
Dami langsung melesatkan motornya untuk pulang begitu Mawar dan Jerome memberitahu mengenai sang mama pada dirinya. "Mama di mana?" tanyanya pada seorang pembantu dengan ekspresi datar.
"Nyonya berpesan, untuk tidak mau di ganggu tuan muda." jelas sang pembantu, yang menandakan sang mama ada di rumah.
"Dona?"
"Nona Dona belum pulang Tuan Muda." jelasnya saat Dami menanyakan Dona.
"Papa?"
"Tuan baru saja pergi Tuan muda."
Sang pembantu agak sedikit curiga, pasalnya Dami mengabsen semua anggota keluarganya. Ditambah, sang Nyonya yang memasang wajah sembab.
Serta Tuan Joko, begitu datang dia langsung masuk ke dalam kamar. Entah apa yang kedua majikannya bicarakan di dalam kamar.
Namun yang pasti, semuanya tidak baik-baik saja. Pasalnya, Tuan Joko keluar dari dalam kamar dengan raut wajah menakutkan.
"Maksud kamu?" tanya Dami, terlihat sang pembantu sepertinya bingung hendak mengatakan apa. "Katakan saja. Jangan takut." pinta Dami.
Sang pembantu mengangguk. "Saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar, antar Tuan dan Nyonya. Hanya saja, saya yakin semua sedang tidak baik-baik saja Tuan Muda."
Dami mengeratkan kedua rahangnya terdengar suara gemeletuk bunyi anatar gigi atas dan bawah. Segera Dami baik ke lantai atas. Dan langsung membuka pintu kamar sang mama
Sayangnya pintu terkunci dari dalam. "Ma,,, mama,,, buka ma... Ini Dami." teriak Dami, berharap pintu akan terbuka.
Tetap saja tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka dari dalam. "Ma.. mama... buka ma.... Ini Dami...!!" teriak Dami berulang kali sembari mengetuk pintu dengan kasar.
Seorang pembantu datang tergopoh-gopoh. "Ini Tuan Muda." diberikannya pintu lainnya pada Dami. Mereka semua juga merasa khawatir terhadap sang Nyonya yang selama ini selalu memperlakukan mereka dengan baik dan selalu memanusiakan mereka.
Dami membuka dengan perasaan khawatir. Hanya satu kekhawatirannya. Mamanya melakukan tindakan yang nekat.
Dami langsung masuk begitu pintu bisa di buka. Tampak Nyonya Utami duduk berjongkok di sudut ruangan sembari memeluk kedua kakinya, menenggelamkan wajahnya di antar kedua lututnya.
Kedua pundak Nyonya Utami bergetar naik turun. Menandakan beliau sedang menangis. Dami mendekat, memeluk sang mama dengan penuh kasih sayang.
Para pembantu yang tadi ikut masuk ke dalam, semuanya keluar dari kamar. Salah satu dari mereka kembali lagi, dengan segelas air putih di tangannya.
"Tuan Muda, saya taruh di sini." cicitnya dengan kedua mata memerah. Dami hanya mengangguk. Dia keluar darii kamar sang majikan dengan menutup pintu kembali.
Dami membantu sang mama untuk berdiri. Membawanya duduk di atas kursi sofa yang berada di kamar beliau. "Semua akan baik-baik saja ma. Ada Dami di sini."
Dami mencoba untuk tidak terlihat terpukul. Seperti yang dikatakan Mawar, Dami harus bisa menenangkan hati sang mama.
Nyonya Utami masih menunduk. "Ma." Dami memegang kedua pipi sang mama. Membawa wajah sang mama untuk dipandangnya.
Kedua mata Dami melebar, dengan mata memerah menahan air mata dan amarah. Melihat kedua pipi sang mama lebam. Dengan sudut bibir Nyonya Utami mengeluarkan sedikit darah.
Nyonya Utami terus menangis dengan air mata mengalir dari dalam kedua kelopak matanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Dami membawa sang mama ke dalam pelukan. "Gue bersumpah..!! Joko, elo akan mendapatkan balasan atas apa yang elo lakukan pada mama gue." batin Dami, melihat keadaan sang mama.
