
Suara teriakan Jerome, membuat semua penghuni rumah berlari ke arah mereka. "Astaga,,, Mawar.... Kamu kenapa sayang."
Nyonya Meysa bergegas menghampiri Mawar. Melewati Jihan, seakan sang putri tidak terlihat. Tampak Nyonya Meysa benar-benar khawatir.
Entahlah, beliau benar-benar khawatir, atau memang Nyonya Meysa memainkan peran dengan baik sehingga terlihat begitu menjiwai.
Jihan tersenyum miring. Semakin tidak menyukai Mawar. "Lihat, elo memang penjilat." seru Jihan, menatap Mawar dengan tatapan murka.
"Jihan..." bentak Jerome bersamaan dengan Nyonya Meysa.
"Jerome, bawa Mawar ke atas." pinta Nyonya Meysa pada Jerome. "Ganti pakaian kamu. Lihat, kamu nanti malah sakit jika tidak segera berganti pakaian." lanjut Nyonya Meysa yang melihat Mawar basah kuyup.
"Mama,,, cukup...!! Cukup ma, cukup...!! Sudahi sandiwara mama." seru Jihan, dengan nafas tersengal karena meluapkan emosi.
"Jihan tahu, mama hanya berpura-pura baik pada Mawar. Karena Mawar adalah cucu dari kakek Tomi. Coba jika Mawar masih seperti yang dulu. Gadis miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Apa mama akan memperlakukannya seperti sekarang..!" teriak Johan menggebu.
"Jihan...!" geram Nyonya Meysa. Merasa Jihan sudah keterlaluan. Seandainya apa yang dikatakannya adalah sebuah kenyataan yang benar, tidak seharusnya Jihan berkata seperti itu.
Mawar masih memegang lengan Jerome. Dirinya tidak ingin Jerome kehilangan kendali dan berbuat kasar pada Jihan, yang notabennya adalah adik dari Jerome.
"Ma, bukankah mama juga tahu. Dia." Jihan menunjuk ke arah Mawar.
"Dia sumber bencana dan kesedihan Jihan. Perempuan ini, yang sudah membuat kak Deren menolak perasaan Jihan...!!" seru Jihan.
Mawar hanya diam, bersikap tenang seperti biasa. Sekarang Mawar tahu, jika Jihan melakukan dia seperti ini tak lain karena cintanya ditolak oleh Deren.
"Ayo." Jerome berganti, dilepaskannya cekalan tangan Mawar di lengannya. Kini, Jerome yang memegang lengan Mawar. Dan hendak dibawa ke kamar untuk berganti pakaian.
Jihan, mana mungkin membiarkan Mawar pergi begitu saja. Rasa kesalnya dan benci terhadap Mawar mengalahkan akal pikirannya.
Diangkatnya teko yang berasal dari kaca, dan di lemparkannya ke arah dimana Mawar berada. "Jihan....!!" teriak Nyonya Meysa histeris.
Jerome yang melihatnya, segera memeluk tubuh Mawar, melindungi Mawar dari teko berukuran tanggung terbuat dari kaca, yang dilemparkan oleh sang adik ke arah sang kekasih.
"Eeeughh..." ucap Jerome tertahan, saat benda keras tersebut mengenai punggungnya dengan keras.
"Jerome." seru Mawar dan Nyonya Mesya bersamaan.
"Tuan Muda..." juga beberapa pembantu yang melihat kejadian tersebut. Mereka juga merasa khawatir.
Pyarrr... teko pecah, dengan kaca berserakan ke lantai setelah menghantam punggung Jerome. "Dasar bodoh, rela terluka hanya demi perempuan hina." ucap Jihan dalam hati.
Jihan hanya diam tak bereaksi. Bahkan, tatapan matanya tampak datar, tak menunjukkan ekspresi apapun. Seolah dirinya tidak bersalah, melakukan tindak kekerasan tersebut.
Mawar menatap Jerome dengan tatapan khawatir. "Aku tidak apa-apa." tukas Jerome, membelai wajah Mawar.
Jerome membalikkan badan. Menatap penuh amarah pada Jihan. "Jerome. Jangan." ujar Mawar, menghentikan langkah Jerome, dengan memegang lengan Jerome.
