
Di rumahnya, Deren berdiri terdiam di dekat besi pembatas balkon, dengan tatapan memandang ke luar kamar. "Den, aden di tunggu Tuan dan Nyonya di bawah." ucap seorang pembantu di kediaman Deren.
Semalam, Deren berpikir. Dan membuat sebuah keputusan yang sangat besar dalam hidupnya. Bukan dia menyerah karena tidak tetap berada di sini dan mengejar cinta Mawar.
Namun lebih kepada masa depan mereka. Ucapan Luck terus terngiang di kepalanya.
...Bahkan menjaga Mawar dari mama elo saja, elo nggak sanggup....
Lantas bagaimana Deren akan terus mengejar cinta Mawar. Yang malah akan membawa perempuan yang dicintainya masuk ke dalam kehidupan penuh luka.
Deren yakin, kedua orang tuanya tidak akan tinggal diam saja. Jika tahu dirinya masih mengejar seorang perempuan bernama Mawar.
Mungkin kehidupannya akan tenang. Lalu bagaimana kehidupan Mawar. Bisa jadi, Mawar dan bu Lina yang akan mendapatkan masalah.
Ditambah lagi, Deren ternyata tidak tahu apapun mengenai Mawar. Perceraian kedua orang tua Mawar. Hingga Mawar yang bekerja di butik milik Nyonya Utami, mama dari Dona.
Kehidupan Mawar ternyata sangat berat, melebihi kehidupan dirinya. "Jerome tahu semuanya dengan mudah. Gue,,,," Deren tertawa kecut, menertawakan dirinya sendiri.
Deren sekarang bisa menebak dengan mudah. Kenapa dirinya sama sekali tidak mendapatkan laporan dari orang suruhannya. Pasti karena sang papa yang menjadi penghalangnya.
Bukankah sampai di sini semua jelas. Deren tidak mempunyai kekuatan besar untuk berdiri di depan Mawar. Menggenggam tangan Mawar untuk melawan kedua orang tuanya.
Yang ada, malah Mawar yang akan bernasib buruk. Dan dirinya akan menjadi burung yang dikurung dalam sangkar.
"Elo memang selalu berada di depan gue." Deren memegang besi pembatas balkon dengan erat. Teringat saat Jerome mengajaknya untuk sama-sama mengejar cinta Mawar dengan cara yang benar.
Jika saja Mawar juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Setidaknya Deren akan memutuskan jalan lain.
Kenyataannya, Mawar sudah menolaknya. Mawar hanya menganggap dirinya sebagai teman.
Pernah terbesit kata berjuang bersama di benak Deren. Tapi Deren tahu, semua tak akan mudah. Seandainya Mawar memang menyukainya, dan mau berjuang bersama dirinya.
Kehancuran keduanya juga akan tetap terjadi. "Sekarang gue baru sadar. Uang dan kekuasaan adalah segalanya." gumam Deren.
"Dengan kedua hal tersebut, kita bisa menekan apapun dan melakukan apapun sesuai yang kita inginkan."
Deren memejamkan kedua matanya. Saat ini, dirinya sama sekali tidak mempunyai kedua hal tersebut. Uang dan kekuasaan. "Sialnya, papa pemegangnya. Brengsek, kenapa gue harus terlahir di keluarga seperti ini." sesal Deren.
Ini pertama kalinya Deren menyesali sesuatu dalam hidupnya. Terlahir di keluarga kaya raya dengan kehormatan dan juga martabat sebagai patokannya. "Semua menjadi sangat tidak berguna. Malah mengekang gue." gumam Deren.
Deren memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Dirinya bahkan tidak berpamitan dan tidak memberitahu siapapun. Kecuali kedua orang tuanya.
Deren masuk ke dalam kamar. Memandang foto di atas nakas. Foto dirinya bersama ke ketiga temannya. Jerome, Tian, dan Luck.
"Sorry, gue nggak sanggup menatap wajah kalian. Tapi gue janji, gue akan kembali. Saat gue sudah menjadi Deren yang lebih kuat." ucap Deren berjanji.
Mata Deren menatap foto Jerome. "Dan elo, di saat itu, gue akan datang dan merebut Mawar." lirihnya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Nyonya Priyanka, mama dari Deren. Melihat sang putra berjalan mendekat ke arah mereka.
Sejak semalam, Tuan Tio dan Nyonya Priyanka begitu senang, mendengar permintaan sang putra. Dimana Deren memutuskan untuk kuliah di luar negeri.
Negara dan tempat kuliah Deren sudah ditentukan oleh Tuan Tio. Dan Deren, hanya bisa pasrah menerimanya. Saat ini, Deren hanya bisa menuruti semua ucapan dan keinginan sang papa tanpa bantahan.
Pasrah hanya untuk saat ini. Deren bertekad, akan membuat semuanya berada di dalam genggamannya.
