MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 156


__ADS_3

Djorgi dipanggil ke sekolah. Apalagi jika bukan membicarakan perihal Gaby.


"Mereka yang bersalah. Bukan Gaby." kekeh Gaby membela dirinya. Padahal belum ada yang memulai percakapan mengenai apa yang akan mereka bahas di ruangan tersebut.


"Gaby. Diamlah." geram Tuan Djorgi, merasa malu dengan kelakuan sang putri, yang sama sekali tidak mempunyai sopan santun.


Sementara kepala sekolah dan seorang guru yang berperan sebagai wali kelas Gaby hanya tersenyum melihat tingkah Gaby.


Mana mungkin Djorgi percaya dengan semua yang diucapkan oleh sang putri. Sebab, Tuan Djorgi sendiri begitu hapal dengan tindakan dan perilaku dari Gaby. "Maaf, sebelumnya. Sebenarnya apa yang terjadi?"


Djorgi merasa heran, baru kemarin dirinya dipanggil untuk datang ke sekolah, dan sekarang dia dipanggil lagi. "Jadi begini Tuu...." ucap kepala sekolah, yang terputus karena Gaby kembali mengatakan sesuatu.


"Pa,,,, mereka yang mencari gara-gara. Dan asal papa tahu. Semua ini karena Mawar." seru Gaby, malah menuduh Mawar. Padahal Mawar sama sekali tidak ada di tempat kejadian saat Gaby dan beberapa murid bersitegang.


"Gaby..." tekan Tuan Djorgi, kembali meminta Gaby untuk mengunci mulutnya. Menjaga lidahnya agar tidak terlalu banyak bicara.


"Pa,,, jika bukan karena Mawar. Mereka semua nggak akan membenci Gaby. Apa papa lebih percaya Mawar, dari pada Gaby. Putri papa sendiri...!!" sungut Gaby sama sekali tidak mengindahkan apa yang sang papa katakan.


Kepala sekolah dan wali kelas Gaby hanya menggeleng melihat sikap Gaby yang sama sekali tidak menghormati mereka. "Gaby...!" bentak Tuan Djorgi benar-benar kehilangan kesabaran.


Tuan Djorgi menatap tajam ke arah sang putri. "Jika kamu tidak bisa diam. Lebih baik kamu keluar dari ruangan ini. Jangan menjadi pengacau." pinta Tuan Djorgi dengan penekanan saking kesalnya.


Gaby tak kalah tajam menatap ke arah sang papa. Dengan masih emosi, Gaby berdiri dan meninggalkan ruang kepala sekolah tanpa mengatakan apapun. "Astaga." gumam Tuan Djorgi, menghela nafas.


"Maafkan kelakuan putri saya pak." tutur Tuan Djorgi merasa malu sendiri atas sikap sang putri.


Kapala sekolah serta wali kelas Gaby mengangguk seraya tersenyum. Keduanya sama sekali tidak menyalahkan Tuan Djorgi atas apa yang dilakukan Gaby.


"Sebenarnya ada apa lagi dengan Gaby. Kenapa pihak sekolah kembali memanggil saya?" tanya Djorgi dengan sopan.


"Begini pak. Jadi tadi pagi terjadi keributan di depan, sebelum bel masuk berbunyi."


Kepala sekolah menceritakan semua yang terjadi. Beserta memperlihatkan rekaman CCTV yang menampilkan kejadian di pagi hari tadi untuk memperkuat apa gang dia katakan.


Tentunya kepala sekolah tak ingin jika Tuan Djorgi mengira jika dirinya hanya asal berbicara omong kosong tanpa bukti, untuk menjatuhkan atau menyingkirkan Gaby dari sekolah.


Beruntung, di tempat tersebut terpasang kamera CCTV. Sehingga beliau mempunyai sesuatu untuk membuat apa yang dia katakan adalah suatu kebenaran.


Bukan hanya rekaman di depan sekolah. Yang tepatnya di sebelah area parkir. Tapi kepala sekolah juga memperlihatkan rekaman video bagaimana para murid berdemo supaya Gaby dikeluarkan dari sekolah.


Sama seperti kepala sekolah, kemarin Djorgi juga meminta rekaman CCTV pada pihak sekolah saat Gaby dilecehkan. Sehingga para pelaku akan dihukum seadil-adilnya.


Djorgi hanya diam. Kepalanya terasa ingin pecah. Bagaimana tidak. Belum dia harus mengurusi perusahaan dan beberapa bisnisnya.


Lalu laporannya terkait pelecehan yang diterima Gaby oleh beberapa murid yang juga menyeret teman Gaby sendiri, yakni Siska.


