
"Kalian hati-hati. Selalu hubungi orang rumah." ujar Bu Lina pada ketiga gadis di depannya. Mengingatkan untuk tidak membuat khawatir orang tua mereka. Termasuk Mawar.
Semuanya mengangguk bersama. "Di sana jangan nyusahin neneknya Mira." sambung bu Lina.
"Iya bu." sahut Mawar, sementara Mira dan Selly kembali mengangguk.
Ketiganya lantas segera masuk ke dalam mobil. Dengan Mira duduk di depan, bersama sopir keluarganya yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan.
Sementara Selly dan Mawar duduk di kursi belakang. "Sumpah, gue senang banget. Hidup gue terasa damai. Tidak melihat tampang perempuan iblis untuk beberapa hari. Bebas." cerocos Mira, seakan hari-hari sebelumnya dia jalani dengan kelam.
Padahal sama sekali tidak. "Tenang saja. Tinggal menghitung hari. Dia akan meninggalkan sekolah. Aaahh,,, rasanya sungguh melegakan." sahut Selly.
Mawar hanya menggeleng sembari tersenyum. Disini, seharusnya dia yang merasakan hal tersebut. Bukannya Mira dan Selly.
Dona menargetkan dirinya. Bukan Mira dan Selly yang juga berasal dari kalangan yang sama seperti Dona.
"Dona dan Weni akan cuzzzz.... tidak sabar menunggu mereka berdua angkat kaki dari sekolahan." seru Mira dengan binar bahagia.
Pak sopir hanya tersenyum mendengar dan melihat tingkah mereka. "Elo nggak senang?" tebak Selly mengarah pada Mawar.
"Senang lah..." cicit Mawar.
"Tapi elo terlihat biasa." Mira memutar tubuhnya, menghadap ke belakang.
"Mira, pakai sabuk pengaman kamu." tegas Mawar.
"Iya." dengan bibir cemberut, Mira melakukan apa yang dikatakan Mawar. Bukannya Mira benar-benar marah.
Tapi dia malah merasa senang, meski Mawar menaikkan nada suaranya untuk mengingatkannya. Hal tersebut menandakan jika Mawar memperhatikan dan sayang pada dia.
"Kalian lupa, masih ada Gaby dan Siska." jelas Mawar. Mengingatkan jika mereka bersua seharusnya tidak sesenang ini.
"Iya juga sih. Tapi kalian tenang saja. Gue dengar, Siska banyak berubah semenjak berada di sekolah sebelah." ucap Selly dengan yakin.
"Elo yakin?" tanya Mira butuh sesuatu yang mendasar atas apa yang diucapkan Selly, dengan hanya sedikit menengokkan kepalanya ke belakang.
Selly mengangguk. "Dari mana kamu tahu?" tanya Mawar merasa penasaran.
"Teman aku saat SMP banyak juga yang melanjutkan sekolah ke sana. So, aku tahu dari sana." papar Selly.
"Lalu Gaby?"
Selly mencebikkan bibirnya. "Sama. Sombong dan angkuh. Tapi, di sana dia tidak bisa berbuat seenaknya seperti seorang putri. Tahu sendirilah. Dia sendirian." jelas Selly.
"Semoga, dengan Dona dan Weni keluar dari sekolah, Gaby tidak melakukan hal yang menyebalkan dan menjijikkan." tutur Mira.
Selama ini, Donalah yang menjadi penggerak mereka. Itulah yang terlihat secara kasat mata. Mereka bertiga tidak tahu, bagaimana sejatinya karakter masing-masing keempat sahabat yang suka sekali membuat mereka bertiga kesal dengan kelakuan mereka.
"Kita lihat saja. Bagaimana sifat Gaby yang sebenarnya, jika Dona dan Weni sudah keluar." tukas Mawar.
Yakin jika Gaby akan menunjukkan jati dirinya, saat orang yang selama ini dijadikan Gaby sebagi pelindungnya sudah tidak ada.
"Ya,,,, tapi sedih juga." cicit Mira tiba-tiba berekspresi melodrama.
