MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 113


__ADS_3

Seperti biasanya, Mawar masuk kerja dengan senyum di wajahnya. "Maafkan kami." ucap Santi penuh sesal, begitu Mawar menghampiri keduanya yang tengah beberes.


"Ya Ampun mbak. Lagian bukan salah kalian juga." papar Mawar. Merasa teman kerjanya tidak bersalah terkait dirinya yang di bawa pergi oleh Raka. Semua terjadi karena Mawar merasa dirinyalah yang terlalu lemah.


"Beruntung kekasih kamu datang tepat waktu." timpal Tia.


Mawar hanya tersenyum mendengarnya. Mawar bisa menebak, siapa yang Tia maksud sebagai kekasihnya. Pasti Jerome.


"Jika dia kekasih gue. Pasti dia nggak akan perhitungan." batin Mawar getir. Seketika Mawar teringat ucapan Jerome, beberapa jam yang lalu.


"Mbak Amel mana?" tanya Mawar, mengalihkan perbincangan mereka. Apalagi Mawar tidak melihat keberadaan Amel sejak datang.


"Dia tadi izin nggak masuk. Katanya perutnya sakit." sahut Tia.


"Mungkin gara-gara semalam." lirih Santi.


"Ehh,,,, semalam kita terekam kamera CCTV nggak ya?" tanya Santi.


Mawar dan Tia saling pandang. Lalu keduanya bersamaan memandang ke arah Santi. Ketiganya hanya diam. "Semoga Nyonya Utami tidak melihat rekamannya." lirih Santi.


"Semoga." gumam Mawar dan Tian bersama.


Ketiganya melihat sendiri, bagaimana Amel melawan salah satu dari mereka. Dan juga beberapa kali, Amel mendapat tendangan di beberapa bagian anggota tubuhnya. Hingga nafas Amel tersengal karena kelelahan.


"Lanjut kerja. Nggak enak sama pemiliknya." Ketiganya berpencar, mencari tempat untuk menyibukkan diri. Namun, pikiran Mawar kini sedang bercabang.


Amel yang tidak masuk kerja. Perselingkuhan papanya Dona. Ucapan Jerome. Semua berkumpul di benak Mawar.


"Apa benar, mbak Amel tidak masuk karena sakit. Sepertinya tidak mungkin. Dia anggota kelompok itu. Pastinya sudah terbiasa berkelahi."


"Tapi kenapa mbak Amel tidak masuk kerja. Apa semalam dia pergi ke markasnya. Dan...." batin Mawar, memikirkan hal yang membuatnya sedikit cemas dengan keadaan Amel.


"Tidak mungkin. Semalam mbak Amel masih di sini. Jikapun dia pergi ke sana. Pasti kejadian itu sudah terjadi. Jadi, kemungkinan besar, mbak Amel tidak terlibat."


Mawar hanya takut, Amel ada di antara mereka. Yang artinya Amel pasti baku hantam dengan bawahan Luck.


Itulah yang ada dalam pikiran Mawar. Tanpa Mawar sadari, kelompok yang dipimpin Luck lebih kecil dari pada kelompok yang dipimpin Jerome.


"Semoga, setelah ini semua baik-baik saja. Untuk aku. Dan juga mbak Amel." harap Mawar dalam hati.


Pandangan Mawar terpaku, saat Nyonya Utami berjalan menuju kasir. Video yang sempat diperlihatkan Selly pada dirinya dan Jerome, kembali berputar di ingatannya.


"Cantik. Baik. Anggun. Mandiri. Kenapa dia tega mengkhianati perempuan seperti Nyonya Utami." Mawar jadi penasaran, bagiamana wajah dari papa Dona.


Sebab, selama ini dirinya sama sekali belum pernah melihat wajah dari papa Dona. Mawar tersenyum pahit. "Bisa-bisanya gue memikirkan nasib Nyonya Utami. Padahal, hidup gue dan ibu tak jauh lebih baik dari beliau."


"Jika perselingkuhan itu terkuak. Setidaknya bu Utami tidak akan seperti kami. Yang bekerja banting tulang untuk mendapatkan pundi-pundi uang untuk bertahan hidup."


Mawar meremas kain yang sedang dia pegang. "Nanti malam." Mawar teringat, jika nanti malam adalah pesta pernikahan sang ayah akan dilakukan.


Rasa sesak tiba-tiba menyeruak di dalam hati Mawar. Bohong jika Mawar mengatakan sudah bisa menerima semuanya. Bohong jika Mawar sudah tidak merasakan sakit hati.


Apalagi, semenjak meninggalkan rumah. Sang ayah sama sekali tidak pernah memberinya perhatian. Mawar kehilangan sosok ayah, yang penyayang dan perhatian terhadap dirinya.


Mereka seperti orang asing.


...----------------...