"Mama tenang. Di sini ada Dami." hanya itu yang bisa Dami katakan. Dirinya tidak tahu lagi, harus berbuat apa dan bertanya apa pada sang mama.
Dami menelpon pembantu untuk membawakan air es untuk mengkompres pipi sang mama. "Tuan muda bisa?" tanya pembantu tersebut, dengan air mata yang sudah jatuh di kedua pipinya.
Dami mengangguk. "Terimakasih."
"Kami ada di bawah. Apapun yang Tian Mida butuhkan. Katalan pada kami." ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Dengan telaten dan lembut, Dami mengompres pipi kanan dan kiri sang mama secara bergantian. "Masih sakit?" tanya Dami.
Tapi Nyonya Utami hanya diam tak menjawab. Ingin sekali Dami pergi mencari sang papa. Membalas rasa sakit yang telah dia berikan pada sang mama. Sakit hati, dan sakit fisik.
Namun Dami lagi-lagi teringat perkataan Mawar. Yang dibutuhkan Nyonya Utami adalah keberadaannya. Bukan emosinya.
Apalagi Dona, sang adik yang sama sekali tidak bisa dia andalkan untuk mengurangi rasa sakit yang dialami sang mama. "Seandainya adik gue Mawar, pasti mama tidak akan serapuh ini." batin Dami. Lagi-lagi menginginkan Mawar menjadi adiknya.
Sekitar tiga puluh menit, Nyonya Utami mulai tenang. Dami segera mengambil segelas air. "Minum dulu ma."
Nyonya Utami meminum beberapa teguk air putih dengan dibantu oleh Dami. Beliau tersenyum, meski air matanya masih menetes dari kedua kelopak matanya.
"Semua alan baik-baik saja. Ada Dami di sisi mama." tukas Dami.
Nyonya menghela dan menghembuskan nafas dengan perlahan. Mencoba untuk mengatur emosinya kembali. "Dari mana kamu tahu, sayang?" tutur beliau tersenyum getir.
"Mawar."
Nyonya Utami tersenyum, tangannya mengusap kedua pipinya yang basah karena air mata yang seakan tak ingin berhenti mengalir. "Pasti ibunya yang memberitahu dia."
"Sebelum itu, Mawar juga sudah tahu. Tapi dia tidak ingin memberitahu mama. Katanya tidak ingin mama bersedih. Sama seperti dia dan ibunya." jelas Dami.
"Anal itu." Nyonya Utami mengerjapkan kedua matanya dengan cepat. Berharap air mata tak akan keluar lagi. "Dia sangat penyayang pada siapapun." puji Nyonya Utami.
"Temani mama dulu ya." pinta Nyonya Utami.
"Tanpa maka minta, Dami akan selalu berada di samping mama. Menemani mama. Dan mendukung setiap keputusan yang mama ambil." tekan Dami.
Nyonya Utami memeluk tubuh sang mama. "Terimakasih sayang. Mama sangat beruntung memiliki kamu." tutur Nyonya Utami.
"Jangan pernah membalas kelakuan papa. Gunakan hati kamu." lanjut Nyonya Utami.
__ADS_1
"Iya ma." sahut Dami. "Tapi maaf, Dami tidak bisa berjanji untuk yang satu ini." ucap Dami dalam hati.
Putra mana yang akan berdiam diri. Melihat sang mama diperlakukan tidak adil oleh sang papa. Melukai batin sang mama hingga seperti ini. Ditambah lagi luka fisik.
"Aku berjanji, papa akan menerima balasan hang setimpal atas apa yang dilakukan pada mama termasuk perempuan iblis itu." batin Dami membara penuh dendam.
Sedangkan Mawar dan Jerome telah sampai di kediaman Jerome. Sebenarnya, Mawar menolak diajak ke sini. Tapi Jerome tetap bersikeras untuk membawa Mawar ke rumahnya. Dan Mawar hanya bisa pasrah.
"Selamat datang. Maaf ya, tante waktu itu berbicara kasar sama kamu." cicit Nyonya Mesya, bersikap welcome atas kedatangan Mawar ke rumahnya.