"Berarti kak Jerome cs juga tidak ada. Terus siapa yang akan menggantikan ketampanan paripurna dari mereka. Ahhh,,,, nggak rela." lanjut Mira merengek manja.
"Aaaw....." seru Mira, mendapatkan toyoran di belakang kepalanya dari Selly dan Mawar secara bersama.
"Belajar. Jangan mikirin laki." seru Selly dan Mawar kompak.
Pak sopir kali ini tertawa melihat ketiga gadis tersebut. Beliau merasa jika pertemanan mereka benar-benar membawa pengaruh positif.
Pantas saja, sang Nyonya, yakni mama Mira memberi izin pada sang putri pergi bersama kedua temannya ini. Sementara sang sopir tahu, bagiamana ketatnya pengawasan sang majikan pada putri semata wayangnya tersebut.
Beberapa menit, mereka terdiam. Mereka sibuk sendiri-sendiri. Mawar menatap ke samping. Memandang tepi jalan yang menurutnya tampak indah dengan pohon yang berbaris rapi seperti manusia.
Mira menyandarkan tubuhnya di kursi, dengan mata terpejam. Sementara Selly, jari-jemarinya sibuk bermain ponsel. Memainkan sebuah game di dalam ponselnya.
Di rumah, Bu Lina berangkat kerja setelah Mawar dan kedua sahabatnya meninggalkan rumah. Masih awal untuk bu Lina berangkat.
Tapi memang seperti itu bu Lina. Dirinya merasa akan nyaman dengan berangkat jauh lebih awal. Sehingga dirinya tidak perlu berjalan tergesa.
Dengan menikmati suasana pagi seperti biasa, Bu Lina berjalan santai di tepi jalan. Senyumnya mengembang setiap berpapasan dengan warga sekitar yang dia kenal.
Tiitttt,,, sebuah mobil berhenti, dan membunyikan klakson di dekat bu Lina.
Bu Lina hapal dengan pemilik mobil tersebut. Yakni atasan sekaligus pemilik toko kue tempatnya bekerja. Djorgi.
Bu Lina memandang ke arah Djorgi, yang membuka kaca mobil. Sehingga mereka dapat bersitatap secara langsung.
"Mau berangkat kerja?"
Bu Lina mengangguk, dengan senyum manis terpatri di bibirnya. "Masuk. Bareng saya saja." ajak Djorgi.
__ADS_1
Bu Lina tersenyum kaku. Menolak atau menerima. Keduanya hal yang membuatnya serba salah. Semenjak dirinya tahu jika Djorgi adalah kakak dari Caty, Bu Lina juga tidak ingin terlalu sering berinteraksi dengan Djorgi.
Meski pada kenyataannya dirinya memang bekerja di tempat kakak dari Caty tersebut. Bu Lina juga sempat memikirkan mengenai, apakah Djorgi mengetahui jika calon suami sang adik adalah mantan suaminya.
Tak ingin terlalu memikirkan hal yang tidak penting, bu Lina memilih abai. Seolah dirinya tidak tahu apapun. Bukankah dengan bersikap seperti itu malah akan membuatnya merasa tak terbebani.
Tanpa turun dari mobil, Djorgi membuka pintu mobil dari dalam. "Ayo..!!" seru Djorgi sedikit memaksa.
Dirinya tahu, jika tidak mungkin Lina akan menolak ajakannya. Meski Lina menerimanya dengan terpaksa. Bukan masalah bagi Djorgi.
Dengan langkah berat, bu Lina masuk ke dalam mobil Djorgi. Entah sial atau beruntung. Sial, karena bertemu Djorgi, beruntung karena dirinya tidak berjalan kaki untuk berangkat kerja. Sehingga dia dapat menghemat tenaga dan juga waktu.
"Bukankah ini masih terlalu awal untuk berangkat?" tanya Djorgi memecah keheningan.
"Iya Tuan, biar lebih santai." sahut Lina dengan jujur.
Djorgi sudah menyelidiki mengenai dirinya, Caty, dan Wiryo. Djorgi sempat marah pada Wiryo dan Caty. Tapi dirinya tidak bisa begitu saja masuk dalam masalah orang lain.
