MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 64


__ADS_3

"Hay Mawar." sapa Dona di lorong sekolahan, saat jam istirahat tiba.


Semua siswa dan siswi yang lewat tersenyum penuh heran, mendengar sapaan Dona pada Mawar. Sebab tak biasanya Dona bersikap ramah pada Mawar, atau pada murid lain.


Begitu pula kedua sahabat Mawar. Mira dan Selly. Mereka memasang sikap waspada saat Dona menghampiri mereka dan menyapa ramah yang ditujukan pada Mawar.


Beberapa murid yang lewat berbisik dengan tingkah aneh Dona. Mana mungkin mereka percaya dengan mudah. Seorang Dona segampang itu bisa berubah. Mustahil. Impossible.


"Apa dia amnesia?"


"Mungkin jiwanya baru dilahirkan."


"Bukan dilahirkan. Mungin jiwanya tertukar semalam."


"Tuh iblis mau memainkan drama apa?"


"Artis masa depan tuh." Dan masih banyak lagi bisik-bisik dari murid lain yang melihat perubahan Dona secara drastis.


Mawar tersenyum. "Ada apa kak?" sahut Mawar.


Dona tersenyum ramah. "Nggak. Aku cuma mau minta maaf. Selama ini aku selalu mencari masalah sama kamu. Padahal kamu nggak pernah cari masalah sama aku." Dona memasang raut wajah menyesal.


Mira dan Selly memasang tampang aneh mendengar pengakuan Dona. Sama seperti murid yang lain, mereka juga tak semudah itu percaya terhadap Dona.


"Eemmm,,, nggak apa-apa kak. Mawar nggak pernah menganggap semua itu masalah." sahut Mawar.


Mira dan Selly serempak menoleh ke arah Mawar. Menatap Mawar dengan tatapan horor. "Mawar." geram Selly.


Selly menarik lengan Mawar. "Dia pasti pura-pura. Ada udang di balik rempeyek." lanjutnya berbisik di sebelah telinga Mawar.


Mawar mengelus lengan Selly. Seketika Selly menjadi tenang. Sepertinya Selly harus menerima apa yang akan dilakukan Mawar.


Selly yakin, Mawar juga sependapat dengan dirinya. "Oke. Gue tunggu penjelasan elo nanti." batin Selly.


"Jadi elo maafin gue sama teman-teman gue kan?" tanya Dona antusias. Terlihat sangat natural.


Mawar tersenyum dan mengangguk. "Iya kak, pasti." jawab Mawar.


Dona tiba-tiba memeluk Mawar. "Terimakasih banyak Mawar. Sekarang perasaan aku jadi lega." papar Dona.


"Bodoh. Katanya murid paling pintar. Kata siapa. Masih lebih pintar gue kemana-mana." batin Dona dengan sombongnya.


Weni hanya diam, berdiri di belakang Dona. Dia sudah tahu, kenapa Dona bersikap seperti itu pada Mawar. Sebab, Dona menceritakan rencana yang dia buat bersama Erza.


Terjadi sedikit perdebatan antara Dona dengan Weni. Tentu saja Weni menyuruh Dona untuk semudah itu percaya dengan rencana Erza.


Namun Dona kekeh. Dia berpendapat, jika Erza pasti tidak akan berbohong. Dengan sombongnya dia mengatakan jika Erza tergila-gila padanya.


Weni mengalah dan tak ingin berdebat lebih lanjut. Percuma, sekuat apapun Weni berusaha mengingatkan. Dona tetap Dona.


Perkataan yang keluar dari mulutnya adalah mutlak bagi para anggota yang lainnya. Dari pada membuang tenaga, Weni memilih menyetujui apa yang diinginkan oleh Dona.


"Terserah elo aja deh Don. Suka-suka elo." ucap Weni di dalam hati.


"Ini semua karena mama. Semalam, mama menceritakan tentang kamu. Aku jadi merasa bersalah. Maaf." Dona mengurai pelukannya. Tentu saja Dona berbicara bohong.


Dona tersenyum, namun otaknya masih memikirkan tentang apa yang dilakukannya di butik. "Bagaimana bisa, tidak terjadi apa-apa." batin Dona.


Dona menebak dari ekspresi Mawar yang tampak seperti biasa. Oleh karena itu, Dona menyimpulkan jika rencananya kemarin gagal. "Tenang saja, masih banyak waktu untuk kita bermain-main." batin Dona.


"Asal kalian tahu. Mawar itu perempuan yang rajin. Dia juga bekerja di butik mama aku setelah pulang sekolah." ucap Dona pada beberapa murid yang melintas.


