MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 71


__ADS_3

"Jangan turun dulu." ucap Jerome, menahan Mawar yang hendak membuka pintu mobil, dan keluar dari dalam mobil.


Mawar memandang heran pada Jerome. "Kenapa?" tanya Mawar polos.


Jerome membuka sabuk pengaman yang melingkar di depan tubuhnya dengan cepat. "Sebentar." cicit Jerome.


Segera Jerome bergegas keluar dari mobil. Sementara Mawar, hanya diam tak bergerak. Kedua bola matanya mengikuti ke mana arah gerakan Jerome.


Ceklekk... Jerome membukakan pintu mobil di sebelah Mawar. "Silahkan." tutur Jerome dengan senyum terpatri di bibirnya.


Mawar hanya bisa melongo melihat apa yang dilakukan oleh Jerome. Bukannya ini terlalu berlebihan.


Mawar hanya ingin membuat Dona kepanasan dengan kedatangannya bersama Jerome. Tapi tidak heboh seperti ini juga.


Jika begini, Mawar dapat pastikan. Bukan hanya Dona saja yang kepanasan. Tapi semua siswi yang secara diam-diam mengagumi Jerome akan terbakar rasa iri.


"Mawar,,, ayo." lirih Jerome, saat Mawar masih duduk dan memandangnya heran.


Mawar menghela nafas panjang. "Harus kayak gini ya kak?" lirih Mawar bertanya.


"Sudahlah, ayo keluar." tutur Jerome. "Lihat, siapa yang berdiri di sana." imbuh Jerome dengan mata melirik ke arah lain, segera mengalihkan perhatian Mawar.


Mawar tersenyum sempurna. "Dona." gumamnya.


Mawar menipiskan bibir disertai senyum miring. "Tepat waktu." ujar Mawar mengikuti permainan yang dilakukan oleh Jerome.


Padahal di sini, Mawar lah yang sedang melakukan permainan. Tapi Mawar heran, kenapa Jerome sepertinya malah sangat antusias dari pada dirinya.


Mawar sebenarnya juga penasaran. Dan ingin bertanya. Tapi keadaan dan waktu yang pastinya sangat tidak bersahabat untuk Mawar menanyakan hal tersebut.


Tidak mungkin Mawar bertanya pada Jerome sekarang. "Baiklah." Mawar keluar dari dalam mobil. Dengan Jerome tersenyum sempurna. Layaknya seorang kekasih yang sedang melayani pujaan hati.


Mira dan Selly berada tak jauh dari tempat Dona berada. Tapi keduanya juga masih bisa melihat Jerome dan Mawar dengan jelas.


"Waowww... " Mira menyenggol lengan Selly, melihat Jerome membukakan pintu mobil Mawar, dengan senyum yang tak pernah dia lihat sebelumnya.


Seperti Mawar, keduanya juga menatap penuh penasaran. Keduanya hanya diberitahu Mawar jika dirinya akan berangkat bersama Jerome.


Tugas keduanya membuat Dona mengeluarkan tanduk. Namun semuanya di luar pemikiran dan dugaan mereka. Dengan adanya adegan buka pintu mobil yang dilakukan oleh Jerome.


Tapi tak apalah, bukannya akan semakin seru. Selly dan Mira saling pandang. Tersenyum penuh makna. Berjalan mendekati Dona dan Weni. "Serasi sekali mereka." celetuk Selly, berdiri di dekat Weni.


"Pastilah. Mawar. Sahabat kita. Lihat, bahkan kak Jerome membukakan pintu mobil. Ooo,,,,, manisnya." kekeh Mira melirik ke arah Dona.


Kedua rahang Dona mengeras. Dona masih bersedekap dada, namun kedua tangannya mengepal sempurna.


Matanya menatap ke arah Jerome dan Mawar penuh permusuhan. Pasti, jika saja bisa terlihat oleh mata. Saat ini kepala Dona mengeluarkan dua tanduk panjang, dengan asap mengepul di atas kepalanya.


Dona menahan amarahnya. Tentu saja dia tidak bisa berbuat apa-apa. Status antara dirinya dan Jerome hanya sebatas teman sekolah. Tidak lebih.


Bahkan, hingga detik ini. Jerome sama sekali tidak pernah menganggapnya. Saat Dona menghubungi Jerome lewat panggilan ponsel. Jerome sama sekali tidak pernah menggubris atau mengangkatnya.


Sama halnya, saat Dona mengirim pesan tertulis pada Jerome. Satupun tak ada yang dibalas oleh Jerome. Semua hanya angin lalu untuk Jerome.


Dan semua itu hanya Dona dan Jerome yang tahu. Mana mungkin Dona mengatakannya pada teman-temannya. Jatuh langsung harga dirinya jika sampai ada yang tahu.


