MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 103


__ADS_3

Brak.... Tian sampai terjingkat kaget mendengar suara pintu apartemen Jerome yang dibuka secara kasar dari luar. "Elo gila..!!" seru Tian memegang dadanya yang berdetak kencang.


"Mawar mana?" tanya Luck yang datang bersama dengan Erza. Tak menggubris Tian yang sedang kesal karena tingkahnya.


Tian memandang ke arah Erza dengan tatapan tak suka dengan kehadiran Erza. "Kenapa elo bisa sama dia?" bukannya menjawab pertanyaan Luck, Tian malah balik bertanya pada Luck.


Luck mengibaskan tangannya di depan tubuhnya. "Ceritanya panjang. Mawar mana?" tanya Luck kembali.


"Panjang. Gue punya banyak waktu. Cerita saja." ujar Tian.


"Ckkk,,,, Tian. Bukan waktunya mendengarkan dongeng." decak Luck.


"Mawar ada di mana?!!" tanya Luck dengan kesal.


"Dikamar, sama Jerome." Tian kembali mendaratkan pantatnya di kursi.


Luck dan Erza mengedipkan kedua kelopak matanya dengan lucu. Berdua. Di kamar. Jerome dan Mawar. "Kenapa elo biarin mereka berdua?!"


Tian memandang aneh pada Luck. "Memang kenapa. Aneh elo." sungut Tian, merasa perkataan Luck aneh.


Erza juga menatap Tian dengan tajam. Seolah mengatakan jika Tian lah yang bersalah di sini. Sedangkan Tian hanya santai. Sebab Tian sama sekali tidak merasa melakukan kesalahan.


Tian sama sekali tidak tahu kenapa Erza dan Luck menatapnya tajam. "Eee,,, kalian mau kemana?" teriak Tian, pada Luck dan Erza.


Tian mengikuti kemana kedua lelaki tersebut berjalan. Pasti tujuan mereka ke kamar Jerome. Dimana Mawar juga berada di sana.


Jerome menoleh ke samping, dan Mawar melihat ke depan sedikit memiringkan kepalanya, keduanya melihat ke arah pintu yang dibuka dari luar.


Mawar tersenyum melihat ketiga lelaki tersebut masuk ke dalam kamar. Berbeda dengan Jerome. Dirinya tentu saja merasa terganggu dengan kehadiran ketiganya.


Terganggu untuk menghabiskan waktu berdua dengan Mawar. Meski hanya saling berbincang. Dan tak ada kontak fisik.


Tapi bagi Jerome, hal tersebut sangatlah cukup. Jerome sudah sangat bahagia.


Terlebih ada sosok Erza di antara kedua sahabatnya. Membuat Jerome juga merasa heran. Bagaimana bisa Erza berada di apartemennya.


Dan pastinya mengetahui apa yang terjadi pada Mawar. Sebab tampak jelas raut wajah khawatir pada muka Erza.


"Kalian. Masuk." cicit Mawar senang.


"Elo baik-baik saja?" tanya Luck berdiri di samping Mawar.


Mawar mengangguk dan tersenyum. "Erza, kamu baik-baik sajakan?" tanya Mawar.


Sontak semuanya menatap ke arah Mawar. Menatap bingung, kenapa Mawar menanyakan keadaan Erza. Meskinya Erza lah yang bertanya demikian pada Mawar.


Mawar mengerti, kenapa Erza dan yang lainnya menatapnya dengan bingung. "Aku melihat markas kamu dibakar habis oleh mereka." cicit Mawar.


"Mawar."

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Bagiamana kamu bisa tahu?"


Mawar terdiam sejenak. Menundukkan kepalanya, melihat ke arah telapak tangannya sendiri. "Jika tidak ingin bercerita, jangan dipaksakan." tutur Jerome.


Mawar mengangkat wajahnya menatap Jerome menghela nafas panjang. Memandang Erza, Tian, dan Luck bergantian.


"Mawar baik-baik saja kok kak." papar Mawar kepada Jerome.


"Saat Raka mengejar Mawar, tempat terdekat yang bisa Mawar tuju hanyalah markas kamu. Itulah kenapa Mawar bisa tahu semuanya."


Erza mengeraskan rahangnya kuat. Memalingkan wajahnya ke arah lain. Padahal, saat kejadian dimana gedung tempat biasanya dirinya nongkrong bersama teman-temannya dibakar oleh sekelompok geng motor, Erza dan yang lainnya juga berada tak jauh dari sana.


Menyaksikan semuanya. Mereka hanya bisa sembunyi. Lantaran kalah akan jumlah. "Kenapa gue nggak tahu elo berada di sekitar sana, Mawar. Gue benar-benar...." batin Erza tak melanjutkan kalimatnya.


Sayangnya, Erza dan yang lain meninggalkan gedung bukan melewati jalan yang biasanya mereka lewati. Menjadikan Erza tidak bertemu dengan Mawar.


Erza dan yang lain melewati jalan memutar. Tentu saja mereka menghindari untuk bertemu dengan kelompok anarkis yang membakar gedung tempat mereka berkumpul.


Mereka bahkan tidak tahu, kenapa mereka membumi hanguskan gedung tersebut. Apalagi selama ini, Erza dan teman-temannya sama sekali tidak pernah berurusan atau bermasalah dengan kelompok lain.


"Kenapa kamu nggak menghubungi aku?" tanya Erza dengan wajah sendu.


"Mawar nggak punya nomor kamu." ucap Mawar jujur.


Jerome merasa tidak suka dengan sikap yang ditunjukkan Erza pada Mawar. "Nggak perlu, Mawar sudah punya nomor ponsel gue." celetuk Jerome.