Mira dan Selly memandang geram pada Dona. "Serigala berbulu domba." geram Selly lirih.


Selly yakin, sebenarnya Dona tidak ingin memuji Mawar. Dona malah bermaksud menjatuhkan Mawar di depan para murid lainnya.


Mira melirik ke arah Mawar yang terlihat santai tanpa rasa takut, seakan sama sekali tidak tertekan dengan apa yang dikatakan oleh Dona. "Ternyata Dona sudah tahu, Mawar bekerja di butik mamanya." batin Mira merasa khawatir.


Semua murid menengok ke arah Mawar. Sementara Mawar terlihat santai dan tenang. Dia tahu, jika Dona berusaha untuk menjatuhkan harga dirinya di depan murid yang lain.


Mawar tersenyum. "Iya kak, Mawar merasa bersyukur. Mama kak Dona baik banget. Sudah mau menerima Mawar. Kakak tahu sendirikan. Keluarga Mawar tidak seperti keluarga kak Dona dan yang lain. Kaya. Apalagi Mawar sekolah di sini. Jadi, Mawar harus membantu orang tua Mawar." Mawar tersenyum tulus.


"Mawar, kamu jangan begitu. Jika kamu terlalu berat membayar biaya sekolah. Kamu bisa mengikuti beasiswa. Kamukan pintar." sahut murid yang lain.


"Iya Mawar, kita sebenarnya yang nggak seberuntung kamu. Sudah pintar. Cantik. Baik. Mau membantu orang tuanya. Lihat gue. Sekolah gue bakal ambyar, jika pikiran dan tenaga gue terbagi-bagi." timpal yang lain.

__ADS_1


"Sebagai teman sekolah, kita bangga mempunyai teman seperti kamu. Semangat." seru yang lain.


Mawar mengangguk. "Semangat."


Ekspresi Dona berubah seketika. Niat ingin membuat malu Mawar. Malah sebaliknya. Sekarang Mawar semakin dipuja-puja. "Brengsek." batin Dona.


Segera Dona merubah ekspresi wajahnya. Namun sayang, kedua sahabat Mawar sedari tadi sudah melihatnya. "Makan tuh umpan elo." batin Mira tersenyum senang.


"Benar kata mereka. Kalau orang yang terlahir pintar. Akan tetap pintar. Meski pikirannya terbagi-bagi. Bahkan tenaganya terkuras pun. Otaknya tetap akan encer." celetuk Mira melirik ke arah Dona.


Mawar mengangkat kotak bekalnya. "Ya sudah kak Dona. Saya mau makan dulu. Takut jam istirahat habis. Sekalian pengiritan. Makanya bawa bekal dari rumah." ucap Mawar.


"Ya nggak apa-apa dong Mawar. Yang penting kamu nggak mencuri. Nggak ada yang salah bawa bekal sendiri dari rumah." timpal murid yang lain.


Mawar bersama kedua sahabatnya berjalan menuju ke tempat biasanya mereka makan bekal yang mereka bawa dari rumah.


Erza melihat semuanya. Bagaimana Dona berusaha bersikap baik pada Mawar. Meski Erza yakin, Dona hanya berpura-pura.


"Otak udang. Kemakan juga rencana gue." lirih Erza.


"Jadi butik itu milik mama Dona. Dan Mawar kerja di sana. Kok bisa." Erza mencoba berpikir, kenapa Mawar bekerja di butik milik orang tua Dona.


Yang dengan terang-terangan, Dona sudah terlihat sangat tidak menyukainya. "Tapi gue salut sama Mawar. Pembawaan yang tenang. Memang pantas, jika Jerome menyukainya." puji Erza.


Erza menggeleng pelan. "Jika saja Jerome nggak menyukainya. Mungkin gue yang akan maju." Erza tersenyum usil.


"Apa..!!" seru Mira, mendengar cerita dari Mawar. Mengenai rencana Dona yang kemarin ingin menjebak dirinya, saat masih berada di butik.


"Tapi syukur sih, mbak Santi nglihat. Jika tidak, pasti semua bakal nuduh elo." geram Selly.


"Emang nggak ada CCTV." sahut Mira.


"Mira sayang, Dona markona pastinya sudah mematikan CCTVnya sebelum beraksi. Meskipun dia bego dalam pelajaran. Dia pintar dalam kelicikan serta semua keburukan." jelas Selly.


