
"Sial,,,, brengsek...!!!" teriak seorang lelaki, memukul dan menendang apapun yang ada di depannya begitu masuk ke dalam ruangan.
"Cckk,,,, elo datang-datang membuat rusuh saja." decak temannya.
Lelaki tersebut mendaratkan pantatnya dengan keras di kursi empuk dengan raut wajah kesalnya. "Brow, apa elo nggak dapat kabar tentang Roy?" tanya teman yang duduk di dekatnya.
"Gue nggak peduli dengan Roy. Terserah, dia mau mati atau hidup." sarkasnya, seolah Roy sama sekali tidak penting untuk dirinya.
Mereka tidak akan pernah mendapatkan titik terang keberadaan Roy, teman mereka. Dimanapun Roy berada.
Sebab, Roy berada di tangan Jerome. Dan pastinya, Jerome tidak akan sembarangan menaruh seorang bajingan seperti Roy, yang sudah berani menyentuh Mawar. Perempuan yang mengisi penuh hatinya .
Yang artinya, Roy tidak akan pernah bisa lagi menghirup udara bebas seperti dulu. Sebab bisa dipastikan, Jerome tidak akan melepaskannya.
"Elo kenapa sih. Datang marah-marah. Mending elo pergi saja. Muak gue lihat muka elo." usirnya, yang malah kena marah. Padahal tidak tahu apapun.
"Mawar. Susah banget gadis itu gue dekati." jelasnya. Selama ini, dengan wajahnya yang tampan, dengan mudah dia bisa mendapatkan perempuan yang dia inginkan.
Tidak pernah ada kata tidak atau tolakan dari perempuan incarannya. Namun kali ini berbeda, Mawar dengan berani menjauhi dirinya.
Memblokir setiap nomornya. Dan yang lebih membuatnya kesal, Mawar selalu berusaha untuk menjauhinya. "Dia pikir gue parasit." sungutnya.
"Ha,,,, elo kayak nggak laku saja. Carilah perempuan lain. Lagian dia masih anak-anak. Rasanya pasti hambar." ujar temannya disertai kekehan kecil.
"Ayolah Raka, lupakan dia. Jangan buang waktu elo..!!" geram sahabatnya.
Baru kali ini melihat seorang Raka frustasi karena seorang perempuan. Parahnya itu adalah Mawar. Gadis berseragam putih abu-abu yang masih duduk di kelas satu.
Bayangkan, gadis yang masih dibawah umur. "Gue nggak peduli." seru Raka.
Mawar, sangat sekali jauh dari perempuan yang selama ini menemani Raka di atas ranjang. "Benar kata Mondy. Kita harus fokus mencari Roy." timpal Felix.
"Pikiran gue selalu teringat dia brengsek." umpat Raka.
Saat dirinya tengah bersama seorang perempuan yang memanjakan pusaka keramatnya, Raka bahkan membayangkan jika perempuan itu adalah Mawar.
"Ayolah brow, kesampingkan dulu Mawar. Kita fokus pada Roy. Gue yakin, sebentar lagi bos akan memanggil kita terkait masalah itu." tukas Mondy resah.
"Cari di mana? Elo juga tahu, kita nggak mungkin nemuin Roy segampang itu." jelas Raka terkesan acuh dan tidak peduli.
Bawahan Roy yang selamat, dan memang sengaja dibiarkan lari oleh orang-orang Luck, mereka melapor pada ketiga teman Roy.
Jika penguasa jalanan serta penguasa dunia bawah tanah sudah kembali. "Dia sudah kita bunuh. Sekarang, siapa pimpinan mereka?" tanya Felix penasaran.
Dia adalah kakak dari Luck. Dan hingga detik ini, Luck belum mengetahui jika penyebab sang kakak meninggal karena mereka.
Luck hanya tahu, jika sang kakak meninggal karena kecelakaan. Kedua orang tua Luck juga mengatakan alasan tersebut pada Luck.
"Tapi gue heran. Kenapa mereka berada di sana. Apa mereka bekerja sama dengan musuh kita." tebak Mondy.
