
Jerome berbaring dengan menaruh kepalanya di atas pangkuan Mawar. "Maaf,,, karena kecerobohanku, kamu hampir saja terkena masalah." tutur Jerome.
Mawar membelai rambut sang kekasih. "Bukan salah kak Jerome. Mawar saja yang kurang berhati-hati."
"Kok kak lagi. Kan lagi berdua." cicit Jerome memeluk perut Mawar, menenggelamkan wajahnya di perut rata Mawar dengan manja.
"Kebiasaan sih."
"Tapi aku nggak suka." rengek Jerome.
"Iya, maaf. Sayang...."
Jerome langsung menatap ke atas, menatap Mawar yang tengah tersenyum manis ke arahnya. "Suka?"
Jerome mengangguk segera. "Sayang, kamu ingin aku melakukan apa pada Jihan?" tanya Jerome memulai berbicara serius.
Jerome Jerome memainkan ujung rambut Mawar yang panjang. "Rambut kamu dipotong ya, aku suka." ujar Jerome.
Mawar mengangguk, terdiam sejenak. Menatap lurus ke depan. "Katakan saja, aku akan melakukan apapun yang kamu minta." ujar Jerome.
Dia tahu, jika di sini adiknya yang bersalah. Dan Jerome memang harus memberi hukuman supaya Jihan jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya.
"Apa Om Adipavi sama tante Meysa sudah tahu?"
"Belum."
"Kakek Dewano?"
"Beliau orang pertama yang mengetahuinya." ungkap Jerome.
Mawar mengangguk perlahan. Bisa disimpulkan, jika yang menggagalkan rencana Jihan tak lain adalah sang kakek. Tuan Dewano sendiri.
Mawar tersenyum samar. Entah apa yang ada di dalam otaknya. Tapi yang jelas, sesuatu telah ada di dalam pikirannya.
"Aku tidak bisa memberi hukuman atau apapun pada Jihan, sebagai efek jera. Aku hanya orang luar yang tidak mempunyai wewenang." ucap Mawar, meski di sini dirinyalah korban dari rencana jahat Jihan.
Jerome bukan lelaki bodoh. Dia bisa memperkirakan apa yang ingin di katakan oleh Mawar. "Kapan, kamu ingin memberitahu mama dan papa?" tanya Jerome tersenyum.
Dirinya tidak menyangka Mawar akan mengatakan hal tersebut. Tentu saja, apa yang dikatakan Mawar terlihat seperti Mawar membiarkan serta memaafkan tindakan Jihan.
Tapi sayangnya bukan itulah yang terkandung dalam perkataan Mawar, yang baru saja Jerome dengar. Mawar ingin, tindakan Jihan diketahui oleh kedua orang tuanya. Tuan Adipavi serta Nyonya Meysa.
Dan Mawar, menyerahkan semuanya pada kedua orang tua Jihan. Atas apa yang telah dilakukan Jihan pada Mawar. Tentu saja, dari sini kita bisa melihat.
Apa kiranya yang akan Jihan terima dari kedua orang tuanya. Dibiarkan karena Mawar menyerahkan semuanya pada mereka.
Atau sebaliknya, Jihan akan tetap mendapatkan sanksi atas tindakan yang semestinya tidak pernah dia lakukan.
"Apa Jihan masih lama di sini?" bukannya menjawab, Mawar malah balik bertanya pada Jerome.
"Aku kurang tahu."
"Nanti saja, setelah dari sini kita ke rumah kamu dulu." pinta Mawar.
"Baiklah."
__ADS_1
Keduanya saat ini berada di sebuah tempat yang tampak indah. Di sepanjang kedua mata memandang, hanya ada hamparan dedaunan berwarna hijau, dengan sedikit warna lain, karena beberapa tumbuhan tersebut sedang berbunga.
Entah dari mana Jerome menemukan tempat seindah ini. Dan Mawar menyukainya. "Capek?" tanya Jerome, melihat Mawar menarik pinggangnya.
Jerome bangun dari tidurnya, beralih membaringkan diri di sebelah Mawar. "Sini." ajak Jerome.
Mawar menggeleng. "Nggak takut ada ulat." tolak Mawar.
Jerome membuka jaket yang dia kenakan. "Sudah. Aku jamin tidak akan ada ulatnya." Jerome merentangkan jaket di bawah, menjadikan alas untuk Mawar tidur.
Mawar tersenyum. "Ehh... Nggak jadi." ujar Mawar, saat hendak berbaring.
"Ada apa?"
Tanpa menjawab, Mawar melihat ke arah kakinya. Dimana hari ini, Mawar memang tidak memakai celana jeans panjang seperti biasanya. Dia mulai memakai dress jika ingin bepergian. Dan hari ini, Mawar dress sederhana dengan panjang tepat dibawah lutut.
Jerome tertawa pelan. Mengerti kenapa Mawar tidak jadi tiduran. "Tidak apa-apa. Hanya ada aku. Tenang saja, aku tidak akan macam-macam." papar Jerome.
Dengan perlahan, Mawar membaringkan badannya. Menggunakan lengan Jerome sebagai bantal. Mawar menghela nafas panjang. "Indah sekali." cicit Mawar, memandang ke atas. Hanya ada langit yang berwarna biru bersih tanpa mendung yang ada di atasnya.
"Kak..." panggil Mawar reflek saat Jerome tiba-tiba memeluknya dari samping.
"Sayang." ujar Jerome mengingatkan panggilan yang harus disebut oleh Mawar saat memanggil dirinya.
"Tangannya." tegur Mawar, sebab tangan Jerome berada di atas perut Mawar.
Bukannya memindahkan tangannya, Jerome malah mempererat pelukannya. Membuat tubuhnya dan Mawar sama sekali tak berjarak. "Astaga." keluh Mawar.