"Iya tante." sahut Mawar dengan ramah.
Nyonya Mesya mengajak Mawar duduk di sofa, dengan Jerome duduk di samping Mawar. "Kalian dari mana?" tanya Nyonya Mesya.
"Mawar habis mengantar Jerome daftar kuliah." sahut Jerome.
"Pantas, kamu masih pakai seragam." cicit Nyonya Mesya.
Meski Nyonya Mesya sudah bersikap baik dan menerima kedatangan Mawar dengan baik, namun Mawar masih merasa enggan dan masih sedikit menjaga jarak.
Sebab Mawar tahu pasti, kenapa beliau bisa bersikap ramah dan baik pada dirinya. Tak lain tak bukan karena materi.
Coba saja Mawar masih seperti dulu. Gadis miskin yang tak punya harta. Pasti dirinya juga tidak akan diperlakukan baik oleh mama dari lelaki yang beberapa hari lalu telah menjadikannya sebagai kekasih.
Nyonya Mesya terlihat begitu memaksakan diri untuk bisa dekat dengan Mawar. Tapi Jerome bisa melihat, jika Mawar masih menjaga jarak dan terlihat sedikit enggan membuka diri.
Jerome tak bisa menyalahkan Mawar. Karena, biar bagaimanapun, sang mama pernah membuat hati Mawar sakit. Tapi Jerome berharap, Mawar bisa memaafkan sang mama, dan keduanya bisa akur.
Mawar berada di rumah Jerome tidak sampai malam. Sebab, Mawar meminta untuk segera pulang. Dirinya beralasan kasihan pada sang mama yang sendirian di rumah.
Dan Jerome tahu, itu semua hanya alasan Mawar. Supaya bisa secepatnya meninggalkan rumahnya. Karena masih merasa tidak nyaman berbicara dengan sang mama.
"Apa mamaku sangat menganggu kamu?" tanya Jerome tiba-tiba di dalam mobil, saat perjalanan mengantar Mawar.
Mawar menoleh ke arah Jerome. "Maksud kak Jerome apa?" tanya Mawar.
"Kamu perempuan pandai, pasti tahu apa arti pertanyaanku." ujar Jerome dengan raut wajah datar.
Mawar hanya diam. Pertanyaan Jerome terkesan memojokkannya. "Bukankah mama sudah meminta maaf, apa begitu sulit memaafkan mama."
"Mawar hanya belum bisa sepenuhnya dekat dengan mama kak Jerome. Masih ada rasa tak enak dalam diri Mawar." cicit Mawar berkata dengan jujur.
"Itu karena kamu tidak mau berusaha. Coba kamu berusaha untuk memaafkan mama. Pasti semua akan mudah bagi kamu."
Jerome kembali bersikap egois, hanya melihat dari segi pandang dirinya. Tanpa memikirkan perasaan Mawar yang pernah dibuat malu oleh sang mama di hadapan orang banyak.
Jerome hanya bisa mengatakan dengan ucapan yang terdengar mudah. Sebab dirinya tidak berada di posisi Mawar, saat dihina di hadapan orang banyak.
Mawar hanya diam, membuang pandangan ke arah samping. Dirinya tidak ingin berdebat di dalam mobil, terlebih di saat Jerome menyetir.
Apalagi Mawar yakin, pasti Jerome akan selalu mencari alasan untuk dirinya memaafkan mama dari Jerome.
Mawar tersenyum samar. Mawar tahu kenapa Jerome melakukan hal tersebut. Seorang anak, pastinya akan selalu membela ibunya. Perempuan yang telah melahirkannya.
"Terimakasih kak." cicit Mawar.
"Hemm.." ujar Jerome dengan dingin tanpa menatap ke arah Mawar.
Mawar turun dari dalam mobil Jerome. Dengan segera, tanpa mengucapkan apapun Jerome langsung tancap gas.
Mawar tersenyum kecut. Perkara sepele, dan Jerome marah pada Mawar. "Hufftt,,, kuat Mawar." cicit Mawar menyemangati dirinya sendiri.
"Ingat, kamu tidka boleh bersedih karena perbuatan orang lain. Atau tindakan, atau perkataannya sekalipun." gumam Mawar.
