
"Apa masih sakit?" tanya Djorgi pada Lina. Tampak raut cemas tergambar dari wajah Djorgi.
Beberapa menit yang lalu, terjadi kecelakaan kecil di dapur. Seorang pelayan tanpa sengaja menjatuhkan kue yang baru saja di keluarkan dari oven.
Sialnya, Lina sedang berjongkok mengambil sesuatu yang terjatuh di atas lantai, tanpa tahu jika ada seseorang sedang memegang kue panas di atasnya.
Sehingga kue yang masih panas beserta loyangnya jatuh mengenai tangan Lina. Meski begitu, Lina masih bersyukur. Sebab kue hanya mengenai sedikit tangannya. Bukan kepalanya.
"Maafkan saya bu. Sungguh, saya tidak sengaja." tutur pelayan tersebut merasa takut. Sekarang, mereka berada di ruangan Djorgi. Dengan Djorgi mengobati tangan Lina yang sedikit berwarna merah karena terkena kue serta loyang panas.
Terlebih di toko santer terdengar kabar mengenai kedekatan Lina dan Djorgi. Selain itu, entah dari mana para pegawai di toko juga mengetahui status Lina yang seorang janda dengan satu putri.
Lina memang tidak tahu, siapa penyebar semua berita mengenai dirinya. Lina tidak mau ambil pusing. Dirinya tak terlalu memikirkan hal tersebut.
Tapi pasti Djorgi yang melakukannya. Sebab, selain Djorgi, di toko tidak ada orang yang mengetahuinya. Tentunya lewat orang kepercayaannya. Adi.
Cinta memang bisa memburamkan akal dan pikiran seseorang. Dan cinta, sama sekali tidak pernah memandang usia dan status.
Lina tersenyum. "Tidak perlu cemas. Saya baik-baik saja." papar Lina, tidak ingin membuat rekan kerjanya merasa bersalah.
Toh Lina juga merasa lukanya tidak terlalu parah. "Baik-baik saja bagaimana. Lihat...!!" seru Djorgi, memandang tajam ke arah pegawainya yang tidak sengaja membuat Lina terluka.
Adi yang berdiri di samping pegawai tadi, hanya bisa menghela nafas panjang. "Tuan, anda sangat terlihat menggilai bu Lina." batin Adi.
Karyawan tersebut menunduk takut. Ini pertama kali dirinya melihat Djorgi marah. Tak hanya karyawan tersebut yang merasa takut. Adi juga merasakan hal yang sama.
Lina merasa apa yang dilakukan Djorgi terlalu berlebihan. "Hanya sedikit melepuh. Hal yang wajar, dan biasa terjadi. Saya adalah pembuat kue, setiap hari berjibaku dengan segala sesuatu yang bersifat panas. Jadi ini tidak apa-apa." ujar Lina.
Adi menggeleng kecil. Lina mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan. Dan benar tebakan dari Adi.
Djorgi menatap Lina dengan tajam. "Jika begitu, posisi kamu akan saya pindahkan." ujar Djorgi.
Lina dan yang lainnya merasa bingung. Lina dipindahkan posisi kerjanya. Sebagai apa, bukankah keahlian Lina membuat kue. "Kamu akan menjadi asisten pribadi saya." tekan Djorgi.
"Hahhh....!!" seru Adi terperangah dengan keputusan sepihak yang di buat oleh Djorgi. Jika Lina menempati posisi tersebut. Lantas bagaimana dengan dirinya.
Seketika otak Adi kosong, tak dapat berpikir sama sekali, mendengar perkataan Djorgi.
Bukan hanya Adi, Lina merasa apa yang diputuskan Djorgi sangat tidak masuk akal. Dirinya yang seorang karyawan dapur. Dipindah tugaskan menjadi asisten pribadi.
Mana bisa. Lina sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan itu sebelumnya. Seorang karyawan yang juga berada di ruangan Djorgi mengedipkan matanya dengan lucu. Dirinya juga syok dengan perkataan yang diambil Djorgi.
"Mana bisa. Saya seorang chef khusus kue. Mana bisa beralih profesi menjadi asisten pribadi." tolak Lina.
"Benar Tuan. Jika bu Lina menjadi asisten pribadi anda, lalu saya bagaimana?" tanya Adi berkeluh kesah.
"Kamu bisa bertukar posisi dengan Lina." jelas Djorgi semakin tak masuk akal.