Sang papa meminta Deren untuk melanjutkan sekolahnya di negara tempat Jihan tinggal. Tuan Tio juga sudah mengatur tempat tinggalnya dan semuanya.
Keinginan Tuan Tio untuk menjadi besan Tuan Adipavi sangatlah besar. Siapa yang tidak ingin menjadi bagian dari keluarga Adipavi Sekhar.
Menyuruh Deren untuk menuntut ilmu, sekaligus mendekati Jihan. Apa Deren bersedia, Deren tidak menjawab apapun. Dia hanya diam tanpa mengiyakan atau menolak.
"Mama dan papa akan mengantar kamu sampai bandara." cicit Nyonya Priyanka dengan hati berbunga.
Tuan Tio dan Nyonya Priyanka ingin memastikan jika sang putra benar-benar akan pergi ke luar negeri. "Ingat, perlakukan Jihan dengan baik." ucap sang mama mengingatkan.
Deren tetap diam, tak menyahuti perkataan sang mama. Baginya, ucapan kedua orang tuanya mengenai Jihan hanyalah angin lalu.
Deren tak terlalu memikirkannya. Tentu, dirinya dengan umur yang sekarang ini, belum bisa menikahi seorang perempuan.
Itulah sebabnya, Deren bersikap acuh. Tak terlalu menanggapi keinginan kedua orang tuanya untuk mendekati Jihan.
Di sekolah, seperti yang dikatakan Jerome. Jika dirinya tidak akan mengambil peran saat pensi jika bukan Mawar pasangannya.
Mau tak mau, Mawar menerima apa yang telah diputuskan oleh panitia penyelenggara. Mira dan Selly juga ikut membantu Jerome membujuk Mawar.
Apalagi keduanya tahu, jika Mawar dan Jerome dipasangkan, tentu saja akan menyakiti hati Dona. Itulah yang mereka inginkan.
Hal tersebut seketika menjadi buah bibir. Semua menyimpulkan jika Jerome menyukai Mawar. Dan semua yang terjadi membuat seorang Dona murka.
Membalas apa yang dilakukan Dona dengan cara yang elegan. Tidak berbekas, namun sangat menyayat hati. Bukankah cara ini lebih sadis.
__ADS_1
"Bukan hanya Dona, tapi Gaby." celetuk seorang murid dari belakang Mawar dan kedua temannya.
Mira dan Selly langsung menoleh ke sumber suara. "Apa maksud kamu?" tanya Mira tak percaya.
Begitu juga dengan Selly. Namun Mawar, dia sama sekali tidak terkejut. Sebab dia sudah tahu dari lama. Jika Gaby juga mempunyai perasaan suka pada Jerome. Bahkan berniat untuk mendekati Jerome.
"Gue dengar sendiri. Saat Gaby dan Weni berbincang. Ternyata Gaby juga menyukai Jerome." jelasnya.
Mira dan Selly memandang Mawar yanga tampak santai. "Jangan bilang elo sudah tahu." tebak Selly, melihat bagaimana tenangnya sikap Mawar.
Mawar mengangguk pelan. "Dan elo nggak ngomong apapun sama kita." geram Mira, sebab Mawar tidak memberitahu keduanya.
"Ckk,, nggak penting juga. Untuk apa. Urusan mereka. Biar saja." ujar Mawar enteng.
"Astaga Mawar, bukan itu maksud kami. Kita bisa jadikan semua ini untuk menghancurkan hubungan mereka." tukas Mira.
Mawar memutar kedua bola matanya dengan malas. "Percuma. Sejak awal, mereka tidak mempunyai hubungan apapun. Apa yang mau dihancurkan. Kedok persahabatan." kekeh Mawar.
"Bukannya meremehkan mereka. Hanya saja, mereka tidak akan berani bertindak di luar logika. Nama baik keluarga mereka taruhannya." lanjut Mawar.
"Gue menebak, Dona juga sudah tahu jika Gaby juga menyukai Jerome. Tapi Dona diam dan berpura-pura tidak tahu. Kalian tahu apa artinya?" tanya Mawar, memberikan tebakan pada mereka.
"Dona masih membutuhkan Gaby." terka Mira.
"Benar." jelas Mawar.
"Jika sudah tidak dibutuhkan dan tidak berguna, pasti akan dibuang seperti Siska." timpal siswi tersebut, tersenyum miring.
"Tepat." ucap Selly. Sekarang Selly tahu, kenapa Mawar menganggap semua itu tidak penting. Karena persahabatan mereka yang hanya sekedar topeng. Dan akan hancur dengan sendirinya tanpa ada sentuhan dari siapapun.
Semua murid menyimpulkan sendiri sendiri. Sejak kembali ke sekolah, Siska lebih sering menyendiri. Jika sedang bersama dengan ketiga temannya, dia lebih sering diam dan menundukkan kepalanya.