"Jerome..." Nyonya Meysa tampak khawatir. Biar bagaimanapun, Jihan tetaplah putrinya. Sama seperti Jerome yang juga putranya.
Jerome tersenyum memandang Mawar, melepaskan cekalan tangan Mawar di lengannya dengan pelan. Jihan bersedekap dada. Memandang remeh ke arah Jerome.
"Aaww..." seru Jihan, saat Jerome mencengkeram erat kedua pipinya.
Jihan mencoba melepaskan tangan Jerome. Memukul dada serta bagian tubuh Jerome yang bisa dia gapai dengan kedua tangan.
"Jerome,,, lepaskan adik kamu." pinta Nyonya Meysa. Dua-duanya adalah anaknya. Tentu saja Nyonya Meysa tidak ingin terjadi apa-apa pada mereka.
"Gue peringatkan. Sekali elo melakukan kesalahan, menyentuh seujung kuku, atau sehelai rambut Mawar. Gue nggak akan segan-segan bertindak kasar sama elo. Paham...!!" Jerome melepaskan tangannya , dengan mendorong tubuh Jihan ke belakang dengan kuat.
Jihan meringis, memegang kedua pipinya yang baru saja dicengkeram kuat oleh Jerome. "Sayang." segera Nyonya Meysa mendekat ke arah Jihan.
"Lihat ma, demi perempuan murahan itu, bahkan kak Jerome menyakiti Jihan." seru Jihan.
Sebab, selama ini Jerome sama sekali tidak pernah bertindak kasar terhadap dirinya. Apapun kesalahannya. Jerome hanya melenggang pergi tanpa ikut campur. Atau lebih tepatnya malas meladeni sikap iblis sang adik.
"Kenapa kamu menyalahkan aku?" Mawar membuka suaranya. Tetap berdiri di tempatnya, tanpa bergeser sedikitpun.
Mawar merasa risih, sejak tadi disalahkan oleh Jihan. Padahal dirinya tidak pernah merasa berbuat salah pada Jihan.
"Perempuan brengsek. Di sini elo yang bersalah, bedebah....!!" teriak Jihan, dengan pundak di pegang oleh Nyonya Meysa.
"Bersalah. Semua orang di sini punya mata untuk melihat, dan telinga untuk mendengar. Kamu yang bersalah. Mengganggu ketenangan kami. Melakukan tindakan kasar terhadap aku." Mawar tersenyum tipis.
Untuk menghadapi orang seperti Jihan, tak harus menggunakan otot. Apalagi di sekitar banyak orang. Pasti mereka akan menjaga Jihan agar tidak menyerang Mawar.
Hanya perlu menggunakan otak untuk melawan perempuan bertabiat seperti Jihan. Itu jika dihadapan orang banyak.
"Lihat, lidahnya sangat tajam." Jihan menatap Mawar dengan penuh dendam.
__ADS_1
Mawar tertawa pelan. "Sebegitunya, kamu membenci aku. Dasar anak kecil." ejek Mawar. Merasa usia Jihan yang tepat berada di bawahnya satu tahun, bertindak anarkis.
"Camkan omongan saya. Dengarkan dengan baik." tekan Mawar.
Mawar menunjuk ke arah dadanya sendiri. "Hati, perasaan. Tidak bisa di kendalikan oleh otak." Mawar beralih menunjuk ke pelipisnya.
"Deren memang menyukai aku. Ya, aku akui. Bahkan, kakak kamu juga tahu. Apa Deren melakukan tindakan bodoh. Tidak." tekan Mawar.
"Tapi kak Deren pergi ke luar negeri untuk menghindari elo, *****...!!" seru Jihan.
"Jihan..." geram Jerome, mendengar lontaran kata kasar untuk Mawar dari dalam mulut Jihan.
"Karena Deren tahu, jika dia tetap di sini. Semua akan berantakan. Hubungan kita, serta kesehatan jiwa kita. Dan kamu, kamu memang bodoh...." ejek Mawar tersenyum sengit.