"Apa...!!" tiga orang di ruangan Djorgi bersuara dengan kata yang sama. Mereka saling pandang.
"Lalu saya bagaimana?" cicit karyawan perempuan. Adi membulatkan kedua matanya. Merasa pertanyaan itu seharusnya tidak terlontar dari karyawan di sebelahnya.
"Kamu bisa berhenti. Jika mau." ketus Djorgi.
"Tuan...!!"
"Mas....."
Tiga orang bersuara bersama. Tapi hanya ada satu suara yang membuat jantung Djorgi seketika berdegup. Suara Lina yang memanggil dirinya dengan sebutan mas.
Djorgi menoleh ke arah Lina. "Apa?" tanya Lina, merasa Djorgi menatapnya dengan aneh.
"Kamu tadi bilang apa?" tanya Djorgi.
Lina menautkan kedua alisnya. Merasa jika Djorgi memang sangat aneh. "Kami permisi dulu." pamit Adi, merasa Lina dapat membantu mereka keluar dari masalah.
"Loh,,, Adi..." panggil Lina.
Adi mengepalkan genggaman tangannya dengan mengangkat tangannya sejajar dengan dagunya. Seolah memberi selamat pada Lina.
Adi menyeret karyawan di sebelahnya untuk dibawa keluar dari ruangan Djorgi. "Mas Adi, kenapa kita keluar?" tanyanya setelah keduanya berada di depan ruangan Djorgi.
"Kamu mau kehilangan pekerjaan?" tanya Adi, dia menggeleng.
"Makanya. Lebih baik sekarang kamu bekerja seperti biasa. Sudah sana kerja lagi." perintah Adi dengan santai. Seperti tidak ada masalah.
"Tapi,,, Tuan Djorgi,,,, tadi bilang..." ucapnya menggantung.
"Kamu tidak akan dipecat. Tenang saja. Sudah sana, kerja lagi." ucap Adi.
"Terimakasih mas Adi." ujarnya dengan nada senang.
"Jangan berterimakasih pada saya. Tapi pada bu Lina. Kita tidak akan mengalami semua yang dikatakan Tuan Djorgi karena ada bu Lina." jelas Adi dengan yakin.
Karyawan tersebut menatap Adi dengan tatapan heran bercampur penasaran. Kenapa mereka berterimakasih pada bu Lina.
"Sudah sana kerja. Malah nglamun." pinta Adi.
"Baik mas." sahutnya, meski dirinya masih bingung. Kenapa mereka harus berterimakasih pada bu Lina.
Di dalam ruangan, Lina dibuat salah tingkah dengan tatapan Djorgi pada dirinya. "Ulangi lagi, kamu tadi memanggil saya apa?" pinta Djorgi merengek.
"Lebih baik saya segera kembali ke dapur untuk bekerja." Lina berusaha mengalihkan suasana yang sangat membuatnya mati kutu di hadapan Djorgi.
__ADS_1
"Bukankah sudah saya katakan. Mulai sekarang kamu akan menjadi asisten pribadi saya." tekan Djorgi.
Sebenarnya Djorgi tidak benar-benar memindahkan posisi Lina menjadi asisten pribadinya. Djorgi hanya ingin mendengar Lina memanggilnya dengan panggilan yang baru saja dia dengar.
"Ada Adi. Bagaimana dengan dia?"
"Hanya pertukaran posisi. Adi bisa membantu di dapur. Dan kamu, membantu aku di sini." jelas Djorgi sungguh tidak masuk akal.
"Mana mungkin Adi di dapur. Lagian saya tidak terbiasa di sini." tolak Lina.
"Adi bisa menggantikan karyawan tadi." jelas Djorgi.
"Karyawan tadi." lirih Lina, mencoba mencerna perkataan Djorgi.
"Astaga, jangan bilang jika anda akan benar-benar memecatnya. Hanya karena ini." Lina menunjuk ke lengannya yang berwarna kemerah-merahan.
Djorgi duduk dengan sikap arogan. Sebenarnya dia juga tidak tega melihat wajah memelas Lina. Tapi Djorgi benar-benar gemas pada Lina. Selalu memanggilnya dengan kata anda.
Dan juga selalu berkata dengan resmi saat mereka berbicara. Meski hanya berdua.