Meski dirinya sudah menyerahkan semuanya pada pengacara, tapi tetap saja Djorgi memantau agar kasus tersebut benar-benar di laksanakan tanpa halangan dan para pelaku dihukum dengan adil.


Lalu sekarang, masalah baru kembali muncul. Gaby kembali membuat ulah. Dan sangat fatal. "Maafkan putri saya pak." hanya itu yang saat ini Djorgi bisa katakan.


"Tapi maaf Tuan Djorgi, kami pihak sekolah sudah memutuskan untuk mengeluarkan Gaby dari sekolah." ucap wali kelas Gaby.


Djorgi meraup wajahnya dengan ekspresi gusar. Dirinya tidak bisa menyalahkan pihak sekolah. Djorgi yakin, mereka mengambil keputusan karena ancaman para murid, dan juga kelakuan Gaby sendiri yang memang sudah kelewat batas.


"Jujur, kami sebenarnya tidak ingin melakukannya. Tapi para murid mengancam pihak sekolah. Dan kami tidak bisa meremehkan ancaman mereka." ujar kepala sekolah.


Meski ini pertama kalinya untuk sekolah mendapat ancaman seperti itu. Tetap saja, kepala sekolah tak bisa mengabaikan ancaman mereka dan meremehkannya hanya untuk seorang siswi yang sama sekali tidak berprestasi dan juga berkelakuan buruk.


"Apakah tidak ada jalan lain pak?" tanya Djorgi merendahkan diri demi masa depan sang putri.


"Ada. Yakin Gaby keluar sendiri dari sekolah ini." sahut kepala sekolah.


Tidak akan menjadi masalah jika Gaby keluar dengan cara baik-baik. Yang terpenting, Gaby keluar dari sekolah. Itulah maksud kepala sekolah.


Jika Gaby dikeluarkan, maka pasti Gaby akan kesulitan mendapatkan sekolah lagi. Berbeda jika Gaby keluar dari sekolah atas kemauannya sendiri.


Pihak sekolah memberikan saran tersebut, karena merasa sungkan pada papa Gaby, Tuan Djorgi. Beliau juga salah satu donatur di sekolah. Serta mempunyai perilaku baik dan ramah.


Tapi sayangnya, sang putri sama sekali tidak mewarisi sedikitpun sifat dari sang papa.


"Tidak...!!" seru Gaby di ambang pintu. Gaby mendengar semua percakapan mereka dengan jelas.


"Bagaimana bisa pihak sekolah mengeluarkan saya begitu saja. Saya tidak terima. Dan saya tidak akan pernah mau keluar dari sekolah. Karena saya memang tidak bersalah." seru Gaby dengan ekspresi wajah murka.

__ADS_1


"Mawar. Pasti Mawar yang sudah memprovokasi para murid untuk melakukan semua itu ke gue." geramnya.


"Gaby....!!" panggil Tuan Djorgi, manakala Gaby berlari ke arah yang dia sendiri tidak tahu.


"Pasti dia akan ke kelas Mawar." tebak wali kelas Gaby. Dengan segera, Djorgi dan kepala sekolah beserta wali kelas Gaby menyusul Gaby.


Mereka tidak ingin terjadi sesuatu lagi di sekolah ini.


Brak..... Pintu kelas yang ditempati Mawar terbuka dengan keras dari luar. Siapa lagi pelakunya jika bukan Gaby.


Semua murdi menatap ke arah Gaby. Begitu juga dengan sang guru yang sedang berada di dalam kelas tersebut. "Gaby, ada apa?! Kenapa kamu menganggu kelas ini?!" tanya sang guru dengan nada kesal.


Bukannya menjawab apa yang ditanyakan sang guru, Gaby menatap tajam ke arah Mawar. Dan melangkahkan kakinya dengan cepat ke tempat Mawar duduk.


Selly dan Mira segera memasang sikap waspada. Begitu juga dengan Mawar yang merasa jika Gaby akan mencari masalah dengannya.


"Dia pasti menargetkan Mawar...!" seru murid lain. Membuat teman sekelas Mawar semuanya bersikap waspada.


"Minggir...!!" bentak Gaby pada Selly yang menghalangi jalannya.


"Gaby...!! Keluar dari kelas ini...!" usir sang guru.


Bukannya keluar dari kelas, Gaby malah hendak menyerang Selly. Tapi seorang teman sekelas Selly menjambak rambut Gaby dari belakang.