Namun entah mengapa, Dona tetap bersikukuh mendekati Jerome. Padahal Jerome sama sekali tidak pernah menganggap dirinya.


"Ampun,,, senyum kak Jerome benar-benar,,, manis sekali." Selly semakin membuat suasana hati Dona semakin panas.


Keduanya dengan semangat membara mengompori emosi Dona supaya lebih membara. Tapi mereka sebenarnya juga sedikit syok melihat Jerome membukakan pintu mobil untuk Mawar.


"Lihat, kak Jerome tersenyum begitu manis." sahut Mira, mengulang kalimat Selly.


"Dan senyum itu hanya untuk Mawar." celetuk Selly.


"Pastinya. Memang ada perempuan yang diperlakukan seperti itu oleh kak Jerome sebelum ini. Tidakkan." sindir Mira melirik ke arah Dona.


"Mawar, spesial." tekan Selly dalam kalimatnya.


Keduanya menebak jika Dona mencari masalah dengan Mawar saat Mawar berada di butik. Karena tidak mungkin Mawar akan melakukan hal ini, jika Dona tidak mencari masalah dengannya.


Mira dan Selly cukup paham dengan karakter Mawar. "Akhirnya, Mawar bisa membuka pintu kulkas yang selama ini tertutup rapat." ucap Selly sengaja meninggikan nada suaranya.


Keduanya tak mau ambil pusing. Toh mereka dapat bertanya pada Mawar nanti. Yang terpenting tujuan mereka tercapai. Membuat Dona panas terpanggang api cemburu, melihat Jerome dan Mawar yang nampak seperti sepasang kekasih yang saling menyayangi.


Tak hanya mereka saja yang menatap ke arah Jerome dan Mawar. Semua siswa siswi yang memang berada di area parkir juga memperhatikan interaksi keduanya.

__ADS_1


"Lihat, bukankah itu Mawar." ucap seorang murid.


"Gila, berita besar nih. Kak Jerome dan Mawar. Waoww... amazing." timpal yang lain.


"Kalau menurut gue mah, biasa. Cantik sama ganteng. Cocok saja. Sah-sah saja." tukas yang lain.


Mawar memperhatikan ke sekelilingnya. "Benarkan." batinnya. Saat dirinya dan Jerome menjadi pusat perhatian para murid di sekitar mereka.


"Ayo." ajak Jerome.


Mawar menatap Jerome dengan bingung. "Harus bareng?" tanya Mawar merasa riskan dengan tatapan siswa lainnya.


Jerome mengangguk. "Kita harus totalitas memainkan peran. Jangan setengah-setengah." Jerome sedikit mencondongkan badannya, sehingga wajahnya dan Mawar hanya berjarak beberapa centimeter.


Di sini, Jerome malah lebih agresif. Dia ingin memanfaatkan apa yang ada di depan mata. Memainkan permainan yang diinginkan Mawar untuk keuntungannya sendiri.


Jerome berharap, Mawar akan nyaman saat berada di dekatnya. Dengan begitu, Jerome yakin jika akan tumbuh rasa cinta di hati Mawar untuk dirinya.


Sontak saja, apa yang dilakukan Jerome mendapat suara menggoda yang gemuruh dari beberapa murid. "Kak..." Mawar mendorong tubuh Jerome agar mereka tidak sedekat ini.


Jerome tersenyum jahil. Jerome yakin, Mawar pasti sedang malu. "Makanya, ayo jalan." ajak Jerome, mengulurkan tangannya.


Mawar memutar kedua matanya kesal. "Nggak perlu gandengan. Memang Mawar nenek-nenek yang mau menyeberang." decak Mawar kesal.


Mawar nylonong berjalan sendiri. Jerome terkekeh pelan, dan segera berjalan di samping Mawar. Jerome selalu menampilkan senyum di bibirnya di sepanjang jalan. Berbeda dengan Mawar yang berwajah datar.


Hal tersebut malah memancing bisik-bisik dari murid lain. Jerome yang biasanya berwajah datar, kini tersenyum. Dan sebaliknya. Mawar yang biasanya murah senyum, kini memasang ekspresi datar.


"Gue tahu, elo ada di dalam mobil." ucap Jerome dalam hati.


Ya, Jerome ingin menunjukkan pada Deren jika apa yang dikatakannya bukanlah isapan jempol. Dia akan benar-benar akan merebut hati Mawar.


Mengisi seluruh hati Mawar dengan namanya. Jerome. Sehingga tidak ada lelaki lain yang akan masuk ke dalamnya.


Deren memukul keras stir mobilnya. Merasa dirinya seperti seorang pecundang. Tidak berani melangkah. Dan semua itu karena tuntutan kedua orang tuanya.


