MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 135


__ADS_3

Jerome membawa Mawar pergi ke warung makan biasa. Bukan restoran. Sebab, pasti Mawar akan menolak. Keduanya makan soto ayam. "Enak?"


Mawar mengangguk. "Dari mana kak Jerome tahu tempat ini?"


"Aku pernah ke sini sekali." sahut Jerome.


Mawar mencebik seraya mengangguk. "Aku ke sini bersama Deren. Bukan perempuan." goda Jerome tersenyum.


"Iiiihhhh,,,, siapa yang tanya." ucap Mawar dengan judes.


Jerome gemas dengan bibir monyong Mawar, tangannya dengan jahil mencubit bibir Mawar. "Aw...." seru Mawar dengan kedua mata melotot.


"Sakit...? Sini, biar aku obati." ucap Jerome dengan memajukan bibirnya, hendak mencium Mawar.


"Mesum." dengus Mawar menahan senyumnya.


Keduanya melanjutkan makan dengan mengobrol ringan. Sesekali Jerome dengan tingkah usilnya selalu menggoda Mawar.


"Sayang, jangan panggil kak dong..." pinta Jerome dengan manja.


Mawar mengerutkan keningnya, dirinya sungguh heran. Jerome yang sekarang sangat berbeda dengan Jerome yang dulu.


"Kak Jeeee.."


"Jangan kak." ujar Jerome memotong ucapan Mawar.


"Lalu apa?"


"Sayang. Panggil sayang." Jerome menampilkan ekspresi yang terlihat sangat manis untuk Mawar.


Mawar menggeleng. "Nggak ah... Malu." cicit Mawar, membuang pandangan ke arah lain.


"Kenapa malu. Aku saja nggak malu." ucap Jerome, dengan ekspresi ngambek.


Mawar menampilkan ekspresi cengonya. "Kak saja ya,,,, Mawar belum terbiasa." pinta Mawar.


Jerome menghela nafas. "Tapi, jika sedang berdua, panggil sayang. Please... Mau ya..." rengek Jerome.


Mawar tersenyum lucu. Mencubit hidung mancung Jerome dengan gemas. "Saat tidak ada orang." tekan Mawar.


Jerome tersenyum senang. Kemudian mengangguk. Mawar hanya tertawa pelan melihat tingkah Jerome yang sekarang, menurutnya sangat menggemaskan.


Selesai makan, seperti yang Jerome katakan. Dirinya membawa Mawar untuk melihat universitasnya yang baru. Sekalian Jerome mendaftar di sana.


"Tidak apa-apa, Mawar ikut ke sini?" tanya Mawar sedikit ragu untuk turun dari mobil.


"Tidak. Sekalian kamu harus tahu."


"Apa?"


"Nanti, kamu juga harus kuliah di sini. Biar kita bisa bersama." tukas Jerome dengan enteng.


Mawar hanya manggut-manggut. "Masih lama juga. Dua tahun lagi." sahut Mawar.


Mawar dan Jerome keluar dari dalam mobil. Keduanya masih menggunakan seragam sekolah SMA. Hanya saja, mereka memakai jaket.


Jerome mengulurkan tangannya. "Ayo." ajak Jerome.


Dengan senang hati, Mawar menerima uluran tangan dari Jerome. Keduanya melangkahkan kaki ke dalam. Sembari berjalan, Mawar melihat ke sekitarnya.


Padahal, Jerome pernah ke sini. Dan bertemu langsung dengan rektor. Tapi, tetap saja Jerome harus kembali ke sini, untuk mengisi beberapa formulir sebagai syarat pendaftaran.


Memang pendaftaran bisa dilakukan secara online. Namun, Jerome memilih untuk mendatangi langsung bangunan yang akan menjadi tempat untuknya menimba ilmu untuk kedepannya.


Kedatangan Mawar dan Jerome langsung bisa mencuri banyak perhatian. Apalagi mahasiswa dan mahasiswi yang memang bertugas untuk membimbing calon mahasiswa baru yang akan mendaftar.