"Hussstttt." tegur Mawar. "Sudah, cepat habiskan makanan kita. Keburu bel masuk berbunyi." ingat Mawar.


"Semua ini juga karena Dona. Pake sok menghadang perjalanan kita." dengus Mira.


"Perjalanan kemana? Mengambil kitab suci." celetuk Selly.


Di kantin, hanya ada tiga lelaki yang duduk di kursi yang biasanya di tempati oleh empat orang. "Deren kemana?" tanya Luck.


Pasca kejadian semalam, Deren memang sama sekali tidak berbicara pada ketiga sahabatnya. Saat di kelaspun, Deren juga acuh saat Tian bertanya padanya.


Luck menatap Jerome yang juga dengan santai dan tenang menikmati makanannya. "Elo harus berbicara sama Deren, Jee." saran Luck.


"Berbicara apa? Semua sudah jelas." sahut Jerome.


Luck ingin kembali membuka mulutnya. Tapi Tian menepuk pahanya. "Habiskan makanan elo dulu. Terlalu banyak telinga di sini." jelas Tian mengingatkan Luck.


Di sinilah Deren berada. Di atas gedung tertinggi di sekolahan. Duduk di pinggir, tak menghiraukan sengatan terik panas matahari.


Pandangannya menatap ke arah Mawar yang sedang berada di bawah pohon bersama kedua temannya, merapikan wadah bekal yang sudah kosong.


Entah apa yang ada dalam benak Deren. Hanya Deren sendiri yang tahu. Penolakan Mawar akan pernyataan cintanya masih terekam jelas di kepalanya.


"Gue menjauh bukan karena takut semua fasilitas gue di cabut sama papa gue, Mawar. Gue menjauh karena takut elo akan disakiti sama papa dan mama gue." gumam Deren.


"Gue sadar, gue belum bisa berdiri dengan kuat berada di sisi elo. Membela dan melindungi elo. Apalagi dari papa."


"Selain itu, elo seperti memasang tembok tinggi antara kita. Sehingga perasaan kita tidak bisa bertemu. Sementara gue menginginkan hal yang lebih. Bukan hanya sekedar berteman."


Sampai detik ini, Deren belum tahu mengenai perceraian kedua orang tua Mawar. Bahkan, sekarang. Papa Deren sudah mulai membuat peraturan baru.


Jika dihari libur, Deren harus mulai belajar bisnis. Tentu saja bisnis perusahaan milik sang papa. Tuan Tio, papanya Deren menginginkan Deren perlahan mulai mengejar Jerome.


Dimana Jerome yang sudah mengenal bisnis dan juga membantu mengelola perusahaan papanya sejak dulu. Papa Deren juga mengatakan jika Deren juga harus seperti Jerome, bahkan melebihi Jerome.


Deren tersenyum sumir. "Elo tahu Mawar. Gue harus menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Gue boneka hidup milik mereka."


Terlebih, Tuan Tio ternyata tahu beberapa cafe kecil yang Deren rintis. Dengan menggunakan cafe tersebut, Tuan Tio mengancam Deren.


Membuat Deren semakin tak bisa berkutik. Padahal, awalnya Deren berencana akan menggunakan bisnis kecil pribadinya untuk berdiri sendiri.


Sehingga Deren bisa melakukan apapun tanpa terkontrol oleh sang papa. Tapi siapa yang menyangka, jika kekuasaan sang papa memang tidak bisa di pandang sebelah mata.

__ADS_1


"Sekarang, aku harus fokus dengan apa yang diinginkan papa. Aku yakin, ada waktunya untuk aku mengejar kamu lagi. Jika aku sudah menggenggam semuanya di telapak tanganku, aku akan kembali merebut hati kamu. Tunggu, Mawar." ucap Deren bertekad.


Deren sadar, jika sekarang dirinya memaksakan perasaannya pada Mawar. Semua akan hancur. Dirinya dan juga Mawar.


Semua akan semakin rumit. "Jika kelak kamu sudah ada yang memiliki, maka aku tak akan segan-segan merebut kamu. Akan aku pastikan itu." tegas Deren.


"Ada apa Mawar?" tanya Mira, saat langkah Mawar terhenti.


Mawar menggeleng. "Nggak. Ayo. Kita masuk." ajak Mawar.


Mawar tahu jika Deren mengawasinya dari atas gedung. Meski Mawar tidak sengaja mengetahuinya. Mawar mendongak saat ada kawanan burung yang terbang melintas di atas. Disitulah Mawar tak sengaja melihat sosok Deren, duduk di tepi atap gedung.


