MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 138


__ADS_3

Sepulang dari rumah Lina, Gaby meradang. Dirinya langsung masuk ke dalam kamar. Beralasan pada sang papa jika dirinya sudah mengantuk.


"Bagaimana bisa. Sial...!! Gue pikir langkah gue sudah dekat. Ternyata. Aaa...!! Lina...!! Elo merusak semua rencana gue." teriak Gaby.


Gaby berjalan mondar mandir. Duduk, lalu berdiri lagi. Pikirannya benar-benar kacau. Dia merasa sudah berhasil meraih hati Lina, serta Nyonya Tanti.


Ternyata semua tidak seperti yang Gaby pikirkan. "Tidak bisa. Bagaimanapun caranya papa harus menikah dengan perempuan itu."


Entah apa yang direncanakan oleh Gaby. Yang pasti, dibenaknya pasti merencanakan sesuatu yang tidak baik. Supaya sang papa bisa menikah dengan ibu dari Mawar. Bagaimanapun caranya.


Sementara Dona, dia nekat datang ke sekolah di saat malam hari. Hanya untuk melakukan apa yang ada di dalam pikirannya.


Apalagi jika bukan membuat Mawar malu di saat melakukan pentas besok di hadapan banyak orang. "Mawar, selamat menikmati hari esok yang menyenangkan." seringai Dona, mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Dengan langkah santai dan tenang, Dona keluar dari area sekolah tanpa rasa takut. Seolah dirinya dengan percaya diri, jika tidak akan ada yang melihatnya. "Mawar, jangan silahkan gue. Elo saja yang terlalu kecentilan." tukasnya.


Di kediaman Tuan Adipavi, Jerome sarapan bersama dengan sang papa di meja makan. Juga dengan Nyonya Mesya. "Mawar kemarin datang ke sini?" tanya Tuan Adipavi pada Jerome.


"Iya, sayangnya hanya sebentar." tukas Nyonya Mesya.


Tuan Adipavi tersenyum melihat sikap sang istri yang sudah mau menerima Mawar. Meskipun beliau tahu, alasan dibalik berubahnya sifat sang istri. Tak lain karena harta.

__ADS_1


Jerome memandang sekilas sang mama. Lalu menghembuskan nafas panjang. Mamanya sudah bisa menerima Mawar. Dan kini, Mawar yang sepertinya enggan berdekatan dengan sang mama.


"Ma, pa, jangan lupa. Datang ke sekolah hari ini." ujar Jerome mengingatkan.


"Iya sayang. Pasti. Kan hari ini pengumuman nilai kamu, serta pensi untuk melepaskan murid kelas tiga. Kami pasti datang. Apalagi kamu dan Mawar akan tampil bersama. Mama tidak sabar melihatnya."


Jerome hanya tersenyum. Bahkan, pagi ini dirinya belum mengirim pesan kepada Mawar seperti pagi-pagi sebelumnya.


Jerome berangkat ke sekolah tanpa menghampiri Mawar, melajukan mobilnya secara perlahan. "Gue hanya ingin Mawar dan mama akur. Gue ingin mereka berdua bisa duduk dan tersenyum bersama." gumamnya, sembari menyetir.


Jerome merasa keinginannya tidak terlalu berlebihan. Jika keinginannya adalah sesuatu yang baik. Tanpa dia sadari, jika dia telah membuat Mawar kecewa. Dan malah merasa dirinya yang dikecewakan oleh Mawar.


"Mawar, ibu bawa mobil kakek. Tidak apa-apakan?" tanya Lina di sela sarapan mereka dengan ekspresi sedikit takut.


Lina takut, perubahan sikap Mawar karena dirinya membawa mobil dari orang tuanya.


Mawar tersenyum. "Iya, tidak apa-apa."


"Kamu bisa pakai, jika kamu mau."


Mawar menghentikan tangannya yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Maaf bu, Mawar tidak bisa menyetir."

__ADS_1


"Maaf,, ibu lupa. Bagaimana kalau ibu ajari kamu."


Mawar menggeleng. "Untuk saat ini Mawar belum bisa bu. Mawar masih sibuk." tolak Mawar dengan sopan.


Mawar tidak ingin membuat sang ibu sedih karena menolaknya. Padahal, Mawar memang tidak berminat untuk belajar menyetir mobil.


Mawar berdiri, mengambil tas milik Nyonya Utami yang dibawa oleh sang ibu. "Bu, Mawar berangkat dulu." pamit Mawar.


"Jerome tidak ke sini?"


"Kak Jerome sedang apa keperluan." sahut Mawar, tentu saja berbohong.


"Tapi ini masih terlalu pagi."


"Mawar mau mampir ke rumah bu Utami dahulu. Mengembalikan tas beliau." jelas Mawar.


"Baiklah, berhati-hatilah. Nanti ibu akan ke sekolah kamu."


"Baik bu. Mawar berangkat dulu."


Bukan hanya orang tua murid kelas tiga yang diundang kehadiran mereka untuk datang ke sekolah. Tetap semua murid kelas satu dan dua.

__ADS_1


__ADS_2