"Kalian nggak ada niat mengambil Siska, menjadikan bagian dari kelompok kalian?" tanyanya.
"Elo mikir barang. Diambil." celetuk Selly.
"Kenapa nggak elo saja, ajak Siska untuk membuat kelompok baru." kekeh Mira.
"Ckk,,,, kelompok macam apa. Kurang kerjaan saja. Malas banget gue satu kelompok sama orang macam mereka." jelasnya, berlalu meninggalkan ketiganya.
"Tapi kasihan juga sih si Siska." celetuk Mira.
Selly merangkul pundak Mawar. "Elo temani saja. Gue sama Mawar, kita berdua saja. Bagaimana Mawar?" goda Selly pada Mira.
"Jahat banget sih kalian." Mira berucap dengan mulut cemberut.
Selly dan Mawar segera berlari meninggalkan Mira, dengan tawa lepas. "Tunggu,,, dasar teman laknat..!!" teriak Mira berpura-pura marah.
Mira segera mengejar keduanya, yang berlari di lorong sekolah. Mira tersenyum sembari berlari mengejar kedua sahabatnya.
Melihat bagaimana ketiganya berinteraksi, Siska mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Kenapa kalian bisa bersahabat seperti itu. Sementara gue, hanya dijadikan kacung." gumamnya.
"Gue dan Mawar sama. Bahkan keluarga gue lebih kaya. Tapi Mawar dapat kalian terima dengan baik. Tapi gue, mereka bertiga hanya memandang gue seperti budak." lanjut Siska.
Membandingkan dirinya dan Mawar. "Elo terlalu beruntung Mawar. Mempunyai dua teman yang begitu menyayangi elo. Dan sekarang, Jerome. Dia tergila-gila sama elo."
"Tapi, apa elo masih akan bisa tertawa. Jika Mira dan Selly menjauh dari elo." cibir Siska.
Brakk,,,,,, Dona menggebrak meja dengan keras. "Brengsek, Erza,,,,, awas elo. Gue akan buat perhitungan dengan elo." umpat Dona, nomor ponsel milik Erza tak bisa lagi dihubungi.
Erza hilang bagai ditelan bumi. Tak ada kabar sama sekali dari Erza. Gaby tersenyum sinis. "Kenapa elo dengan mudah percaya sama Erza." tukas Gaby.
"Lebih baik elo diam." bentak Dona, memandang kesal ke arah Gaby, yang menurutnya terlalu berisik.
"Sebaiknya kita pikirkan dengan tenang. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah membuat rencana, supaya Mawar tak bisa mengikuti drama tersebut." saran Weni, tak ingin Gaby dan Dona bertengkar.
"Bagaimana jika elo minta bantuan tante. Pasti Mawar akan minta izinkan, nggak mungkin Mawar keluar dari butik." saran Gaby.
"Benar Don, coba saja dulu. Gue yakin, Mawar akan lebih memilih pekerjaan dari pada drama ini." timpal Weni menyetujui rencana Gaby.
"Oke. Gue akan coba. Meski gue ragu." cicit Dona. Dia hapal bagaimana sifat sang mama.
Jika sang papa, mungkin dia akan membantu Dona tanpa bertanya alasan dibalik keinginan Dona. Tapi tidak dengan sang mama
Mendengar kata mama. Membuat Dona teringat sang papa. Dan berimbas Dona mengingat nilai ujian. "Elo kenapa Don?" tanya Weni, melihat perubahan ekspresi Dona.
Dona malah mengabaikan pertanyaan Weni, memilih untuk pergi meninggalkan kedua temannya tanpa mengatakan apapun. "Sial, dia kira kita patung pancoran." sungut Weni.
Mawar dan kedua temannya makan di kantin. Hari ini, memang ketiganya sepakat untuk tidak membawa bekal dari rumah.
"Boleh duduk di sini?" tanya Jerome, mendaratkan pantatnya di kursi samping Mawar. Meletakkan semangkuk mie ayam dan juga segelas air minum.
__ADS_1
"Ngapain tanya, sudah duduk juga." ketus Mawar, masih kesal dengan Jerome.
Mira menendang kaki Mawar dari bawah meja. "Apa sih. Sakit tahu." sungut Mawar.
Selly melotot dan menggeleng pada Mawar. "Maaf kak Jerome, sepertinya Mawar sedang datang bulan." papar Selly.
"Datang bulan, nggaklah. Orang baru seminggu yang lalu bersih. Elo pikir gue penyakitan." ketus Mawar.
Jerome tertawa pelan menatap wajah Mawar yang masih mbesengut. Mira dan Selly menatap Jerome sekilas. "Mawar,,, Mawar,,, jika gue jadi elo, udah gue pepet kak Jerome." batin Mira.
