MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 117


__ADS_3

Tuan Dewanto tersenyum saat Mawar berjalan menuju ke arah beliau. "Kakek..." sapa Mawar. Terlihat jelas, ekspresi lega pada wajah Mawar.


"Kamu memang hebat." puji Tuan Dewanto.


Mawar menatap cemas pada Tuan Dewanto. "Apa tidak apa-apa, Mawar bersikap seperti itu pada Nyonya Mesya. Biar bagaimanapun, beliau menantu kakek. Mama dari kak Jerome." cicit Mawar merasa bersalah. Bersikap tidak sopan pada menantu Tuan Dewanto. "Mawar juga tidak enak pada Om Adipavi." lanjut Mawar.


Tuan Dewanto tertawa lepas. "Mawar,, tenang saja. Kamu bahkan tidak menyentuhnya. Hanya menggunakan sedikit kata-kata. Kenapa harus merasa bersalah." jeda Tuan Dewanto.


Beliau merasa jika Mawar memang gadis yang baik dan cerdas. Tapi dia tetap mampu menjaga diri dengan baik. "Lagi pula, putra kakek sudah hapal tabiat dari istrinya. Dia tidak mungkin akan marah sama kamu."


Mawar bernafas lega dan mengangguk. "Kek, dari mana kakek tahu, jika ayah selama ini memberikan uang pada Mawar. Dan semua itu di ternyata dimanipulasi oleh Caty?"


Mawar penasaran, kenapa Tuan Dewanto bisa tahu. Terlebih itu masalah Mawar. Tidak mungkin beliau khusus mencari tahu hanya untuk melindungi dirinya.


Mawar sadar, jika dirinya bukan siapa-siapa beliau. Hanya dua orang asing yang tidak sengaja bertemu secara kebetulan.


"Sebenarnya, sejak pertama bertemu. Kakek merasa wajah kamu itu,,,,, emm..." belum sempat sang kakek mengatakannya dengan lengkap, Jerome datang menghampiri keduanya.


"Ternyata dugaan gue benar. Mana mungkin Mawar bisa tahu sejauh itu. Tentang Caty. Tentang mama." batin Jerome, melihat Mawar tengah berbincang dengan sang kakek.


Dan pastinya, sang kakeklah yang memberitahukan semuanya pada Mawar. Tapi kapan? Tidak penting, yang terpenting adalah, Mawar tidak begitu terluka hatinya. Sudah cukup untuk Jerome.


"Kenapa dengan wajahmu itu?!" tanya kakek dengan ketus, melihat ekspresi wajah Jerome yang terlihat kusut.


"Kek, Mawar pamit dulu." sela Mawar.


Jerome memegang lengan Mawar, saat Mawar hendak melangkah. "Aku ingin bicara." pinta Jerome dengan nada lembut.


"Ini urusan anak muda. Kakek sudah terlalu bau tanah untuk ikut campur." ucap Tuan Dewanto, yang bisa menebak jika ada masalah di antara mereka berdua.


"Titip Mawar. Antarkan dia pulang dengan selamat." pinta Tuan Dewanto sebelum beliau masuk kembali ke dalam mobil.


Mawar menghempaskan tangan Jerome, begitu mobil yang dinaiki Tuan Dewanto sudah melaju.


"Tidak di sini. Kita cari tempat yang nyaman untuk berbicara." ajak Jerome dengan lembut. Kembali mengisi stok rasa sabarnya dengan banyak.


Jerome melepas jas di badannya. Memakaikannya di tubuh Mawar. "Pakai ini, malam semakin larut. Nanti kami kedinginan."


"Sudah tahu malam makin larut. Bukannya di antar pulang, malah diajak keluar." ucap Mawar dengan judes.


Jerome hanya bisa menghela nafas panjang. Jerome tahu, jika semua ini imbas dari dirinya yang tidak bisa menahan emosi saat berbicara tadi siang di rumah Mawar.


Mawar dan Jerome masuk ke dalam mobil. Jerome membawa Mawar ke tepi pantai, tapi keduanya tidak turun, tetap berada di dalam mobil.


Memandang hamparan pasir dan air laut didepannya. Yang terkena sorot sinar dari bulan malam. Tampak begitu indah.


"Cepat, ibu nanti menunggu." ucap Mawar.


"Tenang saja, jangan khawatir, aku sudah meminta izin pada ibu." ucap Jerome.