Sebab, anak buah Luck datang disaat kelompok Roy berseteru dengan kelompok musuh.
"Tolol. Pimpinan mereka juga ditemukan mati tergeletak tak jauh dari tempat itu. Berarti mereka datang karena ada tujuan lain." pungkas Felix.
Anak buah Roy tidak memberi informasi secara mendetail. Mereka hanya fokus pada bawahan Luck. Tanpa menyebut jika ada satu mobil asing yang juga terlibat di perkelahian mereka.
Dan untuk orang-orang Jerome. Mereka datang saat semuanya sudah bubar. Dan hanya tersisa Roy di sana. Berada di tangan orang-orang Luck.
Felix memandang ke sebelah, di mana beberapa anak buahnya berdiri di sana. Felix menggerakkan tangannya, memanggil mereka. "Kalian, cari tahu semuanya." perintahnya.
"Baik." ucap mereka serempak.
Bagiamana jika mereka tahu. Jika ada seorang perempuan di sana. Dan perempuan itu adalah Mawar. Murid SMA yang membuat salah satu dari mereka uring-uringan.
......................
Jerome bersama Mawar dan kedua temannya kembali ke sekolah dengan diam. Tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun diantara mereka, begitu mengetahui Deren sudah berada di dalam burung besi.
Tian menggerakkan tangannya. Memberikan isyarat untuk Jerome memperlambat laju motornya. "Mampir dulu. Gue lapar..!!" teriak Tian yang sedang dibonceng Luck.
Jerome mengangguk. Mengikuti arah motor di depannya. Keempatnya mampir di sebuah restoran. "Ayo." ajak Jerome, saat Mawar masih berdiri. Memandangi restoran di depannya.
"Tenang saja. Tian yang mengajak, dia yang akan membayar makanan kita." ucap Jerome. Mengerti apa yang dipikirkan Mawar.
Jerome memegang pergelangan tangan Mawar, menuntutnya masuk ke dalam. Mengikuti Tian dan Luck duduk di sebuah meja.
Seorang pelayan berdiri di samping meja mereka. "Kami pesan seperti biasa. Mawar kamu mau pesan apa?" tanya Tian, menyodorkan buku menu pada Mawar.
"Samakan saja." cicit Mawar, tak ingin ribet. Meski dirinya juga tak tahu apa yang dipesan ketiga lelaki tersebut.
"Tambah teh hangat satu gelas." sahut Jerome, pada pelayan tersebut.
"Baik, makanan akan segera kami siapkan." tutur pelayan tersebut.
Mawar bisa menebak, jika mereka sering datang ke tempat ini. Atau malahan, restoran mewah ini adalah milik salah satu dari mereka.
Mereka berbincang ringan menunggu makanan datang. Tak ada nama Deren di obrolan mereka. Hingga seorang lelaki tua mendatangi meja mereka.
__ADS_1
"Kalian. Sedang apa kalian berada di sini?!" tanyanya dengan tampang dingin.
"Kakek." sapa ketiga lelaki tersebut, mereka segera berdiri. Juga dengan Mawar, meski Mawar belum melihat wajah dari lelaki tua tersebut.
"Kakek..." cicit Mawar, tersenyum sempurna, saat mengetahui lelaki yang berdiri di belakangnya adalah orang yang pernah bertemu dengannya di jalan.
"Loh,,, nduk ayu. Kok kamu." Tuan Dewanto, kakek dari Jerome terkejut melihat Mawar bersama cucunya.
Segera Mawar mengulurkan tangan. Mencium punggung telapak tangan Tuan Dewanto.
Mawar sedikit menggeser kursi ke belakang. "Silahkan kek." ucap Mawar, mempermudah Tuan Dewanto duduk.
Jerome, Tian, dan Luck hanya memandang interaksi kedua orang di depannya. Banyak pertanyaan di benak mereka bertiga.
Tentunya bagaimana kakek Jerome bisa seakrab itu dengan Mawar. Dan satu lagi, Tuan Dewanto yang terkenal galak dan dingin pada orang asing, memperlakukan Mawar seperti dia memperlakukan Jerome.
