MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 80


__ADS_3

"Maaf, jika aku melibatkan kamu." tutur Djorgi, setelah perempuan tersebut pergi.


Saat ini, Djorgi dan Lina berada di sebuah rumah makan. Awalnya Lina menolak ajakan Djorgi. Namun Djorgi bersikeras.


Djorgi beralasan jika akan bertemu dengan seseorang yang memesan kue dari toko. Dan dirinya membutuhkan Lina saat bertemu dengan pemesan tersebut.


Setahu Lina, biasanya Djorgi akan mengajak Adi jika ada sesuatu hal di toko. Demikian juga dengan Adi, dia beralasan jika ada pekerjaan di toko yang mengharuskannya tetap tinggal di toko.


Tidak ingin membuat Djorgi malu di depan karyawan lain, Lina pun akhirnya pergi bersama dengan atasannya tersebut tanpa bertanya lagi.


Djorgi memang tidak berbohong. Lina dan dirinya bertemu dengan perempuan muda nan seksi di rumah makan tersebut. Membicarakan mengenai kue yang akan dipesan olehnya.


Dilihat dari penampilannya, perempuan tersebut juga berasal dari kalangan seperti Djorgi. Kelurga kaya. Cara berpakaiannya saja sama persis dengan adik Djorgi, Caty.


Yang membuat Lina merasa tidak enak hati, saat Djorgi memperkenalkan dirinya sebagai pasangannya, bukan sebagai karyawan tokonya.


Mulut Lina mendadak terkunci dengan pikiran kosong. Bagaimana bisa terjadi. Apa yang sebenarnya sedang tejadi.


Sejak awal duduk di kursi, Lina memang sudah mencium bau-bau cinta. Yakni sang perempuan tersebut terlihat begitu agresif mendekati Djorgi. Mencari perhatian pada Djorgi di setiap perkataan dan gestur tubuhnya.


Dan Lina. Tentu saja tidak masalah. Hubungan dirinya dan Djorgi hanyalah sebatas karyawan dan pemilik toko. Tidak lebih. Dirinya juga tidak menaruh perasan lebih pada Djorgi.


Meski dari awal sang perempuan sama sekali tidak menganggap keberadaannya. Dia sama sekali tidak pernah memandang atau berbicara dengan Lina.


Tapi, setelah Djorgi mengenalkan Lina sebagai pasangan Djorgi, perempuan itu langsung terdiam. Memandang Lina dengan tatapan yang sulit di baca.


Bukan hanya perempuan tersebut yang tampak syok. Demikian dengan Lina yang memang tidak tahu menahu tentang semua ini.


Lina mendesah pelan. Mengambil air minum, lalu menyeruputnya sedikit. "Kenapa Tuan meski berkata seperti itu." ucapnya, meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja.


"Jangan panggil Tuan jika sedang berada di luar." pinta Djorgi.


"Dan maaf, aku tidak punya pilihan lain. Dia terus berharap padaku." imbuh Djorgi, tidak ingin Lina malah menjauh darinya.


Lina juga tahu mengenai status Djorgi sebagai duda dengan satu putri. "Katakan saja yang sejujurnya. Bukankah itu lebih baik." saran Lina.


Tidak setuju dengan apa yang dilakukan Djorgi. Apalagi membuatnya terlibat dalam masalah mereka. Tidak rela. Lina hanya malas, jika lagi-lagi hidupnya selalu bermasalah mengenai sebuah hubungan.


Hatinya masih lelah dengan masalah yang baru saja dia hadapi. Dirinya ingin sejenak bersantai dan berdamai dengan hidupnya.


"Sudah. Bahkan berulang kali. Tapi, dia tetap tidak mau mengerti. Dan selalu berharap." jelas Djorgi, yang artinya Djorgi sudah menolak perasaan perempuan tersebut padanya.


"Bagaimana jika dia tahu, aku hanya karyawan di toko anda."


"Tidak masalah. Yang terpenting saat ini, dia tidak lagi selalu menghubungiku. Merecoki kehidupanku." papar Djorgi.


