
Ini untuk pertama kalinya Gaby mendatangi perusahaan Tuan Djorgi. "Gaby, putri saya?" tanya Tuan Djorgi seakan memastikan ucapan sang sekertaris.
Apakah telinganya tidak salah dengar, saat sang sekertaris menyebutkan nama yang ingin bertemu dengan dirinya. Gaby. Puti kandungnya.
Setelah kejadian di toko kue miliknya, Djorgi memutuskan untuk segera pergi ke perusahaan. Dirinya tidak bermaksud untuk menghindari Lina.
Hanya saja, Djorgi ingin memberikan Lina waktu untuk berpikir. Djorgi juga merasa, Lina pasti terkejut dengan apa yang dilakukannya.
Dia juga sadar, jika kemungkinan besar Lina merasa bingung atas kejujurannya. Ditambah lagi dirinya adalah kakak dari Caty. Yang artinya kakak ipar Wiryo, mantan suaminya.
"Benar Tuan, Nona Gaby sedang menunggu di luar." lapor sang sekertaris.
"Kenapa dia menunggu di luar. Cepat, suruh dia masuk." pintanya dengan antusias.
Gaby langsung menuju ke perusahaan milik sang papa, sepulang sekolah. Dengan seragam sekolah masih menempel di tubuhnya.
Entah apa yang di rencanakan saat ini. Tapi yang jelas, otak liciknya sedang merencanakan sesuatu untuk membuat Mawar berada dalam masalah.
Apalagi di pesta pernikahan sang tante, Gaby mendengar sendiri bagaimana Jerome melindungi Mawar. Bahkan dari sang mama sekalipun. Seolah, Jerome adalah perisai untuk Mawar.
Ditambah lagi saat di sekolah dia melihat cara Jerome memperlakukan Mawar. Cara Jerome memandang Mawar dengan penuh cinta.
Sang sekertaris keluar dari ruangan Tuan Djorgi, dan mempersilahkan Gaby untuk masuk ke dalam. Setelah Gaby masuk ke ruangan atasannya tersebut, dia hanya menghela nafas panjang.
"Semoga saat dia bekerja di sini, gue sudah tidak lagi bekerja di perusahaan ini. Sombong sekali. Berbeda dengan Tuan Djorgi." cicit sang sekertaris, membandingkan sikap sang papa dan putrinya yang sangat bertolak belakang.
Gaby menampilkan wajah dingin dan datar. Saat bertutur kata, dia juga sama sekali tidak menunjukkan sopan santun. Sangat angkuh dan arogan.
Tuan Djorgi langsung berdiri dari duduknya, saat Gaby masuk ke dalam ruangan. "Tumben anak papa ke sini, ada apa hem..."
Tuan Djorgi menuntut Gaby untuk duduk di kursi panjang yang memang sudah tersedia di dalam ruangan. "Apa Gaby menganggu?" tanya Gaby dengan nada lembut.
Sejenak, Tuan Djorgi terdiam. Ini pertama kalinya beliau mendengar sang putri mengatakan kalimat yang sangat enak di dengan di telinganya.
Segera Tuan Djorgi menggeleng. "Sama sekali tidak. Ada apa, katakan?"
Sungguh, perasaan dan hati Tuan Djorgi begitu sangat bahagia. Meski tadi pagi hatinya terluka karena penolakan dari Lina, namun sedikit terobati dengan kedatangan sang putri.
"Gaby hanya ingin menanyakan sesuatu."
"Katakan. Apa?"
"Apa papa benar-benar ingin menikah lagi?"
Tuan Djorgi menatap intens ke arah Gaby. Tampak raut wajah yang biasa dan tenang. Juga sama sekali tidak ada amarah atau rasa marah yang ditunjukkan oleh Gaby saat bertanya pada dirinya. Bahkan, kedua sudut bibir Gaby terangkat ke atas.
Tuan Djorgi mengangguk pelan. "Iya, apa boleh?"
Gaby mengangguk seraya tersenyum. "Boleh."
Tuan Djorgi kembali dibuat syok dengan tindakan dan sikap Gaby. Dirinya sama sekali tidak menduga, jika Gaby akan mengatakan hal seperti itu.
"Sayang, kamu tidak bercanda?" tanya Tuan Wiryo dengan wajah serius.
Gaby menggeleng. "Tentu saja tidak. Gaby sadar, papa selalu sendirian. Dan Gaby, tidak boleh egois." cicit Gaby dengan senyum di bibirnya.
Tuan Djorgi membawa tubuh sang putri ke pelukannya. Hari ini benar-benar hari terindah dalam hidupnya.
Hari dimana pertama kali Gaby duduk dan berbincang dengan baik dengannya. Gaby yang selalu tersenyum manis di hadapannya.