"Kenapa kalian berdiri. Duduk, tidak sopan." ucap Tuan Dewanto tegas.
Ketiganya lantas segera duduk. Mengikuti apa yang dikatakan kakek Jerome, dan tetap diam dengan pandangan penasaran. "Kakek apa kabar?" tanya Mawar dengan ramah.
Tuan Dewanto tersenyum. "Baik. La kamu piye?"
Mawar mengangguk. "Mawar juga baik kek."
"Tunggu. Bagaimana kakek bisa kenal dengan Mawar?" Jerome memotong obrolan mereka.
"Kakek." cicit Mawar, mendengar Jerome memanggil lelaki tua di depannya dengan panggilan kakek.
Mawar memandang Jerome dan sang kakek bergantian. "Dia cucu kakek nduk.Ganteng tow." kekeh Tuan Dewanto, memuji sang cucu.
"Kek,,, Mawar,,,, jawab dulu. Jelaskan pada kami." pinta Jerome dengan suara memelas.
"Kalian juga, ini masih jam sekolah. Kenapa bisa ada di sini." sang kakek menatap dengan penuh selidik.
"Kek,,, jangan balik tanya. Jawab dulu." celetuk Tian yang juga penasaran.
Bukan Tuan Dewanto yang menjelaskan, melainkan Mawar. "Mawar nggak sengaja bertemu kakek di jalan. Waktu itu...." Mawar menceritakan bagaimana dirinya bertemu dengan kakek Jerome.
Hingga mengira sang kakek adalah lelaki tua yang dibuang oleh anaknya. Semua tertawa mendengar cerita Mawar, tak terkecuali Tuan Dewanto.
"Gila, Mawar benar-benar punya mantra apa. Jerome dan kakek sampai bisa tertawa lepas." bisik Luck.
Tian mengangguk. Sebab ini pertama kalinya mereka berdua melihat kakek Jerome bersikap demikian.
Jerome merasa senang. Apalagi melihat sang kakek terasa nyaman di samping Mawar. "Satu tiket sudah gue kantongi." batinnya, jalan mendekati Mawar terbuka pelan-pelan.
Tuan Dewanto bertanya dengan nada lembut. Tidak seperti pertama kali bertanya, sebelum dia tahu jika Mawar duduk di kursi tersebut.
Mawar memandang Jerome dan kedua teman Jerome bergantian. Ketiganya mengangguk, memperbolehkan Mawar mengatakan apa yang dia ingin katakan.
Tuan Dewanto tersenyum samar. Memuji Mawar dalam hati. "Dia benar-benar mengerti aturan. Cocok sekali menjadi bagian dari keluarga Sekhar." batin Tuan Dewanto.
Beliau juga merasa terkejut, Jerome mau duduk bersama dengan seorang perempuan. Berbincang dan tersenyum, bahkan tertawa lepas.
Namun Tuan Dewanto hanya memperhatikan setiap ekspresi dari sang cucu. Bagaimana Jerome memandang Mawar. Bagaimana Mawar tersenyum setiap Mawar berbicara.
"Jika Mawar, kakek setuju. Jangan sampai seperti papamu. Memilih istri seperti mama kamu. Beruntung kamu tidak mewarisi sifat mama kamu." batin Tuan Dewanto.
Memang Jerome tidak memiliki sifat seperti sang mama. Tapi tidak dengan Jihan, adik Jerome. Dia bahkan memiliki sifat yang lebih parah dari sang mama.
Mawar memulai berbicara, saat mendapatkan izin dari ketiga kakak kelasnya. "Kami ingin menemui kak Deren." cicit Mawar dengan pandangan menatap meja.
"Memang ke mana Deren?" tanya sang kakek.
Belum sempat Mawar menjawab, makanan yang mereka pesan telah tiba. "Lebih baik kita makan dulu." ajak kakek.
"Kakek makan makanan milik Mawar saja. Bagaimana?" tanya Mawar.
"Tidak perlu." sahut kakek dengan lembut.