Menyeretnya ke depan, dan melepaskannya tepat di sebelah sang guru. Mawar hanya bisa memandang dengan wajah ngeri, seolah merasakan sakit di kepala Gaby.


"Huuu..... gila...!!!" seru semua murid di kelas Mawar.


"Gila...!!"


"Gila...!!"


Semua murid mengejek dan menyoraki Gaby. "Kalian semua,, diam...!!" bentak sang guru merasa kesal dengan semuanya.


"Dan kamu Gaby. Tinggalkan kelas saya." usirnya pada Gaby yang masih menatap Mawar dengan penuh emosi.


Mawar hanya berdiri dan juga menatap ke arah Gaby. Berbeda dengan Gaby yang menatapnya penuh permusuhan, Mawar memandang ke arah Gaby tanpa ekspresi.


"Elo harus lebih berhati-hati, Gaby lebih berbahaya dari Dona." tukas Mira.


"Pasti." sahut Mawar dengan tenang.


Kepala sekolah dan Tuan Djorgi beserta wali kelas Gaby masuk ke dalam kelas Mawar. "Maafkan putri saya." papar Tuan Djorgi.


"Kasihan sekali ayahnya. Mempunyai anak tidak waras." ujar seorang siswa dengan lirih, tapi masih terdengar oleh Djorgi.


Djorgi hanya diam. Sebab dirinya juga sadar. Jika putrinya disini yang bersalah. Tuan Djorgi menyeret lengan Gaby untuk meninggalkan kelas Mawar.


Masih di lorong. Djorgi menghentikan langkahnya, tetap dengan memegang lengan Gaby. "Pak, apapun keputusan sekolah. Saya akan menerimanya dengan ikhlas. Dan maafkan putri saya. Jika selama ini, Gaby selalu membuat anda juga para guru, serta semua murid selalu dalam masalah." tutur Tuan Djorgi dengan tulus.


"Sama-sama pak. Kami pihak sekolah juga meminta maaf. Karena terpaksa mengambil keputusan seperti ini." sahut kepala sekolah.


"Saya mengerti pak, dan saya paham." ujar Tuan Djorgi.


Djorgi langsung membawa Gaby pulang ke rumah dengan paksa. Bahkan, sampai di rumah, Djorgi tetap menyeret lengan Gaby tanpa ampun. Padahal Gaby sudah mengatakan jika lengannya sakit.


"Aaaawww,,,,, iisshhhh...." Gaby meringis, seraya mengusap lengannya yang memerah, setelah Djorgi melepaskan kalangan. Saat mereka sudah sampai di dalam kamar Gaby.


"Mulai sekarang. Kamu dalam pengawasan papa. Coba saja kamu berani bertindak di luar apa yang papa katakan. Kamu akan menerima akibatnya." ujar Djorgi menahan amarah.


Gaby terdiam, dengan tampang cemberut dan kesal. "Paham...!!!" bentak Djorgi. Hingga Gaby terjingkat kaget.


Ini pertama kalinya Gaby melihat sang papa seperti ini. Ada perasaan takut menyergap di hati Gaby. "Jika kamu tetap membangkang, papa tidak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah ini." tekan Djorgi.


"Lebih baik saya tidak mempunyai anak. Dari pada hanya bisa membuat ulah. Membuat masalah. Dan membuat malu." tegas Djorgi.


Brak.... Djorgi menutup dengan keras pintu kamar Gaby. Membuat Gaby terlontar kaget untuk kedua kalinya.


Tuan Djorgi mengumpulkan semua pembantu di rumah. Termasuk satpam dan juga yang biasanya menata taman. Dan juga sopir.


"Kalian semua, jangan biarkan Gaby keluar dari rumah dengan alasan apapun."


"Baik Tuan." sahut mereka serempak.

__ADS_1


Dengan wajahnya yang terlihat seram, Djorgi meninggalkan rumah untuk kembali pergi ke perusahaan.


"Kasihan sekali Tuan." ujat salah satu pembantu.


Mereka melihat bagaimana Tuan Djorgi menyeret Gaby untuk masuk ke rumah.


Mereka yakin, jika majikan mereka sudah kehabisan stok kesabaran menghadapi Nona Muda mereka yang angkuh dam sombong tiada duanya dan sangat senang membuat masalah.


Djorgi menyenderkan badannya ke senderan kursi di mobil bagian belakang. "Tuan, kita pergi ke mana?" tanya sang sopir.


"Antarkan aku ke rumah Lina." pinta Djorgi.


Pergi ke perusahaan untuk bekerjapun, Djorgi pasti tidak akan konsentrasi. Satu-satunya yang Djorgi butuhkan adalah teman bicara.