Bel kembali berbunyi. Menandakan pelajaran telah usai. Dan saatnya para murid bersiap pulang. Semuanya berhamburan ke luar kelas dengan gaya masing-masing.


"Maaf Mawar, hari ini kita nggak bisa nganterin elo kerja." ujar Selly sedih saat mereka sudah berada di area parkir.


Mira mengangguk. Keduanya sudah ada janji dengan orang tua masing-masing. Dan Selly, hari ini juga tidak membawa mobil sendiri.


"Iya, nggak masalah." ujar Mawar.


Mawar menaiki angkot, turun di tempat biasanya. Di perempatan jalan dia turun. Berjalan tak jauh, untuk sampai ke butik.


"Mawar." panggil Tia, saat Mawar baru saja sampai di belakang. Ingin mengganti seragam sekolahnya dengan seragam kerja.


"Iya kak." ucap Mawar sambil mengeluarkan seragam kerja dari dalam tasnya.


"Ada yang cari kamu."


"Siapa?"


"Perempuan cantik. Seksi. Setengah jam lah dia menunggu di sini." jelas Tia.


"Cuma nunggu Mawar." tanya Mawar memastikan.


Tia mengangguk. "Pembeli kali kak." tebak Mawar.


"Bukan. Dia hanya melihat pakaian sekilas. Lalu duduk memainkan ponselnya. Sejak datang, dia tanyain kamu." jelas Tia.


"Ya sudah, kamu ganti gih. Lalu temuin dia." saran Tia.


Mawar mengangguk. Bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Lalu merapikan penampilannya. Dan segera ke depan.


Langkah Mawar melambat, saat tahu siapa perempuan yang menunggu dirinya. "Bagaimana dia tahu, jika gue kerja di sini." ucap Mawar dalam hati.


"Semalam yang laki. Sekarang perempuannya. Mau apa mereka sebenarnya." kesal Mawar dalam hati.


Caty berdiri, begitu melihat Mawar menghampiri dirinya dengan menampilkan wajahnya yang datar. "Akhirnya kamu datang juga."


Itulah kata pertama yang di ucapkan Caty saat bertemu dengan Mawar. Tanpa basa-basi. Tanpa menggunakan topeng. Caty memperlihatkan seperti apa dirinya dihadapan Mawar.


Mawar tersenyum miring. "Ada yang bisa saya bantu, Nona." tekan Mawar, pada kata Nona.


Caty memandang sinis pada Mawar. "Saya ingin bicara. Berdua. Bisa, saya beli waktu kamu." ucap Caty, merendahkan Mawar.


"Membeli waktu saya." kekeh Mawar pelan.


"Tapi maaf, saya hanya seorang pegawai di sini. Waktu saya sudah di beli oleh pemilik butik. Jika anda begitu menginginkannya, anda bisa membelinya dari beliau." papar Mawar dengan santai.


Caty terlihat kesal. Apalagi Mawar sama sekali tidak menunjukkan rasa takut padanya. Malah Caty merasa sedikit tertekan, saat Mawar terus menatap wajahnya dengan intens.


Tanpa mengatakan apapun, Caty melangkahkan kakinya ke ruangan Nyonya Utami. "Dasar anak orang kaya. Hanya bisa berdiri dengan uang milik orang tuanya sudah sombong." ejek Mawar merasa jengah dengan sikap arogan Caty.


"Mawar, siapa dia?" tanya Amel. Merasa jika ada ketegangan antara Mawar dan perempuan tadi.


"Calon mama tiri Mawar. Itupun jika jadi." jelas Mawar dengan malas.


"Mawar kesana dulu ya kak." pamit Mawar, yang mendapat anggukan dari Amel.


"Mama tiri. Calon mama tiri." gumam Amel. Mencoba mencerna perkataan Mawar.


"Sssttt,,,, apa." Santi memanggil lirih ke arah Amel.


"Mawar bilang, dia calon mama tiri Mawar." jelas Amel, saat dirinya dan Santi berdiri bersebelahan.


"Mama tiri. Terus semalam ayah Mawar." gumam Santi.

__ADS_1


Santi sepertinya bisa menebak kenapa Mawar bekerja. Apalagi Santi tadi juga melihat bagaimana sikap Mawar pada perempuan tadi. Begitupula sebaliknya.


"Masih SMA. Tapi gue akui, elo begitu hebat Mawar. Semoga, jalan yang ada di depan elo semakin baik dan lebih baik lagi." ucap Santi dalam hati, memandang Mawar yang sibuk merapikan pakaian.


__ADS_2