Termasuk juga calon mahasiswa yang juga sedang mendaftar di tempat ini.


"Cakep juga tu cowok." ujar seorang mahasiswa dengan memainkan pena di tangannya. Menatap intens ke arah Jerome.


"Bukan hanya yang cowok. Elo lihat, yang cewek saja lebih cantik dari elo." timpal mahasiswa yang lain.


Sementara, seorang mahasiswa lelaki duduk dengan santai di kursi. Pandangan matanya juga mengarah kepada Mawar dan Jerome. Tampaknya, dia adalah ketua BEM.


"Kak lepas, kita dilihatin tuh." bisik Mawar merasa risih.


Jerome tersenyum. "Bukan tangan kita yang dilihat sayang, tapi kamunya aja yang cantik."


Mawar memutar kedua matanya dengan malas. Bisa-bisanya Jerome menggombal di saat seperti ini.

__ADS_1


Jerome dan Mawar berhenti di depan sebuah meja. Tapi tangan kiri Jerome tetap menggenggam tangan Mawar. "Kamu mau mendaftar?" tanya seorang mahasiswi dengan senyum, bermaksud menggoda Jerome.


"Minggir elo, biar gue." timpal mahasiswi yang lebih cantik, menggeser tempat duduknya.


Mawar tersenyum samar. Mawar dan Jerome bisa menebak. Dia adalah artis di kampus ini. "Kamu bisa ke sana." ucapnya menyuruh Mawar ke meja lain dengan nada jutek.


"Dia akan tetap di sini." tekan Jerome menampilkan ekspresi datar dan dingin.


Beberapa mahasiswa menatap kesal ke arah Jerome. Termasuk mahasiswi yang cantik tersebut. "Tenang saja, dia nggak akan hilang kok. Nggak perlu elo gandengan juga." sinisnya.


"Kak,,, lepas." pinta Mawar dengan lembut.


Jerome menatap Mawar, tersenyum, lalu melepaskan genggaman tangannya. "Ckkk,,, udah ke sana. Lama." ucapnya menatap tajam Mawar.


Seorang mahasiswa menghampiri Mawar. "Kamu di sana saja. Biar sama gue." ajaknya, hendak menyentuh lengan Mawar.


Segera Mawar menggerakkan badannya. Sehingga dia tidak jadi menggandeng Mawar. "Maaf kak, saya tidak mendaftar di sini." ucap Mawar tersenyum manis.


"Kak..." geram Mawar, saat Jerome tiba-tiba membungkam mulutnya. "Jangan tersenyum." tegur Jerome.


Mawar hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah. Tatapan lelaki yang duduk dengan santai di salah satu kursi, mengunci pandangannya kepada Mawar. Bahkan dirinya ikut tersenyum saat Mawar tersenyum.


"Kalau elo nggak mau kuliah di sini, ngapain ke sini." ucap mahasiswa lainnya dengan kesal.


Mawar hendak membuka mulutnya, tapi tertahan saat mendengar suara seseorang yang sangat familiar. "Kalian... ngapain di sini?" tanyanya.


"Kak Dami." panggil Mawar.


Dami hendak mengacak rambut Mawar, tapi Jerome dengan cepat menepis tangan Dami. "Astaga Jeee,,, segitunya elo sama gue.".


"Gue nggak suka cewek gue di sentuh lelaki lain." ucap Jerome dengan cuek.


Semua mahasiswa terdiam. Apalagi Dami mengenal keduanya. Bisa dipastikan, mereka berdua bukan orang sembarangan.


"Wooyy... Mawar, elo beneran mau sama lelaki berwajah datar kayak dia." canda Dami, menatap Jerome.


"Kak..." tegur Mawar, saat Jerome hendak melangkah maju.


"Mau gimana lagi. Kak Jerome maksa Mawar." ucap Mawar dengan lucu. Tangan Mawar melingkar di lengan Jerome.