Mungkin Djorgi merasa risih atau tidak nyaman. Itulah yang ditangkap oleh Lina. Menurut Lina, perempuan tadi cukup pantas dan sepadan berdampingan dengan Djorgi.


Lina teringat akan Wiryo dan Caty. "Padahal dia sangat cantik." cicit Lina.


Djorgi memandang ke arah Lina. "Bukankah semua lelaki menginginkan pasangan seperti itu?" Lina seakan berkata dengan tidak sadar.


Pandangan matanya menatap ke arah minuman di depannya. "Khemm... Lanjutkan makannya." dehem Djorgi, melihat makanan di piring Lina masih banyak.


Djorgi cukup paham kenapa Lina berkata seperti itu. "Maaf." ucap Lina.


"Kapan Mawar akan pulang?" tanya Djorgi, mengalihkan topik pembicaraan.


"Besok." jawab Lina singkat.


"Kamu beruntung, mempunyai putri manis seperti Mawar." tutur Djorgi, teringat bagaimana ramah dan sopannya Mawar.


"Tentu. Aku ibu yang beruntung. Dia anak yang selalu pengertian." Lina tersenyum simpul.


"Maaf." lirih Djorgi.


Lina mengangkat kepalanya. Melihat ke arah Djorgi. "Untuk apa?" tanya Lina, tak lagi memanggil Djorgi dengan sebutan Tuan. Tapi dirinya jiga masih sedikit bingung, ingin memanggil Djorgi dengan sebutan apa.


Sebenarnya Djorgi tak ingin mengungkit masalah ini. Tapi dorongan dari dalam hatinya terlalu kuat untuk mengatakan semuanya.


"Caty menghancurkan keluarga kalian." lirihnya, terlihat sesal di kedua matanya.


Lina tersenyum. "Tidak ada yang bersalah. Mungkin memang takdir kami seperti ini. Sudahlah, tidak perlu di bahas." ujar Lina tersenyum.


Entah senyum tulus, atau hanya sekedar senyum semu penutup luka di hati.


Bukannya masih teringat Wiryo. Namun hati memang tidak bisa dibohongi. Kadang, Lina merasa sesak saat mengingat bagaimana perjuangannya bersama mantan suami untuk bertahan hidup.


Dan sekarang semuanya tinggal kenangan. Dan akan tetap menjadi kenangan untuknya, selamanya.


Di tempat lain, Jerome dan ketiga temannya melajukan motor mereka beriringan. Keempatnya akan menuju ke tempat biasanya mereka berkumpul.


Tiba-tiba Tian berhenti, membuat yang lainnya juga mengikuti apa yang Tian lakukan. Menghentikan motor mereka.


"Bukankah itu Dona?" mata Tian memandang ke arah jalan yang cukup sepi.


Dimana dirinya hanya melihat Dona bersama dengan seorang perempuan entah siapa dia. Namun perempuan tersebut memakai seragam seperti dirinya.

__ADS_1


Yang artinya dia juga bersekolah di SMA tempatnya belajar. "Gila, apa yang dia lakukan." serunya, melihat Dona menampar orang yang berada di sampingnya dengan keras, membuat orang tersebut tersungkur ke tanah.


"Lebih baik kita segera ke sana." saran Luck, tak ingin membuang waktu terlalu lama. Apalagi terlihat jelas Dona menampar perempuan tersebut.


Tian segera melajukan motornya di mana Dona berada, di susul Deren, Jerome, dan Luck belakangnya.


Dona bergerak cepat melihat kedatangan empat lelaki tersebut. "Sini, biar gue bantu." ucapnya memulai sandiwara.


Seolah-olah menolong gadis yang tersungkur, padahal semua karena ulahnya. "Jadi kotorkan. Makanya hati-hati." papar Dona, membersihkan seragam teman sekelasnya yang kotor.


"Brengsek, kenapa mereka mesti datang." umpatnya menyesali kedatangan keempat lelaki tersebut di saat yang tak tepat. Dimana salah satunya adalah lelaki yang selalu diincarnya.


