
"Gimana, enakkan?" tanya Jerome, mengajak Mawar ke sebuah warung masakan padang.
Mawar mengangguk, menyetujui perkataan Jerome. "Warung langganan. Kalau lagi kepengen masakan Padang, aku biasanya ke sini." jelas Jerome.
Mawar hanya diam dan menyimak perkataan Jerome. "Kalau kurang, kamu bisa tambah lagi."
Mawar memandang sinis ke arah Jerome. "Kakak pikir perut Mawar karet." dengusnya.
Jerome tersenyum. "Bukan karet. Siapa tahu masih ada celah yang kosong." goda Jerome.
"Apa sih. Celah kosong. Sepak bola kale." timpal Mawar.
Jerome terkekeh pelan, dan melanjutkan makannya. Sesekali mencuri pandang ke arah Mawar.
Jerome suka dengan gaya makan Mawar. Sama sekali tidak terlihat jaim namun masih terlihat sopan. Biasa. Dan juga tidak dibuat-buat. Meski ada dirinya di sebelahnya.
Saat bertemu dengan Mawar di tepi jalan, Jerome beralasan tak sengaja melewati jalan tersebut. Bertanya kenapa Mawar bisa berada di sini, sendirian. Padahal waktu sudah .malam.
Mana mungkin Jerome berkata jujur. Mengatakan jika dia mengetahui semuanya. Jika dirinya duduk di meja tepat di belakang Mawar saat di restoran. Mendengar semua percakapan Mawar dan Wiryo.
Bukan mendekat, pasti Mawar akan malah menjauh. Begitu pula dengan Mawar. Di juga berbohong layaknya Jerome. Saat dia ditanya oleh Jerome.
Mawar yang memang tidak tahu akan adanya Jerome saat di restoran. Memilih untuk berbohong. Mengatakan jika dirinya ada keperluan di sekitar daerah tersebut.
"Kamu sudah memberitahu ibu kamu?"
Mawar hanya mengangguk. Dia tidak menjawab pertanyaan Jerome karena mulutnya masih terisi makanan. "Kenyang." ucap Mawar setelah meminum segelas air putih.
"Makasih kak, traktirannya."
"Iya."
Jerome mengantarkan Mawar untuk pulang. Tapi dia melajukan motornya dengan lambat. Sengaja. Jerome sengaja melakukannya.
Sebenarnya Jerome belum puas bersama dengan Mawar. Namun dirinya tidak boleh egois. Sehari, Mawar belum beristirahat sama sekali.
Pasti saat ini, tubuh Mawar butuh istirahat. Dan menenangkan pikiran. Jerome melihat wajah Mawar dari kaca spion. Terlihat datar tanpa ekspresi.
Jerome ingin mengembalikan pakaian milik papa Mawar yang sempat dia pinjam. Tapi dia mengurungkan niat tersebut. Terlebih setelah kejadian di restoran tadi.
Jerome tidak ingin menyinggung nama seseorang yang pastinya akan membuat Mawar merasa sedih. Jerome tersenyum pahit.
Di depan semua orang, Mawar terlihat baik-baik saja. Siapa yang menyangka, jika dia sedang patah hati. Sakit hati karena ayahnya sendiri.
Tak ada percakapan selama mereka berdua mengendarai sepeda motor. Mawar menatap ke depan. Dengan tatapan kosong dan jauh.
Jerome, sesekali melihat Mawar dari kaca spion. Memastikan keamanan Mawar. "Aku berjanji, akan membuat kamu tersenyum kembali." batin Jerome.
"Ehh,,, sudah sampai." ucap Mawar saat motor Jerome berhenti. Sebab Mawar memang sama sekali tidak fokus dengan jalan yang mereka lalui.
Mawar turun dari sepeda motor Jerome. "Maaf ya kak, nggak Mawar ajak mampir. Sudah malam." ucap Mawar tak enak.
"Iya, aku juga ngerti kok."
Hening sejenak. "Mawar." panggil Jerome.
"Ada apa kak?" tanya Mawar, melihat ekspresi Jerome yang terlihat ingin bertanya pada dirinya.
"Maaf sebelumnya. Pertanyaan aku mungkin nanti terdengar tidak enak. Tapi sungguh, aku tidak ada maksud apa-apa."
Mawar tertawa pelan. "Bertanya saja belum. Kak Jerome sudah minta maaf duluan." cicit Mawar.
Jerome tersenyum melihat tawa Mawar. "Sungguh cantik." batin Jerome.
"Ya sudah, kak Jerome mau tanya apa. Soalnya Mawar mau masuk." desak Mawar.
"Begini, apa kamu nggak punya kendaraan. Emm,,, maksud aku.." Jerome kebingungan meneruskan kalimatnya.