"Biar Mawar yang memesan lagi, dari pada kakek menunggu pesanan yang baru, nanti lama." cicit Mawar.
Pegawai restoran seketika spot jantung saat Mawar mengatakan hal tersebut. "Maaf Nona, kami harus memastikan makanan benar-benar layak untuk kalian." sahut pegawai restoran dengan cepat.
Jerome dan kedua temannya menahan senyum. "Polos sekali kamu, Mawar." batin Jerome.
"Apa menurut kamu lama, Mawar?" tanya sang kakek.
Semua pelayan menatap Mawar dengan ekspresi aneh. Dan Mawar tahu, itu adalah sebuah raut wajah mengiba dan minta tolong yang penuh harap.
Mawar memandang ke arah mereka, segera menyadari apa yang terjadi. "Tidak kek, hanya saja, Mawar memang sedang kelaparan. Makanya terasa lama." tutur Mawar.
Tuan Dewanto mengangguk pelan. Beliau tahu itu hanya alsan Mawar. "Anak ini, bisa membaca situasi dengan cepat. Hebat juga." lagi-lagi Mawar mendapatkan pujian. Meski hanya dalam hati Tuan Dewanto.
Semua pelayan bernafas lega. "Bagaimana kalau makanan Mawar di bagi dua. Separuh untuk Mawar, separuh untuk kakek. Jujur, Mawar masih kenyang kek." cicit Mawar.
Seketika suasana meja seperti ada hantu yang baru saja lewat. Terasa dingin dan mencekam. Tuan Dewanto, orang paling kaya di negara ini. Diminta berbagi makanan dalam piring.
__ADS_1
Bahkan restoran ini juga salah satu aset kecil kekayaan beliau.
Semua mata tertuju pada Mawar yang sedang tersenyum polos. Begitu juga Jerome. Bahkan Jerome sendiri tidak pernah melakukan hal tersebut.
Nafas dan jantung mereka terasa berhenti. Jerome hanya takut, sang kakek menolak. Membuat Mawar sakit hati.
"Ide bagus." sahut Tuan Dewanto. "Ambilkan piring kosong." pinta kakek tanpa melihat ke arah pelayan.
Semuanya kembali bernafas lega. Semenjak tadi, Mawar selalu membuat mereka olah raga jantung.
Mawar membagi makanannya menjadi dua. "Ini untuk kakek. Makan yang banyak ya kek. Biar sehat."
Tuan Dewanto melihat ada gurat sedih di wajah Mawar, meski dari tadi Mawar tersenyum tulus. "Anak ini, menyimpan sesuatu beban seorang diri. Tanpa membagi dengan siapapun." batin Tuan Dewanto, melihatnya dengan jelas.
"Kenapa punya kakek banyak sekali." protes Tuan Dewanto.
"Mawar sudah kenyang, sebelum ke bandara Mawar sudah makan di kantin sekolah. Ayo di makan kek." Mawar sedikit mendorong piring sang kakek, meletakkannya tepat di depan Tuan Dewanto.
"Beginikah rasanya mempunyai seorang kakek." batin Mawar. Baru kali ini Mawar merasa jika mempunyai seorang kakek.
Setelah dia juga merasakan beberapa hari yang lalu seperti mempunyai seorang nenek. Meski itu adalah nenek sahabatnya, Mira
"Maaf, Mawar ke belakang dulu." pamit Mawar segera, tak sanggup menahan air mata sedari tadi. Empat lelaki di meja menatap kepergian Mawar.
Mawar langsung menangis di dalam toilet. "Kakek. Nenek. Seperti apa wajah kalian." gumam Mawar.
Ada rasa nyeri di dada Mawar. Bahkan foto mereka saja Mawar tidak tahu. Mawar menghela nafas. Mencuci wajahnya dengan air.
Entah kenapa, rasa yang sudah lama terkubur muncul kembali. Hanya karena kehadiran kakek dari Jerome.
"Ayolah Mawar, bukankah selama ini kamu sudah terbiasa dengan ibu dan ay...." gumam Mawar terhenti, saat dia akan menyebut kata ayah.