Meskipun pada kenyatannya, Caty adalah adik kandungnya. Djorgi juga heran dan bingung, kenapa kedua orang tuanya memberi restu pernikahan adiknya dan Wiryo yang akan di laksanakan beberapa minggu lagi.
Dan yang lebih membuat Djorgi geleng-geleng kepala adalah, kebenaran hubungan Caty dan Wiryo. Jika keduanya menjalin hubungan selama Wiryo dan Lina masih sah menjadi suami istri.
Djorgi juga menyelidiki mengenai Mawar. Yang dia tahu jika putri dari Lina bekerja setelah selesai sekolah.
Parahnya lagi, Wiryo sama sekali tidak memberikan uang atau nafkah untuk putrinya. Mawar. Sungguh ironis dan miris.
Djorgi melirik ke arah Lina yang terdiam dengan pandangan mata mengarah lurus ke depan. Dirinya sengaja melajukan mobilnya dengan lambat.
Tentu saja, tujuannya agar lebih lama bersama dengan perempuan yang sejak pada pandangan pertama mampu mencuri hatinya.
Djorgi tersenyum sedih. Dua perempuan berbeda umur. Dengan semangat yang tinggi, bekerja untuk menyambung hidup. Memenuhi kebutuhan mereka tanpa mengeluh. Lina dan Mawar.
"Khemm,,, bukankah beberapa hari ke depan Mawar libur sekolah?" tanya Djorgi memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Iya Tuan." sahut Lina singkat.
"Dia ada di rumah?" tanyanya lagi.
Lina menggeleng pelan. "Tidak Tuan. Mawar pergi bersama kedua sahabatnya." jelas Lina.
"Kemana?"
"Ke rumah nenek sahabatnya."
Lina mengangguk. "Iya, mereka bertiga sudah seperti saudara. Lagi pula, saya percaya dengan putri saya. Dia adalah gadis yang baik dan cerdas. Saya yakin, mereka tidak akan mengecewakan kami sebagai orang tua."
Tampak raut wajah Lina berseri saat menceritakan mengenai Mawar. Ada rasa bangga pada diri Lina. Siapa yang tidak akan bangga, memiliki putri dengan kelakuan baik dan menyandang predikat murid paling pintar di sekolah.
"Sepertinya kamu sangat menyayanginya?"
Bu Lina tersenyum. "Dia gadis yang mandiri. Tidak pernah menyusahkan saya sekalipun. Sejak kecil, dia adalah murid yang berprestasi di sekolah. Selalu menuruti apapun perkataan saya. Meski dirinya hanyalah anak tunggal."
"Maaf Tuan, saya memang selalu begitu, jika sudah menceritakan mengenai putri saya, Mawar." ungkapnya merasa tidak enak hati. Memuji sendiri sang putri.
"Iya, saya paham." ucap Djorgi tersenyum samar. "Betapa beruntungnya saya, jika mempunyai istri dan anak seperti kalian." ucapnya dalam hati.
"Siapa tahu, Gaby akan berubah. Jika dia memiliki ibu seperti kamu. Dan Mawar sebagai saudaranya." imbuh Djorgi dalam hati.
Berharap jika dirinya disatukan dengan Lina. Membayangkan memiliki dua anak perempuan yang manis. Dan istri cantik yang pengertian. Bukankah bayangan yang sempurna.
Mawar dan kedua sahabatnya bepergian. Menyegarkan pikiran mereka sebelum mereka melakukan ujian kenaikan kelas.
Berbeda dengan murid kelas tiga. Yang saat ini duduk tenang di kursi masing-masing. Mengerjakan tugas ujian.
Jerome dan ketiga temannya tampak santai dan tenang mengerjakan tugas tersebut. Mereka memang terkenal karena ketampanan dan juga berasal dari keluarga kaya.
Tapi jangan salah menilai. Meskipun begitu, mereka juga mempunyai otak yang encer atau cerdas. Terbukti, keempatnya selalu masuk ke dalam peringat sepuluh besar murid yang berprestasi di sekolah.