"Siapa perempuan ini?" tanyanya, saat melihat foto dan video yang dikirimkan oleh anak buahnya.


Nyonya Mesya segera menyuruh seseorang untuk mencari tahu mengenai sosok yang bersama dengan Jerome. Siapa lagi jika bukan Mawar.


"Tidak boleh. Jerome hanya boleh memiliki pasangan yang setara dan sederajat. Jangan sampai dia malah jadi benalu di keluarga ini. Sangat memalukan." gumam Nyonya Mesya.


"Terlebih jika dia berasal dari keluarga miskin. Astaga, jangan sampai. Hanya Dona perempuan yang saat ini tepat menjadi kekasih Jerome."


Nyonya Mesya beranggapan, jika Dona adalah perempuan yang akan berada di bawah kendalinya. Dengan begitu, dirinya akan tetap menjadi Nyonya dalam keluarga Sekhar.


Ini pertama kali Nyonya Mesya melihat sang putra memperlakukan seorang perempuan dengan selembut ini.


Dapat Nyonya Mesya lihat dari sorot mata Jerome saat memandangnya. Penuh cinta dan penuh kekaguman pada perempuan tersebut.


Dengan tidak sabar, Nyonya Mesya berkali-kali melihat ke ponsel miliknya. Berharap bawahannya akan segera memberikan laporan pada dirinya.


"Lama sekali kerjanya." baru beberapa menit yang lalu dia mengirim foto Mawar. Dan sudah menggerutu. Jika bawahannya tidak cakap dalam pekerjaan.


Di saat beliau sibuk dengan pemikirannya, menunggu kabar terkait siapa perempuan yang bersama dengan Jerome, pintu diketuk dari luar.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Nyonya Mesya, setelah pintu dia buka dari dalam.


"Maaf, Nyonya. Di bawah, teman-teman anda sudah datang." ucapnya memberitahu.


"Astaga." gumamnya, hingga melupakan jika hari ini dirinya ada kegiatan rutin, bersama dengan para sahabat sosialitanya untuk berkumpul.


Apalagi jika bukan kegiatan menghamburkan uang. Mendatangkan perhiasan, berlian, hingga permata ke tempat di mana mereka berkumpul.


Dengan langkah cepat, Nyonya Mesya turun ke bawah. Hingga melupakan ponselnya yang dia taruh di atas nakas.


Sedangkan Jerome, di perjalanan dia selalu mengumpat. "Aaaa,,,, kenapa harus seperti ini..!!" serunya.


Niat hati ingin bersenang-senang bersama Mawar. Membuat hubungan keduanya semakin dekat. Malah menjadi berantakan dan dapat dipastikan hubungannya dengan Mawar akan kembali ke titik nol.


Jerome menepikan mobilnya di tepi jalan. Menyenderkan badannya ke jok mobil. Dengan kedua mata terpejam.


"Ckkk...." desaknya, teringat saat dia meninggalkan rumah Mawar dengan meletupkan emosi. Mengungkit jika dialah yang membantu Mawar.


"Astaga,,, Jerome...!" kesalnya pada diri sendiri. Memukulkan dahinya ke stir berkali-kali dengan pelan.


Dan di sinilah Jerome berada, di markas. Di mana ada Raka di sana. Jerome meluapkan amarahnya dengan menyiksa Raka. Hingga tubuh Raka terkulai lemas.


Klontang..... Jerome melemparkan sebuah besi kecil, yang dia gunakan untuk menyiksa Raka.


"Hahhhhhh.... Brengsek. Padahal elo sudah hampir sekarat. Tapi perasaan gue tetap tidak bisa tenang." desis Jerome dengan sorot mata seperti iblis pemangsa.


Raka masih sadar. Hanya saja dia tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Namun, dengan mata sipitnya. Dia bisa melihat bagaimana keadaan Jerome saat ini.


"Elo nggak akan bisa mendapatkan Mawar dengan mudah." batin Raka. Menutup kedua matanya, dengan nafas yang bisa dihitung dengan jari.


Perasaan Jerome tetap tidak tenang. Dan doa memutuskan untuk pergi ke tempat dirinya biasanya berkumpul bersama kedua temannya, setelah dari markas.


Jerome duduk dengan wajah ditekuk. Sementara Tian dan Luck sedang berbincang ringan.


"Apa Deren sama sekali tidak memberi kabar?" tanya Tian.


"Boro-boro kabar. Nomor gue saja di blokir." ketus Luck, kesal dengan sikap Deren yang kekanak-kanakan.


"Sama. Gue juga. Maunya apa sih itu anak." geram Tian.


Tian merasa jika ada yang salah dengan Jerome. "Elo kenapa? Kurang waktu berduaan bersama Mawar?"


"Main nylonong saja."