"Jadi nggak sabar cepat pengen nikah."
"Siapa?" tanya Jerome.
Mawar menggeleng. "Entahlah." Mawar memperlihatkan sebuah nomor tanpa nama di layar ponselnya pada Jerome.
Jerome mengambil ponsel Mawar. "Sepertinya gue kenal dengan nomor ini." ucap Jerome dalam hati. Melihat dengan seksama nomor ponsel tersebut.
"Deren. Untuk apa dia menghubungi Mawar." batin Jerome.
Jerome yakin jika pemilik nomor tersebut adalah sahabatnya. Deren. Karena terlalu lama, bunyi ponsel Mawar berhenti.
"Mungkin Deren." tebak Jerome, mengembalikan ponselnya pada Mawar dengan ekspresi datar.
"Kak Deren." cicit Mawar, mengulang kalimat yang terlontar dari mulut Jerome.
Mawar memang menghapus nomor ponsel Deren. Karena, selain ketiga sahabatnya, Deren juga memblokir nomor Mawar.
Jerome mengangguk. Beberapa detik, ponsel Mawar kembali berbunyi dengan nomor yang sama. "Untuk apa kak Deren menghubungi Mawar." tutur Mawar.
Mawar menggeser warna hijau di layar ponselnya. "Halo." sapa Mawar saat panggilannya tersambung.
Jerome hanya diam. Tak ada hak serta alasan bagi Jerome untuk melarang Mawar mengangkat panggilan telepon dari Deren.
Mawar mengaktifkan pengeras suara pada ponselnya. Dia tahu, jika Jerome sedang dalam mode cemburu. Hanya saja dia tak memperlihatkan secara langsung di hadapan Mawar.
"Mawar." panggil seorang lelaki di balik ponsel, entah di mana tempatnya.
__ADS_1
"Kak Deren?" tanya Mawar memastikan.
"Iya."
"Ada apa kak?" tanya Mawar langsung, seraya mencuri pandang ke arah Jerome yang duduk di sebelahnya.
"Bisakah kita bertemu?" ajak Deren.
Mawar menelan salivanya dengan kasar. "Emmm,,,, memang kak Deren ada di sini?"
Ingin menjawab bisa. Tapi Mawar ragu. Pasalnya, Mawar tahu jika Jerome pasti akan marah padanya. Meski tak menampakkannya.
"Iya. Bagaimana? Ada yang ingin aku bicarakan." tanya Deren di ujung ponsel.
Jerome hendak berdiri, meninggalkan tempat duduknya. Dengan segera Mawar, memegang erat lengan Jerome. Kembali Jerome duduk.
Mawar menyandarkan kepalanya di pundak Jerome. Dengan tangan tetap memegang lengan Jerome. "Apa Mawar boleh mengajak kak Jerome?" tanya Mawar pada Deren.
Jerome memandang ke arah Mawar sambil tersenyum samar. Tak terdengar sahutan dari Deren. "Maaf, Mawar tidak bisa pergi seorang diri." jelas Mawar.
Jerome memandang lurus ke depan. Ingin rasanya Jerome mencium Mawar. Tapi tetap saja Jerome menahannya.
"Kak Deren." panggil Mawar, tak mendengar suara Deren lagi.
"Seberapa penting Jerome untuk kamu?" tanya Deren.
Deg,,,, dada Jerome berdetak kencang menanti jawaban apa yang akan diberikan oleh Mawar. Ada rasa penasaran dan juga rasa takut.
"Jika kak Deren mempunyai kekasih? Sepenting apakah arti kata tersebut untuk kak Deren?" Mawar membalikkan pertanyaaan untuk Deren.
Jerome lagi-lagi merasa terbang ke awan mendengar setiap perkataan Mawar. Dirinya benar-benar merasa dianggap spesial dan istimewa untuk Mawar.
Tak bisa menahan lagi, Jerome memeluk Mawar dengan erat. Mencium pipi Mawar bertubi-tubi.
Mawar menjauhkan ponselnya. Mendorong tubuh Jerome sambil melotot. Jerome malah tertawa lepas. Dan kembali mencium pipi Mawar. Seolah Jerome sengaja supaya Deren mendengarnya.
"Kak Jerome..." geram Mawar tertahan.
"Apa sayang..." ucap Jerome dengan manja. Mawar menggelembungkan pipinya, menahan senyum di bibirnya. Ada perasaan malu bercampur senang di hatinya.
Di tempat berbeda, Deren mendengar suara Mawar yang memanggil nama Jerome. Meski Mawar sudah menjauhkan ponselnya, tapi tetap saja suara Mawar terdengar di telinga Deren.
Deren tersenyum kecut. "Mawar, sepertinya hati kamu sudah terisi dengan nama Jerome."
Deren mematikan panggilan suaranya. "Mawar. Apa gue harus melupakan kamu. Apa bisa?" tutur Deren.
Deren yakin, mustahil baginya untuk mendapatkan atau merebut hati Mawar. Meski dirinya berusaha terus menerus, tapi Deren sadar. Mawar bukan tipikal perempuan yang mudah membuka hatinya untuk orang lain.
Deren tertawa hambar. Menertawakan nasibnya. Dengan penuh semangat dia meninggalkan negara ini. Hanya demi Mawar.
Tenyata, semua tak seperti apa yang dia pikirkan. Tak sesuai harapannya. "Apa yang harus gue lakukan." gumam Deren.
Ikhlas. Hanya satu kata. Tapi sangat berat. Apa Deren bisa melakukannya. Atau Deren maju terus, merebut hati Mawar. Seperti rencana awal.
Tapi Deren seolah tahu hasil yang akan dia peroleh.
__ADS_1