"Deren sedang patah hati. Di negara orang. Sendirian. Seseorang yang sedang patah hati, akan mudah diluluhkan. Karena perasaannya sedang sakit. Dan dia membutuhkan obat."
Mawar tertawa ringan. "Kamu saja yang tidak cukup pintar, masuk ke dalam permainan. Gunakan otak kamu. Jangan hanya mengandalkan otot dan emosi yang tidak seberapa." ejek Mawar tersenyum miring.
"Jihan." Nyonya Meysa menahan Jihan yang hendak maju menyerang Mawar.
"Mawar, tolong. Tinggalkan tempat ini. Tante pusing." pinta Nyonya Meysa.
"Kamu seharusnya berterimakasih sama aku. Karena aku tidak memilih Deren. Dan lebih memilih kakak kamu. Karena memang yang aku cintai kakak kamu. Bukan Deren. Coba kalau aku bersama dengan Deren. Hilang kesempatan kamu." Mawar kembali mencemooh Jihan.
"Jerome..." panggil Nyonya Meysa dengan raut wajah sendu.
Perasaan Jerome terasa menghangat. Meski Mawar mengatakan jika dia mencintai dirinya di saat serta waktu yang tidak tepat, tapi setidaknya Jerome mendengar pengakuan dari sang kekasih. Yang selama ini tidak pernah Jerome dengarkan.
"Sebaiknya kita pergi. Hanya membuang-buang waktu dan tenaga, menghadapi dia." Jerome menatap kesal ke arah Jihan.
"Jerome ajak Mawar berganti pakaian dulu." saran Nyonya Meysa.
Mawar tersenyum manis. "Tidak perlu tante. Mawar langsung pulang saja." tolak Mawar dengan sopan.
"Maaf sayang. Maafkan Jihan."
Jihan tersenyum kecut mendengar kata permintaan maaf dari sang mama kepada Mawar. "Menggelikan. Sok penting." gumam Jihan.
"Iya tante. Mawar pamit dulu." pamit Mawar, tanpa bersalaman dengan Nyonya Meysa.
Nyonya Meysa mengangguk. "Kalian hati-hati." tukas Nyonya Mesya, mendapat anggukan dari Jerome.
Plak.... Satu tamparan mendarat di pipi Jihan. "Maaaa..." lirih Jihan tidak percaya.
Tadi sang kakak, Jerome. Dan sekarang sang mama. "Gunakan otak kamu untuk berpikir. Benar kata Mawar. Deren menolak kamu, bukan salah Mawar. Kamu saja yang terlalu bodoh, tak bisa menggunakan kesempatan baik itu." papar Nyonya Meysa menatap kesal ke arah Jihan.
Nyonya Meysa menunjuk ke arah Jihan, yang masih memegang pipinya yang terasa panas dan sakit. "Jauhi Mawar. Awas, jika kamu sampai merusak hubungan kakak kamu dan Mawar. Mama tidak akan tinggal diam."
Hati Jihan terasa di remas. Kini, sang mama yang selalu membelanya, malah memaki dan mengancamnya. Bukan hanya itu, sang mama juga menamparnya.
Mungkin bekas tamparannya akan hilang, tidak dengan rasa sakit di hatinya. "Untuk Deren. Tinggalkan dia. Mama bisa mencarikan lelaki yang jauh lebih hebat dari pada Deren. Paham. Jangan jadi pembangkang."
Nyonya Meysa meninggalkan Jihan seorang diri. "Mawar,,, elo pikir gue akan tinggal diam saja. Melihat elo dipuja dan dibela oleh kakak dan mama gue. Nggak akan. Gue akan membuat hidup elo hancur. Gue bersumpah."
Tangan Jihan mengusap air mata setetes yang terjatuh di pipi kanannya. Tampak kedua matanya menyiratkan rasa dendam yang dalam terhadap Mawar.
Jihan merasa, jika Mawar merebut semua yang seharusnya dia punya. Deren. Jerome. Kedua orang tuanya. Bahkan sang kakek.
Jihan menyeringai. "Tunggu saja. Gue akan membuat elo malu. Dan kak Jerome, dia akan meninggalkan elo." lirih Jihan.