Dan yang lebih membahagiakan, Gaby menyetujui niatnya untuk menikah lagi. Memberikan Gaby seorang mama, dan anggota baru di keluarga kecil mereka.
Berbeda dengan Djorgi yang tersenyum karena rasa senang dan haru yang bercampur menjadi satu. Gaby tersenyum iblis di pelukan sang papa.
Tentu saja Gaby mengizinkan sang papa untuk menikah lagi. Apalagi dia tahu, siapa perempuan yang saat ini berada di dalam hati sang papa.
Ibu dari Mawar. Memang itulah rencana Gaby. "Setelah ini, papa tidak akan sendirian. Dan aku, akan mempunyai mama baru. Sementara Mawar, akan aku pastikan. Dia yang akan menggantikan posisi papa sebelumnya. Sendirian." batin Gaby menyeringai.
Rencana licik Gaby, menjadikan Lina sebagai mama tirinya. Seperti Caty yang juga mengambil Wiryo dari Mawar.
Dan Gaby juga akan melakukan hal yang sama. Mengambil posisi Mawar di hati sang ibu. Dan akan berganti dengan dirinya. Rencana yang dia susun dengan begitu baik.
Tapi entah dengan Mawar. Apakah dia akan bisa tetap berdiri dengan kedua kakinya sendiri dengan tegak dan dagu terangkat, jika rencana Gaby benar-benar terjadi.
Gaby mengurai pelukannya. "Pa. Apa Gaby boleh bertemu dengannya?"
Djorgi tersenyum dan mengangguk. "Dia sama seperti papa. Janda dengan satu anak perempuan."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Gaby, terlihat wajahnya berbinar bahagia.
"Kamu mengenal putrinya. Kalian satu sekolah. Dan satu angkatan. Meski tidak satu kelas."
Gaby tersenyum. Tapi tidak dengan hatinya. Tentu saja dia sangat kesal. Sang papa bahkan mengetahui secara detail mengenai Mawar. "Oh ya,,, siapa dia?" tanya Gaby, berpura-pura tidak mengetahui apapun.
"Mawar. Namanya adalah Mawar. Dia putri dari suami tante Caty."
Gaby melihat jelas, sang papa dengan begitu senang memberitahu siapa Mawar padanya. Bahkan, seolah dirinya juga sangat menyayangi Mawar.
"Dan gue nggak akan pernah memberikan papa gue pada perempuan macam elo, Mawar." batin Gaby.
Dengan terpaksa, mulut Gaby memuji Mawar di hadapan sang papa. Meski pada kenyataannya, dirinya sangat muak menyebut nama itu.
"Mawar, dia siswi terpandai di sekolah pa. Papa tidak salahkan?" tanya Gaby, tentu saja melakoni perannya dengan sangat baik.
Djorgi menggeleng. "Iya, benar dia. Pandai, cantik, baik, dan sopan." puji Djorgi.
Gaby tersenyum simpul mendengar sang papa lagi-lagi melontarkan kalimat pujian untuk Mawar. "Sialan, ternyata bukan hanya kak Jerome, bahkan papa juga menyukai Mawar." umpat Gaby dalam hati.
"Tapi sayang, dia menolak perasaan papa." ujar Djorgi dengan raut wajah pias.
Gaby menaikkan sebelah alisnya. "Maksud papa?"
Gaby tidak percaya, jika ibu dari Mawar akan menolak sang papa. Tampan dan kaya. Kurang apa lagi. Bukankah itu yang di cari oleh para perempuan.
Djorgi menatap lurus ke depan. "Tadi pagi, papa menyatakan perasan papa. Tapi dia tidak menjawab, dan malah menghindar." jelas Djorgi.
Gaby tersenyum sinis. "Sialan. Tidak bisa. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus menikah dengan papa. Apapun caranya." kekeh Gaby dalam hati.
Tentunya Gaby tidak ingin jika rencananya sampai gagal. Hanya ini rencana terbesar yang ada dalam otaknya saat ini.
Apalagi yang akan membuat seorang anak akan mengalami frustasi. Selain kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya.
Wiryo sudah berada di tangan Caty. Dia sudah bersama dengan sang tante. Dan Gaby yakin, sang tante tidak akan dengan mudah membiarkan Mawar bertemu dengan sang suami, meski dia adalah putri kandungnya.
Dan Gaby ingin melakukan hal yang sama. Menjadikan ibu Mawar sebagai ibu tirinya. Dan dia akan merampas semua perhatian yang diberikan pada Mawar, dan hanya akan diberikan pada dirinya.
"Papa tenang saja. Gaby akan membantu papa." tekan Gaby dengan yakin.
