Mawar menolak.
"Kenapa dengan Mawar." batin Jerome menebak alasan Mawar menyetujui keinginan sang mama.
"Syukurlah...." ucap Nyonya Meysa dengan senang. "Bagaimana Jerome, kamu juga setujukan?"
Jerome memasang ekspresi datar. Memandang sang kekasih dengan lekat. Sedangkan Mawar, dia tampak santai dan tenang menatap Jerome.
Mawar maju selangkah. Mendekatkan tubuhnya pada Jerome. "Aku hanya tidak ingin membuat semuanya malu. Dan acara ini berantakan." bisik Mawar.
Jerome langsung tersenyum lega. Cup.... "Ini baru kekasihku." cicit Jerome, mengelus pipi Mawar.
Semenjak Mawar mengatakan pada Jerome, bahwa dirinya memutuskan untuk mengambil alih perusahaan sang kakek jika tiba saatnya. Jerome juga berjanji akan terus membantu Mawar.
Dengan mengatakan hal tersebut, Jerome bisa menebak. Jika Mawar tidak ingin menikah di usia muda. Sebab, dirinya harus menjalankan perusahaan sang kakek.
Bahkan, Jerome berjanji jika mereka berdua akan sama-sama menjadi pemimpin sebuah perusahaan. Dan akan bersama-sama membuat keluarga mereka bangga.
Meski Jerome menginginkan Mawar menjadi istrinya kelak, tapi Jerome juga bukan lelaki egois. Dirinya sadar, jika dia dan Mawar masih terlalu muda untuk menikah.
Oleh karenanya, Jerome memutuskan untuk selalu berada di samping Mawar. Saat Mawar akan menjadi pemimpin perusahan Tuan Tomi. Dan dirinya menjadi pemimpin perusahaan keluarganya.
Jerome menggenggam telapak tangan Mawar. Lalu menciumnya. "Aku bersedia." Jerome menatap sang mama.
Nyonya Meysa menghampiri keduanya dan memeluknya bersamaan. "Terimakasih. Mama senang." cicitnya.
Setelahnya, Nyonya Meysa menghampiri keluarga Mawar, yang artinya Lina beserta kedua orang tuanya. "Sebentar lagi kita akan jadi besan." tuturnya senang.
Lina serta kedua orang tuanya hanya tersenyum. Lina tersenyum, memandang Mawar yang dirangkul oleh Jerome. "Dasar." batin Lina.
Seakan Lina tahu, Mawar menerima permintaan Nyonya Meysa hanya karena tidak ingin membuat acara ulang tahun Nyonya Meysa hancur.
__ADS_1
Seorang pelayan datang mnawa sepasang cincin. Diberikannya pada Nyonya Meysa. Mawar dan Jerome tersenyum.
Mereka yakin, jika sang mama memang telah merencanakan dan mempersiapkan semuanya. "Tante Meysa gila. Bisa-bisanya meminta hal seperti itu." bisik Mira.
"Benar. Mawar kenapa menerimanya. Dia masih terlalu muda." sahut Selly.
"Elo mau, Mawar menolaknya. Dan kelurga Jerome akan mendapatkan malu." celetuk Thomas yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka berdua.
Mira dan Selly menatap Thomas sinis. "Ngapain elo di sini." tukas Selly dengan nada jutek.
"Guekan diundang. Makanya gue di sini." sahut Thomas dengan senyum.
"Apaan sih. Pergi yuk, males gue ada dia." ajak Selly pada Mira dengan kesal.
Thomas hanya tersenyum memandang punggung Selly. "Cantik juga dia." gumam Thomas, memuji Selly yang memakai gaun sederhana. Tapi terlihat begitu cantik di mata Thomas.
Jihan meneguk air minum yang ada di tangannya. Menyaksikan Mawar dan Jerome saling memakaikan cincin.
"Tersenyumlah. Dan setelah ini, elo akan menangis." seringai Jihan.
Jihan berjalan menjauh, menuju ke meja dimana tertata berbagai makanan serta minuman untuk para tamu undangan.
Dengan pandangan menatap sekeliling. Seakan memastikan keadaan, Jihan menaruh serbuk yang dia ambil dari dalam tas lalu dituangkan ke dalam gelas berisi minuman tersebut.
Jihan memanggil seorang pelayan. "Berikan ini untuk Mawar dan Jerome. Yang berwarna merah untuk Mawar. Dan yang biru untuk Jerome. Ingat, jangan sampai salah. Sebab yang biru mengandung sedikit alkohol. Sedangkan yang merah aman. Mengerti." pinta Jihan.
"Baik Non."
Jihan bersedekap dada. Melihat pelayan tersebut berjalan ke arah Mawar dan Jerome. Tentu saja Jihan berbohong mengenai kandungan alkohol di dalam minuman tersebut.
"Mawar, permainan akan segera di mulai." Jihan memasang ekspresi sedih. "Dan sebentar lagi, tawa elo akan menjadi tangisan yang tragis. Uuuuhhh,,,, kasihan."
Jihan mengeluarkan ponsel. Mengetik sesuatu di layar ponselnya. Entah Jihan sedang mengirim pesan pada siapa.
"Selesai. Sekarang, gue yang harus berakting." lirih Jihan.
Jihan memasang senyum manis, berjalan ke arah kerumunan. Mendekati Mawar adalah tujuan utamanya. Tentu saja agar Jihan mudah membawa Mawar ke tempat yang dia inginkan, saat Mawar sudah mulai terpengaruh dengan obat tersebut.
Senyum di bibir Jihan semakin merekah manakala kedua matanya melihat Mawar meneguk minuman berwarna merah pemberian pelayan hang dia suruh tadi.
"Sempurna." batin Jihan tersenyum senang.
Jihan berbincang dengan beberapa gadis sepantarannya. Yang dimana mereka adalah putri dari teman sang mama. Tapi, kedua mata Jihan tak lepas dari Mawar.
Jihan tersenyum, saat Mawar menguap serta mengedipkan kedua matanya secara berulang. "Pasti obatnya mulai bekerja." batin Jihan.
Tampak Mawar berjalan seorang diri menuju ke belakang. Segera Jihan berpura-pura pamit pada teman bicaranya. Jihan beralasan ingin ke toilet karena kebelet.
Jihan melangkahkan kakinya dengan cepat. "Mawar,,,, elo mau ke mana?" tanya Jihan dengan ramah.
Mawar memijat keningnya. "Ke kamar mandi." ucap Mawar.
__ADS_1
Jihan tersenyum samar. "Sama, gue juga." cicitnya, berjalan di sebelah Mawar.