Sementara Mawar, pulang diantar oleh Jerome. Tanpa mengganti pakaiannya yang basah. Hanya menyuruh seorang pembantu mengambilkan seragam sekolah, beserta tas berisi perlengkapan sekolah dan sepasang sepatu di kamar Jerome.
Jerome yang sedang mengemudi, melirik ke arah Mawar yang duduk di sampingnya dalam diam. Menatap ke depan lurus, dengan ekspresi datarnya. "Maafkan Jihan." cicit Jerome, membuka mulutnya.
"Iya. Bukan salah Jihan juga." tukas Mawar.
Mawar merasa jika Jihan melakukannya karena rasa sakit hati atas penolakan Deren yang menyeret namanya. Hanya saja, Jihan tidak bisa berpikir jernih, dan malah menyalahkan dirinya.
"Tetap saja. Jihan yang bersalah." tukas Jerome.
Mawar baru teringat, jika punggung Jerome pasti terluka karena teko yang dilemparkan oleh Jihan. "Kak,, kita mampir apotik dulu." pinta Mawar.
"Untuk apa? Apa kamu sakit?" tanya Jerome cemas.
Mawar tersenyum seraya menggeleng. "Sebentar saja." pinta Mawar.
Jerome mengangguk. Menghentikan mobilnya sesuai permintaan sang kekasih. Mawar. Di depan apotik.
"Kak Jerome di dalam mobil saja. Hanya sebentar." tukas Mawar, saat Jerome membuka sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Baiklah. Pakai jaketku." Jerome melepas jaket di badannya.
Jerome tentu saja tidak ingin Mawar menjadi pusat perhatian, karena dress yang dia kenakan basah. Mawar mengambilnya, lalu memakaikan ke tubuhnya. "Sebentar. Nggak lama kok."
Jerome mengangguk. Tatapannya tak beralih ke punggung Mawar yang masuk ke dalam apotik. Jerome menegakkan duduknya. Terasa nyeri.
Jerome tersenyum sendiri. "Mungkin Mawar membelikan aku obat." tebak Jerome merasa senang, dengan perhatian yang di berikan oleh Mawar.
"Pasti." ujar Jerome dengan yakin, jika Mawar masuk ke dalam apotik untuk membelikannya obat.
Tak berselang lama, Mawar keluar dari dalam apotik, berjalan ke arah mobil Jerome. "Sudah?" tanya Jerome, saat Mawar masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Memangnya kamu membeli apa?" tanya Jerome kepo, mulai menyalakan mesin mobil yang sempat dia matikan.
"Minuman dingin." Mawar mengeluarkan sebotol kecil minuman dingin berwarna kuning yang mengandung vitamin C.
Mawar membuka tutupnya. "Kak Jerome mau?" ujar Mawar menawarkan.
Jerome menggeleng sambil tersenyum kaku. Mawar yang tahu, hanya berpura-pura diam. "Apa Mawar lupa, kalau punggung gue sakit." ucap Jerome dalam hati.
Beberapa kali Jerome melirik ke arah Mawar yang nampak santai menikmati minumannya sedikit demi sedikit, sembari menampilkan ekspresi aneh, karena minumannya yang terasa masam di lidahnya.
Jerome cemberut. Ada rasa kesal menjalar di hatinya. Dia terluka, dan luka itu dia dapatkan karena melindungi Mawar.
Tapi Mawar malah lupa. Bukan Jerome tidak ikhlas menolong sang kekasih. Hanya saja, Jerome juga ingin diperhatikan oleh Mawar. Seperti dirinya yang selalu memperhatikan dan menyayangi Mawar.
Mawar membuang muka, menatap ke arah samping. Sungguh Mawar menahan tawa yang sudah berada di ujung kerongkongan lehernya. "Lucu sekali sih kak Jerome." tutur Mawar dalam hati.
Tak ada percakapan selama keduanya berada di dalam mobil. Hingga mobil yang mereka naiki berhenti di depan jalan rumah Mawar.
Mobil tak bisa masuk ke dalam halaman, lantaran ada banyak material bangunan yang di taruh di sana. "Ayo turun." ajak Mawar, sembari membuka sabuk pengamannya.