Lina menghela nafas panjang secara perlahan. "Ayo Lina, lakukan. Hanya memanggilnya dengan sebutan mas. Semua akan beres." batin Lina pada diri sendiri.
"Mas." ucap Lina lirih.
Djorgi tersenyum samar. "Kamu bilang apa. Saya tidak dengar." sarkas Djorgi, menahan senyum bahagianya.
"Mas." kata Lina. Sedikit meninggikan nada suaranya.
Sungguh, ingin rasanya Djorgi berjingkrak karena senang. Telinganya terasa nyaman saat mendengar Lina memanggilnya dengan sebutan tersebut.
Sebutan sepele. Tapi mampu menggetarkan hati Djorgi. "Ulangi." perintah Djorgi dengan dingin.
Lina merasa dipermainkan oleh Djorgi. "Kalau nggak dengar ya sudah. Mas sebaiknya pergi ke THT." ketus Lina. Berdiri hendak meninggalkan ruangan Djorgi.
"Aaa...." seru Lina terkejut. Saat tangan Djorgi menarik pinggang rampingnya. Membuat Lina duduk di atas pangkuan Djorgi.
"Lepas." berontak Lina.
"Panggil dulu seperti yang tadi. Aku suka mendengarnya." pinta Djorgi dengan nada lembut, tepat di samping telinga Lina.
Serrrr..... hati Lina berdesir. Ada perasaan yang telah lama mati, kini mulai timbul kembali. "Sadar Lina, sadar. Kamu janda miskin. Sadar." batin Lina mencoba bangun dari sesuatu yang dia pikir dapat menyakiti dirinya.
"Lepas." pinta Lina, mencoba membuka tangan Djorgi yang berada di perutnya.
Djorgi menaruh kepalanya di pundak Lina. Dengan wajah menatap wajah Lina dari samping. "Panggil dulu dengan kata tadi. Baru aku lepas." bisik Djorgi.
Lina bukan gadis kemarin sore. Yang tidak tahu situasi. Dia perempuan dewasa yang bahkan pernah melahirkan seorang anak.
"Kamu wangi sekali Lina." Djorgi mengendus leher Lina.
Seketika bulu kuduk Lina semua merinding. Lampu merah menyala di atas kepalanya. Tanda bahaya sudah muncul. Di tambah Lina merasakan sesuatu yang keras sedang dia duduki.
"Mas,,, lepas. Ini di toko. Nanti ada yang masuk." pinta Lina dengan nada lembut. Berharap Djorgi sadar akan apa yang dilakukannya.
"Maaf." segera Djorgi melepaskan Lina.
Lina segera berdiri. Merapikan pakaian dan penampilannya. "Syukurlah, berhasil." Lina bernafas lega, saat Djorgi melepaskan dirinya.
Tapi itu hanya sebentar. Djorgi kembali memeluknya. "Mas." ucap Lina, saat Djorgi kembali memeluknya dari belakang. Dengan posisi keduanya berdiri.
"Panggil aku seperti tadi." pinta Djorgi.
"Iya. Tapi hanya saat kita berdua." tekan Lina.
Ingin sekali Djorgi menolak. Dirinya ingin selalu dipanggil mas oleh Lina di semua tempat. Di segala kesempatan.
Tapi Djorgi harus menahannya. Ini sudah perkembangan yang sangat pesat. Lina mau memanggilnya dengan sebutan mas.
"Jangan pindahkan aku dan Adi. Dan juga jangan pecat karyawan tadi." pinta Lina. Melepaskan pelukan Djorgi. Yang sangat membuatnya tidak nyaman.
Djorgi mengangguk. "Terimakasih." cicit Lina.
"Nanti aku antar pulang." ujar Djorgi.
Lina hanya bisa mendesah pelan. "Bukankah kamu akan kembali ke perusahaan." papar Lina.
Semua karyawan di toko kue hapal dengan jadwal Djorgi yang hanya akan datang ke toko selama satu atau dua jam. Lalu pergi ke perusahaan miliknya.
"Iya. Tapi kamu tenang saja. Waktu kamu pulang, aku sudah berada di sini." tutur Djorgi.
Menolakpun percuma. Lina hanya mengangguk pasrah. Menyetujui apa yang diinginkan oleh Djorgi.
......................
"Mawar....!!!!" teriak Dona di dalam mobil. Memukul-mukul stir mobil dengan tangannya.