Djorgi menatap serius pada Gaby. "Kamu yakin, membantu papa. Bagaimana caranya?"
Gaby berkata seakan dirinya telah menyesal akan kelakuannya terhadap sang papa. Dirinya menyakinkan pada sang papa, jika dia telah berubah.
Tentu saja semua ini adalah salah satu dari sekian banyak rencana yang akan di jalankan oleh Gaby ke depannya. Bukan demi papa. Tapi demi kelancaran rencana busuknya.
"Terimakasih sayang." jeda Djorgi sejenak.
"Tapi, bagaimana caranya?"
"Ckk,,,, papa tenang saja. Papa cukup diam. Dan semua akan Gaby atur." ucap Gaby dengan yakin.
Otak kecil Gaby sudah merencanakan, apa saja yang akan dia lakukan. Jika ibu dari Mawar tetap menolak keinginan sang papa.
Gaby tersenyum sempurna. "Apapun, akan gue lakukan. Apapun, asal kalian menikah." batin Gaby.
Sementara Mawar, sepulang sekolah, dirinya diantarkan oleh kedua sahabatnya. Menuju ke butik dimana Mawar bekerja.
"Kamu sudah jadian sama kak Jerome?" tanya Mira dengan antusias yang duduk di kursi belakang. Sampai dia menempatkan sikunya di atas sandaran kursi mobil bagian depan.
"Apa benar, yang ditanyakan Mira. Gue harap elo jangan berbohong. Awas saja!!" ancam Selly yang tengah duduk di balik kemudi.
Mawar memutar kedua bola matanya dengan malas. "Jadian apaan. Aku sama kak Jerome masih seperti dulu. Kita hanya berteman. Kalian jangan ngaco." ketus Mawar.
"Tapi kak Jerome melihat elo dengan tatapan lain." sahut Selly.
"Jangan membuat gosip. Nanti malah hidup ku di sekolah tidak akan bisa tenang." dengus Mawar.
Mira menjawil pundak Selly. Menyuruhnya diam, Mira bisa melihat Mawar menampilkan wajah yang tidak nyaman. "Apapun yang elo lakukan, kita akan berada di samping elo."
Mira memeluk Mawar dari belakang. "Mira,,, kamu mau membunuhku." seru Mawar, lehernya terasa dicekik oleh tangan Mira yang melingkar di lehernya.
"Maaf. Sengaja." sahut Mira, yang membuat semua tertawa lepas.
Mawar turun dari mobil. Melambaikan tangan ke arah kedua sahabatnya, dan segera masuk ke dalam butik lewat pintu samping.
Baru saja Mawar menaruh tasnya di dalam laci, dan hendak pergi ke kemar mandi untuk berganti pakaian. Tapi suara seorang lelaki memanggil namanya, dan menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Mawar." panggilnya.
"Kak Dami." sahut Mawar, kembali menyapa Dami.
Mawar mendekat ke tempat di mana Dami berada. "Kak Dami, ada yang bisa Mawar bantu?" tanya Mawar dengan ramah.
Dami tersenyum simpul. "Seandainya kamu yang menjadi adikku. Pasti aku akan sangat bahagia." cicit Dami, membuat Mawar tersenyum kaku.
"Maafkan Dona." ujar Dami, dengan Mawar hanya tersenyum tulus memandang ke arahnya.
"Jika Dona mencari masalah lagi dengan kamu. Hubungi saja aku." pinta Dami.
Mawar tersenyum dan mengangguk pelan. "Terimakasih kak. Tapi sebaiknya tidak perlu. Nanti yang ada hubungan kak Dami dan kak Dona malah berantakan." tolak Mawar dengan sopan.
Dami tertawa pelan. "Kamu memang gadis baik. Pantas, Jerome begitu menyukai kamu."
Mawar tersenyum kaku. Menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dan menjadi salah tingkah, saat Dami menyebutkan nama Jerome. Terlebih ada kata suka dalam kalimat tersebut.
"Jangan khawatir. Aku memang kakak dari Dona. Perempuan yang menyukai Jerome. Namun aku tidak buta. Sebab, cinta memang tidak bisa dipaksa."
Mawar hanya diam. Dirinya benar-benar bingung akan mengucapkan kalimat apa dari dalam mulutnya. "Dari dulu, sejak mereka duduk di bangku SMP, Dona sudah tertarik pada Jerome. Dia mulai mengejar Jerome. Dan saat itu, aku masih membantu Dona." jeda Dami.
Beberapa detik kemudian, Dami melanjutkan kalimatnya. "Namun Jerome sama sekali tidak pernah menganggap Dona. Dia selalu mengacuhkan Dona. Jerome juga mengatakan padaku, jika sampai kapanpun, dia tidak akan pernah bisa menyukai Dona."
