MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 123


__ADS_3

Di rumah Mawar, Jerome sudah datang dan duduk di meja makan. Menunggu kedatangan Mawar seperti hari-hari sebelumnya. Sudah seminggu ini Jerome selalu datang ke rumah Mawar pagi hari. Menjemput Mawar dan berangkat sekolah bersama.


Lagi-lagi Mawar hanya memutar kedua matanya dengan malas, melihat siapa yang ada di meja makan. "Ibu pergi ke pasar." jelas Jerome, saat pandangan Mawar sedang mencari sesuatu.


"Cepat duduk dan makan. Bukankah ini hari pertama kamu ujian kenaikan kelas." ucap Jerome kembali, mengingatkan.


Mawar mengangguk. "Kamu tetap bekerja?" tanya Jerome.


Mawar menggeleng. "Mawar minta izin libur selama ujian."


"Diperbolehkan?"


Mawar mengangguk. "Malah bu Utami sendiri yang menyuruh Mawar untuk fokus ke ujian dahulu." tukas Mawar.


Jerome mengangguk pelan. Dirinya sudah tidak terkejut, jika mama dari Dona melakukan hal tersebut. Sebah Jerome juga tahu, jika beliau memang berhati baik, juga dengan Dami.


"Ada apa?" tanya Mawar, melihat Jerome terdiam melamun. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Bagaimana jika tante Utami tahu apa yang diperbuat suaminya?" Jerome menatap sendu ke arah Mawar.


Mawar menggeleng. Dirinya dan sang ibu, dulu juga pernah di posisi Nyonya Utami. "Ayo cepat, habiskan sarapan kamu."


Mawar berdecak sebal. "Makanya kak Jerome diam. Jangan ajak Mawar ngobrol terus."


Jerome terkekeh pelan. "Maaf." cicit Jerome.


Mawar dan Jerome berangkat sekolah tanpa menunggu bu Lina datang. Mawar memakai seragam sekolah lengkap. Tidak dengan Jerome. Jerome memakai pakaian bebas. Kaos lengan pendek dengan celana denim pendek.


Sebab Jerome tidak akan masuk sekolah. Dirinya tidak ingin mengganggu konsentrasi Mawar saat ujian. Sebab, Jerome selalu ingin menempel pada Mawar, jika melihat wajahnya.


Di mobil, Mawar menyerahkan cek yang pernah Nyonya Mesya berikan padanya. "Buat kamu saja. Itukan sudah mama berikan ke kamu." tukas Jerome.


"Iya juga sih." ujar Mawar tersenyum.


Suasana hening sesaat. "Kak Jerome nggak marah?"


"Marah kenapa?"


"Soal ini."


"Nggak. Malah seharusnya aku yang minta maaf. Mama sudah keterlaluan." sahut Jerome.


Seperti dugaan Jerome, sang mama langsung menemuinya setelah memberikan cek pada Mawar. Mengadu pada Jerome. Menjelek-jelekkan Mawar. Bukan hanya pada Jerome, tapi juga pada sang suami.


Jerome dan Tuan Adipavi hanya diam menyimak apa saja yang Nyonya Mesya katakan. Kedua lelaki berbeda umur tersebut sudah hapal betul bagaimana watak dari Nyonya Meysa.


Nyonya Mesya berniat menemui bu Lina. Tapi dicegah oleh Tuan Adipavi. Dengan mengancamnya akan membekukan kartu kredit miliknya, serta akan menarik semua fasilitas yang dipakai oleh Nyonya Mesya.


Dengan terpaksa, Nyonya Mesya mengurungkan niatnya. Tapi beliau hanya mengurungkan saat ini. Tidak untuk ke depannya. Sebab, Nyonya Mesya masih gigih mencari cara untuk menjauhkan Mawar dari Jerome.


Meski beberapa hari ini, beliau terlihat duduk santai menikmati harinya di rumah. Bukan berarti dia menyerah. Tentu saja Nyonya Mesya sudah punya rencana untuk menjauhkan mereka berdua.


"Uang sebanyak ini, mau Mawar pakai buat apa?" cicit Mawar memandang ke arah cek berupa kertas di tangannya.