Jujur, ada rasa takut dalam benak Deren. Takut jika Mawar juga akan membalas perasaan Jerome padanya. Perasaan manusia, siapa yang tahu.


Meski saat berbicara dengan Jerome, Deren mengatakan dengan gampang dan mudahnya untuk kembali memperjuangkan rasa sukanya pada Mawar.


"Apa Jerome sama sekali tidak mengkhawatirkan Mawar." gumam Deren. Dirinya tahu, jika keluarga Jerome tak jauh berbeda dengan keluarganya.


Semua serba diatur. Bahkan untuk memiliki kekasihpun harus mempunyai kriteria tertentu. Dan hal tersebut tak jauh dari harta. Dan juga kekuasaan.


Deren masih berada di dalam mobil. Dirinya akan keluar jika suasana sedikit sepi. Dirinya tak mau semua mata akan beralih padanya, setelah Jerome dan Mawar masuk ke dalam.


Semua siswa juga tahu, bagaimana Deren pernah dekat dengan Mawar. Meski tak lebih dari satu bulan.


Dan sekarang, Mawar tampak dekat dengan Jerome. Tak pelak lagi. Setelah ini pasti akan terdengar berita menghebohkan. Yang Mawar sendiri pasti juga akan terkejut.


Yakni, hubungan antara Jerome dan Deren renggang karena Mawar.


Sedangkan Dona pergi ke ruang musik. Dimana di dalamnya belum ada orang satupun. Melampiaskan amarahnya dengan memukul drum secara membabi buta, sebelum bel masuk berbunyi.


Dona hanya tidak ingin memancing perhatian murid lainnya. Dia tahu pasti apa konsekuensi yang akan terjadi padanya. Jika dirinya membuat masalah di sekolah.


Memang benar, orang tuanya salah satu penyandang dana di sekolah tersebut. Dona mungkin dengan mudah akan lepas dari hukuman di sekolah.


Tapi tidak hukuman yang akan di dapat dari sang papa. Sebab, hukuman dari sang papa lebih mengetikan daripada hukuman yang akan didapat dari sekolah.


Oleh karenanya, itu satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk meluapkan emosinya. Memukul drum menggunakan stik, mengerahkan seluruh kekuatannya.


"Don, sudah. Tangan elo bisa luka!!" teriak Weni menatap Dona dengan sedih.


Dona adalah Dona. Dia tidak pernah mendengar apa yang dikatakan orang lain. Kekeh dengan apa yang diinginkan.


Bukannya berhenti, Dona malah memukul drum menggunakan stik semakin kencang. "Don...!! Stop..!!" teriak Weni.


"Aaaa.....!!!!" Dona melemparkan stik pemukul drum ke tembok dengan frustasi.


"Mawar...!! Gue bersumpah akan buat elo menangis darah!!" ucap Dona dengan wajah memerah menahan amarah.


Weni menelan ludah kasar, melihat ekspresi Dona. Antara takut dan ngeri. "Lihat saja. Gue, nggak akan pernah melepaskan elo." Dona tersenyum menyeringai.


Kali ini, Weni hanya diam. Sama sekali tidak berani mengeluarkan suara. Bertahun-tahun mengenal Dona, Weni cukup paham dengan karakter Dona saat dirinya sedang marah, dikuasai oleh emosi.


"Gue akan cari cara. Apapun itu." gumam Dona bertekad.

__ADS_1


Sementara Caty, mendatangi toko dimana bu Lina bekerja. Entah dari mana Caty mengetahui tempat kerja bu Lina.


Memang mudah bagi orang yang mempunyai uang seperti Caty untuk mencari tahu apa yang dia inginkan.


Salah seorang karyawan toko, memanggil dan memberitahu bu Lina. Akan kehadiran seorang perempuan cantik yang sedang mencarinya.


Bercampur rasa penasaran, bu Kina langsung membersihkan tangannya yang kotor karena adonan kue.


Bu Lina menatap seorang perempuan yang sedang duduk menikmati secangkir kopi beserta sepotong kue.


Bu Lina tahu siapa perempuan tersebut. Calon istri dari mantan suaminya. Caty. Bu Lina menghela nafas panjang. Dan segera menghampirinya.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya bu Lina dengan ramah, masih menggunakan seragam dapur.


Caty memandang bu Lina dari ujung kaki hingga wajahnya. Tersenyum remeh memandang ke arah bu Lina. "Pantas, mas Wiryo meninggalkan kamu." cibirnya lirih.


Melihat bahkan menilai bagaimana penampilan mantan istri dari calon suaminya tersebut.


Bu Lina tetap tersenyum. Meskipun dadanya kini bergemuruh hebat, menahan rasa kesal. Bu Lina cukup tahu diri. Dimana dirinya sekarang berada.