"Pergunakan mulut dan telinga anda dengan baik, Tuan..!!" seru Luck.


"Kenapa?" tanya Tian.


"Mana gue tahu. Elo tanya saja ke Mawar. Pasti dia tahu."


"Dan setelah itu, gue dihajar Jerome." sungut Tian.


Malam hari tiba. Mawar pulang ke rumah dengan malas. Seakan di tubuhnya terdapat batu yang cukup besar. Sehingga kakinya terasa berat untuk di ajak melangkah.


Bukan Mawar tidak ingin bertemu dengan sang ibu. Tapi pasti, sang ibu akan menyuruhnya pergi ke pesta pernikahan sang papa.


Sebelum pesta di diselenggarakan. Siang tadi ijab kobul di laksanakan. Mawar tahu, karena Caty mengiriminya beberapa foto dari acara sakral tersebut.


Apalagi, pesan tertulis yang melengkapi foto tersebut, membuat Mawar begitu muak. Tersemat kata yang terdengar manis saat di baca.


Tapi Mawar tahu, di setiap kata mengandung banyak ejekan dan cacian. Terlebih ada kalimat yang menginginkan Mawar datang ke acara malam ini.


Di saat Mawar menghapus seluruh foto yang dikirimkan oleh Caty, sang ibu menelponnya.


Mawar hanya bisa mendesah pelan. Dia tidak mengangkat panggilan telepon dari sang ibu. Mawar menebak, pasti sang ibu akan mengingatkan, jika Mawar harus pergi ke acara sialan itu.


Mawar menyenderkan punggungnya ke jok kursi. Berharap angkot yang ditumpanginya berjalan dengan lambat. Hingga dia akan larut malam sampai rumah.


Bu Lina mendesah pelan, mendapati sang anak tidak menjawab panggilan telepon darinya. "Bagaimana?" tanya Djorgi, yang ternyata berada di rumah Mawar.


Bu Lina menggeleng. "Sebaiknya mas berangkat ke sana lebih dulu." saran Lina.


Sebab, Djorgi sengaja datang ke rumah Lina. Dirinya ingin berangkat bersama dengan Mawar. Setidaknya, bukan hanya hati Lina yang ingin dia dapatkan. Tapi juga dengan hati anak dari perempuan yang dia cintai.


Tampak wajah tak enak dari Lina. Bukan itu saja. Ada raut kecewa dari raut wajah Lina. "Padahal, Mawar mengatakan akan menghadiri pesta pernikahan ayahnya. Meski dia tak bisa hadir saat akad nikah."


Dan Djorgi, tidak berangkat bersama dengan Gaby. Sebab Gaby sudah berada di dana sejak tadi. Djorgi menggenggam kedua telapak tangan Lina. "Jangan paksa Mawar. Ingat. Dia juga punya hati."

__ADS_1


"Tapi dia bilang, dia sudah ikhlas mas. Dia bisa menerima perpisahan kami."


"Jika kamu, mas percaya. Kamu sudah ikhlas. Karena sejak awal, kalian bukan siapa-siapa. Dua orang asing yang dipertemukan karena cinta. Meski berakhir seperti ini. Berbeda dengan Mawar. Dia anak perempuan. Pasti menganggap sang ayah adalah lelaki pertama di hatinya."


Deg,,,,,, jantung Lina tersentil. "Ayah." batin Lina, teringat akan suatu hal.


"Sudah, jangan bersedih." tutur Djorgi.


Segera Lina tersadar kembali. Entah, kehidupan bagaimana yang dijalani Lina sebelumnya. Bahkan, Djorgi pun juga tidak bisa mencari tahu latar belakang atau kehidupan Lina sebelumnya.


Djorgi hanya mendapatkan semua mengenai Lina, setelah Lina menikah dengan Wiryo. Tapi, Djorgi tidak peduli. Rasa cintanya pada Lina mengalahkan segalanya.


"Tenang saja. Lina tidak akan memaksakan kehendak Lina."


Djorgi tersenyum senang. Dia tahu, pasti sulit bagi Mawar untuk menerima semuanya. "Sebaiknya mas berangkat sekarang. Nggak enak sama keluarga mas. Mas kan kakak Caty."


Djorgi mengangguk. "Baik. Kamu hati-hati di rumah. Ingat, jangan paksa Mawar." tekan Djorgi.


"Iya."


Sedangkan Mawar, langkah kakinya terhenti, saat melihat ada sebuah mobil di depan rumahnya. Mawar berdiri di sebelah pohon. Menanti siapa pemilik dari mobil tersebut.


Kedua mata Mawar menatap rumahnya dengan lamat-lamat. Satu alis Mawar terangkat, mengetahui siapa yang keluar dari dalam rumahnya. Di antar oleh sang ibu.


"Tuan Djorgi." gumam Mawar.