Semua rencananya gagal. Semua. Bukan hanya jebakan yang telah direncanakan bersama dengan Gaby. Namun juga rencana untuk menggagalkan Mawar ikut pensi dengan menggunakan sang mama berujung juga dengan kegagalan.
"Mawar....!!!" lagi-lagi Dona kembali berteriak mengingat sang mama memberikan izin pada Mawar.
Beberapa saat yang lalu, setelah dua perempuan ular suruhan Dona meninggalkan butik dengan rasa malu, Nyonya Utami mengajak Mawar ke ruangannya, bersama dengan Dona.
"Bu, apakah Mawar boleh meminta izin. Mungkin dalam beberapa hari ke depan, Mawar akan libur. Mawar terpilih untuk mengikuti pensi. Dan untuk itu, Mawar harus melakukan latihan." ucap Mawar dengan hati-hati meminta izin.
__ADS_1
Dona yang mendengar permintaan Mawar, hanya bisa diam. "Brengsek. Gue keduluan Mawar." umpat Dona dalam hati.
Sejujurnya, Mawar juga berat untuk mengatakan hal tersebut. Ketakutan Mawar bukan perihal diizinkan atau tidaknya.
Ketakutan Mawar lebih kepada jika Nyonya Utami salah paham. Mengira Mawar ngelunjak meminta sesuatu. Dan Mawar malah akan mendapatkan pemecatan. Padahal Mawar sama sekali tidak ingin berhenti bekerja.
Mawar meremas jari-jemarinya. Berharap-harap cemas. "Jangan ma, jangan di izinkan. Mama bisa mengancam akan memecat dia jika Mawar meminta izin." batin Dona, yang hanya berani mengatakannya di dalam hati.
Nyonya Utami tersenyum. "Tentu, lagi pula butik juga tidak terlalu ramai. Saya rasa ketiga teman kamu masih mampu menanganinya." jelas Nyonya Utami.
"Mak-maksud bu Utami. Saya tidak di pecatkan?" tanya Mawar dengan raut wajah bingung.
Nyonya Utami tertawa pelan sembari menggeleng. "Tidak. Bukankah kamu hanya izin beberapa hari." tukas Nyonya Utami.
Mawar mengangguk. "Iya bu, saya hanya izin beberapa hari. Saya tidak berhenti kerja." jelas Mawar dengan senang.
"Iya, saya tahu. Dan saya mengizinkan." tutur Nyonya Utami.
Tanpa Dona dan Mawar tahu. Jerome sudah menghubungi Nyonya Utami terlebih dahulu. Mengatakan semuanya pada beliau. Dan meminta tolong pada Nyonya Utami.
Dona melongo tak percaya dengan apa yang dia dengar. Semudah itu sang mama mengizinkannya. Demi apa coba. "Ma... maksud mama. Mama mengizinkan Mawar?" tanya Dona tersenyum kaku.
Nyonya Utami mengangguk. "Iya. Kenapa, kamu pasti senang. Bukankah Mawar akan tampil di pensi untuk acara pelepasan murid kelas tiga."
Dona tertawa dengan ekspresi wajah aneh. "I--iya. Tentu saja, Dona merasa senang. Semangat latihan ya Mawar." ujar Dona. Padahal dalam hatinya, Dona sedang mengumpat Mawar.
Mawar segera mencium punggung telapak tangan Nyonya Utami saking senangnya. "Terimakasih bu. Terimakasih banyak. Saya pikir, ibu akan memecat saya." papar Mawar.
"Mana mungkin saya memecat karyawan seperti kamu. Iyakan Dona. Mawar yang rajin bekerja dan jujur. Juga pandai." puji Nyonya Utami.
Mawar tersenyum senang melihat wajah pias Dona yang menahan amarah. "Gue yakin, kejadian tadi adalah ulah elo. Dan gue akan membalasnya." batin Mawar.
Mawar yakin, meski pembalasan darinya memang tidak melukai fisik Dona. Namun, dengan Mawar menerima dan menjadi pasangan Jerome dalam pensi, sudah mampu membuat seorang Dona terpukul.
"Iya ma. Emm,,, ma, Dona pamit dulu." segera Dona meninggalkan ruangan sang mama, tanpa melihat ke arah Mawar.
Dirinya tidak betah berlama-lama berada di satu ruangan dengan Mawar. Terlebih sang mama yang terlihat selalu memuji dan mengunggulkan Mawar.