"Pakai buat bersenang-senang." sahut Jerome. Padahal Mawar pernah mengatakan pada Nyonya Mesya, jika angka nol yang tertera di kertas tersebut hanya sedikit.


Mawar menatap Jerome yang terlihat fokus menyetir. "Setelah ujian, kita bisa pergi beramai-ramai. Nanti aku dan yang lain akan membantu kamu menghabiskan uang itu. Bagaimana?" Jerome memandang Mawar sekilas, mengajukan sebuah saran.


Mawar tersenyum dan langsung mengangguk setuju. "Tapi pasti mama kamu akan semakin membenci dan menilai diriku semakin buruk." cicit Mawar, dengan senyum menghilang di bibirnya.


"Kenapa mesti memikirkan mama. Salah sendiri memberikan uang itu. Lagi pula, kamu tidak memintanya."


Jerome mencoba membuat Mawar tidak merasa bersalah. Jerome hanya ingin mengatakan jika dirinya tidak akan membela sang mama. Karena memang apa yang dilakukan sang mama adalah kesalahan.


Sekaligus Jerome ingin mengatakan pada Mawar, meski secara tidak langsung. Jika apapun yang di lakukan oleh Mawar, Jerome akan tetap berada di sampingnya. Dan mendukungnya.


Jerome menghentikan mobilnya di depan sekolah. "Lihat, bodyguard kamu mudah menunggu." celetuk Jerome memandang ke arah Mira dan Selly yang menatap ke arah mobilnya.


Mawar memukul lengan Jerome. "Mereka sahabat aku." ucap Mawar tidak terima.


Jerome tertawa pelan. Hubungannya dengan Mawar berangsur membaik. Semua karena ucapan bu Lina. Jika Jerome menginginkan hubungannya dengan Mawar membaik, Jerome juga harus bisa mendekati Mawar dengan cara terus menerus tanpa bosan.


Mawar membuka sabuk pengaman di tubuhnya. "Terimakasih kak."


"Nanti aku jemput lagi. Jangan pulang dulu." pinta Jerome.


Mawar terdiam dan berhenti bergerak. Menatap ke arah Jerome. "Sudah, jangan banyak berpikir. Turun, segera temui mereka berdua. Lihat, mereka sudah tidak sabar." Jerome menjawil hidung mancung Mawar.


Mawar tersenyum dan mengangguk. Keluar dari mobil Jerome, dan langsung berlari ke arah Mira dan Selly. "Dasar. Kayak anak TK saja. Padahal setiap hari mereka bertemu." gumam Jerome, yang melihat Mira dan Selly merentangkan kedua tangan mereka dengan lebar.


Jerome kembali menyalakan mesin mobilnya. Tapi suara teriakan Mira dan Selly mengalihkan pandangannya. "Mawar...!!" seru Jerome tak kalah panik dari Mira dan Selly.


Mawar terjatuh dan sedang meringis kesakitan. Segera Jerome, serta Mira dan Selly berlari ke arah Mawar terjatuh. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Jerome khawatir.

__ADS_1


Mira dan Selly juga mengikuti Jerome yang sedang berjongkok melihat kondisi Mawar. "Elo sih pakai lari segala." tukas Mira dengan nada marah.


"Terus ngapain kalian merentangkan kedua tangan kalian?" sahut Mawar.


"Sudah-sudah,,, malah berantem. Kalian ini seperti anak kecil. Setiap hari juga bertemu. Kamu juga. Kenapa mesti pakai lari segala. Lihat sekarang. Lutut kamu terluka." omel Jerome.


Jerome hendak mengendong Mawar. "Kak jangan, ini nggak apa-apa kok, nggak sakit." tolak Mawar.


"Diam..!!!" bentak Jerome.


Seketika, Mawar serta Mira dan Selly hanya diam. Mereka takut untuk mengeluarkan suara. Yang ada Jerome malah akan memarahi mereka.


Jerome menggendong Mawar, membawa Mawar ke tempat yang lebih nyaman. Mawar menyembunyikan wajahnya di dada Jerome. Dengan Mira dan Selly mengekor di belakang mereka.


Tentu saja Mawar merasa malu. Semua murid memandang ke arah mereka. "Kita seperti dayang mereka." bisik Mira pada Selly.


Selly mengangguk. "Kak Jerome kuat sekali. So sweet. Romantis." lirih Selly.