Jika di rumah, pasti dia akan langsung mengusir Caty. Tapi sekarang, mereka sedang berada di toko kue tempat kerja bu Lina.


Bu Lina tidak ingin terjadi kericuhan di toko. Yang nantinya malah akan berdampak pada pekerjaannya. "Kamu tahu, siapa pemilik toko kue ini?" tanya Caty tiba-tiba.


Bu Lina yang masih berdiri di depan tempat Caty duduk, memandang bu Lina dengan tatapan merendahkan. "Ini adalah toko kue milik kakak saya. Djorgi." jelasnya, menyeruput sedikit kopi yang ada di dalam cangkir.


Caty memang sengaja menyuruh pegawai toko untuk memanggil Lina. Tanpa memberitahukan siapa yang mencarinya.


Padahal, pegawai di toko kue kebanyakan adalah pegawai lama. Yang pastinya tahu siapa Caty.


Deg,,,, Kaget, tentu saja. Pasalnya Lina sama sekali tidak mengetahui akan hal tersebut. Toh yang dia inginkan hanya bekerja dengan cara halal untuk mendapatkan uang.


Orang kecil seperti Lina, mana mungkin akan menyelidiki siapa atasannya atau pemilik toko tempatnya bekerja. Dirinya tidak punya kekuasaan sebesar itu.


Yang terpenting, dia bisa mendapatkan pekerjaan. Itu sudah lebih dari cukup.


"Well,,, ternyata kamu mencari makan dari uang keluargaku." sindir Caty, memainkan jari jemarinya.


Dari arah lain, Djorgi menghentikan langkahnya. Melihat sang adik dan salah satu karyawannya berbincang dengan raut wajah yang menurutnya tampak aneh.


Djorgi segera kembali ke ruangannya. Melihat semuanya dari pantauan CCTV.


Bu Lina meremas ujung pakaiannya. "Maaf, jika tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan. Saya lebih baik kembali bekerja." tutur Lina dengan sopan.


"Hah..." Caty menatap Lina dengan angkuh.


"Anda mengatakan jika ini adalah toko kue milik kakak anda. Saya tidak ingin, kakak anda menggaji karyawan yang tidak bekerja." ucap Lina menohok.


"Dan saya mengucapkan berterimakasih. Keluarga anda yang kaya raya, secara tidak sengaja membantu keuangan kami." sindir Lina.


Caty memandang kesal ke arah Lina. Tangannya memegang erat cangkir berisi kopi. Caty cukup pintar memahami maksud dari perkataan Lina.


Sebab, dulu sebelum Lina dan Wiryo bercerai, Lina sekeluarga juga mendapatkan uang dari hasil Wiryo bekerja di perusahaan papa Caty.


Caty mendengus sebal. "Tidak anak, tidak ibu. Sama saja. Sudah miskin, sombongnya minta ampun. Memang di rumah kalian nggak ada kaca." ejek Caty.


"Jangan bawa-bawa anak saya. Kami memang miskin, tapi kami tidak pernah mengemis. Atau mengandalkan uang orang lain untuk menyambung hidup kami. Kami bekerja." tegas Lina.


Caty melongo tak percaya dengan apa yang diucapkan Lina. Entah sengaja atau tidak. Perkataan Lina lagi-lagi mengena pada Caty.


Sebab selama ini, Caty selalu mengandalkan uang pemberian orang tuanya. Tanpa mau bekerja sama sekali.


Caty tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, saat dirinya bersama Mawar di cafe. Terlebih ini adalah toko kue milik sang kakak. Sementara hubungan Caty dan kakaknya tidak cukup baik. Namun juga tidak buruk.


Caty mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Lama-lama berada di dekat kamu. Membuat mood ku hancur."


Caty meletakkan sesuatu yang baru saja dia ambil dari dalam tas di atas meja. "Ini undangan pernikahan kita. Mas Wiryo tidak bisa mengantarnya. Dia terlalu sibuk mengurus pernikahan kita." tentu saja Caty berbohong.


"Jika kamu ingin datang silahkan. Di sana banyak makanan enak dan gratis." ejek Caty berdiri merapikan penampilannya.


"Tapi Mawar, pastikan calon putri tiriku datang. Dia harus menyaksikan hari bahagia ayahnya." Caty tersenyum miring penuh kemenangan.


Lina menghela nafas panjang, setelah Caty meninggalkan toko. Lina tersenyum gatir. "Apa seperti itu, perempuan yang selama ini kamu dambakan."


Lina mendongakkan kepalanya. Entah kenapa, air matanya mulai panas. Padahal dirinya sudah berusaha untuk ikhlas akan semua takdir yang akan dia jalani.


Lina mengambil undangan pernikahan Wiryo dan Caty tanpa melihat atau membacanya.

__ADS_1


__ADS_2