Erza tersenyum sinis. "Sekarang buktinya, elo datang terlambat." sindir Erza.


"Jeee..!!" tegur Tian, saat Jerome hendak berdiri dari duduknya.


"Apa yang dikatakan Erza memang ada benarnya. Sorry Jee, bukan gue membela Erza. Tapi ini mengenai Mawar. Dan gue, sebagai teman. Tidak ingin hal ini terjadi dan menimpa Mawar lagi ke depannya." tutur Luck dengan bijak.


Mawar hanya diam. Dirinya sama sekali tidak mengeluarkan suara, atau menyela perbincangan keempat lelaki di sampingnya yang lebih pada perdebatan.


Tian menepuk pundak Jerome. "Semua demi Mawar. Semakin banyak yang menjaga, semakin baik." timpal Tian, mencoba memberi pengertian pada Jerome.


Jerome memandang intens ke arah Mawar. "Terserah Mawar." sahut Jerome dengan ekspresi datar.


"Hah." kedua mata Mawar membulat dengan mulut melongo. "Kenapa jadi terserah Mawar." lanjut Mawar dengan ekspresi polosnya.


Jerome tersenyum. Mengacak rambut Mawar pelan. Bagaimana mungkin dirinya akan kembali membiarkan Mawar dalam bahaya.


Jerome sadar. Tujuan mereka bertiga baik. Seandainya Mawar mempunyai nomor mereka. Pasti Mawar tidak akan mengalami kejadian menakutkan seperti tadi dalam hidupnya.


Tapi Jerome juga khawatir. Jika Mawar akan lebih memilih untuk meminta tolong pada orang lain, dari pada dirinya.


Jerome hanya ingin jadi yang pertama. Orang pertama saat Mawar membutuhkan. Orang pertama yang akan Mawar cari. Orang pertama yang akan Mawar hubungi.


"Ponsel Mawar ada di atas nakas. Masih gue cash." ucap Jerome, yang artinya dia memberi izin untuk yang lain menyimpan nomor Mawar. Begitu pula Mawar.

__ADS_1


Erza memutar kedua matanya dengan malas. Saat ini Jerome bukan siapa-siapa Mawar. Hanya sebatas teman. Sama seperti dirinya.


Tapi Jerome sudah menunjukkan sikap posesifnya. "Baru juga teman. Gimana kalau jadi kekasih. Mungkin gue nggak akan pernah bisa ketemu Mawar." batin Erza mendengus sebal.


Luck mengambil ponsel Mawar, menyerahkan pada Mawar. "Buka saja kak. Mawar nggak pakai kode kok." ungkap Mawar.


Secara bergantian, ketiga lelaki tersebut menyimpan nomornya di dalam ponsel Mawar. Begitupun sebaliknya. Mawar menulis nomor ponsel mereka di dalam ponsel Mawar.


Mawar teringat akan sesuatu. "Oh,,, iya kak Jerome. Pakaian Mawar mana kak?" tanya Mawar segera.


"Mungkin di dalam kamar mandi." ucap Jerome yang juga belum tahu.


Luck, Tian, dam Erza memandang Jerome dan Mawar bergantian. "Dokter tadi yang mengganti pakaian Mawar. Bukan gue." jelas Jerome.


Jerome merasa pandangan ketiga lelaki tersebut seperti mengatakan jika dirinya sebagai tersangka. "Eehh,,,, iya. Tadi ada dokter perempuan. Kenapa gue bisa lupa ya." Tian menepuk sendiri keningnya dengan pelan disertai kekehan kecil.


"Pikun." gumam Jerome kesal. Padahal, saat sang dokter memeriksa dan mengganti pakaian Mawar. Jerome dan Tian ada di luar kamar.


"Mawar, kamu mau kemana?" tanya Jerome, Mawar tiba-tiba berdiri.


"Mau ambil celana Mawar." ucap Mawar sudah menapakkan kakinya di lantai.


"Memang ada yang penting?" tanya Tian, Mawar mengangguk.


Jerome memegang lengan Mawar. Menuntutnya untuk kembali duduk di atas ranjang. "Kamu duduk saja. Biar aku ambilkan." pinta Jerome.


"Jangan kak." cegah Mawar. "Anu,,, itu. Celana Mawar kotor." lanjut Mawar beralasan.


Jerome melihat ada yang Mawar sembunyikan. "Biar gue ambilkan. Dimana?" tanya Erza menawarkan diri. Erza juga merasa Mawar sedikit aneh.


Mawar hanya menanyakan celana. Tanpa pakaian. Yang artinya ada sesuatu di celana tersebut. "Nggak usah Za, biar Mawar sendiri." kekeh Mawar, semakin membuatnya dicurigai.


Jerome memandang Erza. "Elo coba lihat di kamar mandi. Mungkin ada di sana."


Mawar memejamkan sebentar kedua matanya. Saat Erza melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Ekspresi Mawar tak luput dari perhatian Jerome dan kedua temannya. Tian dan Luck.


Erza keluar dari kamar mandi dengan membawa sebuah celana. "Loh, pakaiannya mana? Kenapa cuma celana?" tanya Mawar.


"Kamu tadi hanya bertanya celana." sahut Erza.


Mawar terdiam. Sekarang Mawar tahu kenapa semuanya menatapnya aneh. Dan Mawar tahu alasannya.


"Apa gue harus menceritakan kejadian di butik." batin Mawar, merasa jika dirinya telah salah langkah.


Erza memberikan celana pada Mawar. "Ini."


Dengan perasaan bingung, Mawar mengambilnya. "Makasih."


Mawar meremas celana kotor yang ada di tangannya. "Percuma akting di depan mereka. Pasti mereka juga akan tahu." batin Mawar.

__ADS_1


__ADS_2