Di ruangan lain. Dona duduk dengan tidak tenang. Bagaimana bisa tenang. Dona tidak bisa berkutik. Lantaran pengawasan ujian yang berjalan ke sana kemari. Menjadikan ruang gerak Dona terasa sempit.
Sesekali Dona melirik ke kursi di mana murid yang selalu dia ancam duduk di sana. "Sial. Awas saja jika dia tidak memberi jawaban ke gue." umpatnya kesal dalam hati.
Murid tersebut menunduk. Mengerjakan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Tak ada waktu untuk sekedar mengangkat kepala dan melihat ke arah Dona.
Entah dia sengaja, atau memang fokus mengerjakan tugas. Hanya dia yang tahu.
Dona segera berpura-pura fokus pada lembar kertas di depannya. Saat pengawas berjalan menuju ke arahnya. "Lihat saja, jika dia sampai tidak memberikan ku jawaban. Aku bongkar semua kebusukan orang tuanya." ancam Dona dalam hati.
Dona seperti ayam yang hendak mengerami telurnya. Bingung tidak karuan. Seperti ada paku yang tertancap di kursinya. Membuat duduknya sama sekali tidak nyaman.
"Waktu tinggal sepuluh menit lagi." teriak pengawas ujian memberitahu.
Dona menggenggam erat pensil yang berada di tangannya. Dirinya sama sekali belum menjawab satu soalpun. "Sial." mau tak mau Dona mengerjakan sendiri, sebisa yang memang dia bisa.
__ADS_1
Yang penting terisi. Mana Dona peduli dengan hasil jawabannya.
Beberapa murid mulai berdiri mengumpulkan lembar jawaban mereka. Begitu juga dengan murid yang di ancam oleh Dona.
Langkahnya pelan saat berada dekat dengan Dona. Menaruh lintingan kertas kecil di atas meja Dona dengan secepat kilat.
Tentu saja dirinya tidak ingin ketahuan oleh pengawas ujian atau siapapun. Bukan hanya Dona yang akan terkena masalah. Dirinya juga pasti akan menghadapi masalah jika sampai ketahuan.
"Brengsek." Dona mengumpat lirih. Segera membuka lintingan kertas kecil tersebut. Mata Dona tetap sesekali melihat ke arah pengawas yang saat ini tengah sibuk di meja depan.
Dengan cepat, Dona menyalin semua jawaban. Sedapatnya. Mana mungkin dia akan bisa menyalin semuanya di waktu yang mepet ini.
Apalagi semua murid sudah berdiri dan mengumpulkan lembar jawaban mereka. "Ayo yang belum, cepat kumpulkan. Waktu tinggal dua menit." seru pengawas ujian.
Dona memandang sekitar. Terpaksa dirinya juga mengumpulkan lembar jawaban miliknya meski belum terisi penuh.
Dari pada dia ketahuan. Sebab semuanya sudah dikumpulkan. Dan sialnya, Dona hanya menjawab separuh dari semua soal tersebut.
Dona keluar ruangan dengan mata merah menahan amarah. Pandangan matanya menyapu sekitar. Mencari murid yang berani melawan apa yang dia katakan.
Dona tersenyum iblis. Berjalan dengan cepat. "Ikut gue, sialan." umpatnya dengan nada rendah.
Dona menyeretnya masuk ke dalam gudang. Brak... Dengan kasar, Dona mendorong tubuhnya hingga membentur sesuatu dalam gudang.
"Iiisss...." ringisnya, memegang lengan bagian atasnya yang terasa sakit, terbentur benda keras.
Dona menutup pintu dari dalam. Menatapnya seperti elang yang siap mengoyak makanannya. "Aaaww..." serunya tertahan, saat Dona menjambak rambutnya, mengarahkannya ke belakang.
"Apa maksud elo!!" geram Dona. "Berani sekali elo mengacuhkan omongan gue." desisnya.
"Sakit Don,,, lepas." ucapnya memohon.
Bukannya melepaskan, Dona malah semakin menariknya. Menjauh dari pintu. Sehingga suara mereka tidak akan kedengaran hingga luar.