Dengan kedatangan mereka, semua rencananya pasti akan gagal. "Berani elo ngadu. Nyawa elo taruhannya." bisik Dona, mencengkeram lengannya.


Sekitar lima belas menit yang lalu, selesai mengumpulkan lembar jawaban pada pengawas ujian, murid yang diancam Dona segera meninggalkan sekolah.


Tak bukan dan tak lain tujuannya untuk menghindar dari Dona. Sayangnya, kakinya yang terasa sakit, membuat langkah kakinya tidak bisa berjalan dengan cepat seperti biasa.


Nafasnya tersengal sampai di parkiran. Perasaannya lega karena Dona tidak terlihat di belakangnya. Sialnya, sopir yang biasanya menjemputnya saat pulang, hari ini tidak bisa menjemputnya.


Dan baru saja dirinya mendapat pesan tertulis dari sang mama. Sang sopir sedang menemani sang mama pergi ke suatu tempat. Alhasil, dirinya harus segera memesan taksi.


Sesegera mungkin memesan taksi. Berharap segera meninggalkan area sekolah. Untuk menyelamatkan diri dari amukan iblis perempuan bernama Dona.


Menunggu kedatangan taksi di depan sekolah dengan cemas. Beberapa kali dia selalu menoleh ke belakang. Memastikan Dona tidak berada di sana.


Tapi siapa yang menyangka, saat dia kembali menoleh, Dona dengan senyum di bibir berjalan ke arahnya. Dona berjalan dengan langkah pasti dan tenang.


Dirinya tahu, jika senyum tersebut adalah senyum kehancuran untuk dirinya. Dia berdo'a dalam hati, taksi akan datang sebelum Dona sampai di tempatnya. Sehingga dirinya bisa segera menghindar dari Dona.


Memang keberuntungan sama sekali belum ingin berpihak kepadanya. Taksi datang, bersamaan dengan Dona yang berdiri di sampingnya.


Dona mendorong tubuhnya masuk ke dalam taksi. Begitu juga dengan Dona. Keduanya berada di dalam taksi yang sama.


Dona diam memandang lurus ke depan. Sementara dia menunduk ke bawah. Memegang erat tali tasnya. Dahinya basah oleh keringat karena rasa takut.


Menerka-nerka apa yang akan dilakukan Dona padanya. Apa yang akan terjadi padanya. Dan apa yang akan terjadi pada keluarganya.


Siapa yang menyangka, Dona menyuruh taksi berhenti di tempat sepi. Dona beralasan pada sopir taksi, jika mereka sudah janjian dengan teman mereka di sini.


Murid tersebut menelan ludahnya dengan sulit. Ingin meminta bantuan pada sopir taksi. Tapi Dona berperan dengan sangat baik. Menampilkan ekspresi yang lembut.


Mana mungkin sopir taksi tersebut percaya jika Dona adalah gadis yang jahat.


Setelah Dona dan dirinya turun dari taksi, Dona masih diam. Sama sekali belum menyentuhnya. Dirinya yang merasakan ketakutan juga hanya bisa diam seribu bahasa.


plakk..... satu tamparan keras melayang ke pipinya, membuatnya tersungkur di atas tanah.


Tapi dirinya bernafas lega, melihat kedatangan Jerome beserta ketiga temannya. Setidaknya ada sedikit harapan untuk terbebas dari Dona.


Meski dia sendiri juga tak tahu. Apa keempat lelaki itu akan menolongnya atau tidak. Sebab dia juga tahu, jika keempatnya memang sulit didekati murid lain.


Dan hanya ada satu murid yang mampu menembusnya. Mawar.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Tian dengan tatapan menyelidiki.


Dona tersenyum simpul. Merangkul teman sekelasnya tersebut. "Lagi nunggu jemputan." ucapnya santai tanpa beban.


Dona tahu kemana arah pandangan keempat lelaki tersebut. Segera dia membuat sebuah alasan untuk menutupi semuanya.


"Dia teman sekelas gue. Tadi nggak sengaja jatuh. Makanya seragamnya kotor." jelas Dona terlihat menyakinkan.