Dan Mawar mengerti, Jerome hanya ingin bertanya. Bukan bermaksud merendahkannya. "Dulu punya. Mawar punya sebuah motor. Tapi Mawar jual saat ibu di rawat di rumah sakit." jelas Mawar.
Tanpa menyinggung mobil milik sang ayah. Yang kelihatannya telah dijual juga oleh sang ayah. Tapi berbeda dengan Mawar.
Jika Mawar menjual sepeda motornya untuk pengobatan sang ibu. Wiryo menjual mobilnya, dan kembali membeli mobil baru yang lebih bagus tentunya.
Jerome manggut-manggut. "Emmm,,, jika kamu mau. Aku bisa meminjami kamu motor. Maaf, bukan maksud aku merendahkan kamu. Hanya, anu,,, aku, khemm... Itu. Kamu kan bekerja, dan selalu pulang malam. Mungkin akan lebih mudah jika punya motor. Begitu kira-kira."
__ADS_1
Jerome berbicara dengan sedikit gugup. Jujur, ada rasa khawatir saat dirinya ingin berbicara dengan Mawar mengenai hal tersebut.
Jerome takut Mawar tersinggung dan marah akan niat baiknya. Padahal Jerome sama sekali tidak memandang rendah Mawar. Dia malah salut atas semangat yang Mawar miliki.
Mawar tersenyum. "Terimakasih kak. Tapi maaf, bukan Mawar menolak maksud baik kak Jerome. Hanya saja, Mawar lebih suka naik angkot untuk sekarang." tolak Mawar dengan sopan.
Mawar tak ingin Jerome salah paham dengan penolakan. Karena memang, Mawar merasa tidak bisa menerima kebaikan yang Jerome berikan.
Mengingat jika hubungan mereka tidak sedekat itu. Dan juga, Mawar merasa akan lebih nyaman jika dirinya mengumpulkan uang terlebih dahulu dan membeli sepeda motor sendiri. Meski sepeda motor yang sudah terpakai sebelumnya.
Mawar tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Meski saat itu, Mawar sama sekali tidak tahu jika Deren yang sudah membiayai sebagian perawatan sang ibu selama di rumah sakit.
Tapi karena hal tersebut, mama Deren mendatanginya. Serta memaki dirinya. Tentu saja, hal tersebut terus akan Mawar ingat sampai kapanpun. Sebagai pembelajaran bagi dirinya.
Jerome tersenyum kaku. "Baiklah kalau begitu. Ya sudah. Kamu masuk." Meski kecewa karena penolakan Mawar, tapi Jerome tidak menunjukkan raut wajah kecewa di hadapan Mawar.
Mawar mengangguk. "Selamat malam kak." Mawar membuka pagar rumah. Berjalan ke dalam rumahnya. Dengan Jerome masih di depan rumah Jerome. Memandang Mawar hingga Mawar masuk ke dalam rumah, menghilang di balik pintu.
"Ditolak." gumam Jerome mendengus, lalu memakai helmnya, yang sempat tak dia pakai saat membonceng Mawar.
Sebenarnya Jerome sudah bisa menerka apa jawaban yang akan diberikan oleh Mawar. Tapi Jerome tetap mencoba peruntungan. Siapa tahu Mawar menerima bantuannya.
Jerome mulai sedikit demi sedikit tahu tentang Mawar. Perempuan yang tidak mudah menerima uluran tangan orang lain. Terlebih orang tersebut hanya sekedar akrab dengannya.
"Gue akan berusaha mendekati kamu Mawar." ucap Jerome dalam hati. "Hingga kamu menerima keberadaan diriku di samping kamu."
Melihat Deren hanya diam dan semakin menjauh dari Mawar. Jerome bertekad untuk tidak lagi memikirkan perasaan Deren. Jerome menebak jika Deren perlahan menghapus nama Mawar dari hatinya.
Jerome melajukan motornya ke markas. Dimana ketiga sahabatnya sudah berada di sana.
Wiryo segera pulang ke apartemen, begitu dia selesai makan dengan Mawar di restoran. Matanya melebar sempurna melihat apa yang terjadi di apartemennya.
Semuanya berantakan. Padahal, sewaktu Wiryo tinggal untuk bekerja tadi pagi, apartemennya masih dalam keadaan rapi dan bersih.
Tapi sekarang, sungguh kacau. Semuanya berserakan. Dan sangat menganggu kedua matanya. "Caty." geram Wiryo.
Siapa lagi kalau bukan ulah Caty. Wiryo menebak jika Caty tahu pertemuannya dengan Mawar.
Prang.... Terdengar suara benda pecah di dalam kamarnya. Segera Wiryo menutup pintu dan melangkahkan kakinya dengan cepat ke kamar miliknya.