Mawar memandang Jerome sekilas. Lalu kembali menatap ke depan. "Aku mau minta maaf." tutur Jerome langsung.


"Mawar, aku tahu aku salah. Sungguh, aku tidak bermaksud mengungkit semuanya. Aku hanya terbawa emosi."


Mawar masih terdiam. Tak terlihat akan menyahuti ucapan Jerome. "Maaf. Kamu maukan memaafkan aku." pinta Jerome memohon.


Mawar mengangguk pelan. "Jerome tersenyum lega. "Jika sudah, tolong antarkan Mawar pulang." pinta Mawar.


Senyum Jerome seketika lenyap, mendengar Mawar menyebutkan kata tolong. Jerome tersenyum hambar. Jerome tahu, jika Mawar belum sepenuhnya memaafkan kesalahannya.


"Baik." Jerome tak ingin Mawar semakin kesal karena dirinya.


"Besok pagi, biar aku jemput. Kita berangkat bersama ke sekolah." tutur Jerome, bukan sebuah tawaran, melainkan ajakan.

__ADS_1


Mawar kembali mengangguk, menatap kendaraan yang berada di depan mobil mereka. Selama perjalanan, tak ada perbincangan antara keduanya.


Jerome juga seakan masih takut untuk bertanya atau berinteraksi terlalu dekat dengan Mawar. "Mulutmu, harimaumu." batin Jerome pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga lidahnya.


"Kak Jerome di dalam saja. Mawar bisa keluar sendiri." Mawar menghentikan Jerome yang ingin keluar dari dalam mobil, dan membukakan pintu untuk dirinya.


Sebelum keluar, Mawar melepas jas Jerome. Menaruhnya di sandaran kursi. "Jas nya Mawar letakkan di sini."


Mawar sedikit membungkukkan badan setelah berada di luar mobil. "Terimakasih kak, sudah mau mengantar Mawar."


Mawar sama sekali tidak menawari Jerome untuk mampir, meski sekedar pemanis bibir. Bahkan, Mawar juga tidak kembali menengok ke belakang.


Jerome tersenyum kecut. "Semua kembali dari semula." desahnya. Menyenderkan punggungnya di kursi.


"Kenapa juga gue nggak bisa menahan emosi. Jika saat itu yang pingsan Luck atau Tian, gue juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti Mawar. Jerome,,,, kekanak-kanakan sekali kamu..!!" geram Jerome pada dirinya sendiri.


Mawar langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang kecil miliknya, sesampai di dalam kamar. Rumah sudah sepi, dan sang ibu juga sudah terlelap dalam tidur.


Mawar menghela nafas kasar berkali-kali. "Astaga, dosa apa yang telah hamba perbuat, Tuhan. Kenapa semakin kesini, masalah semakin bertumpuk." cicit Mawar memandang ke langit-langit kamarnya.


Ada sedikit rasa senang di hatinya. Manakala mengetahui jika sang ayah ternyata memberikannya uang, meski tidak setiap bulan. "Ayah terlalu percaya dengan nenek sihir itu."


Senyum jahil terbit di bibir merah Mawar. "Jika Caty bisa bersikap baik sama gue di depan banyak orang, mungkin..... gue bisa melakukan hal yang sama."


Mawar mencebikkan bibirnya ke depan. "Gue akan melakukan, seperti yang elo lakukan. Caty. Dan siapapun itu." seringai Mawar.


Mawar bangun. Melepas hiasan yang ada di rambutnya, dan bergegas membersihkan diri. Tak membutuhkan wakti lama bagi Mawar untuk melepas semua yang dipergunakan ke pesta tadi.


Sebab, memang Mawar hanya menggunakan gaun dan sebuah riasan rambut. Tak ada yang lain.


Mawar segera masuk ke kamar mandi. Dirinya membutuhkan istirahat yang cukup, untuk membuat otaknya agar tetap waras menghadapi hari esok.


Dengan langkah malas dan jas tersampir di pundak, Jerome masuk ke dalam rumah. "Jerome..." panggil Nyonya Mesya menggelegar, saat sang putra baru saja menginjakkan kakinya di ruang tengah.


Jerome berhenti sejenak, memandang sang mama yang menatapnya dengan nyalang. Lalu kembali melangkahkan kaki. "Jerome..!!" teriak Nyonya Mesya, merasa Jerome sama sekali tidak menganggapnya.