Mawar menengadahkan kepalanya. Mengerjap-ngerjapkan matanya. Menahan air mata yang akan jatuh lagi.
Mawar tersenyum nanar. Dalam hati terdalam, dirinya masih sangat merindukan dan menyayangi sosok Wiryo.
"Oke... oke... calm Mawar... tenang. Ingat, elo punya ibu yang sangat menyayangi kamu melebihi apapun." Mawar menenangkan hatinya sendiri.
Tak ingin dianggap tidak sopan meninggalkan meja terlalu lama. Mawar segera kembali ke meja, saat dirinya merasa jauh lebih baik.
Jerome dan yang lain tahu, jika Mawar baru saja mengeluarkan air mata. Begitu juga dengan Tuan Dewanto.
Namun mereka memilih untuk berpura-pura tidak mengetahuinya. Supaya keadaan tidak canggung. Mereka bahkan juga tidak membahas mengenai Deren sama sekali.
Kelimanya makan sembari mengobrol ringan. Jerome melihat, sang kakek juga banyak tersenyum dan juga banyak bicara saat ada Mawar di sisinya.
"Kita sama kek." batin Jerome, dimana dirinya juga terasa betah dan nyaman berada di samping Mawar. Gadis sejuta pesona.
......................
Nafas Dona dan kedua temannya tampak tersengal-sengal. Ketiganya duduk berselonjor di bawah pohon. Dengan telapak tangan mengibaskan ke arah wajah masing-masing.
Ketiganya baru saja mendapatkan hukuman. Membersihkan sampah di sekitar lapangan. "Sumpah, seumur-umur ini pertama kalinya gue melakukan hal semenjijikkan ini." ucap Gaby, menyandarkan badannya ke pohon.
"Semua ini karena mereka dan Siska." timpal Weni, dengan kulit wajah memerah karena terpapar sinar matahari, juga keringat membasahi badannya.
"Siska,,,, bisa-bisanya dia melakukan itu. Sepertinya dia mulai berani." Dona tersenyum miring, di otaknya sudah terdapat rencana yang akan dia lakukan ke Siska.
Gaby tersenyum smirk. "Don, kita mungkin bisa membalas Siska dengan mudah. Tapi tidak dengan Mira dan Selly. Kita tidak bisa menyentuhnya." ucap Gaby mengingatkan.
"Lalu?" tanya Dona, melihat senyum iblis di bibir Gaby.
"Gue punya ide. Dan elo yang harus melakukannya." Gaby memainkan alisnya dengan senyum kemenangan. Yakin jika rencananya kali ini akan berhasil.
"Mira dan Selly. Lihat apa yang akan gue lakukan pada Mawar. Teman kesayangan kalian." seringai licik muncul di bibir Gaby.
Dengan mudah, Weni dan Dona bisa menebak. Jika mereka akan membalas rasa sakit hati yang diberikan Mira dan Selly pada Mawar.
Gaby mengatakan apa yang harus dilakukan Dona. "Bagaimana?" tanya Gaby setelah menjelaskan rencananya pada Weni dan Dona.
"Kelihatannya menarik. Tenang saja, gue akan lakukan itu. Dan kali ini, pasti nggak akan gagal." ucap Dona.
Teringat dirinya pernah gagal saat hendak mencari masalah dengan Mawar.
"Kita harus cari seseorang, untuk membantu rencana kita." ujar Weni mengingatkan.
"Tenang saja, jika ada uang, semua beres." ucap Dona.
"Kita harus mencari orang yang benar-benar bisa berakting dengan baik. Jangan sampai gagal." ujar Gaby.
"Kapan elo akan melakukannya?" tanya Weni.
"Lebih baik lebih cepat." sahut Dona.
Ketiganya saling berpandangan. "Hari ini." ucap mereka serempak.
"Mira,,, Selly,,, jangan salahkan kita. Kalian yang bertingkah. Dan Mawar, akan mendapat sedikit sentuhan dari kita." ujar Dona, yakin jika rencana mereka pasti akan berhasil.
__ADS_1