Dan Lina, adalah satu-satunya tujuan utama dia. Djorgi yakin, jika Lina akan mampu memadamkan bara yang berkobar di dalam hatinya, karena ulah sang putri.


Seperti yang direncanakannya. Mawar langsung pergi ke tempat les, dimana dia akan belajar mengenai bisnis selesai dia belajar di sekolah.


Mawar masuk ke dalam mobil, melambaikan tangannya pada Mira dan Selly. "Jangan lupa, minta izin sama om dan tante...!!" teriak Mawar dari dalam mobil, dengan menaruh kepalanya di jendela mobil.


"Oke...!!" sahut Mira dan Selly bersamaan.


Pak sopir yang berada di kursi depan tersenyum. "Itu tadi sahabat Non Mawar?" tanya pak sopir.


Mawar mengangguk. "Iya pak. Mereka sahabat terbaik Mawar." dengan bangga, Mawar memuji kedua sahabatnya tersebut.


Pak Sopir selalu tersenyum saat bersama Mawar. "Pak, kenapa Mawar tidak boleh duduk di depan?" lagi-lagi Mawar menanyakan hal tersebut.


"Non, memang sebaiknya Non duduk di belakang." tukas pak sopir. Sebab Mawar kekeh ingin duduk di sampingnya.


"Iya, tapi kenapa?" tanya Mawar kekeh.


"Agar Non terbiasa. Jadi, jika bukan bapak yang berada di sini, Non sudah terbiasa duduk di belakang."


"Memang bapak mau ke mana?" tanya Mawar.


"Non, bapak harus bersama dengan Tuan besar. Kasihan beliau jika kemana-mana sendiri. Apalagi sekarang Nyonya besar sudah nyaman tinggal di rumah, karena ada Non." jelasnya.


"Siapa yang akan menggantikan bapak?"


"Kemungkinan anak bapak."


"Sekarang anak bapak ada di mana?"


"Masih di desa. Jika saatnya, dia akan ke sini. Menggantikan bapak." jelas pak sopir.


Mobil yang ditumpangi Mawar berhenti di depan sebuah tempat layaknya ruko, tapi berukuran besar. "Mawar pergi dulu pak."


"Iya. Hati-hati Non. Semangat belajar."


"Pasti." Mawar tersenyum sempurna, melangkahkan kakinya ke dalam. "Non Mawar, bapak sangat bersyukur Non Mawar yang menjadi cucu Tuan." tanpa terasa air mata pak sopir menetes di pipi.


Tidak ada kesulitan bagi Mawar saat belajar untuk pertama kali. Dengan mudah, Mawar bisa menangkap dan mengerti apa yang disampaikan pembimbingnya.


"Ternyata tidak sesulit yang aku pikirkan. Pembimbingnya juga sangat humble. Teman-teman yang mengikuti les juga baik-baik." cicit Mawar, duduk di kursi yang berada di teras. Menanti sang sopir.


Mawar mengambil ponsel. Mengatakan pada sang ibu, jika dirinya sudah selesai. Dan akan langsung ke rumah Nyonya Utami.


Mawar juga memberitahu Nyonya Utami, jika dirinya akan segera menuju ke rumah beliau. Mawar menghela nafas kasar. Lalu tersenyum. "Astaga, gue kayak orang sibuk saja." cicitnya.


Mawar teringat, saat dirinya masih bekerja. "Bagaimana ya kabar mbak Amel, mbak Santi, sama mbak Tia." gumam Mawar.


"Ehh,,,, apa mereka sudah mendapat kerja ya." pikir Mawar.


Mawar tersenyum aneh. Entah apa yang ada dalam otaknya. Tapi pasti itu adalah hal baik, untuk menolong ketiga perempuan yang pernah bekerja dengan dirinya di butik Nyonya Utami.


Mawar tersenyum melihat mobil yang menjemputnya berhenti di depannya. Segera Mawar memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Maaf Non, Non harus menunggu." ujar pak sopir dari dalam, tanpa keluar dari mobil.


"Iya pa, nggak apa-apa. Mawar bisa beristirahat kok." Mawar tidak ingin pak sopir merasa bersalah.


"Mawar..." panggil seseorang, saat Mawar baru melangkahkan satu kakinya ke dalam mobil. Mawar menolah ke sumber suara.


Mendengar ada yang memanggil Nonanya, pak sopir segera turun. Pasalnya, suara tersebut berasal dari belakang mobil. Tentu saja beliau tidak ingin terjadi sesuatu dengan cucu majikannya.

__ADS_1


__ADS_2