Mawar mengeraskan rahangnya. Kedua telapak tangan Mawar mengepal dengan sempurna, melihat interaksi hangat kedua manusia dewasa, dengan jenis kelamin berbeda tak jauh di depannya.


Mawar masih belum beranjak dari tempatnya. Meskipun mobil Djorgi sudah meninggalkan rumahnya. Dengan sang ibu masuk ke dalam rumah.


"Sempurna. Sepertinya, kehidupan gue akan menuju ke dalam kesempurnaan." gumam Mawar disertai kelemahan kecil yang terdengar dengan suara bergetar, air mata telah terkumpul di pelupuk mata.


Mawar bukan gadis kemarin sore. Yang tidak tahu, jika ada sesuatu antara sang ibu dengan atasannya tersebut.


Mawar tersenyum miris. "Sebentar lagi, gue akan benar-benar sendiri."


Tes.... mata Mawar mulai buram, air mengalir di kedua pipinya. Padahal langit dalam keadaan cerah. Penuh dengan bintang bertebaran. Meski tak ada bulan di antara mereka.


Mawar sudah merasakan. Neraka ada di depan matanya. Masalah besar akan menimpanya. Mawar menghapus air matanya dengan kasar.


Menghela nafas. Menetralkan kembali emosinya. "Mawar tidak akan menjadi penghalang. Raihlah kebahagiaan kalian. Ayah,,,, ibu,,,," cicit Mawar tersenyum getir.


"Seandainya...." ucap Mawar mengambang. "Seandainya gue punya saudara, atau kakek dan nenek. Setidaknya masih ada alasan untuk bibir ini terus berucap dan tersenyum." keluh Mawar.


Kini, Mawar benar-benar sendiri. Awalnya, Mawar mengira Jerome bisa dia jadikan sandaran kepalanya, saat beban menghantamnya.


Tapi, setelah ucapan yang Jerome lontarkan. Membuat Mawar sadar. Jika semua kebaikan yang dia lakukan untuknya ada nilainya. Mawar sadar. Dirinya tidak bisa membongkar tembok pembatas di sekitarnya untuk orang lain.


Dan kini, Mawar akan menambah kekuatan untuk tembok yang dia bangun. Dan semua itu untuk dirinya sendiri.


Mawar tak ingin hatinya kembali terluka. Mawar tak ingin air matanya kembali menetes. "Tuan Djorgi. Yang artinya papa dari Gaby." gumam Mawar.


Mawar mengerutkan keningnya. "Apa Gaby mengetahui hal ini. Jika dia tahu, kenapa dia diam saja."


Mawar tahu, jika Gaby sama seperti Dona. Sangat amat membencinya. "Apa Gaby punya rencana lain. Membiarkan ibu dan papanya berhubungan."


Mawar memutar otaknya. Dia menebak rencana apa yang akan dilakukan Gaby, seandainya dia tahu semua ini.


"Aku akan mengumpulkan semua kebusukan kalian satu persatu. Hanya itu yang aku miliki untuk melawan manusia kaya dan berkuasa seperti kalian." Mawar tersenyum mengerikan.


"Gaby, Dona. Bahkan, siapapun kalian. Aku tidak akan membiarkan kalian merendahkan aku lagi." tekan Mawar.


Terlebih, Mawar bisa menebak apa yang akan terjadi. Seandainya sang ibu dan papanya Gaby menikah.


Mawar kembali melangkahkan kakinya ke rumah. Setelah hati dan perasaannya mulai kembali tenang. "Sayang, kenapa kamu tidak mengangkat telpon ibu?"


Mawar tersenyum. Seolah tidak ada apa-apa. "Iyakah. Maaf bu, ponsel Mawar ada di dalam tas. Dan Mawar mengaktifkan mode hening." ucap Mawar beralasan. Jika dirinya tidak tahu.


"Mawar ke dalam dulu ya bu, mau bersih-bersih."


"Mawar tunggu." Bu Lina menghentikan langkah Mawar.


Beliau tersenyum. Teringat akan pesan dari Djorgi. "Jika kamu tidak ingin menghadiri acara pernikahan ayah kamu. Tidak apa-apa. Jangan paksakan."


Mawar terdiam. Dia mengira sang ibu akan kembali memaksanya. "Apa Tuan Djorgi yang menyuruh ibu." tebak Mawar dalam hati.


Bu Lina mengelus pipi mulus Mawar. "Mawar masuk dulu bu." pamit Mawar, segera masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Di dalam kamar, Mawar menaruh tas di tempatnya. Juga dengan sepatu yang tadi sempat dia pakai. Mawar tersenyum miring. "Jika benar ibu berubah pikiran karena ucapan Tuan Djorgi, apa Mawar harus berterimakasih."


Mawar masuk ke dalam kamar mandi, melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya.


__ADS_2