Membuat Dona merasa panas dan muak.
"Sial,,, sial,,, sial,,, kenapa selalu saja gagal. Brengsek. Ini gara-gara Gaby mencari orang yang salah." seru Dona menyalahkan kegagalannya pada Gaby.
Pagi dihukum karena kejahilan Mira dan Selly. Dan sekarang, rencana liciknya tidak ada yang berhasil sama sekali. Benar-benar hari yang sempurna.
Mawar keluar dari ruangan Nyonya Utami dengan senyum mengembang di bibir. "Bagaimana?" tanya Tia yang memang sudah tahu, jika Mawar ingin meminta izin pada Nyonya Utami.
"Pasti diperbolehkan." tebak Amel. Melihat wajah Mawar yang berseri.
Seketika wajah Mawar berubah murung. "Apa ada masalah lain?" tanya Santi.
"Bagaimana dengan kalian. Apa Mawar tidak akan merepotkan." cicit Mawar. Merasa jika dirinya dengan seenaknya meminta izin libur kerja. Terkesan tidak memikirkan rekan kerjanya yang lain.
"Astaga,,,, gue kira ada apa." ujar Amel mendengus lega.
"Santai saja Mawar, hari-hari ini butik memang sedikit sepi. Dengan kamu libur, lumayanlah, Nyonya Utami bisa menghemat, sedikit." cicit Tia, dengan menyatukan jempol tangan kanannya dengan jari telunjuknya.
"Berarti Mawar memang beban ya kak." papar Mawar, salah tanggap dengan perkataan Tia.
"Mawar, kamu ini,,, hihhh... pintar, tapi kadang polos banget sih. Sudahlah. Tidak usah dibahas. Yang penting bu Utami sudah memberi izin untuk kamu. Dan tidak memecat kamu." tukas Santi geregetan.
"Husssttt,, sini." Amel menyuruh ketiga rekannya mendekat ke arahnya.
"Cepat. Sini." ucapnya lagi, saat Santi, Tia, dan Mawar malah memandangnya tanpa bergerak sedikitpun dari tempat mereka berdiri.
Sementara Amel sedang berada di kasir. Hanya beberapa langkah, mereka bertiga sudah berada di depan kasir.
Amel mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. "Gila, hadiah dari kekasih kamu?" tanya Tia kagum.
"Ckk,,, nggak usah pamer." sungut Santi.
"Kalian berdua. Belum aku ngomong apa-apa. Sudah menyimpulkan sendiri." kesal Amel.
Mawar merasa pernah melihat cincin di atas meja kasir yang baru saja di ambil Amel dari saku celananya. "Ada apa Mawar?" tanya Amel, melihat Mawar memperhatikan cincin tersebut dengan seksama.
"Sepertinya Mawar pernah melihatnya kak." cicit Mawar, mengambil cincin tersebut. Melihatnya dengan intens.
Mawar membulatkan kedua matanya, melihat nama yang terukir di bagian dalam cincin tersebut. "Gaby." cicit Mawar, tak percaya.
"Ya, ini milik Gaby." ujar Mawar pada dirinya sendiri. Pernah melihat cincin yang sekarang berada di tangannya melingkar cantik di jari lentik milik Gaby.
Mawar menatap Amel. Seolah ingin tahu, dari mana Amel mendapatkannya. "Sepertinya tanpa aku kasih tahu, kamu bisa menebaknya." Amel tersenyum penuh makna.
"Gaby. Dia adalah teman kak Dona." jelas Mawar.
"Astaga." gumam Tia. Sekarang Santi dan Tia tahu, apa arti cincin tersebut.
"Kamu dapat dari mana?" tanya Santi.
"Tersangkut di pakaian Mawar. Beruntung aku lihat lebih dulu. Jadi aku segera mengambilnya." jelas Amel.
"Benar-benar. Mawar kamu harua berhati-hati. Dona ternyata lebih mengerikan. Aku takut, dia akan bertindak lebih gila." ucap Santi mengingatkan.
Mawar mengangguk. "Kak, boleh cincinnya buat Mawar." pinta Mawar.
__ADS_1
Amel memberikannya pada Mawar. "Simpan baik-baik. Siapa tahu berguna ke depannya. Jangan dijual." canda Amel.
Mawar mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih." cicit Mawar.