"Caty...!!!" suara Wiryo menggelegar. Membuat Caty seketika terdiam. Bukannya takut, Caty malah menatap nyalang ke arah Wiryo.
Caty menatap tajam ke arah Wiryo. "Seharusnya kamu tahu. Kenapa aku melakukan semua ini??!" teriak Caty tak mau kalah dengan nafas tersengal.
Wiryo melepas dasinya asal, dan juga kancing jas yang masih terpasang rapi. "Mawar adalah anakku." ucap Wiryo.
"Tapi kamu tidak perlu berbohong. Katakan saja dengan jujur padaku." seru Caty tidak terima akan tindakan Wiryo.
"Bohong. Kapan aku berbohong. Apa kamu pernah bertanya?!!" seru Wiryo, mulai kehilangan kesabaran meladeni Caty.
Caty terdiam. Dia mengetahui semuanya saat dia dan beberapa temannya makan di restoran. Dimana bawahan Wiryo dan kliennya juga makan di sana.
Dari bawahan Wiryo lah Caty tahu. Jika malam ini, Wiryo sedang bersama dengan putrinya, Mawar. Yang seharusnya Wiryo makan dengan klien. Yang malah di wakili oleh bawahan Wiryo.
"Aku hanya ingin kamu mengatakan semuanya. Semuanya sama aku. Apapun itu!!" teriak Caty.
"Pelankan suaramu Caty!!" seru Wiryo tertahan.
"Kenapa? Apa kamu merasa bersalah. Karena tidak memberitahuku!!" bukannya merendahkan nada suaranya, Caty malah semakin menjadi-jadi.
"Kebohongan apa lagi yang kamu tutup-tutupi dari aku. Apa..??!" teriak Caty.
Wiryo memejamkan kedua matanya sesaat. Cukup sudah dia menahan emosinya saat berhadapan dengan Mawar tadi.
"Aku bukan bawahanmu Caty. Yang harus melaporkan semuanya pada kamu." tersirat nada tak suka dalam perkataan Wiryo.
"Keluar, keluar dari apartemenku sekarang juga. Keluar..!!" usir Wiryo tegas.
Caty memandang Wiryo tak percaya. Selama ini, Wiryo selalu bersikap lembut padanya. Dia tidak pernah marah. Dan ini, saat ini, Wiryo berteriak dan membentaknya bahkan mengusir dirinya.
Caty tersenyum mengejek. "Kamu mengusirku. Iya,,, kamu mengusirku. Ingat, ini apartemen siapa!!" seru Caty tidak terima sambil menunjuk ke aran Wiryo.
Sebab, apartemen yang Wiryo jadikan tempat tinggal selama ini adalah apartemen milik perusahaan. Bukan apartemen pribadi milik Wiryo.
Wiryo tersenyum kecut. "Maaf aku lupa." cicit Wiryo.
__ADS_1
Caty tersenyum angkuh. Melihat Wiryo berjalan ke arah dirinya. Caty berpikir pasti Wiryo akan kembali memperlakukan dirinya dengan lembut.
Membujuk dia. Meminta maaf padanya. Itulah yang Caty pikirkan. Seperti sebelumnya.
Senyum Caty memudar, saat Wiryo berjalan melewatinya. Caty membalikkan badan. Melihat apa yang dilakukan Wiryo.
Tebakan Caty meleset jauh. Caty salah. Saat ini, jiwa Wiryo sudah lelah. Apalagi dia sempat sedikit bersitegang dengan sang putri.
Wiryo mengambil sebuah koper dari dalam almari. Memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper dengan cepat. Dan juga beberapa barang lain.
Caty hanya bisa menatap bingung tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Bukan ini yang dia inginkan. Bukan kepergian dari lelaki yang teramat dia cintai.
Mulut Caty seakan kelu, tak mau terbuka. Berbanding terbalik dengan hatinya. Ego yang Caty miliki terlalu besar. Tentu saja dia tak akan mau mengatakan kata maaf, atas kesalahannya.
Karena menurutnya, bukan dia yang bersalah dalam hal ini. Melainkan Wiryo. Dialah yang bersalah karena tidak mengatakan jika akan menemui Mawar. Padahal Mawar adalah putri Wiryo.
Sama halnya seperti Caty. Tanpa sepatah katapun, Wiryo meninggalkan apartemennya. Benar-benar mengacuhkan Caty.
Blaaammmm.... terdengar suara pintu tertutup dengan keras. Caty lunglai. Tubuhnya luruh ke lantai. Air matanya keluar dari kedua matanya.
"Bukan ini yang Caty inginkan. Bukan mas." isak Caty dalam tangisnya.