"Kenapa bukan gue. Malah Mawar. Dasar Mawar, nggak tahu ada kesempatan bagus. Coba saja gue, sikat langsung." batin Selly.
Beberapa murid yang berada di kantin mencuri pandang ke meja Mawar. Mereka berbisik pelan. "Lebih baik kak Jerome pindah. Mawar risih mereka melihat sini terus." usir Mawar.
Mira dan Selly bengong. Mawar mengusir Jerome. Demi apa. Semua siswi mengharapkan makan semeja dengan Jerome. Lah ini, Mawar malah mengusir Jerome.
"Karena kamu cantik, makanya mereka lihat ke sini." celetuk Jerome.
"Uhuk,,,,, uhuk,,,, uhuk,,,,," Mawar sampai keselek kuah mendengar ucapan Jerome.
"Ckkk,,,, bisa nggak sih, makan pelan-pelan." omel Jerome, memukul pelan punggung Mawar.
Jerome mengambil air di depannya. "Minum dulu. Pelan-pelan."
Mira dan Selly dibuat lemas dengan perhatian yang Jerome berikan ke Mawar. "Fiks, ini kak Jerome beneran suka sama Mawar." Mira bersorak senang dalam hati.
"Gue nggak ragu lagi. Kak Jerome, pasti menyukai Mawar." batin Selly bahagia.
Mira dan Selly saling menautkan telapak tangan mereka di bawah meja. Mereka saling pandang dan tersenyum penuh arti.
Mawar menaruh minumannya di atas meja. "Tunggu." Mawar melihat air minumnya masih utuh di depannya.
"Ini air minum siapa?" tunjuk Mawar pada segelas air minum yang baru saja dia minum.
Mawar menengok ke arah Jerome. Tampak Jerome tersenyum sempurna. Mawar membuka mulutnya. Tapi sulit untuk mengeluarkan suara.
"Tenang, aku baru minum sedikit kok." ucap Jerome tersenyum penuh makna.
Kedua pipi Mawar langsung memerah seketika. Berbeda dengan Mira dan Selly. Keduanya langsung berpelukan dan berteriak heboh.
Jerome mengambil segelas air minum tersebut, dan kembali meneguknya dengan rakus. "Habiskan." cicit Jerome.
"Kak Jerome...." geram Mawar, malu bukan main.
Apalagi Mira dan Selly ada di depan mereka. Melihat semuanya. "Alamat,,, pasti setelah ini gue dibuli mereka berdua." batin Mawar merana.
Semua yang ada di kantin kembali menatap meja Mawar. Kali ini, mereka bukan memperhatikan Mawar dan Jerome.
Tapi Mira dan Selly yang saling berpelukan dan berteriak heboh. Seperti ada sesuatu yang terjadi di meja mereka. Namun mereka tak tahu apa yang terjadi.
Sementara Jerome tetap memasang senyum di bibirnya. "Tahu ah..." Mawar segera berdiri, meninggalkan kantin dengan rasa malu.
Jerome tertawa lepas melihat Mawar meninggalkan mereka. "Kejar gih." ucap Jerome pada Mira dan Selly.
"Kak, bayarin ya." cengir Mira. Jerome mengangguk.
"Kak Jerome, jangan tersenyum. Nanti Mira bisa diabetes." cicit Mira.
"Ah elo,,, masih juga ngegombal. Lihat noh,,,, tuan putri ngambek." tukas Selly.
Mira menepuk pelan jidatnya. "Pangeran Jerome, kami pamit dulu. Mau kejar tuan putri Mawar." cicit Mira.
"Kelamaan." Selly menyeret Mira.
Jerome masih tersenyum dan menggeleng. "Mawar,,,, Mawar. Lucu banget sih kamu." cicit Jerome.
Segera Jerome menghilangkan senyumnya, menyadari jika semuanya sedang memperhatikannya.
Jerome membayar makanan mereka dan segera meninggalkan kantin. "Sumpah, tadi kak Jerome beneran tertawa." ucap seorang murid.
"Dan itu karena Mawar."
"Jangan-jangan benar. Kak Jerome dan Mawar mempunyai hubungan. Tapi mereka masih merahasiakannya."
"Jujur, gue sih nggak heran. Mawar cantik gitu. Cocok kalau sama kak Jerome."
Dona yang meninggalkan kedua temannya dan berniat menangkan diri untuk makan di kantin, malah bertambah emosi.
Melihat bagaimana Jerome tertawa lepas karena perempuan bernama Mawar. Hingga Jerome memperlakukan Mawar dengan begitu lembut.
"Mawar,,,,!! Elo benar-benar benalu di hidup gue." geram Dona menahan emosinya.
__ADS_1
Jika saja bisa terlihat, pasti sekarang di atas kepala Dona sudah muncul dua buah tanduk, dan juga asap yang mengepul.