"Apa ini hasil yang kamu dapatkan dari perempuan miskin itu. Menjadi anak yang tak tahu sopan pada orang tua." hardik Nyonya Meysa menyrempet pada Mawar.


Jerome memandang sang papa. Pandangan yang menyiratkan sesuatu. Tuan Adipavi mengangguk pelan. "Jerome...!!!" teriak Nyonya Mesya, saat Jerome malah terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


"Ma, Jerome butuh istirahat. Juga dengan semua penghuni rumah ini." tekan Tuan Adipavi. Merasa sang istri sudah keterlaluan.


"Pa, tapi mama nggak bisa tidur dengan tenang. Bagaimana bisa, papa membiarkan Jerome mengejar perempuan seperti Mawar..!!" seru Nyonya Mesya.


Tuan Adipavi meraup wajahnya dengan kasar. "Sebaiknya kita masuk ke dalam kamar. Sudah waktunya untuk tidur." ajak Tuan Adipavi, tak ingin berdebat di malam hari.


"Papa,,,, mama nggak akan bisa tidur...!!! Jika Jerome tetap berhubungan dengan perempuan rendahan itu...!!" teriak Nyonya Mesya.


"Sudah..!! Cukup..!!!" bentak Tuan Adipavi.


Nyonya Mesya terjingkat kaget. Ini pertama kali dalam hidupnya, sang suami membentak dirinya. Bahkan, sebelumnya Tuan Adipavi tidak pernah menaikkan nada suaranya saat berbicara dirinya.


Jerome yang masih berada di lantai atas, dan menyaksikan semuanya juga terkejut. Ini pertama kali bagi Jerome, melihat sang papa berteriak dengan raut wajah marah.


Kedua mata Nyonya Mesya berkaca-kaca, dengan kepala menggeleng pelan. "Demi Mawar, papa membentak mama." lirih Nyonya Mesya.


"Seharusnya mama tahu. Papa tidak pernah memandang orang dari harta yang dia miliki. Jika saat itu papa seperti mama, mungkin kita tidak akan pernah mempunyai Jerome dan Jihan." tekan Tuan Adipavi, berharap sang istri akan sadar dengan kesalahannya.


Tuan Adipavi meninggalkan sang istri yang masih berdiri membeku dengan pipi basah karena air mata. Beliau memilih untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Mawar.....!! Semua karena kamu. Lihat saja, saya akan membuat kamu menyesal, telah dilahirkan di dunia ini." ucap Nyonya Mesya dengan kedua mata penuh dendam, menyeka air mata di pipinya sembari tersenyum iblis.


Jerome menghembuskan nafas panjang mendengar apa yang terlontar dari mulut sang mama. Bukannya sadar mendengar penuturan sang papa, mama Jerome malah semakin membenci Mawar.

__ADS_1


"Aku harus menaruh beberapa orang di sekitar Mawar." gumam Jerome, tahu jika sang mama bisa bertindak nekat untuk mencelakai Mawar.


Prang..... Sebuah pajangan hancur berkeping saat berbenturan dengan tembok, karena di lemparkan seseorang dengan begitu kuat.


Raut wajah Gaby merah terbakar emosi. "Kenapa? Kenapa harus perempuan sialan itu. Kenapa...!!!?" teriaknya melampiaskan amarahnya.


Gaby juga melihat, bagaimana sang papa terlihat menyayangi Mawar. Cara sang papa memandang Mawar penuh dengan rasa khawatir, saat ditampar Caty.


Gaby yakin, jika dirinya tidak menahan sang papa, pasti sang papa sudah menolong Mawar. "Kamu pikir kamu lebih beruntung dari pada gue, Mawar. Tidak akan. Lihat saja, apa yang akan gue lakukan pada elo." seringai licik tercetak di bibir Gaby.


Gaby berdiri di kaca full body. "Gue akan rebut, apapun,,,, apapun yang ada di tangan elo. Dan gue juga akan membuat kak Jerome berpaling dari elo. Sehingga elo akan benar-benar sendiri di dunia ini. Bahkan, gue akan membuat Mira dan Selly menjauh dari elo." ucap Gaby penuh dendam.


Tak kalah dengan Gaby, Dona saat ini juga tengah meluapkan emosinya. Dia pergi ke club malam setelah pulang dari pesta pernikahan Caty dan Wiryo.