Mira dan Selly saling menautkan jari-jari tangan mereka dan saling meremas karena gemas dengan apa yang mereka lihat di depan mata mereka.


Jerome menurunkan Mawar di tempat yang Jerome rasa sudah nyaman untuk Mawar duduk. "Kak, Mawar nggak apa-apa." tolak Mawar, saat Jerome meniup lututnya yang sedikit lecet dan mengeluarkan sedikit darah.


"Sebentar." Mira langsung berlari ke UKS yang tempatnya tak jauh dari tempat mereka berada.


"Sakit?" tanya Jerome dengan lembut. Menatap Mawar dengan khawatir. Mawar menggeleng. "Nggak,, sudah biasa kak."


"Ini." Mira kembali dengan membawa kotak obat.


Dengan telaten dan pelan, Jerome mengobati kedua lutut Mawar. Mira dan Selly tersenyum melihat apa yang dilakukan Jerome.


Juga dengan Mawar, pandangannya tak lepas dari wajah tampan Jerome. Kedua sudut bibir Mawar terangkat perlahan. Meski tidak sempurna, tapi Mawar tersenyum senang.


Ada rasa hangat menjalar di tubuhnya. Perasaan dilindungi dan diperhatikan. "Tahan ya, mungkin agak sedikit sakit." tutur Jerome, saat dia ingin menempelkan sesuatu di lutut Mawar.


"Nggak sakit kok kak, kan yang mengobati setampan kak Jerome." goda Mira terkekeh pelan. Juga dengan Selly.


Mawar langsung melotot. "Nggak usah gengsi, dari tadi saja lihat kak Jerome nggak pake kedip." celetuk Selly, membuat kedua pipi Mawar seketika berubah memerah, malu.


Jerome tersenyum samar, menggelengkan kepalanya. "Selesai." ucap Jerome, kembali memasukkan semua alt dan obat ke dalam wadahnya.


"Hati-hati." Jerome membantu Mawar berdiri.


"Kalau mau melihat wajahku, nggak perlu sembunyi-sembunyi. Kapanpun kamu mau, aku selalu siap." goda Jerome.


Ingin rasanya Mawar menghilang dari hadapan Jerome. Bisa-bisanya Mira dan Selly malah menggoda dirinya. "Kak Jerome bisa pulang. Biar Mawar masuk bersama Mira dan Selly." ucap Mawar mengalihkan percakapan mereka.


"Iiihhh Mawar,,,, masa kak Jerome diusir. Dia sudah menolong kamu loh.." goda Mira.


"Apaan sih.... Nanti juga ketemu lagi." ketus Mawar menutupi rasa malu dan gugupnya.


"Cie..... sudah janjian ternyata." Selly semakin gencar menggoda Mawar.


"Kalian. Kak Jerome, makasih. Mawar masuk dulu." pamit Mawar.


"Cie... ada yang pamit. Nggak salaman neng." cuit Mira.


Mawar segera membalikan badan, berjalan perlahan meninggalkan mereka yang masih tertawa lepas. Sementara Jerome, jangan tanyakan lagi. Berjuta kupu-kupu seakan terbang mengelilinginya.


"Kak, kami susul Mawar dulu. Terimakasih." cicit Selly.


"Iya, titip Mawar. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku." pinta Jerome. Yang memang memberikan nomor ponselnya pada Mira dan Selly.


"Beres."


"Oke."


Jerome meninggalkan sekolah, setelah memastikan Mawar masuk ke kelas dengan aman. Sepanjang perjalanan, senyum tak pernah hilang di bibir Jerome.


Tanpa mereka tahu, Gaby yang berada di dalam mobilnya, melihat semua yang terjadi. "Secepatnya, gue harus menjalankan rencana gue. Mawar, gue akan membuat hidup elo bagai di neraka." ucap Gaby, mencengkeram erat stir mobilnya.


Sementara di apartemen. Caty masih berusaha mendapatkan kata maaf dari sang suami. "Mas, bicaralah. Jangan hukum aku lagi. Aku tahu, aku salah. Maaf." cicit Caty.


Lebih dari sehari Wiryo mendiami Caty. Meski mereka tinggal di apartemen yang sama, tapi keduanya seperti orang asing.