Dami tertawa lepas. Membuat beberapa mahasiswa perempuan melongo. Pasalnya, Dami dikenal sebagai lelaki yang anti perempuan. Dan cuek terhadap perempuan.


"Kalau nggak dipaksa, mana mau." ucap Jerome dengan santai.


"Terus elo ngapain ke sini." tangan Dami ingin kembali mengusap rambut Mawar, tapi mendapat tatapan tajam dari Jerome, Dami hanya bisa mengibaskannya di udara.


Mawar diam, menatap ke arah Jerome. "Jangan bilang diajak sama dia." tebak Dami, menunjuk ke arah Jerome. Mawar mengangguk.


"Astaga." meski begitu, Dami merasa senang. Akhirnya Jerome bisa mendapatkan hati Mawar. Dan keduanya tampak begitu bahagia. "Semoga adik gue nggak berbuat masalah sama elo, setelah elo menjadi kekasih Jerome." batin Dami.


"Hey,,, elo jadi daftar nggak?" ketus mahasiswi lainnya. Merasa kesal. Pasalnya, dia berulang kali mencari perhatian pada Dami. Tapi Dami tak pernah menganggapnya.


Dan sekarang, seorang perempuan berseragam SMA mampu membuat Dami tertawa lepas. "Lihat saja, elo akan gue kerjain setelah masuk di sini." ucapnya dalam hati. Mengira Mawar akan kuliah di tempat ini.


Jerome mengisi formulir dengan cepat. "Jerome." panggil seseorang, saat Jerome baru saja meletakkan bolpoinnya.


Semua mahasiswa dan mahasiswi tersenyum hormat. Begitu juga Dami. "Mungkin dia rektor di sini." tebak Mawar. Melihat bagaimana pakaian yang dia kenakan. Ditambah cara mahasiswa dan mahasiswi bersikap saat beliau datang.


"Bisa kamu ikut saya sebentar." ajaknya.


Jerome belum menyahuti ajakannya. Dia memandang ke arah Mawar. "Mawar akan bersama kak Dami." tukas Mawar, tidak ingin menganggu Jerome.


Mawar tersenyum ramah pada lelaki paruh baya yang memanggil Jerome. Beliau membalas senyum Mawar dengan baik.


"Tenang saja. Cewek elo aman sama gue." ujar Dami.


Bisik-bisik tak bisa terelakkan. Apalagi Jerome berjalan berdampingan bersama dengan rektor. Masuk ke ruangan beliau.


"Dam,,, siapa dia?" tanya yang lain.


"Jerome." sahut Dami singkat.


"Bukan itu, maksud gue." kesalnya. Padahal dia yakin, Dami tahu apa maksud pertanyaannya.


Dami hanya acuh. Dan menatap ke arah Mawar. "Kamu ikut aku ke kantin saja. Mau?" ajak Dami dengan lembut.


"Tapi Mawar baru saja makan."


"Temani aku saja. Kamu bisa makan jajan."

__ADS_1


Mawar mengangguk. "Heyy,,, elo..!! Elo belum daftar bego....!!" teriak mahasiswi yang menaruh perasaan pada Dami.


Dami berjalan mendekat dengan wajah dinginnya. "Kak Dami." Mawar memegang lengan Dami.


"Yang bego elo, bacot." umpat Dami dengan nada tinggi, terkesan kasar.


"Maaf kak, bukankah kakak sudah dengar, jika saya tidak sedang daftar. Saya masih murid SMA kelas dua. Dan saya hanya mengantarkan kekasih saya." jelas Mawar dengan senyum ramah.


"Elo, punya mulut di jaga. Elo nggak ada apa-apanya di sandingkan dengan dia." ejek Dami, masih merasa kesal Mawar dikatain dengan kata bego.


"Kak Dami udah, katanya mau ke kantin. Ayo,,, Mawar antar." ajak Mawar, menarik lengan Dami.


"Kamu tahu, dimana kantinnya?" tanya Dami menahan senyum, saat Mawar melangkahkan kaki dengan sembarangan, seraya menarik lengannya.