Kedua kaki Mawar tak mau beranjak dari tempatnya. Saat melihat dua mobil mewah parkir di halaman rumahnya yang sempit.
Mawar menghela nafas panjang. "Tadi pagi, hidupku tampak menyenangkan. Sekarang,, astaga. Tuhan memang maha adil. Pagi hingga siang diberi kesenangan. Dan sekarang, hanya tersisa rasa pahitnya." ujar Mawar tersenyum getir.
Dirinya tahu siapa pemilik mobil tersebut. Djorgi dan sang kakek. Mawar menduga jika sang nenek berada di dalam. "Pasti mereka sedang tertawa bahagia." cicit Mawar
Mawar teringat saat di restoran malam itu. Bagaimana sang nenek dan sang ibu begitu akrab dan sangat perhatian terhadap Gaby. Hingga lupa keberadaannya.
Langkah kaki Mawar malah menjauh dari rumahnya. "Biarlah mereka semua bahagia dengan caranya. Dan gue, akan mencari kebahagiaan dengan cara gue." tukas Mawar, dengan senyum penutup luka di bibir.
Mawar berjalan sembari bersenandung kecil. Sesungguhnya, Mawar membutuhkan teman. Hanya saja, Mawar tak ingin terlalu menjadi beban orang lain. Dan malah akan menjadi parasit untuk hidup orang lain.
Atau meminta pertolongan dari orang lain. Yang malah akan memberatkan dirinya untuk kemudian hari.
Tiiiiittt..... suara klakson motor membuat jantung Mawar mendapat syok terapi. "Astaga." keluh Mawar menahan emosi yang langsung naik ke ubun-ubun.
Dan Mawar tahu, siapa lelaki yang berada di sampingnya. Masih duduk di atas motor, meski menggunakan helm full face di kepalanya.
"Erza....!!!" seru Mawar tertahan.
"Apa...!!!" sahut Erza menirukan nada bicara Mawar.
"Kamu mau buat aku mati karena kaget?!" sungut Mawar.
Erza membuka helm dari kepalanya. "Nggak... kamu saja yang terlalu fokus dengan jalan. Hingga nggak sadar, gue ada di belakang elo." sahut Erza beralasan.
"Mau kemana neng. Abang siap antar." Erza memainkan kedua alisnya naik turun. "Sini, jok abang masih kosong neng." Erza menepuk-nepuk jok motornya.
__ADS_1
Mawar mencebik. Ini yang saat ini dibutuhkan Mawar. Hiburan yang mampu membuatnya melupakan semua masalah yang ada di dalam benaknya.
Dan Erza tahu, jika Mawar sedang dalam masalah. Tapi dia tak ingin bertanya. Erza hanya ingin menjadi pelipur rasa tersebut, tanpa harus tahu alasan Mawar bersedih.
Tanpa berpikir dua kali, Mawar naik ke atas motor Erza. "Bawa motor yang kenceng ya." pinta Mawar.
Erza memberikan helmnya pada Mawar. "Pakai ini."
"Lalu kamu?" tanya Mawar, belum mengambil helm tersebut.
"Ambil saja." ujar Erza.
Mawar mengambilnya, dan memakainya. "Kamu yang memaksa ya." tukas Mawar.
"Iya." Erza tersenyum.
Seperti permintaan Mawar, Erza melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sangat cepat, seperti pembalap. Hingga Mawar dengan erat melingkarkan kedua tangannya di perut Erza.
Erza menghentikan motornya saat mereka berada di sebuah pinggiran kota yang penuh dengan pohon pinus. "Elo gila..!! Gue hampir mati..!!!" teriak Mawar, turun dari motor dan langsung melepas helmnya.
Duduk di atas aspal dengan kaki berselonjor. Erza tertawa lepas. Jongkok di hadapan Mawar. "Hey,,, tuan putri. Hamba hanya melakukan tugas yang tuan putri berikan pada hamba."
Mawar cemberut dan menahan senyumnya. "Tetap saja, terlalu kencang." sungut Mawar dengan wajah memerah karena takut.