"Maasss....." rengek Caty.


Caty tidak menyerah sedetikpun untuk mendapat kata maaf dari sang suami. Tentu saja Caty melakukan hal tersebut. Dirinya tidak ingin ditinggalkan oleh Wiryo.


Tidak lucu bukan, baru menikah beberapa hari menjadi janda. Sudah merebut, dan membuat seorang perempuan menyandang status janda. Caty tentunya tidak ingin menyandang status yang sama dengan mantan istri Wiryo.


Wiryo masih berjalan ke sana kemari. Mengambil sesuatu yang dia butuhkan. Sebab dia harus pergi ke perusahaan pagi ini. Akan ada rapat penting yang juga melibatkan dirinya.


Wiryo menyiapkan semuanya sendiri. Sama seperti saat dirinya masih beristrikan Lina, sebab saat itu dirinya dan Lina tinggal terpisah.

__ADS_1


Tapi sekarang, meski dirinya tinggal bersama dengan Caty, Wiryo tetap seperti dulu. Menyiapkan semuanya sendiri.


Caty lebih senang bergelut di bawah selimut tebalnya di atas ranjang. Menghangatkan diri, dari pada bangun dan mempersiapkan semua kebutuhan sang suami.


"Mas..." rengek Caty lagi. Dengan posisi masih tetap berada di atas ranjang empuknya. Seolah enggan untuk turun dari sana.


Tanpa berpamitan pada Caty, Wiryo meninggalkan apartemen. Pergi ke perusahaan. Itupun dirinya juga belum sarapan. Dan hanya meminum segelas air putih saja.


Wiryo menghela nafas panjang. "Masih terlalu pagi untuk pergi ke kantor." cicit Wiryo di belakang kemudi.


Wiryo hanya ingin Caty mengerti dan paham. Kenapa dirinya mendiaminya. Salah satunya memang karena masalah uang yang ternyata tidak Caty berikan pada Mawar.


Dan untuk yang lain, Wiryo berharap Caty bisa berubah. Tak lagi manja dan menjadi Nona besar. Sebab saat ini, Caty sudah mempunyai seorang suami.


Wiryo membelokkan mobilnya ke sebuah tempat makan. Segera dia memesan makanan untuk dia sarapan serta secangkir kopi.


Tanpa Wiryo sadari, seseorang sedang memperhatikannya. "Bukannya dia menantu keluarga Buwono. Kenapa sarapan di sini. Padahal pengantin baru. Sendiri lagi."


Diambilnya ponsel dari dalam tas miliknya. Dia mengambil beberapa foto Wiryo yang tengah sarapan seorang diri tanpa ditemani Caty.


Lalu mengirimkan foto tersebut kepada Nyonya Gendis. Ibu dari Caty. "Pasti Caty tidak becus." ucapnya tersenyum samar.


"Beruntung, dulu putraku menolak perjodohan itu. Jika sampai menjadi menantuku. Aduh,,, pasti aku langsung struk." ujarnya, mengingat dulu keluarganya dan keluarga Buwono hendak menjodohkan anak mereka.


Sementara Caty, dirinya malah meneruskan tidurnya, selepas Wiryo, sang suami berangkat ke kantor. Dirinya sama sekali tidak merasa bersalah atau terganggu.


Di rumahnya, Nyonya Gendis yang sedang sarapan bersama yang lain terkejut mendapati sebuah pesan bergambar dari teman arisannya. "Astaga Caty..!!" geramnya.


Segera Nyonya Gendis mengambil ponsel. Menghubungi sang putri. Beberapa kali beliau mencoba menghubungi, tapi tidak ada jawaban dari si pemilik nomor. "Pasti masih tidur."


Nyonya Gendis mencoba kembali menghubungi Caty. Dan kali ini, panggilan teleponnya diangkat oleh Caty. Terdengar suara serak dari Caty. Yang menandakan tebakannya benar.


"Caty, cepat mandi dan datang ke rumah. Sekarang. Atau kamu akan mama dan papa coret dari daftar warisan." ancam Nyonya Gendis, langsung mematikan panggilan teleponnya tanpa mendengar Caty mengatakan sesuatu.


Warisan. Hanya itu hal paling ampuh untuk mengancam Caty. "Sabar ma." tukas Tuan Sapto.