"Don,,, lepas..!!" dia meronta. Memegang lengan Dona.
"Berani berteriak. Gue nggak akan segan-segan menghancurkan keluarga tercinta elo dengan satu kalimat." ancam Dona.
"Ampun. Sakit." dia mulai menitikkan air mata.
Dona melepas jambakan rambutnya. Kembali mendorongnya dengan kencang dan kasar. Sehingga punggungnya membentur tembok dengan cukup kuat.
Dona menatapnya dengan bengis. "Aku tadi sudah berusaha untuk memberikan jawabannya ke kamu. Tapi kamu juga tahu sendiri, jika pengawas terus berjalan memutar dengan bolak-balik. Mana ada waktu dan kesempatan." ucapnya beralasan.
Apa yang dikatakannya memang benar. Dan Dona juga tahu akan itu. Apa Dona peduli, tidak.
Plakk... plak....
Murid perempuan tersebut tersungkur setelah Dona mendaratkan dua kali tamparan ke pipinya, dengan tempat yang sama.
Dona kembali menjambak rambutnya. Hingga tatapan mata mereka kembali bersitatap. "Gue nggak suka di bantah. Seharusnya elo tahu itu."
Dona melepaskan tangannya dari rambut murid tersebut, tapi dengan dorongan. Hingga kepala bagian belakangnya membentur tembok.
"Aaa..." serunya tertahan, menahan sakit di kapala dan bagian tubuh lainnya karena ulah Dona.
"Ini peringatan buat elo. Jika sampai besok elo mengulangi lagi. Tamat riwayat elo. Paham!!" hardik Dona.
Dona masih menendang kakinya dengan kuat sebelum meninggalkannya sendiri di dalam gudang.
Brak.... terdengar suara pintu tertutup dengan keras. "Bertahanlah. Sedikit lagi. Setelah itu, kamu tidak akan kembali bertemu dengan perempuan iblis seperti Dona." ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Dia berdiri. Merapikan penampilannya yang acak-acakan karena ulah Dona. Pipinya terasa panas. Beruntung, tamparan Dona tidka terlalu kuat. Meski Dona mengerahkan seluruh amarahnya.
Dia menghela nafas panjang. Mengeluarkan alat make up dari dalam tasnya. Tentu saja, meski tamparan Dona tidak sekeras tamparan kaum adam, namun tetap saja meninggalkan bekas.
Dan dia harus menyamarkan bekas tersebut. Dirinya tidak ingin sampai ada yang tahu. Bukan kelar masalah, dirinya malah akan mendapat masalah baru, jika sampai ada yang mengadukan kelakuan Dona pada kepala sekolah.
Dirinya cukup tahu siapa papa Dona. Meski sang papa juga pebisnis handal dan kaya seperti papa Dona, namun dia tahu bagaimana sepak terjang papa Dona.
Sama liciknya seperti Dona, sang anak.
"Sejak kelas satu, aku selalu mengerjakan semua tugas kamu. Tapi tidak untuk sekarang." ucapnya dalam hati.
Menandakan jika kejadian barusan adalah benar. Jika dia sengaja tidak memberikan Dona jawaban dari soal ujian dengan mudah.
"Aku akan kembali melakukannya besok dan besoknya lagi. Selama ujian berlangsung." ungkapnya, mengelus bahunya yang terasa sakit.
Berarti dirinya harus mencari alasan supaya Dona tidak curiga terhadapnya. Sehingga Dona tidak akan menyebar luaskan aib keluarganya.
Dan yang pasti, dirinya juga harus kuat mendapatkan perlakuan kasar dari Dona. Karena dapat dipastikan, dirinya akan terus diperlakukan seperti ini.
Jika tidak memberikan jawaban pada Dona. Dia bermaksud akan memberikan jawabannya dengan waktu mepet seperti tadi.
__ADS_1
"Siapa suruh jadi orang bodoh." ejeknya pada Dona. Sayangnya, dia hanya berani mengatakan saat tidak ada siapapun di dekatnya.