Dona menekan pundak teman sekelasnya. Menginginkan dia mengatakan sesuatu untuk membuat keempat lelaki tersebut percaya.


Namun dia masih diam. Memejamkan mata. Teringat saat Mawar berani melawan perkataan Dona tanpa takut.


"Lepas...!!" serunya, melepaskan tangan Dona di pundaknya. Dia segera berjalan menjauh dari Dona dengan kaki pincang. Berdiri di samping Luck.


Mulut Dona membulat tak percaya dengan keberanian teman sekelasnya yang terlihat polos tersebut mengambil tindakan.


"Apa yang terjadi?" Deren membuka suara. Merasa ada yang tidak beres diantara mereka.


Dona tertawa pelan. "Aduh,,,, jangan drama deh. Gue tahu, elo sedang merajuk. Ayolah." papar Dona tetap meneruskan sandiwaranya.


"Katakan." Tian menatap tajam ke arah teman sekelas Dona tersebut.


"Dona ngancam gue. Lihat." dia memperlihatkan pipi kirinya, dimana ada bekas tamparan.


Menurunkan kaos kakinya yang panjang, hingga terlihat luka memar yang parah di betis kanannya. Setelah itu, dia membuka jaket yang dia kenakan.


Menarik lengan seragamnya, memperlihatkan memar di lengan bagian atas. Tidak hanya sampai di sana.


Dibukanya dua kancing baju bagian atas, sedikit menurunkannya. Hingga terlihat ada memar di punggung dan juga pundaknya.


"Ada lagi di bagian lain. Tapi gue nggak mungkin memperlihatkan." tukasnya, tidak langsung mengatakan jika luka tersebut berada di daerah yang orang lain tidak boleh melihatnya.


"Heyy,,,, apa yang kamu katakan. Jangan memfitnah." seru Dona membela diri.

__ADS_1


Dona bersedekap dada. Memandang remeh ke arahnya. "Lagian untuk apa gue nglakuin semua itu ke elo. Apa untungnya buat gue."


Dona yakin, jika dia tidak mungkin menceritakan semuanya. Yang artinya sama saja membongkar aib papanya.


Tebakan Dona meleset. "Sebenarnya...." dia menceritakan semuanya dengan detail tanpa ada yang ditutupi sedikitpun.


Dia sudah berjalan sejauh ini. Rela dijadikan mesin untuk mengerjakan semua tugas sekolah Dona selama tiga tahun. Tanpa mengeluh.


Dan penantiannya akhirnya berakhir saat ini. Dimana dirinya sudah merencanakan semuanya jauh-jauh hari. Tidak akan membantu Dona saat ujian terkahir.


Cukup sudah dirinya menahan semuanya. Bahkan, dia juga rela mendapat perlakuan kasar dari Dona selama ujian berlangsung.


"Bohong. Dia berbohong." seru Dona ingin menyerangnya.


Gerakan Luck lebih cepat dibandingkan Dona. Sehingga tangan Dona tak sampai kepada murid yang berdiri di sampingnya.


Dia memundurkan badannya karena takut. "Jerome, dia mengatakan sebuah kebohongan. Kamu nggak percayakan?"


Dona menatap Jerome, memasang wajah memelas. Berharap apa yang dikatakan teman sekelasnya tidak sampai membuat Jerome semakin tidak menyukainya.


Untuk hal lain, bahkan dia tidak peduli. Tidak terpikirkan jika dia akan dilaporkan ke pihak sekolah. Baginya Jerome tetap nomor satu yang wajib dipertahankan.


"Hey,,, elo pikir Jerome peduli. Siapa elo." ujar Tian menohok.


"Apa sekarang yang elo inginkan?" Tian menatap ke arah teman sekelas Dona.


"Dona tidak menyebarkan aib papa. Tidak lagi menganggu gue. Hanya itu." pintanya sangat sederhana.


Dona menatapnya kesal. Ingin sekali Dona merobek mulutnya saat ini juga. "Apa lagi?" tanya Tian. Dia menggeleng.