Mawar dapat melihat jika Dami sangat menyayangi Dona. "Seandainya, gue punya kakak seperti kak Dami. Pasti hidup gue nggak seperti ini." batin Mawar, merasakan perasaan iri terhadap Dona.
"Sejak saat itu, aku mulai menasehati Dona. Menyuruhnya untuk menjauhi dan membuang perasannya pada Jerome. Tapi percuma. Dona malah semakin menjadi-jadi."
"Tapi tetap saja. Jerome tidak memandang keberadaannya. Hingga saat ini. Dan Dona malah membenci aku. Karena sudah tidak membantu dirinya lagi." jelas Dami.
Dami melihat Mawar yang hanya diam, dan menatap ke bawah. "Mawar." panggil Dami, membuat Mawar mendongakkan wajahnya. Menjadikan keduanya bersitatap.
"Aku yakin, Jerome memang mencintai kamu. Dia tidak ada niatan untuk memainkan perasaan kamu. Sejak dulu, ini baru pertama kalinya aku melihat. Jerome begitu memberi perhatian lebih pada seorang perempuan." papar kak Dami.
"Tapi kehidupan kami berbeda kak. Dari segi apapun. Semuanya. Dan tidak akan pernah bisa sama untuk selamanya. Tidak ada dalam dunia nyata, upik abu akan menjadi cinderella." tukas Mawar tersenyum.
Dami terdiam. Apa yang dikatakan Mawar memang benar adanya. Terlebih sangat jelas terlihat, Nyonya Mesya yang terang-terangan menolak keberadaan Mawar di samping Jerome.
Mawar menghembuskan nafas panjang. "Maaf kak, Mawar mau ke belakang dulu. Mau ganti baju." pamit Mawar.
"Oke, silahkan."
Mawar melangkah ke belakang, tepatnya ke dalam kamar mandi karyawan. Dirinya tidak ingin terlalu larut dengan ucapan Dami. Yang mengatakan jika Jerome mencintai dirinya.
Memang kenyataannya seperti yang Mawar katakan. Di antara mereka berdua, ada jurang pemisah yang lebar dan dalam.
Sementara Dami kembali ke ruangannya. Sebab hari ini sang mama tidak akan datang ke butik. Oleh karenanya, Dami yang juga sedang tidak ada kelas kuliah. Mengantikan sang mama menjaga butik.
Begitu tiba di depan, Mawar langsung diinterogasi oleh kedua rekan kerjanya. Santi dan Tia. "Tadi, mas Dami ngomong apa?" tanya Santi.
Ini pertama kalinya Dami berbicara dengan karyawan butik dengan waktu cukup lama. Membuat jiwa keponya muncul. "Meminta maaf. Terkait kelakuan adiknya yang nggak normal." celetuk Mawar.
Santi dan Tia saling pandang. "Gue kira ada bau-bau cinta." sahut Tia, dengan nada kecewa.
"Mbak Tia nggak usah ngaco." tegur Mawar. Tadi Mira dan Selly yang menginginkan dirinya dengan Jerome. Dan sekarang Tia dan Santi yang menebak jika ada sesuatu antara Dami dan dirinya.
"Lagian kenapa mas Dami yang minta maaf. Dona yang salah. Percuma dia minta maaf, jika kelakuan adiknya tetap iblis." celetuk Santi dengan nada kesal.
"Betul." timpal Tia membenarkan.
"Huusstt,,, jangan keras-keras, nggak enak di dengar kak Dami." ucap Mawar mengingatkan.
"Oh iya, mbak Amel nggak masuk lagi?" tanya Mawar.
"Entahlah. Aku tadi sudah menelponnya. Tapi nomornya malah nggak aktif." ujar Tia.
"Mbak Santi dan mbak Tia tahu alamat rumah mbak Amel?" tanya Mawar khawatir.
Semenjak kejadian malam itu, Amel tidak pernah kembali masuk bekerja. Dia beralasan sedang tidak enak badan.
"Itu dia masalahnya." ujar Tia.
"Ada apa mbak?" tanya Mawar penasaran.
"Kita sudah ke sana. Rumahnya kosong tak berpenghuni. Kata tetangganya, merek baru pindah beberapa hari hang lalu." jelas Santi.
Mawar terdiam. Jujur saja, dirinya khawatir dengan keadaan Amel. "Apa mbak Amel dalam bahaya, makanya dia bersembunyi bersama keluarganya." batin Mawar.
__ADS_1
"Aku harus meminta bantuan Luck atau Erza. Mungkin mereka bisa membantu." batin Mawar.
Sebab setahu Mawar hanya Luck dan Erza yang paham mengenai hal-hal semacam itu. Dia tidak tahu, jika Jerome lebih andal di bidang tersebut.