Erza mengelus rambut Mawar dengan lembut. "Maaf."
Mawar menepis tangan Erza. "Iiihhh,,, jangan pegang-pegang."
Mawar menatap ke sekeliling. Dirinya baru sadar, jika berada di tempat yang sepi. Seperti tak ada kehidupan sama sekali. "Kamu takut ya." goda Erza.
"Nggak. Ngapain takut." ucap Mawar dengan angkuh. Berbeda dengan apa yang rasakannya. Tentu saja Mawar takut. Apalagi dirinya mempunyai pengalaman menakutkan di tempat sepi seperti ini.
"Elo mau ngapain?!" tanya Mawar dengan menggeser duduknya ke belakang. Saat Erza mendekatkan wajahnya ke wajah Mawar.
Segera Erza kembali menarik wajahnya seraya tertawa lepas. "Astaga Mawar, wajah kamu. Lucu sekali."
"Aaaww..." seru Erza, mendapatkan cubitan maut dari Mawar.
"Sudah tahu aku takut." gumam Mawar kesal.
"Iya maaf." ujar Erza merasa bersalah.
Mawar menatap ke sekeliling. Apalagi matahari sebentar lagi akan menenggelamkan diri. Erza menggandeng lengan Mawar. "Ayo,,, cepat ikut. Keburu terlambat."
"Kemana?" tanya Mawar.
"Jangan banyak tanya. Ayo?" Erza mengajak Mawar membelah hutan pinus di samping mereka, dengan berlari kecil.
"Jangan berlari." pinta Mawar. "Capek." keluh Mawar.
Erza menghentikan langkahnya. Jongkok di depan Mawar, menepuk punggungnya sendiri. Awalnya, Mawar tidak mengerti keinginan dan maksud Erza.
Baru setelah Erza bicara, Mawar mulai paham. Jika Erza ingin menggendong dirinya. "Ayo,,, sini,,, naik. Cepat." pinta Erza dengan nada memaksa.
"Ogah." Mawar berlari meninggalkan Erza dengan tersenyum
"Ckk,,, dasar." Erza segera menyusul Mawar.
Erza melihat Mawar berjalan ke arah yang salah. "Hoeeyy... elo salah belok...!!" teriak Erza, membuat Mawar berhenti.
"Sini, dasar sok tahu." celetuk Erza berjalan mendahului Mawar.
Mawar tersenyum samar, mempercepat langkahnya untuk segera bisa menjangkau Erza. "Hati-hati, jalannya agak sedikit sulit."
Erza menunggu kedatangan Mawar, tangannya terulur membantu Mawar. Sebab, jalan yang akan mereka lalui sedikit menanjak dengan bertebaran batu-batu besar.
"Kita mau kemana sih?" terlihat nafas Mawar yang tersengal karena capek.
"Sebentar lagi akan sampai. Ayo." ajak Erza.
Tak berselang lama, Erza mengentikan langkahnya. Juga dengan Mawar. "Lihat." Erza menunjuk ke arah di mana matahari akan terbenam.
Mulut Mawar melongo melihat apa yang tersaji di depan mata. Langit berwarna jingga. Dengan matahari terlihat bulat sempurna.
"Duduk." Erza melepaskan jaket yang dia kenakan. Menggelarnya di atas rumput.
"Erza."
"Nggak apa-apa. Ini sudah kotor. Waktunya mencuci." tukas Erza.
Mawar hanya diam, duduk di atas jaket milik Erza. Memandang ke arah di mana matahari akan terbenam. "Indah sekali." tutur Mawar.
"Jika elo mau, setiap sore elo bisa gue antar ke sini."
"Ogah. Nanti kamu minta ganti bensin."
Erza tertawa lepas mendengar candaan dari Mawar. "Tidak akan banyak. Mungkin selembar uang merah cukup untuk beberapa hari."
"Nggak, akukan sedang menabung."
"Untuk apa? Membeli motor?" tebak Erza. Mawar mengangguk tanpa melihat ke arah Erza. Namun memandang lurus ke depan, dimana matahari akan terbenam.
__ADS_1
Sementara Erza, dia malah fokus pada wajah ayu milik Mawar.