"Don, elo dengar." ujar Tian dengan senyum miring menatap Dona.


"Maksud elo apa?! Gue nggak pernah nglakuinnya. Elo yang bego, percaya sama dia." sinis Dona.


Tian mengambil ponselnya. "Gue mereka apa yang elo lakukan. Menamparnya." seringai Tian.


"Ckk,,,, bagaimana jika video ini gue publish. Aiisssshh,,,,, pasti papa elo akan sangat bangga." ancam Tian.


"Elo...!!" geram Dona.


Ketiga teman Tian tersenyum dalam hati. Merekam, kapan. Mereka tahu jika Tian hanya mengucapkan omong kosong untuk mengancam Dona.


Ancaman di balas dengan ancaman.


"Ingat Dona,,, elo bertindak. Gue juga akan bertindak." Tian memainkan kedua alisnya naik turun.


Teman sekelas Dona bernafas lega. Dia tidak pernah berpikir jika keempat lelaki tersebut yang dikenal dingin saat di sekolah akan membantu dirinya.


Benar-benar sebuah keberuntungan. Dan kebaikan yang selamanya tidak akan pernah dia lupakan.


Sementara dii luar kota, tepatnya di kediaman nenek Mira, Mawar dan yang lainnya sedang berpamitan pada nenek Mira.


"Terimakasih nek, sudah menerima kami dengan baik." ucap Mawar pada nenek Mira, saat mereka bertiga akan berpamitan.


"Nenek senang ada kalian. Sayang, hanya sebentar." ucap nenek Mira terlihat sedih.


Mira memeluk sang nenek. "Mira janji, akan ke sini lagi jika liburan sekolah."


"Baiklah. Hati-hati di jalan." ucapnya, bergantian mencium satu persatu gadis di depannya.


"Nenek titip Mira. Tegur dia jika bandel." ucapnya.


"Nenek....." rajuk Mira, saat sang nenek mengatakan jika dirinya bandel.


Ketiganya dengan berat hati meninggalkan rumah sang nenek. Mereka melambaikan tangan dari dalam mobil pada semua penghuni rumah Mira yang berjejer rapi melepas kepergian mereka.


"Liburan selanjutnya, kita pergi ke tempat nenek gue." ujar Selly dengan semangat.


"Jauh Sell.." timpal Mira.


Karena memang nenek dan kakek Selly baik dari pihak mama atau papa semuanya tinggal di luar negeri.


Berbeda dengan Mira, hanya nenek kakek dari pihak papa yang tinggal di luar negeri. "Enak ya, punya nenek sama kakek." celetuk Mawar tersenyum.


Selama ini, Mawar bahkan tidak pernah tahu wajah kedua orang tua sang ayah maupun ibu. Pernah sekali Mawar bertanya mengenai mereka.


Sang ibu mengatakan jika mereka semua telah tiada. Sementara sang ibu dan sang ayah adalah anak tunggal.


Dan untuk saudara lainnya, sang ibu mengatakan jika mereka tinggal di luar pulau. Dengan keadaan keuangan yang sama seperti keluarga Mawar Sehingga mereka tidak pernah bertemu.


Itulah alasannya kenapa Mawar sama sekali tidak pernah tahu siapa saja kerabatnya. Baik dari pihan ibu maupun ayah.


Mira yang duduk dekat Mawar, segera merangkul Mawar. "Kamu bilang apa sih. Nenek aku juga nenek kamu. Kamu lihat sendirikan, nenek kelihatannya lebih sayang sama kamu, dari lada aku, cucunya." tukas Mira dengan bibir cemberut.


"Ya Mawar, dan gue juga menebak. Pasti nenek juga akan lebih sayang elo dari pada gue, cucunya. Saat kalian bertemu." sahut Selly yang duduk di kursi depan dekat pak sopir.


Mawar tersenyum. Memeluk Mira dengan erat. "Aaa.... pengen dipeluk." cicit Selly memeluk dirinya sendiri. Membuat suasana di mobil lebih ceria.

__ADS_1


__ADS_2