"Pa, jika begini terus. Pasti Caty juga akan ditinggalkan oleh Wiryo. Papa mau, Caty menjadi janda di usia muda."


"Ma, jaga bicara mama." tegur Tuan Sapto dengan lembut.


"Suruh saja Caty dan suaminya untuk tinggal di sini dulu ma. Lagi pula, hari ini kita juga akan balik ke rumah kita." tutur Agatha, sang menantu.


"Sekalian, mama ajari Caty. Biar bisa menjadi istri yang baik." timpal putra keduanya, Adam. Suami dari Agatha. Nyonya Gendis mengangguk setuju.


"Ma, pa. Kalian serius, memindahkan sekolah kak Thomas?" tanya Lucas, putra bungsu dari pasangan Adam dan Agatha.


"Kenapa, kamu kesepian ya...?" goda Thomas pada sang adik.


"Ckk,,, tidak mungkin. Lucas malah senang. Tidak ada lagi yang akan mengganggu Lucas." sangkal Lucas, berbeda dengan apa yang dia rasakan dalam hati.


"Iya, sekalian kakak kamu belajar bisnis. Nanti biar papa bicara sama om Wiryo. Dia pasti akan mau mengajari kakak kamu." ucap Adam yakin.


Dirinya juga akrab dengan Wiryo. Serta tahu bagaimana kepribadian dari Wiryo. Meski Wiryo menikah dengan sang adik, tapi Wiryo tetap kekeh tidak mau jika jabatannya di naikkan. Hanya karena alasan tersebut.


Tentu saja Wiryo tidak mau. Harga dirinya sebagai lelaki lebih tinggi dari pada jabatan. Dan dirinya ingin karyawan perusahaan menghormati dan menyeganinya karena dirinya berdedikasi dalam pekerjaan dan bisa mengerjakan semuanya dengan baik. Bukan karena status yang di sandang olehnya saat ini sebagai menantu Buwono.


"Oma yakin, tante Caty akan datang?" tanya Lucas di tengah-tengah sarapan mereka.


"Yakin. Mana mau Caty kehilangan harta warisan." sahut Nyonya Gendis. Membuat mereka tertawa pelan.


"Kak Thomas, satu sekolah dengan kak Gaby?" tanya Lucas.


Thomas hanya mengangguk pelan. "Tapi beda kelas. Kak Gaby kelas satu, dan sebentar lagi kelas dua. Sementara kak Thomas kelas tiga." jelas Nyonya Agatha.


Di sekolah tempat tinggal Thomas yang sebelumnya. Di sana sudah melakukan ujian kenaikan kelas. Tapi tidak untuk di sini. Ujian masih akan akan dilakukan hari ini.


Itulah alasan kenapa Thomas bisa pindah dari sekolahnya yang lama. "Yang akur ya kak, sama kak Gaby..." ledek Lucas.


Lucas sendiri juga tahu, bagaimana sifat dan sikap dari Gaby. Sungguh sombong dan tidak bisa diajak akur. "Ehh... siapa nama anak om Wiryo? Berarti kakak juga satu sekolah sama dia?" tanya Lucas lagi.


"Iya sayang. Dia namanya Mawar. Cantik, baik, dan pemberani. Mama suka. Jadi kepengen punya anak seperti Mawar." celetuk Agatha.


Semua mata memandang kepada Adam, suami dari Agatha yang melirik tajam pada sang istri. "Maksudnya hanya Mawar. Bukan menikah dengan Wiryo." ucap Agatha meralat perkataannya.


"Bagaimana kalau jadi mantu mama?" tanya Thomas menaikkan alisnya naik turun.


"Jangan sembarangan. Dia sekarang menjadi adik kamu. Jangan buat skandal." tegur Tuan Sapto mengingatkan Thomas.


"Bercanda opa.." ujar Thomas.


Tapi entah apa yang ada dalam hati Thomas..Tidak ada yang tahu. Bahkan Thomas sendiri juga tidak tahu, apa uang akan terjadi ke depannya.


Tapi, setahu Thomas. Mawar adalah perempuan yang disukai oleh Jerome. Dan Thomas tahu bagaimana sifat Jerome.

__ADS_1


__ADS_2