Caty hanya takut kehilangan Wiryo. Itulah alasan Caty selama ini bersikap seakan dirinya mengekang dan ingin tahu semua yang dilakukan oleh Wiryo.
Caty menghapus kasar air mata di pipinya. "Mawar. Ini semua gara-gara dia. Bocah bau kencur itu, merusak semuanya." tatapan benci penuh amarah terlihat jelas di kedua mata Caty, tertuju untuk Mawar.
Jerome turun dari motornya. Membuka pintu dan masuk ke dalam markas mereka. Belum sempat Jerome mendaratkan pantatnya. Sebuah bogem lebih dulu mendarat di pipinya.
Tubuh Jerome terhuyung ke samping. "Deren." seru Tian, lekas berdiri memegang tubuh Deren.
Dan Luck, segera membantu Jerome untuk berdiri. Jerome menggelengkan kepalanya yang terasa sedikit berdenyut karena bogem mentah yang dia terima dari Deren.
Jerome memegang pipinya. Tampak sudut bibir Jerome berdarah. Memandang Deren dengan tatapan kesal. "Stop..." seru Luck memegang tubuh Jerome.
Saat Jerome hendak memukul balik Deren. Tentu saja Jerome tidak terima, Deren memukulnya tanpa mengatakan apapun terlebih dulu.
"Ada apa dengan kalian??!" tanya Tian meninggikan nada suaranya.
Jerome menatap Tian tajam. "Bukan kalian. Tapi dia." geram Jerome mengalihkan pandangan pada Deren.
"Itu hadiah untuk seorang pengkhianat." tekan Deren dengan tatapan marah pada Jerome.
Jerome tersenyum miring. "Apa otak kamu sudah tidak waras." ejek Jerome.
"Sudah,,, sudah. Sebaiknya kita bicara baik-baik. Dan jangan ada kekerasan lagi." bentak Tian yang sama sekali tidak mengerti ada apa ini sebenarnya.
Tian dan Luck duduk di tengah. Sementara Deren dan Jerome duduk di samping mereka. Sehingga jika Deren maupun Jerome mau berkelahi lagi, mereka harus melewati dua orang tersebut.
"Sekarang katakan. Kenapa elo mukul Jerome?" tanya Luck.
Deren tersenyum sinis dengan memandang remeh Jerome. "Tanyakan saja pada dia." bukannya menjawab, Deren malah seperti bermain teka teki.
"Gue nggak merasa bersalah. Dan jangan malah melempar batu sembunyi tangan." sahut Jerome tidak terima. Seolah-olah dirinya yang dipersalahkan oleh Deren.
Padahal Jerome sama sekali tidak tahu apa-apa. "Ayolah Deren, katakan saja. Jangan kayak komedi putar." celetuk Tian kesal.
Luck memukul pelan lengan Tian yang dianggapnya sedang bercanda di saat yang genting seperti ini. "Karena dia mendekati Mawar." jelas Deren.
Luck dan Tian langsung menatap ke arah Jerome secara bersamaan. Bermaksud ingin mendapatkan jawaban akan perkataan dari Deren.
Jerome terkekeh pelan. Membuat Deren semakin kesal. "Memang kenapa kalau gue mendekati Mawar. Apa Mawar kekasih elo. Bukankah?" ujar Jerome berkata jujur.
Luck dan Tian saling pandang. Pundak keduanya merosot ke bawah bersamaan. Hancur sudah persahabatan mereka jika tak ada yang mengalah. Hanya karena seorang perempuan.
"Brengsek. Elo sudah tahu, jika gue suka sama Mawar..!!" seru Deren, ingin berdiri. Namun segera Tian memegang pundak Deren dan menyuruhnya duduk kembali.
"Tapi kenyataannya tidak seperti yang gue lihat. Elo malah menjauh dari Mawar. Jadi jangan salahkan gue jika gue mendekati Mawar." ucap Jerome tak mau disalahkan.
Luck dan Tian masih diam. Keduanya masih menyimak. Isi kepala mereka sedang mencari cara untuk masalah antara Jerome dan Deren.
"Dan elo tahu, apa yang membuat gue menjauh dari Mawar." tegas Deren.
Jerome terdiam. Memang dirinya juga tahu. Kenapa Deren menjauh dari Mawar. Tapi karena rasa sukanya pada Mawar lebih besar.
Jerome malah menyimpulkan sendiri. Jika Deren mundur dan perlahan menjauh dari Mawar. Tanpa ada niat ingin kembali mengejar cinta Mawar.
__ADS_1
Hening. Seketika ruangan menjadi hening. Jerome menyandarkan badannya ke kursi. Begitu juga dengan Deren.
Luck dan Tian, masih duduk dengan waspada. Siapa tahu ada adu jotos setelah ini. Meski mereka tak mengharapkannya.