"Tidak usah. Aku ada urusan penting setelah ini." tolak Jerome, tanpa menatap ke arah Mawar.
Mawar tersenyum menatap Jerome. "Ternyata dia sensitif sekali." ucap Mawar dalam hati.
Cup... Mawar berinisiatif mencium pipi Jerome lebih dulu. "Ayo turun. Mampir dulu." ajak Mawar lagi.
Jerome menoleh, mengerjapkan kedua matanya dengan binar bahagia. Hanya mendapat kecupan singkat dari Mawar di pipi kirinya.
Jerome segera mengangguk, melepas sabuk pengamannya dan bergegas turun bersama dengan Mawar. "Mudah sekali meluluhkan hatinya. Dasar lelaki." ucap Mawar dalam hati.
Jerome meringis samar, merasakan punggungnya terasa nyeri. Tapi tetap saja dia mengabaikannya.
"Nenek." sapa Mawar, langsung memeluk sang nenek yang tengah membuat rajutan di kursi ruang tengah.
Jerome juga menyapa Nyonya Tanti, dan hendak memeluknya. Tapi, Mawar menghentikannya. "Punggung kamu sakit. Nanti malah tambah parah low." ucap Mawar.
Jerome tersenyum lega. Dia mengira Mawar lupa jika punggungnya sakit. Ternyata tidak. "Loh,,, memangnya kenapa sayang?" tanya Nyonya Tanti dengan khawatir.
Sementara Mawar, tubuhnya terbalut jaket milik Jerome. Sehingga sang nenek tidak tahu jika dress yang dia gunakan dalam keadaan basah karena guyuran air dari Jihan.
"Nggak apa-apa nek, tadi ada anak iseng lempar bola. Malah kena punggung Jerome." ucap Jerome beralasan.
Mawar juga mengangguk untuk menyakinkan perkataan Jerome. Mana mungkin keduanya mengatakan hal yang sejujurnya.
Keadaan malah akan semakin rumit dan ribet. Pastinya, akan berimbas pada hubungan mereka berdua. "Mawar, kamu obati dulu." pinta Nyonya Tanti.
Mawar duduk. Menepuk kursi kosong di sampingnya. "Duduk sini kak, buka kaos kak Jerome." pinta Mawar.
Jerome tersenyum canggung. Ada nenek Mawar beserta seorang pembantu di dekatnya. Jerome pastinya merasa tidak nyaman.
Tapi Mawar sayangnya kurang peka, atau bisa Mawar sungkan pada sang nenek, jika mengajak Jerome masuk ke dalam kamarnya.
Untungnya, Nyonya Tanti paham dan segera tanggap. "Mawar, ajak Jerome masuk ke kamar saja. Obati dia di dalam kamar kamu saja."
Jerome merasa lega. "Tapi ingat, jangan berbuat yang lebih." tekan Nyonya Tanti.
"Tenang saja nek, pintu kamar Mawar tidak akan kami kunci." ujar Jerome.
Mawar segera mengajak Jerome ke dalam kamar. "Tadi Mawar yang masuk ke kamar gue. Sekarang gue yang masuk ke dalam kamar Mawar. Pertanda nih." ucap Jerome dalam hati merasa bahagia.
"Kamu ganti pakaian kamu dulu. Nanti malah sakit." ucap Jerome mengingatkan.
Mawar mengangguk, segera mengambil pakaian ganti di dalam lemari. Membawanya ke dalam kamar mandi. "Sudah dua kali, gue melihat Mawar masuk ke dalam kamar mandi." cicitnya.
Jerome menggelengkan kepala. "Apa yang elo pirkan." lirihnya, mengenyahkan pikiran mesum yang sempat berkelebat di benaknya.
Jerome melepaskan kaosnya dengan pelan. Seraya menunggu Mawar keluar dari dalam kamar mandi. "Gila, ternyata sakit juga. Untuk bukan Mawar yang terkena. Jika saja tadi Mawar yang tekena, gue pastikan. Jihan akan mendapatkan balasan." ucap Jerome lirih.
__ADS_1