Mawar menggeleng. "Nggak tahu." ucapnya, memamerkan deretan giginya yang rapi dan bersih.


"Dasar." Dami mengacak pucuk rambut Mawar.


"Kak,,, nanti kak Jerome marah loww..." ucap Mawar mengingatkan.


"Jerome nggak ada." sahut Dami.


Mahasiswa lelaki yang sedari tadi menatap Mawar, tersenyum samar. "Mawar. Kelas dua SMA. Cantik." ucapnya dalam hati.


"Lalu siapa Jerome. Hingga rektor kenal dan terlihat akrab dengan dia." batinnya, merasa jika dirinya harus mencari tahu tentang Jerome, pastinya juga dengan Mawar.


"Sial,,,, ternyata masih SMA. Gagal ada mahasiswa cantik." keluh yang lain.


"Mata elo buta, gue lebih cantik...!!" seru mahasiswa yang tadi sempat memandang sinis ke arah Mawar. Dan tertarik pada Jerome.


"Huuuhhh....." sorak semuanya bersamaan. Membuatnya semakin kesal.


Sementara Mawar hanya makan ciki-ciki sambil menemani Dami makan di kantin. Seperti halnya di depan. Beberapa mahasiswa menatap penasaran ke arah mereka.


Sebab, ini pertama kalinya Dami mengajak seorang perempuan. Bahkan makan di kantin, semeja dengan dirinya. Ditambah, ekspresi wajah Dami yang tidak biasa.


Kedua sahabat Dami nimbrung di meja mereka. Dan langsung menatap Mawar. "Jaga mata kalian." tegur Dami.


"Cewek elo?"


"Bukan. Adik gue."


Mawar tersenyum mendengar perkataan Dami. "Jangan ngarang. Gue tahu adik elo. Dona. Angkuh, sombong. Sok kecantikan." ucap salah satu temannya dengan santai.


Mawar mengedipkan kedua kelopak matanya dengan pelan. "Dia gila, di depan kak Dami bilang seperti itu." batin Mawar.


Tapi, Mawar juga melihat Dami terlihat santai. Sama sekali tidak tersinggung. "Terserah elo." tukas Dami.


Ponsel Mawar berbunyi. "Sebentar kak." pamit Mawar, sedikit menjauh dari mereka, dan segera mengangkat panggilan telepon dari sang ibu.


Entah apa yang sang ibu katakan. Keduanya berbicara sedikit lama. Mawar menatap ke arah Dami, tanpa ekspresi. "Baik bu." ucap Mawar sebelum menutup panggilan telepon mereka.


"Ada apa?"


"Astaga. Kak Jerome...!" geram Mawar, Jerome datang dengan tiba-tiba. Membuatnya terkejut.


"Siapa yang telepon?"


"Ibu."


"Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Jerome, melihat ekspresi Mawar yang tak biasa.


Bukannya menjawab, Mawar malah menatap ke arah Dami. "Urusan kak Jerome sudah selesai?"


Jerome mengangguk. "Katakan, aku akan membantu kamu." Jerome membawa rambut Mawar yang ada di wajahnya, ke belakang telinganya.


"Bu Utami sudah tahu."


Jerome terdiam. "Ibu yang memberitahu Mawar. Baru saja." jelas Mawar.


"Bagaimana bisa?" tanya Jerome penasaran.


Mawar menceritakan sesuai dengan apa yang sang ibu katakan pada dirinya. Jerome memandang ke arah Dami. "Kita harus memberitahu Dami."


Mawar mengangguk. "Iya. Pasti sekarang bu Utami sedang terguncang. Meski beliau terlihat baik-baik saja, tapi Mawar yakin, bu Utami pasti merasakan sakit uang teramat."


"Sebentar." pinta Jerome.


Jerome menghubungi seseorang. Dan Mawar juga tidak tahu siapa dan untuk apa. Tapi Mawar segera tahu, setelah mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2