Tak.... gelas kosong Dona taruh kembali di atas meja, setelah dia meminum semua isinya dengan sekali minum.


Dona kembali mengisi gelasnya yang kosong dengan air berwarna bening di dalam botol yang dia pegang. Kembali meminumnya hingga tak tersisa air di dalam gelasnya.


"Jerome, apa yang elo lihat dari Mawar." lirihnya, teringat saat Jerome bahkan mengultimatum siapapun yang berani menyentuh Mawar, berarti mereka juga akan berhadapan dengannya.


Apa yang dilakukan Jerome di depan umum, seolah mempertegas pada semua orang akan perasaan Jerome pada Mawar.


Dona meminum air yang mengandung alkohol langsung dari botolnya, tanpa menuangkannya ke dalam gelas. "Bahkan, Om Adipavi sepertinya juga menyetujui hubungan Jerome dengan Mawar."


Dona melihat, papa dari Jerome hanya merangkul sang istri yang saat itu ingin menjatuhkan nama Mawar di hadapan banyak orang.


Tuan Adipavi hanya diam, dan tetap berada di sebelah Nyonya Mesya. Jika sebagian besar orang melihat, beliau ingin melindungi sang istri.


Tapi tidak dengan Dona. Dia menebak jika Tuan Adipavi tetap merangkul sang istri, hanya supaya sang istri tidak menyerang Mawar. Atau dengan kata lain, Tuan Adipavi melindungi Mawar dari sang istri.


"Gue nggak akan bisa mendapatkan Jerome, hanya dengan mengandalkan perempuan tua itu. Dia sama sekali tidak berguna." Dona mulai berceloteh. Kehilangan kesadarannya. Tapi, dia tetap meminum air dari dalam botol.


Seorang perempuan cantik, duduk sendiri. Pastinya akan menjadi pusat perhatian para lelaki buaya. Begitu juga dengan Dona.


Tak selang berapa lama, seorang lelaki sepantaran kakaknya datang menghampirinya. Lelaki tersebut hanya duduk di samping Dona.


Tapi, Dona menunjuk wajahnya dengan segala celotehan yang keluar dari mulutnya. "Cantik,,,,, kelihatannya kamu sedang patah hati." ucap lelaki tersebut.


"Jerome..." lirih Dona, meletakkan wajahnya di dada lelaki tersebut.


"Jerome. Sepertinya gue pernah dengar." batin sang lelaki.


Dia tersenyum nakal. Seperti seekor elang yang mendapatkan mangsanya dengan begitu mudah. "Masa bodo. Salah sendiri datang ke tempat seperti ini sendirian."


Dia memapah tubuh Dona. Membawanya ke suatu tempat, yang akan membuat dirinya akan bersenang-senang malam ini. Namun tidak dengan Dona.


Malam ini, adalah malam yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Dona. Malam penyesalan, dimana dirinya dengan begitu berani masuk ke tempat yang katanya surga dunia ini.


Tapi, malah akan menjadi neraka untuk Dona. Jika tidak ada yang datang menolongnya.


Dia memasukkan tubuh Dona ke dalam mobil. Membawanya ke tempat yang biasanya di mana dia membawa para wanita untuk memuaskan hasrat lelakinya.


"Cantik dan seksi." kedua matanya memindai tubuh Dona dengan begitu memuja.


Dengan tidak sabar, dia melepaskan baju yang melekat pada tubuh Dona. Mencium setiap inci dari bagian tubuh Dona. "Sangat wangi."


Sayangnya, kegiatannya tersebut terganggu dengan ketukan pintu yang membuat dirinya kesal. "Sial,,,, siapa yang berani mengganggu kesenangan ku...!!" geramnya.


Dia meninggalkan Dona yang masih dalam keadaan telanjang dan kedua mata terpejam. Sementara dirinya masih memakai pakaian lengkap.


"Jika tidak ada yang penting, gue akan habisi dia." gerutunya, seraya membuka pintu dengan kasar.


Bugh.... begitu pintu dia buka, seseorang memberikan sebuah pukulan tepat di wajahnya. Membuat dirinya jatuh tersungkur di lantai, dengan hidung mengelurkan darah.

__ADS_1


"Aaaauuiww..." ringisnya seraya memandang sosok yang masih berdiri di depannya dengan angkuh. Memandang tajam ke arahnya.


__ADS_2